
Setelah mengelak dan berdalih dari kecurigaan Jesscia dan mendapat pembelaan dari Adit, akhirnya Jessica berlalu dari hadapan Kayla. Selama hanya Jessica atau kedua temannya, menurut Kayla itu bukan masalah besar, Kayla bisa menghadapinya dengan cukup tenang dan santai.
"Begitu?"
"Jadi selama satu setengah jam kamu ngeladenin mereka, yang kamu bilang main basket itu?!" Nia dan Adit terperangah mendengar penguraian Kayla tentang main basketnya.
"Mereka emang sukanya kaya' gitu ya?" tanya Kayla. "Apa mereka juga pernah ngerjain kalian?"
Nia mengangguk. "Ya pernah lah.. Dulu waktu kita pertama masuk ke sekolah ini, semua anak baru kelas sepuluh dapet sambutan dari mereka."
"Sambutan?!" cibir Kayla.
Bukankah sambutan adalah tanda penghormatan atau pujian yang menyenangkan bagi orang yang disambut? Sambutan biasanya diberikan oleh tuan rumah pada tamu atau undangannya.
Tapi, sambutan macam apa yang diberikan oleh Alex si penguasa sekolah ini pada orang baru yang datang ke sekolahnya.
"Semuanya mereka kasih sambutan kok Kay, bahkan guru baru dan guru-guru magang yang baru ngajar disini juga." Adit menambahkan.
"Guru juga??" Kayla terperangah tak percaya.
Nia dan Adit mengedikkan bahunya. "Ya gitu deh." sahut Adit.
"Mereka ngerjain guru juga?" ulang Kayla seraya menggeleng-geleng tak habis pikir.
"Jadi mereka gak pandang bulu ya, siapa aja mereka kerjain. Seharusnya orang kayak Alex itu jadi teladan kan, secara semua orang tau dia anak pemilik sekolah yang berkuasa-.."
"Dan bebas" sambung Adit. "Iya, justru karena dia anak pemilik sekolah dia ngerasa bebas ngelakuin apa pun, tanpa ada yang berani ngehalangin dia."
"Salah! Dia ngasih pamor buruk buat sekolahnya sendiri dan orang tuannya juga. Harusnya dia tau kalo dia jadi sorotan, dan harusnya dia bersikap baik buat ngejaga nama baik sekolah dan orang tuanya." Kayla berasumsi.
"Masalah kaya' gini gak sampai keluar kok Kay, cuman orang sekolah yang tau. Guru-guru juga gak ada yang ngadu ke papanya Alex." sahut Nia.
Kayla mendenguskan nafas. "Guru-guru juga takut?" Nia dan Adit tersenyum kecut mendengarnya.
"Gak gitu.. mereka cuman ngejaga posisi mereka kok. Karena kalo pun ada guru ngadu ke papanya Alex, bukan Alex yang kena masalah tapi guru itu, dan itu membahayakan posisi mereka di sekolah ini." jelas Adit.
Yasudah lah, Kayla bisa apa kalau guru-guru pun lebih memilih menjaga nama baik mereka dibandingkan mengusik Alex meski untuk kebaikan Alex sendiri.
"By the way.. kamu pernah di apain sama mereka?" tanya Kayla pada Nia.
"Mereka pernah ngunciin aku di toilet, numpahin air ke lantai sampai aku kepeleset, dan masukin kecoa di baju aku." jawab Nia sambil mengingat-ingat. "Cuman itu sih"
"Cuman itu gimana? Emangnya mereka gak akan ngerjain kamu lagi?" tanya Kayla.
"Gak akan, selama aku disini mereka cuman ngerjain aku kayak gitu. Mereka kan punya banyak target yang harus mereka usilin, jadi mereka pasti lupain aku lah.. aku juga gak ngelawan mereka kok." sahut Nia enteng. "Ya mungkin selama aku juga gak ikut campur urusan kamu sama mereka sekarang." tambah Nia sambil nyengir, membuat Kayla memanyunkan bibirnya.
"Kalo kamu, Dit?"
"Aku pernah sekali dikerjain sama mereka, waktu itu mereka ngumpetin sepatuku sampai berhari-hari baru ketemu, ternyata ada di atap." kata Adit seraya mengisyarat dengan matanya ke arah atap gedung sekolah.
"Sekali itu aja?" tanya Kayla lagi.
"Iya sih, tapi adik aku sering."
"Adik kamu?"
"Iya, aku punya adik di kelas XA, cewek namanya Annisa"
"Mereka emang lebih suka gangguin cewek dari pada cowok." timpal Nia.
"Maksudnya?"
"Rata-rata sih murid cowok cuman dikasih sambutan sama mereka satu kali, maksimal tiga kali. Beda kalo murid cewek" ucapan Adit membuat Kayla mengerutkan dahinya bingung.
"Loh, emangnya murid cewek kenapa?"
"Kalo murid cewek bukan cuman dikasih sambutan, tapi mereka bisa ngerjain murid cewek semau mereka."
__ADS_1
"Kenapa begitu?"
"Kata anak-anak sih.. karena Alex itu benci cewek, jadi dia lebih suka gangguin dan nakut-nakutin cewek. Mereka suka bikin malu cewek, suka liat cewek nangis dan gak berdaya." jawaban Adit ini membuat Kayla geram sampai mengepalkan tangannya kuat.
"Keterlauan!" gumamnya.
"Masalah mereka apa emang sama cewek?!" Kayla emosi dibuatnya. "Mereka gak suka cewek?" tanya Kayla menyelidik.
Nia menggeleng. "Cuman Alex, yang lain mah manut-manut aja sama Alex. Kalo Vicky sama Sandi punya pacar kok, Bima katanya juga udah punya."
"Jadi masalahnya ada di Alex? karena dia gak suka cewek, dan teman-temannya ikutan suka gangguin cewek." Kayla mulai menyimpulkan.
"Eh tunggu, apa maksudnya Alex itu...Gay?" bisik Kayla, membuat Adit dan Nia tersentak mendengarnya.
Nia menggeleng cepat. "Enggak Kay, kamu hati-hati kalo ngomong." cicit Nia sambil mengederkan pandangan ke sekelilingnya, takut ada yang mendengar perkataan Kayla barusan.
"Kita gak tau alasannya, tapi dari yang selama ini kita liat.. dia emang gak suka dideketin cewek dan lebih suka bikin mereka dipermaluin." Adit menimpali.
"Mungkin dia pernah punya masalah sama cewek yang bikin dia benci sama cewek dan betah ngejomblo." Adit berasumsi.
"Kayak kamu, gitu?" ledek Nia.
"Eh, kok aku?" sewot Adit.
"Iya, kamu kan pernah ditolak cewek makanya sekarang kamu betah ngejomblo.." lanjut Nia sambil tertawa, membuat Kayla menaikkan alisnya dan ikut tertawa.
"Sorry Dit, aku jadi ikutan ketawa.. aku gak bermaksud ngetawain kamu kok, tapi Nia nih yang cara ketawanya bikin geli." ujar Kayla menahan tawanya.
"Udah lah.. masa lalu juga" sahut Adit santai.
... _______________...
Setelah memasukkan mobilnya ke garasi, Alex beringsut menuju teras rumahnya. Disana ada papanya yang sedang berdiri sambil merapikan dasinya. Seperti biasa papa Alex mengenakan setelan jas elegannya, tapi yang membuat Alex penasaran adalah.. "Tumben papa jam segini ada di rumah." gumamnya dalam hati.
Di depan papa Alex, sebuah mobil sudah siap mengantarnya kemana pun ia pergi, dan di masing-masing sisi mobil sudah berdiri siaga empat orang pria berpakaian serba hitam sebagai bodyguardnya. Seorang asisten rumah tangga menutup pintu bagasi mobil setelah selesai memasukkan barang-barang keperluan tuannya yang akan segera berangkat.
"Pa!" sapa Alex seraya meraih punggung tangan papanya untuk kemudian ia cium.
"Mendadak Pa?"
"Iya, ada masalah yang urgen. Jadi papa harus kesana sekarang"
Alex mengangguk paham. Papanya Alex, Elfattar Smith William itu seorang Bussinesman yang ternama dan mendunia. Ia memiliki banyak jaringan dan badan perusahaan, juga pabrik di luar maupun dalam negeri.
Di Jakarta saja ada tiga buah perusahaan yang sukses beroperasi atas namanya. Empat buah pabrik, sembilan restoran, dua unit sekolahan elit, beberapa panti asuhan, dan juga komplek perumahan yang tidak kurang dari 500 unit rumah.
Belum lagi lahan-lahan bisnisnya yang tersebar di beberapa kota di hampir setiap provinsi yang ada di Indonesia. Di luar negeri seperti Singapore, Jerman, dan Hungaria juga ada. Pusatnya bertempat kota kelahirannya di New York, Amerika Serikat. Namun sekarang departemen utamanya bertitik di Jakarta, karena ia menetap disana.
Meskipun sekarang sudah terdaftar sebagai WNI , Papa Alex berasal dari Amerika. Ia lahir disana dan menghabiskan setengah masa kecilnya disana, sebelum pindah ke Indonesia saat usianya 10 tahun. Perusahaan besar di New York adalah warisan sang ayah -kakeknya Alex- yang dikelola olehnya sekarang.
Papa Alex pindah ke Indonesia karena perpisahan kedua orang tuanya, dan ikut bersama sang ibu menetap di kota kelahiran sang ibu, di Jakarta.
Hal yang selalu mengganggu dan membayangi papa Alex ketika melihat putra semata wayangnya itu adalah 'apa yang dialami olehnya semasa kecil, dialami juga oleh putranya'.
Papa dan Mama Alex bercerai saat Alex berusia 12 tahun.
Bedanya, penyebab perceraian kedua orang tua Alex berbeda dengan yang di alami mendiang kakek dan neneknya dulu. Dan Alex memilih tinggal bersama papanya, bukan mamanya.
Penyebab percaraian kedua orang tuanya itulah yang mengubah karakter dan kepribadian seorang Alexander Smith William.
Sebelumnya Alex adalah anak yang sopan, ceria, penurut dan penuh kasih sayang. Kehidupan bahagia yang Alex rasakan bersama kedua orang tuanya mulai lenyap sejak 4 tahun sebelum papa dan mamanya bercerai.
Saat itu, usia Alex 8 tahun. Mamanya mulai berubah, perhatian dan kasih sayangnya mulai berkurang Alex rasakan. Mama juga jadi sering marah-marah tak jelas, bahkan hanya gara-gara hal sepele. Bertengkar dengan papa, sampai pernah tak pulang ke rumah selama berhari-hari, bahkan berbulan-bulan.
Dalam kurun waktu 4 tahun itu keluarga Alex menjadi berantakan, yang penyebabnya saat itu Alex belum mengerti. Sampai pada akhirnya, papa dan mamanya memutuskan bercerai.
Setidaknya, selama 4 tahun hubungan papa dan mamanya memburuk itu, Alex masih punya Oma -ibu dari papanya- yang sangat mencintainya, yang selalu mendampingi dan menghibur Alex dikala Alex bersedih. Ketika anak dan menantunya memutuskan bercerai Oma tidak bisa menerima itu, Oma sampai sakit-sakitan melihat rumah tangga mereka hancur. Lebih buruknya, setelah Oma tahu penyebab hancurnya rumah tangga mereka, sakit Oma semakin parah dan akhirnya meninggal beberapa hari kemudian.
__ADS_1
Alex kecil merasa hancur, ia kehilangan mama dan papanya yang dulu, ia kehilangan Oma yang sangat ia cintai, ia kehilangan semua kebahagiaan dan kasih sayang yang sebelumnya menghiasi hari-harinya.
Alex semakin hancur ketika mengetahui fakta yang menyebabkan perceraian kedua orang tuanya sekaligus juga yang menyebabkan Omanya meninggal.
Ujian berat yang menimpa Alex dan papanya ketika itu, ketika kehilangan ibu dan omanya untuk selamanya, dan kehilangan istri dan mamanya yang telah berkhianat, membuat keduanya terpuruk.
Pernikahan kedua orang tua Alex dulu memang karena perjodohan. Meski demikian, Elfatt -papa Alex- sangat mencintai istrinya -Vanessa-, kehidupan rumah tangga mereka bahagia.
Sampai suatu hari Elfatt memergoki istrinya sedang bersama pria lain. Awalnya Elfatt biasa saja menanggapinya, ia percaya pada istrinya dan tak menaruh curiga, mengingat profesi Vanessa sebagai seorang model, juga memiliki studio foto. Mungkin pria itu rekan kerjanya atau kleinnya, pikir Elfatt.
Lama kelamaan, Elfatt menyadari bahwa Vanessa dan pria itu sering bersama dan mereka terlihat mesra di beberapa kesempatan. Sebuah rahasia besar akhirnya terungkap, membuat jantung Elfatt bagai ditikam sembilu, hatinya hancur berkeping-keping.
Ternyata istrinya yang sangat ia cintai itu bukan hanya berselingkuh, Vanessa dan pria itu saling mencintai sejak lama, bahkan sebelum ia dan Vanessa menikah. Istrinya diam-diam menjalin hubungan dengan pria itu di belakangnya, selama ini. Bahkan, ketika rahasia hubungan gelap mereka terbongkar di depan Elfatt, Vanessa tengah mengandung benih dari pria yang dicintainya itu.
Sungguh, Elfatt merasa sangat hancur, ia merasa bahwa dirinya adalah pria terbodoh di dunia, harga dirinya dihina sebagai laki-laki dan seorang suami.
Kenapa Vanessa mau menikah dengannya jika ia mencintai pria lain? Kenapa Vanessa membuatnya bahagia selama ini jika ia sebenarnya tidak bahagia? Kenapa dia masih berhubungan dengan pria lain setelah memiliki suami dan anak? Kenapa ia tega menipu suaminya sendiri? Kenapa??
Meski tahu fakta yang pahit dan menyakitkan itu, Elfatt berusaha memaafkan istrinya dan mempertahankan rumah tangga mereka. Bukan hanya demi putra mereka, tapi juga karena Elfatt sangat mencintainya. Ia sangat mencintai istrinya, Vanessa. Perempuan yang ternyata selama ini tidak mencintainya, dan hanya menjalani kehidupan rumah tangga demi orang tuanya.
Namun, nyatanya sulit menjalani kehidupan rumah tangga yang sudah tidak normal, bukan hanya tidak harmonis tapi sejatinya sudah hancur dari dalam. Mempertahankannya hanya membuat keduanya terbebani, merasa buruk dan dipenuhi segala kebohongan dan kepalsuan.
Vanessa tidak bisa bersama Elfatt lagi, ia sudah mati-matian selama ini menahan dirinya dan membunuh egonya, menjalani kehidupan layaknya keluarga yang bahagia demi Alex putra mereka. Tapi, Vanessa mencintai pria lain, ia hanya mencintai pria itu dan mereka juga memiliki anak pria itu di dalam rahimnya, buah cinta mereka. Bukankah ia berhak untuk hidup bahagia dengan cintanya dan anak-anaknya yang lain juga.
Akhirnya Vanessa memilih melepaskan Elfatt dan Alex, dan memilih cintanya. Meski ia harus mengorbankan perasaan keduannya, yang satu adalah suaminya yang sangat baik dan tulus mencintainya, dan yang satu adalah putranya yang ia cintai, putra sulungnya yang membuatnya sempurna menjadi seorang ibu.
Vanessa mengorbankan kebahagiaan keduanya.
Pengkhianatan yang dilakukan mamanya yang membuat papanya depresi dan omanya meninggal, nyatanya mampu mengubah kepribadian Alex. Alex yang dulunya adalah anak yang lembut dan ramah, kini berubah jadi pemuda yang keras kepala, pemarah dan arogan.
Peristiwa kelam dimasa lalu telah membuatnya kehilangan diri sendiri.
Meski berkali-kali papa mengingatkan dan menegaskan Jangan membenci mama, lupakan masa lalu, dia tetap lah mamamu.
Tetap saja Alex membencinya, bagi Alex '*M*ama lah yang bersalah, gara-gara mama keluarga ini hancur'.
Alex membenci ibu kandungnya sendiri. Bahkan karena kebenciannya, ia jadi memandang semua perempuan itu sama. Egois, cengeng tapi tak punya perasaan, seperti mamanya. Ia muak dengan yang namanya perempuan.
Sejak itu lah, Alex yang dulunya lembut dan penyayang sekarang di kenal arogan dan berhati batu.
Ia tak suka melihat perempuan tertawa bahagia dan menikmati hidup bebas, karena hal itu selalu mengingatkannya pada pengkhianatan sang mama.
Senyuman mereka menyakiti perasaan Alex. Sejauh ini, Alex selalu menutup diri dan mengabaikan segala yang berhubungan dengan perempuan, tapi kadang jiwa keusilan Alex menuntutnya memberi pelajaran pada perempuan, karena mereka para perempuan sering membuatnya kesal dan tambah muak, baik dengan segala tingkahnya ataupun hanya senyuman saja. Alex tidak suka itu.
Tapi, ada satu senyuman dari seorang perempuan yang berbeda dimata Alex. Senyumannya yang Alex sukai, satu senyuman itu yang membuat hatinya senang bukan kesal seperti yang lainnya. Satu senyuman yang membuatnya berubah dari pria arogan menjadi pria yang lembut, seperti dulu.
Senyuman dari wajah cantik itu tak bisa ia lupakan, ia merindukannya, ia ingin selalu melihatnya dan berada di sisinya.
Alex sendiri tak habis pikir, kenapa ia bisa seperti ini.
"Siapa cewek cantik di pesta topeng itu?? Dia bisa bikin gue jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia bikin gue nggak bisa berhenti menatapnya. Padahal selama ini, gue benci cewek! Gue muak sama yang namanya cewek!
Iya, gue benci cewek bukan karena gue nggak normal ya, tapi gue punya alasan tersendiri kenapa gue benci cewek." gumam Alex dalam diamnya.
Ya, alasannya membenci perempuan adalah karena mamanya dan masa lalunya yang membuatnya trauma, sehingga jiwanya tergoncang.
Alex duduk di dekat jendela kamarnya, dengan topeng pesta ditangannya yang sejak tadi ia pandangi. Topeng yang ia pakai di malam itu, ketika ia pertama kali bertemu dengan gadis pemilik bibir kissable dan senyuman indahnya itu.
Alex merindukannya.
"Kalau kamu hadir di pesta itu, artinya kamu ada di kota ini kan? Atau seenggaknya, kamu adalah salah satu kenalan Kak Riana kan? Aku pasti bisa nemuin kamu. Aku akan cari kamu, kemana pun. Sampai ketemu."
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...