Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Ego Vs Air Mata


__ADS_3

Perasaan Kayla seketika gelisah setelah menonton video tentang uji coba lem super amazing milik Jessica. Tega sekali jika Jessica akan memperlakukan Kayla seperti itu, dia seorang gadis tapi bisa mempermalukan gadis lain seburuk itu? Kayla merasa gelisah, sehingga ia tidak bisa berpikir jernih, tapi ia harus menemukan cara agar bisa bebas dari jebakan Jessica ini. Nia yang ikut melihat video tadi pun mulai memikirkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi, ia khawatir pada Kayla.


"Aku akan cari cara buat bisa ngebebasin kamu Kay!" ujar Nia menenangkan Kayla.


"Eh, Gendut! Elu jangan ikut campur, gue gak ada urusan ya sama lu. Elu bisa pergi!" bentak Jessica.


"Enggak! Selama ini aku selalu diam dan nurut sama kamu, tapi kali ini enggak Jes. Aku gak akan ninggalin Kayla, aku gak akan ngebiarin kalian semua mempermalukan Kayla lagi." ujar Nia tegas, membuat Jessica terbelalak.


"Owh.. udah berani ya sekarang?! Emangnya apa yang bisa lu lakuin, heh?!" kata Jessica remeh.


"Aku bakal bebasin Kayla dari jebakan lem kamu ini!"


Ucapan Nia hanya ditertawakan oleh Jessica dan teman-temannya.


"Silahkan aja kalo bisa, tapi gue ingetin ya, usaha lu bakalan sia-sia!" ujar Jessica, yang kembali disambut tertawaan dari mereka.


Nia beranjak dan mulai melangkah menuju keluar kelas, bermaksud mencari sesuatu agar bisa digunakan untuk membebaskan Kayla dari jebakan Jessica itu. Tapi baru beberapa langkah Nia berjalan, Jessica mencegatnya dengan kata-kata.


"Kalo lu keluar, lu gak bisa masuk lagi"


Nia mendengus kesal, "Oke. Aku gak akan keluar tanpa Kayla." katanya seraya berbalik.


"Kalo lu tetap disini, berarti nasib lu bakalan sama kaya temen lu ini" ujar Jessica lagi, Nia jadi semakin kesal.


Keberanian dan perlawanan Nia hanya ditertawakan oleh mereka, Kayla jadi merasa tidak enak.


"Udah Nia, kamu jangan terlibat, mendingan kamu pergi aja. Aku gak papa kok. Aku kan udah sering ngehadapin mereka, jadi ini bisa aku tanganin kok"


"Kayla, aku gak bisa biarin kamu diginiin terus. Aku teman kamu, Kay! Biarin aku lakuin apa yang harus aku lakuin."


"Nia, jangan nekat. Kalo kamu kenapa-napa gimana?"


"Kalo kamu yang kenapa-napa aku harus gimana Kay? Seenggaknya aku belajar ini dari kamu. Aku udah gak takut lagi sekarang!"


Kayla merasa terenyuh. "Umm... mellow amat ya gaes..." ledek Luna.


Lagi-lagi mereka menertawakan Nia. Alex hanya terkekeh malas menyaksikan pertunjukan yang tidak menarik ini. la ingin pergi tapi ia penasaran, apa lagi yang akan dilakukan Jessica untuk melampiaskan rasa marah dan kecewanya atas insiden kala itu.


Luna dan Erin lalu menarik Nia dan akan mendudukkannya di bangku yang sudah diolesi Jessica dengan lem.


"Tunggu!" sergah Kayla. "Nia bakalan pergi dari sini! Kalian gak ada masalah kan sama dia, kalo gitu dia bakalan pergi dan gak bakal ikut campur!." ucap Kayla.


Awalnya Nia membantah dan rela menerima jebakan mereka, tapi kemudian Kayla membujuknya sebelum Luna dan Erin mendudukkan Nia di bangku yang ada lemnya itu. Sampai akhirnya Jessica melakukan sesuatu yang membuat ketegasan dan kekuatan hati Nia goyah.


"Gaes, lepasin dulu deh dia."


"Loh Jes?" heran Erin.


"Lun, siapin kameranya!"


"Oh, oke!" Barulah Luna dan Erin mengerti apa yang dimaksud Jessica.


"Ready!" seru Luna saat kameranya sudah siap.


"Gaes! Pertunjukan utama kita mulai!" Jessica meminta beberapa orang temannya untuk memegangi Kayla, dan beberapa orang lagi memegangi bangku Kayla.


"Apaan lagi ini Jes?"


"Apaan lagi? Justru ini intinya, ini yang gue tunggu-tunggu. Kalian tarik dia, dan kalian tahan kursinya. Dan elu Lun, kameranya on ya!" ucapnya seraya memberi aba-aba pada teman-temannya.


"Tarik, sampe dia bangun. Tapi ini butuh waktu dan tenaga ekstra sih, soalnya itu lemnya kuat banget. Dia gak bakalan bisa bangun, kecuali roknya sobek dan bok*ngnya lecet!"


Kayla terbelalak. Bukan hanya Kayla, tapi yang lain juga, terutama Nia. Nia jadi takut sendiri, dan merasa khawatir pada Kayla.


"Jessica!" bentak Kayla.


"Woaah... gila Jes!" ujar Sandi takjub seraya beetepuk tangan.


"Seru nih!" timpa Bima.


"lya dong. Emang ini tujuan gue. Makanya gue bilang kalian pasti suka."


Teman-teman Jessica tertawa dan bertepuk tangan. Mereka terlihat puas dengan pertunjukan Jessica, karena sejak insiden kala itu mereka pun menaruh kebencian pada Kayla.


"Jes, kamu keterlaluan! Seenggaknya sebagai sesama cewek, kamu malu dong ngelakuin ini sama aku?!"


"Heh?" Jessica menggeprak meja, "Gue sama elu BEDA! Gue udah nunggu lama buat ngelakuin ini ke elu. Dan gue pastiin, nasib lu sama kayak tikus itu!" bentaknya geram.


"Heh! Jessica ternyata lebih licik dari dugaan gue." gumam Alex dalam hati.


"Ayo tarik!" seru Jessica semangat.


Mereka pun mulai menarik tubuh Kayla dan menahan bangkunya untuk memisahkan Kayla dari bangku, agar membuat rok Kayla sobek. Jika rok bagian belakang Kayla sobek, ia akan sangat dipermalukan. Kayla panik, Nia pun terlihat takut dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Jadi gimana? Elu mau kayak dia, atau keluar?" tanya Jessica pada Nia.


Nia menatap Kayla yang sedang ditarik oleh beberapa orang. Wajah Kayla nampak frustasi dan sedih, matanya sayu dan suaranya lirih. Nia bimbang, jika ia meninggalkan Kayla maka ia akan sangat merasa bersalah dan tidak berguna. Tapi jika ia tetap disini, ia akan menyaksikan Kayla dipermalukan dan dilecehkan, tanpa bisa melakukan apapun untuk membantu Kayla.

__ADS_1


"Kay..?" Kayla menoleh ke arah Nia.


Kayla saat ini sangat membutuhkan bantuan dan dukungan. Rasa sedih, panik, marah, benci, dan sakit hati berkecamuk membuatnya frustasi. la ingin sekali terbebas dari jebakan ini tanpa mengalami hal buruk apapun, tapi apa ia punya harapan? Saat ini saja ia tak berdaya, dan semua orang menertawakannya kecuali Nia. Dan sekarang Kayla tahu, Nia pasti merasa takut tapi Nia memaksakan dirinya untuk tetap berada disisi Kayla.


Kayla menoleh ke arah Nia dan tersenyum berat di tengah ketidak berdayaan nya. Nia mendekat, meraih tasnya yang berada di bangkunya. Nia sengaja lebih mencondongkan kepalanya ke arah Kayla, membisikkan sesuatu ke telinga Kayla.


"Kay, kamu jangan takut ya, aku akan keluar buat cari bantuan. Aku pasti balik buat bebasin kamu. Semoga aja Adit belum pulang dan dia bisa bantu."


Kayla menyetujui dengan mengedip satu kali. Setelahnya Nia beranjak keluar kelas, sesekali ia menoleh ke arah Kayla seraya berjalan.


"Pilihan yang bagus, Nia!" gumam Jessica seraya tersenyum miring.


Jessica tertawa puas bersama teman-temannya, kecuali Alex. Sejak tadi Alex hanya terdiam sambil memperhatikan Kayla.


Air mata mulai mengalir di pipi Kayla, ia tidak mau sampai mereka merobek roknya dan membuat tubuh bagian belakangnya terbuka, Kayla tidak mau mereka melihatnya. Ini sangat memalukan, ini pelecehan, tega sekali Jessica memperlakukannya seperti ini. Kayla tidak berdaya, ia terus berteriak menjerit memohon agar Jessica menghentikan aksi menjijikan ini. Sedangkan ada tiga orang siswi yang menarik tubuhnya, dan dua orang lainnya menahan bangku Kayla.


Kayla menatap harap dan memelas pada semua orang satu-persatu, berharap ada yang mau menolongnya atau setidaknya mengasihaninya. Ketika netra Kayla bertemu dengan netra Alex, Kayla menahannya. Kayla ingin melihat apakah Alex juga tidak peduli padanya sama seperti yang lainnya?


Entah kenapa, melihat air mata Kayla membuat dada Alex terasa sakit. Tatapan memelasnya, dan isakan tangis pilunya membuat hati Alex tersentuh sekaligus terusik, ia menjadi emosional. Alex merasa dadanya semakin sesak dan tidak tahan lagi saat mata mereka bertemu dan saling menatap, tatapan itu seolah menjelaskan apa yang tengah dirasakan hati mereka masing-masing.


Satu menit, dua menit, tiga menit...


Cukup! Alex tidak tahan berlama-lama dalam situasi ini. la tidak mau terlihat rendah atau aib dimata semua orang yang ada disini jika ia mengasihani Kayla. Tapi disisi lain, hatinya mendukung hal yang sebaliknya.


"Enggak! Gue gak bisa kayak gini!" batinnya frustasi.


Alex berbalik dan bergegas pergi, meninggalkan pertunjukan murahan beserta orang-orangnya yang tak punya hati itu, juga meninggalkan belantara pikirannya yang rumit.


"AI? Mau kemana? Lagi seru-serunya juga!"ujar Bima.


"Sebentar Al, ini moment yang paling ditunggu-tunggu. Elu harus liat!" sambung Luna.


Namun Alex mengabaikan mereka semua dan terus melangkah keluar. Hati Kayla rasanya mencelos. "Ya Allah.. tolong..! Siapa pun tolong.. kirimkan seseorang buat nolongin Lily, Ya Allah..." jerit hati Kayla.


Saat Alex sudah keluar kelas, ia meletakkan sebelah telapak tangannya ke dada. Sambil melangkah gontai ia menunduk dan menatap tangannya yang ia letakkan di dada.


"Gue kenapa sih? Kenapa rasanya sakit gini."


"Kenapa air mata cewek itu bisa nyiksa gue?"


"Gue kasian sama dia? Atau..."


"Enggak. Ini bukan gue, gue Alex yang benci cewek dan senang liat cewek menderita. lya,itu gue."


"Tapi ini.. kenapa? Kenapa gue jadi gini?!"


"Apa ini pengaruh hati gue yang udah ngerasain jatuh cinta?"


"Orang bilang, cinta bisa ngerubah orang yang keras kepala jadi penurut, cinta bisa ngerubah hati batu jadi meleleh. Apa ini yang gue rasain?"


"Apa mungkin gara-gara hati gue udah meleleh sama Miss Kissable, gue jadi punya rasa kasihan, gak tegaan, sama mudah memaafkan?!"


"Gue gak ngerti. Gue liat pembullyan yang bukan hal baru buat gue. Yang mereka lakuin sekarang emang gak pernah gue lakuin sebelumnya, tapi gue selalu suka."


"Tapi hari ini, kenapa gue gak suka? Kenapa gue ngerasa terganggu sama yang mereka lakuin? Kenapa kali ini hati gue ngerasain sakit saat ngeliat sesuatu yang biasanya bikin gue senang?!"


Alex meremas baju bagian depannya dengan telapak tangan yang sejak tadi menempel didadanya. Setiap Alex maju satu langkah, Alex merasakan pernafasannya semakin sesak dan ngos-ngosan, sehingga ia menghentikan langkahnya.


Alex terdiam di tempat selama beberapa menit, dengan mata terpejam dan sebelah tangan yang meremas bajunya dan sebelah tangan lainnya yang menjuntai kini mengepal kuat. Logika dan hatinya berkecamuk, berdebat membuat pikirannya kacau. Egonya dan air mata gadis yang tengah dizalimi itu memberi pengaruh besar dalam pikiran Alex.


Bagaimana air mata gadis itu bisa menyentil emosinya dan menusuk ke dalam dadanya. Sedangkan egonya sendiri bertentangan dengan itu. Dalam diamnya, perasaan yang dipicu oleh air mata Kayla dan egonya tengah bertarung.


Sampai akhirnya Alex memutuskan sesuatu yang membuat hatinya sedikit merasa lega. Alex membuka matanya dan melepaskan genggaman tangannya.


Tanpa berpikir lagi, ia langsung berbalik. Melangkah kembali menuju kelas, dimana sedang terjadi kezaliman di sana. Dalam pertarungan egonya melawan air mata Kayla, ternyata perasaan yang Alex rasakan karena air mata Kayla.. lebih besar dari egonya. Alex mengalahkan egonya sendiri dan memilih untuk mengakhiri kezaliman yang terjadi saat ini, yang telah ia saksikan sendiri dengan mata juga hatinya.


Sembari melangkah cepat dan mantap, ia melepaskan jaket merah kesayangannya yang selalu ia pakai. Saat Alex sampai diambang pintu, ia memekik lantang.


"MINGGIR..!"


Semua orang kaget dan langsung menoleh ke arahnya, Alex menerobos keramaian tanpa menjeda langkahnya sama sekali, membuat jalan otomatis terbuka.


Tatapan matanya lurus ke arah Kayla yang masih dipegangi, dengan kondisi yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Ketika Alex mendekat ke arah Kayla, beberapa orang yang memegangi Kayla dan bangkunya lantas menyingkir tanpa diberi aba-aba lagi.


Semua mata tentu tertuju pada Alex, mereka semua terperangah kaget saat Alex kembali dengan ekspresi yang penuh emosi, wajahnya merah padam, langkahnya memburu dan ia tak melirik seorang pun dari mereka. la hanya menatap Kayla, yang menjadi tujuannya kembali ke tempat itu.


Detik berikutnya mereka dibuat syok dengan apa yang Alex lakukan, bahkan Kayla sendiri tak menyangka Alex akan melakukan ini.


Alex berdiri di samping Kayla, ia menunduk, mengikatkan jaket merahnya ke pinggang Kayla. Setelah jaketnya sudah membalut sempurna seperti yang ia inginkan, ia menatap mata Kayla lagi. Kayla hanya bisa terpaku dengan apa yang Alex lakukan padanya, tanpa bisa mengentikan air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya.


"Bangun!" titah Alex dengan suara pelan.


Kayla masih tak bereaksi, tatapannya nanar, ia nampak seperti orang linglung.


"Gue hitung sampe tiga. Elu bangun!" titahnya dengan suara pelan, hanya beberapa orang yang paling dekat dengan posisinya yang bisa mendengar.


Entah kenapa saat Alex mengatakan itu, seolah terkena hipnotis Kayla langsung bereaksi, matanya membulat sempurna dan ia langsung mengangguk tanpa berpikir. Kayla menjamakkan tangannya di atas meja seraya mengumpulkan tenaga.

__ADS_1


"Al?" sergah Jessica tak terima.


Bima, Sandi dan Vicky juga mencoba bicara pada Alex tapi Alex mengabaikan mereka.


"Satu!" Alex meletakkan tangan dan kakinya di bangku Kayla.


"Dua!" Alex memperkuat pegangan tangannya dan menekan kakinya.


Kayla menggeser tangannya ke kedua sisi meja, dan memegang kedua sisi meja itu dengan kuat. Kayla bersiap mengerahkan seluruh tenaganya.


"Tiga!" Kayla menutup matanya erat.


Brakk!!


Srreeekk......


Terdengar suara bangku yang tersentak besertaan dengan suara kain rok Kayla yang robek.


Kayla masih menutup matanya takut, hanya isakan tangis Kayla yang kini terdengar di tengah keheningan setelah aksi mengejutkan tadi. Sekarang karena Alex sudah mengikatkan jaketnya pada pinggang Kayla, jadi tidak ada yang bisa melihat bagian belakang rok Kayla yang robek. Mereka hanya melihat robekan roknya yang menempel di bangku.


Tanpa berpikir dan menunggu, Alex langsung menggenggam tangan Kayla dan menariknya pergi meninggalkan tempat pertunjukan menjijikan itu beserta para penontonnya yang masih melongo.


Kayla tersentak dan reflek membuka matanya saat telapak tangan Alex menggenggam telapak tangannya. Dalam kekacauan pikiran dan keadaannya, serta air matanya yang tidak bisa berhenti, ia hanya bisa mengikuti Alex yang membawanya entah kemana.


Saat keduanya berjalan melewati koridor sekolah yang berbelok, keduanya mendengar seruan seseorang, yang membuat Alex menghentikan langkahnya dan Kayla menoleh ke asal suara.


"Kayla!"


Di persimpangan koridor, tengah berdiri Nia dan Adit yang menatap khawatir ke arah Kayla. Alex masih terdiam diposisinya, ia menilik dari ekor matanya, mencari tahu siapa sosok dibalik seruan itu.


Nia dan Adit melangkah hati-hati mendekati Kayla. Saat Alex mengetahui itu adalah Nia dan Adit, Alex langsung melepaskan genggaman tangannya dari Kayla, kemudian berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikitpun.


Kayla terkesiap dan langsung kembali menoleh ke arah Alex yang sudah berjalan menjauh darinya. Entah kenapa hati kecil Kayla merasakan secuil kehampaan dan kesedihan saat Alex melepaskan tangannya. la mematung menatap punggung Alex yang semakin mengabur karena langkahnya sudah jauh.


"Kamu baik-baik aja kan Kay?" tanya Adit cemas.


Nia mengusap pundak Kayla dan menatapnya lirih, Kayla tersenyum pada kedua temannya sambil menghapus air matanya.


"Aku gak papa. Makasih ya kalian masih disini" ucap Kayla lirih.


"Kita telat ya Kay? Apa mereka memperlakukan kamu dengan buruk?"


"Jangan ditanya lagi! Udah jelas itu, kan aku udah bilang tadi. Kamu sih lama!!" Nia mengomeli Adit.


"Aku gak papa" lirihnya lagi.


"Yaudah, kita anterin kamu pulang, ya!" ujar Adit.


... ....


... ....


... ....


Alex duduk di kursi kemudi mobilnya. Tatapannya lurus ke depan dimana sosok gadis yang barusan ia tolong sedang berdiri. Dari dalam mobil, Alex melihat Kayla menaiki angkot bersama Nia, dan Adit mengikutinya dari belakang dengan mengendarai motor.


Setelah menolong Kayla, Alex merasakan sesuatu di dalam dadanya yang sebelumnya terasa berat dan mengganjal kini sirna. Berganti dengan rasa lega dan ringan, tapi itu tak lantas membuatnya senang.


Meski ia berhasil mengalahkan egonya dan memenangkan perasaannya yang dipicu oleh air mata Kayla, itu tak lantas membuatnya merasa bangga akan pencapaiannya. Masih ada sesuatu yang lain, yang lebih besar dari kesombongan didalam dirinya, yang menghalanginya untuk merasa senang atau bangga.


"Miss Kissable, hari ini aku ngelakuin sesuatu yang gak pernah aku lakuin, bahkan gak pernah aku bayangin sebelumnya."


"Aku gak ngerti sama diri aku sendiri. Tapi menurut aku, ini semua terjadi karena kamu."


"Sejak aku bisa ngeliat wajah kamu dan ketemu kamu lagi, hati aku jadi aneh. Sebelumnya aku cuman ngerasain rindu sama kamu, tapi setelah ketemu kamu malam itu.. aku ngerasa hati aku tuh kayak.. apa ya, aku bingung jelasinnya. Pokoknya aku ngerasa berubah, hati aku yang gersang kamu siram dengan air muka kamu yang manis dan menyejukkan itu, gimana aku gak berbunga-bunga?" gumamnya sendiri seraya menertawakan dirinya.


"Dan sekarang, gara-gara hati aku yang udah kamu kendaliin ini, aku jadi ngelakuin sesuatu yang diluar ekspektasi semua orang, bahkan diriku sendiri."


"Mereka semua pasti mikir kalo aku udah berubah, lemah dan cemen. Mereka pasti nganggep aku rendah atau gak waras sekarang. Aku gak suka itu, Miss Kissable!"


"Ini gara-gara kamu, kenapa sih akhir-akhir ini kamu selalu terlibat dalam masalah aku? Waktu itu ada yang bikin aku kesel banget tapi aku gak bisa marah gara-gara inget kamu. Trus waktu aku ngeliat si cewek cupu itu juga aku inget kamu terus, apa aku udah tergila-gila ya sama kamu, Miss Kissable?"


Alex terkekeh geli dan menggeleng-geleng sendiri. la kemudian menghela nafas panjang sembari menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.


"Miss Kissable, menurut kamu... apa yang aku lakuin tadi cukup buat nebus kesalahan aku sama cewek itu??"


Alex masih merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan pada Kayla sebelumnya. Bagaimana pun juga ia sudah kurang ajar pada gadis itu, ia menyesal dan mengakui dirinya brengsek setelah melakukan itu pada Kayla.


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2