
Lamunan Kayla buyar saat hembusan asap rokok menerpa wajahnya, membuatnya batuk seketika. Bima, Sandi, dan Vicky kini berdiri dihadapannya.
"Apa lagi? Pergi sana lu!" ketus Sandi.
Kayla menilik satu-persatu wajah mereka, kata-kata yang terakhir diucapkan Bima tadi masih lekat dibenaknya.
"Alex udah gak penting buat kita, karena dia udah gak nganggep kita penting. Jadi percuma lu ngomong sama kita!"
"Jadi kalian mikir kalo Alex gak nganggep kalian penting? Kalo kalian gak penting buat dia, gak mungkin dia sampe stres mikirin cara biar kalian maafin dia. Alex udah berusaha buat ngomong sama kalian kan, tapi kenapa kalian gak mau denger? Alex nyoba buat perbaikin hubungannya sama kalian tapi kenapa kalian ngehindar?"
"Howwh....!!" Bima bertepuk tangan sambil mengelilingi Kayla. "Terus.. terus.. belain terus! Eh denger ya, kalo gue gak liat pake mata kepala gue sendiri perlakuan dia ke elu hari itu, mungkin gampang buat gue maafin dia."
"Gimana bisa kamu ngomong gitu, Bim? Alex teman baik kamu, kamu kenal dia, masa' kamu gak ngerti dia sih?"
"Dia yang gak ngerti kita! Kenapa harus kita mulu yang ngertiin dia, sedangkan dia seenaknya gitu aja?" sergah Vicky.
"Bukan gitu Vick. Coba deh kalian ngertiin situasi dia, saat itu dia lagi ada masalah, dia butuh support kalian, tapi kalian malah nambah masalah dia. Harusnya kalian bisa ngerti dia, ngalah dikit gak masalah kan?"
"Nambah masalah lu bilang?!" ulang Sandi jengkel, "Elu yang bikin masalah, elu ya nggak ngerti situasi, elu yang bikin Alex stres! ELU!! Elu urus aja dia sendiri, kenapa repot-repot kesini buat ngomong sama kita, kita udah gak peduli!" Sandi mengatakannya sambil mendorong-dorong bahu Kayla berkali-kali dan melangkah maju, sehingga langkah Kayla semakin mundur dan akhirnya terjatuh.
"Aww!" jerit Kayla kecil saat merasakan tubuhnya terduduk tiba-tiba ke atas bebatuan kecil.
Kayla beranjak bangun sambil mengusap roknya yang kotor juga tangannya, dan ia menyadari telapak tangannya lecet karena tergesek batu.
"Bima, Sandi, Vicky, aku gak minta kalian buat nerima kalo Alex suka sama aku. Kalian boleh benci aku, kalian boleh bully aku, tapi jangan jauhin Alex! lya dia mungkin bikin kalian kecewa, tapi hubungan diantara kalian dan perasaan kasih sayang kalian lebih besar dari rasa kecewa itu kan? Kalian bisa ngambil waktu sebanyak yang kalian butuh buat maafin Alex, tapi aku mohon.. coba dengerin dia sekali aja! Kasih dia kesempatan buat jelasin ke kalian, dia sayang sama kalian bertiga, P-four gak boleh bubar." ucap Kayla lirih.
Bima terkekeh, Sandi memutar bola matanya jengah, dan Vicky pun marah, Vicky melempar rokoknya yang masih menyala itu ke tanah dan menginjaknya sadis.
"Gak usah sok ngatur-ngatur! Elu pikir dengan lu ngomong begitu kita bisa luluh, kita mau nurut sama lu gitu? Heh, kita bukan si bucin Alex yang jadi pengecut di depan elu!" bentak Bima.
"Lagian dia juga gak mentingin perasaan kita, ngapain kita mikirin dia?! Dia cuman mentingin elu, puas lu?!" sungut Sandi, "Heh, elu kesini cuman pamer kan ke kita, elu bisa bikin Alex berubah dan prioritasin elu dibanding yang lain! Selamat!" lanjutnya geram.
"Elu udah ngerebut tempat kita dalam hidup dia, pergi lu sekarang juga, gue muak!" usir Vicky sambil mendorong bahu Kayla.
"Oke, aku tau kalian masih marah. Kalian butuh waktu, tapi aku harap kalian bisa cepat maafin Alex." Kayla berbalik setelah mengatakan itu.
Bima, Sandi dan Vicky pun berbalik hendak kembali ke markas mereka. Langkah mereka terhenti saat suara Kayla kembali terdengar.
"Apa aku bisa bantu kalian buat baikan lagi sama Alex?"
"Kita gak minat baikan sama dia!" sahut Bima tanpa menoleh.
"Kalian gak bisa cuekin Alex terus, aku tau kalian juga sebenarnya gak mau hubungan kalian berantakan kayak gini! Persahabatan kalian gak serapuh ini sampe kalian harus bubar cuman gara-gara aku. Disini aku yang salah, aku yang bakal perbaikin semuanya! Jadi bilang sama aku, aku harus apa biar kalian baikan lagi?" ujar Kayla mengalah.
Bima, Sandi, dan Vicky saling melirik kemudian ketiganya tersenyum smirk dan berbalik menghadap Kayla. Kayla menghela nafas lega.
"Heh, emangnya apa yang bisa lu lakuin?!" ujar Sandi remeh.
"Apa aja. Aku bakal lakuin apapun yang penting kalian baikan lagi"
"Good!" ucap Vicky takjub.
"Orang kayak elu pasti ngerti, gimana rasanya gak dihargain! Elu berharap kita bisa maafin Alex semudah itu, setelah dia bohongin kita dan merlakuin kita kayak orang bego! Gak bakal!" ketus Bima.
"Kalian bisa bilang, apa yang kalian mau?"
"Elu bilang bisa lakuin apa aja? Emang lu bisa ngebayar rasa kecewa kita, heh?" cibir Sandi.
"Aku akan coba, kalian bilang aja maunya gimana!"
"Oke." Bima menjentikkan jarinya sekali kemudian maju ke depan Kayla.
Bima menoleh sekilas pada kedua temannya sebelum ia mengutarakan permintaan yang akan ia ajukan pada Kayla.
"Pertama, elu harus bikin Alex kecewa! Kedua, elu harus jauhin dia! Ketiga, elu bikin pengumuman di Mading sekolah, kalo lu itu... sebenarnya cewek malam, or.. PSK!"
Duaaarr......
Kayla terbelalak dengan tiga permintaan yang diajukan Bima. Apa-apaan itu?!
"Bisa?" tanya Bima.
"Katanya bisa lakuin apa aja..!" cibir Sandi.
Kayla mati kutu. la bingung harus menjawab apa, tidak mungkin ia memenuhi permintaan itu. Tapi Kayla sangat ingin melihat Alex berbaikan dengan ketiga temannya ini.
"P-four bakal balik kayak semula kalo lu bisa lakuin tiga permintaan itu!" kata Vicky.
Kayla bergidik melihat seringaian di wajah Bima yang berhadapan langsung dengannya.
"Gimana?" tanya Bima.
"Buat yang pertama sama yang kedua, gampang kan? Elu gak suka kan sama Alex, elu juga udah nolak dia. Jadi apa susahnya bikin dia kecewa ataupun jauhin dia! Soal permintaan kita yang ketiga.. kita bisa bantu!" ujar Bima, ia menatap Kayla liar sambil mengusap bibirnya sendiri dengan jari jempolnya setelah mengatakan kalimat terakhirnya.
Kayla membulatkan matanya. "Jangan kamu pikir aku setuju ya!" Kayla menunjuk wajah Bima marah.
"Aku ngalah dan nawarin permintaan ke kalian, itu buat kebaikan kalian sendiri. Kalian pikir karena aku bilang aku bisa lakuin apapun, kalian bisa manfaatin itu! Apa maksudnya permintaan yang ketiga?" lanjutnya marah.
"Ya nempelin foto lu di Mading sama bikin pengumuman, itu urusan kecil! Serahin aja ke kita!"
Kayla menggeram jijik, bisa-bisanya mereka berpikiran sekotor itu! Permintaan macam apa itu, lagipula apa untungnya bagi mereka tiga permintaan itu? Mereka bermaksud untuk balas dendam pada Alex dan Kayla, begitu?
"Aku gak bisa!" ucap Kayla tegas.
Bima mencibir, "Heh, terserah lu! Lupain kalo kita bakal maafin Alex!"
Bima mengedikkan bahunya dan berbalik setelahnya, Kayla jadi merasa sedih. Apa tidak ada cara lain agar mereka mau memaafkan Alex, atau setidaknya mereka mau mendengar Alex. Jangankan untuk tiga permintaan, untuk satu permintaan saja Kayla tidak bisa memenuhinya. Mengecewakan Alex ataupun menjauhinya, itu akan berefek buruk. Sekarang Alex sudah baik-baik saja dan mempertimbangkan untuk perubahan, dia mempercayai Kayla untuk membantunya dan mendampinginya. Bagaimana jika Kayla mengkhianatinya, Alex bisa saja kembali down kan, dia bisa stres lagi dan kehilangan semangatnya, bahkan kepercayaan dirinya.
Kayla menelan salivanya sebelum mengatakan sesuatu. "Kalo aku setuju, apa kalian bakal baikan sama Alex? Kalian akan maafin dia?" tanya Kayla ragu.
Langkah Bima terhenti, ia melirik Sandi dan Vicky. Ketiganya saling melemparkan pandangan seolah berpikir panjang. Bima lalu berbalik dan menjawab Kayla.
"Of Course!" ucapnya seraya mengangkat alisnya dan mengangguk sekali.
__ADS_1
Kayla mengepalkan kedua tangannya tegang, sekarang Bima menjamin maaf mereka untuk Alex, tapi apa iya Kayla harus menyetujui ketiga permintaan itu?
"Karena lu kasih kita waktu, jadi kita juga kasih lu waktu buat mikir. Ya.. anggap aja kita berbaik hati sama lu kali ini. Waktu lu sampe besok! Keputusan ada di tangan lu!" kata Bima final.
... ________________...
Angkot berhenti di depan rumah Kayla. Setelah membayar ongkosnya, Kayla turun dan berjalan memasuki pekarangan rumahnya. Di teras, Kayla melihat Alex duduk sendirian.
"Dia masih disini?" gumam Kayla kecil.
Menyadari kedatangan Kayla, Alex tersenyum seraya berdiri, menyambut Kayla. Kayla terkekeh geli melihatnya, seperti Alex tuan rumahnya saja padahal kan ini rumah Kayla.
"Hai Miss Kissable.." sapanya senang.
"Hai." balas Kayla singkat.
"Kamu masih disini? Aku pikir kamu udah pulang." kata Kayla langsung.
"Kamu ngusir aku?"
"Aku nanya Al, bukan ngusir."
"Aku bakal pulang setelah pamitan sama kamu."
"Eh Lily udah pulang.." seru mami yang tiba-tiba muncul diambang pintu.
Kayla terkesiap sekaligus heran. Tidak biasanya mami sudah di rumah jam segini. Biasanya mami akan pulang dari kantor jam lima sore.
"Mami udah pulang duluan?" tanya Kayla sambil meraih tangan mami untuk diciumnya.
"lya sayang, mami kepikiran Alex makanya mami pulang cepat."
"Eh Alex nya disini, udah enakan?" tanya mami beralih pada Alex.
"Alhamdulillah, tante"
"Emangnya Alex kenapa mi?"
"Demam, sayang! Untung mami pulangnya cepat, kasian Alex sendirian di rumah. Tapi sekarang udah baikan kan nak? Udah mami bikinin sup juga sama minum obat."
Kayla cemberut, "Manja!"
Alex terkekeh, "Bilang aja iri, aku diperhatiin mami kamu."
"Gak papa sayang, sekali-sekali mami ngerasain punya anak laki-laki" kata mami sambil tertawa kecil, membuat Kayla mempoutkan bibirnya geli.
"Yaudah mi, Lily masuk ya!" kata Kayla, yang diangguki oleh mami.
Setelah berganti pakaian, Kayla duduk di meja makan. Alex menyusulnya.
"Gimana sekolah hari ini?" tanya Alex, membuat Kayla mengernyit.
"Kamu udah kayak mami aku deh, nanya-nanya gitu."
Alex terkekeh, ia kemudian melihat ada yang janggal di tangan Kayla. Alex meraih tangan Kayla dan melihatnya seksama. "Kenapa tangan kamu?"
"Gak papa, cuman kegores dikit" sahut Kayla seraya menarik tangannya kembali.
"Ulah siapa tuh?" tanya Alex menyelidik.
"Apanya sih Al.." sahut Kayla sambil mengambil nasi dan menaruhnya ke piring.
"Siapa yang bikin tangan kamu sampe kegores gitu?"
"Ya aku lah, emang siapa!" ujar Kayla tanpa melirik Alex.
"Kamu nyembunyiin sesuatu ya?"
"Apa sih AI..?" Kayla menggeleng sambil tertawa kecil.
"Kalo kamu gak nyembunyiin sesuatu, ayo liat aku!"
"Apa yang terjadi di sekolah?" tanya Alex lagi.
Kayla sempat terdiam sebelum menjawab. "Kayak biasa aja kok, gak ada yang spesial."
Meski ada sesuatu yang terjadi, Kayla tidak akan memberitahu Alex. Apalagi tentang permintaan Bima, Sandi, dan Vicky.
"Jangan ngeles! Ekspresi muka kamu gak bisa bohong."
"Aku tadi cuman jatuh Al, makanya tangan aku luka sedikit. Gak ada yang serius kok, udah ah gak usah berlebihan!"
Kayla mulai menyantap makanannya. "Kamu udah makan?"
"Hm" sahut Alex sambil menatap Kayla.
"Kalo gitu jangan ganggu aku makan!"
"Aku ganggu?" bingung Alex.
"lya, aku keganggu kamu liatin begitu!"
"Oke, aku pergi. Tapi sebelum kamu cerita, aku gak akan pulang ya! Aku tunggu kamu didepan!" ujar Alex seraya beranjak.
"Cerita apa?" tanya Kayla.
"Soal di sekolah hari ini" ucapnya seraya berlalu.
Kayla mendengus lesu. Selama makan, Kayla tidak bisa berhenti memikirkan tentang tiga permintaan Bima, Sandi, dan Vicky pagi ini. Kayla kesal, kenapa ia harus ada dalam dilema seperti ini. Jika Kayla memenuhi permintaan mereka, maka mereka akan memaafkan Alex, dan P-four akan bersatu kembali. Tapi jika Kayla tidak menolaknya, maka Alex harus rela kehilangan teman-teman terbaiknya itu. Meski sampai saat ini Kayla belum yakin jika Bima, Sandi, dan Vicky sungguh-sungguh melupakan Alex sebagai teman mereka.
Jika Kayla memenuhi permintaan mereka, artinya ia harus melakukan tiga hal yang mereka minta itu. Mengecewakan Alex, bagaimana Kayla akan melakukan itu? Menjauhi Alex, mungkin Kayla bisa mencobanya tapi Alex tidak semudah itu ia jauhi. Alex pasti tidak membiarkan Kayla menjauhinya, kecuali jika Kayla melakukan sesuatu yang membuat Alex bisa menjauhinya. Seperti mengecewakannya, atau melakukan permintaan yang ketiga. Tapi permintaan yang ketiga itu sungguh menjijikan!
"Sayang?"
__ADS_1
"lya mi?" sahut Kayla yang sedang mencuci piring bekasnya makan.
"Itu Alex katanya mau pulang, tadi udah pamit sama mami."
"Oh iya mi, sebentar lagi Lily ke depan."
Mami hendak berlalu, tapi dihentikan Kayla. "Tunggu mi!"
"Ada apa sayang?" Kayla menghampiri mami.
"Alex ngapain aja selama Lily gak di rumah?" tanyanya pelan.
Mami mengernyit. "Dia cuman tiduran kok, kan tadi demam."
"Dia gak ngomong apa gitu ke mami? Tadi.. dia duduk di depan pas Lily dateng."
"Katanya mau nungguin kamu, makanya duduk di depan. Alhamdulillah dia udah baikan abis bangun tidur tadi."
Kayla diam. Entah kenapa ia terpikir jika Alex bisa saja bicara sesuatu tentang hubungan mereka pada mami. Eh, tunggu! Bukankah tadi Alex ingin Kayla menceritakan tentang yang terjadi di sekolah hari ini? Tiba-tiba sekarang mami bilang Alex pamitan mau pulang.
"Emangnya kenapa sayang?" tanya mami.
"Emm.. gak ada Mi. Ayo kita ke depan!" ajak Kayla sambil memegang tangan mami.
Alex menyalakan mesin motor Kayla dan memanaskannya. Saat Kayla dan mami datang, Alex mematikan mesin motornya.
"Tante, makasih banyak ya! Saya udah ngerepotin banget. Lily juga, thank you so much!" ucap Alex seraya tersenyum.
Mami dan Kayla mengangguk.
"Motornya saya pinjem ya tante!"
"lya, jangan sungkan nak Alex! Hati-hati dijalan ya..!"
Alex mengangguk sambil mengambil helm. Sebelum ia mengenakannya, ia memperhatikan helm itu terlebih dahulu. Kayla mendengus tawa, "Pake aja Al, kita gak punya helm lain!"
"Hehe.. iya helm cewek ya!" imbuh Mami.
"Oh gak papa, daripada gak pake helm kan." ujar Alex menyengir.
Sebelum benar-benar berangkat, Alex berpamitan sekali lagi pada mami Kayla dan mencium tangannya. Alex lalu beralih pada Kayla, ia tersenyum penuh arti. Kayla jadi salah tingkah ditatap seperti itu, didepan mami pula.
"See you!" ucapnya seraya mengusal rambut Kayla.
Kayla terkesiap mendapat perlakuan itu dari Alex, Mami juga tak mengira Alex akan berlaku manis seperti itu. Mami jadi teringat masa lalu, dulu papinya Kayla suka mengusal rambut mami saat hendak pergi keluar rumah.
"Assalamu'alaikum!" ucap Alex membuyarkan lamunan mami.
"Wa'alaikum salam." jawab Mami dan Kayla serentak.
... ....
... ....
... ....
Ponsel Kayla berbunyi sekali, menandakan satu chat masuk ke nomernya. Kayla yang sedang duduk ditepi kasur pun meraih ponselnya.
"Alex" gumam Kayla saat melihat layar ponselnya.
📱
"Miss Kissable, motor kamu aku anter besok ya! Sekalian besok aku jemput kamu ke sekolah!"
Kayla terperangah membaca isi chat Alex. Alex mau menjemputnya? Artinya mereka akan berangkat ke sekolah bersama, begitu? Apa-apaan Alex, apa dia tidak memikirkan reaksi orang-orang jika melihat mereka bersama, terutama Bima, Sandi, dan Vicky? Ketiga teman Alex itu tidak akan suka jika melihat Kayla dan Alex bersama.
Hari ini Bima, Sandi, dan Vicky mengajukan tiga permintaan pada Kayla. Permintaan yang sulit Kayla penuhi, bahkan Kayla masih mempertimbangkannya, Kayla belum memutuskan akan menerimanya. Mereka memberi Kayla waktu sampai besok, tapi jika besok pagi mereka melihat Kayla berangkat sekolah bersama Alex, bisa saja mereka melupakan tiga permintaan mereka itu, dan melupakan Alex juga.
Tidak. Kayla sudah berusaha membantu memperbaiki hubungan diantara empat sahabat itu, Kayla tidak akan membiarkan terjadi sesuatu yang akan menjadi rintangan berbaikannya Alex dengan ketiga temannya.
📱
"Kamu bercanda Al? Masa' kita berangkat bareng!
Kayla membalas chat Alex. Satu menit kemudian, Alex mengirim chat balasan.
📱
"Kenapa, kamu malu ya? Aku sih udah gak peduli mau gimana pendapat anak-anak soal kita, aku udah mutusin buat nerima saran kamu. Aku bakal mulai perubahan di sekolah, Miss Kissable! Aku bakalan belajar sabar, juga ngendalin emosi aku!"
Kayla tersenyum tipis sambil membaca chat itu. "Aku senang Al, kamu mau mulai perubahan ini"
"Besok bakalan jadi awal baru buat kamu, buat sekolah, juga buat semua orang disekitar kamu!" gumam Kayla.
📱
"Miss Kissable..?"
Alex mengirim chat lagi karena Kayla tak kunjung membalas pesannya.
📱
"Aku senang Al kamu nerima saran aku! Tapi kita gak bisa berangkat bareng. Aku gak mau kamu dipandang rendah ataupun diremehin sama anak-anak karena dekat sama aku. Bima, Sandi, sama Vicky juga masih marah kan sama kamu, mereka gak akan suka liat kita bareng."
Beberapa menit berlalu, tidak ada chat balasan dari Alex. Sepertinya Alex memikirkan tentang ketiga temannya itu.
Kayla juga memikirkan mereka. Tentang tiga permintaan mereka yang membuat Kayla dilema. Sesungguhnya, Kayla tidak mau memenuhi permintaan itu, terutama permintaan yang ketiga. Tapi mungkin Kayla akan mempertimbangkannya kembali demi kebaikan Alex.
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...