
Nia, Anggita, Ayu, Ferdy dan Randa sampai di camp ground. Ternyata semua murid sudah berkumpul di sana, kelompok mereka lah yang pulang paling akhir.
"Kalian telat delapan belas menit, apa ada masalah?" Pak Erwin menyapa mereka.
Mereka saling melirik dengan ekspresi cemas. "M-..maaf Pak!" ucap Ferdy.
"Kami kehilangan satu orang teman kami diperjalanan Pak, makanya kami baru sampai." lanjut Ferdy.
"Trus gimana, apa sudah ketemu?" Mereka menggeleng lemah, membuat para guru bingung.
Para siswa yang menyimak obrolan mereka pun nampak tertarik. Adit menilik satu-persatu anggota kelompok yang baru datang ini, mereka teman-teman sekelasnya jadi tentu Adit mengenali mereka semua.
"Kayla?" tanya Adit mulai cemas.
Langsung saja Nia menangis setelah Adit menyebut nama Kayla, ia sudah menahan air matanya sejak tadi.
"Kayla ilang, Dit..." rengek Nia yang terisak.
"Apa? Hilang?" kaget Pak Erwin.
Semua orang pun nampak kaget mendengarnya. Jantung Alex serasa berhenti berdetak untuk beberapa detik setah mendengar kabar itu.
"Hilang gimana? Kalian sudah cari dia?" tanya Pak Bayu panik.
"Sudah Pak, tapi belum ketemu. Kita pikir karena hari udah mau gelap jadi kita pulang dulu buat ngelapor, kalo kita semua gak pulang bisa-bisa kalian cemasin kita semua kan? Tapi kita pasti cari Kayla sampe ketemu kok." jawab Ayu.
"Tolong jelaskan gimana sampe Kayla bisa ilang?" ujar Bu Weni tak kalah cemasnya.
"Tadi kita ketemu ular Bu, trus kita semua lari karena takut. Dan kita gak nyadar kalo Kayla gak lari bareng kita, kita gak tau dia kemana."
"Ular? Kalian ninggalin Kayla sendirian didekat ular itu?" Pak Bayu mulai emosi.
Nia, Anggita dan Ayu berjengkit takut melihat reaksi Pak Bayu. Alex mengepalkan tangannya dan mengernyit dalam. Sungguh ia ingin sekali marah, tapi ia tahan karena pasti akan terlihat aneh dimata semua orang jika ia marah karena mengkhawatirkan Kayla.
"Bu.. kita gak mau ninggalin Kayla kok, kita udah cari dia tapi belum ketemu. Kita juga khawatir banget.." rengek Nia disela-sela isakannya sambil memegang tangan Bu Weni karena merasa takut dan bersalah setelah dimarahi Pak Bayu.
"lya, ibu ngerti." ujar Bu Weni menenangkan.
"Dimana itu? Kalian liat ularnya dimana?" tanya Pak Erwin.
"Di dekat pohon yang ada tanda silangnya Pak" jawab Anggita.
"Yang ada tanda silangnya? Kalian lewatin daerah itu?"
"Enggak Pak, kita gak kesana kok. Pas kita liat tanda itu kita mau balik, tapi karena capek jadi kita istirahat di dekat situ. Kita liat ularnya di sana." jawab Anggita lagi.
Pak Erwin sempat terdiam bepikir, "Kalo kalian semua larinya ke arah sini, kemunginan Kayla bisa lari ke arah yang berlawanan karena dia gak bareng kalian kan. Tapi apa kalian liat, Kayla lari juga atau dia malah terjebak sama ular itu?"
Mereka terdiam, tidak tahu akan menjawab apa. Karena saat itu, mereka semua panik dan ketakutan jadi tidak bisa memperhatikan apapun.
"Nia? Ferdy? Jawab dong..!" Adit pun panik.
"Kita semua panik waktu itu Pak, jadi.." kata Ferdy kecut dan putus asa, ia hanya bisa melanjutkannya dengan gelengan kepala.
"Pak, saya liat Kayla lari juga kok. Tapi saya gak tau dia lari ke arah mana" ujar Anggita setelah mengingat-ingat.
"Kamu yakin Ta?" tanya Randa, Anggita mengangguk.
"lya aku inget. Waktu itu Kayla ada disamping kiri aku, sedangkan kalian semua di kanan aku kan. Dan ularnya jatuh ke bahu kiri aku, jadi Kayla langsung lari waktu itu" jelas Nia.
Pak Erwin menghela nafas panjang, "Mungkin dugaan saya benar. Kayla selamat dari ular itu, tapi dia lari ke daerah terlarang. Dia bisa saja tersesat."
"Daerah terlarang Pak?" bingung Adit.
"lya, kami sengaja melarang kalian semua untuk melewati tanda silang itu, karena di daerah seberang sana berbahaya. Ada binatang buas, dan di sana hutannya lebih lebat, kalian bisa saja tersesat kalo kesana." jelas Pak Erwin.
Nia semakin mengencangkan suara tangisannya. "Kayla..." lirihnya.
"Jadi maksudnya Pak, Kayla nyasar?" tanya Adit.
"Kemungkinannya begitu, kita harus cepat-cepat cari dia sebelum hari semakin gelap" kata Pak Erwin.
Pak Erwin dan guru-guru lain mulai beranjak menjelajahi hutan untuk mencari Kayla, sebagian besar siswa laki-laki juga ikut serta, sedangkan para siswi tidak diizinkan untuk ikut karena pencarian bisa saja sampai malam hari.
Sementara di camp ground para siswi dan beberapa orang siswa yang tinggal, hanya ditemani oleh dua orang guru.
.......
.......
.......
__ADS_1
Pencarian masih berlanjut, sebelumnya Pak Erwin sudah membagi para siswa dan para guru yang ikut bersamanya, menjadi empat kelompok. Masing-masing dikepalai oleh 2-3 orang guru, satu kelompok ke arah barat, dan yang lainnya ke arah timur, utara dan selatan.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 21.40, tapi pencarian belum menemukan hasil. Disamping cuaca yang memburuk dengan angin kencang, pencahayaan yang minim juga menjadi kendala. Dan mereka hanya berbekal senter ditangan masing-masing.
"Kalo sampe jam sepuluh belum ketemu juga, pencarian terpaksa kita lanjutin besok." ucap Pak Erwin.
"Tapi Pak Erwin, di cuaca seburuk ini dan kegelapan malam seperti ini, Kayla sendirian di tengah hutan. Itu bahaya, apa kita akan berhenti sebelum menemukan dia?" ujar Pak Bayu cemas.
"Justru karena cuaca buruk dan pencahayaan yang minim ini, kita sulit menemukannya, Pak Bayu. Akan beresiko kalo kita tetap melanjutkan pencarian malam ini juga, bisa saja salah satu kita yang celaka."
"Tapi Kayla gimana Pak?" tanya Adit.
"Semoga dia baik-baik aja. Besok kita lanjutin pencariannya!" ujar Pak Erwin final.
Pencarian pun dihentikan sementara karena cuaca yang tak memungkinkan, angin kencang yang cukup mengganggu penglihatan mereka, pencahayaan yang minim, juga jalur yang mereka lalui cukup berliku dan tidak aman untuk dilalui malam hari.
... ....
... ....
... ....
Setelah satu jam sejak Pak Erwin dan mereka yang mencari Kayla pulang ke camp ground, Bima, Sandi, dan Vicky nampak gelisah. Semua orang sudah masuk ke tenda masing-masing tapi mereka masih enggan.
"Alex kemana sih, kok gak nongol-nongol juga?"
"Tadinya gue pikir dia ikut nyari Kayla, tapi kan mereka semua udah pulang. Trus Alex kemana?"
"Kita cari aja kali ya?"
Ketiganya memutuskan untuk mencari Alex, tapi sebelum itu mereka harus mendapat izin dulu dari Pak Erwin selaku pembimbing mereka.
"Pak! Pak Erwin, udah tidur ya? Maaf ganggu bentar Pak.." ujar Bima dengan suara pelan di depan tenda Pak Erwin.
Pak Erwin pun membuka tendanya, dan menengok ke luar. "Hei kalian belum tidur? Ada apa?"
"Kita mau nyari Alex, Pak!"
"Nyari Alex? Emangnya dia gak ada disini, dia kemana?" bingung Pak Erwin.
"Yah.. kalo dia ada disini ngapain kita cari Pak. Dia gak ada, kita gak tau dia kemana. Makanya kita sekarang mau nyari dia." ujar Sandi.
Para guru dan beberapa siswa yang mendengar obrolan mereka pun ikut keluar tenda.
"lya Pak, Alex gak ada, makanya kita mau nyari dia" jawab Vicky.
"Loh.. gak ada gimana, sejak kapan?" tanya Pak Rudi.
"Kita sih masih liat dia pas mereka dateng ngelapor Kayla hilang, Pak. Habis itu gak tau lagi, kita pikir dia ikut nyari Kayla tapi sampe sekarang gak ada juga" jelas Bima, membuat Jessica yang mendengarnya lantas mendelik tak terima.
"Apa ada yang liat Alex?" tanya Pak Erwin lantang agar semua murid mendengar.
Sontak semua murid yang masih berada di dalam tenda pun keluar. Mereka yang sebelumnya ikut mencari Kayla mengaku tidak melihat Alex, yang berarti Alex tidak bersama mereka sebelumnya. Entah kemana dia, kini semua orang dibuat cemas dan geger oleh hilangnya Alex.
"Kalian yakin dia ikut cari Kayla?" tanya Pak Erwin.
"Gak yakin sih Pak, tapi kita gak liat dia abis itu." jawab Bima ragu.
Jessica tertawa kecil seraya menggeleng-geleng, tatapan sadisnya tertuju pada Bima, Sandi, dan Vicky. "Kalian yakin gak tau dia kemana?" ejek Jessica, membuat Bima, Sandi dan Vicky mengernyit kesal.
"Kalian kan teman dekatnya, masa' kalian gak tau kalo akhir-akhir ini Alex sering merhatiin Kayla? Dia pasti nyari cewek cupu itu, dia gak bakal diem aja setelah dia tau Kayla dalam bahaya." ujar Jessica penuh penekanan.
Bukan hanya ketiga teman Alex saja, semua yang mendengarnya pun nampak heran dengan yang dikatakan Jessica barusan.
"Elu ngomong apa sih Jes?" bisik Luna.
Tiba-tiba saja Bima, Sandi dan Vicky menggemakan tawa mereka. Mereka tertawa terbahak-bahak sampai orang-orang bingung melihat mereka.
"Elu ngawur Jes! Kita tau lu cemburu gara-gara jebakan gagal lu itu, tapi gak gini amat lah." ujar Bima menyela tawanya.
"Kita cuman ngira doang dia ikut nyari Kayla, meskipun itu gak mungkin. Apalagi yang lu bilang, Alex merhatiin Kayla??" timpal Sandi.
Mereka bertiga kembali tertawa.
"Apa benar Alex mencari Kayla? Dia belum balik ke tenda jam segini, apa dia juga khawatir sama Kayla, apa yang dibilang Jessica itu benar?" Gumam Pak Bayu dalam hati.
Pak Bayu kembali teringat saat kemarin Alex menyanyikan lagu dan terus menatap Kayla. Jika dilihat dari gelagatnya Alex memang memperhatikan Kayla, dan mungkin Jessica benar, Alex tidak akan diam saja ketika mengetahui Kayla dalam bahaya. Terdengar mengherankan memang, tapi itu masuk akal juga.
"Pak Erwin, kalo dugaan Jessica benar Alex sedang mencari Kayla, mungkin dia juga dalam bahaya. Sudah selarut ini dia belum pulang." kata Pak Bayu, membuat Bima, Sandi, dan Vicky menghentikan tawanya.
"Dalam bahaya, Pak? Belum tentu juga kok Alex nyari Kayla." ujar Sandi.
__ADS_1
"Benar atau enggaknya, masalahnya adalah ini sudah larut malam dan dia gak ada disini. Gak ada yang tau pasti dia kemana kan? Enggak aman kalo berjalan di tengah hutan malam-malam gini, sekarang kita harus mikirin dua orang yang hilang." Pak Erwin nampak frustasi.
"Tapi kalo emang Alex nyari Kayla, dan dia ketemu Kayla di tengah hutan.. itu lebih baik. Seenggaknya itu kemungkinan positif nya. Kita jangan terlalu panik dulu, biar kita bisa berpikir jernih." ucap Bu Fitri.
"Ya sudah, kita istirahat dulu. Besok pasti kita cari mereka berdua. kata Pak Sugi yang terlihat sangat lelah dan mengantuk.
Semuanya pun masuk ke tenda. Tapi tetap saja beberapa orang tidak bisa tidur dengan nyaman karena memikirkan keadaan dua orang yang masih tidak diketahui keberadaannya itu.
la duduk di pintu tendanya sambil menengadahkan kepalanya ke langit, memandang bintang-bintang. la tidak bisa tidur karena gelisah memikirkan keadaan Kayla, ia ingin terus mencari Kayla sampai ia menemukannya agar ia merasa tenang. Tapi tak mungkin ia melanggar aturan, Pak Erwin tidak membiarkannya pergi di malam selarut ini dan ia tidak mungkin membantah karena acara camping ini tanggung jawab pihak sekolah. la tidak bisa egois tapi juga tidak tega membiarkan Kayla sendirian di tengah hutan.
"Kayla.. kamu dimana? Apa kamu baik-baik aja? Hhh.... harusnya aku ada di samping kamu saat ini." gumam Adit lirih.
... ________________...
"Mami.." lirih Kayla disela-sela tangisannya.
Kayla duduk di bawah pohon dengan memeluk lututnya. la ketakutan dan kedinginan. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain menangis dan berdiam diri ditempat.
Setelah berlari menjauhkan diri dari ular yang ia dan teman-temannya temui siang tadi, Kayla terpisah dari mereka. la tidak tahu berada di hutan sebelah mana saat ini. Ketika ular itu jatuh ke pundak Nia yang berada tepat di sampingnya, Kayla berteriak histeris melihat ular itu menjulurkan lidah ke arahnya. la langsung berlari sekencang yang ia bisa, tidak peduli apapun karena saking syoknya. Saat ia berlari cukup jauh dan pikirannya mulai tenang, ia baru sadar kalau ia sendirian.
la terpisah dari kelompoknya, dan ia mencoba berbalik untuk mencari teman-teman sekelompoknya. Tapi rupanya ia salah jalan, ia bingung sebelumnya jalan mana yang ia lalui, hutan dimana Kayla berpijak saat itu cukup lebat. Dan ia tidak melihat satu pun tanda di pohon-pohon yang ia lalui, bahkan tidak satu orang pun ia temui dijalan.
Saat hari semakin gelap, Kayla mulai gelisah. Tapi Kayla belum menyerah, ia terus berjalan kemanapun langkahnya mengarah, sambil mengingat-ingat jalur mana yang sebelumnya ia lewati. Bagaimanapun juga ia harus sampai ke camp ground sebelum malam, setidaknya ia bertemu seseorang atau tanda panah yang bisa membantunya untuk pulang. Tapi nihil, ia tidak menemukan apapun selain hutan yang lebat dan jalan yang asing. Hingga malam tiba, Kayla mulai kesulitan berjalan karena gelap sedangkan ia tidak membawa senter ataupun ponselnya. Kayla takut kegelapan, ia mulai putus asa. Apalagi selama berjam-jam berada di tengah hutan dalam kegelapan dan kesunyian malam, tidak ada satu orang pun yang datang untuk menolongnya. la tersesat dan tidak tahu harus melalui jalan mana agar ia bisa sampai ke tempat campingnya.
Kayla pikir setelah teman-temannya menyadari Kayla tidak bersamanya, mereka pasti mencarinya. Semua siswa atau guru juga pasti mengetahui hal ini, mereka tidak mungkin diam saja kan setelah mengetahui salah satu siswi mereka hilang? Tapi kenapa sampai sekarang tidak ada satu orang pun yang datang untuk menolong Kayla?
Malam semakin larut dan Kayla menyerah untuk melanjutkan perjalanannya. la lelah, lapar dan haus, juga ketakutan. Apalagi beberapa saat yang lalu Kayla mendengar auman singa. Entah itu sungguhan singa atau hanya pendengaran Kayla saja, yang jelas rasa takut semakin menghantuinya.
Di keheningan malam yang semakin larut, hanya suara tangisan Kayla yang terdengar, juga suara jangkrik sesekali. Kayla membenamkan kepalanya di kedua lututnya dan menutup matanya untuk mengusir rasa takutnya. la masih terisak sembari mencoba menghentikan tangisannya dan menenangkan dirinya sendiri. Tubuhnya gemetaran karena takut juga cuaca dingin, angin kencang baru saja reda tapi kegelisahan Kayla masih berlanjut.
"Ya Allah.. Lily takut... Mami.. tolong Lily..." gumamnya lirih disela-sela isakannya.
... ....
... ....
... ....
"Miss Kissable..!"
Alex berjalan sendirian menyusuri hutan yang lebat, berbekal sebuah senter dan jaket tebal yang menyelimuti tubuhnya ditengah hawa dingin malam. la terus mencari Kayla, tidak peduli cuaca ataupun kegelapan. Meski jalan yang ia tempuh semakin jauh semakin berliku, tidak terbesit sedikit pun dibenaknya untuk menyerah. la harus menemukan Miss Kissable nya apapun rintangan yang ia lalui, dan selama apapun itu. Jika diperlukan ia akan terus berjalan sampai pagi, sampai cahaya matahari membantunya mengarahkan langkahnya. Tidak masalah jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, toh yang ia pikirkan hanya satu, keselamatan Miss Kissable nya. Entah bagaimana keadaannya dan dimana dia sekarang.
Alex masih merasa kesal setelah teman-teman sekelompok Kayla pulang membawa kabar buruk, jika saja Alex tidak bisa menahan dirinya pasti sudah ia hajar teman-teman Kayla yang tega meninggalkannya sendirian dalam bahaya itu.
"Miss Kissable.. kamu dimana..?" gumamnya cemas, seraya terus mengarahkan senternya ke semua arah.
"Miss Kissable..."
Tiba-tiba ada sebuah suara yang menarik perhatian Alex untuk mendengarnya lebih jeli. Alex mengentikan langkahnya dan membiarkan rerumputan di sekitanya senyap, memasang telinganya dengan seksama untuk memastikan yang baru saja ia dengar.
Mimik wajahnya lantas berubah ketika ia menyadari suara itu. Suara tangisan seseorang, apa itu Miss Kissable? pikirnya. la pun bergegas mencari dimana suara itu berasal, tapi semakin dekat langkahnya menuju suara itu, semakin kecil volume suara itu. Sampai langkah Alex terhenti karena kehilangan suara yang menjadi penuntun jalannya itu.
"Kok udah gak ada suaranya? Apa yang terjadi sama kamu Miss Kissable..?" gumamnya gundah.
la terus melangkah sambil mengarahkan senternya ke sekeliling, berharap ia bisa melihat sosok yang dicarinya. Tidak lama kemudian, ia mendengar suara isakan tangis lagi, yang membuat semangatnya semakin menggelora, dan jantungnya berdegup kencang. la pun segera mengikuti arah suara itu.
Alex menghentikan langkahnya, di depannya seorang gadis duduk meringkuk di bawah pohon dengan memeluk lututnya dan membenamkan kepalanya di lututnya. Isakan tangisnya membuat hati Alex nyeri, nafas Alex tercekat dan Alex mengerekatkan gigi-giginya karena merasa marah. Tapi ia tidak tahu ia marah pada siapa? Pada gadis malang ini? Pada teman-teman Kayla yang membiarkannya sendirian seperti ini? Atau pada dirinya sendiri?
Perlahan ia melangkah maju mendekati Kayla yang isakannya semakin keras dan tubuhnya kian gemetar. la mungkin menyadari kehadiran Alex tapi ia takut. Alex berjongkok dengan satu lutut yang ia tumpu pada tanah dan satunya lagi ia biarkan menegak. Dengan ragu ia mengangkat tangannya untuk menyentuh Kayla, tapi ia tidak tega mengagetkannya. Dengan hati-hati ia berucap...
"Miss Kissable.. ini aku!"
Kayla berjengkit kaget mendengar sebuah suara yang menyapanya. Dengan gerakan reflek, Kayla mengangkat kepalanya dan mundur dari posisinya, membuatnya hampir terjungkal jika saja di belakangnya tidak ada pohon yang menyangga tubuhnya.
Kayla mendongak menatap seseorang yang tengah berjongkok di depannya, dengan memegang sebuah senter yang redup, menerangi wajahnya.
Kayla terperangah melihat seseorang ada di depannya. Perlahan-lahan ekspresi tegang Kayla berubah, ia mulai bisa bernafas lega. Dan Kayla tidak bisa menahan air matanya untuk tidak mengalir semakin deras lagi. Tapi ini air mata kelegaan dan bahagia, bukan lagi kegundahan dan ketakutan.
Tanpa ragu dan tanpa memikirkan apapun lagi, Kayla menangis dihadapan Alex, sambil menggenggam sebelah tangan Alex dengan kedua tangannya. Tidak ada yang bisa ia katakan, ia hanya menangis menumpahkan segala rasa yang memenuhi dadanya. Ketakutan dan kegelisahan yang sebelumnya mendera Kayla, semuanya ia keluarkan. la menggenggam tangan Alex dengan erat meski ia gemetaran, ia seolah mencari kekuatan dari genggaman itu.
Dan Alex tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mendekap Kayla, dan membiarkan air matanya lolos juga.
Di keheningan malam, suara tangisan Kayla menggema. Diiringi oleh ******* lega dari Alex karena telah menemukan Miss Kissable nya. Rasanya beban berat yang sebelumnya mengganjal dihati Alex kini telah sirna.
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... Bersambung...