Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Niat Baik


__ADS_3

"Apa? Nikah? Kamu ngehamilin anak orang?!" histeris pria berusia 44 tahun itu.


"Enggak pa! Bisa-bisanya papa mikir gitu." bantah sang putra cepat.


"Kamu juga bisa-bisanya minta nikah?!" timpal sang papa yang masih terkaget-kaget.


"Pa, Al serius. Enggak harus nikah cepet kok, lamarin aja dulu dia buat Al!"


"Siapa dia?"


"Kayla. Papa udah kenal dia kan, dia cewek yang tepat buat Al, dan pantas buat jadi mantu papa."


Sang papa mengernyit, "Kayla..." gumamnya sambil berpikir.


"Apa alasan kamu cepet-cepet ngelamar dia? Kalian gak ngelewatin batasan kan?" selidik sang papa.


"Ngelewatin batasan gimana?" Alex agak salah tingkah ditanya seperti itu apalagi tatapan papanya cukup tajam.


"Jangan belagak gak ngerti. Kamu minta nikah diumur segini pasti ada alasan yang gak wajar."


"Pa, Kayla itu cewek baik-baik, dan kita gak pernah ngelewatin batas kayak yang papa maksud." bantah Alex tegas.


"Bagus. Itu kamu ngerti maksud papa." ujar sang papa terkekeh.


"Pa, Al serius sama Kayla. Al gak mau kehilangan dia. Keputusan ini juga udah AI pikirin matang-matang kok. Al siap, lagian ini baru lamaran pa, soal nikah kan bisa nanti.Yang penting Al realisasiin dulu niat baiknya kan."


Sang papa melongo mendengarnya. "Kamu serius?"


Alex mengangguk mantap, membuat ******* frustasi terdengar dari mulut sang papa. Entah bagaimana jalan pikiran putranya ini, tiba-tiba dia bilang ingin menikah muda dan sudah punya pilihan sendiri. Bisa-bisanya Alex mengambil keputusan sebesar itu tanpa bicara dulu padanya.


"Sejauh apa hubungan kamu sama Kayla? Apa Kayla juga setuju, atau.. dia yang minta kamu lamar dia?" selidik sang papa.


"Kita deket, tapi cuman sebatas teman sih sejauh ini."


Alex menunduk malu sebelum melanjutkan kata-katanya. "Al pernah nyatain perasaan ke dia, tapi gak diterima sama dia. Karena dia bilang dia gak mau pacaran."


"Jadi dia udah nolak kamu? Dan kamu malah mau menjalin hubungan yang lebih serius sama dia?!" Alex mengangguk.


"Tapi Al tau pa, sebenarnya Kayla juga suka sama Al. Dia Cuman megang prinsipnya yang gak berani pacaran, selama ini dia welcome banget kok sama Al, kita deket."


"Gimana kamu bisa yakin kalo dia juga suka sama kamu? Mungkin aja kan dia nolak kamu karena dia suka sama orang lain."


Alex menggeleng seraya mendengus senyum.


"Dan.. apa dia udah tau kalo kamu mau ngelamar dia?" tanya sang papa lagi


"Kayla emang gak pernah bilang kalo dia suka sama Al, tapi Al yakin pa, selama kita dekat kan kita bisa saling ngerti satu sama lain. Al juga udah ngomong sama dia kalo Al mau ngelamar dia, sama maminya juga."


"Hah? Kamu udah ngomong sama orang tuanya juga?"


"lya."


"Trus gimana tanggapan orang tuanya?"


"Emm.. belum nanya lagi sih, terakhir maminya Kayla minta waktu buat diskusi sama Kayla nya, dan sama Om nya juga. Tapi maminya Kayla seneng kok sama Al"


"Kamu pernah ke rumahnya?"


"lya" Alex terkikik geli, "Deketin calon mertua." tambahnya agak pelan karena malu.


Elfatt, sang papa hanya bisa menggeleng-geleng tak habis pikir. Besar juga nyali putranya ini, dia sampai berani mendekatkan diri dengan orang tua Kayla juga! Dia berani mengutarakan niatnya itu pada orang tua Kayla! Entah bagaimana tanggapan orang tua Kayla tentang Alex.


"Gimana pa?"


"Jangan gegabah Al, kita mungkin udah kenal sama Kayla. Tapi gimana latar belakang keluarganya? Siapa orang tuanya, dan gimana reputasi keluarga mereka. Itu penting nak, kita ini orang yang cukup terpandang, tindak tanduk kita bisa jadi objek perhatian publik, rekan-rekan bisnis ataupun klien kita. Jadi kita harus jaga image kita nak, jangan sampai nanti ada orang yang berbicara ataupun beranggapan buruk dengan anggota baru keluarga kita. Papa akan selidikin dulu semua itu."


Alex terdiam. "Papa harap kamu gak tersinggung. Papa suka dengan anak seperti Kayla, tapi pandangan kita juga harus terbuka sama hal-hal lain yang berhubungan dekat dengan Kayla."


"lya pa, Al ngerti."


"Oh iya pa, maminya Kayla itu karyawan di perusahaan papa juga loh." lanjut Alex.


"Oh ya? Di perusahaan yang mana, bagian apa?"


"Di Swill Group pusat pa, bagian FM. Namanya Tante Nadia. Al gak tau nama panjangnya, papa bisa cari tau dan selidikin sendiri" jelas Alex membuat papanya mengangguk-angguk.


"Kalo ayahnya?"

__ADS_1


"Al gak tau soal papinya, soalnya Tante Nadia itu udah cerai sama suaminya tiga tahun yang lalu. Yang Al tau sih papinya Kayla tinggal di Bandung." Sang papa kembali mengangguk.


Jika dilihat, sepertinya Alex memang serius. Kayla juga gadis yang baik, Elfatt akan merasa senang įika gadis yang sudah berhasil merubah putranya itu akan menjadi menantunya. Apa? Menantu?! Astaga. Elfatt bahkan belum berpikir sampai kesana. la tidak pernah berpikir akan mempunyai menantu secepat ini. Tapi mau tidak mau ia harus mempertimbangkan keseriusan putranya ini.


"Al, kamu bilang kamu udah siap? Apa aja yang udah kamu siapin?"


"Al udah belajar dewasa, belajar bertanggung jawab dan gak egois. Al juga udah punya penghasilan sendiri kan, Al sanggup menghidupi dia setelah kita nikah nanti. Al juga lagi belajar agama pa, belajar semua ilmu yang berkaitan tentang rumah tangga."


Elfatt menaikkan alisnya takjub. Seserius itukah putranya ini, sampai dia belajar tentang ilmu agama yang berhubungan dengan rumah tangga juga!


"Sama Ustadz Zidan" lanjut Alex.


"Kamu belajar sama Ustadz Zidan?" ulang sang ayah memastikan.


"lya pa."


Elfatt kenal baik dengan Ustadz Zidan, tempat tinggal beliau tidak jauh dari mansion megah miliknya ini. Mereka masih terbilang tetangga, dan hubungan mereka pun cukup baik. Beberapa kilometer dari kediamannya ada sebuah TPA (Taman Pendidikan Alquran) yang dibangun oleh Ustadz Zidan sendiri. Dulu ketika masih kecil Alex belajar mengaji di sana. Ustadz Zidan juga mengajar di salah satu pesantren di Jakarta, sekarang ini Ustadz Zidan juga sudah melebarkan sayapnya menjadi seorang Da'i yang terkadang muncul di stasiun televisi swasta.


Jika Alex sekarang ini belajar dengan Ustadz Zidan, Elfatt yakin putranya itu akan mendapatkan ilmu agama yang bagus. Karena Ustadz Zidan itu merupakan salah satu alumni terbaik di Universitas Al Azhar, Kairo. Kualitas lImunya tidak diragukan lagi. Jika Alex sudah seserius ini, maka Elfatt yakin sang putra memang mempersiapkan dirinya dengan baik.


Elfatt tersenyum hangat dan Alex pun ikut tersenyum. "Papa bangga kamu mau belajar agama Al, kamu sekarang sudah dewasa dan berpikiran luas."


"Pa, Al serius. Al bukan cuman pengen nikah tapi juga membangun rumah tangga yang bahagia dan diridhoi sama Allah. Jadi Al harus belajar dong buat semua itu. Al gak mau bikin Kayla susah hidup sama Al nanti, Kayla harus bahagia, dan gak kekurangan apapun"


Elfatt menepuk pelan pundak Alex. "Papa akan pertimbangkan niat baik kamu itu."


"Makasih pa!" ucap Alex tersenyum lebar.


"Tapi Al, apa kamu yakin Kayla akan menerima kamu?"


"Kalo itu.. Al gak bisa mastiin sih, tapi Al yakin sama keputusan Al buat ngelamar dia. Pilihan ada di tangan dia, yang penting Al harus buktiin ke dia kalo Al emang serius dan tulus."


"Kamu gak takut ditolak?"


Alex tersenyum samar. "Takut lah pa, tapi gak mungkin kan Al maksa Kayla."


Elfatt terdiam. Optimis sekali putranya ini, dia kekeh ingin melamar Kayla seakan dia yakin bahwa Kayla adalah jodohnya. Padahal belum pasti Kayla akan menerimanya, bahkan mungkin gadis itu belum siap untuk dilamar. Kenapa niat baik putranya ini terkesan buru-buru.


"Pikirin lagi Al, kamu masih terlalu muda, Kayla juga mungkin belum siap. Kalian masih SMA, apa itu nggak akan mengganggu sekolah kalian? Apalagi Kayla, dia perempuan, dampak pernikahan dini akan lebih berat dirasakan olehnya nanti. Kamu juga mungkin akan terbebani."


"Tapi kehidupan pernikahan itu untuk jangka panjang Al, bahkan sepanjang hidup kalian kedepannya. Bukan hal gampang menjalani itu semua, sedangkan kalian baru aja beranjak dewasa."


"lya pa, Al ngerti. Ustadz Zidan juga udah jelasin itu semua, tapi nikah jauh lebih baik kan ketimbang pacaran. Mungkin nanti kehidupan kita bakal banyak cobaannya tapi Al bisa terima semua resiko itu, kita bakal ngejalanin semuanya sama-sama, kalo Kayla setuju."


Elfatt tertawa kecil. "Papa salut sama komitmen kamu. Sebaiknya kamu omongin lagi matang-matang soal ini sama Kayla ya! Jangan sampe dia ngerasa tertekan, atau ada keterpaksaan diantara kalian."


"Iya pa, pasti."


Orang tua mana yang tidak bahagia jika melihat anaknya bahagia. Alex sudah dewasa dan sikapnya pun sudah banyak berubah, dia mau belajar banyak hal demi kebaikan masa depannya. Demi cintanya dia juga berani mengambil keputusan besar dengan niat yang baik. Jika memang dengan melamar gadis yang dicintai Alex adalah cara yang terbaik, maka Elfatt pasti mendukung pilihan putranya ini.


Sebagai seorang ayah tentu Elfatt bangga pada Alex, meski masih muda putranya ini sudah mulai menunjukkan kebijaksanaannya dalam menghadapi persoalan kehidupan. la semakin yakin menyerahkan warisan bisnis dan semua aset yang ia miliki pada Alex. Alex mampu mengurus semua itu menggantikan dirinya, karena bagaimanapun juga ia tidak mungkin selamanya bergelut pada dunia bisnis. Alex adalah pewaris yang pantas untuk diserahi tanggung jawab besar itu. Cepat atau lambat Alex pasti bisa mempelajari semuanya dengan baik.


...____________________...


Sore ini Alex mengajak Kayla berkunjung ke restorannya, sekarang mereka duduk di taman restoran Alex. Tempat dimana dulu mereka mengobrol untuk yang kedua kalinya setelah bertemu di pesta topeng, dan Alex mengungkapkan isi hatinya pada Kayla di taman ini.


Kayla duduk dengan kaku dan sedikit gugup, padahal Alex belum mengatakan apapun padanya.


"Miss Kissable."


"Ya?"


"Aku udah ngomong sama papa." Mata Kayla membulat seketika mendengarnya.


"M-..maksud kamu?"


"Aku udah bilang ke papa kalo aku mau ngelamar kamu."


"Apa?!" Kayla syok, ia reflek berdiri dari duduknya.


"Hei tenang, sini duduk" bujuk Alex lembut, Kayla pun kembali duduk.


"Al, kamu bilang ke papa kamu kalo kamu mau ngelamar aku? Trus apa kata papa kamu?" tanya Kayla panik.


"Papaku setuju, dan sepenuhnya ngedukung. Kata papa insya Allah minggu depan kita kerumah kamu"


"Hah?! Kamu bercanda kan Al?!"

__ADS_1


"Miss Kissable.. aku gak main-main. Abis ini kita ke rumah kamu, aku mau ngomong sama mami kamu"


"AI?!" tegur Kayla emosi. "Bisa-bisanya kamu ngambil keputusan ini tanpa minta pendapat aku. Harusnya kamu tanya aku dulu, atau seenggaknya kamu kasih tau aku sebelum kamu ngomong sama papa kamu!" sungut Kayla.


"Loh, ini aku ngasih tau kamu. Aku juga udah ngomong kan dari beberapa bulan yang lalu, aku bahkan langsung ngomong sama mami kamu. Aku juga udah minta kamu pertimbangin soal ini kan. Kenapa kamu sepanik ini?"


Kayla menghela nafas frustasi. "Gimana aku gak panik AI?! Harusnya kamu tuh pastin dulu aku setuju apa enggak, aku mau apa enggak, dan apa aku siap atau enggak. Gak kayak gini! Kenapa mendadak banget sih?"


"Miss Kissable, ini gak mendadak. Aku sama papa bakal ngelamar kamu minggu depan bukan sekarang" Alex menarik nafas dan menghela pelan, menahan gejolak hati yang mulai mengusiknya.


Kayla menatap lurus ke depan, tanpa melihat ke arah Alex yang duduk disampingnya. la kesal sekali pada Alex.


"Kamu masih ngerasa ini mendadak? Apa kamu sama sekali gak pertimbangin soal keseriusan aku?" Kayla tidak menjawab.


"Aku cinta sama kamu, aku sayang banget sama kamu, dan aku gak mau kehilangan kamu. Aku pengen nikahin kamu, aku pengen bangun rumah tangga sama kamu, dan aku serius."


"Apa yang kamu pikirin Al? Bangun rumah tangga itu bukan sesuatu yang sepele. Dan aku BELUM SIAP!"


Kayla berdiri dengan marah, ia hendak pergi tapi Alex menahannya. "Aku gak ngajak kamu nikah sekarang. Kita bisa tunangan dulu, aku akan tunggu sampe kamu siap, baru kita nikah." ucap Alex lembut.


Kayla mengernyit dalam menatap Alex. la lalu kembali duduk dan menenangkan dirinya. Alex pun lega.


"Al, aku tau kamu serius. Aku juga percaya kamu sayang sama aku. Tapi buat ngambil keputusan sebesar ini dalam hidup, aku belum berani." ucap Kayla lirih.


"Miss Kissable, apa kamu ngerasa tertekan? Apa aku bikin kamu gak nyaman?"


"Kamu gak perlu khawatir soal ekonomi rumah tangga kita nanti. Dan aku yakin kamu juga bukan tipe cewek yang mempermasalahkan soal itu. Aku bukan cowok yang suka ngasih janji, tapi aku bakal terus usahain supaya kamu selalu nyaman disisi aku, apapun yang terjadi. Aku gak bakal bikin hidup orang aku cintai menderita, dan aku bakal selalu jaga cinta ini."


Kayla diam.


"Maafin aku. Niat aku baik Miss Kissable, aku pengen hidup bareng kamu dalam ikatan yang suci, bukan sekedar pacaran yang semu. Aku tulus mencintai kamu, karena itu aku gak mau main-main. Tapi kalo niat baikku ini malah bikin kamu gak nyaman, aku minta maaf." ucap Alex lembut.


"Asal kamu tau, aku gak akan pernah nyerah buat perjuangin kamu. Selama kamu belum dimilikin siapapun, aku masih berharap aku yang akan milikin kamu"


Kayla tertegun. Tentu saja ia memikirkan semua kata-kata Alex barusan. la tidak tahu harus menanggapi seperti apa.


"Kamu harus tau Miss Kissable, niat aku pengen nikahin kamu bukan cuman karena pengen milikin kamu, tapi cintaku lah yang kasih aku motivasi buat ngehormatin kamu, ngejaga kamu dan bahagiain kamu. Aku gak mau sia-sia'in kehadiran kamu dalam hidupku, karena aku butuh kamu"


"Aku butuh kamu buat ngedampingin hidupku, Miss Kissable. Aku gak butuh orang SEPERTI kamu, TAPI yang aku butuhin itu KAMU. Cuman kamu."


Perlahan wajah Kayla terangkat, ia menatap mata Alex. Binar ketulusan dimatanya itu membuat Kayla terenyuh. Dia sepertinya begitu yakin dengan keputusannya, dia pasti juga sudah mempersiapkan dirinya untuk semua rencana masa depan yang ia rancang itu. Lalu bagaimana dengan Kayla? Bukankah seharusnya Kayla mempertimbangkannya dengan serius sejak Alex mengutarakan niat baiknya itu!


Ini mungkin terasa aneh dan tabu, bagi Kayla. Tapi tidak dengan keseriusan dan niat baik Alex. Tidak adil rasanya jika Kayla menolaknya begitu saja tanpa alasan yang kuat dan jelas. Hanya karena ketidak siapan Kayla, Alex tidak layak untuk dikecewakan bukan!


"Miss Kissable, apa aku terlalu ngerepotin kamu? Maaf ya, tapi setelah aku merealisasikan niatku buat ngelamar kamu, aku gak akan ngerepotin kamu lagi" katanya lembut, dengan senyumannya yang hangat.


Kayla masih terpaku. Tidak lama setelah itu Alex beranjak dari duduknya.


"Ayo aku anter kamu pulang. Ini udah sore." ajaknya seraya meminta tangan Kayla.


Kayla pun berdiri, tanpa menerima uluran tangan Alex. la ragu, tapi di dalam hatinya ia juga merasa buruk karena menolak Alex. Bahkan sebelum ini pun ia sudah banyak menolak Alex, apa ia salah? Apa ia jahat? Kayla semakin bingung dengan apa yang tengah berkecamuk dihatinya, yang memenuhi dadanya dan juga membuatnya begitu frustasi.


"Ayo!" ajak Alex lagi.


"AI?"


"lya?"


"Apa kamu bakal tetap datang minggu depan?" tanyanya cemas.


Alex tersenyum tipis, ia tentu bisa melihat kecemasan dimata Kayla. Namun ia tidak berniat mundur sedikitpun dari tujuan awalnya.


"Kamu tau kan aku ini orang yang keras kepala. Aku pasti dateng, tapi kamu tenang aja. Pilihannya ada di tangan kamu sepenuhnya, Miss Kissable. Kamu berhak milih, buat jawab 'iya' ataupun 'enggak'. Apapun jawaban kamu nanti, aku udah siapin diriku buat nerima keputusan kamu."


"Gak ada paksaan, gak ada tekanan. Oke!" lanjut Alex.


Alex mengangguk seraya mengerjap sekali, dengan senyuman tulusnya. la mencoba meyakinkan Kayla agar gadis nya itu tidak perlu terlalu cemas. Perlahan Kayla menarik sudut bibirnya, menampilkan senyumannya pada Alex.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2