
Setelah pelajaran pertama selesai, Nia kembali melanjutkan ocehannya. Belum juga Kayla merasa tenang, malah dipancing lagi emosinya oleh teman sebangkunya yang pecicilan itu.
"Kay, jujur aku penasaran banget loh, aku gak liat sih.."
"Apanya?"
"Ya... yang kemarin itu lah, yang jadi trending topik, kamu sama Alex." ucap Nia sambil memperagakan kedua tangannya yang mengisyarat ciuman.
Kayla menampik tangan Nia serta melotot.
"lya, kamu sih gak masuk kemarin makanya gak tau." jawab Kayla ketus, membuat Adit menaikkan alisnya heran atas jawaban Kayla.
"Harusnya tuh kalian ada di sana dan ngebantu aku pas aku ditinggalin sendirian sama mereka. Sedih banget tau!" keluh Kayla.
Adit terkesiap dan gelagapan, ia lalu menunduk untuk menyembunyikan ekspresinya.
"Kamu kemana sih Ni? Kok nggak masuk?"
"Kemarin itu papaku mendadak kena serangan jantung, jadi kita sibuk ngurusin papa di rumah sakit. Aku aja sampe nginep dua malam di rumah sakit." jelas Nia.
"Ya Tuhan... trus gimana papa kamu sekarang?"
"Udah gak papa Kay. Tekanan darahnya juga udah normal kok"
"Alhamdulilah deh."
"Kay-.."
"Stop Nia! Pliss gak usah bahas itu bisa gak?"
"Kamu malu? Kesal? Kalo aku jadi kamu...aku bangga dong jadi cewek pertama dipegang Alex."
Kayla melototi Nia, tapi Nia tidak peduli dan malah melanjutkan kata-katanya.
"Kamu dengar sendiri kan omongan mereka?Mereka itu sebenarnya bukan ngebenci kamu atau nyudutin kamu kok, mereka sebenarnya iri Kay sama kamu."
"Apa??" ujar Kayla tak percaya.
Kayla menoyor kepala Nia saking kesalnya. "Sadar Ni.. sadar..!"
"Aduh.. sayang banget yah gak ada videonya."
"V-.. video apa Ni?" tanya Kayla mulai takut.
"Video kamu sama Alex-..."
"Hahh??" belum sempat Nia melanjutkan kata-katanya Kayla mencengkram lengan Nia saking kagetnya saat menyadari apa yang dimaksud Nia. Kayla reflek meletakkan telapak tangannya ke mulut seraya melotot.
"Tenang Kay!" Adit mendekati Kayla dan duduk di depannya.
"Kamu tenang aja, gak ada yang ngerekam kok. Mana berani mereka sama Alex. Kemarin Alex udah ngancem siapa pun yang ngerekam, hp nya bakal disita sama Alex. Kalo ada yang berani upload ke medsos bakal abis di tangan Alex!"
Kayla melepaskan tangannya dari lengan Nia dan juga dari mulutnya, Nia terdengar meringis
"Maaf Nia."
"Dit, beneran?"
"lya, gak ada yang ngerekam kok. Kalo ada pasti udah ketahuan sama Alex, ya Alex juga gak mau lah insiden itu sampai tersebar ke luar"
Kayla menghela nafas lega. "Alhamdulillah..." gumamnya.
"Tapi tetap aja, Alex harusnya ditindak dong.. bukannya guru-guru juga tau ya masalah ini?"
"Tau. Tapi percuma juga kalo ngelapor ke Pak Rudi, Pak Rudi udah gak mau terlibat masalah sama Alex"
"Pak Rudi guru BK kan? Kenapa gitu?"
"Pak Rudi udah empat kali kena masalah gara-gara ngurus kasus Alex. Yang terakhir Pak Rudi hampir di depak loh dari sekolah ini, Alex itu pandai memutar balikkan fakta." jelas Adit.
"Jadi karena itu gak ada yang ngelapor?" Nia dan Adit mengangguk serentak.
"Aku kok gak rela ya, orang kayak dia masa' didiemin aja sih? Kalo gak ada yang berani ngelapor.. biar aku!" Kayla berdiri membuat Nia dan Adit khawatir.
"Kay? Tenang dulu.. dengerin dulu" Adit menahannya dan memintanya duduk lagi.
"Kamu cuman bakal bikin masalah baru. Kamu pikirin dulu apa yang mau kamu lakuin.. jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi" ucap Adit lembut.
"Udah lah Kay lupain aja, kalo sampai kamu mancing emosi Alex lagi.. kamu bisa-bisa diberhentiin dari sekolah ini, kayak yang sebelumnya."
Kayla mengernyit tak terima, perkataan Nia hanya menakutinya saja, Kayla tidak akan diberhentikan dari sekolah karena Alex. Tapi tunggu dulu, apa tadi Nia bilang?
"Kayak yang sebelumnya..? maksud kamu?"
"Sebelum kamu, ada... 3 sampai 4 orang siswi kalo gak salah, mereka berhenti sekolah karena malu, salah satunya diberhentiin karena fitnah dari fakta yang diputar balikkan Alex."
Kayla terbelalak tak percaya, ngeri juga kedengarannya.
"Mereka dipermaluin sama Alex?"
"lya, mereka dipermaluin sampe gak mau masuk sekolah lagi gara-gara itu. Tapi.. gak separah kamu sih." Adit menimpali.
"Kalo kamu parah sih Kay, tapi beruntung" sahut Kayla, dengan memelankan suaranya di kalimat terakhirnya.
"Plis deh Nia.. jangan ngomong gitu lagi!"
"Oke.. sorry."
"Eh tapi gimana ceritanya kok sampe segitunya mereka?" tanya Kayla penasaran.
__ADS_1
"Yang paling aku tau sih.. Gia. Waktu itu dia keluar dari ruang lab dan bawa sekantong sampah, trus gak sengaja nabrak Alex sampai sampah itu berserakan semua dan ngotorin baju Alex sama Bima, Sandi dan Vicky juga. Ya mereka marah." Nia menjeda ucapannya.
"Trus?"
"Mereka ngurung Gia di ruang lab. Tapi gak sendirian, mereka berempat juga masuk kesana. Gak tau deh apa yang mereka lakuin, Gia teriak-teriak kayak ketakutan gitu, pas pintu kebuka.. Gia keluar trus lari sambil nangis. Hhh.." Nia mendesah sebelum melanjutkan ceritanya.
"Penampilannya berantakan, kancing bajunya tuh sampai kebuka semua, rambutnya juga acak-acakan. Dia nangis sambil megangin baju depannya biar gak kebuka, kita yang ngeliatnya aja syok."
Kayla terbelalak tak percaya, ia menggelengkan kepalanya. Kayla mengepalkan tangannya geram, sampai bingung harus mengatakan apa.
"Itu hari terakhir Gia masuk sekolah, abis itu dia pindah."
Kayla mengumpat dalam hati, ia semakin merasa jijik dengan Alex. "Keterlaluan! Itu kasus serius, Nia. Apa orang tuanya tau?Apa Alex sama teman-temannya gak ditindak?"
Nia mengedikkan bahunya, sedangkan Adit mendengus panjang dan sedikit mendesah, membuat Kayla menoleh padanya.
"Kasus serius sekalipun kalau gak sampe ke kepala sekolah.. gak bakal ada pengaruhnya."
"Maksudnya Dit?"
"lya, masalah-masalah kayak gitu kan tanggung jawabnya Pak Rudi selaku Guru BK, dan kasus Gia itu lah yang bikin Pak Rudi hampir di depak dari sekolah ini."
"Dan sampe sekarang gak ada laporan yang diterima lagi gitu?" tanya Kayla kesal.
"Bukan gitu, diterima kok, Alex dan teman-temannya dipanggil, tapi gak dihukum, cuman dikasih nasehat dan peringatan." jelas Adit.
Kayla mencelos. Kenapa keadilan begitu lemah di sekolah ini, kenapa sampai ada siswi nya yang terzolimi tanpa mendapat perhatian moral.
"Dan kasus tiga lainnya? Yang sampe diberhentiin itu gimana? Kok bisa sampe begitu?"
"Itu Kak.. siapa ya namanya, aku lupa. Pokoknya dia itu dulunya wakil ketua Osis. Dia cukup berani juga loh, ngelaporin Bima sama Sandi yang waktu itu ngerekam siswi ganti baju. Dia ngelapor ke guru BK, trus hampir ngasih bukti rekamannya ke guru,tapi.. sebelum itu Alex duluan bertindak, Alex yang duluan ngasih rekaman ke guru."
"Rekaman apa?"
"Rekaman wakil ketua Osis itu, di rekaman itu katanya sih.. isinya tentang cewek yang lagi nawarin diri ke Om-Om gitu di depan club malam, dan cewek itu.. si wakil Ketua Osis itu" Kayla sampai melotot mendengar cerita Nia.
"Tapi itu gak benar, itu fitnah. Cewek di dalam video rekaman itu bukan dia, Alex sama teman-temannya ngedit video itu, mereka mutar balikin fakta demi nunjukin kalo yang salah itu si pelapor.. bukan si pelaku sebenarnya Bima dan Sandi. Miris sih." Adit menimpali.
Benar, miris sekali. Kayla yang mendengar ceritanya saja sampai meringis dan sakit hati, bagaiman perasaan para korban yang dipermalukan seperti itu. Kayla mengeratkan kepalan tangannya dan menggeram sendiri.
"Keterlaluan banget! Kok kalian semua masih diam? Gak ada yang mau bertindak gitu? Dit, apa perasaan kamu gak terusik dengan keadaan ini?"
"Mau gimana lagi Kay.. aku punya adik perempuan disini, kalo aku bertindak itu sama aja aku ngorbanin adik aku."
Kayla mendengus kesal. "Tapi masalahnya serius, udah banyak korban kan? Apa jadinya kalo dibiarin gini terus? Aku gak bisa tenang deh." keluh Kayla.
"Kay, jangan bilang kalo kamu mau bertindak lebih jauh lagi? Kamu ngelapor ke guru BK juga percuma, masalah seserius apapun gak akan ada pengaruhnya kalo gak sampe ke kepala sekolah."
"Maksudnya Dit? Pak kepala sekolah gak tau kasus itu?"
Adit menggeleng, "Enggak, kalo bukan masalah yang penting banget atau urgent baru bisa ke kepala sekolah. Selama ini kasus Alex mentok di Pak Rudi aja, Pak Rudi juga gak akan mau kasus-kasus itu sampe ke kepsek, soalnya beliau tau.. walaupun Alex yang bikin masalah, yang bakal kena tuh beliau sendiri, bukan Alex. Yah.. seperti yang aku bilang tadi, Alex itu cerdas dia pandai memutar balikkan fakta. Dan kepsek kita itu juga dekat banget sama papanya Alex. Papanya Alex sampai nitip ke Pak Rahmat selaku kepala sekolah buat ngawasin anaknya."
Tak disangka, senyum tipis Kayla terukir dari bibir kissable nya, membuat Adit dan Nia bingung.
"Oh, lanjutin Dit!" ucap Kayla setelah merubah mimik wajahnya.
"Ya.. Pak Rahmat itu dekat sama papanya Alex, kalo sampe Pak Rahmat tau kasus-kasus Alex artinya papanya Alex juga tau. Makanya selama ini kasus-kasus Alex gak pernah sampe ke beliau, soalnya Alex selalu ngancem kalo sampe masalah dia didengar sama Pak Rahmat.. orang yang berani nyampe'in itu bakal dibikin nyesel"
"Trus? Gak ada yang berani sama ancamannya gitu, kayak selama ini?" tanya Kayla remeh.
"Alex itu gak main-main, Kay. Pernah loh ketua kelasnya Alex ngelaporin satu kasus ke kepsek, dan apa yang Alex lakuin? Dia bikin kedua orang tuanya si ketua kelas itu dipecat dari pekerjaannya secara gak hormat. Jadi gak ada yang mau lah kejadian itu terulang lagi" sahut Nia.
Kayla mengernyit, "Kok gitu? Artinya.. papa Alex ngedukung anaknya yang zolim itu, gitu?"
"Bukan gitu Kay, tapi papa Alex gak pernah tau yang sebenarnya terjadi."
"Karena anaknya yang licik itu mutar balikin fakta, jadi yang keliatan salah tuh malah orang tuanya si ketua kelas itu?" tebak Kayla.
Adit dan Nia mengangguk. Kayla menghela nafas panjang sambil tersenyum miring, Nia dan Adit lantas saling melirik karena bingung dengan reaksi Kayla.
"Thanks.. thanks banget ya Dit! Ni!"
"Thanks??" keduanya lantas bermonolog.
"lya, kalian bikin semangat dan tekad aku nambah. Aku seneng, dan aku yakin.."
Nia dan Adit menyimak sambil menautkan alis mereka masing-masing karena belum faham dengan yang dimaksud Kayla.
"...buat ngelaporin Alex,"
Kali ini Nia dan Adit terkesiap mendengarnya.
"..ke kepala sekolah." ucap Kayla final seraya tersenyum simpul.
"Jangan!" sergah keduanya cepat.
"Hey.. kenapa? Bukannya kalo Pak kepsek tau berarti papanya Alex juga tau kan? Itu bagus, biar dia dihukum! Jangan bilang kalian gak mau Alex dihukum. Aku pengen banget liat dia dihukum, dan dia emang harus dihukum kan? Kelakuannya itu gak bisa ditoleransi, kasusnya gak sepele. Pembullyan, pencemaran nama baik, penganiayaan, pelecehan, itu semua kriminal. Gak bisa dibiarin dong!" ucap Kayla bersungut-sungut. la kesal, Nia dan Adit memegang tangannya agar Kayla tidak beranjak.
"Kay, ngerti dong.. kita gak mau kamu kena masalah lagi!" Nia membujuk.
"Plis Kay, kamu kan udah berusaha bertindak, kamu nantang dia dan kamu juga udah dapetin hasilnya. Jadi cukup lah.. jangan nyusahin diri kamu lagi buat orang kayak dia."
"Enggak Dit, yang aku dapetin itu bukan hasil dari tindakan aku, itu cuman rintangan. Aku masih berusaha dan belum nyerah, pliss.. jangan hentiin aku."
"Alex itu pandai memutar balikkan fakta, Kay." timpal Nia.
"Aku gak takut, aku bisa hadapin dia." sahut Kayla yakin.
"Kalo kamu kenapa-napa gimana? Kamu taukan Alex itu siapa dan gimana sifatnya? Dia itu punya apapun yang gak kamu punya, dia bisa ngelakuin apapun yang gak bisa kamu lakuin. Jangan keres kepala dong Kay.." kata Adit dengan nada yang mulai meninggi karena emosi.
__ADS_1
"Aku gak peduli status ataupun posisinya, cowok kayak dia gak bisa dibiarin! Dia gak bisa seenaknya nyakitin dan lecehin cewek, dia harus dikasih pelajaran!" ucap Kayla tak kalah emosinya.
Kayla lalu beranjak, membuat Nia dan Adit terkesiap dan khawatir.
"Kay, tunggu!" Keduanya mengejar Kayla yang melangkah cepat keluar kelas menuju ruangan kepala sekolah.
"Kalo kalian berdua ngeliat gimana diaperlakuin aku, kalian gak akan hentiin aku!"ucap Kayla tanpa menoleh, tatapan danlangkahnya lurus ke depan.
Adit seketika terkesiap dan menunduk, tapi tak membuatnya menyerah untuk menghentikan Kayla. "Plis Kay.. jangan bahayain diri kamu lagi"
"Emangnya kenapa? Aku ini korban, dan aku gak terima.. tersangka kayak dia bebas gitu aja. Dia harus tanggung jawab dong."
"Kayla, jangan ngotot gini dong. Seenggaknya pikirin orang tua kamu sebelum kamu ngelakuin ini!"
Perkataan Nia lantas membuat wajah tegang Kayla berubah jadi cemas, namun hanya beberapa saat. Setelah Kayla meyakinkan hatinya ekspresi wajahnya lantas terlihat lebih tenang. Meski sempat gentar, Kayla tidak menghentikan langkahnya, ia tetap melangkah maju demi kebenaran dan kebaikan yang ia inginkan terjadi.
Kini Kayla sudah di tengah jalan, di koridor sekolah dengan Nia dan Adit yang terus mendesaknya agar Kayla mengurungkan niatnya. Para siswa dan siswi yang melihat mereka dan mengerti situasinya lantas geger, mereka syok mendengar keberanian Kayla yang akan menemui kepala sekolah untuk melaporkan kasusnya. Apalagi satu sekolah sudah tahu insiden Kayla dan Alex tempo hari, dan kini mereka digegerkan oleh tindakan Kayla yang beresiko itu.
Sekarang bukan hanya suara ribut Nia dan Adit yang mengiringi langkah Kayla, tapi hampir semua siswa-siswi yang mengetahui itu pun ikut meributkannya dan mengikuti Kayla. Namun mereka mengikuti Kayla bukan untuk menghentikan Kayla seperti yang dilakukan Nia dan Adit, tapi mereka seolah ingin memastikan apakah Kayla akan benar-benar menemui kepala sekolah.
... ....
... ....
... ....
"Al!" seruan seseorang membuat Alex dan ketiganya temannya lantas menoleh.
"Apa?" bukan Alex yang menyahut tapi Bima.
"Si cupu mau ngelaporin elu ke Pak Rahmat!" teriaknya dari jauh, karena saat ini Alex dan ketiga temannya sedang berada di bawah pohon besar belakang sekolah alias markas pribadi mereka, yang tidak ada siapa pun berani kesana kecuali mereka berempat.
"Apa?? kaget Bima, Sandi, dan Vicky, mereka lantas menyanggah. Sementara Alex hanya sedikit terkesiap kemudian ia terkekeh.
"Eh Di, jangan main-main lu!" bentak Bima kesal.
"Serius. Itu dia lagi jalan menuju ke ruangan kepsek. Anak-anak aja udah pada geger" siswa bernama Didi itu menjawab.
"Wah Al, udah gila tuh cewek" kritik Vicky.
"Cari mati beneran ya, gimana nih? kata Bima yang sudah berdiri sambil berkacak pinggang.
"Kalo dia beneran ngelaporin elu ke Pak Rahmat gimana Al?" tanya Sandi yang juga ikut kesal sekaligus cemas.
Sementara Alex masih santai, duduk bersandar seraya menjulurkan kakinya. "Tunggu aja dulu sampe gue dipanggil" jawabnya lempeng.
Bima, Sandi, dan Vicky cukup heran dengan respon Alex, tapi mereka mengerti jika Alex menanggapinya dengan santai maka berarti masalahnya tidak besar dan bisa Alex atasi.
Beberapa menit kemudian Alex pun dipanggil, membuat Bima, Sandi dan Vicky nampak khawatir.
"Gede' juga nyalinya." gumam Alex seraya terkekeh.
"Maunya apa sih tu cewek?!" keluh Vicky kesal.
"Gimana AI? Elu serius mau nemuin Pak Rahmat?" tanya Sandi.
"Ya iya lah.. elu pikir gue pengecut! Elu bertiga siap-siap aja, bentar lagi juga dipanggil" ujar Alex seraya berjalan meninggalkan mereka bertiga.
Sepanjang perjalanan Alex menuju ruangan kepala sekolah, semua mata tertuju padanya. Alex berjalan santai dan cuek seperti biasanya, mereka yang memandanginya menunjukkan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang nampak takjub, takut, khawatir dan senang. Tapi tak ada seorang pun yang berani bersuara, tidak seperti saat Kayla berjalan melewati mereka tadi yang terdengar geger, sangat hingar dan berisik.
Padahal di dalam hati, Alex merasa sedikit gentar, ia khawatir kalau sampai papanya tahu masalah yang ia ciptakan di sekolah, terlebih lagi insiden memalukan tempo hari.
"Sialan!!" umpatnya pelan nyaris tak bersuara.
Alex geram pada gadis cupu itu, gadis itu bukan hanya berani tapi nyalinya juga besar. Dia tidak takut pada Alex, meskipun Alex sudah memperlakukannya begitu buruk. Alex ragu, apa dia itu memang berani atau sebenarnya dia bodoh? Apa yang dia pikirkan saat dia menghadap Pak Rahmat dan menyebut nama Alex?
Kini Alex berdiri di ambang pintu ruangan kepala sekolah, Alex mengetuk pintu yang sudah terbuka itu dengan tenang. la lihat, gadis sialan itu sudah ada di sana, duduk di kursi yang berhadapan dengan Pak Rahmat.
"Masuk!" Pak Rahmat mempersilahkan.
Tidak lama setelah Alex masuk dan duduk dikursi yang dipersilahkan oleh Pak Rahmat, tepatnya disamping Kayla, para guru satu-persatu masuk ke ruangan itu.
"Sumpah ya nih cewek, segala semua guru diundang? Emangnya ini ruang sidang?" gerutu Alex dalam hati.
"Alex, saya sudah mendengar laporan yang diajukan oleh Kayla." ucap Pak Rahmat memulai, setelah sebagian guru duduk di bangku yang berjejer di ruangan kepala sekolah, sebagiannya hanya berdiri dan siap menyimak.
"Disini saya juga menghadirkan semua guru, yang katanya sudah mengetahui perkara yang baru saja dilaporkan oleh Kayla." lanjut Pak Rahmat sambil menatap wajah para guru bergiliran.
Sebagian diantara mereka para guru ada yang saling melirik, ada yang menunduk dan ada yang hanya diam menyimak. Tentu mereka sudah tahu apa permasalahan yang membuat kepala sekolah memanggil mereka semua, dan itu cukup membuat mereka cemas.
"Baik. Alex sudah disini, Kayla silakan kamu ulangi laporan kamu agar Alex bisa mendengarnya dan memberikan jawaban."
Kayla mengangguk sebelum mulai berbicara. "Dua hari yang lalu, tepatnya hari Rabu, sepulang sekolah.. Alex menganiaya saya dan hampir membahayakan nyawa saya, dia juga melecehkan saya, Pak. Jadi saya disini untuk menuntut Alex, karena menurut saya.. dia pantas mendapatkan hukuman atas tindakan kriminal yang dia lakukan."
Alex terbelalak mendengarnya, begitu juga para guru. Meskipun mereka semua sudah tahu tentang itu, tetap saja.. keberanian dan perlawanan yang Kayla suarakan membuat mereka kaget tak percaya. Karena sejauh ini belum ada yang berani melakukan seperti yang Kayla lakukan.
Karena sejauh ini, belum ada yang berani melakukan apa yang Kayla lakukan, dan ini langsung dihadapan kepala sekolah pula.
Beberapa siswa-siswi yang menguping di samping pintu pun tak kalah kagetnya,mereka langsung geger setelah itu. Dua orang diantara mereka lantas membubarkan diri dan berlari menjerit sambil membawa dan menyebarkan berita mengejutkan itu. Kayla benar-benar melaporkan Alex kepada Kepala Sekolah.
Tak butuh waktu lama, satu sekolah pun dibuat geger oleh tindakan tegas Kayla yang berani menghadap kepala sekolah untuk mengajukan laporan tuntutan pada Alex.
Sementara di dalam ruangan kepala sekolah, suasana nampak hening dan tegang.
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...