
Sebuah mobil BMW X6 melaju dengan tenang membawa penumpangnya menuju pulang. Seorang sopir yang fokus mengemudi, dan dua orang perempuan berbeda usia yang merupakan pemilik mobil, duduk di jok belakang. Hening di dalam mobil membuat kedua perempuan itu berkutat dengan pikiran masing-masing, yang meskipun tanpa ada percakapan lagi diantara keduanya.. hal yang mereka pikirkan sama.
"Fel.." panggilan lembut itu membuat gadis yang sebelumnya menyembunyikan wajah dengan menatap jalanan dari samping itu lantas menoleh.
"Iya Bu." jawab Feli seraya mengusap singkat pelipisnya.
Sang ibu menipiskan bibirnya, menatap anak gadisnya itu penuh pengertian. Lantas ia raih tangan sang putri dan ia genggam ke dalam pangkuannya. Feli tahu apa yang ingin ibunya katakan, jadi ia lebih dulu menjawabnya tanpa menunggu sang ibu membuka mulut, karena mungkin sang ibu enggan mengatakannya demi menjaga senyum di wajah Feli.
"Ibu nggak usah khawatir, Feli udah yakin kok."
"Tapi nak..."
"Bu, Feli nggak akan ngelakuin sejauh ini kalo Feli belum yakin."
Sang Ibu masih menatap khawatir, namun Feli menyunggingkan senyum untuk menyingkirkan kekhawatiran itu.
"Semuanya udah Feli selesain hari ini, sekarang Feli lega Bu. Ya walaupun belum beres semuanya, tapi nggak lama lagi.. enggak akan ada masalah. Feli janji."
Sang ibu menarik paksa sudut bibirnya, berharap ekspresinya itu tidak lagi membuat Feli berkecil hati, yang sebenarnya sang ibu sendiri lah yang merasa berkecil hati. Bagaimanapun juga hari pernikahan putrinya itu semakin dekat, dan sang ibu tahu bagaimana hubungan Feli dengan Alex sesungguhnya. Selama ini Feli tidak pernah jujur tentang hubungannya, namun bukan berarti sang ibu tidak tahu. Baru kemarin putrinya itu curhat pada sang ibu tentang hubungannya dengan Alex yang sebenarnya.
Kecemasan tentu mendera perasaan sang ibu, terlebih ketika pagi ini Feli memutuskan akan melakukan sesuatu, menyelesaikan semua urusan dalam list persiapan pernikahannya. Mulai dari pengurus gedung pernikahan, WO, dekorasi, desainer baju pengantin, hingga semua yang terlibat serta berperan dalam acara pernikahannya nanti. Hari ini, Feli ditemani ibunya baru saja menyelesaikan urusan dengan mereka, tinggal undangan saja yang belum. Rencananya kedua keluarga akan mengadakan pertemuan nanti malam untuk menentukan tanggal baru. Karena sebelumnya tanggal pernikahan yang harusnya jatuh pada minggu ini, telah diralat, ditunda sebab kecelakaan bulan lalu yang mengakibatkan kaki Alex cedera dan Kayla koma.
"Kamu siap buat pertemuan nanti malam?"
Feli mengangguk seraya tersenyum simpul, "Siap Bu. Feli udah siapin ini dari lama kok, apapun konsekuensi dan rintangannya nanti.. Feli siap."
Sang ibu terharu, ia raih kepala Feli kemudian mengecup kening putrinya itu. "Ibu dukung keputusan kamu, ibu cuman pengen kamu bahagia nak."
"Makasih Bu." Feli memeluk ibunya.
Derrt... dertt...
Dering ponsel membuat Feli terpaksa melepaskan pelukan hangatnya dengan sang ibu. Ia keluarkan benda pipih itu dari dalam tasnya, seketika alisnya terangkat mengetahui siapa yang menelpon. Feli terkekeh, lalu melirik sang ibu sebelum menjawab panggilan itu.
"Halo Al?"
".........."
Feli mencebikkan bibirnya lalu tertawa kecil mendengar ucapan Alex diseberang telpon.
"Sayangnya aku juga udah pulang, ini hampir sampe rumah."
".........."
"Oke, see you tonight." ucap Feli sesaat sebelum sambungan telpon itu berakhir.
Sang ibu yang hanya mendengar samar suara Alex bisa menebak percakapan singkat yang dibicarakan putrinya barusan dengan Alex. "Pas kamu selesai, dia baru bilang bisa?"
"Hehe... iya." jawab Feli geli.
"Begitu aja terus.." gemas sang ibu. "Dia bilang alasan apa kali ini?"
"Dia baru pulang dari rumah sakit, Bu."
"Jagain Kayla?" tebak sang ibu lagi.
"Cuman jenguk." jawab Feli tenang.
"Ibu heran, dia jenguk mantan kekasihnya dan dia bilang jujur ke kamu?"
"Lebih baik kan Bu daripada dia pergi diam-diam dibelakang aku, trus aku sakit hati." ujar Feli sambil mengedikkan bahunya santai.
"Kalo dia jujur artinya dia nyakitin kamu terang-terangan kan. Kamu calon istrinya loh, kenapa nggak kamu cegah aja sih dia!" kesal sang ibu.
"Udahlah Bu, soal kayak gini bisa aku atasin kok. Ibu cukup nggak ngelarang-larang aku aja, ya. Alex itu laki-laki baik kok."
"Iya laki-laki baik. Tapi kan harusnya dia tau cara memperlakukan kamu. Kamu kok bisa sih setenang ini ngehadapin cowok kayak Alex itu? Jangan nganggep enteng Fel, meskipun dia lebih muda dari kamu dia itu calon suami kamu."
Feli menaikkan alisnya seraya berpikir, ia sandarkan tengkuknya ke sandaran jok mobil, seraya memandang ke atas beberapa saat. Kemudian ia mendengus senyum, saat ia menoleh pada sang ibu maka sang ibu bisa melihat mata Feli yang berkaca-kaca.
"Ibu tau kamu cuman berusaha tegar dan pura-pura bahagia Fel, ibu tau. Tapi kamu tetap seorang perempuan yang memiliki hati, kali ini mata kamu nggak bisa bohong." sang ibu hanya mengatakan kalimat itu dalam hatinya sambil menatap wajah Feli yang tersenyum tapi mata gadis itu basah.
...____________________...
Hari ini adalah hari yang spesial bagi seluruh pelajar yang beberapa bulan lalu menyelesaikan ujian akhir sekolah mereka. Baik itu SD, SMP, SMA, ataupun sederajat yang demikian, ini adalah hari pengumuman kelulusan mereka. Hiruk pikuk, sorak sorai kegembiraan menghiasi seluruh penjuru sekolah. Pancaran kemenangan pun terlihat di wajah empat sekawan yang mendapat julukan P-four itu. Bima, Sandi, dan Vicky sangat menikmati hari kelulusan mereka, saling mencoret-coret seragam satu sama lain, bernyanyi dan bercanda sepuasnya dengan teman-teman mereka dari kelas XII yang lain juga. Hanya Alex yang nampak tak terlalu menikmati, ia ikut merayakan kelulusan juga tapi hanya sebentar. Berdalih lelah, Alex duduk di salah satu bangku taman sambil memperhatikan teman-temannya yang sangat antusias merayakan kelulusan.
Yang tengah ia pikirkan sekarang membuatnya menjadi tidak bebas dihari kelulusannya. Semalam ia susah tidur, saat sudah tertidur beberapa menit ia bangun lagi, dan begitulah yang terjadi hingga subuh. Pasalnya di pertemuan dua keluarga tadi malam, yang rencananya akan memusyawarahkan tanggal pernikahan Alex dengan Feli, malah berubah tegang dan berbanding terbalik dengan perkiraan semua orang, kecuali Feli tentunya. Karena didalam pertemuan itu Feli mengutarakan sebuah keinginan yang menjadi keputusan besarnya, yang ternyata keputusan itu sudah ia pertimbangkan dengan matang.
Keputusan Feli yang sangat mendadak bagi seluruh keluarga itu tentu menimbulkan konflik, Pak Agus menentang keras keputusan Feli, begitu juga Pak William yang lebih dulu mempunyai kecemasan akan hal itu. Ibu Feli tidak menentang tapi juga tidak membela, ingin menentang sementara dia harus menghargai putrinya, dan jika dia membela maka Pak Agus suaminya akan sangat tersinggung. Sementara Vanessa mama Alex, tidak mengatakan apapun namun raut wajahnya sangat tertekan. Alex sendiri pun menentang keputusan Feli, karena ia tahu betul alasan sesungguhnya dari keputusan itu. Dan Alex tidak akan membiarkan Feli benar-benar merealisasikan keinginannya.
Alex beranjak dari duduknya, ia melangkah agak terburu sembari mengedarkan pandangan ke seluruh arah. Saat ini juga ia harus menemui gadis itu, mereka harus bicara empat mata. Semalam Feli tak memberikan waktu sedikitpun untuknya bicara, dengan dalih memintanya memikirkan dulu matang-matang apakah ia akan menentang atau menolak keputusan yang gadis itu ambil.
Langkah Alex berhenti didepan ruang guru, dimana seharusnya gadis yang membuatnya resah itu berada. Alex mengetukkan buku jemarinya ke pintu yang terbuka itu, membuat penghuni ruangan melihat serentak ke arahnya.
"Bu Feli ada?" Tanyanya setelah melihat meja dengan papan nama Felisha Wardhana Arum itu kosong.
"Udah pulang Al, belum lama kok." Jawab Bu Amla, salah satu guru di sana.
Alex segera menoleh ke arah kanan, dimana letak parkiran berada.
"Tapi, mungkin Bu Feli nya udah nggak di parkiran. Sekitar lima menit yang lalu ada kali keluarnya ya?" Ujar Bu Amla kemudian menanyai Bu Fitri yang berada disampingnya. Bu Fitri pun mengangguk mengiyakan.
"Makasih Bu." Ucap Alex. "Permisi."
.......
.......
__ADS_1
.......
Teng tong..
Ceklekk
Pintu terbuka tidak lama setelah Alex memencet bel. Tante Arum muncul dari balik pintu yang baru terbuka itu. Alex lantas memberi salam dan mencium tangan perempuan paruh baya itu.
"Feli ada Tante?"
Tante Arum mengernyit. "Loh, emang di sekolah nggak ketemu? Feli belum pulang kok." kata Tante Arum sembari memperhatikan Alex dan seragamnya yang berantakan dengan coretan perayaan kelulusan.
"Belum pulang?" ulang Alex bingung.
Tante Arum pun nampak berpikir kemana putrinya itu pergi. "Kamu nyari Feli buat ngomongin soal tadi malam?" tanyanya setelah mengamati raut wajah Alex.
"Iya Tante. Gimanapun juga Feli nggak bisa ngambil keputusan tanpa persetujuan saya. Dia nggak boleh ngelakuin apapun sebelum bicara sama saya. Kira-kira Tante tau kemana dia pergi?" Ujar Alex dengan nada yang agak terdesak.
Tante Arum tidak lekas menjawab. "Feli nggak berhak ngambil keputusan buat dirinya sendiri tanpa kamu tau?"
Itu terdengar seperti kalimat intimidasi atau serangan balik, dibanding sebuah pertanyaan.
"Feli calon istri saya, Tante." jawab Alex.
Tante Arum mengangguk, "Statusnya emang calon istri kamu, tapi apa pernah kamu menghargai dia sebagai calon istri kamu?"
Alex diam mengernyit.
"Selama ini Feli selalu ngalah kan sama kamu? Dia yang selalu berusaha ngertiin kamu, dia terima semua perlakuan kamu meskipun dia sakit hati. Kamu tau itu, Al. Kamu sadar seperti apa perlakuan kamu selama ini ke dia, tapi kamu tetap egois."
Alex tertunduk. "Kamu bebas ngelakuin apa aja yang kamu suka, kamu kayak nggak nganggep Feli itu ada. Pernah kamu minta persetujuan dia buat nemuin mantan kamu? Pernah kamu ngasih tau dia sebelum kamu ngelakuin sesuatu buat mantan kamu itu, pernah Al?"
"Enggak kan?! Feli sampai mikir buat ngelakuin sesuatu yang besar buat kamu pun kamu nggak tau, karena kamu emang nggak pernah merhatiin dia. Bahkan mungkin kamu nggak peduli sama calon istri kamu sendiri."
"Bukan gitu Tante, saya-.."
"Kalo bukan gitu Feli nggak akan sampai berani ngambil keputusan sebesar itu, Al!" suara Tante Arum mulai meninggi.
"Dia cinta sama kamu, dia lakuin itu buat kamu. BUAT KAMU, AL!"
"Karena itu sekarang saya harus ngomong sama dia Tante. Enggak ada yang setuju sama keputusannya itu, jadi saya nggak akan biarin dia-.."
"Tante setuju." sela Tante Arum membuat ucapan Alex terhenti. "Feli pertimbangin keputusannya berkali-kali sebelum dia ngomong ke Tante. Dan Tante percaya sama kebijakan yang dia ambil, meskipun itu bertentangan sama perasaannya." lanjut Tante Arum getir.
Alex semakin resah, "Tante, tolong kasih tau saya Feli ada dimana? Dia nggak bisa ngehindarin saya dong sebelum ngomong sama saya. Masalah ini bisa diselesain baik-baik, saya sama Feli harus bicarain soal ini secepatnya. Tolong Tante, saya nggak mau masalahnya makin runyam." mohon Alex.
"Feli nggak ngehindarin kamu kok. Dia ngambil keputusan itu justru biar masalahnya selesai dengan baik, harusnya kamu bersyukur-.."
"Tante, saya mohon..." sela Alex tak tahan. "Masalah ini cuman antara saya sama Feli aja, nggak ada orang lain."
Tante Arum menarik nafas lalu menghembuskannya tenang. "Tapi menurut Feli.. yang kamu sebut orang lain itu lebih penting dari kamu. Dia lebih milih nyamperin orang lain itu dibanding harus ketemu sama kamu."
.......
.......
.......
"Apa kabar, Kayla?"
"Alhamdulillah baik, Bu." jawab Kayla pada perempuan yang baru datang menjenguknya ini.
"Feli." sapa Nadia saat Feli mencium tangannya sebagai tanda hormat.
"Maaf, saya datangnya dadakan, nggak ngabarin dulu." ujar Feli sungkan seraya menyerahkan keranjang buah ke tangan Nadia.
"Oh nggak papa, Kayla juga senang dijenguk. Dari tadi dia nungguin teman-temannya dateng loh, katanya mau ngerayain kelulusan bareng disini." ujar Nadia diiringi tawa kecilnya, membuat Feli pun ikut tertawa.
"Iya, anak-anak pada heboh ngerayain kelulusan."
Beberapa detik setelah mereka berhenti tertawa, Feli menatap serius pada Kayla dan Nadia bergantian, karena kebetulan di ruangan itu hanya ada Kayla dan Nadia saja.
"Tante, saya minta izin.. mau ngomong berdua aja sama Kayla. Boleh?" pintanya sungkan.
Nadia tidak langsung menjawab, ia melirik putrinya dulu. "Boleh kan Mi?" kata Kayla agar maminya tidak ragu mengizinkan guru keseniannya itu.
"Iya, silahkan." sahut Nadia kemudian. Ia tersenyum dan lantas keluar ruangan.
Nadia menoleh melihat Kayla dan Feli sebelum ia menutup pintu, agak khawatir dengan apa yang akan dibicarakan kedua gadis itu. Semoga hanya perasaannya saja yang terlalu berlebihan, Feli itu gadis baik dan dewasa, dia pasti bijak bagaimana harus bertindak atau berbicara. Nadia percaya itu. Nadia lantas tersenyum karena Feli dan Kayla tersenyum saat ia melirik mereka berdua, Nadia benar-benar menutup pintu meninggalkan kedua gadis itu yang Nadia tahu sebenarnya mereka canggung satu sama lain. Biarlah Nadia memberikan sedikit waktu untuk mereka, sebagai sesama perempuan pasti ada yang harus mereka bicarakan, mengingat mereka memiliki hubungan dengan seorang pria yang sama. Nadia hanya berharap kekhawatirannya tidak terjadi.
Feli duduk di samping kanan Kayla, sementara Kayla duduk bersandar di ranjang. "Saya dengar kamu akan pulang hari ini, Kayla?"
"Iya Bu insya Allah. Tinggal nunggu hasil pemeriksaan dari Dokter David aja, semoga sore udah boleh pulang." Kayla mencebik kecil seraya memandangi seisi kamar inapnya ini.
Feli terkekeh, "Pasti bosen ya nginep di rumah sakit lama-lama."
"Iya Bu, semoga malam ini udah bisa tidur di rumah."
"Aamiin..." ucap Feli. "Kamunya juga udah keliatan sehat dari sebelumnya, pasti kamu makannya teratur ya, sama rajin minum obat."
"Alhamdulillah Bu, harus begitu kan biar bisa cepet pulang."
"Hm, karena itu juga saya samperin kamu sekarang. Kondisi kamu udah baik dan saya yakin nggak akan ganggu kamu. Jadi saya nggak nunggu kamu pulang dulu." Feli mengedikkan bahunya santai.
Kayla tersenyum sejak tadi, ia sangat relaks tapi setelah ucapan Feli kali ini ia sedikit berpikir ke arah lain. "Emangnya ada apa Bu? Apa ada yang penting sampe Bu Feli repot-repot samperin saya ke rumah sakit."
"Iya, penting. Sebenarnya kalo saya samperin kamu setelah kamu pulang pun bisa sih, tapi saya pengen ngomong sama kamu lebih cepet, sebelum keduluan yang lain."
__ADS_1
"Maksudnya Bu?"
Feli berdehem, "Gini Kayla, emm.. mungkin kamu bisa menebak kenapa saya harus minta ngomong berdua sama kamu."
Kayla hanya terkekeh sungkan, perasaannya memang mulai tak enak tapi ia tidak tahu maksud Bu Feli menemuinya.
"Apa kamu masih mencintai Alex?"
Degg
"Bu?" Kayla hampir tak percaya Feli bertanya seperti itu.
"Jawab aja Kayla, nggak usah ngerasa nggak enak sama saya. Saya disini sebagai sesama perempuan, sebagai teman juga kalo kamu mau nganggep saya teman. Tapi bukan sebagai calon istri Alex." Feli membuat ekspresi wajahnya jadi lebih tenang agar Kayla tidak tegang.
"Saya nggak ngerti maksud Bu Feli." ujar Kayla seraya menggeleng.
"Tapi kamu ngerti dengan pertanyaan saya kan."
"Bu, tolong jangan salah paham, mungkin akhir-akhir ini Alex-.."
"Saya tau." sela Bu Feli. "Saya mau jawaban kamu Kayla, bukan penjelasan. Saya nggak akan menghakimi kamu, saya bertanya sebagai teman." Feli menipiskan bibirnya seraya menaikkan alis dan mengangguk samar, meyakinkan Kayla bahwa ia tidak akan marah.
Kayla menarik nafas lalu menghembuskannya panjang. "Saya udah move on, Bu." jawabnya kemudian.
"Kamu yakin?"
"Iya." jawabnya lagi tanpa ragu.
Feli menatap Kayla, Kayla mengalihkan pandangannya karena takut kalau-kalau Feli melihat sesuatu yang berbeda dari raut wajahnya. Semoga saja memang tidak ada yang berbeda, karena Kayla menjawabnya memang sesuai apa yang ia rasakan saat ini.
"Tapi Alex masih mencintai kamu, Kayla."
Degg
Kayla membulatkan matanya tanpa menatap Feli. Ia gelisah sekarang, kenapa Feli harus mengatakan itu. Artinya Feli tahu Alex tidak tulus dengan hubungan mereka, memangnya seperti apa hubungan Feli dan Alex selama ini, sehingga Feli sampai mengatakan kalau Alex masih mencintai Kayla.
"Alex masih sangat mencintai kamu, Kayla." ucap Feli lagi.
Duaaarr.........
Kayla menggeleng reflek. "Enggak mungkin Bu, pasti ada kesalah pahaman antara Bu Feli dan Alex. Saya sama Alex udah nggak ada apa-apa lagi kok." kata Kayla gugup dan terbata-bata.
"Saya nggak bilang kalo kamu sama Alex ada apa-apa, tapi saya tau dia masih sangat mencintai kamu."
"Mungkin selama saya sakit dia perhatian sama saya, tapi dia begitu karena saya nolong dia waktu itu Bu. Dia cuman ngerasa bersalah dan balas budi aja sama saya, Bu Feli jangan salah paham." ujar Kayla lagi gelagapan.
"Kayla, saya bisa melihat cinta itu dimata Alex. Setelah kamu sakit maupun sebelum itu.. enggak ada yang berubah, selalu sama. Selalu kamu. Saya berani bilang begitu karena saya yakin. Selama ini saya perhatiin Alex dan yang saya lihat selalu sama. Saya sadar, kalo saya enggak akan pernah bisa gantiin kamu dihati Alex."
Degg
"Bu, jangan bilang gitu.. saya nggak pantes buat semua itu, Bu Feli calon istrinya dan Bu Feli jauh lebih cocok buat dia. Karena itu saya sama Alex terpisah, karena saya bukan jodohnya."
"Kamu ngerasa nggak pantes, tapi sebenarnya nggak ada yang lebih pantes buat Alex selain kamu, Kayla. Karena cuman kamu yang ada dihati Alex, cintanya cuman buat kamu."
Kayla mendesah cemas, ia terus menggeleng, ia tidak bisa menyakiti Feli. Sebelum ia sempat mengatakan sesuatu Feli bicara lagi. "Dan soal jodoh, siapa yang tau. Saya sama Alex belum menikah, belum tentu saya jodohnya kan. Siapa tau emang kamu jodohnya, makanya hubungan saya sama Alex nggak pernah membaik."
"Enggak Bu, tolong jangan ngomong begitu.. saya nggak mau berada diantara Bu Feli sama Alex, saya nggak mau jadi penghalang hubungan siapapun.." mata Kayla berkaca-kaca, ia menahan diri agar tidak menangis.
"Bukan kamu yang berada diantara saya sama Alex, tapi saya lah yang berada diantara kalian. Saya yang menjadi penghalang kalian, Kayla." ucap Feli dalam.
Kayla semakin kalut dan merasa bersalah, "Tapi saya ini cuman masa lalunya Bu, sedangkan Bu Feli calon masa depannya."
"Gimana kalo saya bilang kamulah calon masa depannya?"
Kayla terperangah bingung, ia menatap Feli penuh tanya. Ternyata mata Feli juga sudah berkaca-kaca. "Gimana kalo saya bilang.. Alex akan menikahi kamu, bukan saya. Kamu calon istrinya, bukan saya."
Degg
"Ya Allah.. Bu, saya nggak pernah berpikir bisa merebut itu dari Bu Feli. Sejak saya bertekad buat move on saya sama sekali nggak berharap kalo saya sama Alex bisa balikan kayak dulu. Enggak Bu.."
"Saya tau, kamu cewek baik dan nggak akan mungkin ngelakuin hal kayak gitu. Kamu terlalu baik buat saya menyimpan rasa benci, dan saya sama sekali nggak nyalahin kamu Kayla. Alex mencintai kamu, itu bukan salah kamu. Takdir aja yang nggak berpihak sama saya."
Kayla terisak kecil meski berusaha menyembunyikan air matanya, Feli pun sama. Feli terkekeh kecil seraya menghapus air matanya.
"Tujuan saya nemuin kamu hari ini.. adalah buat ngasih tau kamu sebuah keputusan."
Degg
Kayla semakin gugup dan takut.
"Saya butuh persetujuan kamu, Kayla. Karena saya udah memutuskan kalo saya nggak akan menikah sama Alex."
Duaaarrr........
"Pernikahan akan tetap terjadi, tapi bukan antara saya dan Alex, melainkan.. kamu sama Alex."
Duaaaarr.........
Kayla tersentak, terperangah syok. Nafasnya tercekat seketika, ia reflek menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan telapak tangannya.
"Kamu dan Alex, Kayla."
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...