Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Cemburu


__ADS_3

Korban bullying P-four yang terakhir adalah Syifa. Siswi kelas X teman sekelas Annisa. Syifa juga tidak pernah lagi masuk sekolah setelah hari terakhir ujian semester kala itu, dia pun merasa malu dan takut menampakkan dirinya di sekolah. Kabarnya ia pindah ke sekolah lain, dan ia sudah bangkit kembali dengan semangat. Meski ia juga sempat trauma, ia cukup kuat menghadapi masalahnya.


"Aku belajar dari kamu, Kak!" kata Syifa pada Kayla.


Kayla senang mendengarnya. Kini mereka berdiri di depan rumah Syifa. Agenda meminta maaf sudah selesai, Alex dan ketiga temannya beranjak masuk ke mobil. Sedangkan Kayla masih mengobrol dengan Syifa sambil berjalan.


"Aku salut banget sama kamu Kak, ternyata Kak Kayla bener-bener ngewujudin ancaman waktu itu. Tapi aku pikir kamu bermaksud buat hancurin Kak Alex loh Kak, ternyata malah sebaliknya."


"Ancaman?" bingung Kayla.


"Masa' Kak Kayla lupa? Pas kamu nyelamatin aku waktu itu, kamu sempet ngancem kan buat bikin hidup Kak Alex berubah!"


Kayla mengingat-ingat, flashback kejadian hari itu pun terlintas dibenak Kayla.


(Flashback On)


Kayla menghadap Alex lagi dan berkata dengan tegas seraya menunjuk wajahnya.


"Alexander Smith William! Kamu dalang dari semua kezaliman ini. Aku pastiin hidup kamu bakalan berubah, dalam hitungan hari!"


(Flashback off)


"Owh.. itu." gumam Kayla.


Kayla lalu tertawa kecil, "Aku emang kebawa emosi banget waktu itu. Tapi Fa, Alex beneran hancur gak lama setelah itu, meskipun aku gak niat buat hancurin dia."


"Oh ya?! Gimana Kak Kayla bisa lakuin itu Kak?"


Kayla mengedikkan bahunya. "Aku gak ngelakuin apa-apa, Fa. Tapi iya, Alex sempat terpuruk sebelum berubah. Bahkan P-four, sempat berantakan, dan bubar."


Syifa terkejut mendengarnya. "Bubar?"


"Hm. Tapi dibalik semua itu, mereka dapet pelajaran yang berharga buat diri mereka masing-masing. Liat sekarang! Mereka akur lagi kayak dulu, padahal sebelum ini mereka sempet bener-bener kayak musuh loh."


"Aku gak bisa percaya ini, kalo bukan Kak Kayla yang ngomong." gumam Syifa.


"Tapi aku bersyukur Kak, artinya.. perubahan yang dulu Kak Kayla impikan, udah terjadi dong!"


"Hei, kamu tau soal itu?!"


"lya. Annisa yang cerita."


Kayla mengangguk, lalu terdengar ******* nafas Syifa. "Aku kangen Annisa, Kak. Salam buat dia ya!"


"Oke, aku pasti sampein!" sahut Kayla.


"Emm.. yaudah Fa, aku pulang ya! Makasih loh kamu udah mau ngelayanin kita sebagai tamu."


"Kan tamu Kak, masa enggak dilayanin. Aku juga makasih banget sama Kak Kayla, aku beruntung kenal cewek hebat kayak Kak Kayla."


"Hebat?!" Kayla tertawa geli mendengarnya, Syifa pun ikut tertawa kecil.


"Beneran loh, kalo aku gak belajar dari kekuatan dan keberanian kamu, mungkin sekarang aku masih trauma, Kak!"


"Oke Fa, jaga diri kamu ya! Aku pulang!"


"Kamu juga Kak, jaga diri!" Syifa lalu mendekatkan kepalanya ke telinga Kayla seraya berbisik, "Kamu satu mobil sama cowok-cowok serem loh, hati-hati Kak!"


Kayla mendengus tawa, "Ada-ada aja kamu Fa!" ujar Kayla seraya masuk ke mobil.


"Syifa, gue serius ya, kalo elu mau balik ke sekolah lagi.. kapan pun elu bisa balik kok! Gak bakal ada yang ngehujat elu!" ucap Alex.


"Terima kasih Kak, aku udah nyaman kok sekarang sama sekolah baruku" jawab Syifa hati-hati.


"It's Okay" kata Alex sebelum menyalakan mesin mobilnya.


"Assalamu'alaikum." seru Kayla seraya melambaikan tangan.


"Wa'alaikum salam." jawab Syifa seraya membalas lambaian tangan Kayla.


Dan mobil mereka melaju meninggalkan rumah Syifa, membawa rasa lega dan tenang di dalam hati masing-masing.


... ....


... ....


... ....


Dalam perjalanan pulang dari rumah Syifa, mereka memperbincangkan tentang satu orang yang belum mereka sambangi. Satu nama yang masih tercatat dalam agenda mereka, yang artinya dialah tujuan mereka terakhir.


"Btw, soal Juleha gimana?" tanya Kayla.


"Dari sini ke kampungnya Juleha emang sejauh apa sih?" tanya Sandi polos.


"Sukabumi San, tiga jam lebih lah.. mungkin sampe empat jam." jawab Alex yang tengah fokus menyetir.


"Eh bro, ngomong-ngomong soal kampungnya Juleha.. nama kampungnya Cidahu kan?" ujar Vicky.


"Hm." Kayla yang menyahut.


"Ternyata gue pernah kesana loh." ujar Vicky lagi.


"Kapan...?" tanya Bima meledek.


"Pas liburan lulus SD. Diajak nenek gue"


"Kamu punya keluarga di sana?" tanya Kayla.


"Kalo gak salah sih itu sepupunya nenek gue. Tapi sekarang udah meninggal. Gue juga gak terlalu ingat soal kampung itu" ujar Vicky sambil berpikir.


"Tapi kata nenek gue, di kampung itu udaranya adem, suasananya nyaman, orang-orangnya juga ramah semua, mereka udah kayak keluarga satu kampungnya." ujar Vicky mengulang kisah neneknya.


"Gue juga pernah ke kampung, emang bener sih udaranya adem beda sama disini, banyak polusi. Di kampung kan jarang ada kendaran lewat."


"Elu pernah ke kampung Al, ngapain?" tanya Sandi.


"Bokap gue punya sawah di sana, ladang sama kebun juga."


"Di Cidahu?" tanya Vicky.


"Bukan. Gue lupa nama kampungnya, tapi itu daerah Banten sih."


Mereka pun ber Oh ria mendengar perkataan Alex.


"Eh btw, ide bagus juga tuh Vick!" kata Alex tiba-tiba.


"Ide apa?" bingung Vicky.


"Gimana kalo kita temuin Juleha sekalian liburan ke kampungnya?"


"Liburan?" monolog Bima dan Sandi, sedangkan Vicky dan Kayla nampak senang.


"Setuju! Liburan kenaikan kelas nanti kita ke sana!" sahut Kayla semangat.


"Gue gak niat ngasih ide sih, tapi seru juga kayaknya kalo kita liburan ke sana." ujar Vicky.


"Seriusan? Yakali kita liburan ke kampung... liburan tuh ke puncak kek, pantai kek, tour gitu ke luar negeri." gerutu Sandi.

__ADS_1


"Elu pernah ke puncak?" tanya Alex pada Sandi.


"Pernah."


"Pernah ke pantai?"


"Pernah."


"Tour ke luar negeri?" tanya Alex lagi.


"Pernah." sahut Sandi mulai heran.


"Nah kalo ke kampung pernah?"


Sandi berdecak kesal saat mengerti pertanyaan Alex. "Enggak!" sahutnya malas.


"Yaudah kalo gitu coba tahun ini liburannya ke kampung."


Melihat Sandi mendengus pasrah, Bima yang hendak protes pun mengurungkan niatnya.


... ___________________...


Trereeng..teng.. *t*eng teng..


Bel istirahat berbunyi. Kayla rasanya sudah lama tidak makan bersama Nia, mengingat seminggu ini ia lebih fokus mengurus agenda Alex.


"Ni, makan bareng yuk!"


"Hmm... udah selesai agendanya?" cibir Nia. Kayla mengangguk seraya menyengir.


"Sekarang aja inget sama aku, kemarin-kemarin aja?! Aku pikir kamu udah masuk geng P-four!"


"Sorry Nia.. aku kangen tau sama kamu! Aku traktir deh.. ya?"


Nia cemberut, "Sorry juga, gak terima sogokan!"


Kayla tertawa kecil, "Ya ampun Nia ih... mau denger cerita aku nggak?"


"Cerita apaan?" tanya Nia dengan nada ketus yang dibuat-buat.


"Banyak. Aku ketemu Sherly, Syifa, Gia-.."


"Oke, mau! Ayo!" sahut Nia cepat.


Mereka pun beranjak menuju kantin. Adit sudah di sana bersama Randa dan Anggita. Kayla dan Nia yang baru datang pun bergabung di meja mereka.


Kayla lebih banyak bicara dibandingkan menyuap makanannya, karena Nia begitu penasaran dengan pengalaman perjalanan agenda Kayla selama seminggu ini. Nia, Adit, Randa, dan Anggita pun mendengarkannya dengan senang hati.


"Seserius itu Kay elu bantuin mereka." itu gumaman Randa, bukan pertanyaan.


"Jadi mereka beneran udah baikan lagi kan?" tanya Anggita.


"Alhamdulillah." singkat Kayla.


"Tapi Kay, kok elu segitunya sih bantu Alex? Jangan-jangan ada udang dibalik bakwan nih.. gue curiga elu suka ya sama Alex?" selidik Randa.


Kayla terkekeh seraya meletakkan sendoknya, dan menjauhkan piringnya. "Kamu mau tau alasannya?"


Randa menyipitkan matanya penasaran. "Tanya Adit!" ujar Kayla membuat Adit tersedak.


"Kok aku?" bingung Adit.


"Kamu kenapa sih Dit, dari tadi mukanya ditekuk gitu, diem aja lagi! Jangan-jangan kamu dari tadi ngelamun ya, gak dengerin juga celotehan aku?"


"Denger kok"


"Tunggu, kenapa elu nyuruh gue nanya Adit?" bingung Randa.


"Yang aku tau.. Kayla ngelakuin itu buat kebaikan semuanya." ucap Adit singkat.


"Sesimpel itu?" heran Anggita.


"Alasannya?" tanya Randa lagi.


"Emang berbuat baik butuh alasan ya?" tanya Kayla balik.


"Ya enggak juga sih.. tapi Kay, elu kan dulu benci sama Alex. Dan mereka berempat itu sering ngebully elu, heran aja gitu kok bisa musuh jadi teman! Pasti ada alasannya kan?"


"Bener, Ran! Alasannya karena Kayla Miss Kissable nya Alex." sahut Nia asal.


"Enggak sestandar itu, Ni. Emang ada beberapa alasan aku lakuin ini." ujar Kayla mulai serius, membuat mereka bersiap menyimak.


"Mereka berempat dulu emang sering ngebully aku, nyakitin aku, terutama Alex. Aku juga sempet benci sama mereka, bahkan aku sempet mikir buat ngehancurin Alex."


"Tapi.. makin kesini aku makin liat sisi yang berbeda dari Alex, terutama pas aku tau kalo dia adalah cowok yang sama yang pernah nolongin aku."


"Mr Strawberry maksud kamu?" tanya Nia memperjelas.


"lya."


"Mr Strawberry?" bingung Randa dan Anggita.


Tentu saja, karena yang tahu tentang Mr Strawberry hanya Nia dan Adit. Itu pun mereka tidak tahu banyak tentangnya.


"Lupain soal nama itu! Ini bukan soal siapa dia, tapi soal alasan dibalik sikap angkuh sama kurang ajarnya itu."


Kayla menghela nafas panjang sebelum melanjutkan. "Aku pernah nyaksiin Alex terpuruk."


Mereka menaikkan alisnya tak menyangka. "Setiap orang punya masalah masing-masing, dan Alex yang terlihat enjoy dan gak pedulian itu pun juga punya. Aku udah liat sisi rapuhnya, karena itu aku bisa ngertiin dia dan bisa maafin kesalahan dia di masa lalu."


"Dan karena aku nyaksiin sendiri gimana dia terpuruk, jahat dong kalo aku diemin aja. Lagian sebelum itu.. Alex juga banyak ngelakuin sesuatu buat aku. Dia nyelamatin aku berkali-kali."


"Nyelamatin kamu? Aku pikir dia cuman nyakitin kamu." ujar Anggita pelan.


"Dia nyelamatin aku pas aku tenggelam di danau, dia nemenin aku waktu aku sendirian tengah malam di tengah hutan, dia bahkan rela ngorbanin dirinya buat nyelamatin nyawa aku."


"Kakinya patah, itu gara-gara aku. Harusnya waktu itu aku yang ketimpa pohon, dan aku yang sakit. Tapi enggak, dia nyelamatin aku dan dia yang nanggung sakit itu"


"Serius..?" gumam Anggita tak percaya.


"lya. Aku juga gak bisa lupain kebaikan dia pas nyelamatin aku dari jebakan Jessica waktu itu. Sebenarnya Alex itu hatinya baik, tapi karena suatu alasan, dia jadi kayak yang kita liat selama ini."


"Dari sana aku yakin kalo dia bisa berubah. Sebenarnya bukan berubah sih.. tapi kembali jadi dirinya dulu."


Adit tersenyum miring, bukan karena ia meremehkan, tapi ada sesuatu yang terasa sakit di dalam hatinya saat mendengar penuturan Kayla tentang Alex. "Kamu.. tau banyak tentang Alex ya, Kay!"


"Mungkin karena Tuhan takdirin aku buat jadi perantara perubahan ini, Dit. Jadi aku dikasih jalan buat wujudin sesuatu yang aku pengen." jawab Kayla.


Salahkah jika Adit merasa cemburu. Semakin  lama, Kayla dan Alex jadi semakin dekat. Jika Adit tidak menghargai keputusan Kayla yang tidak ingin jatuh cinta sebelum menikah, dan tidak ingin berpacaran, maka Adit akan menyatakan perasaannya pada Kayla, dan menjadikan Kayla kekasihnya. Tapi disamping itu, Adit juga enggan mengambil resiko kehilangan teman baik seperti Kayla jika ia menyatakan cinta padanya. Alhasil sampai sekarang Adit masih memendam perasaannya itu.


"Extraordinary..." gumam Randa.


Nia menepuk bahu Kayla pelan, "Aku ikhlas Kay, kamu sama Alex. Jujur, kalian cocok."


Kayla mendengus tawa, "Apaan sih Nia, geli tau aku dengernya!"


... _____________________...

__ADS_1


Seminggu berikutnya tiba lah hari-hari ujian kenaikan kelas. Semua siswa dan siswi di berbagai sekolah disibukkan dengan belajar dan ujian. Ujian akhir tahun ajaran yang nilai akhir nya nanti akan menentukan mereka naik kelas atau tidak.


Selama hari-hari ujian berlangsung Kayla lebih sering duduk dan berdiskusi soal pelajaran bersama Adit, karena memang Adit adalah siswa yang pintar dan selalu mendapat peringkat satu sejak sekolah dasar. Tidak heran jika anak-anak menjulukinya Si kutu buku.


"Aku ke toilet dulu ya, Kay!"


"Oh iya, Dit."


Adit yang sejak tadi bersama Kayla di perpustakaan pun beranjak dari sana, sekedar menunaikan hajatnya ke kamar kecil. Sedangkan Kayla kembali memfokuskan pandangan dan pikirannya pada buku materi ujian yang akan dites lima belas menit lagi di kelas.


"Ehem.." Alex datang dan duduk di samping Kayla.


Kayla menoleh sekilas melirik Alex, meski ia sudah tahu siapa yang berdehem barusan.


"Ada apa, AI?"


"Ada aku sama kamu"


Kayla mengernyit, "Apa sih?"


"Kamu sama Adit mulu."


"lya."


"Aku nggak nanya." timpal Alex agak sewot.


"Trus, emangnya kenapa kalo aku sama Adit? Kita kan sekelas, sejurusan, dia anaknya pinter."


"Aku kangen" ucapnya pelan.


Kayla terkekeh geli, tapi tak menimpali ucapan Alex, ia tetap fokus pada bukunya. Alex yang merasa diabaikan mendengus panjang.


"Aku cemburu."


Degg


Kiranya kalimat itu dapat mengalihkan pandangan dan pikiran Kayla dari bukunya.


"Cemburu, sama Adit?" tanya Kayla.


"lya lah! Kamu sama dia terus selama ujian, kamu nggak ngeluangin waktu buat aku, nyapa juga enggak." gerutu Alex.


"Aku gerah liat dia deket-deket sama kamu." jujurnya, membuat Kayla merasa geli sekaligus aneh.


"Gerah?" gumam Kayla dalam hati.


"Deket gimana sih AI, biasa aja. Kita cuman diskusiin soal materi pelajaran kok, lagian kan kita sekelas, Adit emang teman aku. Dan kenapa kamu.. cemburu?"


"Kamu nggak merhatiin dia?"


"Merhatiin gimana maksudnya?"


"Bagus lah kalo kamu nggak merhatiin dia!"


"Emangnya ada apa sih Al?"


"Aku nggak suka cara dia natap kamu. Kayaknya.. dia suka sama kamu."


Kayla menaikkan alisnya tak percaya, beberapa detik kemudian senyuman tipis terbit dari bibir kissable nya, membuat Alex mendelik tak suka.


"Kenapa kamu? Jangan bilang kamu juga suka sama Adit?!"


Kayla terkekeh, "Sewot amat sih Al, emangnya salah kalo aku suka sama Adit?"


Alex melongo, ada sesuatu yang mencelos di hatinya. "Kamu bilang apa?"


"Apa?" bingung Kayla.


"Aku suka sama Adit?" ulang Kayla, membuat Alex menelan salivanya berat.


"Aku udah bilang kalo aku cemburu, kamu tetap ngomong gitu?" Alex memalingkan wajahnya lalu bergumam pelan, "Nggak peka banget sih."


Kayla mengulum senyum, "Aku denger."


Alex kembali menatap Kayla, yang ditatap malah cengar-cengir. Ah jadi tambah kesal rasanya.


"Ada yang lucu?" tanya Alex agak ketus.


"Itu pertanyaan, apa pernyataan?" ledek Kayla.


"Ck, Miss Kissable..." rengek Alex.


"Oke, sorry!"


"Aku hargain perasaan kamu Al, tapi inget loh.. aku bukan pacar kamu, jadi aku berhak buat suka sama siapa aja. Kamu juga berhak cemburu sih, tapi gimana kalo.. ternyata Adit juga cemburu?"


"Apa maksud kamu? Kamu.. juga suka sama Adit?"


Kayla tertawa kecil, "Al, kamu sama Adit itu sama. Sama-sama teman aku. Ngapain sih cemburu-cemburuan?!"


"Cemburu itu tanda cinta, Miss Kissable.."


"Oke, tapi aku nggak mau main-main sama cinta. Titik!" meski terkesan serius, Kayla mengatakannya dengan ekspresi santai.


"Aku serius kok, nggak main-main!"


"Serius belajar Al, bentar lagi bel!" ujar Kayla seraya mengalihkan pandangannya dari Alex ke bukunya kembali.


"Tapi aku juga serius cinta sama kamu, aku serius cemburu liat kamu deket sama Adit."


Kayla tersenyum hambar, "Trus aku mesti gimana kalo kamu serius? Sedangkan kamu tau aku bakal tetap sama prinsip aku. Kamu berhak punya rasa apapun itu, cinta, cemburu atau apalah itu. Adit juga sama, dan aku sendiri pun juga berhak. Tapi pilihan tetap di tangan kita masing-masing. Aku nggak ngelarang kamu buat suka sama aku, aku juga nggak berhak ngelarang Adit kalo emang dia suka sama aku, dan nggak ada orang yang bisa ngelarang aku juga buat suka sama siapapun. lya kan!"


Alex cemberut, ia mendengus sambil mengangguk. Kayla merasa geli sekaligus menghangat hatinya, ia lalu menggeleng-geleng sambil mendengus senyum melihat ekspresi Alex. Bagaikan seorang ibu yang gemas melihat kelakuan anaknya.


"Belajar sana! Jangan ganggu aku, aku belum selesai baca." ucap Kayla sambil mengacak rambut Alex.


Alex yang mendapat perlakuan itupun merasa berbunga-bunga. la jadi salah tingkah sendiri. Sebelum sempat ia mengatakan sesuatu ataupun melakukannya, Adit datang.


Sebelumnya Alex berniat melabrak Adit dan melampiaskan kekesalannya, tapi setelah bicara dengan Kayla dan mendapat perlakuan manis tadi, Alex mengurungkan niatnya.


Alex berdiri dan tersenyum pada Adit, "Have a good study!" ucapnya kemudian berlalu.


Menimbulkan pertanyaan dibenak Adit. Apalagi tadi Adit sempat melihat perlakuan Kayla yang mengacak rambut Alex. Kayla mengangkat kepalanya dari buku dan melirik Alex dan Adit bergantian. Setelah Alex hilang dari pandangan mereka, Adit menatap tanya pada Kayla. Kayla menanggapinya hanya dengan senyuman dan gelengan kepala.


Tanpa mereka berdua ketahui, Alex menoleh sekali lagi melihat Kayla dan Adit yang duduk bersebelahan di kursi panjang perpustakaan. la mengedikkan bahunya seraya tersenyum tipis.


Terserah, silahkan saja Adit belajar bersama Kayla. Sekarang Alex mengerti, Kayla selalu menghargai siapa pun yang ada di dekatnya. Kayla benar, semua orang berhak memiliki perasaan masing-masing, tapi tidak ada orang yang berhak memaksakan perasaan orang lain padanya. Cinta Alex tidak se'egois itu yang memaksakan Kayla untuk membalas cintanya. la mungkin cemburu pada Adit, karena takut Kayla akan menaruh hati pada Adit. Tapi siapa pun yang Kayla sukai, itu hak Kayla.


Meskipun Alex merasa dirinya spesial untuk Kayla, ia tetap tidak tahu bagaimana perasaan Kayla yang sesungguhnya. Lagipula Kayla bilang, Alex dan Adit itu sama kan, sama-sama teman Kayla. Jadi, biarlah Kayla menganggap Alex dan Adit sebagai teman. Alex akan tetap pada cintanya. Dan tentang Adit, terserah dia mau bagaimana. Jika memang Alex dan Adit harus bersaing, Alex siap.


... ....


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... Bersambung...


__ADS_2