
Seorang perempuan berjalan gontai memasuki restoran A.S.W food, dengan membawa sebuah kotak persegi ditangannya. Perempuan itu kemudian duduk di salah satu meja costumer yang letaknya paling dekat dengan meja resepsionis.
Setelah ia duduk dan meletakkan kotak persegi itu di meja, seorang pelayan menyapanya.
"Selamat pagi, Bu. Selamat datang direstoran kami, silahkan dipilih menunya!" ucap pelayan itu ramah seraya meletakkan buku menu di depan perempuan itu.
"Terima kasih, tapi saya kesini bukan untuk makan, saya kesini untuk menemui bos kamu, Alexander" sahut perempuan itu tanpa menerima buku menu yang disodorkan si pelayan.
Pelayan itu mengangguk dan berlalu. Beberapa menit kemudian, Alex datang dan mendekati perempuan itu. Karena sebelumnya salah satu pelayan memberitahunya bahwa ada seorang perempuan yang ingin menemuinya. Alex awalnya berpikir Miss Kissable yang datang, tapi setelah melihat perempuan yang duduk membelakanginya itu, Alex langsung tahu siapa dia. Alex merasa sedikit kecewa karena bukan Miss Kissable nya yang datang.
"Al!" sapa perempuan itu antusias.
"Ngapain mama kesini?" tanya Alex malas.
"Duduk dulu yuk!" Perempuan yang tak lain adalah ibu kandung Alex itu lantas berdiri dan menarik lengan Alex untuk mengajaknya duduk.
"Al, mama minta maaf ya soal kejadian yang terakhir. Mama bukannya gak peduli sama kamu, mama sayang sama kamu, tapi waktu itu mama-.."
"To the point aja, ngapain mama kesini?" Alex tidak mau merusak mood nya dengan membahas kejadian saat di club beberapa waktu lalu, yang membuatnya stres kala itu.
Mama Alex tersenyum, "Selamat ulang tahun Al, selamat juga atas peresmian restoran ini dan semua yang kamu punya sekarang!"
"Mama senaaang banget, anak mama udah besar dan sekarang udah bisa megang tanggung jawab sebagai bos dan CEO. Selamat ya nak!" ucap mama lagi.
"Kalo cuman ngucapin itu kan lewat telpon atau lewat WA bisa, nggak perlu repot-repot kesini."
"Al..." lirih mama.
"Kamu nggak suka mama disini? Mama udah nurutin kemauan kamu buat nggak dateng ke acara tadi malam, apa mama juga nggak boleh dateng kesini? Mama kangen sama kamu, nak"
"Kalo kesini mau makan, panggil aja pelayan."
"Al, liat deh! Ini mama bawain birthday cake buat kamu." Mama membuka kotak persegi yang tadi dibawanya dan mengeluarkan sebuah kue tart berwarna pink dengan taburan buah stroberi utuh di atasnya.
Alex terdiam melihat kue itu, lalu melirik wajah mami yang nampak sangat senang. Alex terkekeh, "Selama ini kemana aja? Tumben banget ngasih kue, biasanya juga ngucapin happy birthday cuman lewat chat kan."
"Maafin mama. Al, mami bikin kuenya sendiri loh nak pagi ini, kamu bisa anggap ini sebagai permintaan maaf mama."
"Bikin sendiri?" batin Alex terenyuh, ia terdiam beberapa saat sambil menatap birthday cake strawberry di depannya.
"Pake stroberi, kesukaan kamu kan!?"
"Apa? Ma, mama ngasih Al kue warna pink, ada stroberinya lagi. Jangan malu-maluin, Al cowok masa' dikasih ginian!" ujar Alex ketus.
"Tapi kan kamu suka stroberi, dari dulu kamu-.."
"Dulu. Itu dulu ma, sekarang Al udahgede' udah nggak suka stroberi lagi. Ini warnanya pink lagi, nggak banget." sahut Alex sambil sedikit menyentak kue itu dan memandangnya ilfil.
Mama terdiam, "Apa iya? Aku pikir Alex masih suka stroberi, padahal aku udah susah payah bikinnya. Nyari buah stroberi pagi-pagi juga susah, ternyata Al nggak suka." Iirihnya dalam hati.
"Mama bawa pulang aja kuenya, kasih aja tuh ke si kembar, cocok kan kue ini buat anak cewek?! Atau nggak, kasih aja ke pacar mama yang sok jagoan itu" Mama sedikit terkesiap mendengarnya.
Sudah tidak terhitung berapa kali Vanessa dibuat sakit hati oleh kata-kata dan perlakuan putranya ini. Namun Vanessa sadar diri, ia sendiri lah yang membuat Alex berubah jadi seperti sekarang, jika Alex sampai berlaku buruk padanya.. maka memang Vanessa lah yang bersalah.
Alex beranjak dari tempat duduknya tapi sang mama buru-buru menghentikannya. "Tunggu nak, seenggaknya kamu cicipin dulu ya kuenya! Mama bikin khusus buat kamu loh nak."
Mama Alex meraih pisau khusus untuk memotong kue, dan hendak memotongkan kuenya untuk Alex dengan semangat.
"Ma, udahlah. Jangan bikin Al malu, disini banyak pelanggan. Mama mau ngasih Al kue yang cewek banget gini?" Alex sedikit berbisik, membuat mama lantas terhenti dari aktivitasnya.
Baru sedetik mama mendongak, bertemu pandang dengan putra sulungnya itu, Alex langsung beranjak dan pergi begitu saja.
"Al? Alex? Nak?!" Alex sama sekali tak merespon dan terus melanjutkan langkahnya.
Sekarang mama hanya bisa menatap hampa birthday cake yang susah payah ia bikin sendiri tapi malah diabaikan oleh Alex, ia meletakkan kembali pisau yang tadinya hampir menyentuh kue itu.
(Flashback On)
Vanessa berdiri di depan gerbang rumah besar yang dulu pernah menjadi tempat tinggalnya bersama suami dan putra mereka.
Malam ini adalah acara yang besar dan penting bagi putranya. Putranya itu akan diberikan tanggung jawab besar bagi beberapa aset dan saham perusahaan, setengah dari harta papanya akan dilimpahkan padanya selaku pewaris tunggal. Di usia semuda ini, putranya itu akan mulai menjalankan beberapa bisnis yang nantinya akan sangat dibutuhkan untuk menunjang masa depannya.
Dan malam ini juga adalah ulang tahun putranya itu. Tapi sayang sekali, ia tidak bisa menyaksikannya. la tidak bisa mendampingi ataupun melihat wajah gembira putranya dalam acara penting malam ini.
Padahal jauh-jauh hari, Elfatt -mantan suaminya- sudah memberikan kabar gembira itu padanya. Bagaimana pun hubungan mereka dimasa lalu, Alex tetaplah putra Vanesa dan Elfatt, Vanessa berhak untuk mengetahui semua tentang putranya itu, dan Elfatt sendiri juga meminta Vanessa untuk menghadiri acara penting itu demi putra mereka.
Namun, ternyata Alex sendiri yang melarang Vanessa untuk hadir. Alex tidak ingin berdiri di atas panggung bersama mamanya, juga tidak ingin melihat mamanya ada di acaranya itu. Betapa sedih hati Vanessa saat Alex memintanya untuk jangan datang, tapi Vanesa bisa mengerti bahwa putranya itu benci padanya. Vanessa sadar, perbuatannya dimasa lalu terlalu buruk, ia telah begitu mengecewakan Alex, sehingga sekarang ia harus menerima kebencian dari putranya itu.
Vanessa sadar, meski ia sudah berulang kali meminta maaf dan mencoba memperbaiki hubungannya dengan Alex, tidak mudah bagi Alex untuk memaafkannya.
Selama ini, mungkin Alex berpikir mamanya telah melupakannya atau mamanya berbahagia di atas penderitaannya. Tapi tidak, Vanessa melepas Alex tidak dengan senang hati. Vanessa terpaksa memilih kala itu, memilih antara pernikahannya dan juga putranya, atau memilih cintanya dan anak kembarnya. la terpaksa harus mengorbankan salah satunya demi mempertahankan yang lainnya.
Dan ia memilih mengorbankan pernikahannya dan putranya yang sangat ia cintai. Tentu itu berat, sangat berat untuk Vanessa.
__ADS_1
Sekarang, ia menyesali pilihannya itu. Pria bernama Vino yang sangat ia cintai, yang dulu selalu ia banggakan, yang sanggup membuatnya bertahan dengan cintanya meski telah menikah dengan pria lain, pria itu telah meninggalkannya. Dulu, Vino begitu mengerti Vanessa, mereka saling mencintai dan menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Meski setelah Vanessa menikah dengan pria lain, Vino tetap setia dan sanggup bertahan menjalin hubungan diam-diam dengan Vanessa bertahun-tahun.
Namun, ketika mengetahui Vanessa mengandung anaknya, ia tidak mau lagi bertahan dengan hubungan gelap mereka. Akhirnya Vino meminta Vanessa untuk mengakhiri pernikahannya dengan papa Alex, kemudian menikah dengannya. Saat Vanessa merasa keberatan dengan permintaannya itu, Vino memberi Vanessa pilihan. Yang pertama jika Vanessa memilih mempertahankan pernikahannya, maka Vanessa harus merelakan bayi mereka untuk Vino rawat sendiri nantinya setelah bayi itu lahir, dan Vanessa akan kehilangan Vino dan bayinya selamanya.
Dan pilihan yang kedua, jika Vanessa memilih mempertahankan bayi mereka, Vino pasti akan menikahi Vanessa dan mewujudkan rumah tangga impian yang selama ini mereka impikan. Tapi, Vanessa harus merelakan pernikahannya hancur, yang berarti juga menghancurkan kebahagiaan putranya.
Akhirnya Vanessa mengambil pilihan yang kedua, menghancurkan pernikahannya dan juga kebahagiaan putranya. Tapi setelah 4 tahun, nyatanya impian rumah tangga bahagia bersama Vino pun hancur. Kurang lebih setahun yang lalu mereka resmi bercerai, Vino meninggalkan Vanessa bersama 2 anak kembar mereka, Sita dan Fita.
Padahal, dulu saat papa Alex mengetahui Vanessa hamil si kembar, papa Alex masih mau menerima dirinya, bahkan papa Alex mau menerima dan merawat bayi yang ia kandung meski itu bukan darah dagingnya. Tapi cinta Vanessa pada Vino membuatnya lebih memilih meninggalkan suami yang tulus mencintainya itu.
Sekarang Vanessa menyesal, karena sejatinya ia telah menghancurkan dirinya sendiri. Pernikahan impiannya yang hanya bertahan 4 tahun itu sudah hancur. la juga membuat anak kembarnya terus bersedih dan itu tentu membuat hatinya hancur. Semua yang terjadi adalah kesalahannya, karena memang ia lah yang telah menghancurkan rumah tangganya dengan papa Alex yang terbilang harmonis dulu, meskipun ia tidak mencintai suaminya. la juga telah menghancurkan kebahagiaan Alex putranya, hingga kini ia hanya bisa melihat kebencian dimata Alex.
Setahun belakangan, Vanessa terus berusaha menebus kesalahannya, berusaha memenangkan hati Alex kembali dan meraih maaf dari putranya itu. 4 tahun hidup terpisah dengan Alex, 4 tahun juga Vanessa menahan kerinduannya pada putranya itu.
Dan malam ini, harapan besar Vanessa akan melihat dan mendampingi putranya di acara penting itu, kini harapan itu pupus. Alex tidak ingin mamanya hadir di sana, bahkan Alex berpikir jika kehadiran mamanya hanya akan merusak suasana. Meski Vanessa tahu Alex membencinya, tetap saja setiap kali Alex mengatakan hal seperti itu apalagi ketika Alex menatap benci padanya, Vanessa merasa patah hati.
Saat ini, ia hanya bisa menangis, berdiri didepan gerbang rumah Alex dan menatap keatas dimana kamar Alex berada. la menatap kamar Alex seolah ia sedang menatap wajah putranya itu. Tatapan Vanessa semakin dalam, sampai-sampai kenangan indahnya bersama Alex dimasa lalu kembali berputar di benaknya bagaikan proyektor.
Vanessa terdiam cukup lama, hanya air matanya yang berbicara, menjelaskan segala rasa yang tengah menggunung dihatinya.
Keesokan harinya, Vanessa pergi ke pasar pagi-pagi sekali. Karena sejak semalam iasudah berniat ingin membuat birthday cake untuk Alex, jadilah kini Vanessa menjelajahi pasar sepagi ini. la harus mencari bahan-bahan untuk membuat kuenya di pasar tradisional, karena sepagi ini mall atau toko-toko lainnya belum buka.
Setelahnya, Vanessa dengan semangat pergi ke dapur dan membuat kue untuk putranya yang sedang berulang tahun hari ini.
(Flashback Off)
... ....
... ....
... ....
"Nia, kita ngapain disini?"
"Ya makan lah, Kay. Aku laper nih, kita makan dulu aja ya! Ini restonya baru buka hari ini loh, ada harga promo juga, Kay."
Karena ini hari minggu, Kayla dan Nia berencana mengunjungi perpustakaan umum bersama. Nia juga mengajak Kayla shoping untuk keperluan camping sekolah mereka nanti, padahal camping nya masih dua minggu lagi. Ya Kayla iyakan saja lah, lumayan kan memanfaatkan waktu di hari minggu.
Itu yang mereka rencanakan sejak kemarin, tapi ini belum apa-apa malah sesuatu yang tidak direncanakan yang Nia lakukan lebih dulu. Setelah menjemput Kayla, rencananya mereka berdua akan pergi ke perpustakaan dulu, tapi ini Nia malah membawa Kayla ke sebuah restoran dan mengajaknya makan.
Kayla mendengus senyum melihat tingkah teman sebangkunya ini. Padahal ini belum jam 9 pagi, Nia sudah lapar lagi. Dan yang membuat Kayla merasa lucu juga, Nia tidak tahu bahwa restoran yang mereka datangi ini adalah milik Alex. Kalau Nia tahu, pasti dia heboh sendiri, tapi Kayla tidak berminat untuk memberi tahukannya pada Nia.
Sambil menikmati cemilannya, Kayla mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan yang luas ini. Kayla memang sudah kesini tadi malam, tapi itu acara besar dan dekorasi ruangannya tentu berbeda dengan hari ini. Beberapa hiasan dinding masih terpasang di sebagian tempat, dan sepertinya memang dibiarkan menjadi objek untuk memperindah tampilan restoran baru ini.
Kayla mengernyit ketika manik cokelat nya menangkap sosok yang ia kenal di ujung sana. Kayla tidak heran jika dia disini, dia kan memang pemilik restoran ini. Tapi Kayla penasaran dengan perempuan yang duduk berhadapan dengan Alex, rasanya Kayla pernah melihat perempuan itu.
Kayla membetulkan letak kacamatanya aga ria bisa melihat dengan seksama apakah perempuan itu menangis? Jarak mereka cukup jauh mengingat tempat ini sangat luas, Kayla duduk di bagian tengah ruangan sedangkan perempuan itu di ujung, tepatnya di bagian timur ruangan dan paling dekat dengan meja resepsionis.
"Eh, itu mamanya Alex kan?" gumam Kayla dalam hati. "Dia nangis? Apa-apaan Alex, kenapa mamanya sampe nangis?"
Rasa penasaran Kayla semakin menggelitik, Kayla rasa ia harus mencari tahu apa yang terjadi. Kayla pun beranjak dari tempat duduknya.
"Kay, mau kemana?"
"Aku mau kesana dulu ya, sebentar! Kamu abisin aja makannya, aku udah selesai."
Nia mengangguk sambil mengunyah makanannya, "Jangan lama ya! Aku hampir selesai nih." ujar Nia setengah memekik ketika Kayla berjalan semakin jauh darinya.
... ....
... ....
... ....
"Assalamu'alaikum, Tante!"
"Wa'alaikum salam." jawab mama Alex sambil menghapus air matanya dan mendongak.
"Boleh saya duduk?" tanya Kayla hati-hati.
Mama Alex memandangi Kayla dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu mengangguk ragu sambil mengernyit bingung.
"Kamu siapa?"
"Saya temannya Alex, Tante." sahut Kayla seadanya.
"Oh." sahut mama Alex nampak cuek.
Kayla tidak melihat raut senang dari wajah mama Alex meskipun Kayla sudah tersenyum.
"Wah... tante bawain birthday cake buat Alex ya?" Tanya Kayla mencoba mencairkan Suasana.
Mama Alex menatap Kayla ragu, "Kamu temannya Alex?"
__ADS_1
"lya tante."
"Sedekat apa sama Alex?"
"Enggak terlalu dekat kok, kita satu sekolah tapi beda kelas."
"Oh, kamu tahu siapa saya?"
"Tante... mamanya Alex kan?"
"Hm, dan kamu tau kalau hari ini Alex ulang tahun?"
"lya, saya hadir di acara tadi malam."
Mama Alex sedikit menaikkan alisnya. "Anak ini hadir? Dia pasti cukup dekat dengan Alex, soalnya Mas El bilang Alex nggak ngundang teman-temannya ke acara tadi malam." gumamnya dalam hati.
"Maaf tante, saya nyamperin tante karena saya liat tadi tante... nangis." ucap Kayla ragu.
Sejak tadi gaya berbicara mama Alex terlihat cuek, jadi Kayla merasa canggung dan ragu untuk berbicara.
Mama Alex terkekeh, "Oh ya? Kamu merhatiin saya?"
"Saya duduk di sana tadi, nggak terlalu jelas sih liatnya, tapi... apa ini karena Alex?"
Mimik wajah mama Alex terlihat sedikit berubah, tapi sepertinya ia sedang menahan sesuatu, pikir Kayla. Mama Alex hanya terkekeh menanggapi kata-kata Kayla tadi.
"Maaf tante, apa Alex menyakiti hati Tante lagi?" tanya Kayla to the point.
Mama Alex terkesiap dan sedikit menyelis tak suka pada Kayla. "Apa maksud kamu? Kamu pikir Alex bisa kayak gitu?"
"Saya emang gak dekat sama Alex, tapi saya kenal dia. Maaf kalo menurut tante saya lancang, tapi kalo emang Alex nyakitin hati tante, saya gak bisa diam. Saya liat sendiri tadi Alex nolak pas tante mau motongin kuenya."
Tatapan mama Alex masih sama. "Em.. maaf tante, kalo tante sama Alex punya masalah-.."
"Saya cuman salah ngasih kue!" sela mama Alex terdengar dingin.
"Maksudnya?"
"Liat aja, masa anak laki-laki saya kasih kue begini!"
Kayla menilik seksama kue pink yang dipenuhi topping stroberi itu. "Apa yang salah sama kuenya? Alex emang suka stroberi kan." gumam Kayla pelan tapi masih bisa didengar oleh mama Alex.
"Dulu Alex emang suka stroberi, tapi sekarang nggak lagi, dia udah besar."
"Apa Alex bilang gitu?"
"Hm."
"Saya nggak tau apa masalah dia, kenapa dia bohong ke mamanya sendiri, tapi Alex masih suka stroberi, tante."
Mama Alex menaikkan alisnya tak percaya.
"lya, Alex masih sangat suka stroberi, tadi malam dia bilang sendiri kok."
"Tapi Alex nolak kuenya?!" gumam mama Alex bingung.
Untuk beberapa saat keduanya terdiam, sampai Kayla melihat sesuatu di sela-sela kuku tangan kanan mama Alex. Sesuatu berwarna pink persis seperti kue dihadapan mereka berdua.
"Tante... bikin kuenya sendiri?"
"lya, tante pikir Alex bakal senang, dan mau tante suapin, tapi ternyata..." kali ini nada bicaranya terdengar lirih dan tidak cuek seperti tadi lagi.
"Tenang tante, saya jamin Alex bakalan makan kuenya! Saya yakin, sebenarnya pas Alex liat kue ini tadi dia pasti ngiler. Kayaknya dia nolak karena gengsi doang deh" Ucap Kayla seraya tersenyum, membuat mama Alex ikut melengkungkan bibirnya meski masih bingung.
"Kamu yakin?"
"He'em, yakin tante."
"Tapi gimana caranya kamu mastiin Alex mau makan birthday cake nya? Barusan dia nolak secara langsung." Kayla tersenyum simpul.
"Saya punya ide, saya pastiin ini berhasil. Alex pasti makan kuenya sampe abis, sendirian!"
Mama Alex jadi penasaran dengan kata-kata anak gadis di depannya ini, anak ini begitu yakin Alex mau memakan birthday cake buatan mama Alex sendiri, padahal sudah jelas tadi Alex menolak.
Dan anak ini juga bilang kalau Alex akan menghabiskan birthday cake nya sendirian?
Bagaimana caranya anak ini akan meyakinkan Alex agar mau memakan birthday cake nya, bahkan menghabiskannya sendirian?
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...