
Pagi-pagi buta grup chat P-four sudah ramai oleh ocehan Bima, Sandi, dan Vicky. Sebenarnya mereka sudah penasaran sejak semalam, tapi mereka lihat nomer Alex tidak aktif sejak pukul 19.20 kemarin, jadilah mereka menahan rasa penasarannya hingga pagi ini.
Bima: Gimana bro, sukses?
Vicky: Lancar dong..? Di terima gak? Uhuyyy...
Sandi: Eh serius nih penasaran banget!Orangnya mana sih? Masih molor ya..
Vicky: Wah.. jangan-jangan malah gak bisa tidur semalam, gara-gara kesenengan.
Bima: Al, woyy...!
Sandi: Masih belum aktif dari kemarin, bro.
Bima: Eh apa jangan-jangan si Alex malah gak pulang semalaman trus hp nya dicuekin lagi.
Sandi : Maksudnya Bim?
Bima: Ya kali aja abis diterima langsung gasspol gitu.. wkwkwk.
Vicky: Haha ngaco. Alex kan anak baik, Bim..
Sandi: 🤣🤣
Vicky: Eh, seriusan nih belum aktif juga?
Sandi: Bukan gara-gara ditolak kan trus hpnya dibanting? Upss...
Bima: Haha lebih ngaco lagi itu mah. Ya pasti diterima lah, yakin gue!
Dan berbagai obrolan gabut lainnya memenuhi chat grup mereka. Setengah jam kemudian..
Alex: Berisik amat sih pagi-pagi!
Sandi: Akhirnya.. nongol juga nih anak!
Bima: Gimana Al??
Vicky: Kemana aja lu bro, kok baru nongol?
Alex: Mumpung hari minggu, molor dikit lah..
Sandi: Wah wah.. bisa-bisanya lu molor hari gini! Gue yang biasa molor aja hari ini bangun pagi.
Bima: Cuman gara-gara penasaran kan San?! Hahahaaa...
Sandi: 😝
Vicky: Jadi gimana Al, lancar kan?
Alex: Enggak.
Bima: Serius? Maksud lu..?
Sandi: What?? Enggak gimana maksudnya?
Vicky: Enggak diterima apa gimana, apa malah ada masalah serius nih?
Lima menit menunggu balasan dari Alex..
Sandi: Al.. woyy!
Alex: Mau tau?
Sandi: Astaga.. ngajak gelud apa?!
Vicky: Al serius ada apa?
Bima: Kasih tau napa sih..
Alex: Serius mau tau?
Sandi: Sialan lu! Gue bela-belain bangun pagi saking penasarannya. Elu malah bikin gue emosi 😤
Bima: Roman-romannya happy nih.. kalo nggak ya nggak ada candaan gini dong..
Vicky: Al pliss lah.. gue juga pengen tau
banget. Tadi lu bilang enggak itu apa? Enggak ada masalah kan?
Alex: Siapa tadi yang nanya acaranya lancar apa enggak! Ya gue jawab enggak!
Sempat hening sebelum Sandi si kepo kembali bertanya.
Sandi: Maksudnya.. elu ditolak?!
Alex: Enggak.
Bima: Al pliss deh serius dong, jadi sebenarnya elu diterima kan? Trus yang enggak tuh apa coba?
Vicky: Ada masalah ya?
Tidak ada balasan dari Alex sampai sepuluh menit berikutnya.
Sandi: Yah.. dia off. Jangan-jangan ngelanjutin tidur.
__ADS_1
Vicky: AL.. Serius kita penasaran bingiiit!
Bima: Mana sih nih, nongol bentar doang bikin tambah penasaran aja!
Setengah jam kemudian...
Sandi: Fix! Alex nya tidur lagi bro.
Bima: Ah masa'! Emangnya elu. Alex tuh pengusaha bro, bukan pengangguran kayak lu!
Sandi: Yheeh... pengangguran teriak pengangguran!
Vicky: Hussh... serius nih, feeling gue Alex ada masalah. Samperin aja, gimana?
Bima: Masalah? Dia ngerjain kita doang kali males ngasih tau.
Sandi: lya tuh, sombong amat.
Vicky: Pokoknya kalo sampe jam 8 dia gak nongol juga, gue samperin ke rumahnya.
Sandi : Ya kalo gitu mah gue ikut. Ntar gue ketinggalan kabar.
Bima: Ajak gue kek!
Sesuai inisiatif Vicky, sampai jam 8 pun Alex tak juga online dan membuka chat mereka. Akhirnya mereka bertiga bersiap-siap menuju rumah Alex.
... ....
... ....
... ....
Sementara Alex sedang duduk termenung di ranjangnya, sambil bersandar dan mendongakkan kepalanya menatap langit-langit kamar, bersama pikirannya yang kacau berkecamuk.
Kemarin malam ia tidak bisa tidur sama sekali, setelah sholat subuh barulah ia bisa tertidur. Karenanya pagi ini ia bangun kesiangan, tidak biasanya ia seperti ini. Peristiwa kacaunya acara lamaran kemarin terus saja berputar-putar dalam pikirannya. Perasaan sedih, sakit hati, malu, menyesal, dan marah berbaur menjadi satu di dalam hatinya. Membuat dadanya sesak dan kepalanya berat. Ia tidak pernah menyangka akan ada hari dimana ia mengalami keadaan seperti itu dalam hidupnya.
la tidak bisa menyalahkan siapapun selain dirinya sendiri. Kenzo tidak salah, papa dan mama pun tidak salah, apalagi Kayla. Karena bagaimanapun juga kekacauan yang terjadi kemarin adalah karena kebodohan dan kebrengsekannya di masa lalu. Jika saja dulu ia bisa menahan amarahnya dan mengendalikan dirinya, maka ia tidak akan membuat Kayla tersakiti. Dan kekacauan memalukan seperti kemarin tidak akan pernah terjadi.
Jika saja Alex bisa kembali ke masa lalu, satu tahun yang lalu, ia ingin sekali mengenal Kayla dengan cara yang baik dan memperlakukannya dengan hormat. Jika saja seperti itu kejadiannya, mungkin sekarang ia dan Kayla bisa berhubungan baik tanpa rintangan, atau mungkin malah Kayla sudah jadi miliknya. Namun semua itu hanya angan-angan yang sia-sia.
Nyatanya banyak sekali kesalahannya dimasa lalu yang membuat gadis yang ia cintai itu tersakiti dan menderita. Meski demikian, Alex sudah berusaha memperbaiki kesalahannya. la sudah meminta maaf berkali-kali, ia juga sudah berubah menjadi lebih baik dan bertekad tidak akan kembali lagi menjadi dirinya yang jahat itu. Tapi sepertinya menjadi baik saja tidak cukup untuk meraih masa depan yang ia impikan.
Masa lalu yang kelam itu memang akan selamanya menjadi bagian dari kisah hidupnya, tidak bisa dirubah maupun dihapus. Namun cara menyikapinya lah yang menentukan apakah kisah kelam itu akan mempengaruhi masa depan atau tidak. Dan Alex memilih menjadikan kisah kelam itu sebagai sebuah pelajaran, untuk memperbaiki dirinya kini, demi meraih masa depan yang cerah.
Hanya saja, cara pandang masing-masing orang berbeda-beda mengenai dirinya, termasuk mengenai pengalaman kelam dari masa lalunya itu. Ya, semua orang berhak berkomentar, namun bukankah mereka yang berkomentar itu harusnya juga melihat sisi masa kininya, tidak hanya terpaku pada masa lalunya saja.
Saat ini Alex merasa hampa dan tak berguna. la pikir pengalaman yang kelam itu akan selamanya menjadi kisah masa lalu, dan tidak akan kembali di masa depan. Tapi nyatanya yang ia rasakan saat ini adalah bayangan masa lalu yang kelam itu kembali menghampirinya, bagaikan hantu gentayangan yang mengusik hidupnya. Penyesalan tiada akhir yang membuatnya membenci dirinya sendiri. la telah berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik, berbagai ujian ia lalui untuk bisa terus maju, setidaknya bisa tetap bertahan dan tak menoleh ke belakang lagi. Namun ujian kali ini meruntuhkan semangat dan ketahanannya.
Sekarang, orang tuanya sudah tahu tentang sifat buruk dan tindak kriminalnya di masa lalu. Bahkan orang tua Kayla juga tahu, entah bagaimana gadis nya itu menangani masalah di sana. Pandangan mereka tentang dirinya sudah pasti telah berubah. Entah bagaimana ke depannya, apakah ia masih bisa berharap restu dari mereka atau sebaliknya. Dan apakah orang tuanya sendiri akan tetap mendukungnya untuk yang satu ini atau tidak.
"Miss Kissable, aku tau kamu itu cewek yang baik dan berhati besar. Kamu gak akan jauhin aku kan karena masalah ini? Kamu gak akan benci sama aku kan?" gumamnya lirih.
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu menyadarkan Alex dari renungan panjangnya.
"Maaf Den." ujar Bi Imas -salah satu ART dirumahnya- setelah membuka pintu kamar Alex.
"lya Bi?"
"Mama Aden pesan, kalo Den Alex udah bangun, suruh sarapan."
Alex tidak menjawab. "Apa mau bibi bawain sarapannya kemari Den?"
"Gak usah Bi. O ya, mama... udah pulang?"
"lya Den, pagi-pagi sekali beliau pulang. Katanya.. takut anak-anak panik nyariin soalnya gak bilang mau nginep"
Alex mengangguk mengerti. Kemudian Bi Imas meletakkan secangkir susu hangat diatas nakas dekat ranjang Alex. Tugas yang setiap hari dilakukan oleh asisten rumah tangganya yang satu ini.
"Ini susunya Den" Bi Imas berdiri ditempat, tidak langsung pamit, membuat Alex bingung.
"Ada apa Bi?"
"Mama Aden pesan, Bibi disuruh nelpon dan ngasih tau kalo nanti Den Alex udah sarapan. Tapi.. beliau minta Bibi nelpon sebelum jam sembilan." ujar Bi Imas hati-hati.
Alex melirik jam dinding di kamarnya, pukul 08.57.
"Biar aku yang nelpon mama." kata Alex kemudian.
Bi Imas pun merasa lega, kemudian pamit keluar dari kamar Alex. Tidak lama kemudian Bima, Sandi, dan Vicky sampai di rumah Alex. Seperti biasanya mereka langsung menyelonong masuk ke kamar Alex tanpa permisi.
Alex mengerti, teman-temannya ini sangat penasaran dengan acara lamarannya semalam. Karena memang dari beberapa hari sebelumnya Alex sudah memberitahu mereka tentang rencananya itu. Hari ini, sesungguhnya Alex sangat tidak ingin membeberkan perihal kekacauan yang terjadi semalam. Namun karena ketigatemannya ini sudah terlanjur menagih jawaban, dan juga Alex memahami kepedulian mereka terhadap dirinya.. maka akhirnya ia pun menceritakannya. Tentang kekacauan yang terjadi semalam, saat di puncak prosesi lamaran Kenzo datang dan membongkar fakta masa lalu dengan kata-kata dan reaksinya yang berlebihan. Sontak Bima, Sandi, dan Vicky pun berang mendengarnya.
"Kamp**t tuh Kenzo!" umpat Sandi geram.
"Dari awal dia muncul tuh udah ngacauin gak sih, bener-bener ya tuh anak!" timpal Vicky.
"Ck, trus lu diam aja gitu Al?" kesal Bima.
"Gue cuman gak mau nambah kekacauan. Itu aja Kayla udah nangis banget, gimana kalo gue lawan Kenzo."
"Ah chicken lu! Kenapa gak lu lawan? Gimana bisa lu terima aja dia nindas lu?!" Bima semakin geram.
"Elu gak ngerti situasinya, Bim. Gue gak mau berantem di depan orang tua gue. Gue juga gak mau Kayla liat sisi kejam gue lagi" jawab Alex datar.
__ADS_1
Bima mendesah kasar, ia begitu geram dengan Kenzo. "Awas aja tuh anak, kalo ketemu."
"Jangan Bim!" sergah Alex datar.
"Loh?" bingung Sandi.
"Kenapa? Jangan bilang karena dia sahabatnya Kayla? Bukan cuman elu kan yang dibikin malu sama dia, tapi Kayla juga. Sahabat apaan kayak gitu?" timpal Bima.
"Setuju! Gak papa elu gak mau berantem lagi, tapi kita gak terima elu diginiin Al! Biar kita kasih pelajaran tuh si pengacau" ujar Vicky.
"Bro, coba kalian pikir dari sudut pandang dan posisinya Kenzo! Dia nganggep Kayla tuh udah kayak sodara sendiri, gimana perasaan lu saat lu tau sodara lu jadi korban kayak Kayla?" ujar Alex mencoba memberi pengertian.
Ketiga temannya itu diam dan saling melemparkan pandangan. Kemarahan mereka tidak mereda begitu saja, mana bisa mereka melihat Alex dihina.
"Vick, lu punya adik cewek kan?" tanya Alex, Vicky lantas mengangguk.
"Apa yang bakal lu lakuin kalo adik lu ngalamin hal yang sama kayak Kayla?" Vicky menyelis tajam.
Tentu saja Vicky marah, mana rela ia membiarkan adiknya jadi korban pelecehan dan penganiayaan seperti itu. Bahkan mungkin Vicky akan menghajar habis-habisan baj****n yang berani menyentuh adiknya. Tidak! Tidak! Menjijikan sekali membayangkan adiknya sendiri berada diposisi Kayla dulu. Itu tidak akan terjadi.
"Apa-apaan sih pertanyaan lu! Ya gue gak bakal diem lah, bakal gue abisin tuh cowok yang berani megang adik gue!"
"Nah kan. Gue masih beruntung dong Kenzo gak langsung abisin gue. Wajar bro dia marah, mana ada sodara yang rela sodaranya jadi korban kayak gitu. Kalo gue lawan dia kemarin, artinya gue gak tau diri."
Vicky mendengus seraya mengangguk mengerti. Ya mungkin jika ia berada di posisi Kenzo, ia akan melakukan hal yang sama, atau mungkin bisa lebih buruk dari yang Kenzo lakukan.
"Bisa-bisanya lu mikir kayak gitu Al, kesambet malaikat lu?" heran Sandi, lebih tepatnya ia kagum dengan cara berpikir Alex.
Bima terkekeh aneh, "Tapi tetap aja kan bro. Kenapa harus elu yang ngertiin dia sedangkan dia ngancurin acara lamaran lu. Kalo dia marah sama lu kan bisa diberesin secara gentle, gak harus nimbrung ditengah-tengah acara keluarga gitu juga dong. Gak sopan amat."
"Ya.. mungkin karena dia ngerasa gak punya waktu lagi buat ngeberesin masalah itu. Karena intinya.. dia bukan cuman pengen cegah Kayla nerima gue, tapi dia juga pengen orang tua gue dan orang tua Kayla tau soal masalah itu"
"Ngadu domba ceritanya?" gumam Sandi sambil berpikir.
"Owh... jadi intinya dia bukan cuman mau ngancurin hubungan lu sama Kayla, tapi juga bikin image lu buruk gitu dimata orang tuanya Kayla?" tebak Bima.
Alex mengedikkan bahunya seraya tersenyum masam. "Semoga aja feeling gue salah"
"Dan lu masih gak biarin kita ngasih dia pelajaran?" tanya Bima sekali lagi.
"Pelajaran apa? Kalian mau ngebully dia biar nama gue yang terkesan jelek? Atau kalian mau ngehajar dia habis-habisan sampe dia sekarat? Pliss.. gue gak mau lagi kayak gitu, bukannya nyelesain masalah tapi malah bisa bikin tambah kacau ntar, Bim."
Bima mendengus kesal, begitu juga Sandi. Sedangkan Vicky sudah mengerti langkah yang Alex ambil.
"Alex bener bro. Mendingan kita gak usah ikut campur, takutnya malah memperkeruh keadaan aja. Alex sendiri bisa kok nyelesain masalah ini tanpa kekerasan, Kayla juga pasti gak bakal diam aja sama kelakuan Kenzo."
"lya tapi gue gondok banget sama tuh anak, Vick!" sahut Bima.
"Ho'oh gue juga. Tangan gue malah udah gatel nih lama gak mukul orang." timpal Sandi.
"Gue tuh gak abis pikir ya, kok bisa-bisanya Kenzo buka aib Kayla di depan orang tuanya sama orang tua lu juga. Apa dia gak mikirin perasaan Kayla?!" kata Bima heran.
"Parah tuh! Apalagi kan itu udah masa lalu. Kayla nya aja sekarang fine-fine aja kok, kenapa malah si kamp**t itu yang kebakaran jenggot. Btw, reaksi orang tuanya Kayla gimana Al?"
"Ya mau gimana lagi. Maminya nangis, pasti kecewa banget sama gue. Om nya juga.. gue yakin dia gak bakal lepasin gue."
"Maksud lu?" tanya Sandi. Bima dan Vicky pun ikut tegang menyimak.
"Mungkin gue bakal dituntut" jawab Alex tenang.
"What?!"
"Dituntut gimana, dilaporin ke polisi maksud lu??"
"Al jangan bercanda lu, gak seserius itu kan?
Tentu saja ketiga temannya itu kaget, dan seketika cemas mendengar Alex bilang dia akan dituntut. Dan tentu mereka berpikir dituntut berarti akan berurusan dengan hukum dan lebih buruknya akan mendekam di penjara.
No!!!
"Gue yakin sih bokap lu gak bakal diem aja" ujar Bima.
Alex tersenyum miring. "Bokap gue gak bakal ikut campur Bim, gue gak bakal biarin itu. Masalah gue ya gue sendiri yang nyelesain. Gue gak mau orang-orang terus mandang gue dari materi dan status."
"Bener sih. Tapi kalo elu bisa ngebela diri dan ngejamin diri lu kenapa enggak?!" timpal Vicky.
"Iya. Menurut gue sih gak harus sampe ke ranah hukum juga lah masalah kayak gitu. Atas dasar apa keluarga Kayla mau nuntut elu? Gak ada bukti juga kan" sambung Sandi.
"Kalian tau apa yang terjadi waktu itu kan. Gue cekik dia, trus gue lecehin dia. Saksinya banyak, termasuk kalian. Kalo bukti emang gak ada sih karena kejadiannya udah lama. Tapi gue tetap bisa dituntut atas kasus penganiayaan dan pelecehan. Trus kalo Kayla ngakuin itu semua di kantor polisi, dan dia bawa saksi.. ya gue bisa kena pasal berlapis dong. Tapi gue gak nggak bakal ngelak."
"Kenapa gak ngelak?? Elu bisa lakuin apa aja Al, jangan pasrah-pasrah aja dong!" sergah Bima tak terima.
"Gue emang bersalah, dan gue harus mempertanggung jawabkan kesalahan gue. Gue gak akan jadi pengecut!" jawab Alex dengan intonasi nada yang tak kalah tinggi dari Bima.
Alex mendengus panjang, menenangkan gejolak emosi yang mulai menguasai dirinya. la juga tidak mau sampai keluarga Kayla menuntutnya, tapi ia bisa apa, mereka berhak melakukan itu. la juga tidak mau nama baik keluarganya tercemar dan reputasi bisnis keluarganya bermasalah disebabkan skandal seperti itu. Tapi ia tidak akan menghindar dari tuntutan jika memang ia nanti dituntut. Bagaimanapun juga seorang pria sejati tidak akan lari dari tanggung jawabnya dan harus siap akan resiko apapun dari perbuatan yang ia lakukan. Dan Alex percaya jika ia tidak akan kehilangan harga dirinya, meski jika harus menanggung malu diseret ke penjara sekalipun.
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1