Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Hukuman Pertama


__ADS_3

Kayla benar-benar dibuat kelabakan dengan perbuatan empat pria menyebalkan itu, dan Jessica Cs juga. Dalam waktu 10 menit, tentu ia kesulitan membersihkan lantai kelas yang kotor. Ditambah lagi, teman-teman sekelasnya yang hanya mencemaskan bel segera berbunyi sedangkan kelas masih belum bersih.


Sebagian diantara mereka hanya menggerutu dan memandang kesal ke arah Kayla, tanpa berniat membantunya. Beruntung Kayla sekarang punya Nia dan Adit, mereka berdua lah yang membantu Kayla membersihkan lantai, meja serta kursi yang basah dan kotor karena tumpahan air hitam itu.


Dan Adit sebagai ketua kelas tentu merasa bertanggung jawab atas kekacauan itu.


"Udah Kay, kamu mendingan bersihin diri kamu aja sekarang.." kata Nia, ini sudah kesekian kalinya Nia mengatakan itu.


"Iya Kay, serahin ini ke kita. Waktu kita mepet banget, 3 menit lagi bel." sambung Adit, yang diangguki oleh Nia.


Sudah sejak tadi Adit juga mengatakannya pada Kayla, tapi Kayla merasa tidak enak kepada kedua teman barunya ini. Keduanya mau membantu Kayla pun Kayla sudah sangat bersyukur, mana tega Kayla meninggalkan mereka saat pekerjaannya belum selasai dan melimpahkannya pada kedua teman barunya itu.


Sekarang Kayla dilema, ia lihat lantai masih kotor di beberapa bagian, kemudian ia lihat seluruh badannya juga masih basah dan kotor, dan ia lihat ke arah jam dinding...


"Huuffft..." Kayla mendesah. Ia memandang wajah Nia dan Adit bergantian, mereka berdua mengangguk dan tetap menyuruh Kayla untuk pergi membersihkan diri dan mengganti seragamnya.


"Oke.. terima kasih banget ya, Ni..Dit.." ucap Kayla akhirnya. Nia dan Adit tersenyum lega.


Kayla meninggalkan kelas tanpa memakai sepatu dan kaos kaki, kalau ia berjalan kemana-mana menggunakan sepatu dan kaos kakinya yang basah dan kotor itu, bisa-bisa seluruh lantai yang ia lalui pun ikut kotor.


Ia berjalan cepat menuju Ruang Koperasi Sekolah, yang lokasinya sudah diberitahukan oleh Adit sebelumnya. Ia akan mengambil seragam baru disana, karena seragamnya yang sekarang sudah basah dan kotor harus segera diganti. Ia kemudian beringsut menuju toilet untuk membersihkan dirinya.


... ....


... ....


... ....


Pak Sugi, Guru yang mengajar kelas XI IPS di jam pertama sudah masuk, dan mulai mengabsen murid-muridnya.


"......."


"......."


"......."


"Jessica Shenaitara Wilson?"


"Hadir, Pak"


"Kayla Aurelly?"


Tidak ada sahutan dari si pemilik nama, Pak Sugi pun mengulangi absennya seraya menilik ke tempat duduk Kayla.


Tasnya ada disana, tapi kemana orangnya, pikir Pak Sugi.


Pak sugi menautkan alisnya dan mulai megubah ekspresi wajahnya, sebelum Pak Sugi mengomel Nia langsung menjawab.


"Kayla ke toilet, Pak." Pak Sugi lantas mengalihkan pandangannya ke arah Nia.


"Assalamu'alaikum.." sapa Kayla yang sudah berdiri di ambang pintu kelas. Kayla berdiri dengan kaku dan gugup, ini pertama kalinya Kayla terlambat masuk kelas.


"Wa'alaikum salam.." sahut Pak Sugi dan beberapa murid.


"Masuk!" titah Pak Sugi tanpa menoleh.


Kayla merasa sedikit lega mendengarnya, karena sebelumnya ia berpikir, mungkin ia tak diizinkan masuk ke kelas karena terlambat. Kayla melangkah masuk, perlahan dan agak ragu.


"Maaf, Pak. Tadi saya ke toilet buat ganti seragam saya yang kotor" ucap Kayla setelah sampai disamping meja guru.


Pak Sugi menoleh, menatap Kayla dari atas ke bawah. Rambut Kayla terurai dan masih terlihat basah setelah keramas, tentu saja Kayla harus keramas setelah disiram air yang ternyata dicampur dengan pewarna makanan dan kecap itu. Untung saja bukan oli atau cat. Seragam bagian atas Kayla juga terlihat sedikit basah karena tetesan air dari rambutnya, dan kakinya telanjang, tak memakai alas apapun.


"Apa apaan ini! Mana sepatu kamu?" gertak Pak Sugi, membuat Kayla kaget dan terperanjat.


"I..itu Pak, tadi s..saya lepas, soalnya juga kotor." jawab Kayla takut-takut.


"Kamu masuk telat, gak pake sepatu lagi." kata Pak Sugi dengan nada yang lebih rendah dari sebelumnya, tapi matanya melotot. Kayla hanya bisa menunduk dan menelan salivanya.


"Mm..maaf Pak" ujar Kayla lirih.


Pak Sugi berdiri, membuat Kayla semakin takut tapi ia tetap berharap kesalahannya bisa dimaafkan.


Pak Sugi adalah guru biologi yang terkenal killer, ia tidak bisa dibuat kesal oleh siapa pun, pelajaran biologi pun jadi terasa menakutkan karenanya. Dan hari ini, seorang murid baru datang terlambat di pelajaran pertamanya, bagaimana Pak Sugi bisa mentoleransi itu.


"Keluar!" titah Pak Sugi, dengan suara keras dan tangan yang menunjuk ke arah pintu.


Kayla terperanjat dan reflek mengangkat kepalanya menatap Pak Sugi tak percaya.


"Pak..? Saya datang ke sekolah tepat waktu kok, itu tas saya ada disana. Tapi tadi-"


"Enggak ada TAPI!! Kamu dihukum, berdiri diluar kelas sampai pelajaran saya selesai!" Pak Sugi memotong ucapan Kayla dengan bentakannya.


"Maaf Pak, tapi apa bisa dimaklumi, saya murid baru dan ini pertama kalinya saya masuk kelas Bapak." sahut Kayla takut-takut.


Pak Sugi memicing, "Justru karena kamu telat masuk di kelas pertama saya, kamu pantas dihukum. Saya gak suka murid yang gak disiplin."


Kayla terdiam. "Keluar kamu!" titah Pak Sugi lagi.


Kayla hanya bisa pasrah sekarang. Sebelumnya Kayla tidak pernah mendapat hukuman di sekolah, karena Kayla memang anak yang disiplin sejak kecil. Dan hari ini dia dihukum. Hati Kayla terasa berdenyut nyeri, ia mengerekatkan giginya menahan tangis.

__ADS_1


Melihat Kayla yang masih berdiri mamatung, Pak Sugi mengulangi perintahnya.


"Keluar!!"


Jessica Cs tersenyum puas menyaksikan pemandangan dihadapannya. "Rasain lu" gumam Jessica pelan.


Kayla bersandar di tembok, di depan kelasnya. Dengan tatapan mata yang lurus ke depan, tapi kosong. Beberapa bulir air mata mengalir membasahi pipi Kayla.


Ini pertama kali Kayla terlambat masuk kelas, padahal ia tidak datang terlambat ke sekolah.


Gara-gara kejahilan para pria menyebalkan dan Jessica Cs yang mereka sebut dengan sambutan hangat itu, Kayla jadi mendapat hukuman sekarang. Bahkan ini hukuman pertama untuknya. Menyedihkan bagi Kayla, ia tidak diizinkan mengikuti pelajaran, padahal ia hadir di sekolah.


Pelajaran pertama berakhir, Pak Sugi keluar kelas melewati Kayla. Kayla hanya menunduk, tidak tahu dan tidak mau tahu bagaimana reaksi Pak Sugi dihadapannya kali ini. Para murid pun berbondong-bondong keluar kelas.


Jessica, Luna dan Erin berjalan melewati Kayla sambil mengumbar senyuman remeh mereka.


Nia dan Adit pun keluar kelas, menghampiri Kayla. Keduanya menunjukkan wajah sedihnya pada Kayla, Kayla membalasnya dengan senyuman.


"Aku nggak papa kok, terima kasih ya kalian mau bantuin aku tadi."


"Tapi kamu tetap gak bisa ngikutin pelajaran" jawab Nia lemas.


"Kalo pelajaran pertamanya Bu Weni, kamu pasti dimaafin" sambung Adit.


"Yaudah lah, seenggaknya aku gak disuruh berdiri di lapangan kan panas-panasan" sahut Kayla sambil tersenyum.


Adit agak terkesiap mendengarnya, ia jadi ingat kemarin menawarkan tumpangan pada Kayla karena tidak tega melihat Kayla panas-panasan di pinggir jalan menunggu angkot. Adit mengembangkan senyumnya.


"Ternyata Adit manis juga ya" gumam Kayla dalam hati.


Adit memang tak setampan P-four yang populer itu, hidungnya juga tak mancung, tapi mata bulatnya, rambut klimisnya dan lesung pipinya yang nampak ketika ia tersenyum itu membuatnya terlihat sangat manis.


"Ke kantin yuk!" ajak Nia, membuyarkan lamunan Kayla dan Adit. Mereka bertiga pun berjalan menuju kantin.


... ....


... ....


... ....


Di kantin, Alex dan teman-temannya duduk di tempat biasa mereka. Bahkan tempat itu sudah menjadi milik P-four, tidak ada yang berani memakainya selain mereka.


Kayla, Nia dan Adit duduk di kantin dan menikmati makanan mereka. Tempat duduk milik P-four itu hanya berjarak satu buah meja dari meja yang ditempati Kayla saat ini, jadi mereka dapat mendengar pembicaraan masing-masing.


"Elu udah nanyain ke Kak Reno belum, Bim?" tanya Alex.


"Trus?"


"Kak Reno nggak tau."


Alex nampak kesal mendengar jawaban Bima yang terkesan acuh. "Kok nggak tau?!"


"Al, cewek cantik, rambut lurus sepinggang, trus pake dress hitam itu banyak. Yang hadir disana emang cuman dia yang pake dress hitam? Gimana Kak Reno bisa tau" sahut Bima.


"Tapi dia dateng ke pesta itu, dan itu pesta ulang tahun pacarnya Kak Reno, pasti Kak Reno tau." Alex bersikeras.


"Justru karena pesta itu yang punya pacarnya Kak Reno, ya mana sempat lah Kak Reno ngelirik cewek lain." kata Bima lagi.


Alex mendengus kesal.


"Tapi kan Kak Reno bisa nanyain ke Kak Riana"


"Nanyain cewek lain ke pacarnya? Ah, nggak. Nggak berani gue, sama aja ngajak perang." tolak Bima sewot.


"Bim.." mohon Alex


"Enggak Al.. kalo Kak Riana salah paham, ntar gue dipukul kakak gue." tolak Bima.


"Kalo gitu, lu aja yang nanya langsung ke Kak Riana." kata Alex lagi.


Bima nampak berfikir.


"Eh bro, kalo dia dateng di ultahnya Kak Riana, ada kemungkinan dia teman kampusnya Kak Riana kan." Vicky berspekulasi.


"Bener juga, dan kalo dia emang teman kampusnya Kak Riana, pasti Kak Riana tau dong." sambung Sandi.


Wajah Alex mulai berbinar.


"Oke, nanti gue coba nanya sama Kak Riana nya langsung" sahut Bima menyetujui.


"Kenapa nanti, kalo bisa sekarang." sahut Alex seraya berdiri dari duduknya, nampak tak sabar, membuat ketiga temannya meliriknya serentak.


"Mau kemana?" tanya Bima.


"Kampusnya Kak Riana" sahut Alex, membuat ketiga temannya terkesiap kaget.


"Ngapain? Gue chat Kak Riana nya sekarang." sergah Bima.


"Gue mau cari langsung Miss Kissable disana." sahut Alex nge gas.

__ADS_1


"Tanya Kak Riana dulu Al, kan belum tentu cewek lu ada disana. Lagian ini masih ham sekolah." Vicky menarik lengan Alex agar kembali duduk.


"Lagian ya Al, kalo pun dia ada disana, emang lu bisa ngenalin? Kan kemarin itu pesta topeng dan dia juga pake topeng." sambung Sandi lagi.


"Gue yakin, gue bisa ngenalin dia. Walaupun pas kita pertama ketemu kemarin dia pake topeng." jawab Alex mantap.


Kayla mengernyit saat tak sengaja mendengar mereka menyebut...


"Pesta Topeng?" gumam Kayla pelan. Ia menoleh ke asal suara, yang ia dengar barusan menyebut tentang pesta topeng.


Setelah Kayla menoleh ke belakang, ternyata disana ada Alex dan teman-temannya, dan mereka membicarakan tentang pesta topeng? Apa yang mereka maksud adalah pesta topeng Kak Riana, sepupunya? Apa mereka juga hadir di pesta topeng itu? Kayla jadi bertanya-tanya sendiri.


"Eh cupu, ngapain liat liat?!" bentak Sandi yang menyadari Kayla melihat ke arah mereka sejak tadi. Alex, Bima dan Vicky pun menoleh, Kayla yang kaget mendapat bentakan tiba-tiba pun langsung memalingkan wajahnya.


"Semoga gak jadi masalah.." Kayla menggigit bibir bawahnya seraya bergumam lirih.


Sungguh, ia bukan sengaja memperhatikan cowok-cowok jahil itu, ia tadi hanya tertarik dengan kalimat pesta topeng yang ditangkap oleh pendengarannya.


"Kenapa, Kay?" tanya Adit yang menangkap perubahan di wajah Kayla.


Sedangkan Nia yang mendengar bentakan Sandi barusan ditujukan pada Kayla pun menegang melirik Kayla. Beberapa detik kemudian Nia mendengar suara derekan kursi yang disentak kasar, Nia jadi semakin cemas.


Benar saja, Alex dan teman-temannya serentak berdiri dari duduk mereka, yang membuat suara derekan kursi terdengar nyaring. Mereka berjalan menghampiri Kayla.


"Gue hampir lupa bro, kalo kita punya mainan baru." ucap Alex seraya mengusal kepala Kayla kasar, membuat rambut Kayla yang baru saja kering dan belum ia kepang itu semakin berantakan.


Adit yang menyadari situasinya, mulai khawatir.


Alex terlihat beranjak meninggalkan Kayla, diikuti Sandi, lalu Vicky, dan Bima..


Bima masih berdiri disisi Kayla, Kayla yang menyadari kejanggalan itu lantas mendongak menatap Bima.


"Ikut kita!" ucap Bima ketus, membuat Adit terkesiap dan semakin khawatir.


"Kemana?" tanya Kayla.


"Ikut aja, gak usah nanya-nanya!" ucapnya lagi, setengah membentak.


Kayla melirik kedua temannya, Nia dan Adit. Keduanya terlihat tegang, dan khawatir pada Kayla namun tak berani berkutik. Kayla lalu melirik Bima lagi, ia pikir lebih baik ia menurut saja dari pada menambah masalah. Mereka tidak akan menyiramnya lagi dengan air hitam seperti tadi pagi kan? Semoga saja tidak.


Ketika Kayla baru beranjak, Adit berdiri dan menahannya.


"Tunggu dulu!"


Kata-kata Adit bukan hanya membuat langkah Kayla terhenti, tapi juga membuat Alex dan teman-temannya menghentikan langkah mereka dan berbalik mendekat ke arah Adit.


Tatapan mereka yang sinis membuat Adit kesulitan menelan salivanya.


"Apa?" tanya Alex datar.


"Emm.. Kayla ini murid baru-"


"Gue tau!" Alex menyela ucapan Adit.


"Iya. Tadi pagi kan kalian udah-"


"Emangnya kenapa?" Alex menyela lagi, dengan nada bicara yang lebih tinggi.


Alex melangkah maju ke arah Adit yang sekarang terlihat ragu mengeluarkan kata-katanya. Nia yang merasa situasinya semakin tegang hanya bisa diam ditempat, tanpa berani bergerak sedikit pun.


Adit mengepalkan kedua tangannya, mengumpulkan keberaniannya menghadapi Alex. Tatapan Alex yang tajam ke matanya, membuat Adit sulit melawan tatapan itu. Adit akhirnya mengalihkan pandangannya, menatap Kayla. Tapi sepertinya Kayla salah paham.


"Udah lah..kalian mau aku ikut kalian kan. Ayo!" ucap Kayla berusaha menghentikan Alex yang dilihatnya akan menyerang Adit.


Adit merasa menyesal sekarang, kenapa tadi ia mengalihkan pandangannya dari Alex dan malah melirik Kayla. Sekarang ia terlihat seperti pengecut yang membutuhkan pembelaan dari seorang gadis.


Dan Alex, masih belum mengalihkan tatapannya dari Adit. Ia merasa ditantang oleh perkataan Adit yang berusaha menghentikannya tadi.


"Kenapa? Elu gak terima gue bawa dia pergi? Elu nantang gue? Emang lu siapa?" tanya Alex ketus.


"Bukan. Maksud aku, Kayla udah dapet pelajaran dari kalian dan dia gak ngelawan sama sekali. Jadi itu cukup kan?" ucap Adit lembut, berusaha agar tidak memancing amarah Alex.


Alex mendenguskan nafas mendengar pembelaan Adit, ia menyeringai sambil menepuk bahu Adit. "Ketua kelas yang baik." gumamnya.


Kemudian tangan Alex yang berada dibahu Adit beralih ke kerah baju Adit dan mencengkramnya. "Gak usah ikut campur!" bentaknya seraya menyentak kasar tubuh Adit dengan satu tangannya. Adit pun lantas terduduk ke kursinya kembali.


Alex dan teman-temannya lantas berlalu meninggalkan Adit dan keluar kantin. Diikuti Kayla juga, yang menatap lirih dan merasa bersalah pada Adit.


Adit hanya bisa merutuki kelemahannya sendiri, yang tidak punya keberanian dan nyali yang besar untuk bisa melawan keempat siswa berpengaruh itu. Ia menggeram kesal dalam diamnya, menatap punggung Alex dan teman-temannya yang membawa Kayla bersama mereka. Entah apa yang akan mereka lakukan pada gadis itu.


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2