Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Rencana Pernikahan Yang Terabaikan


__ADS_3

Alex meminta izin kepada Nadia untuk menemui Kayla, di sana juga ada Tio, Arsya, dan Riana. Sebelumnya saat Alex datang hanya ada Riana diluar ruangan, ketika Alex mengutarakan maksudnya untuk menemui Kayla, barulah Riana memanggil Tantenya ke dalam. Kini mereka semua berada di luar ruangan Kayla, Alex dihadapkan langsung dengan Nadia yang nampaknya ragu untuk mengizinkan Alex menemui putrinya.


"Mama kamu ngizinin? Feli tau?" Tanya Nadia.


"Tau Tante." Jawab Alex seraya mengangguk.


Nadia diam memandang Alex, menunggu lanjutan dari jawaban Alex karena Alex baru menjawab satu pertanyaannya.


"Mama.. emm.." Alex agak berpikir, "Kata mama, kalo Tante nggak keberatan..." Alex sungkan melanjutkan kata-katanya.


Nadia mendengus pelan. "Cuman sebentar. Dan nggak boleh deket-deket."


Alex lega, "Makasih Tante." ucapnya senang. Kemudian Alex menggulir roda kursinya menuju pintu ruangan Kayla.


"Tunggu!" Nadia menghentikan, membuat Alex berbalik.


"Jangan sentuh anak saya." kata Nadia datar.


Alex menarik sudut bibirnya, "Baik Tante." Angguknya. "Makasih."


Debaran kebahagiaan sekaligus kecemasan berkecamuk dalam dada Alex, ia begitu senang bisa bertemu Miss Kissable lagi namun sayangnya kondisi gadis itu tidak baik. Ketika Alex sudah berada didekat ranjang Kayla, ia terenyuh memandangi gadis itu. Hati Alex berdesir getir melihat keadaan Kayla, dengan berbagai macam peralatan medis yang menghiasi tubuh lemahnya.


"Miss Kissable, aku disini."


"Liat, aku udah pulih. Kamu kapan, hm? Cepat bangun ya, jangan bikin aku khawatir lama-lama." Alex mencoba bicara rileks dengan sesekali tersenyum, namun matanya mulai berair.


"Betah banget sih kamu rebahan aja berhari-hari, nggak pegel? Itu juga mata kamu emang nggak capek ya merem mulu, hm?"


Alex terdiam, ia teringat saat dulu ia dan Kayla dibawa kerumah sakit sepulang dari camping, lebih tepatnya sepulang keduanya pasca tersesat di hutan. Kala itu, Alex kira Kayla pingsan tapi ternyata tidak.


"*Kamu udah sadar? Hhh... aku lega." ucap Alex.


"Siapa bilang aku gak sadar?" sahut Kayla.


"Kamu tuh tadi pingsan Miss Kissable, aku minta maaf ya! Gara-gara aku kamu jadi kayak gini."


"Aku gak pingsan kok Al, cuman lemas aja. Dan ingat, ini bukan salah kamu."


"Gak pingsan gimana? Orang pingsan mana sadar kalo dia pingsan."


"Beneran Al, aku orangnya gak pingsanan, aku gak pernah pingsan sekali pun selama hidup aku. Dan tadi juga aku gak pingsan, aku sadar kok cuman lemes aja, jadi gak bisa ngapa-ngapain*."


Alex terkekeh, "Kamu bilang kamu nggak pernah pingsan kan? Sekarang juga kamu pasti nggak koma, kamu cuman lemes aja kan kayak waktu itu, hm? Ayolah Miss Kissable..."


Lama Alex memandangi Kayla, berbagai momen kebersamaan mereka bermunculan dibenak Alex bagai proyektor yang diputar ulang. Momen dimana saat sedih dan susah mereka bersama, ketika Kayla menangis saat dibully kemudian Alex menolongnya, ketika Alex merasa takut kehilangan Miss Kissable nya, ketika kecelakaan kecil terjadi saat mereka di hutan, dan ketika dibawah hujan Alex memeluk Kayla sambil menangis. Semuanya yang terjadi disaat-saat itu adalah salah satu alasan yang membuat Alex tidak bisa melupakan Kayla. Selain itu, kenangan ketika mereka melewati banyak hal lainnya bersama-sama, baik itu momen kebahagiaan ataupun mengesalkan, juga tidak bisa Alex lupakan. Kayla dan segala tentangnya adalah bagian dari hidup Alex, penyembuh bagi luka dan duka hatinya, mana mungkin ia terhapus dan hilang begitu saja.


Alex tahu, ketika ia mengambil keputusan untuk menemui Kayla hari ini, maka hatinya akan semakin berat melepaskan cintanya terhadap Miss Kissable. Alex tahu itu tapi ia tetap melakukannya. Hatinya sungguh tidak bisa sedikit saja tidak memperdulikan Kayla, ia tahu bahwa yang ia lakukan ini akan mempersulit hidupnya setelah hari ini. Pernikahannya dengan Feli tinggal satu bulan lagi, tapi ia lagi-lagi membuat calon istrinya itu terluka dengan perlakuannya ini. Alex kembali membuat Feli takut akan hubungan mereka yang semakin tidak baik seiring berjalannya waktu, Alex kembali membuat Feli bertanya-tanya akan keputusannya dan rencana pernikahan mereka. Bagaimana mereka akan menjalani hubungan dalam berumah tangga, jika sekarang saja masih ada penghalang diantara mereka. Masih ada tembok besar yang seolah mencegah keduanya bersatu, namun sesungguhnya penghalang itu bukan hal besar jika saja Alex mau menyingkirkannya dari jalan mereka. Tapi apalah daya, Alex kalah oleh cintanya. hari ini ia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menuruti keinginan hatinya.


Mungkin seandainya, ketika Alex dan Kayla disekap oleh King dan komplotannya.. Kayla menunjukkan ketidak pedulian pada Alex, maka tidak sesulit ini Alex mengendalikan perasaannya. Tapi sayangnya, kepedulian dan kekhawatiran Kayla ketika itu.. membuat Alex kembali merasa dicintai oleh Kayla. Air mata dan tatapan Kayla, membuat cinta dihati Alex yang ia coba kubur itu.. malah merekah bagai bunga yang mulanya layu berbalik menjadi subur. Alex tidak bisa melupakan pengorbanan Kayla saat melindungi dirinya dan mempertaruhkan nyawa untuknya. Memangnya Kayla bisa melakukan itu tanpa cinta?


"Miss Kissable, kamu masih cinta kan sama aku?"


"Selama ini kamu ngehindarin aku cuman karena terhalang restu aja kan?"


"Sebenarnya kamu juka tersiksa kan ngelepasin aku, iya kan?"


"Kalo kamu bilang pengorbanan kamu itu cuman atas dasar kemanusiaan.. aku nggak bisa percaya." Alex teringat saat Kayla menangis sambil memegang kedua sisi wajah Alex, setelah Alex dianiaya habis-habisan oleh anak buah King. "Tatapan kamu, air mata kamu, dan sentuhan kamu waktu itu.. itu cinta kan Miss Kissable?"


Lama Alex tenggelam dalam renungan perasaannya, ia kemudian menghembuskan nafas panjang. "Maaf kalo aku yang salah paham. Kamu masih cinta sama aku ataupun udah move on.. itu nggak penting kan Miss Kissable? Kamu pasti bakal ngomong gitu ke aku, kalo kamu bisa ngomong sekarang." Alex tersenyum masam.


"Buat aku, sekarang yang terpenting adalah kamu bangun, kamu sehat lagi Miss Kissable. Aku nggak akan minta hal lain selain itu."


Alex mendengus senyum lalu berbicara dengan nada yang berbeda, ekspresi wajahnya sedikit kesal tapi juga sedih. "Kamu tau Miss Kissable, sejak kamu tertembak waktu itu.. aku nggak bisa berhenti khawatirin kamu. Aku bahkan nggak mikirin diriku sendiri, aku nggak kepikir soal gimana sekolahku.. gimana rencana pernikahanku.. gimana kerjaanku.. enggak. Isi kepalaku cuman kamu, tau. Boleh nggak sih aku marah? Aku sebenernya pengen mikirin yang lain juga, tapi nggak bisa. Cuman kamu, semuanya kamu." nada suaranya terdengar mengeluh.


Kemudian Alex tertegun. "Gimana aku bisa hidup tanpa kamu?" gumamnya lirih setelah itu.


Klekk


Arsya membuka pintu dan masuk, membuat Alex tersadar dari renungannya.


"Kak, Tante Vanessa sama Mbak Feli nunggu di luar."


"Oh, iya makasih Sya." ucap Alex.


Arsya terus berjalan sampai ke samping Alex. Sebelum beranjak Alex kembali memandangi Kayla, lekat, seolah-olah setelah ini ia tidak bisa lagi memandangi gadis yang ia cintai itu.


"Arsya, boleh kakak tanya sesuatu?"


"Apa kak?"


"Kayla.. pernah nggak ngomong sesuatu soal kakak, ke kamu?"

__ADS_1


Arsya menoleh menatap Alex datar. "Kenapa kak?"


Alex diam.


"Apa itu penting? Kak Alex udah punya calon istri, lebih baik Kak Alex nggak flashback ke masa lalu lagi. Bukannya apa-apa sih Kak, sebagai teman aku ngerasa berhak ngingetin Kak Alex soal itu, walaupun aku nggak berpengalaman. Tapi aku-.."


"Kamu belajar itu dari Kayla, iya Sya?" sela Alex menebak.


"Jadi Kayla pernah ngomong soal kakak kan ke kamu?"


Arsya terdiam sebentar, berpikir. "Sebagai adiknya Kak Kayla, aku cuman mau kakakku bahagia tanpa menoleh ke belakang. Sekarang aku pengen kakakku sembuh dan tersenyum lagi. Aku nggak mau kehadiran Kak Alex bikin kakakku keinget masa lalu."


"Jadi sebenarnya Kayla masih ada perasaan kan ke kakak?"


Arsya mengernyit kesal, "Maunya Kak Alex apa sih? Nanya-nanya begitu maksudnya apa? Kak Alex tuh kesini cuman mau pamit aja, atau mau ganggu kakakku lagi sih? Mami ngizinin Kak Alex cuman karena kasian, dan karena keluarga Kak Alex itu baik. Kalo mami tau Kak Alex masih ngeharapin Kak Kayla.. mami pasti udah ngusir kamu Kak!" cicit Arsya marah.


"Maaf, Sya." Alex merasa salah, "Kakak cuman..." ia terdiam.


"Cuman belum bisa move on dari Kak Kayla?" tebak Arsya melanjutkan.


"Mau sampe kapan kak? Apa Kak Alex bakal jadiin kakakku alasan buat nyakitin Mbak Feli?"


Alex lantas menggeleng. "Enggak Sya, kamu nggak ngerti."


"Aku emang belum dewasa, tapi aku bisa mikir kak. Kalo keluarga Kak Alex tau Kak Alex masih berharap sama Kak Kayla, mereka akan nggak suka kan sama Kak Kayla? Walaupun Kak Kayla nggak salah, tetap aja yang keliatan buruk itu kakakku, bukan kamu."


Alex cukup tertampar dengan ucapan Arsya, tapi ia juga kagum dengan pemikiran adik Kayla ini.


"Seenggaknya aku belajar itu dari film yang aku tonton." gumam Arsya pelan tanpa melihat Alex. Alex jadi merasa sedikit lucu mendengar itu, tapi ia hanya menaikkan satu alisnya tanpa menimpali ucapan Arsya.


"Kakak tau itu nggak adil. Maafin kakak Sya, lupain aja kalo kakak pernah nanya kayak tadi sama kamu."


Arsya mengangguk dengan ekspresi seriusnya. "Ayo!" ajaknya kemudian, sedikit mendesak Alex karena merasa telah membuang waktu.


"Miss Kissable, aku pulang duluan ya. Kamu jangan lama-lama tidurnya, aku tunggu kabar baik dari kamu, hm! Nanti.. aku jengukin kamu lagi."


Arsya mendengus pelan melihat Alex bicara pada Kayla.


..._____________________...


Alex sampai di rumah, bersamanya ada papa, mama, dan Feli. Lengkap, seperti keluarga harmonis yang normal pada umumnya. Ya, andai saja begitu. Faktanya, papa dan mama Alex bisa berkompromi dan kompak akhir-akhir ini dikarenakan keadaan Alex. Dan Feli sebagai calon istri yang selalu mendampingi Alex, terlihat melakukan perannya dengan baik, namun hubungan keduanya tak lantas membaik seperti yang Feli harapkan.


"Aku bisa sendiri Fel." sergah Alex saat Feli mencoba membantunya berdiri dari kursi roda.


"Enggak usah Fel." Tapi Feli tetap melakukannya, ia membantu Alex bangkit lalu beralih ke ranjang.


"Makasih. Maaf aku ngerepotin kamu terus."


Feli tersenyum tipis, "Aku nggak ngerasa repot kok." katanya sambil meletakkan tas selempang miliknya ke atas nakas dekat ranjang Alex. "Bentar ya, aku ambilin minum."


"Kalo kamu capek, disini aja. Minta Bibik yang ambilin minum."


"Sekalian nyiapin makan siang kamu, biar bisa minum obat abis itu. Bibik pasti sibuk masak kan didapur."


"Pembantu disini banyak Fel, kamu nggak perlu repot-repot."


Feli menatap Alex, ia tersenyum sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada. "Kamu nggak mau aku capek, apa nggak suka aku ngurus kamu?"


Alex terkekeh, "ngambek nih..?" godanya.


"Serius aku nggak tega liat kamu capek, tapi bukan aku nggak suka kamu ngurus aku loh." ujar Alex santai.


Feli menaikkan alisnya, kemudian berbalik tanpa menimpali ucapan Alex lagi. Ia tetap ke dapur untuk mengambilkan minuman dan menyiapkan makan siang Alex.


"Serius aku nggak tega kamu capek ngurusin aku Fel, sedangkan aku selalu nyakitin kamu." gumam Alex sendiri, ia tersenyum masam. "Padahal kamu tulus sama aku."


Derrt... derrtt....


Suara dering ponsel membuat Alex mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tidurnya. Bukan ponsel miliknya yang berdering, pasti itu ponsel Feli. Ya, pandangan Alex terhenti pada tas selempang Feli diatas nakasnya. Haruskah Alex melihatnya, siapa tahu seseorang yang penting menelpon kan?


Karena letak tas Feli dapat dijangkau oleh Alex yang hanya duduk selonjoran di ranjang, ia lantas mengambilnya dan mengeluarkan ponsel yang berdering itu dari sana. Namun detik berikutnya panggilan yang masuk itu terputus sebelum Alex menjawabnya. Nama Kak Mita Vendor Pernikahan tertera disana, rupanya Kak Mita yang menelpon, dia teman dekat Feli yang mengurus vendor untuk acara pernikahan Alex dan Feli. Seketika Alex merasa terbangun dari mimpi panjangnya. Ia merasa terlalu lama tenggelam di dalam dunianya sendiri, dan mengabaikan Feli serta rancangan acara pernikahan mereka.


Alex kembali melihat ke layar ponsel Feli, ada dua chat dari Kak Mita. Dari notifikasi yang baru masuk itu Alex bisa melihat isi dari chat yang dikirim Kak Mita.


📱


"Fel, kamu serius mau nunda pernikahan kamu?"


📱


"Tante Arum sama Om Dhana emang setuju? Kayaknya kita harus ngomong deh."

__ADS_1


Alex terkejut. Feli ingin menunda pernikahan mereka, tanpa Alex tahu? Alex memutar otaknya mencoba mengingat apakah sebelum ini mereka pernah membicarakan perihal penundaan pernikahan atau tidak. Tapi Alex yakin tidak pernah, Feli tidak mengatakan apapun yang berhubungan dengan rencana pernikahan mereka selama di rumah sakit.


"Al." Feli masuk ke kamar Alex dengan membawa senampan makanan untuk Alex, lengkap dengan minuman dan obat yang tadi pagi diberikan Dokter untuk Alex.


Setelah menyajikan makanan yang ia bawa ke atas meja, Feli mendorong meja beroda itu ke dekat Alex. Sementara Alex memperhatikannya dengan ekspresi datar tapi sorot matanya penuh tanya.


"Apa, kok diem aja?" heran Feli. Lalu pandangannya teralih pada tangan Alex yang memegang ponsel miliknya.


"Sorry, tadi hp kamu bunyi. Kak Mita nelpon."


kata Alex membuat Feli kaku seketika.


"Kak Mita?" ulangnya agak gugup, ia duduk disamping Alex lalu mengambil ponselnya.


Kekhawatiran Feli tidak salah, setelah ia lihat layar ponselnya disana ada dua chat dari Kak Mita, yang pasti sudah dilihat lebih dulu oleh Alex.


"Kamu mau nunda pernikahan kita? Kok nggak bilang ke aku?" tanya Alex, membuat Feli deg-degan.


Feli menarik nafasnya agar kegugupannya hilang, "Kamu kan belum pulih Al." jawabnya tenang.


"Tapi pernikahannya kan satu bulan lagi, aku bakal pulih sebelum itu. Lagian ini kan cuman kakiku aja yang masih butuh perawatan, kamu nggak perlu ngorbanin pernikahan kita Fel."


"Bukan ngorbanin kok Al, aku mau kamu pulih dulu, baru kita pikirin soal pernikahan."


"Kita udah pikirin itu dari bulan lalu kan, kita juga rancang semua itu sama-sama, tinggal mulai jalanin persiapannya aja lagi. Semuanya bisa dihandle sama asistenku, kamu nggak perlu khawatir."


Feli diam, ia menghindari tatapan Alex dengan mengalihkan dirinya ke makanan yang ia bawa untuk Alex.


"Fel?"


"Tetap aja kan Al, papa sama mama kamu juga pasti mau fokus ke kesehatan kamu dulu, baru mikirin yang lain." Feli tak mengalihkan pandangannya dari makanan. Ia mulai menuangkan sup ke atas nasi.


"Kamu mikirin yang lain juga?" selidik Alex.


Feli tertawa kecil, "Yang lain apa sih.."


"Kamu mikirin keadaan aku, apa mikirin gimana perasaan aku ke Kayla?"


Degg


Feli terhenti dari aktivitasnya. Ia mematung dengan tatapan kosong ke makanan didepannya.


"Fel!" Alex menarik lengan Feli sehingga tubuh Feli terarah ke hadapannya. Mau tidak mau Feli pun melihat Alex.


Degg


Alex menatapnya. "Maafin aku. Situasinya kemarin.. bikin aku sibuk sama pikiranku sendiri. Aku tau ini nggak adil buat kamu, tolong maafin aku. Kamu pasti sedih karena itu kan?"


"Aku ngerti situasinya Al, makanya aku mikir.. lebih baik pernikahan kita ditunda dulu. Sampe kamu bisa rileks dan pulih, atau kita tunggu sampai Kayla sadar dulu dari koma nya. Kondisi Kayla sekarang itu ada hubungannya sama kita, dia berkorban buat kamu, dia nyelamatin Om William. Gimanapun juga Om William pasti ngerasa bertanggung jawab sama keadaan Kayla walaupun yang terjadi itu kecelakaan. Dan Tante Vanessa juga sayang kan sama Kayla."


Alex diam. "Enggak ada yang bisa fokus ke persiapan pernikahan kita Al, selama kondisi Kayla belum membaik. Aku juga enggak bisa, dan kamu apalagi kan." lanjut Feli.


Alex jadi merasa bersalah.


"Enggak papa Al. Lagian kan nggak mungkin kita tetap lanjutin persiapan pernikahan, enggak enak kan sama keluarga Kayla. Anak mereka sakit tapi kita malah sibuk sama kebahagiaan sendiri, itu nggak mungkin."


Untuk beberapa saat mereka berdua diam, saling menatap, saling mencoba memahami satu sama lain lewat tatapan itu. Alex menggenggam tangan Feli, ia merasa bersyukur sekali Feli begitu pengertian dan sabar menghadapi dirinya yang seperti ini. Meski Feli yang selalu tersakiti, dengan perlakuan Alex, juga dengan situasi saat ini yang diakibatkan dari penculikan itu.. tapi Feli tetap tegar dan bijak menyikapi semuanya.


"Makasih Fel. Makasih kamu mau bersabar dan ngertiin aku sekali lagi. Makasih."


Feli mendengus senyum. "Aku rasa itu udah tugasku deh, nggak perlu kamu berterima kasih terus."


"Oh ya? Berarti aku dong yang selama ini nggak pernah ngejalanin tugas aku..?" ujar Alex dengan ekspresi cengo yang dibuat-buat.


Feli tertawa kecil menanggapinya, "Bagus lah kalo sadar diri." goda Feli mencibir.


Alex pun mendengus senyum. "Sorry deh..."


"Semoga aja keadaan Kayla cepat membaik, dan pernikahan kita nggak perlu ditunda." ucap Alex nampak serius.


Feli menaikkan alisnya mendengar ucapan Alex. "Kok.. kedengerannya kayak kamu ya yang nggak sabar pengen nikah?"


"Hah? Hahahahaa......" Alex merasa geli sendiri menyadari kalimat apa yang sebelumnya ia ucapkan sehingga Feli mengambil kesimpulan begitu. Feli jadi ikut tertawa karenanya.


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2