Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Tak Ingin Meninggalkan


__ADS_3

Kayla menghela nafas panjang sambil mendudukkan dirinya di bangku kelasnya. Ekspresinya lesu namun ia tetap tersenyum ramah pada teman-temannya. la mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kelasnya, ah ia rindu kelas ini. Berhari-hari tidak masuk sekolah gara-gara sakit hati, astaga... ia merasa konyol.


"Kay..!" seru Nia semangat, gadis itu bergegas menghampiri Kayla.


"Hai Nia." balas Kayla.


"Ya ampun.. kamu kemana aja sih, sakit ya?" Nia menempelkan punggung tangannya ke kening Kayla.


Kayla tersenyum, "I'am fine." sahut Kayla sambil mengedikkan bahunya.


"Maksudnya? Baik gimana, dari senin selasa rabu kamis kamu nggak masuk sekolah." sungut Nia ngegas.


Kayla terkekeh, "Ya.. yaudah lah. Aku udah baikan kok sekarang." Kayla malas curhat.


Nia memanyunkan bibirnya. "Enggak mau cerita nih..?"


"Kayla." Adit datang dan menyapa.


"Hai Dit." balas Kayla singkat.


"Kamu.. berhari-hari nggak masuk, sebenarnya ada apa sih?" tanya Adit khawatir.


Kayla tersenyum tipis. la ingat hari senin lalu Adit menelponnya karena tidak masuk sekolah. Kayla hanya bilang dia tidak bisa kemana-mana untuk sementara waktu, ia tidak memberikan alasan apapun mengenai dirinya kenapa tidak bisa masuk sekolah. Tentu saja Adit penasaran, dan juga khawatir setelah hari berikutnya pun Kayla tidak juga masuk sekolah.


"Aku..." Kayla melirik kedua temannya. "Maaf ya, aku nggak bisa cerita sekarang." ujar Kayla kecut.


Adit dan Nia saling melirik. "Kamu ada masalah Kay?" tanya Adit.


Kayla diam menunduk, membuat Adit dan Nia mengerti bahwa sebenarnya Kayla tidak sedang baik-baik saja meski dia terlihat sehat.


"Good morning Miss Kissable nya Alex..!"


Bima, Sandi, dan Vicky menghambur masuk ke kelas dan menghampiri Kayla. Kayla bingung bagaimana menanggapi mereka, ia hanya melihat wajah ketiganya satu persatu.


"Alex mana?" tanya Bima, membuat Kayla mengernyit.


"Kok tanya aku? Kan biasanya dia sama kalian" sahut Kayla.


"Nah justru itu, kita tanya elu karena Alex nggak sama kita. Dia nggak masuk sekolah berhari-hari, dan elu juga sama. Nah hari ini elu masuk sedangkan dia enggak. Siapa lagi yang bisa kita tanyain soal Alex selain calon istrinya" sahut Sandi.


Degg


Calon istri? Kayla mencelos mendengarnya. Jadi Bima, Sandi, dan Vicky tidak tahu masalahnya. Bahkan Alex tidak mengabari mereka kenapa dia tidak masuk sekolah. Tunggu! Alex juga tidak masuk sekolah berhari-hari sama dengan dirinya, artinya benar Mr Strawberry nya itu hanya menghabiskan waktu beberapa hari ini untuk berusaha menemui dirinya. Tapi.. hari ini pun dia tidak masuk? Padahal kan Alex sudah bertemu Kayla dan menjelaskan masalahnya. Ah Ya Tuhan... bagaimana Kayla bisa melupakan kejadian semalam, Om Iwan menghajarnya habis-habisan.


"Kay? Kok diam aja sih?" suara Vicky membuyarkan lamunan Kayla.


"Masa' kalian nggak tau? Kan bisa ditelpon." sahut Kayla.


"Udah.. tapi hp nya nggak aktif." timpal Vicky.


Oh, jadi selama ini hp Alex tidak aktif. Pantas saja Alex tidak sekali pun menghubungi Kayla. Tapi kenapa dia mematikan hp nya? Bukankah akan lebih mudah untuknya bicara pada Kayla jika dia menelponnya. Tidak harus bolak-balik ke rumah Kayla, menunggu hingga malam hari, bahkan diusir berkali-kali oleh Om lwan.


"Kay?" panggil Vicky lagi.


"Kenapa nggak kalian samperin ke rumahnya?" ujar Kayla.


"Udah. Dari senin, selasa, rabu, kamis, tiap hari kita samperin ke rumahnya. Tapi tuh anak nggak ada. Kita pikir.. kali aja kalian jalan bareng, kemana gitu.. spend time together. Ya nggak bro?" ujar Bima sambil menaik turunkan alisnya melirik Sandi dan Vicky.


Ketiga pria itu cengengesan, membuat Kayla mengernyit kesal. Mereka pikir apa? Memangnya Kayla dan Alex akan membolos sekolah hanya demi menghabiskan waktu berdua, begitu? Seandainya saja mereka tahu kalau sahabat mereka mengalami masalah serius, mungkin mereka tidak akan tertawa seperti ini.


"Tapi hari ini kalian belum samperin Alex ke rumahnya kan? Dia pasti udah ada dirumahnya kok."


Ketiga pria itu saling melirik dengan alis terangkat. Sementara Adit dan Nia hanya menjadi penyimak sejak tadi.


"Nah kan, elu tau soal Alex. Emang kalian kemana aja sih kemarin-kemarin?" tanya Sandi kepo.

__ADS_1


Kayla mendengus malas. "Aku cuman dirumah, nggak kemana-mana."


"Jadi.. Alex yang ke rumah elu?" pertanyaan menyebalkan lagi, dari Sandi.


Kayla diam, menatapnya malas.


"What? Maksudnya selama empat hari Alex nggak ada kabar itu.. dia di rumah lu? Nginep? Ngapain..?" Bima malah ikut-ikutan menyerbu.


Sementara yang lain menatap tanya ke arah Kayla.


"Apaan sih kalian?!" sewot Kayla.


"Yah, nyantai aja kali." timpal Sandi.


Kayla menarik nafasnya agar tidak terbawa emosi. "Plis, kalo kalian kepo samperin aja Alex! Tanya dia!"


"lya.. pasti kita samperin. Tapi btw.. elu sama Alex fine-fine aja kan? Muka lu ditekuk gitu..?" ujar Bima penasaran.


Kayla berdecak kesal, "Plis ya, bisa nggak kalian tuh nggak ngerecokin aku?! Nyebelin tau!" Kayla berdiri meninggalkan tempat duduknya, menghambur keluar kelas.


"Eh?" Nia terheran-heran melihat sikap Kayla. Begitu juga Adit.


"Loh?" Bima, Sandi, dan Vicky pun bingung.


"Kok ngambek? Emang gue salah ngomong?" ujar Bima.


"Ada yang nggak beres." Vicky berargumen.


... ....


... ....


... ....


(Flashback On)


"Lily, kamu mau sekolah sayang?"


"lya Mi. Lily udah baikan kok."' Kayla tersenyum, kemudian duduk di samping maminya.


"Kayla, Om sama mami kamu udah ngerencanain buat.. mindahin kamu ke sekolah lain." ucap Om Iwan.


Kayla terkesiap dan sedikit kaget. la melirik maminya, dan maminya mengangguk. "Loh, kenapa Om, Mi?"


"Kamu sama Alex kan..." Nadia bimbang melanjutkan kata-katanya.


Meski hanya sampai disitu kata-kata Nadia, Kayla bisa langsung menangkap maksud maminya dan Om nya. Pasti mami dan Om nya itu tidak mau Kayla bertemu dengan Alex, hubungannya sudah diakhiri, dan komunikasi diantara keduanya pun tidak baik. Mungkin mami dan Om lwan takut Kayla akan lebih sedih atau terluka jika terus bertemu pria itu, mengingat pertunangan mereka sudah dibatalkan, sedangkan keduanya saling mencintai. Kayla terdiam sambil menilik seragam yang ia kenakan.


"Lily baik-baik aja Mi, Om. Enggak usah khawatir, Lily tau harus gimana ngehadapin Alex"


"Lily, mami nggak mau kamu semakin terpuruk. Mami nggak mau kamu disakitin lagi" Nadia mengusap kepala Kayla.


"Kalo Lily terpuruk, Lily nggak akan masuk sekolah hari ini Mi. Mami sama Om khawatir Lily ketemu Alex kan, tapi Lily ke sekolah itu nggak niat buat ketemu dia kok. Lily pengen sekolah dengan normal, pengen menuntut ilmu. Enggak masalah kalo harus ketemu Alex. Lily udah siap kok sama apapun yang terjadi selanjutnya. Tenang aja ya Mi, Om!"


"Tapi Kayla, kalo kamu pindah ke sekolah yang baru.. kamu akan lebih mudah move on dari Alex"


Kayla terdiam. "Move on?" batinnya mencelos seketika. la sama sekali belum berniat untuk move on dari Alex.


"Maksud Om, gimanapun juga kan hubungan kamu sama Alex itu udah berakhir, jadi lebih baik kalian saling menjauh dan melupakan satu sama lain." sambung Om Iwan.


Kayla menelan salivanya berat.


"lya sayang, mami nggak mau kamu keinget-inget dia terus apalagi soal kata-kata Pak William. Udah cukup kamu menderita, mami nggak mau lagi liat kamu sedih. Kalo kamu jauh dari dia, kamu bisa mulai hidup kamu yang baru, di sekolah baru dan teman-teman baru"


Tidak! Kayla tidak mau, Kayla tidak siap untuk itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat Nadia dan Om Iwan mendengus sambil saling melirik.

__ADS_1


"Lily nggak akan ninggalin sekolah itu cuman demi ngejauhin Alex, dan Lily nggak mau ninggalin teman-teman Lily Cuman gara-gara Alex. Lily bisa kok ngelupain semua pengalaman buruk itu tanpa harus pindah sekolah atau cari teman baru."


"Kayla, Om tau kamu anak yang tegar. Tapi masalah kali ini kan beda, ini baru buat kamu. Melupakan pengalaman buruk itu nggak semudah yang kamu kira, Om nggak mau kamu ngalamin kejadian kayak gitu lagi dikemudian hari. Lebih baik kamu tinggalin semua itu sekarang Kayla, itu akan memudahkan kamu"


Kayla diam. la melirik maminya, tangan maminya itu menepuk-nepuk lembut pundaknya. "Om Iwan benar, sayang"


"Mau ya?!" bujuk Nadia hati-hati.


(Flashback Off)


Kayla menghela nafas panjang. la memang sempat bimbang tadi pagi, karena itu ia tidak menanggapi lagi bujukan Mami dan Om nya. Tapi sekarang Kayla memutuskan untuk menolak kemauan Mami dan Om nya itu. Hari ini ia banyak diam dan melamun di sekolah, meski ia tidak sendirian. Nia dan Adit selalu menemaninya, mereka dengan sabar dan pengertian mau menanti Kayla siap membagi cerita dengan mereka. Kayla tidak mau meninggalkan mereka dan pergi ke sekolah yang baru.


Memangnya kenapa jika ia terus bertemu Alex, Kayla rasa itu tidak masalah, ia malah suka itu. Hatinya selalu damai melihat wajah Alex, menyenangkan sekali jika melihat pria itu tersenyum. Memangnya kenapa jika hubungan mereka harus berakhir, itu bukan berarti Kayla harus menjauhi pria itu kan. Alex tidak menyakitinya, jika Kayla tersakiti.. itu karena perasaan yang tumbuh dihatinya. Alex juga tidak melakukan kesalahan, jadi kenapa dia harus dihukum dengan kepergian Kayla. Jika memang hubungan mereka tidak bisa diperbaiki lagi, maka Alex bisa jadi teman yang baik untuk Kayla kan.


Membayangkan semua itu.. berat bagi Kayla jika ia harus menjalaninya. Kayla tidak siap untuk itu semua, tapi mau tidak mau.. kemungkinan itulah yang akan ia hadapi. Kayla rasa.. hatinya akan lebih memilih menjalani kehidupan seperti itu daripada harus memulai hidup baru dengan melupakan semua kenangan-kenangannya bersama Alex di sekolah ini.


"Kay!" panggil Nia yang duduk disisinya.


"Ya?"


"Jangan ngelamun mulu dong. Nih ambil!" Nia memberikan sebutir permen ke tangan Kayla.


Kayla terkekeh melihat sebutir permen ditelapak tangannya. "Bete' ya Ni?"


"He'em, kamu diam aja sih dari tadi. Bosen tau, mana angkotnya nggak nongol-nongol lagi" gerutunya sambil mengedarkan pandangan ke jalanan.


Kayla tertawa kecil, "Disini kan bukan cuman kita berdua. Kalo bosen kan bisa ngajak ngobrol mereka tuh" Kayla menunjuk beberapa siswa yang juga duduk di halte, tidak jauh dari mereka.


Nia mengarahkan Pandangannya ke kanan, tepat dimana yang Kayla maksud. Disana ada seorang siswi dan tiga orang siswa yang duduk menunggu angkot, sama seperti Nia dan Kayla. Tapi mereka semua senior, Nia bahkan tidak hafal nama-nama mereka. Mau menyapa.. kan sungkan.


"Ntar dikira aku SKSD lagi." ujar Nia sambil memutar bola matanya malas.


Tett tet!!


Nia langsung berbinar melihat angkot yang ia tunggu-tunggu sudah datang. "Akhirnya..."


Nia melirik Kayla lalu berdiri. Namun sebelum Nia sempat berpamitan pada Kayla, seseorang menghampiri mereka.


"Kayla!"


Kayla terkesiap, ia lantas berdiri dengan berbagai pertanyaan bermunculan dikepalanya. "Om William?"


"Ayo ikut saya! Ada yang harus kita bicarain." ucap Pak William dengan sedikit senyuman di wajahnya.


Kayla dan Nia saling melirik. "Yaudah Kay, aku jadi nggak ninggalin kamu lama-lama di halte. Aku duluan ya! Mari Om.." pamit Nia.


Pak William tersenyum tipis menanggapi Nia, lalu kembali melihat Kayla. Kayla merasa canggung, perasaannya tidak nyaman saat ini. Kira-kira kenapa Om William tiba-tiba menemuinya? Menyusul ke sekolah pula. Ini sengaja, atau kebetulan? Dan apa yang mau dia bicarakan dengan Kayla, apa masih ada kaitannya dengan permasalahan yang lalu?


"Ayo Kayla!" ajak Pak William.


Bukan. Itu terdengar seperti sebuah perintah, bukan ajakan. Pak William berjalan mendahului Kayla setelah mengucapkan itu, dia masuk ke mobilnya yang terparkir di pinggir jalan, tidak jauh di depan Kayla. Baiklah, Kayla turuti saja. Meski ia canggung dan sedikit takut, ia harus menghadapi konsekuensi apapun yang bisa terjadi.


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...


*Hai readers tersayangku....!


Terima kasih banyak ya buat semua dukungan kalian..🙏😘

__ADS_1


Buat yg ngasih tip, nge'vote, like, dan komen di ceritaku satu-satunya ini, thanks you so much guys.....💞🤗


Semoga kalian suka sama Miss Kissable & Mr Strawberry yang aku suguhin, dukung aku terus ya guys..!


__ADS_2