
Setelah selesai mendirikan tenda mereka, Alex, Bima, Sandi, dan Vicky mengeluarkan barang-barang mereka dari Jeep dan memindahkannya ke tenda. Barang-barang yang mereka bawa lebih banyak dari barang bawaan siswa lainnya karena itulah mereka memilih berangkat menggunakan mobil sendiri. Dan tentunya juga karena mereka ingin lebih relaks dan santai saat dalam perjalanan, tidak berisik seperti berkumpul di dalam satu bus.
Bima, Sandi, dan Vicky memilih langsung beristirahat setelah membenahi barang-barang mereka. Tapi Alex tidak, ia mengeluarkan semua alat lukisnya dan hendak beranjak membawanya.
"AI, mau kemana?" tanya Sandi.
"Ngelukis lah."
"Sekarang banget? Gak capek apa lu?" tanya Sandi lagi.
"lya Al, istirahat dulu lah! Ngelukis mah bisa nanti." Bima nimbrung.
"Tangan gue udah gatel, kalian istirahat aja, gue cabut ya!"
"Tapi kemana?" tanya Vicky juga.
"Kemana aja, yang paling enak dan cocok buat gue. Gak bakal jauh-jauh kok dari sini" jawab Alex kemudian berbalik.
"Hati-hati lu!" ucap Bima agak memekik karena Alex sudah berjalan menjauh.
"Pasti!" sahut Alex seraya menoleh sekilas.
Alex berhenti di dekat sebuah pohon besar nan lebat. la meletakkan bangku, penyangga kanvas dan alat-alat lainnya di sana. la rasa tempat itu cocok untuknya melukis dengan tenang. Di bawah pohon teduh, tidak jauh di depannya hanya ada rerumputan rendah yang membuatnya bisa menangkap pemandangan danau dari tempatnya duduk. Tidak terlalu dekat dan tidak juga terlalu jauh, sekitar lima puluh sampai enam puluh meter jarak Alex dengan danau di depan sana.
la menempelkan kanvas pada papan penyangganya, dan membuka satu-persatu botol cat lukisnya. Bersiap untuk menuangkan imajinasinya pada kanvas yang masih bersih itu.
Jika Alex sudah berkutat dengan hobinya ini, waktu seharian akan cepat berlalu. Seperti saat ini, setelah menyelesaikan satu lukisan, ia tertarik melihat potongan kayu yang berserakan di dekat sebuah pohon. Tangan terampilnya pun tak tinggal diam. la mengeluarkan pisau kecil dari saku celananya, yang selalu ia bawa kemana-mana. Alex mulai mengukir di atas kayu itu.
Saat badannya merasa pegal dan tangannya mulai kebas, ia pun menghentikan aktivitasnya untuk beristirahat sebentar. Alex masih betah disini bersama alat lukis dan pisau ukirnya. Jadi ia tidak langsung pulang ke camp ground. la hanya duduk di bawah pohon sambil memakan sepotong sandwich dan minum sebotol minuman yang ia bawa sebagai bekal. Setelahnya ia melanjutkan aktivitasnya lagi.
Damai rasanya, menyibukkan diri dengan mengukir di atas kayu, di tempat terbuka dan sepi seperti ini. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ketika ia mengukir di pohon markas mereka di sekolah, hanya saja di tengah hutan seperti ini suasananya lebih sepi dan udaranya lebih sejuk.
Tiba-tiba saja, terdengar suara berisik dari beberapa orang. Alex menoleh ke asal suara, ternyata itu beberapa orang siswi yang tengah membawa ranting-ranting kayu ditangan mereka. Mungkin mereka mencari kayu untuk api unggun, pikir Alex.
"Miss Kissable" gumam Alex saat maniknya menangkap sosok gadis yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya.
Kayla bersama teman gendutnya dan seorang temannya lagi tengah berjalan sambil berbincang-bincang. Alex menoleh ke arahnya saat ia mendengar suara tawa lepas dari Kayla. Alex tersenyum tipis melihatnya. Alex jadi ingin melakukan sesuatu untuk gadis itu, berhubung saat ini ia sedang berkutat dengan hobinya
Seiring dengan itu, suara-suara berisik lainnya juga terdengar tidak jauh dari pos Alex, apa hari sudah sesore ini sampai banyak siswa dan siswi yang nampak sibuk mencari kayu-kayu kering?
Alex berniat menyudahi aktivitas melukis dan mengukirnya untuk hari ini. la berdiri menilik satu-persatu hasil karyanya, sebuah lukisan gunung dan pepohonan, sebuah lukisan danau, tiga macam ukiran yang beragam di tiga buah kayu, dari kayu yang terkecil seukuran cup es krim, sampai kayu yang terbesar seukuran sebuah nampan persegi.
"Oke, buat besok gue mau eksplor ke air terjun." gumamnya seraya mulai membereskan barang-barangnya.
Ketika semua barangnya sudah beres, Alex membawanya dan beranjak dari sana. Tiba-tiba terdengar suara berisik lagi setelah cukup lama hening. Alex pikir tidak ada lagi siswa atau siswi yang masih berkeliaran ditengah hutan, di hari sesore ini. Dan suara berisik mereka sudah tidak terdengar sejak setengah jam yang lalu setelah mereka pulang dari mencari kayu. Tapi ternyata sekarang ada suara berisik lagi, yang Alex yakini adalah suara dari beberapa siswi di sekolahnya.
Tidak lama setelahnya, Alex melihat dua orang siswi berlari, jaraknya cukup jauh dari Alex sehingga mereka ataupun Alex tidak melihat satu sama lain. Dari gelagatnya mereka nampak panik dan mereka terus berteriak,
"Tolong..! Tolong..!"
"Siapa pun tolong..."
Alex memutar bola matanya malas, ilfil sekali melihat gadis berlari gontai seperti itu dengan teriakan sepelan itu. Siapa yang bisa mendengar suara mereka jika mereka berteriak dengan suara serendah itu?
Alex mengabaikan dua orang siswi yang berteriak minta tolong itu, dan ia meneruskan perjalanannya pulang ke tenda. Lagipula kenapa mereka berteriak minta tolong, bukankah tadi mereka terlihat happy-happy saja dengan membawa kayu bersama dan berbincang-bincang?
Eh tunggu, bukankah tadi ada tiga orang siswi yang Alex lihat? lya, dua orang siswi yang berlari dan berteriak minta tolong itu adalah dua teman Kayla, Nia si gendut dan seorang lagi yang Alex tidak tahu namanya. Tapi, kemana Kayla, kenapa mereka hanya berdua?
Alex membulatkan matanya seraya mendesah dan menutup mulutnya, saat tiba-tiba ia terpikir sesuatu. la reflek menoleh ke belakang dan memandang ke sembarang arah. Anggap saja ia berpikiran buruk, tapi sekarang ia tidak bisa tenang. Jika dua teman Kayla berteriak minta tolong, mungkin saja itu berarti terjadi sesuatu pada teman mereka kan? Apa terjadi sesuatu pada Kayla? Kenapa dia tidak ikut berlari dan berteriak bersama kedua temannya?
Alex melepaskan semua barang-barang yang ia bawa dan mencampakkannya begitu saja di tanah. Dan ia segera berlari ke arah dimana kedua teman Kayla tadi berasal, sedangkan kedua teman Kayla sudah berlari menjauh dari tempatnya semula, ke arah yang berlawanan dengan Alex.
Semakin Alex menjelajah, ia semakin mendengar dengan jelas suara jeritan tak beraturan dari seseorang. Alex semakin kalang kabut ketika mengenali suara itu, "Miss Kissable?" gumamnya panik.
Dan ia terus berlari ke arah suara jeritan itu berasal. Sampai matanya menangkap sosok yang ia cari, Alex syok melihatnya. Seorang gadis tengah berjuang sendirian di tengah danau yang hampir menenggelamkannya. Kepalanya hanya bisa terlihat setengah di permukaan air, kedua tangannya terus terangkat dan melambai, suaranya parau dan lirih, hampir hilang ditenggelamkan air.
"Miss Kissable?!" gumamnya panik.
Dengan langkah menggebu, Alex bergegas menyambanginya. Tanpa pikir panjang ia langsung menceburkan dirinya ke danau, untuk menyelamatkan gadis yang kepalanya sudah tidak terlihat itu, dan tangannya pun hampir tenggelam seluruhnya.
Alex berhasil meraihnya, lalu menggendongnya dan membawanya ke tepi danau. Kayla masih sadar, ia terbatuk-batuk dan memuntahkan air dari mulutnya. Alex memiringkan tubuh Kayla agar ia bisa mengeluarkan air yang sempat tertelan saat ia tenggelam, dan Alex mengelus punggungnya. Setelahnya Alex membaringkan Kayla di pangkuannya.
Alex mendesah nafas ngos-ngosan, ia sangat panik sebelumnya. Sekarang ia sudah merasa lega, ia memeluk tubuh lemas Kayla dengan erat.
"Hhh.. hhh.. Alhamdulillah... kamu gak papa." Gumamnya lirih dan bergetar.
Setelahnya Alex menyentuh wajah Kayla yang dingin dan pucat, Kayla tidak membuka matanya sejak tadi tapi ia masih siuman. Alex memandanginya dengan lirih, hatinya sakit, dadanya berdenyut ngilu saat melihat kondisi Miss Kissable nya seperti ini, juga saat Alex melihat dengan jelas bekas jahitan di kening Kayla. Tanpa ia minta, sebutir kristal bening lolos dari matanya dan mengalir membasahi pipinya.
Kayla tidak merespon Alex karena saking lemasnya, kepalanya berdenyut berat, ia hanya membuka matanya sebentar untuk melihat siapa orang yang telah menyelamatkannya. Tapi penglihatannya buram, entah dimana kacamatanya terlepas, Kayla tidak bisa melihat apapun dengan jelas. Kepalanya semakin pusing saat ia mencoba menatap siapa orang yang tengah merengkuhnya ini, ia pun akhirnya menutup matanya kembali.
"Mr Strawberry, apa ini kamu?" gumam Kayla pelan hampir tak bersuara.
Alex sedikit terkesiap mendengarnya, tidak lama setelah itu terdengar suara gaduh dari arah belakang. Alex menoleh, nampaknya banyak orang yang sedang berjalan menuju ke arah danau.
Alex melepaskan Kayla dan meletakkannya di tanah rerumputan tepi danau, lalu meninggalkannya. Alex tidak ingin ada yang melihat kalau dia lah yang menyelamatkan Kayla.
"Kayla.. Kayla..!"
Segerombolan orang berlari ke arah danau dan mereka dibuat bingung sekaligus terkejut melihat Kayla yang terbaring lemas di tepi danau.
Nia dan Anggita bilang Kayla jatuh ke sungai dan dia tidak bisa berenang, mereka mencemaskan jika Kayla sampai tenggelam. Tapi yang mereka lihat, Kayla sudah berada di tepian, dan ia terbaring lemas.
"Kayla, kamu gak papa?" Pak Bayu yang lebih dulu menghampirinya dengan panik.
Dan beberapa orang berjongkok di dekat Kayla mengikuti Pak Bayu.
"Kay, syukurlah kamu selamat!" ujar Anggita seraya menghapus air matanya.
"Ya Tuhan Kay.." kata Nia seraya mengusap kepala Kayla.
Bima, Sandi, dan Vicky yang penasaran pun ikut melihat Kayla juga. "Ah, gak penting amat! Pura-pura tenggelam kali tuh." gumam Vicky malas.
__ADS_1
"Hobi banget ya nih cewek cari perhatian?!" ujar Sandi.
"He'eh, bikin riweh aja! Buang-buang waktu nyusulin, mana udah mau gelap lagi nih hari" timpal Bima.
Jessica pun ikut masuk dalam kerumunan. Padahal ia tidak peduli sama sekali dengan berita buruk yang dibawa Nia dan Anggita beberapa menit yang lalu, tapi karena semua orang meninggalkan camp ground untuk melihat keadaan Kayla, akhirnya Jessica pun mau tak mau ikut juga.
"Huh, katanya tenggelam gak bisa berenang, kok udah rebahan disini aja? Jangan-jangan kita dikibulin." cibir Jessica.
"Huuuh..." beberapa orang menyoraki.
"Hussh diam! Kalian ini ya, temannya kena musibah kok diejek?" tegur Bu Weni.
"Siapa yang bawa Kayla ke tepian? Kalo dia gak bisa berenang pasti ada yang udah nolongin dia kan?" Bu Fitri penasaran, mewakili rasa penasaran guru dan siswa lainnya juga.
"Siapa yang nolongin kamu Kay?" tanya salah satu siswi.
Kayla hanya menilik satu-persatu dari mereka sekedarnya, karena ia tidak bisa melihat dengan baik, juga kepalanya pusing jika ia membuka mata dan memaksakan untuk melihat. Kayla sudah mulai merasa agak baikan, ia pun mencoba untuk bangun, dibantu oleh Nia dan Bu Weni.
"Mr Strawberry..." lirihnya pelan.
"Siapa? Mr Strawberry?" ulang Adit yang berjongkok dekat kepala Kayla.
"Mr Strawberry?" ulang mereka serentak dengan bermonolog.
"Siapa tuh?" Beberapa orang siswa saling berdebat dan mulai berisik.
"Udah udah, mendingan kita bawa Kayla ke tenda sekarang! Kasian dia kedinginan sama lemes juga" ujar Pak Bayu melerai.
Akhirnya mereka membawa Kayla pulang ke lokasi camping mereka. Bu Weni dan Bu Fitri yang merangkul Kayla.
... ....
... ....
... ....
Kayla sudah baikan sekarang. Setelah makan malam bersama, mereka mengadakan kegiatan wajib saat camping, yaitu acara api unggun. Untuk memeriahkan malam camping ini, mereka juga mengadakan games seru. Seperti tanya jawab atau tebak-tebakan, dari soal pelajaran sampai soal yang umum dan random. Ada juga semacam tantangan yang diberikan guru pada murid, juga sebaliknya murid yang memberikan tantangan pada guru.
Ada yang menunjukkan bakat mereka, seperti menyanyi, melawak, membaca puisi, adu panco, silat dan lain-lain.
"Siapa lagi yang mau nantang siapa?" seru Pak Bayu setelah ia menyelesaikan tantangan yang diberikan murid-muridnya, yaitu adu silat dengan Pak Sugi.
Heboh sekali tentunya para murid melihat guru olahraga muda itu beradu silat dengan Pak Sugi yang merupakan guru killer di sekolah mereka.
"Saya, Pak!" sahut Kayla, membuat semua mata tertuju padanya.
Entah kenapa Pak Bayu merasa deg-degan saat Kayla berdiri dan mengangkat tangannya seraya menampilkan senyuman manisnya.
"Apa tantangannya? Trus siapa yang mau lu tantang?" tanya salah satu siswa.
Alex pun menilik ke arah Kayla, ada sedikit rasa was-was dibenaknya, jangan sampai Kayla memberikan tantangan padanya, apalagi tantangan yang aneh-aneh, pikirnya.
"Kasih tantangannya yang beneran nantang ya Kay! Biar Adit mati kutu!" celetuk Nia.
Kayla tersenyum seraya memberi kode pada Nia dengan menyatukan ujung jari telunjuknya dengan jempolnya, membentuk huruf O yang berati Ok
"Aku mau nantang Adit... baca puisi!" Adit gelagapan dan menatap merajuk ke arah Kayla.
"Yuhuuu.... Adit! Adit!" sorak teman-temannya.
"Tapi aku gak bisa baca puisi!" jawab Adit.
"Kan tantangan Dit, bisa gak bisa harus dilakuin dong..!" ujar teman satu tim basket Adit.
Adit bingung, bagaimana ia memenuhi tantangan ini? Ada-ada saja Kayla, kenapa harus membaca puisi sih, itu kan bukan keahlian Adit. Tiba-tiba seseorang mencolek bahu Adit, membuatnya terkesiap dan menoleh.
"Nis?"
Annisa mendekat dan berbisik di telinga Adit, "Ini kesempatan kamu Kak, ungkapin perasaan Kak Adit!"
Adit membulatkan matanya, "Apaan Nis? Kamu jangan aneh-aneh ah!"
"Ungkapin perasaan kamu lewat puisi!"
"Kamu kan tau Kakak gak bisa baca puisi, apalagi ngarang, ngomong langsung lagi."
"Bisa Kak! Ungkapin aja apa isi hati kamu, selesain tantangannya!"
Annisa menaikkan alisnya dan mengangguk. Adit sempat berpikir sebelum mengangguk juga.
"Bravo Kak!" ujar Annisa sebelum berlalu dan kembali ke tempat duduknya.
Adit mengedarkan pandangannya ke semua orang, teman-temannya yang bersorak, dan juga ke arah Kayla yang tersenyum padanya. Adit menarik nafas panjang dan menghelanya sebelum ia berdiri.
"Oke, semuanya! Kalian pasti tau puisi bukan keahlian aku, aku juga gak pandai berkata-kata, tapi demi tantangan ini.. kalian dengerin aja lah ya ocehan aku!"
Teman-temanya tertawa kecil seraya menyemangati Adit. Adit menutup matanya sejenak sambil mengatur debar jantungnya agar tidak terlalu gugup. Kemudian ia membukanya perlahan dan memfokuskan tatapannya pada Kayla.
"*Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada*"
Sempat hening sesaat setelah Adit menyelesaikan puisi singkatnya, kemudian tepuk tangan riuh menggema. Sementara Adit masih tak mengalihkan tatapannya pada Kayla, dan Kayla merasa tersentuh dengan kalimat-kalimat sederhana yang Adit ucapkan. Alex merasa kesal melihatnya, kenapa Adit menatap Kayla saat ia membaca puisinya yang berisi tentang cinta itu? Selain Alex, Pak Bayu yang menyimpulkan bahwa itu adalah isi hati Adit pun merasa cemburu.
"Oke, tantangan selanjutnya?" seru Pak Bayu setelah tepuk tangan dan sorakan untuk Adit berakhir.
"Saya Pak!" Doni berdiri, membuat teman-temannya bersorak lebih riuh.
"Saya mau kasih tantangan sama... Alex!"
Semua orang nampak terkesiap karena Doni berani memberi tantangan pada Alex, meski tau itu bisa saja beresiko. Tapi banyak para siswi yang bersorak kegirangan.
__ADS_1
"Sorry nih Al, bukannya gue berani ya, tapi ini sebenarnya request'an cewek-cewek ini!" Doni menunjuk para siswi yang tadi bersorak kegirangan. "Fans-fans elu nih! Karena gak ada yang punya nyali buat ngomong, jadi gue ngewakilin." ujar Doni.
"Elu yang ngewakilin, elu cewek Don? Gue pikir cowok!" lakar Bima, yang disambut tertawaan oleh teman-temannya.
"Kalo gue cewek, nama gue Dona bukan Doni! Trus kalo gue cewek udah gue pacarine lu Bim!" sahut Doni, yang tentu saja membuat teman-temannya tertawa dan bersorak.
"Hoeek..." Bima menunjukkan ekspresi pura-pura mual.
"Apa tantangannya?" tanya Alex datar.
"Elu harus nyanyi, lagu cinta!"
Alex menaikkan alisnya. Astaga.. ini benar-benar tantangan. Mata Alex langsung tertuju pada Kayla. Bima, Sandi, dan Vicky melirik Alex. Jika Alex tidak sedang jatuh cinta, mungkin saat ini mereka bertiga sudah menolak mentah-mentah tantangannya.
Alex tersenyum miring, dan meminta gitar pada Bima. Bima memang sengaja membawa gitar untuk hiburan saat camping, dan Bima juga sudah menyanyikan sebuah lagu tadi di awal acara.
"Serius Al? Kita aja gak pernah denger lu nyanyi loh, trus gitar.. emang lu tau cara pakenya?" ujar Bima berbisik.
"Jangan ngeremehin gue!"
Alex membetulkan posisi duduknya dan menata letak gitar dipangkuannya. Ia bersiap untuk menyanyi, yang ia dedikasikan untuk Miss Kissable. Tapi ia tak mengatakan apapun selain menatap Kayla sembari mulai memetik gitarnya.
"*Kau tau sejak pertama bertemu
Terbayang senyum indah di matamu
Kau berikan tatapan cinta untukku
Jatuh cinta, ku jatuh cinta
Rindu terasa mengancam dadaku
Saat kau selalu hadir di mimpiku
Hati jiwaku selalu memanggilmu kasihku
Ku cinta kau, ku cinta kau
Hanya kamu di hatiku
Takkan pernah kan terganti
Sampai kau jadi milikku
Sampai kau jadi milikku
Kaulah cinta sejatiku
Rindu terasa mengancam dadaku
Saat kau selalu hadir di mimpiku
Hati jiwaku selalu memanggilmu
Oh kasihku
Ku cinta kau, ku cinta kau
Hanya kamu di hatiku
Takkan pernah kan terganti
Sampai kau jadi milikku
Sampai kau jadi milikku
Kaulah cinta sejatiku
Hal itu mungkin takkan mudah
Tapi ku takkan menyerah
Karena jiwa ini, raga ini memanggil namamu
Kau tau sejak pertama bertemu
Ku jatuh cinta
Sampai kau jadi milikku
Kaulah cinta sejatiku
Sampai kau jadi miliku
Kaulah cinta sejatiku*"
***Degg
Degg***
Kayla terpaku mendengarnya. Meski jarak antara tempat duduk Alex dan Kayla cukup jauh, tapi tidak ada yang menghalangi mata mereka untuk saling menatap dalam.
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1