Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Bertemu Mama


__ADS_3

Kayla dan Nia berjalan cepat dan terburu-buru keluar dari mall. Setelah sampai di parkiran, keduanya mencoba menoleh ke belakang, memastikan apakah Sandi mengikuti mereka atau tidak. Setelah dirasa aman, barulah mereka menghentikan langkah, mengatur nafas yang masih ngos-ngosan.


"Seriusan ini kita selamat?!" gumam Nia tak percaya.


Apa mungkin Alex akan melepaskan mereka begitu saja?


"Kamu jangan bikin parno dong Nia.." keluh Kayla.


"Yaudah, yuk pulang" ajak Nia.


Baru saja mereka berbalik membelakangi mall dan hendak beranjak, mereka dikejutkan oleh seorang pria yang ternyata sejak tadi berdiri dibelakang mereka. Ketika keduanya berbalik, secara spontan tubuh keduanya menubruk pria itu. Dia bersidekap dada seraya memperlihatkan senyuman smirknya.


"Sandi!" lirih Kayla.


"Kenapa? kalian takut?" Buru-buru Kayla menggeleng. "Enggak, siapa yang takut. Lagian apa yang ditakutin, iya kan Ni?"


Nia memaksakan senyumnya. "Kalo gak takut kenapa kabur?" tanya Sandi datar.


"Siapa yang kabur, kita cuman buru-buru kok" kilah Kayla, membuat Sandi terkekeh sadis.


"Kalian pikir gue gak tau? Alex gak tau?" Kayla dan Nia mengernyit bingung. "Kalo tadi kalian ngomongin Alex di dalem." lanjutnya, membuat Kayla dan Nia terbelalak kaget.


"Dan elu.." Sandi menunjuk Kayla, menjeda kalimatnya sejenak. "Bagus, elu ngingetin kita soal hukuman lu."


"Apa?? Dia tau kalo tadi aku sama Nia ngomongin soal itu? Gimana bisa? Gak mungkin kan dia buntutin aku" batin Kayla.


Sedangkan Nia hanya bisa melirik Kayla.


"Hukuman?" tanya Kayla pura-pura.


"Jangan lu pikir kita bego!" bentak Sandi.


Ditengah keterkejutan mereka, dari arah belakang tiba-tiba seseorang merampas kresek bawaan mereka berdua.


"Luna? Erin?" sergah keduanya serentak.


Luna dan Erin tertawa bebas sambil mengangkat dan memperlihatkan kresek berisi perlengkapan prakarya yang baru saja dibeli oleh Kayla dan Nia. Kemudian Luna dan Erin juga mengangkat kresek milik keduanya, yang tadi mereka sembunyikan dibelakang tubuhnya.


Melihatnya Kayla dan Nia jadi mengerti, bahwa Luna dan Erin juga baru membeli perlengkapan prakarya seperti mereka. Dan..


Ooh.. jadi mereka yang memberi tahu Alex tentang obrolan Kayla dan Nia di dalam?! Mereka menguping?!


Kayla dan Nia menghela nafas dan saling pandang. Mereka merasa aman dan damai sejak pulang sekolah sampai makan di resto mall tadi, tanpa menyadari kehadiran Luna dan Erin yang ternyata menyebabkan masalah untuk mereka berdua.


"Mau kalian apa?" tanya Kayla ketus.


"Gue laper, mau makan" sahut Sandi sebelum berlalu dari hadapan mereka. "Kalian urus nih dua cupu!" katanya pada Luna dan Erin.


"Okey.."


"Sini. Balikin barang kita" pinta Kayla.


"Ambil aja!" sahut Erin lempeng sambil menyodorkan kresek milik Kayla dan Nia.


Sebelum Kayla dan Nia sempat meraih kresek itu, tiba-tiba saja Luna dan Erin serentak melemparkan kreseknya ke atas. Semua barang belanjaan di dalamnya pun jatuh berserakan menimpa tubuh Kayla dan Nia.


"Tunggu aja besok, elu gak bakal dikasih ampun sama Alex!" ancam Luna.


Luna dan Erin tertawa, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Kayla dan Nia bersama barang belanjaan mereka yang berserakan, bahkan sebagiannya rusak akibat jatuh terlempar.


"Tinggi iji bisik." cibir Nia memajukan bibir bawahnya kesal. "Tunggu besok apanya! Besok kan hari minggu, sekolah aja libur, mereka gak libur gitu ngebully orang." gerutunya sambil memunguti barang-barangnya yang berserakan.


Mau tidak mau, Kayla dan Nia harus memunguti barang mereka yang masih bagus dan bisa dipakai, lalu dengan berat hati membuang sisanya yang sudah rusak bahkan sebelum dipakai.


"Maafin aku ya Nia.. gara-gara aku, kamu jadi ikutan kena apes." lirih Kayla merasa bersalah.


"Apa sih Kay, gak papa.. aku gak akan ninggalin temen aku sendirian disaat kayak gini. Kita teman Kay.." ucap Nia serius sembari menatap kedua mata Kayla, membuat Kayla tersenyum haru.


... _______________...


Alex berjalan melenggang menuruni tangga sambil mengenakan jaket merah kesayangannya. Keluar rumah dan menuju garasi untuk mengambil motor gede' berwarna hitam miliknya.


Drttt.. Drrt...


Alex merogoh saku celananya ketika menyadari ponselnya berdering.


"Halo, Bim."


"Kita otw nih, ke rumah lu."


"Oke. Gue udah siap, manasin motor dulu" sahut Alex mulai menyalakan mesin motornya, dan memutuskan sambungan telponnya dengan Bima.


Tadi siang, Sandi mengundang teman-temannya untuk datang ke club malam milik keluarganya. Rencanya, Sandi akan merayakan ulang tahunnya disana.


Ya, pesta kecil-kecilan yang akan ia adakan di sebuah ruangan VIP di tempat hiburan itu, yang hanya akan dihadiri oleh beberapa teman terdekatnya, dan juga kekasihnya Melly.


Simple, Sandi hanya ingin bersenang-senang menikmati week end bersama mereka. Kebetulan bertepatan dengan hari ulang tahunnya.


Setelah Bima dan Vicky menjemput Alex, mereka berangkat bersama menuju club, sedangkan Sandi sudah berada disana lebih dulu.


Mereka memang sering datang ke club itu, lebih tepatnya menikmati malam week end mereka disana. Mereka memang brandal, tapi, mereka bukan anak-anak yang liar loh ya.

__ADS_1


Mereka datang ke club memang untuk bersenang-senang tapi masih dalam batas yang wajar. Mendengarkan musik sambil merokok, mengobrol sambil menonton orang berjoget, kadang-kadang minum juga sih, dan bersenda gurau dengan beberapa perempuan, tapi mereka tidak berani sampai main se*, sadar umur lah.


Tempat hiburan malam semacam itu memang selalu terkesan negatif, dan memang fasilitas disana juga menyediakan untuk hal-hal negatif itu. Tapi sebagai pelajar, Sandi dan teman-temannya bisa mengambil sisi positifnya, memutuskan dan menyaring apa saja yang boleh mereka lakukan dan apa saja yang tidak.


Dalam perihal minuman misalnya, mereka memilih minuman yang aman saja disana. Dan dalam hal bersenda gurau dengan para perempuan pun mereka membatasi dan membentengi diri mereka. Lagipula, club itu milik keluarga Sandi, yang tentunya tidak akan melepaskan Sandi dan teman-teman sekolahnya dari pengawasan mereka.


Lagipula, mereka punya tempat pribadi di club itu. Ya, karena pemiliknya adalah keluarga Sandi, jadi mudah saja jika mereka menginginkan fasilitas yang lebih nyaman dan aman untuk mereka disana.


Sandi, Bima dan Vicky sering datang kesana setiap weekend mereka, kecuali Alex.


Dia memang agak berbeda, tempat seperti itu tidak cocok untuknya yang tidak menyukai perempuan dan sangat sensitif terhadap bermacam-macam aroma, terutama bau minuman di club itu. Makanya, sejauh ini Alex hanya pernah dua kali ikut teman-temannya masuk ke club itu. Dan ini yang ketiga kalinya, demi Sandi yang sedang beulang tahun.


Setelah Alex, Bima dan Vicky memarkirkan motor mereka masing-masing, Sandi yang sudah menunggu kedatangan teman-temannya itu pun lantas menghampiri mereka dan menyambutnya. Sandi membawa mereka ke lantai tiga club itu, ke ruang VIP yang sudah disediakan dan didekor sederhana. Disana sudah ada sepupu-sepupu Sandi yang sebaya dengan mereka, dan juga Melly yang siap memeriahkan pesta kecil-kecilannya itu.


Pesta ulang tahun kecil-kecilan itu pun berjalan lancar sesuai keinginan Sandi. Didampingi sang kekasih, Sandi meniup lilin dan memotong kuenya. Ia memberikan potongan pertama kue itu pada sang kekasih dan menyuapinya. Sorakan dan tepuk tangan meriah pun menyambut kemesraan sepasang kekasih itu.


Melihatnya, Alex jadi membayangkan dirinya dan Miss Kissable di posisi itu. Ia merindukan gadis itu, selalu.


Tidak satu malam pun Alex tidak merindukannya, ia tidak sabar ingin bertemu kembali dengan gadis nya itu. Entah kapan dan dimana, sesuatu yang tidak pasti itu rasanya menyiksa Alex.


"Bro..!" Sandi menyodorkan segelas anggur ke hadapan Alex, membuat lamunannya buyar.


"Elu kan tau bro, gue gak minum."


"Kita juga jarang minum, tapi seenggaknya malam ini minum lah.. nikmatin pesta gue." ujar Sandi.


Alex mengedarkan pandangannya, semua yang hadir disini masing-masing memegang gelas yang sama, akhirnya Alex pun menerima gelas itu dan tersenyum. Baiklah, kali ini saja demi Sandi.


Cheeeersss.....


Mereka minum dan menikmati kebersamaan mereka. Alex melirik teman-temannya sebelum ia meminum anggur itu.


"Sumpah ya..baunya aja gak enak, gimana gue bisa nelen ni minuman?!" gerutu Alex dalam hati seraya menatap kecut pada gelas berisi anggur ditangannya.


Alex pernah mencobanya sekali, itu pun dipaksa oleh Sandi. Ya, harus dipaksa karena Alex tidak suka baunya, mengendus bau minuman itu saja sudah membuat perutnya geli. Dengan paksaan Sandi akhirnya Alex menenggaknya. Baru beberapa detik setelah ia menelannya, ia langsung memuntahkannya. Perutnya menolak minuman itu masuk.


Dan kali ini pun, dengan terpaksa ia mncoba meminum anggur yang kata teman-temannya sangat enak itu.


Hoeekkkk...!!


Semua orang menoleh ke arah Alex yang sudah menutup mulutnya, detik berikutnya Alex langsung berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan kembali apa yang baru saja ia masukkan ke mulutnya.


"Emang susah ya kalo perut suci, gak bisa dinodain." gumam Sandi pelan seraya menggelang melihat Alex.


Alex kembali duduk di dekat teman-temannya. Ketika seorang pelayan berjalan melewatinya Alex mencegatnya.


"Jus Stoberi." ucap Alex yang diangguki oleh si pelayan.


Alex memutar bola matanya malas. "Gue butuh yang seger dan bisa stabilin perut gue." ucap Alex seraya mengusap-usap perutnya yang masih terasa geli.


"Kenapa stroberi?" tanya Bima lagi.


"Ya karena-.." Alex terhenti saat menyadari apa yang hampir ia ucapkan. "Astaga.. apa gue mau bilang kalo gue suka stroberi, mau ditaroh dimana muka gue."


"Karena stoberi seger kan.. itu yang sekarang muncul di otak gue, yaudah." sahut Alex sekenanya.


"San, emang disini sediain jus stroberi juga?" tanya Bima lagi, masih agak heran.


"Gak tau." Sandi mengedikkan bahunya.


"Semoga ada." batin Alex.


Ia butuh stroberi sekarang, karena stroberi adalah obat dan penenang baginya, stroberi adalah candu dan juga hidupnya.


... ....


... ....


... ....


Setelah beberapa jam mereka have fun, mereka beranjak untuk pulang. Alex juga sudah relax setelah menikmati jus stroberinya.


"Thanks semuanya.." ujar Sandi seraya melambaikan tangan pada teman-temannya.


Alex, Bima dan Vicky sudah turun dan sampai di lantai satu club, mereka berjalan melewati kerumunan orang yang sedang asyik berjoget.


Tiba-tiba Alex terhenti, ketika ekor matanya menangkap sosok yang tidak asing baginya sedang berjoget ria. Posisinya tidak terlalu jauh dari Alex, tapi karena lampu clubbing yang redup dan berkedap-kedip cepat, Alex menautkan alisnya, menatapnya seksama. Ia tidak salah lihat.


Mata Alex melotot tajam, rahangnya mengeras dan tangannya terkepal kuat, bahkan wajahnya sampai memerah karena menahan amarah.


Alex tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari objek yang memancing amarahnya tersebut, bahkan ia tak mengedipkan matanya sama sekali. Matanya sampai memerah dan berair saking meluapnya emosi di dalam dada, ia menggerekatkan giginya sampai tubuhnya gemetar.


Beberapa menit kemudian, musik dugem yang memekakkan telinga dan lampu kedap-kedip itu berhenti. Membubarkan segeromolan orang yang sebelumnya berjoget memadati ruangan tersebut.


Alex masih pada posisinya, tak bergerak satu centi pun. Dan sosok yang sejak tadi ia tatap masih asyik dengan seseorang yang Alex yakini sebagai teman kencan sosok itu. Sampai teman kencannya itu membalas tatapan Alex yang nampak mengganggu dan menerornya sejak tadi. Sebenarnya ia menyadari kehadiran Alex sejak mereka berjoget tadi, namun ia mengabaikannya. Karena ia tidak mengenal Alex, jadi ia pikir bukan dirinya atau sang kekasih yang diamati oleh Alex.


Ia menarik tangan sang kekasih mengajaknya menghampiri Alex, tanpa sang kekasih pahami kenapa ia terlihat marah dan kemana ia akan membawanya.


"Kamu kenapa mas?" tanya sang kekasih.


Detik berikutnya langkah keduanya sudah sampai dihadapan Alex. Dan sang kekasih yang menyadarinya pun lantas menoleh ke arah Alex. Betapa terkejutnya ia melihat siapa yang tengah berdiri didepannya.

__ADS_1


"Al-.. Alex? Kamu..." ujar sesosok perempuan yang membuat Alex marah itu, gagu.


"Apa masalah lu, bocah??"


Alex tak menjawab bentakan pria dihadapannya. Matanya tetap tak beralih dari perempuan yang telah mengacaukan hidupnya itu.


"Vanessa, kamu kenal bocah ini?" tanya sang kekasih, yang tengah bingung melihat keduanya saling tatap dengan ekspresi berbeda itu.


Vanessa tak menjawab, ia mengulurkan tangannya ragu, meletakkannya di pundak Alex.


"Nak..." tuturnya lembut berharap amarah di mata Alex mereda.


Salah. Amarah Alex memang terlihat jelas dimatanya, tapi yang sebenarnya amarah di dadanya jauh lebih besar sampai rasanya Alex terbakar sendiri karena amarahnya itu.


Alex menyentak kasar tangan Vanessa dari pundaknya, itu memancing amarah kekasih Vanessa. Ia menarik kerah baju Alex dengan kasar dan hendak memukulnya, tapi buru-buru dihentikan Vanessa. "Jangan mas!"


"Anak kurang ajar ini harus dikasih pelajaran!"


Detik berikutnya, ketika kepalan tangan pria itu hampir mengenai wajah Alex, dengan tiba-tiba Alex lebih dulu menghantam rahang pria itu dengan bogemannya. Vanessa berteriak kaget, ketika kekasihnya akan memukul Alex tapi malah Alex duluan yang memukul kekasihnya.


Pria itu sampai tersungkur jatuh karena bogeman Alex yang keras.


Sebelum sempat Vanessa bertindak, kekasihnya kembali berdiri dan membalas bogeman Alex, Alex terhuyung sampai mundur beberapa langkah karena pukulan itu. Dengan memburu, Alex membalasnya, dan terjadilah adu pukul yang cukup sengit disana, membuat Vanessa berteriak histeris. Dan mereka menjadi tontonan para pengunjung disana.


"Udah.. cukup! cukup!" jeritan Vanessa sama sekali tak membuat mereka berhenti.


"Apa masalah lu, hahh!"


"Masalah gue sama dia, bukan elu!" jawab Alex tak kalah tinggi.


"Masalah Vanessa adalah masalah gue!"


"Gak usah ikut campur!!"


Di tengah-tengah pukulan mereka, keduanya saling berteriak, membentak dan mengumpat.


Sementara itu diparkiran, Vicky dan Bima yang sudah duduk di atas motor mereka, merasa heran karena Alex tak kunjung muncul.


"Alex kok lama banget sih."


"Iya nih, gak mungkin kan dia ikutan dugem."


"Kita cek yuk!" ajak Bima.


Ketika langkah mereka mendekati pintu masuk club dan mendengar suara gaduh di dalam, mereka bergegas masuk.


Vicky dan Bima terbelalak kaget melihat Alex yang sedang berkelahi, bahkan wajahnya sudah babak belur dan pakaiannya berantakan. Keduanya segera menghampiri Alex dan mencoba melerai perkelahian itu. Tidak lama kemudian, Sandi dan beberapa orang pengelola club itu pun datang karena mendengar keributan.


Akhirnya perkelahian dapat dihentikan. Vanessa sudah lemas melihat putranya dan juga kekasihnya babak belur. Ia segera menghampiri kekasihnya yang masih saja ingin menyerang Alex meskipun tangannya sudah dipegangi.


"Cukup mas, cukup!" lirih Vanessa dengan air mata yang sudah membasahi pipinya, ia memegang wajah kekasihnya yang sudah babak belur itu dan ujung bibirnya yang berdarah.


Alex menatap kecut ke arah sepasang kekasih didepannya itu. Lihat! Disaat seperti ini pun mamanya itu tetap memilih orang asing dibandingkan dirinya. Mamanya lebih peduli dengan pria yang memukulinya dibandingkan putranya sendiri. Alex muak!


"Dia kurang ajar sama kamu sayang, kamu liat kan?!" Ia lalu menyentak kasar tangannya yang dipegangi beberapa orang dan mulai maju ke arah Alex lagi.


Vanessa tidak bisa membiarkan kekasihnya itu memukul Alex lagi. "Mas, jangan pukul dia lagi! Dia anakku!"


Kekasih Vanessa lantas terhenti dan membulatkan matanya menatap Vanessa dan Alex bergantian. "Anak kamu?"


"Iya."


Alex tertawa terbahak-bahak sampai airmatanya tak lagi dapat ia tahan, mengalir begitu saja mulai membasahi pipinya. Tertawaan yang bercampur dengan tangisan, begitu menyedihkan. Ia meluapkan emosi yang membuncah didadanya itu dengan tertawa sekencang-kencangnya. Ia lalu mengusap kasar airmatanya dan menghentikan tawanya. Vanessa menatap iba pada putranya itu.


"Masih inget sama aku?" itu bukan pertanyaan, tapi kalimat ejekan Alex untuk Vanessa, mamanya sendiri, yang ia benci.


"Cukup Al!" ucap Vanessa dengan emosi tertahan seraya melangkah mendekati putranya.


Vanessa menghela nafas, berusaha sabar menghadapi putranya yang ia tahu sangat tidak menyukainya, dan apa saja yang dilakukannya.


"Al..sebaiknya kamu pulang sekarang, tempat ini gak baik buat kamu." ujar Vanessa lembut seraya menyentuh wajah putranya yang memar.


"Hehh! gak usah sok peduli. Aku pasti pulang, gak perlu disuruh." sahut Alex ketus sambil memalingkan wajahnya menghindari sentuhan sang mama.


Setelah mengucapkan itu, Alex beranjak. Pergi dengan membawa kemarahan dan kepedihan di hatinya, langkahnya memburu dan tangannya terkepal kuat.


Alex tak menyangka akan bertemu mamanya malam ini, ditempat hiburan malam dan bersama pria asing. Memalukan.


Dengan cepat, Alex menyalakan mesin motornya dan melaju kencang, tanpa menghiraukan panggilan teman-temannya di belakang.


Sandi, Bima dan Vicky yang sudah berlari mengejar Alex lantas terhenti di halaman club melihat Alex yang sudah berlalu dengan melajukan motornya kencang.


"Dia lagi kalut sekarang, gue khawatir. Bahaya kalo kebut-kebutan." ucap Sandi nge gas.


"Kita kejar Alex!" sambung Bima, mereka bertiga mengangguk dan segera menyusul Alex.


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... Bersambung...


__ADS_2