
Di sebuah ruangan besar, seorang pemuda tengah berkutat dengan hobinya. Menggurat-guratkan pisau kecilnya pada permukaan kayu lebar yang kokoh, tangan terampilnya begitu telaten menggunakan pisau pengukir itu, menciptakan sebuah ukiran nan indah dan rapi. Meski pikirannya sedang kacau dan amarahnya belum reda, ia tetap bisa menghasilkan sebuah karya dari keterampilan tangannya yang mahir.
Alex menghela nafas panjang seraya melepaskan pisau kecil ditangannya, ia meraih sebotol minuman rasa stroberi yang isinya tinggal setengah itu dan menenggaknya sampai habis. la kemudian beringsut menuju sofa dan membaringkan dirinya di sana, sambil memijat keningnya dan memejamkan mata. Beberapa saat kemudian ia membuka matanya dan memandang hasil karyanya yang baru selesai ia buat.
Setidaknya, dengan mengukir kayu yang merupakan hobinya itu bisa membuat pikirannya merasa lebih tenang. Berdebat dengan gadis sialan itu membuat pikirannya kacau, terlebih lagi insiden tempo hari yang masih saja mengganggu pikirannya. Dan lagi, yang lebih mengusiknya sekarang ini... gadis itu menamparnya. Berani-beraninya dia!
Alex menyalurkan kekesalannya lewat ukiran yang ia buat, berusaha meredam amarah dan menenangkan dirinya. Ditemani sebuah alat pengharum ruangan otomatis yang ia letakkan di sudut ruangan pribadinya itu, aroma fresh strawberry lemon menguar harum meliputi ruangan, dan menembus indera penciumannya. Alex merasa lebih relaks sekarang.
Setiap kali Alex merasa galau atau ad ayang mengganggu pikirannya, Alex selalu datang ke tempat ini. Terkadang Alex datang hanya untuk bersantai dan menikmati kesendiriannya di tempat ini, melakukan hobinya atau hanya sekedar beristirahat.
Ruangan besar yang dipenuhi benda-benda hasil keterampilan tangannya itu memanglah milik Alex pribadi. Bukan hanya kayu-kayu yang berjejer rapi hasil keterampilannya, disana juga terpajang banyak lukisan, hasil karyanya sendiri juga tentunya. Alex juga suka melukis, kadangkala ketika ia malas memegang pisau pengukir, ia meraih kuasnya dan melukis di atas kanvas. Bahkan ia melukis di beberapa bagian dinding ruangan itu juga, saat ia merasa menginginkan variasi.
Meski lokasi ruangan pribadinya itu masih di area sekolah, tapi tidak seorang pun yang tahu tempat ini selain dirinya dan sang papa. Ruangan ini sengaja dibuat secara rahasia, letaknya tersembunyi di ruang kesenian sekolah. Di sudut ruang kesenian sekolah ada sebuah lemari antik yang memiliki sebuah tombol khusus, yang hanya diketahui Alex dan papanya. Tombol khusus itulah yang akan membuat lemari terbuka otomatis bak pintu lift, sehingga menjadi pintu penghubung antara ruang kesenian dengan ruangan pribadi milik Alex.
Saat ini meski pikirannya sudah lebih relaks, Alex masih tidak bisa menjauhkan Kayla dari pikirannya. Entah kenapa, tapi ia merasa penasaran dengan gadis itu. la tidak mengerti dengan dirinya sendiri saat melihat Kayla, Alex merasa kesal sekaligus senang dalam waktu bersamaan. Saat berdebat dengan Kayla di ruangan kepala sekolah, entah kenapa Alex mengeluarkan kata-kata yang ia sendiri ilfil mendengarnya, ia seolah-olah menggoda gadis itu. Alex sendiri bergidik geli mengingat itu.
"****! Gue kenapa sih?" gerutunya sambil menepuk-nepuk keningnya sendiri.
Alex melirik jam dinding sekilas, pukul 10.33 am. Biarlah Alex beristirahat dulu, ia sangat malas beranjak dari posisinya. Meski masih memakai seragam dan masih di jam sekolah, Alex memilih memejamkan matanya daripada pergi ke kelas dan mengikuti pelajaran.
... ....
... ....
... ....
Setelah bel pelajaran terakhir berbunyi, semua siswa dan siswi berbondong-bondong keluar kelas dan menuju pulang.
"Kay.. aku minta maaf ya..!"
"Apa sih Nia? Dari tadi minta maaf mulu, iya..iya.. aku maafin."
"Tapi tetap aja aku ngerasa bersalah, kamu ikhlas gak maafin aku?"
Kayla mendengus seraya mengangguk, "Ikhlas lah.. udah dong aku bosen dengar kamu minta maaf mulu, yang lain kek!"
"Yang lain apaan?"
"Apa kek, neraktir aku makan gitu?" celetuk Kayla.
"Owh... hahahaa... oke!" sahut Nia semangat.
"Eh, Dit? Ikut yuk! Kita mau makan siang bareng, aku traktir!" ujar Nia saat Adit hendak berlalu melewati keduanya.
"Makasih Ni, Annisa udah nungguin aku, kita buru-buru. Lain kali aja ya!" ucapnya sambil tersenyum dan berlalu.
"Kalo lain kali mah aku gak traktir ya.. kamu yang traktir!" pekik Nia saat Adit sudah berjalan menjauhinya.
Keduanya tertawa kecil sembari berjalan di koridor sekolah menuju gerbang, tiba-tiba datang dua orang siswi yang dengan antusias menyapa Kayla.
"Hai Kayla.!"
"Hai." balas Kayla seraya mengernyit bingung menatap keduanya, karena Kayla tidak mengenali kedua siswi ini.
"Thanks banget ya Kay, lu hebat!"
Kayla semakin bingung, "Thanks buat apa?"
"Kita berterima kasih sama lu karena lu udah nampar Alex! Perfect!" sambar siswi yanglainnya seraya mengacungkan jempol.
Kayla melirik Nia yang juga meliriknya heran. "Kalian..."
"Oh, gue Nina, dan ini Ella" siswi yang pertama menyapa, memperkenalkan diri.
"Kalian...temannya Sherly kan?" tanya Nia.
"lya" sahut keduanya serentak, membuat Kayla dan Nia ber Oh ria.
Sherly, Kayla pernah menolongnya saat dia dibully oleh Alex dan teman-temannya. Wajar jika Nina dan Ella marah melihat teman mereka dibully dan sekarang mereka merasa senang saat melihat Alex ditampar, anggap saja Alex mendapat satu hukuman, walaupun itu sama sekali tidak setimpal dengan apa yang telah Alex lakukan.
"Kenapa kalian berterima kasih sama aku?"
"Ya karena keberanian elu lah. Secara, kita tuh sebenarnya gedeg banget sama Alex tapi kita bisa apa, ya gak?" kata Nina yang diangguki oleh Ella.
"Betul banget, sekaligus kita juga berterimakasih soal Sherly, kita ngerasa elu udah ngebalas Alex dengan tamparan lu itu" sambung Ella.
Kayla terkekeh, "Makasih loh, aku ngerasa senang ada yang dukung aku."
"Yoi, keberanian lu itu patut diapresiasi. Oh iya, kita ada sesuatu buat lu! Anggap aja sebagai tanda terima kasih kita" ujar Nina.
Nia mengernyit tak suka, "Teman-temannya Sherly mau ngasih sesuatu ke Kayla? Kok kayak ada yang janggal ya?" gumam Nia dalam hati.
"Apa ya?" tanya Kayla penasaran.
"Ikut kita dulu! Mau kan?" ajak Ella semangat.
Kayla melirik Nia, Nina dan Ella pun ikut meliriknya. Nia jadi bingung, perasaan Nia sih tidak enak, tapi ia juga tidak mungkin kan melarang Kayla, siapa tahu Nina dan Ella memang bermaksud baik.
"Em.. yaudah, kita makannya lain kali aja gak papa." ucap Nia akhirnya.
"Sorry ya Ni.." lirih Kayla.
"Gak papa santai aja Kay, aku duluan ya!" kata Nia sebelum berlalu.
Nina dan Ella saling melirik tersenyum penuh arti. Kemudian Nina mengeluarkan sepotong kain kecil yang panjang.
"Tutup mata dulu ya Kay?"
__ADS_1
"Hah?" bingung Kayla.
"Biar surprise!"
"Surprise?"
"lya, kita mau ngasih surprise buat elu!"
Meski merasa ragu, Kayla menyetujuinya dan membiarkan Nina mengikatkan kain penutup mata itu untuknya. Nina dan Ella menuntun Kayla, membawanya ke suatu tempat yang Kayla tidak tahu dimana, karena matanya tertutup.
"Nah.. kita udah nyampe!" seru Ella.
"Tunggu bentar ya Kay.. jangan dibuka dulu!" ujar Nina saat Kayla hendak membuka penutup matanya.
"Oke" sahut Kayla singkat.
"Bentar!" Nina dan Ella melepaskan tangan mereka dari Kayla yang sebelumnya mereka tuntun.
Namun setelah beberapa menit, Kayla tidak mendengar apapun lagi. Kayla bingung, apa yang Nina dan Ella lakukan? Tak ada suara sama sekali setelah mereka melepaskan tangan Kayla tadi. Kayla mulai merasa was-was.
"Nina? Ella?" Tidak ada jawaban atau pun suara lainnya.
"Hey?? Nina? Ella?" panggil Kayla lagi dengan suara lebih keras, tapi tetap tak ada jawaban.
Kayla tidak bisa menunggu lagi, toh kedua siswi yang baru dikenalnya tadi sepertinya meninggalkannya. Kayla berpikir sebelumya mungkin mereka sedang mempersiapkan kejutannya untuk Kayla, sampai Kayla dibuat menunggu. Tapi ini sudah cukup lama dan Kayla merasa ada yang tidak beres dan akhirnya Kayla membuka penutup matanya.
Kayla dibuat semakin bingung saat baru membuka matanya. "Kolam renang? Ngapain mereka bawa aku kesini?"
Ya, Nina dan Ella membawa Kayla ke area kolam renang sekolah, dan meninggalkan Kayla sendirian di sana. Jangankan kejutan, di sana tidak ada siapa pun, kecuali Kayla.
"Kejutan..!" suara pekikan dari arah belakang membuat Kayla kaget dan reflek berbalik.
Tiga siswa tampan tengah berdiri dengan gaya cool mereka yang menyebalkan seperti biasa, melihatnya saja membuat Kayla kaget sekaligus kesal. Ditambah seringaiannya yang membuat Kayla bergidik. Mereka berjalan mendekati Kayla.
"Kalian?" Kayla bingung, kenapa Bima, Sandi, dan Vicky ada disini? Bukankah yang membawa Kayla kesini adalah Nina dan Ella, sekarang dua gadis itu malah tidak ada.
"Mau apa kalian? tanya Kayla ketus.
"Emang tadi Nina sama Ella bilang apa?"
Oh, Kayla mengerti sekarang... pasti ini ulah ketiga pria menyebalkan ini! Mereka menyuruh Nina dan Ella untuk membawa Kayla kesini? Untuk apa? Kayla tidak tahu apa yang akan mereka lakukan tapi yang pasti ini tidak baik.
Kayla mendengus kesal. Bima, Sandi, dan Vicky terus menatapnya dengan menyeringai, dan terus berjalan maju mendekati Kayla, sehingga Kayla melangkah mundur. Langkah kaki Kayla terhenti di bibir kolam, ia tidak mungkin mundur lagi tapi ketiga pria menyebalkan ini masih maju.
"'Stop!"
Mereka terkekeh, "Kan surprise nya belum, kenapa berhenti. Mau dikasih surprise gak?lakar Vicky.
Akhirnya ketiga teman Alex itu menghentikan langkah mereka, dengan jarak tiga langkah kaki dari Kayla. Bima di depan, Sandi di samping kiri, dan Vicky di samping kanan, mereka mengurung Kayla. Ketiganya saling melemparkan pandangan dan akan memulai aksinya.
Kayla mengernyit curiga.
"Empat!"
"Tiga!"
Kayla terbelalak, "Apa maksudnya mereka ngehitung mundur? Jangan bilang mereka mau nyeburin aku ke kolam? Aku kan gak bisa berenang!" batin Kayla was-was.
"Dua!"
Sebelum hitungan terakhir, Bima, Sandi dan Vicky yang mau memberikan kejutan pada Kayla malah dibuat terkejut lebih dulu.
"Sa-"
"Stop!" Ketiganya kaget dan reflek menoleh ke asal suara.
"Pak Bayu?"
"Apa yang kalian lakukan?" selidik Pak Bayu.
Ketiganya hanya saling melemparkan pandangan tanpa menjawab Pak Bayu, sedangkan Kayla tersenyum tipis seraya menghela nafas lega.
"Pak Bayu sendiri ngapain?" Bima malah bertanya balik.
"Barang saya ada yang ketinggalan." jawab Pak Bayu seraya menunjuk sesuatu yang berada di kursi panjang di sisi kolam.
Mereka termasuk Kayla menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Pak Bayu. Itu sepertinya tas.
"Kok bisa?" ujar Sandi sewot.
"Kolam renang ini kan juga bidang saya, jaditidak ada yang aneh. Kalian ngapain? Kenapatidak langsung pulang dan malah kesini?Kayla apa kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan yang cukup mengintimidasiBima, Sandi dan Vicky. Mereka memutar bolamatanya sambil mendengus malas.
"Saya gak papa, Pak!" jawab Kayla.
Pak Bayu kembali menatap tiga siswa bandel di hadapannya. "Okelah, Pak. Kita duluan!"ucap Sandi malas seraya berlalu bersama Bima dan Vicky.
Setelah kepergian Bima, Sandi dan Vicky, Kayla juga mau beranjak. "Makasih Pak!"
Pak Bayu mengangguk, ia jadi gugup mau mengatakan sesuatu. Saat Kayla mengangguk sekali meminta izin pamit, PakBayu menghentikannya.
"Tunggu Kayla!"
"S.. saya minta maaf!"
"Maaf? Pak Bayu nggak perlu minta maaf.Saya ngerti, saya nggak nyalahin Bapak kok."
__ADS_1
"Tapi Kayla," Pak Bayu merasa grogi, bingung mau mengatakan apa. "Terima kasih udah ngertiin saya, sebenarnya saya juga bisangerti kamu, tapi.."
"Gak perlu dibahas lagi, Pak. Saya permisi!"
"Tunggu Kayla!" lagi, Pak Bayu menghentikan Kayla dan berdiri di hadapannya.
"Saya sayang sama kamu, saat kamu sakit atau sedih. saya bisa merasakannya, jadi tolong.." Pak Bayu menjeda kalimatnya sambil menatap lekat wajah Kayla. "..tolong kamu jangan terlibat masalah lagi dengan Alex! Saya gak mau hal buruk terjadi lagi sama kamu!"
Kayla tersenyum, "Terima kasih Pak, tapi saya gak bisa janji"
"Kenapa Kayla? Kamu masih ingin melawan dia, meskipun beresiko?"
Kayla tersenyum, "Gak perlu khawatirin saya Pak, dilangkah saya selanjutnya saya gak akan kalah"
Pak Bayu mengeleng tak terima, dengan ekspresi iba nya. "Kayla, tolong dong kamu ngerti, dia itu Alex! Kenapa kamu kayak gak mau peduli gini sih? Walaupun kamu tau dia itu adalah masalah tapi kamu tetap ngusik dia, apa kamu suka sama Alex?" Pak Bayu terdengar mengeluh.
Kayla terkesiap tak percaya dengan kalimat Pak Bayu, guru olahraganya ini bertanya hal seperti itu?
"Maaf, Pak. Boleh saya pergi? Saya gak mau ngebahas ini lagi. Kalo Pak Bayu bisa ngertiin saya, tolong biarin saya lakuin apa yang menurut saya benar" ucap Kayla sesopan mungkin meski ia sangat kesal.
Pak Bayu menghela nafas seraya mengalihkan pandangannya dari Kayla, "Baik. Saya gak akan ngelarang kamu, lagipula saya bukan siapa-siapa kamu. Kita ini kan cuman guru dan murid."
"lya Pak. sekali lagi terima kasih! Maaf kalo kata-kata saya gak sopan. Saya permisi."Ucap Kayla sebelum berlalu dari hadapan Pak Bayu.
Kalau Kayla boleh membandingkan, cara Pak Bayu mengingatkannya tadi sangat berbeda dengan cara Adit, meski awalnya Adit juga melarangnya untuk berurusan dengan Alex tapi Adit bisa memahami Kayla dan mendukungnya. Sedangkan Pak Bayu, guru muda itu seperti kekeuh ingin Kayla menurutinya, Kayla tidak suka itu. Mungkin selama ini seorang seperti Pak Bayu itu memang terbiasa dituruti keinginannya atau perintahnya, jadi saat Kayla tidak mau mendengarkannya, Pak Bayu menunjukkan rasa keberatannya.
... ________________...
"Taraaaaaa.."
Mami memperlihatkan sebuah motor matic yang terparkir di depan rumah mereka. Kayla terpana melihatnya, motor matic impian Kayla. Bodynya ramping dan ringan,warnanya merah cherry, Kayla senang sekali.
"Mami? Ini..?"
"Ini motor baru kita!" sahut mami semangat.
"Serius mi?" Kayla dengan antusias bergegas mendekati motor matic itu dan menyentuhnya.
"lya dong sayang, kamu suka kan? Ini mami beli dengan gaji pertama mami loh."
"Suka bangett.... love you mami.." seru Kayla dengan ekspresi manjanya.
Mami semakin melebarkan senyumannya.
"Eh tapi mi, gaji mami sebesar itu ya sampe mami bisa beli motor? Ini baru kan, bukan seken!"
Mami tertawa kecil, "Baru dong sayang, tapi ini mami masih kredit hehee.... gaji mami gak sebesar harga motor lah, tapi bisa buat kredit motor"
"Ya ampun mami, sebenarnya Lily gak papa loh kalo gak punya motor secepat ini, Lily kan bisa naik angkot ke sekolah. Lagian mami pake gaji pertama mami buat ini,maafin Lily ya.."
Mami tertawa geli, "Ini motor buat mami lah,buat mami pulang pergi ke kantor, lagian kamu juga masih dibawah umur, belum punya SIM. Mami gak izinin kamu buat make motor ke sekolah." lakar Mami membuat Kayla segera merajuk dan menatap mami kesal.
"Ih mami... kok gitu sih." rengek Kayla.
"Enggak lah sayang, ini motor kita, buat kita jalan-jalan.. pergi ke pasar. buat keperluan kita sehari-hari." ujar mami sambil mengelus kepala putri kesayangannya itu.
Kayla memeluk mami senang, "Jadi mi, apa kita pergi ke acaranya bos mami naik motor baru ini?"
"Eh, enggak sayang. Kita naik mobil lah.. nanti Om lwan jemput."
"Kenapa? Kan kita udah punya motor"
"Ih kamu, gak keren dong kita pergi ke pesta.. pake gaun.. trus naik motor? Bisa rusak gaun kita sayang.."
Kayla terkekeh mendengarnya.
"Nanti Om lwan jemput. Oh iya sayang, tadi mami juga udah beliin gaun buat kamu, buat dipake ke acara besok malam."
"Gaun? Mami pemborosan ih, baru juga nerima gaji udah dihambur-hamburin! Lily kan masih punya gaun yang bagus Mi.
"Eh sayang... kita mau ke acaranya bos mami loh, beliau itu orang besar, acaranya mewah, tamu undangannya juga banyak dari kalangan pebisnis kelas atas. Walaupun mami cuman karyawan biasa.. kita tetap harus tampil sesuai dong sama orang-orangdi sana."
"Oke deh, terserah mami." Kayla mengalah.
"Terserah mami ya? Kalo gitu nanti mami dandanin kamu!" ujar mami semangat.
Kayla hanya menunjukkan wajah malasnya seraya tersenyum kecut menanggapi mami, sudah pasti nanti mami akan mendandaninya seperti saat mereka menghadiri ulang tahun Riana waktu itu. Berpenampilan lebih dewasa, tanpa kepang rambut, memakai softlens dan high heels. Kayla jadi malas.
So, siap-siap! Kayla yang cupu akan berubah menjadi gadis cantik yang elegan dan mempesona. Lagi.
Ingatan Kayla tentang pesta ulang tahun Riana kembali berputar, ia ingat saat betapa konyolnya ia berjalan menggunakan high heels sampai menyenggol seorang pelayan sehingga membuat gelas-gelas pecah berhamburan. Setelahnya ia menabrak seorang pria hingga hampir terjatuh kelantai, tapi bukannya jatuh ke lantai ia malah jatuh ke pelukan pria itu. Ya ampun... konyol sekali, Kayla merasa lucu dan malu sendiri mengingat itu.
Kayla juga tidak lupa saat ia berkenalan dengan seorang pria tampan malam itu, pria yang tak lain adalah yang ia tabrak sebelumnya, Mr Strawberry.
Ah, Kayla jadi merindukannya.
... ....
... ....
... ....
... ....
... ...
... Bersambung...
__ADS_1