
Kayla masih terdiam setelah sepuluh menit yang lalu Alex mengungkapkan perasaannya dan menjawab rasa penasaran Kayla. Alex pun kini masih menunggu Kayla mengatakan sesuatu.
"Ngomong dong Miss Kissable, aku mau tau pendapat kamu. Enggak masalah kalo kamu nggak nerima aku sekarang, tapi seenggaknya kamu ngomong sesuatu, biara ku lega." gumam Alex dalam hati.
Dalam hati Kayla berpikir, "Dia Alex, tapi dia juga Mr Strawberry. Mr Strawberry selalu bersikap sopan sama aku, ngomongnya lembut, tatapannya teduh, dan dia kayaknya jujur kalo dia suka sama aku. Tapi aku gak mungkin Iupa kalo disisi lain dia adalah Alex, cowok kejam dan brengsek.
Kayla mendesah nafas panjang, membuat Alex menoleh. Tapi tak satu kata pun keluar dari mulut Kayla yang Alex tunggu-tunggu sejak tadi.
Di tengah taman restoran Alex, keheningan meliputi mereka berdua meskipun di dalam ruangan sana sangat ramai. Alex memandang lurus ke depan, melihat keramaian para tamu yang masih menikmati pesta, mereka menikmati kebersamaan dengan teman atau rekan masing-masing.
Meski mata Alex nampak fokus melihat ke depan, hatinya hanya terfokus pada gadis di sampingnya yang masih betah bungkam.
"Dia pasti nungguin jawaban aku, aku harus gimana? Aku nggak tega nolak Mr Strawberry yang baik, tapi aku nggak rela dan nggak akan bisa nerima Alex yang brengsek" pikirnya lagi.
Dalam diamnya, pikiran Kayla berkecamuk. Pertanyaan-pertanyaan yang meski sudah terjawab tetap saja mengganggunya, perasaan-perasaan yang sejak tadi meliputi hatinya kini semakin meruap-ruap. Membuatnya bingung dan tidak bisa berkata apa-apa. Sampai sebuah suara membuat tepekurnya buyar.
Drrtt... Drrtt..
Ponsel Kayla berdering dan ia segera merogoh tas kecil yang sejak tadi diselempangkannya di bahu. Ternyata mami yang menelpon, Kayla segera mengangkatnya dan melangkah mengambil jarak dari Alex.
"Sayang, kamu dimana? Mami cariin loh daritadi"
"Kenapa mi? Lily masih di pesta kok."
"Dimana? Kamu masih sama Nak Alex?"
"lya"
"Sayang, kita pulang sekarang. Om Iwan besok mau ke Malang pagi-pagi."
"Sekarang mi?"
"Iya, Om Iwan buru-buru mau packing, takut telat soalnya keberangkatannya dimajuin jadi jam 2 pagi"
"Hah? Jam 2 pagi mi?"
"lya, makanya kamu dimana, ini mami udah di depan loh, Om lwan lagi ngambil mobil tuh."
"Oh, oke mi. Lily langsung nyusul ke depan." Kayla hendak memutuskan sambungan telponnya setelah itu.
"Tunggu sayang!"
"lya mi?"
"Pamit dulu sama Nak Alex!"
Kayla melirik Alex, "lya mami..!"
"Kasih hp nya ke Nak Alex! Mami mau ngomong."
"Ngapain sih mi? Enggak enak ah."
"Biar mami yang pamit. Mami juga nggak enak, tadi cuman ketemu sebentar. Ayo kasih hp nya!"
"Ih mami, tadi nyuruh buru-buru" batin Kaylaseraya melirik Alex ragu.
"Lily? Mana Nak Alex nya..?"
"lya Mi, sebentar" sahut Kayla seraya menjauhkan hp dari telinganya dan mendekati Alex, tapi ia merasa sungkan untuk memberikan hp nya.
Alex berdiri, "Ada apa?"
"Ini, mami aku mau ngomong.. sama kamu." ujarnya ragu.
"Oh.." sahut Alex seraya menengadahkan telapak tangannya agar Kayla memberikan hp. Dengan ragu Kayla memberikannya. "Halo tante?"
"Nak Alex, maaf ya kita gak sempat bicara banyak. Tante sama Lily mau pamit, kapan-kapan kita ketemu lagl"
Duaaarrrrrrr.......
Alex reflek menyentuh dadanya, rasanya hati Alex nyeri mendengar kata pamit itu. la tidak siap untuk berpisah lagi dengan Miss Kissable, Alex baru saja melepaskan rasa rindu yang telah lama meluap-luap dalam dadanya, tapi Miss Kissable nya ingin pamit?
"Nak Alex?"
"Eh, tante. Kenapa buru-buru tante? Nikmatin aja dulu pestanya."
"Maaf ya Nak Alex, Om nya Lily besok maupergi ke Malang ada urusan bisnis, jadi kita harus pulang sekarang"
"Oh gitu ya..." sahut Alex lesu.
"Lily nya mana? Suruh langsung ke depan ya!Tante sama Om udah nunggu. See you Nak Alex"
"See you, tante!" sahut Alex lesu. Setelahnya Alex mengembalikan hp pada Kayla.
"Aku pamit ya! Makasih..." Kayla bingung mau melanjutkan kata-katanya dan memilih langsung beranjak.
Sedangkan Alex hanya terdiam menatapnya, ekor matanya terus mengikuti langkah Kayla, seolah tak rela jika gadis itu hilang dari pandangan matanya. Tiba-tiba ekspresi Alex menegang, ia bergegas mengejar Kayla yang melangkah semakin jauh darinya.
__ADS_1
Tunggu! Sergahnya sambil memegang tangan Kayla, membuat langkah Kayla terhenti.
Kayla menaikkan alisnya menatap wajah Alex yang terlihat berubah, mata tajamnya menghunus ke mata Kayla, rahangnya mengeras dan pegangannya pada pergelangan tangan Kayla pun cukup kuat.
"A-aku.. harus pulang sekarang." ucap Kayla was-was.
Alex tak menggubrisnya dan tak bergerak dari posisinya. Kayla meringis kecil merasakan nyeri pergelangan tangannya.
"AI? Aku mau pulang!" ucap Kayla lagi, membuat Alex lantas melepaskan tangan Kayla dan merubah mimik wajahnya ketika pertama kali Miss Kissable nya menyebut namanya, Al."
"Enggak. Aku nggak boleh egois, atau aku bisa nyakitin Miss Kissable. Enggak, aku harus bisa sabar, dan relaks." batin Alex.
Alex terbelalak melihat pergelangan tangan Kayla yang memerah akibat pegangannya tadi. "M-miss Kissable... maafin aku.. aku gak bermaksud-..."
"Ada apa?" sela Kayla.
"Maaf.. aku gak tau aku kenapa." sahutnya kalut, seraya menunduk beberapa saat. Kemudian menatap mata Kayla lagi.
"Miss Kissable, aku nggak mau nuntut kamu.Tapi aku butuh jawaban, seenggaknya kamu ngomong sesuatu sebelum pergi. Aku udah ngomong banyak, aku ngungkapin perasaan aku ke kamu. Apa kamu mau pergi gitu aja?"
Kayla terdiam. "Miss Kissable, aku ngerti. Kamu gak perlu mikirin kata-kata aku kalo kamu gak suka, tapi seenggaknya sebelum kamu pergi. bilang sesuatu! Kita bakal ketemu lagi kan? Aku bisa nemuin kamu lagi kan setelah ini?"
Degg
Kayla bingung, hal yang Kayla khawatirkan sekarang ada di depan mata. Kalau Kayla dan Alex sering bertemu, Alex bisa curiga atau bahkan tahu bahwa Miss Kissable adalah Kayla si cupu. Sebenarnya Kayla tak bermaksud membohongi Alex, tapi untuk sekarang... Alex tidak boleh tahu dulu yang sebenarnya.
Tiba-tiba ponsel Kayla berdering lagi. Mami menelponnya lagi, pasti karena lama menunggu Kayla. Sambil memegang ponselnya yang masih berdering, Kayla menatap mata Alex sekali lagi. Tatapannya penuh harap dan... ada kesedihan juga?
Kayla melangkah ragu. Baru satu langkah Kayla maju, Alex juga maju satu langkah seolah tak mengizinkan Kayla pergi. Sementara Kayla semakin merasa terdesak, ia harus mengangkat telpon dari mami dan segera pergi, tapi Alex masih menunggu Kayla mengatakan sesuatu.
"Minggu depan, disini." itu yang keluar dari mulut Kayla dalam keterdesakannya.
Setelahnya Kayla langsung berlalu dan melangkah terburu-buru, sementara Alex mengembangkan senyumnya dengan ekspresi terharu.
"Aku tunggu minggu depan, Miss Kissable!" pekiknya lantang, membuat gadis nya itu menoleh sekilas ditengah-tengah langkahnya yang semakin terburu-buru dan menjauh dari Alex.
... _________________...
Sudah lebih satu jam Kayla berbaring di kasurnya, tapi matanya masih tak bisa terpejam. Sejak pulang dari pesta Alex sampai sekarang, Kayla tak henti-hentinya memikirkan perkataan Alex, juga perlakuan-perlakuan sopannya pada Kayla.
Kayla masih tidak percaya kalau malam ini ia akan bertemu Alex di pesta, bahkan ternyata itu adalah pesta Alex. Dan yang paling tidak bisa Kayla percayai adalah.. Alex itu Mr Strawberry yang selama ini ia impikan. Apalagi Alex bilang... maksudnya Mr Strawberry bilang kalau dia jatuh cinta pada Miss Kissable pada pandangan pertama.
"Gak mungkin Alex jatuh cinta sama aku! Pada pandangan pertama lagi! Mustahil banget!"
"Kalo dia emang jatuh cinta sama aku pada pandangan pertama, dia pasti ngenalin aku kan pas kita ketemu di sekolah?"
"Dia buta, atau bodoh?"
"Heh, dia kan emang gak waras!"
"Anehnya... dia bisa ngelukis aku? Padahal kan dia belum pernah ngeliat wajah Miss Kissable secara sempurna, pas di ulang tahun Kak Riana aku kan pake topeng. Tapi papanya bilang, lukisan Alex emang miripsama aku. Gimana mungkin?!"
Kayla menggeleng-geleng tak habis pikir. "Sebenarnya... Alex nyadar atau enggak ya kalo aku ini Kayla?"
Ceklekk
Pintu kamar Kayla terbuka perlahan, menampakkan mami yang sedang menengok ke dalam dari sela pintu. Setelah menyadari Kayla masih membuka matanya, mami lantas membuka pintu lebar-lebar.
"Eh sayang, kok belum tidur?"
"Ini udah mau tidur kok mi, tapi kaget pasmami buka pintu."
Mami duduk di sisi ranjang Kayla. "Mikirin apa sayang?"
"Eh, enggak mi. Lily gak mikirin apa-apa kok"
"Kamu kira mami nggak tau, kenapa ditutup-tutupin sayang? Ayo cerita!"
Kayla terdiam sesaat, setelahnya Kayla bangun dan duduk berhadapan dengan mami.
"Mi?"
"Apa sayang?"
"Alex..."
"Kenapa nak Alex? Eh, tadi kamu sama nakAlex kemana? Mami mondar-mandir nyariin kalian gak ketemu."
"Alex ngajak Lily ke taman mi, dibagian timur restoran ada tamannya loh Mi"
"Oh ya? Keren." ujar mami membayangkan.
"Trus yang kamu pikirin itu apa sayang?tanya mami setelah Kayla hanya diam.
"Menurut mami, Alex gimana?"
"Gimana? Kan tadi mami cuman ketemu sebentar, kamu dong cerita ke mami.. kalian ngomong apa aja, nak Alex ngajak kamu kemana aja?"
__ADS_1
Kayla mendengus, "Banyak mi. Lily mau tau pendapat mami!"
Mami menautkan alisnya seraya berpikir. "Keliatannya dia baik, dia juga sopan. Dan keliatannya.. dia suka sama kamu ya?"
Kayla menaikkan alisnya, "Kok gitu?"
"Ya itu yang mami liat. Ada apa sayang? Kok mukanya ditekuk gini, nak Alex bikin kamu gak nyaman ya?"
"Nyaman kok mi." Kini mami yang menaikkan alisnya, sambil tersenyum jahil. "Eh, maksud Lily.. nggak. Alex.. dia baik sama Lily" ralatnya salah tingkah.
"Trus, yang bikin kamu masih melek jam segini apa?" tanya mami sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 23.15.
"Mi, jatuh cinta itu gimana sih?" tanyanya ragu.
"Hah? Sayang?"
"Enggak enggak, Lily cuman nanya. E..enggak usah dijawab deh." kata Kayla canggung.
Mami terdiam beberapa saat kemudian tersenyum simpul, membuat Kayla mengernyit tak mengerti.
"Sayang, kamu jangan sampai terlalu berharap ya! Jatuh cinta itu memang manusiawi, kita bisa ngerasain cinta pada siapapun, yang mungkin kita gak tau dia pantas buat cinta kita atau enggak. Kalo , kita jatuh cinta sama orang salah, kita bakal sakit hati. Sebaliknya kalo kita jatuh cinta sama orang yang tepat kita bakal bahagia. Tapi jatuh cinta itu awalnya emang selalu indah dan bikin kita bahagia, makanya mami bilang.. jangan terlalu berharap."
"Kamu sama nak Alex.. kita gak sederajat,sayang. Mami cuman karyawan biasa di salah satu perusahaannya Pak William. Nak Alex emang baik, mami juga gak bisa ngelarang kalo kamu jatuh cinta sama nak Alex. Tapi mami cuman ngingetin.. jangan terlalu berharap, soalnya belum tentu dia jodoh kamu"
"Mami apaan sih, kok ngomongin itu. Lily kan cuman nanya soal jatuh cinta, bukannya Lily jatuh cinta sama Alex. Kita juga baru kenal kok." Kayla mengerucutkan bibirnya kesal.
"Mami cuman ngasih tau sayang, mami nggak mau kamu sakit hati nantinya, mami juga belum siap kok liat kamu jadi pengantin."
"Ih mami..." keluh Kayla manja.
"Sayang, sama siapa pun nanti kamu jatuh cinta, jangan terlalu berharap ya! Akan lebih baik kalo kita cuman jatuh cinta sama laki-laki yang jadi suami kita sendiri, karena cinta suami-istri itu suci. Ingat ya.. jangan pacaran!"
"lya mami, Lily selalu ingat itu. Udah berapa kali ya mami bilang..." ujar Kayla sambil meletakkan telunjuknya di dagu seolah sedang berpikir.
Mami tertawa kecil, "Kali aja kamu lupa kalo udah tau rasanya jatuh cinta" celetuk mami.
"Enggak lah mi, Lily selalu ingat pesan mami. Lily gak bakal pacaran, Lily bakal jaga diri Lily cuman buat suami Lily nanti."
Mam itersenyum sambil mengelus kepala Kayla."Lily juga gak akan salah jatuh cinta. Cinta Lily cuman buat suami Lily nanti." tambahnya, membuat mami mendengus senyum.
"Anak mami udah dewasa." gumam mami setelah mengecup kening Kayla.
... _____________________...
Acara yang besar dan resmi malam ini memang membuat Alex kelelahan, apalagi di acara ini dia lah bintang utamanya. Tapi rasa lelah Alex tak berarti sama sekali mengingat Miss Kissable hadir di depan matanya, dan dia dapat membagi perasaannya dengan gadis yang dia rindukan itu.
Pertemuan indah yang terasa singkat itu nyatanya mampu membuat Alex merasa berada di atas awan saking bahagianya. Senyum sumringahnya tak memudar sedikitpun sejak Miss Kissable nya mengatakan "Minggu depan, disini" Meskipun tadi Alex harus melepaskan kepergian Miss Kissable dengan berat hati.
Saat ini Alex sedang berbaring di kasurnya, ia lalu menoleh ke arah kiri, dimana ia meletakkan kanvas yang terdapat lukisan wajah Miss Kissable disana. Alex sedikit beranjak, menempatkan sisi kiri kepalanya di sebelah tangan yang ia tegakkan dan sikunya yang ia tumpukan di permukaan kasur, dengan posisi miring ke arah kiri.Sambil memandangi lukisan wajah Miss Kissable, ia berbicara sendiri.
"Miss Kissable, terima kasih udah hadir malam ini. Aku bahagiaaa banget."
"Hmmm.. tapi kamu pulang terlalu cepat Miss Kissable, aku masih kangen banget loh sama kamu. Tapi nggak masalah, kita bakal ketemu lagi minggu depan kan?"
"Ck, kenapa harus minggu depan sih..kelamaan Miss Kissable. Kenapa nggak besok aja, besok kan restoran aku udah buka, kamu bisa dateng besok dan nemuin aku! Kalo perlu, aku yang jemput kamu."
"Eh, astaga... Alex! Bego amat sih! Gimana mau jemput coba, aku kan gak tau alamat kamu Miss Kissable. Jangankan nanya alamat, aku bahkan gak kepikiran nanya nomer hp kamu, padahal tadi kan aku sempat megang hp kamu. Huuuh.." desahnya.
Alex terkekeh sendiri, "Tau nggak, kenapa aku sampe nggak kepikiran nanya alamat ataupun no hp kamu? Itu karena aku terlalu fokus sama kamu, aku terlalu fokus sama rasa penasaran aku soal isi hati kamu. Aku nunggu lama buat bisa ngungkapin semua perasaan aku, pas aku udah ungkapin, kamu malah diam. Aku kan jadi bingung, aku jadi nggak bisa mikir apapun selain nebak-nebak perasaan kamu." ocehnya sendiri.
Alex mengdesah nafas panjang sambil tersenyum.
"Oke. Kalo kesabaran aku selama 33 hari bisa berbuah semanis ini.. nggak masalah kalo aku harus nunggu lagi, cuman seminggu juga, aku bakal nunggu kamu Miss Kissable.
Untuk Miss Kissable nya, Alex bisa melakukan apa pun dan dia mau melakukannya. Sekarang dia dibuat menunggu lagi oleh gadis nya itu, no problem!
"I Love You."
Alex mendengus tawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia merasa geli sendiri dengan tingkah konyolnya saat ini.
... ....
... ....
... ....
Sementara di luar gerbang rumah Alex, seorang perempuan berdiri mematung, matanya lurus menatap rumah besar berpagar tinggi di hadapannya, lebih tepatnya ia menatap ke arah lantai dua, dimana kamar Alex berada. Perempuan itu diam, tak bergerak dari posisinya atau pun bersuara. Tapi air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
Perempuan itu menangis, untuk Alex.
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... Bersambung...