Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Tertekan


__ADS_3

Alex melajukan motornya begitu kencang, tak peduli apapun. Ia berteriak sejadi-jadinya meluapkan segala amarah dan kepedihan hatinya. Ia begitu marah dan sakit hati.


Anak mana yang tidak mencintai orang tuanya. Sesungguhnya Alex mencintai mamanya, ia sangat menyayanginya. Namun apa yang dilakukan mamanya, sangat.. sangat.. sangat.. mengecewakan Alex.


Selama 8 tahun hidupnya bersama mama dan papanya sangat bahagia, ia mendapatkan banyak cinta dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Papa dan mamanya selalu terlihat sebagai pasangan yang sempurna dimata Alex, mereka saling mencintai dan menghormati, mereka orang tua yang sempurna bagi Alex.


Setelahnya Alex melihat mama mulai berubah, banyak berubah, dan membuatnya sedih.


Mama dan papa mulai sering bertengkar, tidak ada yang bisa Alex lakukan selain menangisi kondisi kedua orang tuanya. Sebelumnya Alex tidak pernah melihat papa marah pada mama dan sebaliknya mama juga tidak pernah marah pada papa. Tentu pertengkaran papa dan mamanya menyakiti hati Alex, bukan hanya hatinya tapi juga psikis dan mentalnya.


Terlebih, saat kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan hidup terpisah. Bagaimana Alex bisa menjalani hidup terpisah dengan papa, atau dengan mamanya. Alex dipaksa oleh keadaan, dipaksa memilih tinggal bersama papa? Atau bersama mama?


Dalam situasi tertekan, disaat Alex sangat membutuhkan ketenangan dan hiburan, pelipur laranya -Oma- yang sangat menyayanginya yang selama ini menghiburnya, kini tengah sakit parah.


Alex lebih banyak menghabiskan waktunya merawat Oma, terlebih disaat-saat terakhir Oma. Alex mencoba menekan rasa pedih dan duka hatinya dengan tinggal bersama Oma. Sampai suatu hari, kurang lebih dua minggu setelah perceraian kedua orang tuanya, Alex dan Oma mengetahui fakta yang begitu menyakitkan. Fakta yang menjadi penyebab bercerainya papa dan mama.


Mengetahui fakta itu, Alex semakin hancur, bahkan kecewa, sangat kecewa. Dan Oma, tiba-tiba Oma terkena serangan jantung dan kejang-kejang, kondisi Oma semakin memburuk. Oma tidak bisa menerima kenyataan berat itu, sehari setelahnya Oma pun meninggal.


Alex semakin terpuruk, dan papa juga. Bagaimana tidak, mereka tidak pernah menduga hal itu dari mama. Mama berselingkuh, mama punya pria lain dan mereka menjalin hubungan diam-diam selama ini, mereka saling mencintai dan bahkan mama tengah hamil ketika mereka mengetahui fakta itu, mama mengandung anak dari pria itu.


Mama yang Alex cintai, mama yang Alex banggakan, tega melakukan hal itu? mengkhianati papa? Tega mengecewakan Alex?


Alex benci keadaan seperti ini. Keluarga yang berantakan, karena pengkhianatan mama. Papa yang merasa ditipu tentu saja sangat terpukul hatinya, Oma yang sudah kecewa pun sampai patah semangat dan menutup mata untuk selamanya.


Mengingat semua itu hanya menambah luka dihati Alex, luka lama pun masih menganga bagaimana Alex bisa tahan jika luka itu bertambah besar. Mengingatnya saja Alex tidak tahan, apa lagi jika melihat sang mama yang menjadi penyebab dirinya terluka.


Dan malam ini, Alex melihatnya. Bukan bersama pria yang menjadi alasan pengkhianatannya dulu, tapi pria baru yang entah itu pria ke berapa. Sebelumnya Alex juga pernah melihat sang mama bersama seorang pria, dan malam ini saat mereka bertemu lagi mama tidak bersama pria yang waktu itu.


Entah kemana pria bernama Vino itu. Pria yang dulu sangat mama cintai, yang dulu mama banggakan, yang dulu selalu mama bela-bela, yang dulu deminya mama menghancurkan kebahagiaan keluarga sendiri.


Pria yang selalu mama dambakan akan hidup bahagia bersamanya selamanya, pria yang membuat mama berubah, pria yang membuat Alex kehilangan cinta mama.


Pria itu, yang entah apa dan bagaimana ia bisa meninggalkan mama sekarang. Dia menyakiti mama? Atau mama yang menyakitinya? Entahlah.


Setelah mama memberikan seluruh hidupnya pada pria itu, setelah mama megorbankan putranya dan suaminya demi dia, demi hidup bersamanya dan anak-anak mereka. Ternyata akhirnya ikatan dan hubungan mereka kandas juga.


Alex memang sudah mengetahui kandasnya hubungan sang mama dan Vino, pria yang dicintainya itu. Anak kembar mereka, Sita dan Fita yang memberitahu Alex, bahwa mama dan papanya berpisah setahun yang lalu.


Alex memang tidak dekat dengan Sita dan Fita, bahkan Alex juga tidak menyukai keduanya. Tapi terkadang kedua adiknya itulah yang datang menyambangi Alex, mereka selalu mencoba mendekati Alex. Mungkin setelah orang tuanya berpisah, keduanya merasa kurang kasih sayang dan berharap bisa mendapatkan itu dari Alex, yang notabenenya adalah kakak se-ibu mereka.


Karena terlalu larut dalam bayangan luka masa lalu, Alex yang berkendara dengan kecepatan penuh tak menyadari bahwa dari arah berlawanan sebuah truk menuju ke arahnya. Saat truk sudah benar-benar dekat dan mengklakson berkali-kali, barulah Alex menyadarinya. Dengan cepat dan reflek Alex berusaha memutar stang kendaraannya ke arah tepi jalan, dan...


Brrakkkk!


Duggh!!


Aaaakhhh.....


"ALEX.......!!!" jerit Bima, Sandi dan Vicky histeris, mereka buru-buru menghentikan kendaraan masing-masing dan berlari menghampiri Alex.


Beruntungnya Alex sempat melompat sesaat setelah ia meng-rem motornya mendadak. Dengan lompatan reflek sebisanya, ia jatuh terkapar di rerumputan taman kota di tepi jalan, dan motornya menabrak pohon Tanjung besar di tepi jalan. Sedangkan truk yang hampir bertabrakan dengan Alex hanya oleng sekidit karena panik dan kalang kabut, tapi masih bisa terkendali. Dan truk itu pun kembali melaju tanpa hambatan.


"Al...."


"Elu gak papa Al?"


"Al, lu masih sadar kan?!" Bima, Sandi, dan Vicky menyerbu Alex yang terkapar dengan luka di kening dan lengannya, juga sebelah tangan yang keseleo karena terbentur pohon dan terpelanting jauh dari motornya.


Ketiga temannya langsung membawa Alex ke klinik terdekat, karena kondisinya tidak terlalu parah. Alex tidak sampai pingsan, hanya lemas karena kaget dan syok saja atas insiden mendadak itu.


Setelah mendapat penanganan dokter di klinik tersebut, Alex langsung diperbolehkan pulang. Ketiga temannya mengantarkan sampai ke rumahnya. Alex dibonceng Sandi, karena motor Alex ringsek di beberapa bagian akibat tertabrak pohon.


"Elu gak usah mikirin macem-macem dulu, Al" ujar Vicky lirih sembari duduk di tepi ranjang Alex.


Alex, sejak kecelakaan kecil tadi hanya diam mematut wajahnya. Hingga diantarkan teman-temannya sampai ke kasur dan berbaring pun ia tetap tak bereaksi. Ketiga temannya tentu paham kalau Alex merasa tertekan setelah bertemu sang mama.


Alex memang selalu terbuka kepada ketiga temannya itu dalam hal apa pun, jadi mereka pun tahu tentang seberapa buruk hubungan Alex dan sang mama.


"Iya, lu istirahat aja Al." imbuh Bima.


Alex menatap satu persatu wajah teman-temannya, ia melihat kekhawatiran dimata mereka. Alex tersenyum tipis, setidaknya ia mempunyai Bima, Sandi dan Vicky disisinya ketika ia dalam keadaan gundah seperti sekarang.


"Gue gak papa, kalian pulang aja." ucap Alex, suaranya terdengar parau.

__ADS_1


Setelah saling melemparkan pandangan satu sama lain, akhirnya ketiga temannya pun pamit pulang.


"Thank You...." lirihnya pelan, saat ketiga temannya sudah keluar dari kamarnya.


... _________________...


Kayla yang baru sampai ke kelasnya tersenyum lebar kemudian duduk dibangkunya, menyapa Nia dan Adit yang sudah datang lebih dulu.


"Pagi, Nia..Adit..!"


"Pagi..." jawab keduanya serentak.


"Kamu keliatannya senang banget Kay?"


"Iya Dit, ini udah seminggu kan aku sekolah disini, dan hari ini aku bebas dari peraturan piket seminggu nya Jessica." ucap Kayla sumringah, disambut senyuman kedua temannya.


"Kalo gitu selamat ya Kay.."


"Makasih Nia.."


"Emmm... aku tau, makanya kamu hari ini dateng telat kan, karena kamu gak piket."


"Enggak telat kok Dit, cuman agak belakangan aja.." sahut Kayla cengengesan.


Hanya berselang beberapa detik setelah itu bel masuk berbunyi. Hari ini mata pelajaran pertama adalah olahraga, seluruh murid kelas XI berbondong-bondong melangkah menuju loker masing-masing dan mengganti pakaian mereka.


Kayla kesulitan membuka pintu lokernya, ia sudah memutar kuncinya berkali-kali dan menarik gagangnya dengan susah payah tapi entah kenapa pintu itu sangat berat dan susah dibuka, padahal seingat Kayla baru sekali ia pernah memakai lokernya itu sebelumnya, dan ia juga sudah menguncinya dengan baik.


Braaaak......


Sentakan terakhir Kayla pada pintu lokernya membuat pintu itu lantas terbuka dan menghamburkan seluruh isinya. Mata Kayla terbelalak melihat sesuatu yang berhamburan keluar dari dalam lokernya.


"Apa apaan ini.. sampah?!" gumam Kayla tak percaya, begitu banyak sampah di dalam loker Kayla, dari sampah kering sampai sampah basah memenuhi lokernya dan kini berserakan sampai mengenai sepatu Kayla.


Kayla meringis dan menatap kecut ke arah lokernya yang dipenuhi sampah itu. Perlahan Kayla mengikis dan membersihkan sampah-sampah itu, sampai ia menemukan sesuatu yang dicarinya. Baju kaos seragam olahraga Kayla, yang sudah kotor dan bau akibat tertimbun sampah-sampah itu. Kayla hanya bisa mengdengus pasrah.


Mau bagaimana lagi, seragam olahraganya sudah kotor, tak mungkin ia memakainya. Terpaksa Kayla harus turun ke lapangan tanpa kaos seragam olahraganya.


Kayla berlari menuju lapangan dan bergegas bergabung di barisan teman-teman sekelasnya, Ia pun langsung jadi pusat perhatian. Karena semua murid fokus pada guru olahraga mereka yang sedang mengabsen, lantas langkah kaki Kayla yang terdengar nyaring dan terburu-buru itu mengundang penasaran sebagian besar dari para murid, selain itu ia datang terlambat dan tanpa kaos seragam olahraga.


Kayla terkesiap dan mulai melangkah ke arah Pak Bayu yang berdiri di depan menghadap para muridnya.


Kayla menghentikan langkahnya di depan Pak Bayu, ia mendongak mencoba melihat ekspresi wajah Pak Bayu, yang ternyata lumayan membuatnya gentar, ia tersenyum kikuk ke arah Pak Bayu. "Mudah-mudahan gak dihukum" batin Kayla.


Entah kenapa, Kayla merasa setelah Kayla tersenyum, Pak Bayu agak merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih santai meskipun masih datar. "Kamu murid baru? Mana baju olahraga kamu?"


Kayla menangguk sebelum menjawab, "Maaf Pak, baju olahraga saya kotor"


"Kenapa bisa kotor?"


"Ketimbun sampah, Pak" jawab Kayla jujur.


Pak Bayu mengernyit bingung, begitu pula dengan siswa-siswi kelas XI yang berbaris di lapangan. Di antara mereka ada yang menyimak perkataan Kayla, ada juga yang cuek-cuek saja.


"Maksudnya?" tanya Pak Bayu


"Jadi begini, Pak. Pas saya mau ganti baju, saya buka loker saya, ada banyak banget sampah disana. Bahkan sampe jatuh berserakan, tuh kena sepatu saya" ujar Kayla seraya menunjuk sepatunya, membuat mereka yang mendengarkannya pun menoleh ke arah yang ditunjuk Kayla, termasuk Pak Bayu.


"Nah otomatis baju olahrahraga saya yang ada di dalam sana ketimbun sama sampah-sampah itu, jadinya kotor deh Pak, bau lagi." cerita Kayla.


Alex dan teman-temannya yang sejak tadi menunggu ocehan Kayla selesai hanya berdiri malas di barisan mereka, begitu juga Jessica Cs.


Pak Bayu mengangguk, mengerti penjelasan Kayla. Tapi detik berikutnya ia menatap heran ke arah Kayla. "Gimana bisa ada sampah di dalam loker kamu?"


"Saya gak tau, Pak. Sebelumnya saya baru pernah sekali makai loker itu, kan saya murid baru. Saya juga belum pernah makai baju olahraga saya itu, masih baru. Seharusnya baju itu masih utuh sama plastik sachetnya, tapi tadi pas saya cek udah gak ada plastiknya lagi." jelas Kayla panjang lebar.


"Halaaah.. palingan itu alasan dia doang Pak, dianya aja yang jorok. Pake segala sampah dimasukin ke loker." sergah Bima.


"Saya gak bohong, Pak. Tadi saya bersihin sampah itu dulu baru kesini, makanya saya telat. Bapak liat kan sepatu saya basah, itu baru saya cuci Pak soalnya tadi kotor kena sampah juga." bantah Kayla cepat, seraya mengangkat alisnya tinggi-tinggi menatap wajah Pak Bayu serta menganggukkan kepala sembari menjelaskan.


"Keliatan kan Pak capernya. Dasar cewek!" timpal Alex.


Sebagian para siswi nampak setuju dengan perkataan Alex, karena mereka tentu mengerti maksud caper itu. Cari perhatian Pak Bayu adalah hal yang umum dilakukan sebagian para siswi, bukan tujuannya ingin dipandang sebagai murid yang taat atau rajin, tapi agar Pak Bayu tertarik pada mereka.

__ADS_1


Karena Pak Bayu adalah guru termuda dan tertampan di sekolah ini. Pak Bayu adalah seorang pemuda tampan berusia 26 tahun yang masih single, berperawakan tinggi besar dan tubuh yang atletis, sangat pas dengan profesinya sebagai guru olahraga. Tentu banyak mata para gadis yang terpesona dengan keelokan wajah dan tubuhnya itu.


Selain itu, Pak Bayu orangnya loyal dan mudah akrab dengan siapa pun. Dan itu dijadikan peluang bagi para gadis untuk bisa mendekatinya, tapi sepertinya, sampai sekarang belum ada gadis yang berhasil membuatnya jatuh hati.


"Enggak. Saya gak ada maksud caper-caper kok, Pak. Saya ngomong yang sebenarnya, emang begitu kok kejadiannya." bantah Kayla lagi.


"Jangan mau dikibulin sama muka polosnya Pak, dia cuman cari alesan biar gak dihukum." Sandi ikut menimpali.


Kayla menggeleng cepat dengan ekspresi cemasnya menatap Pak Bayu. "Kenapa sih mereka hasud-hasud Pak Bayu, mereka gak bosen apa ngerecokin aku mulu, semoga aja Pak Bayu percaya sama aku." gumam Kayla dalam hati.


Pak Bayu mengangkap sebuah keseriusan dimata Kayla, lagi pula siapa yang tidak tahu Alex dan teman-temannya itu. Mereka memang suka membuat orang berada dalam masalah, tidak menutup kemungkinan jika mereka lah yang membuat murid baru ini dalam masalah sekarang.


"Baiklah. Karena kamu murid baru, dan ini hari pertama kamu mengikuti mata pelajaran saya.. kamu boleh langsung masuk barisan."


Kayla menghela nafas lega dan senyumnya mulai terbit. "Saya dimaafin Pak? saya diizinin ikut olahraga?" Kayla masih tak percaya.


Pak Bayu tersenyum tipis seraya mengangguk. Sedangkan Alex dan yang lain nampak tak terima mendengarnya, bukan hanya Alex dan ketiga temannya saja, tapi juga siswa yang lain, bahkan sebagian besar para siswi juga menatap tak percaya pada Pak Bayu.


Pasalnya, Pak Bayu bukan tipe orang yang mudah memaafkan kesalahan seperti itu. Murid yang melanggar aturan, apa pun alasannya tak pernah ada yang bebas dari hukuman. Dia memang orang yang ramah, tapi juga tegas dalam beberapa situasi, terutama dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang guru.


"Loh, kok gitu Pak?! Gak fair lah.." protes Alex.


"Iya Pak, dia telat loh.. gak pake baju olahraga lagi." Jessica akhirnya angkat suara. Beberapa siswi lain mengangguk ikut menyetujui.


"Serius Pak, dia gak dihukum?" tanya siswi lainnya.


"Saya izinin dia ngikutin pelajaran saya, saya gak bilang kalo dia gak dihukum." sahut Pak Bayu datar, membuat semua murid heran, termasuk Kayla.


"Maksudnya Pak?" Kayla memberanikan diri untuk bertanya.


"Setelah pelajaran saya selesai, kamu lari keliling lapangan 20 kali."


"Yeee.....Hoo..."


Suitt suiiiit.....


Sontak terdengar suara riuh tepuk tangan, siulan dan teriakan dari para murid, membuat Pak Bayu agak terkesiap, begitu juga Kayla.


"Mereka sebahagia itu ya aku dihukum??" batin Kayla.


Alex memutar bola matanya jengah melihat perilaku siswa-siwsi yang berlebihan itu, alias lebay. "Ck.. hukuman segitu doang." gumamnya kecil sambil berdecak malas.


Setelah mata pelajaran olahraga selesai, Kayla menjalani hukumannya, berlari mengelilingi lapangan 20 kali.


"Huuffthhh....." Kayla menghembuskan nafasnya panjang, setelah menyelesaikan hukumannya.


Ia duduk di kursi yang ada pinggir lapangan, menstabilkan deru nafasnya dan menyeka keringat yang mengalir di kening dan lehernya. Ia lalu menunduk menatap kedua kakinya yang ia ulurkan.


"Nih..minum!" seseorang tiba-tiba duduk disamping Kayla dan menyodorkan sebotol air mineral.


Seolah dia tahu Kayla membutuhkan air untuk membasahi tenggorokannya yang hampir kering setelah tenaganya terkuras. Kayla tersenyum dan menerima botol itu tanpa melihat siapa si pemberi. "Makasih ya.."


Kayla segera membuka tutup botolnya lalu mengangkatnya, mensejajarkan dengan mulutnya bersiap untuk menenggak air segar itu. Sebelum Kayla meminumnya Kayla menyempatkan melirik ke samping ke arah si pemberi air itu.


Betapa terkejutnya Kayla melihat seseorang yang barusan memberinya air. Saking terkejutnya, Kayla bergerak reflek hampir berdiri, dan ia hampir saja melepaskan botol yang ia pegang, dan membuat air di dalam botol itu tumpah ke rok yang Kayla pakai.


Dengan sigap seseorang yang memberinya air itu menahan tangan Kayla dengan tangan kirinya agar Kayla tidak menumpahkan seluruh air yang ia pegang, dan tangan kanannya menahan bahu Kayla agar ia tetap pada posisinya.


Mata mereka bertemu pandang.


*Degg


Degg*


... ....


... ....


... ....


... ....


... ...

__ADS_1


... Bersambung...


__ADS_2