Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Mendampingi Persalinan


__ADS_3

Di rumah sakit Rakyat Sejahtera, di depan ruangan bersalin, di sanalah kini Alex dan Kayla berada. Setengah jam yang lalu mereka berdua membawa seorang wanita hamil yang sebelumnya mereka temui di jalan. Wanita itu tengah terduduk tak berdaya di pinggir jalan, merintih dan mengaduh kesakitan sambil memegangi perut buncitnya. Air ketubannya sudah pecah, tapi orang-orang di sekitarnya hanya membiarkannya saja, mereka malah sibuk memperdebatkan harus melakukan apa pada wanita yang akan segera melahirkan itu. Kayla tentu kesal sekali menyaksikan kejadian itu, sudah jelas wanita itu membutuhkan pertolongan tapi orang-orang yang berdebat itu seolah tidak menganggap masalahnya serius, mereka hanya pura-pura peduli saja.


Mereka memperdebatkan tentang siapa yang akan menanggung biaya rumah sakitnya jika mereka melarikan wanita itu ke rumah sakit, sedangkan wanita itu tidak menjawab saat ditanyai soal suaminya ataupun keluarganya. Entah dimana suaminya, atau mungkin dia malah tidak punya suami. Entahlah. Tapi keselamatan wanita itu dan bayinya jauh lebih penting dibandingkan permasalahan yang mereka perdebatkan.


Akhirnya Kayla dan Alex membawanya kerumah sakit. Dan kini wanita itu tengah mendapat penanganan dari dokter kandungan dan beberapa suster lainnya. Kayla dan Alex duduk di kursi tunggu didepan ruang persalinan.


"Miss Kissable, kamu kenal cewek itu?"


"lya. Eh enggak juga sih, cuman sering ketemu aja."


"Maksudnya?"


"Langganan angkot kita sama, biasanya pulang sekolah aku sama dia selalu naik angkot yang sama. Tapi emang akhir-akhir ini dia gak keliatan."


Ingatan Kayla kemudian berkilas balik ke suatu hari, dimana ia dan wanita itu sama-sama berdiri di depan apotek. Kayla membeli plester dan salep untuk mengobati lukanya, sedangkan wanita itu membeli.. testpack!


Ya, wanita hamil itu adalah gadis berhoodie yang Kayla temui di apotek berbulan-bulan yang lalu. Kayla begitu terkejut bahkan sempat syok melihatnya membeli alat tes kehamilan, Kayla lihat wajah pucat dan raut ketakutan dari wajahnya kala itu, dan ternyata.. dia memang hamil. Padahal Kayla tahu dia masih SMA. Pasti berat baginya menanggung kehamilan ini, apalagi sepertinya tidak ada suami yang mendampinginya.


Tadi di perjalanan, Kayla sempat menanyakan tentang keluarganya agar Kayla bisa menghubungi salah satu dari mereka setidaknya. Tapi wanita yang tengah kesakitan mengalami kontraksi itu terus menggeleng-geleng dengan air mata yang tak berhenti mengaliri pipi chubby nya. la sempat berujar sekali dengan lirih dan serak.


"A..aku sen..di..rian." ujarnya dengan nafas yang ngos-ngosan.


Malang sekali. Entah bagaimana ia menjalani hidupnya selama masa kehamilan, sendirian, tanpa didampingi oleh suami ataupun keluarga. Jika mengingat trauma kelam yang pernah Kayla alami dulu, nasib Kayla tentu lebih beruntung dari gadis berhoodie itu, dia wanita yang kini tengah berjuang antara hidup dan mati di ranjang persalinan.


"Miss Kissable."


Panggilan Alex membuyarkan lamunan Kayla. Alex menatap tanya yang hanya ditanggapi dengan gelengan kepala Kayla.


"Tadi kamu bilang.. kamu sama dia sering naik angkot yang sama pulang sekolah. Emangnya dia masih sekolah ya?"


"lya Al, dia masih SMA, sama kayak kita."


Alex terkejut. Masih SMA tapi sudah hamil?


"Kamu tau, meskipun kita gak pernah saling bicara, aku belajar sesuatu yang besar dari dia. Keputusanku buat bangkit dan bersemangat itu aku dapat dari dia, Al"


Alex tidak mengerti, "Dia?"


"Hm. Kita pernah gak sengaja barengan ke apotek, aku liat dia beli testpack. Dari sana aku mikir keras, ternyata nasibku jauh lebih beruntung dari dia"


Alex masih menyimak. "Waktu itu adalah hari terberat buat aku Al, kamu tau, itu hari dimana kamu ngelecehin aku"


Jantung Alex berdebar ngilu, ia lantas menunduk malu, merasa sangat berdosa. Kayla mengingatkannya tentang hari itu, hari yang juga tak terlupakan bagi Alex. Hari yang paling Alex sesali sampai sekarang. Meski Kayla bilang sudah memaafkannya, tapi Alex tahu luka itu tak serta merta sembuh begitu saja. Insiden besar itu tentu meninggalkan jejak trauma dalam diri Kayla.


"Aku sempat ngerasa hancur sebelum aku ketemu cewek itu. Tapi setelah aku ketemu dia, merhatiin kondisi dia, dan mikir soal testpack yang dia beli itu.. aku jadi sadar, kalau aku seharusnya lebih bersyukur. Aku gak boleh terpuruk dan aku harus semangat, aku lebih beruntung dari dia."


Alex terenyuh. la menyentuh tangan Kayla dan menggenggamnya perlahan. "Maafin aku Miss Kissable..."


Kayla tersenyum tipis. "Lupain itu Al, aku udah maafin kamu kok"


"Tapi aku-.."


Ucapan Alex terpotong saat Kayla langsung berdiri melihat seorang perawat keluar dari ruang bersalin.


"Apa ada masalah, sus?" tanya Kayla.


"Dimana suami ibu Alisa?"


"Emm.. enggak ada sus." dengan terpaksa Kayla menjawab.


"Kalau keluarganya yang lain?" Kayla menggeleng lemah seraya tersenyum miris.


"Cuman ada kita. Apa ada yang mendesak sus?"

__ADS_1


Suster menghela nafas sebelum mengutarakan maksudnya. "Begini, biasanya menjelang persalinan, disaat-saat kontraksi hebat seperti ini si ibu sangat membutuhkan support dan pegangan. Harusnya ada yang mendampinginya dan menyemangatinya."


"Apa beresiko sus kalo gak ada yang dampingin?" tanya Alex membuat Kayla menilik ke arahnya.


Kayla sedikit kagum atas ketertarikan Alex, artinya ia peduli dengan wanita yang tengah berjuang sendirian itu.


"Proses persalinan itu memang selalu beresiko dek, apalagi sekarang tekanan darah si ibu semakin rendah. Dia seperti ingin menyerah dan tidak semangat untuk memperjuangkan bayinya. Karena itu dia membutuhkan seenggaknya seseorang yang bisa menyemangatinya."


"Kita bisa sus, kita siap! lya kan Al?" respon Kayla cepat.


Alex terkesiap, cengo. Kayla mengedip sekali dengan senyuman meyakinkannya.


"E..i.iya!" sahutnya kemudian.


Suster menilik Kayla dan Alex bergantian, sambil berpikir. Kemudian mengangguk dan mempersilahkan Kayla dan Alex masuk ke ruangan bersalin.


Sebelum mereka masuk, Alex menahan Kayla dan bertanya sekali lagi. "Miss Kissable, kamu nggak serius kan pengen aku nyaksiin orang lahiran?"


"Bukan nyaksiin aja Al, tapi ngedampingin. Ngasih support."


"Aku?" Alex memastikan, dan Kayla mengangguk mantap.


"Aku? Kamu bercanda." Alex terkekeh geli.


"Al, kasian dia. Tadi kamu denger kan suster bilang tekanan darah dia semakin menurun, itu artinya resikonya juga semakin besar. Ini soal nyawa Al, aku sebenarnya juga nggak ngerti gimana cara ngehadapin situasi kayak gini, tapi kita disini niat bantu. Dia dan bayinya harus selamat."


Alex menghela nafas berat. la menatap Kayla yang nampak mengiba padanya. Akhirnya Alex mengangguk dan mereka masuk ke ruang bersalin.


Setelah mengenakan APD rumah sakit, Kayla dan Alex dipandu untuk mendekat ke sisi Alisa, wanita yang mereka tolong tersebut. Sebelum sampai di samping Alisa, Alex menghentikan langkahnya dan membuat langkah Kayla berhenti juga. la menggenggam tangan Kayla, gugup, dan menelan salivanya tegang.


"Miss Kissable, aku harus gimana, apa yang mesti kita lakuin disini. Aku gak pernah ngehadapin yang kayak gini." ucapnya agak gemetar.


"Kamu rileks Al, aku juga sebenarnya bingung mau ngapain, tapi kita berusaha ya sebisa kita buat bantu perjuangan dia. Kita tunjukin semangat dan kasih sayang kita ke dia ya, biar dia yakin dan semangat lagi!"


Alisa nampak bingung melihat Kayla dan Alex yang tersenyum hangat sambil mendekatinya. Kayla berdiri disisi kiri Alisa, sedangkan Alex disisi kanannya. Kayla menggenggam tangannya menyalurkan kekuatan dan keyakinan.


"Semangat ya! Kita disini bersama kamu."


Terenyuh, jejak air mata di wajah Alisa sudah mengering tapi kini wajah itu basah lagi oleh air mata yang baru. la bersyukur, setidaknya ada yang peduli dengannya dan bersedia memberinya dukungan.


la lalu menoleh ke arah Alex, Alex tersenyum tipis agak kaku. Tanpa aba-aba lagi, Alisa langsung memegang erat lengan Alex saat kontraksinya mulai menyerang lagi. Alisa memegang lengan Alex kuat, mencari kekuatan dari lengan kokoh itu, membuat Alex meringis dan hampir saja menyentak lengannya jika saja Kayla tidak melarangnya.


Satu jam berlalu dan kontraksi yang dialami Alisa semakin hebat. Tapi Alex heran, meski telah berjuang sekuat tenaga dan selama ini, bayinya belum juga lahir. Alex lihat Alisa nampak kewalahan dan mungkin kehilangan tenaganya juga, karena cengkeraman Alisa pada lengannya kian melonggar. Alex membiarkan wanita itu memegang lengannya dan bahkan mencengkeramnya, kasihan dia harus menjalani proses ini tanpa suaminya. Bukankah seharusnya suaminya lah yang berada di posisi Alex!


"Sedikit lagi bu!" ujar Dokter menginstruksi.


Alisa mendesah dengan nafas beratnya yang terputus-putus. Kayla mengusap kepala Alisa lembut sambil menyeka keringat yang terus mengucur di sana. Alisa kembali mengejan mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa. Sebenarnya ia ingin menyerah tapi support dari Alex dan Kayla membuat gelora dalam jiwanya bangkit kembali, ia tidak bisa mengorbankan bayinya demi keselamatan dirinya sendiri, ia tidak boleh menyerah sampai disini, ia seorang ibu.


Alex semakin tegang dan gemetar menyaksikan yang terjadi di depan matanya. Alex lihat urat-urat wajah, leher, dan tangan Alisa menegang sampai menyembul keluar, wajahnya merah dan dipenuhi keringat. Alex kira mungkin sebentar lagi wanita ini akan pingsan karena kelelahan. Tapi tidak, Alisa yang sudah lemas tadi, sekarang tiba-tiba terlihat memiliki tenaga besar lagi, entah ia dapat dari mana itu. Cengkeramannya pada lengan Alex semakin kuat, Alex merasa jika lehernya yang dicengkeram sekuat ini pastilah Alex akan kehabisan nafas.


Saat ini saja Alex jadi ikut-ikutan merasa mulas dan begitu tegang. Dia jadi merasakan energi dan aura yang memenuhi ruangan ini. Setelah berdiri dengan posisi agak menunduk dan menyamping berjam-jam disisi Alisa, Alex merasakan tubuhnya kebas dan kesemutan, terutama lengannya. Badannya panas dingin, ia berkeringat, bukan karena udara ruangannya panas, tapi karena ia begitu lemas dan tegang menghadapi situasi menegangkan ini. Jantungnya sampai berdebar tak karuan seolah ia yang tengah berada diambang maut. Lalu bagaimana dengan wanita yang masih setia memegang lengannya ini?


Alex semakin kasihan melihatnya. Beginikah perjuangan seorang wanita saat ia melahirkan? Sungguh berat, berjuang sekuat tenaga dan mempertaruhkan nyawa sendiri, demi nyawa yang bahkan dia sendiri belum pernah melihat sosoknya. Jenis perjuangan seperti ini tidak bisa dianggap enteng.


Bahkan jenis olahraga terberat sekalipun masih kalah berat dengan olahraganya wanita yang tengah berjuang melahirkan. Jika kita kelelahan berolah raga, kita bisa beristirahat dan menghentikan kegiatan kapan saja. Sedangkan olahraganya wanita yang sedang melahirkan meski ia lelah ia tetap terus berolah raga, tidak bisa menyerah dan istirahat begitu saja. Tidak peduli akan kondisi dirinya sendiri, ia terus melanjutkan kegiatannya. Berjuang sampai akhir, menyelamatkan nyawa yang bergantung padanya sejak 9 bulan terakhir.


Tanpa sadar, air mata Alex telah menggenang di pelupuk matanya. Ketika ia mengedip sekali, air mata itu lantas mengaliri pipinya, membuatnya tersadar dari renungan dalamnya.


"Ayo bu, dorong lagi, sedikit lagi!" instruksi Dokter.


Alex mulai kesal dengan situasi ini, tidak bisakah Dokter dan para perawat ini melihat bagaimana kewalahannya Alisa. Sejak tadi Dokternya hanya memberi arahan saja, tidak melakukan apapun, para suster ini juga hanya berdiri melongo. Dan tidak bisakah bayi yang tidak tahu diri itu merasakan betapa kerasnya sang ibu berjuang, mengerahkan seluruh tenaganya demi mengeluarkan dirinya dari alam gelap sana menuju dunia terang ini. Sampai kapan Alisa harus seperti ini!


"Dok! Kenapa nggak ditindak langsung aja sih? Liat, dia udah capek banget, bisa-bisa bahaya kan kalo dibiarin begini"

__ADS_1


Dokter dan yang lainnya sontak menoleh kearah Alex, termasuk Kayla.


"Tenang dek, orang melahirkan itu memang seperti ini." jawab Dokter tenang.


"Tapi ini udah berjam-jam, mau nunggu sampe kapan sih! Kalo udah gak bertenaga gini masa' masih harus ngeden!" sungut Alex.


Kayla membulatkan matanya melihat Alex yang mulai emosi. Alisa juga nampak mendongak ke wajah pria yang tengah melayangkan protes itu.


"Proses persalinan memang memakan banyak waktu dek. Lagian selama tekanan darah si ibu normal, itu masih aman kok" salah satu suster angkat bicara.


"Dan pasien juga sudah dipasangi infus, itu akan membantu dia." timpal suster lainnya.


Dokter wanita berhijab berusia paruh baya yang bernama tag Dr Rahmayanti Sp.OG itu menilik lekat ke arah Alisa. Alisa memang nampak sangat lemah dengan nafas yang tersengal-sengal. Tatapannya juga sangat sayu, sangat terlihat bahwa ia kelelahan.Wajar jika pemuda disampingnya itu mengkhawatirkannya.


"Kalo bu Alisa merasa sudah tidak kuat lagi, terpaksa kita akan menjalani prosedur operasi. Tapi selama ibu masih bisa, persalinan normal akan lebih baik."


"Nah dari tadi dong, kalo operasi kan cepat selesai. Enggak buang-buang tenaga dok." Ujar Alex sambil melirik Dokter dan Alisa bergantian.


Alisa menggeleng lemah. "Eng..gak dok.. Saya.. ma..sih kuat.. saya.. nggak m..mau op..rasi.." lirihnya susah payah.


Astaga.. Alex tak habis pikir, Alex sendiri geleng-geleng kepala melihat respon Alisa. Apa yang wanita ini pikirkan, di situasi segenting ini dan kondisi tubuh selemah ini dia masih ingin memaksakan dirinya! Dia tidak memikirkan keselamatan dirinya, dan hanya keselamatan bayinya saja. Jika terjadi sesuatu yang fatal padanya bagaimana, seharusnya dia memikirkan itu juga kan, bagaimana nanti nasib bayinya! Apa dia tidak terpikir jika dia tidak selamat maka bayinya akan hidup sebatang kara. Ya Tuhan.. Alex tidak mengerti.


Dan Dokternya juga menurut saja, mereka menganggap ini biasa? Apakah yang seperti ini memang biasa? Naluri Alex tidak bisa mempercayai ini.


"Tapi elu udah gak berdaya!" marah Alex, kemudian beralih pada Dokter.


"Dok?" protesnya lagi.


Alisa masih menggeleng, dan Dokter yang melihatnya tentu mengerti dan percaya pada ke'optimisan pasien nya. Lagipula Dokter Sp.OG ini kan lebih tahu kondisi pasien nya, jadi sang Dokter tentu tahu harus mengambil keputusan bagaimana dan bertindak apa untuk kebaikan pasien nya. Alex menoleh ke arah Kayla, berharap ada pembelaan atau dukungan dari gadis nya itu. Tapi tidak, Kayla malah tersenyum dan mengangguk. Senyumannya hambar tapi anggukan keyakinannya itu membuat Alex hanya bisa mendengus pasrah. Alex bisa melihat jika Kayla juga khawatir tapi Kayla tetap mendukung keputusan Alisa.


Lima belas menit berlalu, Alex semakin frustasi dan gelisah, kepalanya pusing kepayang, perutnya pun terasa mulas tak karuan.


"Ck, Ah! Kenapa gue makin tegang sih, yang mau lahiran dan dia! Kalo kayak gini terus gue nggak tahan" gerutunya dalam hati.


Alex mencolek bahu Kayla, membuat gadis itu menoleh. Alex berbisik tanpa suara, jadi Kayla harus menajamkan fokusnya pada Alex agar memahami apa yang Alex katakan.


"Aku nggak tahan." ucapnya sambil menggeleng, wajahnya frustasi.


Kayla mengedip sekali dan menanggapi Alex dengan tenang, "Sabar..." jawabnya tanpa suara, Alex hanya bisa mendengus pasrah.


Alex lagi-lagi menyaksikan hal yang aneh. Entah darimana Alisa mendapat kekuatannya, ia bisa memegang lengan Alex begitu kencang meskipun tak sekencang awal tadi. Semangat Alisa nampak terlihat berkali-kali lipat saat Dokter mengatakan.. "Kepalanya udah keliatan Bu!"


Tak berselang lama terdengarlah suara melengking yang khas, memecah ketegangan yang ada di ruangan itu. Semua orang bernafas lega ketika bayi yang telah ditunggu-tunggu itu akhirnya keluar juga.


"Alhamdulillah.. selamat ya Bu Alisa, bayinya perempuan. Cantik." ucap Dokter berbinar.


Senyuman lemah Alisa terbit, air matanya pun kembali mengaliri wajah lelah nya yang penuh keringat. Kayla mengucapkan selamat padanya dan mengelus kepalanya bangga. Setelahnya mata Alisa tertutup rapat.


Degg


Hanya Kayla dan Alex yang menyadari itu. Sementara Dokter membersihkan bayinya bersama suster, dan suster lainnya membersihkan Alisa.


Dengan tangan yang gemetar Alex meraih pergelangan tangan Alisa, mencari denyut nadinya.


Degg


... ....


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... Bersambung...


__ADS_2