Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Mencari Solusi


__ADS_3

Bel istirahat berbunyi, menandakan kelas pertama telah usai. Para siswa dan siswi menyerbu keluar kelas masing-masing, gema suara ricuh pun mendominasi tiap-tiap ruangan dan koridor.


"Bro!" Alex terkesiap saat Bima menepuk bahunya.


"Kenapa sih lu? Dari tadi gue perhatiin ngelamun aja, ada masalah?"


Pertanyaan Bima pun mengundang perhatian Sandi dan Vicky yang tempat duduknya berdekatan dengan Alex dan Bima. Keduanya lantas menghampiri, duduk dan menunggu jawaban Alex seperti yang Bima lakukan. Alex menarik nafas sambil melihat satu persatu wajah temannya, kemudian menghela nafasnya panjang. Pasti raut gelisah tercetak jelas di wajah Alex saat ini, sehingga membuat ketiga temannya bertanya-tanya.


"Ya, ada masalah." jawabnya lesu.


"Yaudah, kita selalu ready kok buat lu. Ngomong aja!" kata Sandi.


"Thanks, tapi..." Alex menghela nafas lagi, ia menggeleng pelan "..masalah ini serius."


"Oke. Trus apa yang bikin lu ragu ngomong sama kita? Kita siap kok bantuin lu." timpal Vicky.


"Bokap gue-.." ucapan Alex terhenti seketika, melihat gadis yang berdiri di depan pintu kelasnya.


Bima, Sandi, dan Vicky lantas mengalihkan pandangan ke arah sejurus. Kayla berdiri disana dengan senyumannya, lalu menyapa mereka. Ketiga teman Alex itu pun menyambut Kayla ramah, tapi tidak dengan Alex. Tentu reaksi Alex membuat mereka bingung. Kenapa Alex tidak memberikan respon pada Kayla, dia hanya terdiam dengan ekspresi yang menegang, matanya tak berkedip melihat Kayla.


"Mr Strawberry!" seru Kayla saat sudah berdiri di depan Alex.


Lagi-lagi Alex terkesiap, "Mm-..miss Kissable." ujarnya gelagapan.


"Ada apa?" bingung Kayla saat melihat raut wajah keempat pria di depannya.


"Oh gak papa. Kita cabut duluan ya.." ujar Bima sambil meng'kode pada Sandi danVicky.


Ketiganya pun beranjak, Bima menepuk bahu Alex sebelum meninggalkan kelas bersama Sandi dan Vicky. Tinggallah Alex dan Kayla berdua di kelas. Sebenarnya sejak papa berniat memutuskan hubungan Alex dengan Kayla, hati Alex selalu berdesir nyeri setiap kali ia melihat Kayla. Alex mencintainya, dan ia tidak sanggup menyakiti hati gadis yang ia cintai. Alex tidak bisa melihat Kayla bersedih, air matanya membuat Alex tersiksa. Membayangkan itu membuat hatinya merasakan sesuatu yang berbeda saat melihat Kayla.


"Mr Strawberry, ada apa sebenernya? Aku perhatiin kamu dari kemarin tuh sikap kamu aneh tau nggak." Kayla duduk di samping Alex.


Alex terkekeh, "Aneh gimana.."


"Pliss deh, kamu udah janji sama aku kan mau ngomong hari ini. Yaudah ayo ngomong!"


"Ngo-..ngomong apa..?"


"Kamu tuh kenapa sih, pliss deh jangan kayak orang bego. Gak mungkin kamu lupa kan!" Kayla mulai merajuk.


Alex menelan salivanya berat. Ini yang Alex khawatirkan, ia tidak menyangka akan ada hari dimana ia akan menghadapi situasi seperti ini. Namun sekarang sepertinya situasi ini tidak bisa lagi ia hindari. Kayla akan semakin curiga jika ia terus berkelit, jangan sampai gadis ini nekat mencari tahu sendiri. Meski cemas, sampai detik ini Alex masih optimis bahwa hubungannya dengan Kayla akan tetap baik-baik saja. Toh sekarang ia hanya perlu bicara pada Kayla, tapi ia tidak bisa jujur sepenuhnya dan tidak juga berbohong sepenuhnya, ia hanya harus memastikan bahwa ia tidak akan menyakiti gadis yang ia cintai ini.


"Maaf ya, aku bikin kamu kesel. Sebenarnya aku pikir kamu lebih baik gak perlu tau soal ini, aku takut nyakitin kamu."


Kayla mengernyit, "Takut nyakitin?" tanya batinnya sendiri.


"Emangnya ada apa sebenarnya, sampe kamu mikir kayak gitu, apa ada masalah yang buruk?" Kayla mulai was-was.


Alex tersenyum samar, "Enggak juga. Masih bisa diatasin kok, kamu gak perlu khawatir."


Kayla diam, menunggu lanjutan dari ucapan Alex. "Sebenarnya.. aku baru cerita ke papa soal yang terjadi sama kamu minggu lalu. Papa marah karena aku nekat ngehadapin situasi itu tanpa papa tau"


Perasaan Kayla mulai tak enak. "Papa.. sempat kaget setelah tau soal papi kamu juga. Makanya kemarin aku takut papa ngomong sesuatu ke mami kamu"


"Karena itu semalam kamu nanya soal mami, dan mami nanya soal kamu?" Alex mengangguk.


"Berarti papa kamu udah ngomong sama mami dong?"


"Aku gak tau, makanya aku nanya ke kamu kan semalam."


"Mami kok nggak bilang ya?" gumam Kayla kecil.


"Tunggu, papa kamu sebelumnya gak tau apapun soal papi aku?"


Alex mengangguk, "lya. Aku baru kasih tau kemarin. Maaf ya.."


Kayla menatap heran ke wajah Alex, kenapa Alex baru memberitahu yang sebenarnya tentang papi Kayla kepada papanya! Padahal Kayla sudah mengatakan yang sejujurnya pada Alex tentang papinya, sebelum mereka bertunangan. Kayla pikir Alex akan langsung memberitahu papanya karena itu hal yang penting, tapi ternyata tidak.


"Kenapa?"


"Aku takut papa bakal mempermasalahkan hal itu, dan gak ngerestuin kita." jawab Alex jujur.


Kayla mendesah tertahan, kesal. "Dan sekarang hal itu jadi masalah juga kan!"

__ADS_1


Alex diam, merasa bersalah.


"Mr Strawberry, aku jujur soal itu ke kamu karena aku gak mau ada yang ditutupin dari kita. Kamu tau, gak gampang buat aku ngungkit soal itu sama siapapun. Dan aku lakuin itu sebelum kita memulai hubungan, karena aku gak mau sampai terjadi masalah di masa depan gara-gara ada yang ditutupin. Aku pikir kamu ngerti itu, harusnya papa kamu tau soal papi aku sebelum ngasih restu" tutur Kayla lemah.


"Miss Kissable.. maafin aku. lya ini salahku, harusnya aku langsung ngasih tau papa waktu itu. Aku sama sekali gak bermaksud ngecewain kamu, aku cuman takut kehilangan kamu"


Sejujurnya Kayla ingin marah, tapi tetap ia tahan. la harus belajar sabar dan tenang dalam menghadapi masalah, lagipula ia tidak ingin bertengkar dengan Alex.


"Apa tanggapan papa kamu?" tanya Kayla dengan perasaan tak menentu.


Alex tidak langsung menjawab, membuat perasaan Kayla semakin tak karuan.


"Papa kamu pasti gak senang kan, ternyata aku ini anak seorang mucikari. Apa papa kamu marah, atau mungkin.. papa kamu malu calon menantunya kayak aku?"


Alex menaikkan alisnya, tegang. "Kamu ngomong apa sih, kamu tau papaku kan.. dia nganggep kamu kayak anaknya sendiri loh. Papa cuman syok aja, karena gak tau soal papi kamu dari awal. Tapi aku udah kasih pengertian kok ke papa, kamu gak usah khawatir ya!"


"Mulut kamu minta aku gak usah khawatir, tapi ekspresi muka kamu sendiri keliatan khawatir. Sikap kamu nggak kayak biasanya Al, Mami juga masih keliatan aneh sampe tadi pagi. Apa yang kalian tutupin dari aku?" lirih Kayla cemas.


"Papa kamu pasti marah kan? Apa hubungan kita-.."


"Ssstt.. jangan ngomong yang enggak-enggak!" sergah Alex. "Ini yang bikin aku mikir buat ceritain masalah ini ke kamu. Aku gak mau kamu khawatir dan kepikiran aneh-aneh kayak gitu."


Kayla menunduk lesu, ia tentu merasa minder dan sedih saat tahu calon papa mertuanya tidak senang dengan fakta tentang papinya. Memang benar jika papinya itu bukan orang baik, orang terpandang seperti Pak William pastilah mempertimbangkan masalah ini. Rasanya wajar jika Pak William marah, atau bahkan lebih dari itu. Berbeda jika persoalan itu sudah diketahuinya sebelum lamaran dan pertunangan terjadi. Perasaan Kayla jadi tak tenang, entah bagaimana selanjutnya jika situasinya sudah begini. Kayla menyesalkan Alex yang menutupi persoalan ini dari papanya demi memperoleh restu. Apa ketakutannya akan Kehilangan Kayla lebih besar dari kepercayaannya? Sampai-sampai dia memilih menyembunyikan kebenaran daripada harus mengambil resiko dengan bicara jujur.


Dan sekarang pun Alex berniat menutupi masalah ini darinya, padahal Kayla berhak mengetahuinya. Kayla tahu Alex ingin menjaga perasaannya, tapi kenyataannya.. yang terjadi kini adalah masalah. Masalah yang mungkin akan mempengaruhi hubungan mereka.


"Trus?" tanya Kayla.


"Ini terjadi karena kesalahanku, aku pasti bakal dapetin solusi buat nyelesain masalah ini. Kamu jangan khawatir ya!"


Kayla menatap Alex dengan perasaan tak menentu, bahkan matanya sudah berembun. Alex menyesal masalah seperti ini harus terjadi pada hubungan mereka, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri akan memperjuangkan cintanya, dan akan terus mempertahankannya apapun yang terjadi.


"Miss Kissable.." Alex meletakkan tangannya diatas punggung tangan Kayla. "Kamu percaya kan sama aku?"


"Kamu tau kan kalo aku kesal sama kamu, karena kamu gak jujur langsung sama papa kamu!"


"Maafin aku.." lirih Alex seraya menundukkan kepalanya.


Kayla menghela nafas berat, "Mama kamu gimana?"


"Papa kamu.. ngomong apa aja? Apa kamu juga tau, papa kamu ngomong apa sama mamiku?"


Alex membuka mulutnya namun tak lantas mengatakan apapun, bingung harus menjawab apa sedangkan ia tidak mau berbohong.


"Kenapa gak jawab?" desak Kayla membuat Alex gelagapan.


"Kalo kamu kayak gini gimana aku bisa tenang, kamu minta aku buat gak khawatir kan.. tapi kalo emang itu masalah buat papa kamu gimana aku gak khawatir!" suara Kayla mulai parau.


Sungguh Kayla takut, takut hatinya akan patah oleh cinta. Inilah yang dulu sangat ia hindari, dulu ia tidak berani melibatkan hati demi menghindari cinta yang bermasalah. la tidak mau patah hati, mami juga mewanti-wantinya sejak dulu agar berhati-hati dengan yang satu ini. Cinta, cinta yang letaknya dihati, hati yang bisa bersemi bahagia karenanya atau justru hancur karenanya. Kayla takut jatuh cinta, sampai mami sendiri yang meyakinkannya untuk membuka hatinya untuk Alex, pria yang kini sudah jadi tunangannya.


la pikir ia sudah benar, tapi apa ini? Masalah apa yang terjadi ini, Kayla takut fakta tentang dirinya yang sampai membuat calon mertuanya itu syok.. akan beresiko bagi hubungannya dengan Alex.


"Miss Kissable.. kamu jangan mikir macem-macem. Aku gak mau kamu stres mikirin ini. Buang semua kekhawatiran kamu ya, hal buruk apapun yang sekarang ngeganggu pikiran kamu.. pliss lupain ya! Aku bisa tanganin masalah ini, ini bukan masalah besar kok."


Bukannya menenangkan, kata-kata Alex justru membuat air mata Kayla jatuh mengaliri pipinya. Alex pun semakin merasa buruk, ia lantas mengangkat kedua tangannya untuk menghapus air mata itu.


"Sayang, air mata kamu ini lebih membuatku takut ketimbang kemarahan papa. Aku janji, hubungan kita bakal baik-baik aja."


"Jangan janji Al! Kamu benci janji kan, kenapa kamu bikin janji sama aku? Aku takut janji itu gak-.."


"Ssst.. sayang pliss, jangan begini dong.. aku tau aku salah, aku pasti perbaikin semuanya. Jangan nangis lagi, oke! Kamu gak mau aku lemah kan?" Kayla mengangguk. "Kalo gitu udah nangisnya ya...aku gak bisa apa-apa tanpa support kamu." ucap Alex lembut, dengan tangan yang masih menempel pada kedua pipi Kayla.


Kayla menurut saja, ia berhenti menangis dan mulai menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. Alex pun tersenyum lega.


"Kamu harus ingat, apapun yang terjadi.. aku selalu mencintai kamu. Rintangan apapun yang bakal ngehalangin cinta kita, aku pasti beresin semuanya. Cintaku tulus Miss Kissable, dan itu gak akan berubah."


.......


.......


.......


(****Flashback**** On)

__ADS_1


Nadia duduk berhadapan dengan Pak William di ruang kerja khusus bos nya itu. Sesuai niatnya, Pak William membahas persoalan yang kemarin ia bicarakan dengan Alex. Nadia cukup terkejut saat Pak William mengaku tak tahu menahu tentang papi Kayla, bahkan ia baru mengetahuinya kemarin saat Alex menceritakan tragedi yang dialami Kayla. Nadia pun mulai gelisah setelahnya, apalagi kemudian Pak William mengungkapkan keberatannya akan lanjutan hubungan Alex dengan Kayla.


"Maksud Bapak apa Pak?" tanya Nadia dengan perasaan tak menentu.


"Ya, saya rasa itu yang terbaik. Kamu tau Alex kan, dia pewaris saya satu-satunya. Citra baik keluarga bergantung padanya, saya nggak akan mengambil resiko dengan melanjutkan hubungan ini. Saya tau kamu dan Kayla orang yang baik, tapi tetap aja.. " Pak William menjeda kalimatnya, menghembuskan nafas. "Kamu pasti mengerti, selain kami ini selalu disorot, saingan bisnis kami juga pasti nggak akan diam begitu saja. Maaf Nadia, saya nggak bermaksud menyalahkan kamu dan Kayla, tapi bagaimanapun juga.. siapa papinya Kayla nggak bisa diabaikan."


Nadia tertegun, nyeri sekali hatinya mendengar kata maaf seperti ini dari calon besannya. "Tapi Pak, papinya Kayla sekarang dipenjara. Saya jamin dia gak akan mengganggu Kayla lagi, apalagi merusak hubungan Kayla dan Alex. Saya.. saya harus ngomong apa sama anak saya kalo begini, Pak."


"Saya tau, tapi saya juga paham betul orang-orang seperti mereka, meskipun papi Kayla sudah dipenjara, saya tetap tidak bisa menyepelekan soal ini. Dan saya.. juga berat melakukan ini, Nadia. Karena saya kenal Kayla, saya sebenarnya nggak tega menyakitinya. Tapi.. inilah jalan terbaik yang bisa saya ambil."


Nadia tercekat. "Apa gak ada solusi yang lebih baik Pak, tanpa harus mengorbankan hubungan mereka."


"Saya rasa kamu bisa mengerti alasan saya tadi." lanjut Pak William.


"Saya ngerti, tapi maaf Pak.. apa gak bisa Bapak mengalah untuk kebahagiaan anak sendiri?"


Pak William mengernyit, merasa tersindir lalu terkekeh. "Saya juga orang tua, tentu saya ingin anak saya bahagia. Tapi kadang kita harus mengesampingkan kesenangan demi kebaikan kan. Lagipula mereka masih sangat muda, biarkan mereka mengambil pelajaran dari pengalaman cinta mereka. Saya yakin, Kayla itu anak yang tegar dan kuat, pemikirannya bahkan lebih dewasa dari Alex. Jadi, dia pasti bisa melewati ini."


Nadia menghela nafas berat, sakit. "Saya juga percaya anak saya itu kuat Pak, tapi saya gak bisa biarin hubungan mereka berakhir. Tolong jangan hancurkan hati mereka Pak, mereka sudah saling mencintai dan bahagia." tutur Nadia parau.


"Saya nggak akan mengubah keputusan saya, Nadia. Yang saya lakukan ini demi kebaikan citra keluarga dan bisnis kami, dan juga demi masa depan Alex. Alex dan Kayla masih belum menikah, Kayla nggak akan kehilangan apa-apa kalo hubungannya dengan Alex berakhir. Ya saya tau mereka akan patah hati, tapi bukan berarti itu akan menghambat pertumbuhan mereka kan, bukan berarti juga masa depan mereka akan hancur kan."


"Kayla dan Alex akan sama-sama merasa kehilangan, Pak. Saya kira Bapak ngerti perasaan mereka."


"Tapi saya ingin mereka lebih mengerti keadaan dan memikirkan kebaikan, dibanding harus mengedepankan perasaan. Itu akan membuat mereka semakin dewasa."


Nadia ingin terus menentang sekaligus memohon, tapi hatinya sudah terlanjur sakit sehingga lidahnya kelu.


"Saya sudah meminta Alex untuk membicarakan ini juga dengan Kayla." Nadia terbelalak mendengarnya, kepalanya menggeleng-geleng lemah.


"Sekali lagi maafkan saya Nadia. Saya nggak bisa membiarkan hubungan ini berlanjut. Bicarakan hal ini pada kakak kamu, nanti saya akan berkunjung ke rumah kamu untuk memutuskan hubungan anak-anak kita secara resmi."


Duaaarrr..........


(Flashback Off)


"Hiks.. hiks.." Nadia memeras cairan hidungnya yang tiba-tiba melimpah setelah ia menangis.


Di depannya, sang kakak duduk terdiam. Beberapa menit yang lalu Nadia menemuinya dan curhat tentang masalah yang tengah Nadia hadapi. Sang kakak yang bijaksana itu kini terdiam sambil berpikir, ia juga gelisah tapi ia tidak mau sampai salah bicara apalagi salah mengambil keputusan, yang nantinya akan semakin merugikan sang adik dan keponakan. la harus berhati-hati dalam mencari solusi terbaik dari masalah ini.


"Mas, aku harus gimana..?" rengek Nadia.


"Gimana kondisi Kayla?" tanya lwan.


"Lily belum tau apa-apa kayaknya Mas. Semalam aku coba tanyain dia malah bingung, jadinya aku gak jadi ngebahas."


"Maksud kamu.. Alex belum ngomong sama Kayla?"


"lya kayaknya Mas. Lily bilang kemarin mereka baik-baik aja kayak biasa, gak ada masalah."


"Kemarin. Hari ini?" tanya lwan lagi.


Nadia terdiam, ia mewek lagi. "Hari ini..?" gumamnya cemas. "Mas, apa menurut kamu Alex akan nurutin kemauan papanya? Apa Alex tega nyakitin Lily? Alex itu sayang banget sama Lily, Mas." kata Nadia serak.


Iwan mengangguk, "Kamu benar Nad, aku rasa Alex gak akan tega nyakitin Kayla. Mungkin itu juga alasannya kenapa kemarin dia belum ngomong sama Kayla, tapi kita gak tau apa yang terjadi hari ini."


Nadia kembali terisak. Iwan mengelus pundaknya, menghibur. "Kita harus bicara sama Alex, Nad."


Nadia menggeleng lemah. "Mas aja. Aku gak kuat."


"Oke. Mas akan bicara sama Alex, tapi usahain kamu cari tau gimana tanggapan mamanya Alex ya!"


Nadia terdiam, mengernyit bingung. "Mamanya Alex?"


"lya. Kita belum tau gimana tanggapan mamanya Alex soal ini. Harusnya Pak William gak ngambil keputusan sebesar itu tanpa mamanya Alex kan?"


Nadia mengangguk, "Baik, Mas." jawabnya lemah.


.......


.......


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung...


__ADS_2