
Mami Kayla yang baru turun dari angkot, merogoh isi tasnya kemudian mengeluarkan uang untuk membayar ongkosnya. Kayla semakin cemas karena kini Mami sudah berbalik lagi dan melangkah mendekat ke arah Kayla dan Adit.
Setiap satu langkahan kaki mami membuat jantung Kayla berdegup semakin tak beraturan. Kayla tidak mau mami sampai tahu keadaannya yang tidak baik ini, Kayla tidak mau membuat mami sedih dan khawatir jika tahu kalau putrinya dibully di sekolah. Kayla tidak mau itu terjadi.
Selama ini Kayla memang anak yang manja, tapi setelah mami dan papinya bercerai Kayla belajar untuk lebih dewasa dan mandiri, ia belajar untuk terlihat lebih kuat dan semangat, untuk menguatkan dan menyemangati sang mami.
Meski Kayla tersenyum membalas senyuman mami yang langkahnya semakin mendekat. Tapi dalam kecamuk pikiran dan kecemasannya, tanpa sadar Kayla memegang erat pergelangan tangan Adit, membuat Adit menyadari kalau Kayla sedang tidak tenang.
Saat ini memang mami belum memperhatikan Kayla dengan jelas seluruh tubuhnya, karena Adit dan motornya berada di depan Kayla dan menghalangi pandangan mami. Tapi jika mami melangkah 2 sampai 3 langkah lagi saja, pasti mami akan melihatnya.
Adit yang mengerti situasinya pun segera bertindak. Adit turun dari motornya dan segera berdiri dihadapan mami Kayla, langkah mami Kayla pun sontak terhenti. Mami sedikit terkesiap karena tindakan mendadak Adit yang membuatnya mengalihkan pandangan dari Kayla.
"Assalamu'alaikum tante.." ucap Adit sedikit kikuk seraya meraih tangan mami Kayla.
"Wa'alaikum salam.." sahut mami seraya memberikan tangannya pada Adit untuk kemudian dicium.
"Kamu temannya Lily?" Adit mengernyit bingung.
"Eh maksud tante.. kamu temannya Kayla? Kayla pulang sama kamu?"
Adit tersenyum, "Iya tante, maaf saya baru bisa anter Kayla jam segini, kita kejebak hujan."
Mami mengangguk paham "Gak papa, makasih ya ...?" Mami bingung melanjutkan ucapannya karena belum kenal dengan anak laki-laki di depannya ini.
"Adit."
"Oh, Adit?!" Adit mengangguk.
Kemudian mami menoleh ke belakang Adit.
"Eh, Kayla nya kemana?" bingung mami sambil mengedarkan pandangannya saat Kayla sudah tidak ada di belakang Adit. Adit pun ikut mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Udah masuk kali, tante." sahut Adit sekenanya.
"Mungkin sih.. tapi kok main ngelonyor aja, gak biasanya deh."
"Eh, nak Adit mampir dulu yuk!"
"Gak usah tante, saya langsung pulang aja. Baju saya juga basah, Kayla juga pasti dia langsung mandi, soalnya kita sempat kehujanan."
"Owh... yaudah. Sekali lagi makasih ya udah anterin anak tante."
"Iya tante, saya pamit. Assalamu'alaikum!" ucap Adit sembari memakai helm dan menyalakan mesin motornya.
"Wa'alaikum salam... kamu hati-hati ya..!"
Adit mengangguk dan mulai melajukan motornya.
... ....
... ....
Kayla bergegas ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah itu, ia segera membenahi seragamnya, bajunya ia masukkan ke dalam mesin cuci, dan rok sekolahnya yang sudah rusak, ia membuangnya ke tong sampah untuk menghilangkan jejak pembullyan yang ia alami, agar mami tidak tahu dan tidak perlu mengkhawatirkannya.
... ______________...
Setelah memarkirkan motornya, Adit melangkah memasuki teras rumahnya. Tapi di ambang pintu, seorang gadis muda menghadangnya, gadis itu menyilangkan kedua tangannya di dada dengan ekspresi wajah yang ditekuk dan nampak kesal.
Adit tersenyum tipis dan menghentikan langkahnya di depan gadis itu. "Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam." jawabnya ketus.
"Kenapa Nis..? tanya Adit lembut.
"Kak Adit balik ke sekolah? Nolongin cewek yang dibully itu?" Adit sedikit terkesiap mendengar pertanyaan adiknya itu.
"Kok tahu?"
"Aku liat Kak Adit pas keluar rumah, Kakak ngomong sendirian nyebut-nyebut nama Kak Kayla."
Adit menyengir membuat adiknya semakin kesal. "Iya Nis, Kakak kasian sama dia."
"Kasian atau ....."
"Atau apa?" sahut Adit seraya berlalu melewati sang adik.
"Kak Adit gak sayang sama aku!" semprotnya tiba-tiba, dengan tatapan sinisnya.
"Eh?"
"Kalo Kak Adit sayang sama aku Kakak gak akan balik ke sekolah dan campurin urusan Kak Alex!"
__ADS_1
"Loh? Kakak balik ke sekolah buat nolongin teman Kakak, Nis."
"Iya.. tapi Kakak tau kan teman yang Kakak tolongin itu siapa? Dia punya masalah sama Kak Alex, dan Kakak mau terlibat!?"
"Annisa.. Kakak cuman nolongin dia. Dia udah dipermaluin dan gak ada yang peduli ataupun bantuin dia. Kakak gak tega, Nis" tutur Adit lembut agar adiknya bisa mengerti.
"Tapi Kakak tega sama aku." Annisa mengubah mimik wajahnya.
"Annisa...kakak-.."
"Meski kakak tau resikonya, kakak tetap nolongin dia. Kakak nggak mikirin aku?" potong Annisa sebelum Adit menyelesaikan ucapannya. Adit mengerti jika adiknya itu tengah ketakutan.
"Pas kakak sampai ke sekolah udah gak ada siapa-siapa, Kayla sendirian disana. Kamu gak akan kenapa-napa." tuturnya serius seraya menatap sayang wajah sang adik.
"Kakak yakin?"
"Iya. Gak ada yang tau kalo kakak nolongin dia. Jadi kakak ataupun kamu gak akan kena masalah."
Memang ada Pak Bayu yang melihatnya menolong Kayla, tapi tak mungkin kan Pak Bayu akan mengadu pada Alex. Lagipula Adit yakin ia dan adiknya aman.
Ketakutan Annisa memang perasaan yang wajar, karena ia sudah berkali-kali dibully oleh Alex dan teman-temannya. Sebenarnya ia tidak pernah bermasalah dengan Alex dan teman-temannya itu, tapi Adit lah yang suka ikut campur dan suka menolong korban bullying mereka. Namun bukan Adit yang mereka hukum karena ikut campur, melainkan Annisa adiknya. Disamping karena adiknya Adit adalah siswi di sekolah mereka, dia juga kelemahan Adit, dan mereka membully nya untuk menggertak dan memberikan efek jera pada Adit. Jika Adit berani mencampuri urusan mereka, maka adiknya lah yang menjadi korban berikutnya.
Annisa cukup trauma atas pembullyan yang terakhir mereka lakukan padanya. Mereka menakut-nakuti Annisa sehingga Annisa berlari tunggang langgang untuk menghindari mereka, sampai Annisa jatuh dari tangga. Dan harus dirawat di rumah sakit berhari-hari.
"Awas ya! Kalo aku sampai dibully lagi gara-gara Kakak, aku gak akan maafin kakak dan aku bakalan benci sama kakak!" semprot Annisa bersungut-sungut, membuat Adit terkekeh dan mengusap pucuk kepala adiknya itu.
... ______________...
Jessica dan kedua temannya merencanakan sesuatu untuk mempermalukan Kayla hari ini.
"Kenapa gak sekarang aja sih, Jes?" keluh Luna.
"Kurang seru kalo sekarang, yang liat cuman anak-anak sekelas doang. Sabar dikit lah.." sahut Jessica santai sambil memandangi tangan dan kuku-kuku cantiknya yang selesai dipoles.
"Tapi boleh dong.. kita kasih sedikit kesan dulu gitu di awal?" ujar Erin dengan ekspresi liciknya.
"Suka-suka kalian." sahut Jessica sambil mengedikkan bahunya.
Erin dan Luna memainkan alisnya sambil ber-tos ria. Kemudian mereka berdua berdiri diluar kelas sambil menunggu kedatangan target mereka, siapa lagi kalo bukan Kayla. Saat mereka melihat sosok Kayla muncul dan sedang berjalan menuju kelas, mereka memulai aksinya.
Kayla hanya melirik Erin dan Luna dari balik bulu matanya sekilas. Menurut Kayla, keduanya terlihat seperti satpam penjaga yang berdiri di kedua sisi pintu, mereka juga terlihat acuh dan tak peduli. Kayla mengabaikan keduanya saat hendak memasuki kelas tanpa Kayla sadari keduanya tersenyum miring melirik Kayla.
"Tiga!!"
Ssrrrt...... gedebuggk!!
Kayla jatuh terpeleset, ia meringis mengusap pinggangnya. Ia lihat ke sekeliling mencari sesuatu yang barusan ia injak sehingga membuatnya terjatuh. Ternyata kulit pisang, bukan hanya satu, tapi ada empat kulit pisang disana.
Sesaat setelah itu terdengar suara tawa cekikikan teman-teman sekelasnya. Erin mengangkat telapak tangannya sejajar dengan wajahnya, Luna pun melakukan hal yang sama, dan keduanya menyatukan tangan mereka. "Prokk!"
TOSSS!!!
Hati Kayla rasanya mencelos. Ia bahkan belum bisa melupakan insiden yang membuatnya malu dan jadi bahan ejekan dan tertawaan kemarin. Sekarang ia jadi bahan tertawaan lagi?
Pagi ini Kayla sempat ragu untuk berangkat ke sekolah, mengingat insiden buruk yang terus membayang-bayanginya. Ia merasa malu untuk menunjukkan wajahnya atau menatap siapa pun di sekolah. Ia sudah berusaha melupakan insiden kemarin agar tak jadi beban pikirannya, tapi itu cukup berat bagi Kayla.
Kayla berharap hari ini, cukup terpelesat ini saja, jangan ada insiden-insiden lainnya yang akan membuatnya bersedih lagi. Atau Kayla tidak akan tahan menghadapinya.
Kayla menghela nafas panjang sebelum bangkit, ia memunguti kulit pisang yang barusan diinjakknya lalu membuangnya ke tempat sampah. Kemudian Kayla beringsut menuju tempat duduknya.
Bangku disampingnya masih kosong. Sampai bel masuk dan bel istirahat pun bangku disampingnya tetap kosong. Nia tidak masuk.
"Nia kemana yah.. apa dia baik-baik aja? Kok gak masuk. Padahal kan aku pengen curhat sama dia." gumam Kayla dalam hatinya lirih.
"Nia, kamu bilang.. seminggu atau dua minggu paling lama pasti mereka bosen ngebully aku, tapi ini udah hampir sebulan. Aku capek, mereka makin keterlaluan!" keluh Kayla dalam hatinya, tatapannya kosong memandang bangku Nia yang juga kosong.
"Kay, ke perpustakaan yuk!"
Kayla mendongak. "Adit!"
Adit tersenyum lebar memamerkan lesung pipi yang ia miliki. Setidaknya senyum manis Adit dapat mengukir senyuman juga di wajah murung Kayla.
Adit mengajak Kayla ke perpustakaan sekolah untuk membaca buku, Adit berharap dengan membaca buku Kayla bisa menghilangkan ketegangan otaknya dan membuat pikiran plong.
Dan... Alhamdulillah.
Adit lega melihat Kayla tersenyum dan nampak bersemangat membaca buku, Kayla menikmati bacaannya, sesekali ia tertawa dan mengeluh pada Adit tentang cerita yang ia baca.
Ya, di perpustakaan sekolah tidak hanya menyediakan buku pelajaran atau rumus-rumus yang serius dan memusingkan saja. Disana juga ada buku cerita yang tentu masih berhubungan dengan pendidikan, seperti buku cerita rakyat atau hanya komik-komik lucu yang tentu mengandung pesan moral juga di dalamnya.
Di tengah keasyikan mereka membaca, tiba-tiba terdengar suara gaduh. Seperti suara seseorang yang sedang memukul-mukul pintu. Beberapa orang terlihat kaget dan takut, ada juga yang hanya penasaran saja.
__ADS_1
"Keluar semuanya...!!"
Terdengar suara teriakan kencang yang membuat semua orang yang ada di perpustakaan sontak beranjak terburu-buru. Begitu juga dengan Kayla dan Adit, mereka ikut lari bersama yang lainnya meskipun belum tahu siapa yang menyuruh semua orang keluar dan apa yang terjadi.
"Keluar...!!" teriaknya lagi yang terdengar memburu.
Ketika Kayla dan Adit sampai di ambang pintu, barulah mereka tahu siapa yang berteriak, itu Bima. Tapi mereka tak lantas mengerti apa yang alasannya ia berteriak.
Bima merentangkan kedua tangannya di ambang pintu ketika Kayla dan Adit hendak lewat. Langkah keduanya pun lantas terhenti di depan Bima.
Adit memberanikan diri bertanya. "Ada apa?"
"Heh!" Bima mendengus licik. "Ada apa?? Elu liat sendiri adik lu tuh, ada apa sama dia!"
Duuaaaarrrr....
Rasa takut langsung muncul di hati Adit. Apa yang Bima bilang barusan? Adiknya? Ada apa sama Annisa?
"Dimana? Dimana dia sekarang??" tanya Adit panik.
"Di gudang." jawab Bima lempeng sambil tersenyum miring.
Adit pun bergegas berlari menuju gudang. Kayla pun ikut berlari menyusul Adit. Sedangkan Bima yang masih berdiri di posisinya hanya tersenyum smirk.
Ketika Kayla berlari menyusul Adit di tengah keramaian, tiba-tiba saja ada sesuatu yang menghantam punggungnya yang membuat langkahnya terpaksa berhenti.
Kayla merasakan sesuatu di punggungnya, tidak terasa sakit karena hantaman itu. Tapi Kayla merasakan basah, yang menjalar dari punggungnya ke bawah. Belum sempat Kayla memastikan apa itu, sesuatu yang rasanya sama kembali menghantamnya. Tapi kini di wajahnya, membuat Kayla tersedak dan terbatuk-batuk karenanya.
Setelah sesuatu itu melumuri wajahnya barulah Kayla tahu apa itu. Dari tekstur dan baunya Kayla bisa memastikan bahwa itu adalah.... Lem, bukan air.
Keterlaluan!
Para pelaku pun menunjukkan ekspresi menang mereka, karena mereka kembali berhasil membuat Kayla kesal dan terlihat menjijikan di depan semua orang. Jessica, Luna dan Erin tertawa dan mengejek Kayla yang seluruh tubuhnya kini berlumuran lem yang masih basah.
"Sebentar lagi si cupu yang sok berani ini bakalan jadi kanebo kering...Hahahaaa... " ledek Jessica sambil berjalan mengelilingi Kayla.
Lagi-lagi Kayla dipermalukan, menjadi tontonan dan bahan nyinyiran. Diantara mereka ada yang merutuk Kayla, mereka menganggap Kayla terlalu berani melawan Alex, hingga ia menanggung sendiri akibatnya. Ada juga yang kasihan melihatnya, dan aja juga diantara mereka yang sebenarnya ingin mendukung perlawanan Kayla tapi mereka tidak punya keberanian.
"Sejauh ini baru dia loh yang berani ngelawan Alex, tapi sayang nasibnya kayak gini."
"Iya, kalo resikonya gak terlalu besar sih aku udah pasti dukung dia."
"Semoga aja dia gak nyerah. Kasian dia, harus ngelewatin cobaan begini demi perubahan di sekolah kita."
"Emangnya kamu yakin, kalo dia emang mau ngerubah keadaan? Siapa tau dia cuman ngebela dirinya sendiri!"
Beberapa diantara mereka berbisik-bisik.
"Rasain tuh! Sok berani sih!"
"Udah tau masuk kurungan singa, malah mancing-mancing kemarahannya."
"Dia emang punya nyali atau iseng-iseng doang sih ngelawan Alex?"
"Menang banyak tuh Jessica, kemarin sukses hari ini sukses, besok apaan lagi ya.."
"Keren juga caranya Jessica. Kalo disiram air mah udah biasa, lah ini... LEM. Woww!"
"Seru kali ya kalo lemnya kering tuh di badan dia, bisa jadi kayak robot dong jalannya. Hahaahaaa..."
"Baru dari Jessica, belum lagi dari Alex nih. Pasti lebih seru."
"Kalo Jessica nyiram pake lem, kira-kira Alex pake apa ya? Ditaburin bulu-bulu kayaknya perfect deh, jadi kayak manusia ayam. Hahaahaaa....."
Kayla mendengar semuanya.
Perasaan yang kemarin ia rasakan, kini ia rasakan lagi. Kayla berusaha menahan air matanya, ia mengepalkan tangannya dan mengerekatkan giginya. Ia sedih, hatinya nyeri, ia marah, kesal, dan benci. Benci mendengar dan melihat tertawaan mereka diatas penderitaan yang ia alami.
Kayla lelah terus diperlakukan seperti ini, Kayla lelah terus mengalah menghadapi mereka. Kayla ingin menyerah tapi Kayla juga ingin memberontak!
Dengan langkah besar dan memburu Kayla pergi meninggalkan mereka semua.
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1