
"Aku bantu Kay!" ucap Nia seraya memegang lengan Kayla dan menuntunnya menuju UKS.
Tiba-tiba Adit menghampirinya dengan panik. "Kayla! Kamu gak papa? Maaf Kay, aku-.."
"Gak papa? Sakit tau, Dit!" rengek Kayla.
"Sorry Kay, aku gak sengaja. Aku tadi salah prediksi bola."
"Kayla tersenyum, "Udah lah Dit, gak papa. Aku cuman butuh istirahat."
"Aku bantu ya!" Adit pun memegang lengan Kayla yang satunya dan ikut menuntunnya ke UKS.
Sampai di UKS, Nia dan Adit mendudukkan Kayla di sisi brankar.
"Kenapa?" tanya seorang senior yang bertugas di UKS.
"Kena bola basket Kak" sahut Nia.
Sementara Kayla masih meringis sambil mengusap-usap punggungnya. Adit menatapnya dengan tatapan bersalah. "Maafin aku ya, Kay!" Lirihnya.
Kak Maya yang merupakan petugas UKS meminta Kayla membuka bajunya untuk memeriksa punggung Kayla, dan Adit pun diminta keluar.
"Kak Kayla!" seru seseorang di ambang pintu.
"Eh, Annisa. Sini!" seru Nia.
Ternyata yang datang Annisa, adiknya Adit.
"Nis, kamu?" bingung Adit.
"Kenapa Kak? Aku boleh masuk kan, Kak Adit yang keluar, kan cowok." celetuk Annisa.
Adit memanyunkan bibirnya menatap Annisa seraya berjalan keluar. Annisa menghampiri Kayla dan duduk di sampingnya.
Kak Maya kemudian meminta Kayla untuk tengkurap agar ia bisa mengobati punggung Kayla.
"Kak.." lirih Annisa.
"Annisa?"
"Maaf ya Kak."
"Loh.. maaf kenapa?" bingung Kayla.
"Aku tau, Kak Kayla tadi ngelakuin itu buat Kak Adit kan? Biar Kak Adit gak kena masalah sama Kak Alex."
Kayla menaikkan alisnya seraya tersenyum, tapi senyumnya agak kecut karena ia menahan sakit di punggungnya.
"Kamu tau? lya kamu benar. Aku gak bakal biarin Adit kena masalah sama Alex. Kenapa kamu minta maaf?"
"Aku malu, aku jadi ngerasa bersalah karena selama ini aku salah sangka sama kamu Kak. Soalnya aku kena masalah beberapa kali gara-gara Kak Adit nolongin Kak Kayla. Aku sempat mikir yang enggak-enggak soal kamu Kak. Ternyata kamu sebaik ini, kamu rela kena bola buat ngelindungin Kak Adit, secara gak langsung kamu ngelindungin aku juga."
"Gak papa Annisa, kamu gak perlu ngerasa bersalah. Aku cuman gak mau teman aku kena masalah, aku juga capek liat Alex sama teman-temanya ngebully orang."
"Makasih banget ya, Kak!"
Kayla tersenyum, sedangkan Nia yang hanya mendengarkan sejak tadi nampak bingung.
"Eh? Kayla, maksud kamu... tadi itu kamu ngelindungin Alex, atau ngelindungin Adit?"
"Yang teman aku siapa? Ya Adit lah, ngapain aku peduli sama Alex yang sombong itu."
Sesekali Kayla meringis saat Kak Maya mengoleskan obat pada punggung Kayla. "Sakit banget ya?" tanya Kak Maya.
"Hm, lumayan." sahut Kayla, Annisa jadi merasa tidak enak.
"Jadi maksudnya.. kamu ngelindungin Adit dari Alex, dengan cara ngelindungin Alex dari bolanya Adit, gitu?" ujar Nia beo sambil memahami kata-katanya sendiri.
"Hm." sahut Kayla singkat, Annisa pun mengangguk.
"Owh.." Nia dan Kak Maya ber Oh ria.
"Udah." kata Kak Maya seusai mengobati memar dan merah di punggung Kayla.
"Elu istirahat aja dulu, jangan banyak gerak. Tetap di posisi ini dulu ya sampe obatnya nyerap.
Kayla mengangguk paham. Setelah Kak Maya meletakkan perlengkapan obat-obatannya, Kak Maya kembali ke dekat Kayla.
"Kayla?"
"Iya Kak?"
"Senang bisa ngomong langsung sama lu." ucap Kak Maya seraya duduk di kursi dekat brankar.
Kayla, Nia dan Annisa yang mendengarnya nampak bingung. "Maksudnya Kak?" tanya Kayla.
"Sorry nih.. sejak insiden elu sama Alex minggu lalu, nama lu jadi populer loh. Semua anak di sekolah ini tau. Gue yang gak peduli gosip-gosip aja ikutan kepo. Dan ternyata hari ini gue bisa ngobrol sama lu." katanya kemudian tertawa kecil membuat Kayla, Nia dan Annisa menaikkan alisnya, agak lucu melihat tingkah Kak Maya.
Kayla cengar-cengir, "Emangnya kenapa Kak?"
"Ya penasaran lah sama lu. Mana ada yang berani sama Alex, cuman lu, Kay! Elu dapet keberanian dari mana sih, kok bisa lu nantang dia?" Kayla cengengesan mendengarnya.
"Tadinya gue pikir, abis dicium sama Alex lu bakal kapok. Eh taunya lu malah bikin geger lagi ni sekolah, lu nekat amat laporan ke KepSek?" ujarnya gamblang dan nadanya menggebu-gebu.
Kayla jadi bingung menanggapinya. "Ya.. gimana ya Kak, aku kan korban bullying dia, trus aku juga capek ngeliat dia sama teman-temannya itu ngebully orang mulu. Kesel aja gitu kenapa gak ada yang bertindak?! Mereka makin lama makin keterlaluan, ya aku.. nyoba aja buat hentiin mereka."
"Lu gak takut?"
"Takut kenapa?" tanya Kayla balik.
"Ya.. Alex kan bukan cowok sembarangan. Kok bisa gitu lu berani ngelawan dia, trus setelah insiden itu juga kok kayaknya gak ngaruh ya buat lu?! Elu tetap ngotot nantang dia walaupun lu udah dipermaluin banget gitu?! Kita semua tuh heran loh Kay, elu dapet keberanian dari mana?" lanjut Kak Maya lagi, seolah mengeluarkan uneg-unegnya yang lama ia tahan.
"Kalo cowok brandal dan kurang ajar kayak dia dibiarin, dampaknya makin buruk kan. Nama baik sekolah kita juga bisa tercemar, bukan cuma sekolah sih, banyak juga pihak-pihak yang dirugikan, termasuk Alex sendiri. Semua itu gak bener kan, dan aku pikir aku bisa bertindak." jawab Kayla.
"Aku punya tekad yang kuat kok, aku yakin cepat atau lambat keadaan yang gak bener ini bakalan berubah dan membaik juga."
Kak Maya berdecak kagum. "Lanjutin Kay! Gue dukung, dan gue yakin anak-anak lainnya pasti juga dukung lu! Ya.. walaupun kita gak punya keberanian kayak yang lu punya, seenggaknya kita dukung lu kan."
__ADS_1
"Makasih, Kak." ucap Kayla senang.
"Kita juga dukung kamu Kay, iya kan Nis?"ujar Nia yang diangguki oleh Annisa.
"Makasih..." ucap Kayla gemas.
Nia dan Annisa menemani Kayla sampai bel masuk berbunyi. Setelahnya mereka masuk kelas, dan Kayla beristirahat di UKS. setelah membetulkan bajunya yang sebelumnya terbuka, Kayla berbaring dan mencoba tidur, dan melupakan rasa sakit di punggungnya.
Tidak lama kemudian, Annisa dan Adit datang. Keduanya menyapa Kayla kemudian duduk di kursi samping brankar.
"Kalian gak masuk kelas?" Keduanya menggeleng lemah.
"Eh kenapa, kok muka kalian juga lesu gitu?"
"Bukan cuma kita Kay, kalo kamu baik-baik aja sekarang, kamu pasti juga sama." sahut Adit.
"Maksudnya?"
"Tas kita ilang. Tas aku, Kak Adit, sama tas Kak Kayla juga. Makanya sekarang kita gak diizinin ngikutin pelajaran, ya gimana orang buku-buku pelajaran semuanya di dalem tas kan." sahut Annisa.
"Hah? llang? Maksudnya gimana sih, kok tas kita bisa ilang barengan?"
"Gak tau, kita udah nyari-nyari sih tapi belum ketemu. Daripada capek keliling-keliling nyari tas atau cuman berdiri diluar kelas, mendingan kita disini, nemenin kamu. Punggung kamu gimana Kay, pasti masih sakit ya?" ujar Adit.
"Ekheem..." ledek Annisa cengengesan.
"Apa sih Nis?!" Tegur Adit.
"Kak Adit ngajak aku kesini, modusnya biar gak bosen diluar gara-gara gak ikut kelas, eh taunya mau dekat Kak Kayla." lanjut Annisa.
"Nis!" Tegur Adit lagi, gemas.
Kayla hanya mendengus senyum. "Gimana ceritanya tas kita bisa ilang?
"Feeling aku sih.. ini kerjaannya P-four." ujar Annisa.
"P-four kecuali Alex." sambung Adit.
"Kecuali Alex?" bingung Kayla.
"Kayaknya. Soalnya kata Nia, Alex kemarin bilang kalo gak bakalan ngerjain siapapun sampe dia ketemu sama.. siapa tuh ceweknya, ya pokoknya gitu lah maksudnya. Katanya sih dia bakal ketemuan sama ceweknya malam minggu ini."
Kayla lantas menaikkan alisnya mendengar Adit menyebut ceweknya Alex. Memang benar kemarin Alex bilang begitu, tapi apa omongannya itu bisa dipercaya?
"Masa' sih dia beneran gak mau terlibat dan ikut ngerjain orang? Biasanya kan dia dalangnya, itu kan hobi dia." batin Kayla.
"Kamu yakin Dit, Alex gak ikutan? Kamu percaya dia ngomong gitu?" Tanya Kayla.
Adit mengangguk sambil berpikir, "Kemarin kamu sama Nia dicegat kan sama P-four, trus kamu sempat bikin mereka marah juga kan?"
Kayla mengangguk, "Apa Alex ngelakuin sesuatu?" Kayla menggeleng.
"Sejauh yang aku kenal, Alex gak pernah setenang itu ngehadapin orang yang berani nantang dia. Dia itu anaknya emosian, tapi kemarin.. dia nggak ngelakuin apapun kan. Aku rasa dia mulai berubah, mungkin itu efek perasaannya ke ceweknya itu. Aku salut sih, akhirnya ada yang bisa bikin dia jinak"
"Jinak?" batin Kayla geli.
"Dit, kamu kok bisa mikir gitu sih? Apa hubungannya sama cewek Alex?"
"Kay, kamu pasti juga nyadar deh, kalo dari kemarin tuh Alex keliatan beda. Kebiasaan-kebiasaan buruknya dia kemarin gak terjadi. Dia senyum, gak marah-marah, trus dia ngomongin cewek. Alex tuh anti loh sama cewek, tapi ternyata ada juga cewek yang bikin dia kepincut."
"Apa iya? Ini ada hubungannya sama aku, sama Miss Kissable?" gumam Kayla dalam hati.
"Bagus lah, semoga aja ini awal perubahan." ucap Adit seraya menerawang, membuat Kayla tersenyum samar.
"Kalo ini emang awal perubahan Alex, artinya ini bisa jadi awal perubahan juga di sekolah. Ya, jalan aku udah kebuka, aku bisa manfaatin ini. Cepat atau lambat.. keadaan disini bakalan normal. Gak ada bullying, gak ada ketakutan, semuanya bakalan aman dan damai kayak sekolah-sekolah lain." batin Kayla.
"Kak Kayla? Kok senyum-senyum gitu? tanya Annisa ketika melihat senyuman di bibir Kayla semakin melebar.
Kayla sedikit terkesiap, "Nggak papa. Bagus lah kalo Alex berubah, dia pokok permasalahannya kan, artinya kalo dia udah mulai berubah.. keadaan di sekolah kita juga bakalan berubah kan?!"
Adit dan Annisa mengangguk setuju.
... ....
... ....
... ....
Setelah Kayla merasa baikan, ia bersama Adit dan Annisa mencari tas mereka. Berkeliling menyusuri tiap tempat, ruangan dan sudut sekolah. Di jam istirahat, Nia juga ikut membantu mereka. Dan saat ini, pelajaran terakhir hampir selesai, tapi mereka belum juga menemukan tas yang mereka yakini disembunyikan oleh P-four para pria menyebalkan itu.
"Kemana lagi ya Kak, aku capek nih, perasaan kita udah nyari di semua tempat deh." keluh Annisa.
"Ke belakang sekolah...?" gumam Adit sambil berpikir.
"Ya, aku juga mikir gitu. Mungkin mereka umpetin tas kita disana. Yuk!" ujar Kayla.
"Eh, tunggu!"
"Kenapa Nis?"
"Belakang sekolah maksudnya.. di markas mereka?" Kayla dan Adit mengangguk.
"Tapi Kay, apa kita harus kesana? Kita dapet masalah ini kan gara-gara dateng kesana waktu itu. Masa' kita kesana lagi?" ujar Adit bimbang.
Kayla nampak berpikir. Tiba-tiba Jessica, Luna, dan Erin menghampiri mereka sambil tertawa cekikikan."
"Rasain kalian!" ucap Erin.
"Hmm.. kasian ya gaes... sampe pulang sekolah pun tas nya gak ketemu-ketemu." Ledek Jessica.
"He'eh... makanya jangan main-main!" timpal Luna.
"Menurut gue sih, hukuman segini tuh gak seberapa. Buat orang yang berani masuk ke markas pribadinya P-four, harusnya lebih dari ini. Tapi kalian beruntung hari ini, soalnya Alex mau maafin kalian, dan hukuman ini bukan perintah Alex." ujar Jessica dengan remehnya.
"Heh! Walaupun Alex bisa maafin lu, tapi gue enggak!" lanjutnya sambil bertekan pinggang dan memelototi Kayla.
"Jangan lu pikir bisa bebas dari Jessica, setelah lu bikin gue malu di depan anak-anak. Gara-gara lu gue sampe ngerendahin diri gue depan Alex dan depan anak-anak! Elu pikir gue bisa lupa itu?! Heh!" Bentaknya.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih Jes? Aku bikin kamu malu?" heran Kayla.
"Elu cewek sialan! Murahan! Elu pikir lu bisa ngerebut Alex dari gue setelah Alex nyium elu? Elu pikir lu bisa nyaingin gue? Gak usah sok kecentilan deh lu! Gue udah sabar ya selama ini, lu jadiin gue saksi di depan Pak Rahmat, gue diam. Elu tau, itu makin bikin harga diri gue makin rendah! Sadar gak sih lu?!" bentaknya menggebu-gebu.
"Jes, aku gak bikin kamu malu, gak bikin harga diri kamu rendah, apalagi nyoba rebut Alex dari kamu. No! Kamu malu karena ulah kamu sendiri, dan Alex.. kenapa kamu nyalahin aku kalo dia brengsek? Kamu masih mau sama cowok kayak gitu, yang gak bisa ngehargain kamu, sama ngehina kamu didepan umum?? Sadar Jes..." balas Kayla tegas.
"Elu yang harusnya sadar! Awas aja lu!" Jessica tersenyum smirk sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Gue, udah nunggu berhari-hari sejak insiden itu, dan 3 hari lagi lu bakal rasain akibat.. karena udah berani bikin gue murka!" bentaknya lagi geram, sampai urat-urat lehernya menegang.
"Relaks dulu Jes.. relaks.. Elu cuman perlu sabar beberapa hari lagi aja. Si cupu yang kecentilan dan gede' omong ini pasti dapetin hukuman yang lu siapin matang-matang." ujar Luna menyeringai sambil menenangkan Jessica yang tegang.
Jessica menarik nafasnya dan menghembuskannya kasar. Cukup puas dia mengeluarkan uneg-unegnya pada Kayla dan dia mulai tersenyum bangga. Kayla hanya menatap kesal ke arahnya, kemudian mereka bertiga berlalu dengan angkuhnya setelah membentak Kayla.
"Aku jadi ngeri, mereka ngerencanain apa ya buat Kak Kayla?" gumam Annisa cemas.
"Kay, perasaan aku gak enak. Kamu harus hati-hati." timpal Adit.
"Kalian gak usah khawatir soal itu. Mendingan kita ke belakang yuk, cari tas kita lagi" ajak Kayla, yang disetujui oleh Adit dan Annisa.
"Gaes..!" seru Nia sambil melangkah cepat ke arah mereka bertiga.
"Belum ketemu tas nya?"
"Belum" sahut Adit. Kayla dan Annisa hanya menggeleng lesu.
"Aku bantu lagi ya, ikut kalian nyari." kata Nia sambil tersenyum dan menepuk bahu Kayla, menyemangati.
Mereka bertiga mengangguk seraya membalas senyuman Nia. Kemudian beranjak berjalan menuju belakang sekolah.
... ....
... ....
... ....
Sesampai di belakang sekolah, mereka terperangah melihat pemandangan di depan mereka. Saat ini mereka berdiri kurang lebih 10 meter di depan pohon besar yang merupakan markas pribadi P-four. Dan di sana, mereka melihat empat pria menyebalkan itu sedang duduk bersantai. Tapi bukan itu yang membuat Kayla, Adit, Annisa, dan Nia terperangah, melainkan sesuatu di atas pohon besar itu.
Tas mereka ada di sana! Menyebalkan sekali. Ternyata para pria usil itu menyembunyikan tas Kayla, Adit, dan Annisa di atas pohon besar, di markas mereka.
Bima bertepuk tangan gembira, sedangkan Sandi dan Vicky bersiul semangat.
"Hooo... selamat, kalian berhasil!Congratulation!!" Pekik Bima antusias sambil berdiri. Seolah menyambut kedatangan mereka, dan mengucapkan sambutan bagi pemenang saat naik ke atas panggung.
Adit, Annisa, Kayla dan Nia mendengus nafas panjang seraya saling melirik. Dengan ragu, mereka melangkah maju mendekat kearah para pria usil itu.
"Stop!" cegat Alex, saat jarak mereka tinggal tiga langkah di depan pagar markas.
"Ambil tas kalian, tapi jangan maju dari sana!" ucapnya dingin tanpa ekspresi.
Tentu saja ucapan Alex barusan membuat Adit, Annisa, Kayla dan Nia bingung. Bagaimana mereka bisa mengambil tas yang tersangkut di atas pohon, tanpa menyentuh ataupun mendekati pohonnya sama sekali?!
"Ngaco! Udah deh jangan mempersulit kita lagi, kita udah capek keliling-keliling nyari itu tas. Ambilin! Atau kita kesana yang ambil sendiri" gertak Kayla.
"Ambil sendiri lah!" sahut Vicky kesal.
"Wahh! Tuh mulut ya bener-bener gak ada saringannya. Udah mending kalian kita izinin dateng kesini, minta diambilin segala lagi tasnya." omel Sandi.
"Eh denger ya! Ini hukuman buat kalian, kita yang kasih. Kalo kita bantuin ngambil itu tas, kita ngeringanin hukuman kalian dong. Elu pikir kita bego?!" bentak Bima.
"Mana bisa kita ambil sendiri dari sini, seenggaknya biarin kita kesana." jawab Kayla.
"Bisa lah. Pake otak lu!" sahut Alex datar.
Kayla berdecak kesal. Sementara Adit, Annisa dan Nia sejak tadi hanya diam, tak ada yang berbicara diantara mereka selain Kayla.
"Aku ada ide!" ujar Adit semangat. "Kita cari galah yang panjang dulu, biar bisa ngambil tas nya pake galah."
"Galah? Emang disini ada?" tanya Nia.
"Ya kita coba cari dulu." ujar Adit lagi yang diangguki oleh Nia, Kayla dan Annisa.
Sebelum mereka berbalik dan beranjak, Alex berkata. "Waktu kalian setengah jam lagi. Kalo itu tas belum turun juga, say good bye aja sama tas kalian!"
Suara lengkingan tawa keempat pria menyebalkan itu lantas menggelegar setelah Alex berkata demikian.
Kayla, Adit, Annisa dan Nia berbalik. Sembari berjalan membelakangi mereka Kayla berdehem keras, agar menarik perhatian keempat pria yang sedang menertawakan mereka itu. Dan itu berhasil membuat tertawaan mereka berhenti.
"Dit, kita salah. Liat sendiri kan, Alex gak berubah. Baru aja kemarin dia ngomong kalo gak mau ikut-ikutan ngerjain siapa pun, demi apa? Demi ceweknya." Kayla berdecak remeh.
"Aku kasian deh sama ceweknya itu, dia tau gak ya kalo Alex tuh kelakuannya brandal gini di sekolah." ujar Kayla lagi, sengaja mengeraskan suaranya agar Alex mendengarnya.
"Kak Kayla.." cicit Annisa cemas menegur Kayla.
Kklangg!!
Tiba-tiba terdengar suara melengking seperti besi yang baru saja jatuh atau dilempar ke batu atau semen, membuat mereka semua kaget dan reflek menoleh ke belakang, ke asal suara.
Ternyata Alex sudah berdiri dengan menatap lurus ke arah Kayla, ia mulai melangkah kasar menuju mereka.
"Gawat!" cicit Nia takut.
"Kay, ayo pergi!" Adit menarik tangan Kayla, tapi Kayla menolaknya.
"Kak Kayla, jangan nekat dong." bujuk Annisa.
"Aku akan hadapin dia." gumam Kayla singkat, membuat Adit, Annisa dan Nia hanya bisa mendesah frustasi.
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1
*Hohohoo.. ada yang bisa tebak gak.. Alex bakal ngapain? 😬