
Kayla terbelalak tegang saat menyadari King menodongkan pistol diam-diam ke arah seseorang. Kayla melihat ke arah seberang dan sekitarnya, menelisik seksama kepada siapa tatapan tajam King itu? Siapa target yang akan ditembak King?
*Degg
Degg*
Kayla kaget, matanya semakin membulat dan mulutnya pun terbuka. King menggerakkan satu jari, menarik pelatuk pisolnya. Tanpa sengaja Kayla menyentak tangan mami yang menggandengnya, sehingga mami pun terkesiap heran. Kayla berlari secepat yang ia mampu sambil berteriak..
"Om.. awaaas.....!!"
"Kayla...!"
"Aaakh.. Lily....!!"
"KAYLA!!!"
DORR!!
Brughh
Tegang seketika.
"Miss Kissable." Lirih Alex bergetar.
Kayla ambruk, jatuh kepangkuan Pak William. Sebelumnya Pak William hampir masuk ke mobil, tiba-tiba Kayla berteriak kencang seraya berlari kearahnya. Sehingga Pak William berbalik menghadap Kayla meskipun tidak mengerti apa yang Kayla lakukan. Sampai detik berikutnya suara tembakan membuatnya terperanjat, bersamaan dengan tubuh Kayla yang limbung kepangkuannya.
"Hah...Kayla?" desah Pak William tak percaya.
Darah muncrat dari perut Kayla yang baru saja terkena tembakan, dan pelakunya adalah.. King!
"KAYLA!!!" Arman tersungkur dengan lutut yang lebih dulu menapak tanah. Ia begitu menyesal dan mengutuki kelemahannya. Ia melihat Kayla berteriak pada Pak William seraya berlari ke arah papa Alex itu. Ia juga menyadari apa yang Kayla lakukan, yaitu ingin menghindarkan Pak William dari peluru King. Arman pun langsung mengejarnya, namun karena kaki Arman yang terluka akibat tertembak sebelumnya, ia jadi gagal menghentikan putrinya. Sehingga tembakan yang ditujukan King pada Pak William malah mengenai Kayla.
King berdecak sadis dan mengerang marah, sementara polisi yang entah bagaimana lengah akan pengawasannya pun kalangkabut dan segera mendorong King masuk ke mobil mereka. Sementara polisi yang tadi memapah Arman yang juga terbilang lalai, kini menghampiri Kayla untuk mengecek keadaannya.
Melihat kekejaman King, Arman menatapnya penuh amarah dan juga rasa sakit hati. Apalagi King terdengar membentak dan mengumpat pada Kayla yang menggagalkan serangannya terhadap Pak William, King juga mencaci Pak William dengan kebencian dan dengki yang diluapkannya. Arman menggeram marah, dan seketika ide membahayakan muncul diotaknya saat melihat polisi berdiri disampingnya. Sebuah pistol menancap apik pada ikat pinggang polisi itu, tanpa pikir lagi Arman merampas pistol dan menodongkannya ke arah King.
"KING bia**b!!!" Pekik Arman berang
DORR!!
Semua orang kembali dibuat kaget dan tegang. Setelah beberapa detik barulah mereka menyadari kalau baru saja Arman telah menembak King, pelurunya mengenai pergelangan tangan kiri King. Pria monster itu nampak mengerang kecil, tapi kemudian kembali mengeluarkan kata-kata kasarnya.
Polisi disamping Arman lantas merebut pistolnya dan menarik Arman untuk berdiri, lalu memegangi kedua sisi tubuhnya. Kedua polisi itu nampak marah sekaligus malu karena kecolongan mengawasi Arman.
Nadia yang sempat tegang kemudian menghampiri Kayla dengan perasaan tak karuan. Lutut dan urat-urat tubuhnya melemas melihat darah sang putri. "Aahkh.. Lily...!" Histeris Nadia, satu tangannya berpegang pada suaminya, dan satu tangannya yang lain menyentuh Kayla dengan gemetar.
Alex sempat terdiam syok didalam mobil, ia melihat dengan matanya sendiri peluru itu melukai perut Kayla. Tersadar, Alex segera membuka pintu mobilnya, ingin segera melihat kondisi Kayla.
Sementara diseberang sana King masih memberontak dari pegangan polisi, padahal pergelangan tangan kirinya telah disarangi peluru dari tembakan Arman. King terdengar mengumpat pada Arman, juga mencaci Pak William, menyalahkan Pak William dan Alex atas kehancuran bisnisnya, juga kegagalan balas dendamnya. Polisi berusaha memasukkan King kedalam mobil, namun tubuh pria kekar yang dikuasai dendam itu sangat kuat sehingga polisi nampak kesulitan mengamankannya.
"Miss Kissable.." baru selangkah Alex turun dari mobil, ia langsung disergah oleh papi Kayla.
"ALEX!!"
DORR!!
"Aaakh.....!!" Vanessa dan Feli yang sebelumnya duduk disamping Alex didalam mobil lantas menjerit mendengar suara tembakan.
"Alex...!!" Histeris Pak William.
"Al.."
Kembali tegang.
__ADS_1
Helaan nafas lega terdengar dari mulut Arman. Alex yang masih syok pun lantas menoleh, ia mendapati dirinya berada diatas tubuh papi Kayla. King kembali terdengar mengumpat dan membentak murka, kemudian mobil polisi yang membawanya pergi secepatnya dari sana. Sementara Alex masih mengumpulkan kesadarannya, beberapa detik yang lalu saat ia turun dari mobil papi Kayla menarik lengannya tiba-tiba sehingga ia terjatuh menimpa papi Kayla. Alex baru mengetahui bahwa King ingin menembaknya, dan papi Kayla melindunginya.
"Al.. Ya Allah nak.. kamu nggak papa?"
Suara sang mama mengembalikan kesadaran Alex sepenuhnya. Ia dibantu bangun, sekaligus membantu Arman bangun. Meskipun kedua tangan Arman diborgol dan kakinya terluka, dia berhasil menghindarkan Alex dari peluru King. Dan peluru yang gagal mengenai sasarannya itu hanya mengenai pintu mobil Alex.
Sekarang semuanya tengah meratapi kondisi Kayla yang terbujur lemas dipangkuan Pak William. Kayla masih sadar, namun ia begitu lemah dan kesakitan, air mata membasahi pipinya tapi ia seperti enggan menyerah ataupun menutup matanya. Netra bening Kayla yang mulai buram mengabsen semua orang yang mengelilinginya, ada keluarganya, keluarga Alex, juga beberapa orang polisi. Kayla lihat Pak William selamat dari peluru King, Alex juga. Papi juga tidak tertembak lagi, meski sempat membuat Kayla takut karena papi berhasil menembak King. Dan yang lain.. sisanya mereka hanya tidak tega melihat kondisi dirinya, termasuk maminya sendiri. Begitu pikir Kayla.
"Kenapa pada diem aja sih?! Kayla butuh pertolongan!" Alex marah melihat pemandangan didepannya.
Akhirnya mereka semua berangkat ke rumah sakit.
... ___________________...
Arsya berjalan cepat agak berlari kecil, perasaannya sudah tak karuan sejak ia dikabari kondisi kakaknya. Sebenarnya Arsya ingin ikut menjemput kakaknya itu ke markas penculik, tapi ayahnya tidak mengizinkan karena kondisi dirinya sendiri tidak begitu baik setelah mendapat tendangan diperut oleh salah satu penculik. Padahal tadi siang ia sempat dibawa ke klinik untuk diperiksa dan diurut, namun tetap saja sang ayah tidak mengizinkannya untuk ikut, takut-takut terjadi hal buruk lagi padanya.
Arsya terus melangkahkan kakinya menelusuri lorong rumah sakit sembari melihat-lihat dimana keberadaan kedua orang tuanya, juga dimana ruangan tempat kakaknya ditangani saat ini. Tak lama kemudian ia melihat ayah dan maminya duduk di kursi tunggu depan ruang operasi, mami terlihat menangis sambil memeluk ayah, Arsya segera menghampiri.
"Yah, Mi!" Arsya bersimpuh didepan kedua orang tuanya.
"Hiks, hiks, Arsya..." lirih Nadia terisak. Kemudian tangan Nadia terangkat, menarik Arsya kedalam pelukannya.
Perasaan Arsya semakin berdesir cemas, "Apa yang terjadi sama Kak Kayla sebenarnya? Kenapa mami nangisnya gini.." gumamnya dalam hati.
Di kursi seberang juga didepan ruang operasi, Arsya melihat Om William duduk dengan kepala yang tertunduk. Nampaknya papa Alex itu tengah melamun, atau mungkin memikirkan sesuatu, terka Arsya.
Pencahayaan dari ruang operasi berubah, menandakan tindakan sudah selesai, biasanya. Nadia segera berdiri siaga, diikuti Tio dan Arsya. Detik berikutnya seorang suster nampak keluar dari ruangan terburu-buru.
"Sus-.."
"Maaf Bu, saya buru-buru." ujarnya tanpa berhenti. Ia melangkah cepat dan mengabaikan seruan Nadia.
Kemudian seorang Dokter keluar, Elfatt yang sedari tadi berada disana pun ikut berdiri. Sang Dokter yang memakai APD itu melepaskan masker wajahnya, kemudian menyapa.
"Keluarga saudari Kayla?"
"Kami sudah mengeluarkan peluru dari tubuhnya, tapi kondisi pasien tidak baik."
Nadia melemas lagi, dan Tio tak melepaskan rangkulannya dari sang istri. "Maksudnya Dok?" Tanya Tio.
"Pasien kehilangan banyak darah, dan segera membutuhkan donor. Saya sudah meminta suster memeriksa persediaan kantong darah, kita tunggu ya! Semoga masih ada persediaan golongan darah O negatif."
Nadia mengangguk cemas, "Mas.."
"Sabar Nad, Kayla itu anak yang kuat, dia pasti baik-baik aja."
Elfatt terdiam lirih, bagaimanapun juga kondisi Kayla sekarang ini adalah karena Kayla melindunginya dari peluru King. Kenapa? Kenapa gadis itu melindunginya, padahal Elfatt telah berlaku tidak adil padanya dimasa lalu, dan hari ini pun ia sempat menunjukkan tatapan bencinya pada gadis itu. Tapi gadis itu malah menyelamatkan nyawanya? Sehingga nyawa gadis itu sendiri terancam. Perasaan bersalah lebih mendominasi hati Elfatt saat ini, ia juga merasa malu atas perbuatannya dimasa lalu pada gadis itu dan pada keluarga didepannya ini yang tengah menanti sebuah kabar baik dengan cemas.
Mengetahui Kayla melindunginya, Elfatt merasa bertanggung jawab atas kondisi gadis itu. Itulah yang membuat dirinya berada didepan ruang operasi saat ini, padahal Alex juga mengalami insiden tragis yang menyebabkan putranya itu harus ditangani di rumah sakit ini. Alex ada di IGD ditemani mamanya dan calon istrinya, Elfatt juga sangat khawatir akan putranya itu tapi kondisi buruk Kayla membuatnya tidak bisa meninggalkan gadis malang yang telah menyelamatkan nyawanya itu.
"Dok!"
Suara suster menyadarkan Elfatt dari renungan singkatnya. Semuanya pun menunggu suster itu mengatakan sesuatu, lebih tepatnya menunggu kabar baiknya.
"Persediaan golongan darah O- sisa satu kantong Dok."
Dokter terdengar mendengus kecil. Nadia sudah sangat cemas, sementara Tio sebenarnya agak lega saat mendengar kabar yang dibawa suster, persediaan darah O- yang dibutuhkan Kayla masih ada, tapi reaksi dokter membuatnya bertanya.
"Ada apa Dok?" Tanya Tio.
"Pasien membutuhkan seenggaknya 2 kantong darah, tapi persediaan kami hanya tersisa satu. Itupun kami tidak bisa langsung memasukkan satu kantong darah itu ke tubuh pasien, kami harus memastikan dulu apakah darah itu cocok untuk pasien atau tidak."
"Golongan darahnya kan sama Dok, pasti cocok." timpal Arsya optimis.
__ADS_1
"Belum tentu Dek. Berdoa saja ya!" sahut Dokter tenang.
"Dok, tolong lakuin apapun asal anak saya selamat..!" mohon Nadia berurai air mata.
Dokter mengangguk sebelum kembali masuk ke ruangannya, bersama suster yang membawa satu kantong darah untuk didonorkan pada Kayla. Nadia menangis getir, sungguh ia sangat takut terjadi hal yang lebih buruk pada putrinya.
"Nad, kamu harus optimis. Sabar, tenangin diri kamu sedikit. Dokter pasti ngelakuin yang terbaik buat Kayla, Kayla akan selamat kok." Tio berusaha menenangkannya.
Elfatt merasa semakin berat, kondisi Kayla saat ini menjadi beban tersendiri untuknya. Pengorbanan Kayla melindunginya, membuatnya semakin menyesal pernah berlaku tidak adil pada gadis itu. Elfaat mengangkat kepalanya, dan mendapati Nadia melihat ke arahnya. Hanya satu detik, Elfatt kembali menunduk kembali karena merasa malu pada Nadia. Entah apa yang Nadia pikirkan mengenai dirinya, Elfatt tidak bisa menebak dari mata sayu mami Kayla itu. Elfatt pikir sebentar lagi Nadia akan mengatakan sesuatu padanya, mungkin akan memarahinya atau menyalahkannya. Tapi tidak, Nadia hanya menangis sementara sang suami terus berusaha menenangkannya. Bahkan kini suara tangisan ibu yang berduka itu membuat beban dihati Elfatt semakin berat. Sehingga Elfatt memilih pergi dari sana tanpa berani mengangkat kepala lagi.
... ....
... ....
... ....
Elfatt berdiri mematung didepan sebuah ruangan VVIP di rumah sakit, ia memandang ke dalam ruangan lewat kaca pintu. Didalam sana, putra semata wayangnya terbaring di ranjang rumah sakit, matanya tertutup rapat dan kondisi memprihatinkan. Banyak perban di sekujur tubuhnya, juga diwajah tampannya yang terluka. Sang mama dan calon istri ada disisinya, duduk dengan lesu memandangi pemuda kesayangan mereka yang tiba-tiba menjadi pasien rumah sakit.
Rumah Sakit tempat mereka berpijak saat ini adalah salah satu aset milik PT SWill Group, mudah saja bagi Elfatt maupun Alex ingin memilih tempat diruangan bagian mana, dan ingin mendapat perawatan sebagus apa saja. Namun untuk kelangsungan kondisi Kayla kedepannya, tetap saja Elfatt tidak bisa melakukan sesuatu untuk gadis itu dengan mudah. Stok persediaan kantong darah yang cocok dengan Kayla tidak mencukupi, beberapa menit yang lalu Elfatt menghubungi seseorang yang ia serahi tugas mencari pendonor untuk Kayla.
Derrt.. derrt...
Elfatt sedikit menjauh dari pintu ruangan Alex, untuk mengangkat telpon dari orang yang ia tugasi mencari pendonor. "Halo?"
"Maaf Pak, di rumah sakit XX juga kehabisan stok darah O-. Barusan saya tanya ke rumah sakit lainnya, ada satu kantong darah yang Bapak cari, tapi pasien disana juga membutuhkannya. Dari data semua pegawai Bapak juga nggak ada yang bisa jadi pendonor, ada yang golongan darahnya sama tapi kriterianya nggak cocok dan nggak memungkinkan dia untuk jadi pendonor Pak. Jadi.."
"Gimana sih?!" kesal Elfatt. "Masa' nggak ada satupun yang bisa jadi pendonor?"
"Maaf Pak.." terdengar sesal dari suara orang itu.
"Jakarta luas. Ada banyak orang yang bisa kamu mintain donor, cari lagi! Secepatnya!" titah Elfatt.
"Baik Pak."
Elfatt mendengus setelah menutup telponnya. Ia duduk dikursi tunggu didekatnya, ingin masuk ke dalam ruangan Alex sedangkan ia sendiri belum siap bertatap muka dengan putranya itu. Jika ia masuk sekarang, Elfatt yakin Alex akan menanyakan kondisi Kayla, dan Elfatt tidak mau membahasnya. Bukan karena Elfatt membenci Kayla lagi, sebelumnya memang Elfatt tidak suka nama Kayla disebut oleh Alex, tapi hari ini berbeda. Rasa bersalah dan sesalnya membuat Elfatt tidak siap menghadapi Alex, bukan hanya karena pengorbanan Kayla, tapi juga semua yang terjadi. Semua insiden buruk yang dialami Alex hari ini, juga membuat Elfatt merasa bersalah dan menyesal.
Dulu, Elfatt begitu takut King dan orang-orangnya akan mengusik Alex dan membahayakan nyawa putranya itu. Sehingga Elfatt menjauhkan Alex dari Kayla, yang merupakan anak dari salah satu orang King. Namun ketakutan itu tetap terjadi, hari buruk itu telah menjadi nyata, meski Elfatt banyak melakukan sesuatu dan berusaha sekeras mungkin untuk menghindar. Alex terluka, putranya itu disiksa sedemikian rupa sehingga keadaannya separah ini.
Tapi Elfatt masih merasa keadaan Kayla lebih parah dari Alex, memang luka ditubuh Kayla tidak sebanyak luka ditubuh Alex, tapi gadis malang itu tertembak sedangkan Alex tidak. Alex saat ini sudah mendapat penanganan terbaik, perawatannya juga akan diberikan yang terbaik dan semaksimal mungkin. Alex hanya tinggal memulihkan keadaannya, selain kaki kanannya yang kembali cedera itu harus mendapat penanganan lanjut. Sementara Kayla, nyawanya masih terancam. Baru saja Elfatt mendengar kabar kalau kondisi Kayla memburuk, apalagi satu-satunya kantong darah yang tersisa sebelumnya ternyata tidak cocok untuk tubuhnya. Padahal darah itu sudah dimasukkan ke tubuh Kayla, tapi reaksi tubuh gadis malang itu menolak darah baru yang masuk ke tubuhnya. Sehingga keadaannya kritis.
Selain Elfatt sendiri, Nadia dan Tio lebih khawatir akan keadaan anak mereka. Mereka pasti panik mencari donor yang cocok untuk Kayla, sedangkan golongan darah Kayla tidak sama dengan maminya, melainkan hanya sama dengan papinya. Sementara Arman sang papi, juga terluka cukup parah dan tengah mendapat perawatan. Selain itu, jenis golongan darah O bereshus negatif tidak bisa menerima donor dari golongan darah lain, karenanya cukup sulit menemukan pendonor untuk golongan darah yang satu ini. Berbeda halnya jika pemilik darah O negatif yang jadi pendonor.
Elfatt menghela nafas berat ke udara. Dulu ia pikir, tidak apa-apa Alex dan Kayla tersakiti oleh perpisahan, demi keamanan nyawa mereka berdua. Namun hari ini, nyawa keduanya hampir melayang oleh penganiayaan biadab King dan komplotannya. Tidak ada yang bisa memprediksi takdir buruk ini, namun Elfatt tetap merasa bersalah. Elfatt menyesal harus melihat Alex terluka separah ini, setelah hatinya hancur oleh luka yang disebabkan Elfatt sendiri yang merenggut cinta putranya itu. Dan Kayla juga, gadis baik yang bernasib malang itu harus mengalami penderitaan dua kali karenanya. Dulu dikarenakan Elfatt merenggut cintanya, dan hari ini dikarenakan pengorbanannya untuk orang yang telah merenggut cintanya.
Elfatt berjanji pada diri sendiri, akan melakukan apa saja demi bisa menebus kesalahannya itu. Bagaimanapun juga, ia tidak bisa lagi memperlakukan Kayla dengan tidak adil seperti dulu. Karena bagaimanapun juga, ia berhutang nyawa pada Kayla, ia bertanggung jawab untuk keselamatan Kayla.
Satu lagi. Selain Kayla, Elfatt juga merasa berhutang pada Arman. Arman, papi Kayla yang ia anggap penjahat namun telah menyelamatkan nyawa Alex. Elfatt berjanji akan membuat King dan komplotannya itu menerima hukuman seberat-beratnya atas kejahatan yang mereka lakukan pada Alex dan Kayla. Juga pada Arman yang ternyata bukan bagian dari mereka lagi, Arman seorang ayah yang berjuang demi keselamatan nyawa anaknya itu kini juga terbaring di rumah sakit ini. Bahkan kata Dokter, ada dua peluru yang sempat bersarang ditubuh papi Kayla tersebut. Elfatt berharap nyawa Arman bisa diselamatkan, karena Elfatt tidak akan tega kalau Kayla kehilangan papinya, setelah berbagai penderitaan yang gadis itu alami.
... ....
... ....
... ....
... ....
... ...
... Bersambung...
~Hai all reader tersayang... gimana kabarnya nih? Semoga baik dan mood nya bagus yah...
Boleh dong aku minta like dan komen kalian buat Miss Kissable & Mr Strawberry...
__ADS_1
Thank you so much buat kalian yang memilih karyaku buat mengisi waktu kosong kalian..
Semoga sehat selalu dan semangat yah...🤗😉