
Alex duduk dengan posisi setengah berbaring diatas ranjang rumah sakit, ia nampak termenung sejak siuman. Vanessa memberikan segelas air putih untuk Alex, Alex menerimanya dengan bantuan sang mama yang memberinya minum. Sebelumnya sang mama juga menyuapinya sarapan, meski Alex tidak ingin makan ia tetap menerima suapan sang mama yang terlihat begitu cemas akan kondisinya. Kemudian sang mama membantunya minum obat, yang sebenarnya sangat malas Alex lakukan.
"Istirahat ya nak." Vanessa mengusap kepala Alex lembut.
Alex menatap mamanya sebentar, tersenyum tipis demi meredakan rasa cemas sang mama. "Ma, apa dari tadi mama cuman disini?"
Vanessa agak heran dengan pertanyaan Alex. Dan Alex sendiri memiliki banyak pertanyaan dikepalanya, namun malah pertanyaan tak berfaedah itu yang keluar dari mulutnya.
"Iya, mama disini nemenin kamu. Mama nggak kemana-mana. Kenapa Al?"
Alex ingin menanyakan sesuatu yang sangat ingin ia tanyakan, tapi ia merasa tidak enak dengan Feli. Gadis itu juga ada disini bersama Vanessa sang mama, keduanya disini ketika Alex baru membuka matanya, artinya Feli juga menemaninya disini dan tidak kemana-mana. Feli tersenyum lirih ketika mendapat tatapan ambigu dari Alex.
"Aku disini Al." ujarnya nampak menahan tangis.
"Makasih. Sekarang nggak ada yang perlu kamu khawatirin, aku baik-baik aja." jawab Alex seraya tersenyum tipis.
Feli pun melebarkan senyumannya seraya mengangguk. "Kamu bisa pulang dan siap-siap ngajar, ini bukan hari libur kan." kata Alex hati-hati.
"Aku ambil cuti. Aku mau disini nemenin kamu Al."
Alex terdiam. Sebenarnya Alex ingin membahas tentang Kayla dengan mamanya, tapi ia tidak enak menyebut nama gadis itu didepan Feli. Alex ingin tahu keadaan Kayla, ingin melihat kondisinya saat ini, ingin menanyakan semua hal yang terjadi selama ia tidak sadar tadi. Alex bukan benar-benar istirahat sebelumnya, ia diberi obat tidur agar bisa istirahat. Tapi dalam tidurnya pun Alex memimpikan Kayla, saking cemasnya akan kondisi gadis yang ia cintai itu. Sementara sekarang, Feli ada disini, Alex tidak ingin menyakitinya dengan menyebut nama Kayla didepannya, sedangkan kegundahan hati Alex terus mendesaknya, ia sudah tidak tahan ingin bertanya tentang Kayla pada sang mama. Atau pada siapa saja yang tahu keadaan gadis itu.
Beberapa menit kemudian, Elfatt masuk ke ruangan. Alex seketika berbinar antusias melihat sang papa, karena tidak ada yang ia pikirkan dan ia harapkan saat ini selain kabar tentang Kayla.
"Pa!"
Elfatt terdiam di tempat, melirik satu persatu wajah orang yang ada di ruangan. Alex, Vanessa, dan Feli. Dari tatapan Alex, Elfatt bisa langsung memahami apa yang putranya itu ingin dengar darinya. Karena itulah ia terdiam dengan perasaan yang sungkan dan sedikit tegang. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya tentang keadaan Kayla saat ini?
"Pa!" Seru Alex lagi.
"Kamu udah minum obat Al?" Elfatt mencoba tenang dengan sedikit mengalihkan pikirannya.
"Iya." singkat Alex.
Elfatt duduk dikursi sisi kiri ranjang Alex, tepat disamping Feli yang juga duduk disana. "Om, gimana keadaan Kayla?"
Degg
Elfatt dan Vanessa saling melempar pandangan. Alex sedikit terkejut karena Feli bertanya tentang Kayla pada papanya. Padahal Alex susah payah menahan diri untuk tidak menyebut nama Kayla, tapi ternyata Feli yang bertanya seolah mewakili pertanyaan besar dibenak Alex.
Melihat orang-orang disekelilingnya diam, Feli mengedarkan pandangan ke wajah mereka bergantian. "Aku tau, kalian semua pasti khawatirin Kayla kan. Aku juga. Enggak semua orang berani berkorban kayak dia, dia ngelakuin sesuatu yang luar biasa itu didepan mata aku, insiden itu terjadi didepan kita semua, aku nggak bisa lupain itu."
"Dan Al, kamu nggak perlu sungkan sama aku. Aku ngerti situasi kok, aku nggak mungkin egois dengan nggak biarin kamu mikirin Kayla kali ini. Aku nggak tau apa aja yang udah kalian alamin selama disekap ditempat itu." tutur Feli.
Alex dan kedua orang tuanya saling melemparkan pandangan, tatapan mereka sama. Sedih sekaligus terharu.
"Makasih Fel. Kamu benar, Kayla udah ngelakuin sesuatu yang luar biasa. Bahkan sebelum insiden itu dia udah berkorban dua kali buat aku."
Feli, Vanessa, dan Elfatt terperangah kecil.
"Maksud kamu nak?" sang mama bertanya.
"Luka ditangannya itu karena dia ngelindungin aku ma, dia nahan orang yang mau nusuk aku pake pisau."
"Hahh?!"
"Dan luka dipundaknya, itu kena bola besi yang berduri. Dia pasang badan buat ngelindungin aku juga, kalo aja dia nggak siaga.. pasti aku yang kena senjata berbahaya itu." lirih Alex getir.
Feli dan Vanessa tertegun, agak meringis membayangkan apa yang terjadi, sebagaimana yang Alex terangkan barusan. Elfatt menunduk, semakin merasa iba pada Kayla yang sekarang keadaannya memburuk. Perasaan bersalah juga menderanya, ternyata gadis baik yang malang itu telah mengorbankan nyawanya untuk Alex sebelum dia menerima peluru demi melindungi Elfatt.
"Kita berdo'a ya buat Kayla.. keadaannya belum membaik." ucap Elfatt, membuat Alex, Feli, dan Vanessa menatap cemas sekaligus tanya padanya.
"Dia kehilangan banyak darah, dan butuh donor segera. Tapi belum ada pendonor yang cocok buat dia."
Alex mendesah tertahan, mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu tapi ia tidak tau akan berkata apa. Perasaan gelisah semakin meliputi dirinya, terlebih lagi ia lihat sang mama mulai menangis.
"Miss Kissable.." gumamnya pelan tanpa suara, sembari memejamkan mata. Seketika kilasan balik muncul dibenaknya.
(Flashback On)
Hari ini masing-masing ketua kelas diminta guru untuk mendata siapa saja siswa yang ingin menyumbangkan darah untuk persediaan PMR, karena belakangan ini rumah sakit dan klinik lainnya sering kekurangan persediaan darah.
Kayla dan Alex bertemu di kantin, masing-masing berjalan menuju meja makan, keduanya saling memberi senyuman kemudian duduk bergabung bersama teman-teman mereka.
"Ciyee... dari jauh udah kode-kodean nih yee..." goda Bima.
__ADS_1
"Apaan sih, biasa aja kok." kilah Kayla tersipu malu. Alex yang salting pun menyenggol Sandi.
"Biasa aja..? Bukannya kemarin malam gitu ya kode-kodean nya..?" Vicky juga nimbrung.
Kayla memicing, pasti yang dimaksud Vicky adalah saat Kayla dan Alex berada diatas panggung. Saat dimana Kayla terheran-heran akan pesta kejutan Alex, yang tiba-tiba melamarnya dan melangsungkan pertunangan malam itu juga. Kayla waktu itu menatap banyak tanya pada Alex, tanpa tau harus berkata apa tapi hatinya sangat senang. Dan barusan, Vicky menggodanya mengingatkannya akan bagaimana malunya Kayla malam itu, yang menjadi pusat perhatian tiba-tiba.
"Udah udah.. plis deh bro, jangan bikin muka cewek gue makin merona. Gue timpuk nih mata jelalatan kalian!" Alex mengangkat botol minumannya, seolah bersiap menghukum teman-teman rese'nya itu.
"Kamu juga ikut-ikutan?" sewot Kayla merasa digoda juga oleh Alex.
"Emm... kamu ikut nyumbang darah besok?" Alex malah mengalihkan pembicaraan.
Kayla mendengus panjang, baiklah.. lupakan saja kekesalan kecilnya yang tak berfaedah itu.
"Ikut. Kamu gimana?"
"Ikut dong, masa' The ruler off school nggak berpartisipasi.." sahut Alex.
Kayla tersenyum, "Golongan darah kamu apa Mr Strawberry?"
"AB+, kamu?"
"Aku O-"
(Flashback Off)
Alex mendengus berat, kalau saja golongan darahnya sama dengan Kayla, pasti Alex akan mendonorkan darahnya untuk gadis yang ia cintai itu. Sayangnya tidak, bahkan papa dan mama Alex pun tidak memiliki golongan darah yang sama dengan Kayla.
"Golongan darahnya apa Om?" tanya Feli.
"O-"
"O negatif?" ulang Feli. Tentu ia tahu jenis darah bereshus negatif ini terbilang langka, Feli agak berkecil hati. "Kalo aja golongan darahnya sama denganku, aku bersedia jadi pendonor."
"Bantu cari dong Pa!" kata Alex dengan nada mengeluh.
"Udah. Papa udah suruh orang buat bantu cari Al, tapi belum dapet." sahut sang papa.
"Ya Allah nak.. kasian kamu." gumam Vanessa terisak. Ia lalu berdiri dari duduknya. "Mama mau ke Tante Nadia dulu ya nak!" pamitnya pada Alex.
... ___________________...
"Mas gimana ini..?" Keluh Nadia panik
Pasalnya sudah berjam-jam mereka menunggu tanpa kepastian, belum juga ada pendonor yang cocok untuk Kayla. Nadia merasa buruk sebagai seorang ibu, golongan darahnya tidak sama dengan putrinya. Diantara Tio dan Arsya pun tidak ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan Kayla, bahkan golongan darah Om Iwan dan Riana pun berbeda dengan Kayla. Tidak ada satupun dari keluarganya yang memiliki golongan darah sama dengan Kayla selain papinya.
Tio menghembuskan nafas panjang, ia baru saja menghubungi banyak orang demi mencari pendonor untuk Kayla, tapi tak juga berhasil. Om Iwan yang juga bersama mereka pun ikut mencarikan pendonor namun belum menemukan siapapun juga.
"Bagaimana Pak?" Tanya Dokter yang baru muncul didepan mereka.
Om Iwan menggeleng lemah, "Apa pihak rumah sakit emang udah abis cara Dok? Mungkin ada diantara para Dokter, perawat atau karyawan disini yang bisa jadi pendonor."
"Kami juga udah berusaha mencari Pak, tapi nggak ada yang bisa jadi pendonor."
"Kalo gitu.. papinya Kayla satu-satunya orang yang bisa pendonor Dok?"
"Seharusnya bisa, tapi kondisi papi Kayla juga nggak memungkinkan. Jadi saya nggak menyarankan itu."
Sebenarnya sejak awal ketika dokter memberitahu kalau Kayla butuh donor darah, Tio langsung teringat akan Arman, papi Kayla. Dan benar saja, saat ini tidak ada pendonor yang lebih tepat selain papi kandung Kayla sendiri. Masalahnya sekarang Arman juga dalam perawatan, bahkan Arman juga kehilangan banyak darah akibat tembakan King. Tapi mungkin saja keadaannya saat ini lebih baik daripada Kayla.
"Nad, menurut kamu.. apa Arman setuju buat-.."
"Enggak Mas!" sergah Nadia menyela. "Aku nggak sudi dia donorin darah kotornya buat Lily."
"Nad, dia papinya Kayla. Dia pendonor yang sangat cocok buat Kayla, kita nggak bisa dapetin orang lain yang lebih tepat buat jadi pendonor saat ini. Kayla butuh donor darah secepatnya."
"Tapi Mas, penjahat itu-.."
"Saya siap Dok!"
Degg
Mereka menoleh serentak kearah belakang. Arman ada disana, bersama dua orang polisi yang mendampinginya. Arman duduk dikursi roda, mengenakan setelan pasien rumah sakit. "Saya siap donorin darah saya buat Kayla, Dok."
"Loh, anda seharusnya istirahat Pak Arman. Kondisi anda belum stabil."
__ADS_1
"Saya udah mendingan Dok. Cepat ambil darah saya, anak saya harus selamat."
"Tapi kondisi anda tidak memungkinkan untuk mendonorkan darah, Pak."
"Kondisi Kayla lebih nggak memungkinkan buat nunggu donor lebih lama kan Dok? Jadi jangan buang waktu!" timpal Arman kesal.
"Tapi Pak Arman, kalo anda tetap mendonorkan darah.. kondisi anda sendiri bisa memburuk."
"Saya nggak peduli, yang penting anak saya selamat."
Dokter nampak melirik Nadia, Tio, dan Iwan, melihat reaksi mereka. Arman pun melakukan hal yang sama, tapi ia malah mendapat tatapan tak suka dari Nadia.
"Izinin aku nebus kesalahanku, Nad!" ucap Arman tulus.
"Aku nggak sudi darah kotor kamu mencemari tubuh Lily." Nadia membuang muka.
"Nad, ini demi Kayla. Kondisi Arman juga nggak stabil tapi dia tetap mikirin keselamatan Kayla. Buang ego kamu, Kayla membutuhkan darah papinya." bujur Iwan.
"Mas, ada banyak orang didunia ini selain dia-.."
"Tapi Kayla butuh aku." sela Arman. "Aku tau Kayla mungkin juga nggak sudi nerima donor dariku, tapi aku berharap bisa memperbaiki kesalahanku selama ini Nad. Kasih aku kesempatan."
"Kesempatan? Kamu udah terlalu banyak bikin Lily menderita Mas, kapan sih kamu puasnya?!"
"Aku disini dengan tujuan berbeda Nad. Aku udah berubah, aku serius mau memperbaiki kesalahanku. Aku mau menyelamatkan Kayla, itu tujuanku. Aku tau kamu benci sama aku, aku juga ngerti kalo Kayla benci sama aku, tapi tolong Nad.. kasih aku kesempatan buat ngelakuin sesuatu yang benar buat anakku!"
Semuanya terdiam.
"Ya aku tau buat nebus dosa-dosaku dengan donorin darah itu sama sekali nggak setimpal, dosaku terlalu banyak selama ini. Tapi Nad, hari ini aku berani sumpah aku nggak punya niat lain selain ingin melihat Kayla baik-baik aja. Aku nyesalin semua kesalahanku, juga kecelakaan yang terjadi sama Kayla. Tolong kasih aku kesempatan buat ngelakuin tugasku dengan benar kali ini. Aku janji nggak akan ganggu kalian lagi setelah ini. Aku janji, tolong kamu percaya sama aku kali ini aja." mohon Arman.
Hati Nadia berdesir getir, ia menelan salivanya susah payah sembari menghapus airmatanya. Ia melirik sang suami, suaminya mengangguk sekali tanda meyakinkan. Ia lalu melirik Arsya, anak itu juga nampak terbawa perasaan dengan situasi dihadapannya. Ia lalu melirik Iwan, sang kakak mengerjap dan mengelus pundaknya. Kemudian ia memberanikan diri menatap Arman, tak disangka oleh Nadia ia malah melihat sesuatu yang berbeda dari Arman. Nadia merasa kembali ke masa lalu seketika, melihat rona wajah Arman yang dulu, yang memiliki bias kasih sayang dan perhatian. Benarkah? Arman sungguh-sungguh, dia sudah kembali?
"Maaf, tapi transfusi darah dalam kondisi tidak stabil bisa membahayakan keselamatan anda Pak Arman. Anda kan juga baru kehilangan banyak darah." kata Dokter.
"Itu nggak penting Dok. Saya siap donorin darah buat anak saya. Ambil darah saya sebanyak-banyaknya asalkan anak saya selamat." Arman bersikeras.
Nadia mulai merasa khawatir, tapi ia tetap menatap selidik pada Arman, mencari kesungguhan dari kata-kata mantan suaminya itu sekali lagi.
"Pikirkan lagi Pak Arman, untuk kebaikan anda juga, kami nggak akan menjalankan prosedur itu kalau anda nggak yakin."
"Kalo anak saya selamat saya pasti baik-baik aja Dok. Jangan buang waktu lagi, ayo ambil darah saya!"
Dokter memperbaiki letak kacamatanya sambil berpikir. "Baiklah, anda ikut saya. Kita akan periksa dulu." ujar Dokter akhirnya.
"Tunggu!" cegat Nadia saat Arman dan Dokter mulai berjalan.
"Mas, kamu jangan nekat kalo emang kondisi kamu nggak stabil." ujar Nadia pada Arman.
Hening sesaat.
"Jangan salah paham! Kalo seandainya kamu celaka setelah prosedur transfusi darah, apa yang akan aku bilang sama Lily?" lanjut Nadia.
"Kayla sama sekali nggak berpikir sebelum nyelamatin Pak William dari tembakan itu, kamu juga nggak butuh mikir kan waktu kamu nyelamatin Kayla dulu? Trus kenapa aku harus mikir dua kali buat nyelamatin anakku sendiri."
Nadia terdiam. "Apapun yang terjadi, Kayla harus tau kalau papinya udah berubah, papinya bukan orang jahat lagi. Cuman itu yang aku mau Nad." lanjut Arman.
Setelahnya Arman masuk ke ruangan bersama Dokter. Nadia masih tertegun ditempat, kemudian Tio merangkulnya untuk kembali duduk.
"Kamu percaya kan Nad, kalo Arman emang udah berubah. Dia mau memperbaiki kesalahannya, dia mau melakukan tugasnya sebagai seorang ayah."
"Iya Mas, aku percaya sekarang. Aku hampir nggak percaya kalo dia bisa nggak peduliin dirinya demi Lily Mas, dia mau donorin darahnya buat Lily, padahal dia sendiri sakit. Aku juga nggak tau apa aja yang udah dia lakuin demi ngelindungin Lily dari orang-orang bia**b itu." kata Nadia dengan tatapan kosong.
"Semuanya akan baik-baik aja, hm!" hibur Tio seraya tersenyum tipis, lega.
Nadia pun menarik sedikit sudut bibirnya, ia melirik sang kakak yang juga nampak lebih tenang dari sebelumnya. Semoga saja setelah ini semuanya baik-baik saja, Kayla selamat dengan pertolongan donor darah dari papinya, dan keadaan papinya juga tidak memburuk. Nadia harap-harap cemas, tapi diwaktu yang bersamaan ia juga bersyukur karena Arman telah menyadari kesalahannya dimasa lalu dan mau bersungguh-sungguh menebus dosa-dosanya.
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1