
Alex berencana mengajak teman-temannya pergi ke kampus Kak Riana hari ini. Setelah bel istirahat kedua, mereka keluar kelas bersama sambil menenteng tas masing-masing.
"Vicky...!" seorang gadis berlari menyapa Vicky, membuat Vicky menghentikan langkahnya, mambiarkan gadis itu menghampirinya.
Alex, Bima dan Sandi hanya melirik sekelabat ke arah gadis itu, dan melanjutkan kembali langkah mereka.
"Kamu mau bolos, beb?" tanya gadis bernama Lira itu.
"Cuman pulang duluan.." jawab Vicky cengengesan sambil mengedipkan sebelah matanya pada sang pacar.
"Apa bedanya? Kamu pulang duluan dan ninggalin pelajaran, itu namanya bolos." sahut Lira bersungut-sungut.
"Ada hal penting yang harus kita urus, beb. Beneran.." Vicky mencoba membuatnya mengerti.
"Semuanya aja urusan Alex itu penting" jawab Lira masih dengan nada yang sama. "Kamu kan udah janji sama aku beb, kamu gak akan bolos lagi."
"Tapi ini menyangkut masa depan Alex, beb. Makanya aku bilang penting." Vicky merendahkan suaranya, terkesan berbisik.
"Masa depan?"
"Iya, calon masa depanku.." jawab Vicky sambil mencolek dagu Lira, merayunya.
Lira yang baru memahaminya pun lantas terkesiap, mulutnya sampai menganga dan ia menaikkan alisnya.
Apa lagi yang dimaksud dengan menyangkut masa depan kalau bukan tentang pasangan, kan? Apa Alex jatuh cinta? Si penguasa sekolah yang terkesan kejam dan membenci perempuan itu, sekarang jatuh cinta? Tentu Lira terkesima mendengarnya, bahkan mungkin jika semua orang tahu, mereka pasti juga bereaksi sama seperti Lira sekarang.
"A..Alex jatuh cinta, beb??" tanya Lira terbata-bata sambil mengipaskan tangannya ke wajah, karena merasa tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
"Ssttt... jangan sampai ada yang tau dulu ya, beb. Ntar ribet." lanjut Vicky.
Lira hanya mengangguk, masih pada posisinya. Vicky pun berlalu dari hadapan pacarnya, setelah mengelus puncak kepala Lira dan mengedipkan sebelah matanya.
..._______________...
Setelah 30 menit mengendarai mobil, Alex dan teman-temannya sampai di sebuah Universitas, tempat kuliah Kak Riana dan Kak Reno.
"Elu yakin bro, Miss Kissable lu itu ada disini?" tanya Sandi sambil celingukan dari jendela mobil.
"Tau nih, kan kemarin gue udah tanya Kak Riana, dia bilang teman-teman ceweknya gak ada yang ciri-cirinya kayak lu sebutin" timpal Bima.
"Enggak ada salahnya kita cari dulu di sini. Gue yakin dia kenalan Kak Riana, cuman Kak Riana aja mungkin gak merhatiin dia malam itu. Makanya Kak Riana bilang gak tau" kata Alex optimis.
"Yuk!" Alex turun dari mobil, diikuti ketiga temannya.
Mereka berjalan menyusuri tiap-tiap jalan dan lorong kelas di kampus itu, celingak celinguk ke dalam tiap-tiap kelas yang mereka lalui.
Beberapa orang merasa terganggu karena merasa diperhatikan disaat sedang belajar, beberapa perempuan malah salah tingkah karena merasa diperhatikan oleh pria-pria tampan.
"Ngapain juga gue ikutan nengok-nengok, kalo pun gue liat tu cewek, gua kan gak tau dia Miss Kissable atau bukan" gumam Sandi pelan.
"Gue ngerasa risih nih, bro. Kita dateng ke sekolah orang, kelayapan gini masih pake seragam lagi" timpal Vicky berbisik pada Sandi.
"Iya gue juga, mana kita diliatin terus lagi" sahut Sandi.
"Ya iya lah mereka liatin kita, kan dari tadi kita liatin mereka." Bima ikut nimbrung.
"Ssttt...berisik!" protes Alex
Beberapa menit kemudian bel berbunyi, dan para mahasiswa pun berbondong-bondong keluar kelas masing-masing.
Dua diantara perempuan yang tadi merasa diperhatikan dan memperhatikan gelagat pria-pria muda itu lantas menghampiri mereka.
"Hai.." sapa salah satunya.
"Hai kak" balas Vicky, sementara Sandi dan Bima hanya tersenyum kikuk, dan Alex sama sekali tak peduli.
"Eh, anak SMA ya?" ujar perempuan lainnya nampak lesu.
"Nggak papa brondong, yang penting ganteng" bisik perempuan yang pertama menyapa.
"Kalian.. disini ngapain? Nyari orang ya?" tanyanya.
"Iya kali nyari kucing" gumam Sandi meledek.
"Iya kak, kita permisi dulu ya" jawab Vicky seadanya seraya berlalu, karena teman-temannya sudah mulai beranjak pergi. Ia pun menyusul mereka setengah berlari.
"Eh?!" kata si perempuan, mau bicara lagi tapi yang diajak bicara malah pergi.
Di ambang pintu kelas sebelah, seorang perempuan memandangi mereka dengan ekspresi bingungnya. Matanya mengikuti ke arah para pria itu melangkah.
Bima, Sandi dan Vicky duduk di taman kampus itu, sedangkan Alex berdiri di dekat mereka dengan mata yang masih sibuk mencari sosok yang menjadi tujuannya datang ke tempat itu.
"Istirahat bentar Al.." ucap Vicky, melirik Alex yang sejak tadi hanya berdiri dan terlihat gelisah.
"Heh..kalian!" Alex dan teman-temannya terkesiap kaget mendengar seseorang membentak mereka tiba-tiba.
Ternyata itu Kak Reno, mereka akhirnya bernafas lega.
"Ngapain kalian disini?"
"Nemenin Alex, kak" jawab Bima cengengesan. "Jangan bilang sama papa yah aku bolos" lanjutnya berbisik.
Reno menyelis tajam ke arah adiknya itu. Kemudian beralih menilik Alex.
"Cewek itu gak ada disini Al.." kata Reno seraya menepuk bahu Alex.
__ADS_1
"Kak Reno yakin?"
"Iya Al, gue udah liat album foto pesta kemarin di rumah Riana. Gak ada tuh cewek yang lu sebutin ciri-cirinya"
Alex langsung menoleh ke arah Reno. "Album foto?" matanya mulai berbinar. "Gue mau liat albumnya kak"
"Udah dibilangin di album itu gak ada cewek yang lu cari" ulang Reno.
"Siapa tau ada, kan malam itu gue yang liat dia, jadi gue pasti bisa ngenalin dia" ucap Alex yakin.
Reno hanya menghela nafas. Alex memang keras kepala, apa pun yang diinginkannya harus ia dapatkan.
Tiba-tiba beberapa orang mahasiswi menghampiri mereka. Salah satu dari mereka maju mendekati Alex, dia lah yang tadi menatap bingung di ambang pintu.
"Kalian bolos? Kelayapan di jam sekolah? Buat ganggu gue?" tanyanya datar.
"Kak Riana!" sapa Alex semangat. "Bagus Kak Riana sekarang disini, gue bisa tanya-tanya langsung"
Riana mengernyit menatap Alex lalu memutar bola matanya malas. Pasalnya, Bima sering men-chatnya akhir-akhir ini, menanyakan hal yang sama hampir setiap hari, membuat Riana kesal dan jengah. Barusan Alex bilang mau tanya-tanya? Pasti pertanyaan yang sama dengan Bima, padahal kan Riana sudah menjawabnya berkali-kali. Ah, Riana malas sekali jika harus membahasnya lagi.
"Ck.. gue udah bilang Al..gue gak tau siapa cewek yang lu maksud, teman-teman gue gak ada yang ciri-cirinya kayak lu sebutin itu" semprot Riana dengan nada kesalnya, bahkan sebelum Alex bertanya.
Semua yang mendengarnya lantas terkesiap, termasuk Reno. Reno pun mencoba menenangkan kekasihnya itu. "Emm.. sayang, kamu tenang dulu ya.. kita maklumin aja lah ya Alex ini, dia baru pertama kali jatuh cinta loh."
"Calon bucin nih" gumam Riana pelan.
Riana menghela nafasnya, kemudian duduk di kursi taman yang berbentuk pohon tumbang, terbuat dari semen.
"Oke, mau nanya apa?" ucap Riana akhirnya.
Alex dan Reno pun duduk mengikuti Riana.
"Dia cantik, pake longdress hitam polos tanpa lengan, rambutnya panjang sepinggang belah tengah, dia juga pake topeng warna hitam bercorak swarovski" urai Alex.
"Enggak ada Al.." sahut Riana malas. Pasalnya ciri-ciri itu juga yang kemarin disebutkan Reno dan Bima, sekarang Alex mengulanginya.
"Ada lah kak.. dia ada di pesta itu, gak mungkin kan dia dateng gak di undang. Dia pasti kenalan Kak Riana juga.." Alex bersikeras.
"Emm.. gini Al, yang di undang ke pesta gue bukan cuman teman kampus gue. Ada keluarga, teman-teman nyokap sama klien-kliennya bokap gue juga. Mungkin dia salah satu dari mereka"
Alex mengerutkan keningnya, berfikir. 'Gak mungkin ah cewek semuda Miss Kissable teman nyokapnya Kak Riana, atau klien bokapnya'.
"Atau..mungkin anak salah satu dari mereka" lanjut Riana. Nah kalo ini baru masuk akal.
'Kalo bener Miss Kissable itu anak teman atau klien orang tuanya Kak Riana.. gimana gue nyarinya yah..' pikir Alex.
"Tadi Kak Reno bilang ada album fotonya ya Kak?"
"Iya, gue udah bolak balik beberapa kali liatin tu album gak ada tuh cewek yang lu bilang. Iya kan sayang.." ujar Riana mengedikkan bahunya saraya melirik Reno.
"Ho'oh Al.. dia gak ikutan foto kali"
"Huuuftt..." Alex hanya bisa menghembuskan nafas lesu.
"Jadi percuma dong kita keliling kampus sini nyari dia?" Bima ikut nimbrung.
"Iya lah.. Riana juga sampe nanya-nanya kita loh.. gak mungkin dong kita gak tau kalo tu cewek emang anak kampus sini" sergah salah satu teman Riana, membuat mereka semua menoleh ke arahnya
"Eh, kamu yang malam itu dansa sama gue kan? Tania?" ucap Bima seraya menghampirinya.
Gadis bernama Tania itu menaikkan alisnya seraya tersenyum remeh. "Masih ingat ya ternyata..?"
Sandi dan Vicky pun ikut menghampiri gadis yang mereka ajak dansa malam itu. Riana dan Reno melihatnya jadi merasa kikuk dan saling pandang.
"Hai..Kak" Sandi dan Vicky menyapa mereka.
"Ekhemm.....!!" Reno berdehem kencang, seraya mendekati adiknya itu. "jangan bikin malu!" geramnya berbisik di telinga Bima.
"Ehehee..apa sih Kak.. cuman nyapa doang, ntar dikira sombong" balas Bima berkilah.
"Jadi, gimana menurut Kak Riana? Dimana gue bisa nemuin cewek itu?"
"Video dumentasinya ada sih Al, tapi belum selesai ..mungkin dua hari lagi, dan mungkin lu bisa nemuin petunjuk tentang dia di video itu." ucap Riana, membuat Alex mengangguk dan matanya berbinar-binar.
"Oke Kak, kabarin gue langsung ya kalo videonya udah ada." kata Alex bersemangat.
Alex lalu beranjak. "Yuk bro, pulang!" ajaknya, membuat Bima, Sandi dan Vicky mendengus malas, mereka kan masih mau ngobrol sama teman-teman Riana yang juga patner dansa mereka malam itu.
"Nggak mau bilang makasih dulu gitu?" Riana mendengus kesal melihat Alex langsung pergi setelah merepotkannya dengan pertanyaan-pertanyaan membingungkan itu.
Reno hanya bisa mengelus pundak Riana untuk meredakan kekesalan kekasihnya itu.
.......
.......
.......
Kayla dan Nia masuk ke sebuah mall untuk berbelanja keperluan tugas prakarya, yang diberikan oleh guru seni mereka, Bu Alma.
"Dari tadi aku liat kamu kayaknya happy banget, Kay?"
"Iya dong, Ni. Aku happy banget, soalnya hari ini aku sama sekali gak ketemu sama empat cowok usil itu, padahal mereka kemarin ngancem bakal ngehukum aku habis-habisan loh.."
"Oh ya" Nia mengerutkan keningnya seraya berfikir. "Tadi sih aku liat mereka pulang di jam istirahat kedua"
__ADS_1
Kayla mengedikkan bahunya acuh. "Terserah mereka mau kemana, yang penting gak gangguin Kayla.
Tanpa keduanya tahu, di belakang mereka Luna dan Erin yang juga berbelanja di mall itu mendengar obrolan mereka. Luna dan Erin tersenyum miring.
"Eh Ni, waktu itu kamu bilang Alex murid yang cerdas kan?"
"Hm." jawab Nia singkat sambil menilik ke jajaran perlengkapan seni yang mereka lalui.
Karena Kayla tidak lagi menyahut, Nia menoleh. "Kenapa Kay?"
"Oh, enggak. Selama ini aku pikir murid yang cerdas itu pasti punya sikap yang sopan dan rajin belajar, tapi Alex kok malah keliatan sebaliknya ya? Ini aja dia bolos kan"
"Alex mah semaunya dia Kay, dia emang udah pinter dari sononya kali makanya otaknya encer"
"Kalo teman-temannya?"
"Mereka yah..ngikut Alex aja lah intinya" sahut Nia sekenanya.
Setelah mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan untuk prakarya mereka dan membayarnya di kasir, Kayla dan Nia beringsut menuju resto yang ada di mall itu untuk mengisi perut mereka.
Setelah memesan menu makan siangnya, mereka duduk di tempat yang disediakan disana. Menikmati makan siang mereka sambil mengobrol santai.
Tiba-tiba Kayla tersedak makanan dimulutnya, karena ia melihat sesuatu yang membuatnya kaget.
Nia meniliknya. "Hati-hati, Kay" katanya sambil menyodorkan segelas air.
Setelah meminum air dan meminimalisir keterkejutannya. Kayla memberi isyarat mata pada Nia, melirik ke satu arah.
"What..? P-four? Mereka disini.."
"Makanya aku sampai keselek.." cicit Kayla.
"Jadi tadi kamu keselek karena liat mereka?"
"He'em..." sahut Kayla dengan ekspresi resahnya.
"Yaudah, buruan abisin makanannya. Aku nggak mau mereka sampe liat aku"
"Tapi Kay, aku paling gak bisa kalo makan tuh buru-buru.."
"Yaudah.. makan aja dulu, semoga mereka gak liat kesini"
Nia pun melanjutkan makannya, sedangkan Kayla hanya duduk dengan resah, sesekali ia menoleh ke arah Alex dan teman-temannya yang juga sedang makan. Posisi mereka disisi kiri Kayla, tapi agak jauh, jadi Kayla bisa sedikit menghindari penglihatan mereka dengan menunduk atau memyembunyikan wajahnya.
"Loh..kamu nyuruh aku buru-buru makan, tapi kamu sendiri gak makan?"
"udah kenyang" jawab Kayla singkat.
"Kenyang gimana? Itu piring kamu masih penuh, kamu baru makan dikit, Kay"
"***** makanku ilang Nia, gara-gara ada mereka" jawabnya pelan. "Kamu masih lama gak?"
Nia yang sibuk mengunyah makanannya tidak menjawab Kayla, ia hanya menunjuk ke piringnya yang hampir kosong.
"Bagus lah, aku nanti di rumah aja makannya."
"Tapi aku mau nambah Kay.." lirih Nia.
Kayla sontak membulatkan matanya. "Duuh... dibungkus aja Nia..aku gak aman lama-lama disini." Kayla semakin tak tenang.
"Yaudah deh.." Nia pun mengalah.
Setelah menghabiskan makanannya, keduanya menuju kasir. Agak lama mereka di kasir, karena menunggu pesanan makanannya yang dibungkus untuk dibawa pulang.
Selama menunggu di kasir, Kayla hanya berdiri dengan kaku dan agak tegang, sedangkan Nia lebih relax karena ia cukup yakin kalaupun Alex dan teman-temannya melihat Nia, mereka tak akan peduli.
"Eh Kay, itu ada Luna sama Erin juga"
"Dimana?" tanya Kayla tanpa menoleh.
"Mereka gabung di mejanya Alex."
"Opss....mereka liat kita"
"Siapa? Luna sama Erin, atau..."
"Alex!" seru Nia, suaranya terdengar bergetar.
Perasaan Kayla semakin tidak tenang mendengarnya. Kayla pun mencoba menoleh ke belakang, dan benar saja, Alex dan teman-temannya melihat ke arah Kayla dan Nia. Bahkan Sandi sudah berdiri dan Kayla tebak ia pasti akan menghampiri mereka berdua. Pantas saja suara Nia terdengar takut.
"Sandi kesini Kay.." lirih Nia.
Kayla hanya bisa terdiam dan menelan salivanya was-was.
"Dek, ini pesanannya. Semuanya masing-masing 65 ribu" suara abang kasir mengagetkan mereka.
Buru-buru Nia dan Kayla merogoh sakunya dan membayar makanan mereka.
Sebelum Sandi sampai pada mereka, Kayla dan Nia sudah beranjak, mengambil langkah seribu dengan nafas memburu, tanpa menoleh ke belakang lagi.
.......
.......
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung...