
Suasana hening di dalam ruang ICU membuat bunyi monitor detak jantung terdengar nyaring. Di sana, seorang ibu yang terpukul akan kondisi anak semata wayangnya tengah meratapi sang anak yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan berbagai macam peralatan medis sebagai penopang hidup. Nadia diam bukan karena ia berhenti menangis, tapi ia lelah dan tak berdaya lagi untuk meraung tangis. Wajahnya sembab, tatapan sayunya tak beralih sedikitpun dari gadis malang yang terbaring lemah itu. Sang suami setia di sampingnya, selalu menyabarinya dan mencoba menghiburnya.
Dari kaca pintu ruangan tempat Kayla dirawat, Arsya berdiri melihat ke dalam. Ayah dan maminya menemani Kayla disana, ia ingin masuk tapi para petugas medis tak mengizinkan masuk lebih dari dua orang pendamping pasien. Arsya ingin sekali memandangi kakaknya lebih dekat, Arsya juga ingin bicara banyak pada kakaknya yang sekarang tengah koma itu. Isakan kecil Arsya terdengar oleh Om Iwan yang duduk di samping pintu dekat Arsya.
"Sya, kuatin diri kamu!" Om Iwan berdiri dan menepuk pundak Arsya.
"Ini semua gara-gara kelalaian Arsya, Om."
"Enggak Sya, bukan salah kamu. Emang udah takdirnya Kayla harus menjalani ini. Om juga sedih, Om juga nggak tega liat Kayla seperti ini. Apalagi Nadia sangat rapuh dan sensitif, Om nggak tega sama dia."
"Mami sama ayah harus menghadapi ini gara-gara Arsya, Om. Kalo aja-.."
"Sya, udah cukup nyalahin diri kamu! Kita nggak boleh terlalu meratapi keadaan ini, yang kita harus pikirin adalah gimana agar Kayla cepat sadar. Kita harus lakuin sesuatu yang bisa bikin keadaan Kayla membaik, dan kita harus sabar ya!"
Arsya mengangguk, Om Iwan menepuk pundaknya lagi menyemangati.
"Mas." Panggil seseorang dari belakang mereka, membuat Om Iwan dan Arsya berbalik.
"Arman."
Arman menatap sungkan pada mantan kakak iparnya itu. "Boleh saya menemui Kayla sekali lagi? Sebelum saya balik ke Bandung dan ngelanjutin hukuman."
Iwan sempat terdiam membalas tatapan Arman. Kemudian menjawab, "Saya akan ngomong sama Nadia."
Arman mengangguk, dan Iwan masuk ke ruangan Kayla. Sedangkan Arsya duduk di kusri yang berhadapan langsung dengan kursi roda Arman. Beberapa detik keduanya saling melihat sebelum saling menyapa.
"Siapa nama kamu?"
"Arsya Om."
"Arsya, kamu nyalahin diri kamu atas keadaan Kayla sekarang. Tapi yang sebetulnya bersalah adalah Om. Nasib Kayla buruk karena dia memiliki ayah seperti Om, seandainya aja.. dia anak kandung ayah kamu, dia pasti nggak akan menderita. Om harusnya merasa beruntung memiliki anak yang baik dan kuat seperti Kayla, tapi Om terlalu bodoh dan menyia-nyiakan dia. Maaf.."
Arsya mengernyit, "Om minta maaf?"
"Maaf.. gara-gara kejahatan Om, kalian yang harus menghadapi situasi berat ini. Kamu, ayah kamu, dan Nadia.. kalian sedih karena kondisi Kayla. Kalian, dan terutama Kayla, harus menderita gara-gara kesalahan Om. Seandainya bisa, Om bersedia menggantikan Kayla berada di sana, biar Om yang kritis dan Kayla yang selamat. Om menyesal sekali." Arman menunduk setelahnya.
"Aku pengen marah sama Om. Tapi itu percuma kan, semuanya udah terjadi, dan semua itu juga udah jadi masa lalu. Om udah sadar, Om juga udah nyoba buat menebus kesalahan Om." ucap Arsya sedikit kesal.
Arman tertegun. Beberapa detik kemudian, Iwan keluar dari ruangan Kayla bersama Tio. Arman memandang keduanya menunggu persetujuan, tapi.. Arman agak heran, kenapa Nadia tidak ikut keluar bersama kakak dan suaminya. Sebelum Arman mengatakan sesuatu, Tio lebih dulu bicara.
"Silahkan. Nadia didalam, dia nggak mau jauh dari Kayla, dia juga nggak percaya ngebiarin kamu cuman berdua sama Kayla. Tolong kamu kendaliin diri kamu kalo sampe Nadia emosi."
"Kalo gitu kenapa kamu keluar?" Tanya Arman.
"Saya percaya sama kamu. Harusnya Nadia juga ngasih ruang buat kamu, biar bisa ngabisin waktu berdua aja sama Kayla. Tapi keadaannya..."
"Saya ngerti. Makasih kamu ngizinin saya." Ucap Arman merasa dihargai.
Tio mengangguk samar, lalu memberi jalan untuk Arman masuk ke ruang ICU. Dua orang polisi tetap berjaga disisi Arman, sekarang salah satu diantara mereka masuk bersama Arman, sedangkan yang lainnya tetap menunggu diluar. Bagaimanapun juga statusnya yang masih narapidana tidak bisa membuat kedua petugas polisi itu lengah sedikitpun darinya. Meski Arman telah bersumpah tidak akan kabur dan akan mempertanggung jawabkan hukumannya.
Arman dibantu polisi mendorong kursi rodanya hingga ia sampai ke dekat ranjang Kayla. Arman berada disisi ranjang sebelah kanan, sementara Nadia berada disisi kiri. Ia melihat Nadia sebentar, nampaknya wanita itu enggan menoleh padanya. Arman mengerti perasaan dan keadaan Nadia saat ini, iapun tidak mencoba menyapanya karena tidak ingin memicu emosi Nadia. Ia lantas mengalihkan pandangannya pada sang anak yang terbaring di ranjang dengan mata yang tertutup rapat, memandangi gadis malang itu dengan pandangan dan perasaan yang dalam.
"Puas kamu Mas?!" Sindir Nadia datar, tanpa melihat Arman.
"Aku disini sebagai seorang ayah, bukan penjahat Nad. Aku tau semua ini terjadi karena kesalahanku, dan aku serius mau menebus dosa-dosaku."
"Kalo aja kamu punya hati Mas, kamu bakal sadar lebih awal dari ini, dan kecelakaan tragis itu nggak akan menimpa Lily. Sekarang apa, semuanya udah hancur, terlambat, Lily harus menderita lagi dan lagi.. gara-gara kamu." ucap Nadia muak.
"Aku menyesal Nad.. seandainya bisa, aku siap gantiin Kayla menanggung penderitaannya. Aku nggak tau kalo setelah donor darah keadaan Kayla akan memburuk, aku cuman berusaha buat nebus kesalahanku."
"Lily nggak koma efek dari donor darah Mas. Kamu pikir apa, dengan donorin darah buat Lily bisa nebus kesalahan kamu?" Nadia menggeleng. "Lily koma gara-gara cedera otak akibat benturan bola besi di pundaknya Mas. Kamu tau kan Lily terluka waktu di markas penculik, senjata tajam itu Mas, senjata berbahaya yang katanya.. kamu yang bawa. Kamu Mas!" Cerca Nadia marah.
__ADS_1
Duaaarr.......
Arman tergugu. Ia menyangka sebelumnya kondisi Kayla saat ini adalah efek dari transfusi darah yang sempat terkendala kemarin, tapi ternyata bukan itu penyebabnya. Melainkan akibat benturan bola besi yang tempo hari sempat Arman pukulkan pada King. Senjata itu melukai Kayla juga? Ya Allah.. Arman merasa buruk karena melupakan insiden itu. Ketika insiden itu terjadi Arman memang sempat cemas akan keadaan Kayla, tapi ia melihat Alex bersama Kayla yang membuatnya sedikit lega. Arman melihat sendiri ketika anak buah King memukulkan senjata berbahaya itu ke arah Alex namun malah mengenai Kayla. Tapi Arman tidak menduga efeknya akan sefatal itu, Kayla koma akibat luka dari serangan itu.
"Aku.. ya emang aku yang megang bola besi itu awalnya. Tapi senjata itu punya King, aku cuman ngambil itu buat nyerang King. Aku nggak tau kalo..." Arman tercekat, ia terus menundukkan kepalanya menyesal. "..kalo Kayla juga akan terluka dengan senjata itu.
Nadia menghembuskan nafas panjang, berat.
"Maafin aku Nad, maafin aku kalo bisa." Sesal Arman.
"Kamu tau itu nggak mungkin, Mas."
"Aku nyesel Nad, aku bener-bener nyesel. Aku janji kesalahan itu nggak akan terulang lagi. Aku-.."
"Terlambat Mas." Nadia berdiri dengan marah, ia menatap Arman penuh perasaan luka. "Semuanya udah terjadi, Lily udah kayak gini sekarang, apa lagi yang mau kamu janjiin? Apa lagi yang bisa kamu lakuin, minta Lily bangun sekarang, bisa nggak? Ayo, kalo kamu bener-bener mau nebus kesalahan kamu.. akhiri penderitaan anak kamu Mas, bisa nggak?!"
Diluar ruangan, Iwan, Tio, dan Arsya mulai khawatir mendengar suara Nadia meninggi memarahi Arman. Mereka menengok dari pintu kaca, melihat situasi di dalam sana.
Arman menelan salivanya berat, ia menatap Nadia ragu. Mantan istrinya itu mulai menangis lagi setelah melampiaskan emosi, kedua pundak Nadia bergetar, kedua tangannya menumpu pada sisi ranjang Kayla.
"Hiks, hiks, minta Lily bangun Mas.. aku nggak sanggup liat dia menderita lagi.. hiks.." kali ini suara Nadia terdengar lirih dan memelas.
Arman terenyuh, sekaligus sesak dadanya. "Aku siap lakuin apapun asal anak kita bisa cepat sembuh Nad, bilang aku harus apa?! Minta Dokter buat mindahin penderitaan Kayla ke aku! Minta sama Tuhan biar aku aja yang sakit, asal anak kita selamat! Aku juga nggak tega liat dia begini." ucap Arman parau, ia sungguh ingin menanggung penderitaan putrinya jika Tuhan mengizinkan. Jika Nadia merasa tidak sanggup melihat penderitaan Kayla, maka Arman juga merasa demikian.
Nadia semakin mengencangkan suara tangisannya sembari kembali duduk, karena ia merasa kakinya tidak akan sanggup menopang tubuh lemasnya jika ia terus berdiri. Untuk beberapa saat hanya suara tangisan Nadia yang memenuhi ruangan, sementara Arman terus menunduk dengan perasaan penuh sesal, wajahnya memerah menahan tangis. Kemudian Tio masuk menghampiri Nadia.
"Nad, tenangin diri kamu dulu. Kita keluar ya, kamu butuh refresh sebentar." Bujuk Tio.
"Aku nggak mau kemana-mana Mas, kasian Lily."
"Papinya ada disini, kamu nggak perlu khawatir." Bujuk Tio lagi, Nadia menggeleng.
"Kamu ini kenapa sih Nad, kamu nangis begini didepan anak kamu sendiri? Kalo Kayla liat kamu dan dia bisa ngomong sama kamu, apa yang bakal dia bilang, hm? Kayla nggak akan suka liat kamu begini, sayang."
Sebelum keluar dari ruangan, Nadia mengecup kening putrinya dan mengusap kepala putrinya dengan lembut. "Maafin mami ya sayang, mami nggak akan nangis lagi kok."
"Yuk!" Tio merangkul Nadia dan membawanya keluar.
Sepeninggal Nadia, Arman merasa lebih leluasa menghabiskan waktu bersama Kayla, meski keduanya hanya diam. Setidaknya keheningan membuat suasana hati Arman lebih khusyu, dan ia merasa lebih dekat dengan putrinya. Arman beranjak pelan dari kursi rodanya, membuat polisi yang mendampinginya siaga.
"Saya mau duduk dekat anak saya Pak." izin Arman, yang diangguki oleh si polisi.
Arman naik perlahan ke ranjang Kayla, ia duduk didekat lengan kanan Kayla. Ia raih tangan pucat anak gadisnya itu, lalu ia letakkan diatas lututnya sembari menggenggam tangan itu penuh kasih. Arman mengajak Kayla bicara, curhat dan menceritakan kembali tentang masa kecil Kayla. Meski gadis itu hanya diam, Arman yakin sentuhan kasihnya dan juga perasaan yang ia ungkapkan dari hati untuk putrinya itu.. bisa dirasakan oleh putrinya.
"Cepat bangun ya sayang."
"Kalo kamu benci sama papi, papi nggak papa. Kamu nggak mau nurut sama papi juga papi nggak papa kok. Tapi, kamu harus bangun demi mami ya! Kamu tau kan mami kamu sedih, mami kamu nggak bisa liat kamu menderita. Kamu itu kekuatannya sayang, kamu penyemangatnya, jangan biarin mami kamu rapuh dengan liat keadaan kamu begini. Bangun ya sayang.." ucap Arman lembut.
"Maafin papi yang selalu egois. Apa kamu bisa maafin papi, hm?" Arman mengelus kepala Kayla dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih menggenggam tangan Kayla yang ia tempelkan ke pipinya kali ini.
"Hari ini papi pamit sama kamu, papi harus balik ke Bandung buat ngelanjutin hukuman. Papi akan jauh dari kamu, papi nggak akan bisa nengokin kamu. Kasih papi kabar baik sayang, biar papi bisa tenang ngejalanin hukuman."
"Papi sayang sama kamu nak, jangan lama-lama ya tidurnya, jangan bikin mami kamu lama-lama sedihnya, hm!"
Semakin lama Arman menatap Kayla, semakin tenggelam ia dalam perasaannya. "Anak pinter, anak cantik, kamu kuat nak.. cepat sembuh ya! Papi sayaaang banget sama kamu." lirihnya dalam.
Kemudian Arman mengecup kening Kayla lama, hikmat dan sepenuh hati, ketika ia memejamkan matanya maka sebulir kristal bening lolos melewati kolam matanya. Tanpa ia sadari setetes kristal bening itu jatuh ke wajah Kayla, dan tanpa disangka tubuh Kayla bereaksi kecil. Ujung telunjuk Kayla sedikit bergerak, namun tidak ada yang menyadari itu. Baik Arman maupun polisi yang ada di sana, tidak melihat respon kecil yang Kayla berikan.
... ____________________...
Hari berganti hari, namun belum ada perkembangan dari keadaan Kayla. Padahal ketika Arman pamit akan kembali ke Bandung, Kayla sempat bereaksi. Sayangnya reaksi kecil itu terabaikan, tidak ada yang mengetahuinya. Sejauh ini monitor detak jantung Kayla cukup normal untuk pasien dengan kondisi sepertinya, keadaannya tidak lagi memburuk namun tidak juga membaik. Tidak ada yang berubah darinya sejak beberapa hari, itulah pernyataan dari Dokter yang menangani Kayla.
__ADS_1
"Saya minta maaf Nadia, saya udah berusaha cariin solusi buat kebaikan kondisi Kayla tapi nggak ada hasil."
Kemarin Elfatt mendatangkan seorang Dokter spesialis neurologi, ahli syaraf yang terbilang senior itu didatangkan langsung dari Singapore khusus untuk merawat Kayla. Namun kondisi Kayla yang koma membuat Dokter tidak bisa berbuat banyak. Sang Dokter sempat mendiagnosis kalau keadaan Kayla membaik beberapa saat lalu, dan Dokter bertanya apakah tubuh Kayla sempat memberikan reaksi? Ketika semua orang menjawab TIDAK, maka sang Dokter agak heran. Sampai saat ini, memang tidak ada perubahan dari keadaan Kayla, sehingga Dokter hanya bisa meminta keluarga Kayla bersabar dan terus mengajaknya berkomunikasi. Karena dari riset yang sudah lumrah, jika pasien koma sering mendengar suara yang akrab dengannya sebelum dia koma, maka peluang untuk cepat sembuh semakin besar.
"Saya ngerti Pak, terima kasih atas perhatian Bapak. Saya juga nggak bisa nyalahin Bapak atas yang terjadi sama anak saya sekarang ini, dan saya juga nggak mungkin nyalahin anak saya karena dia nolongin Bapak."
"Seandainya saya tau-.."
"Jangan berandai-andai Pak, karena saya nggak mau semakin terluka. Semua yang terjadi ini musibah, nggak ada orang yang mau kena musibah. Saya coba ikhlasin itu, saya nggak mau lagi mikirin tentang kejadian yang lalu, dan saya cuman berharap anak saya cepat bangun." lirih Nadia.
Elfatt yang sejak beberapa menit lalu berdiri disisi ranjang Kayla, kembali terdiam. Ia malu pada Nadia, atas perbuatannya dimasa lalu terhadap ibu dan anak ini. Dan semakin merasa tak punya muka setelah insiden tembakan King kala itu. Elfatt sadar betul ia tidak adil, perlakuan buruknya dimasa lalu terhadap Kayla, malah dibalas darah oleh gadis baik itu. Dan penghinaannya pada Nadia, tidak membuat ibu satu anak itu membalasnya dengan apapun. Hati Nadia begitu besar hingga dia mampu menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan kata-kata kasar, ataupun melakukan sesuatu yang bisa membuat Elfatt terpojok. Jangankan terpojok, sebaliknya Elfatt tetap dihargai oleh Nadia meski setelah semua yang terjadi. Elfatt jadi semakin merasa seperti pecundang, kasihan sepasang ibu dan anak ini.
"Jangan liat saya begitu Pak, saya nggak suka dikasihanin. Kalo Bapak merasa bersalah, tolong do'ain aja anak saya. Bapak kan juga udah ngelakuin sesuatu buat memperbaiki kesalahan Bapak, saya sangat berterima kasih."
"Saya akan lakuin apapun sebisa saya Nadia, saya juga ingin sekali melihat Kayla cepat pulih." ucap Elfatt yang ditanggapi anggukan kecil dari Nadia.
"Gimanapun juga, saya nggak bisa menanggung rasa bersalah ini seumur hidup saya, Nadia. Kayla harus sembuh, dan saya harus meminta maaf langsung sama dia, baru saya akan tenang." Elfatt melanjutkan kata-katanya dalam hati, sembari memandang Kayla.
... ....
... ....
... ....
Alex resah, sejak ia tahu Kayla mengalami koma ia tidak pernah bisa tidur nyenyak. Ia memandangi dirinya sesaat lalu mendengus nafas panjang. Sekarang keadaan dirinya semakin membaik, ia sudah pulih dan diizinkan pulang ke rumah hari ini. Untuk kakinya yang cedera ia bisa menjalani rawat jalan saja, dan itu tidak perlu dicemaskan. Namun sayangnya, keadaan Kayla sekarang semakin mencemaskan. Alex selalu bertanya kepada papa dan mamanya ketika kedua orang tuanya itu datang, ia selalu ingin tahu perkembangan kondisi Kayla, tapi sayangnya sampai sekarang ia belum mendapat kabar baik dari perkembangan kondisi Kayla.
Sudah berhari-hari Alex menahan dirinya untuk menjenguk Kayla, karena ketika ia masih di ranjang rumah sakit tidak ada yang mengizinkannya beranjak. Sekarang, Alex sudah duduk di kursi roda dan ia memiliki kesempatan untuk menjenguk Kayla dulu sebelum pulang ke rumah. Ia menoleh ke belakang, saat ini ia masih berada di kamar rawatnya, ia lihat mama dan Feli sedang membenahi barang-barang bersiap untuk pulang. Alex berpikir, haruskah ia minta izin mama dan Feli untuk menjenguk Kayla? Apa kedua wanita ini akan mengizinkannya?
Feli mungkin keberatan jika Alex menemui Kayla, karena rasa cemburu. Tapi jika Alex meminta izinnya, dia tidak akan melarang, Alex yakin. Hanya saja Feli akan memendam perasaan sakit hatinya jika Alex sampai melakukan itu. Sedangkan mama, mama mungkin tidak akan melarangnya, tapi belum tentu akan mengizinkan juga. Kekhawatiran mama adalah Tante Nadia, mama khawatir jika Tante Nadia mungkin keberatan kalau Alex menemui Kayla. Atau mungkin Tante Nadia akan marah pada Alex, sedangkan mama tidak ingin Alex kecewa dengan tidak bisa menemui Kayla.
Tapi..
Alex merasa tidak bisa menahan dirinya lagi. Jika ia pulang sekarang tanpa melihat Kayla sekali saja.. bagaimana ia bisa tenang di rumah. Akhirnya ia mulai menggulir roda kursinya, beranjak keluar tanpa suara.
"Loh Al, mau kemana? Tunggu bentar dulu!" Seru Feli yang menyadari Alex sudah keluar melewati pintu.
Feli dan Vanessa menyusul Alex keluar sehingga Alex harus berhenti menggulir roda kursinya. "Ma, aku mau liat Kayla." Jujurnya.
Vanessa dan Feli saling melemparkan pandangan. "Nanti aja ya nak, tunggu Tante Nadia tenang dulu." Jawab Vanessa.
"Tapi aku nggak bisa pulang tanpa liat Kayla dulu."
"Fel, maafin aku. Aku nggak bisa pura-pura nggak peduli sama Kayla." kata Alex kemudian pada Feli.
Feli menggigit kecil bibirnya lalu berkata, "Aku tau. Emang nggak mungkin kamu bisa nggak peduli sama Kayla. Aku juga nggak ngelarang kamu buat nemuin dia, tapi mama kamu benar Al.. mending nanti aja."
"Pliss...." mohon Alex.
"Kalo kalian keberatan nggak papa, aku bisa kesana sendiri. Tapi tolong, aku nggak akan tenang kalo pulang sekarang tanpa liat Kayla." Alex lantas melanjutkan jalannya tanpa menunggu persetujuan mamanya dan Feli.
Kedua wanita berbeda usia itu terdiam melihat Alex dari belakang. Vanessa ingin menghentikan Alex demi menjaga perasaan Feli, tapi dia juga tidak tega dengan putranya yang terlihat gelisah itu. Sementara Feli sendiri, memang tidak melarang Alex tapi hatinya sungguh berat membiarkan tunangannya itu menemui Kayla.
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1
Hai readers semuanya.. kalian yang udah baca sampai sini jangan lupa tinggalin jejak sebelum lanjut ke part selanjutnya ya.. like, komen, dan tap favorit. Oke!
Thank you so much 🌼