
Pak William terdiam. Dia berpikir mungkin Kayla belum mengerti tentang maksud yang ia utarakan, tapi ia akan mencari cara agar Kayla mau membantunya.
Kayla pun terdiam dengan pikirannya, ia memandang lurus ke arah jalanan.
"Apa aku ngomong aja ya sama Om William soal yang ngeganjel di hati aku? Toh ini tentang Alex kan, kayaknya gak salah kalo aku omongin. Ini juga baru setengah perjalanan, masih ada kesempatan" gumam Kayla dalam hati.
"Om, boleh saya ungkapin pandangan saya soal Alex? ucap Kayla hati-hati.
"Tentu. Om akan senang kalo kamu mau bertukar pikiran sama Om!"
Kayla tersenyum tipis sambil menimbang-nimbang kalimat yang akan ia ucapkan. "Saya tau Om pengen yang terbaik buat Alex. Saya juga sama kok Om, saya juga pengen yang terbaik buat Alex."
Ekspresi wajah Pak William terlihat berbinar. "Saya juga pengen yang terbaik buat Alex, dan buat sekolah." lanjut Kayla.
"Buat sekolah?" bingung Pak William.
"lya, Saya juga pengen Alex berubah, dan perubahannya itu bakal ngerubah sekolah juga."
"Maksud kamu Kayla?"
"Alex itu kan punya image yang kuat Om di sekolah, dia disegani dan dikenal semua orang. Tapi kelakuannya.. maaf Om, dia suka membully anak-anak, dia suka bikin masalah dan bikin semua orang takut. Bahkan guru gak berani nentang dia, saya rasa ini keterlaluan. Saya berani ngomong kayak gini, karena saya salah satu korban bullying dia"
Pak William terperangah, "A-..apa yang kamu bilang Kayla?" Pak William terdengar terkekeh, "Alex itu suka sama kamu, gimana mungkin dia ngebully kamu."
Kayla pun terkekeh, "Sebelum dia tau saya adalah cewek yang dia cari.. dia memperlakukan saya sama kayak anak-anak lainnya Om, saya dibully juga."
Pak William terdiam, tak habis pikir. Kemudian terlihat menggeleng kecil. "Trus Kayla, gimana lagi kelakuan Alex di sekolah?"
"Sifatnya yang kita liat di sekolah.. bertolak belakang sama yang Om bilang, dia ramah, penurut dan penyayang. Dia gak kayak gitu di sekolah, dan saya berani bilang kalo dia sebenarnya.. ditakuti sebagai ancaman, bukan dihormati, Om!"
PaK William terdengar menghela nafas berat.
"Dia harusnya dihormati kan Om? Dia harusnya bisa dihargain, tapi dia gak ngehargain siapa pun. Dia harusnya bisa disegani bukan ditakuti, tapi dia.. dan juga teman-temannya sering membully, mereka sering nakut-nakutin dan ngancem anak-anak. Keadaan di sekolah jadi gak normal Om, saya gak tau sejak kapan keadaan kayak gitu berlangsung, tapi sejak saya masuk sekolah di sana.. saya bisa liat dan juga bisa ngerasain ketidak adilan itu."
"Alex, dan teman-temannya? Siapa mereka?" Pak William terdengar emosi.
"Siapa mereka itu bukan masalahnya Om. Masalahnya ada di Alex, dia dalangnya dan penguasanya. Di sekolah Alex disebut The ruler of school. Mereka teman-teman Alex cuman ngikutin perintah Alex, makanya saya bilang kalo perubahan Alex bakal ngerubah sekolah"
"Jadi sebenarnya dari awal saya nyaksiin ketidak benaran itu di sekolah.. saya udah punya niat buat ngusahain perubahan. Dan perubahan itu bisa terjadi kalo Alex berubah, benar kan Om?"
Pak William menyembunyikan wajahnya, ia nampak malu mendengar tentang kelakuan putranya di sekolah. Bagaimana bisa Alex berperilaku semaunya di sekolah juga? Kalau di rumah, tidak masalah. Pak William tahu kalau Alex memang tidak bisa diatur dan dilarang-larang, tapi Pak William tidak tahu kalau Alex di sekolah suka mengatur dan berbuat sesukanya, apalagi sampai menakuti dan membully orang-orang.
"Sejak kapan Alex seperti itu Kayla?"
"Saya gak tau Om, saya baru di sekolah itu, belum genap dua bulan. Tapi kata teman-teman saya, mereka suka membully sejak awal."
"Om gak pernah dengar guru-guru mengeluh tentang Alex."
"Seperti yang saya bilang tadi Om, guru pun gak berani nentang Alex."
Keduanya terdiam.
"Om gak usah khawatir, sekarang kan Alex udah mulai berubah. Satu sekolah juga udah tau, kalo Alex gak semenakutkan sebelumnya lagi. Saya akan bantu sebisa saya, untuk perubahan yang lebih baik baik! Bukan cuman buat Alex, tapi buat semua orang di dalam lingkaran sekolah."
Pak William menatap Kayla, mencari kesungguhan dari ucapannya itu. "Apa anak ini benar-benar serius, dia korban bullying Alex kan, tapi dia mau bantu Alex buat berubah? Bahkan demi sekolah dan anak-anak lain juga?" gumamnya dalam hati.
"Kayla, apa kamu gak dendam sama Alex? Setahu Om, pembullyan itu bisa bikin korbannya trauma atau tertekan, bahkan ada yang nekat. Apa Alex seburuk itu, apa ada korbannya yang mengalami hal-hal yang gak mengenakkan? Atau ada yang dendam sama dia?"
"Soal yang nekat saya gak pernah dengar sih Om. Tapi setau saya gak ada kok yang dendam sama Alex. Saya juga enggak. Saya cuman pengen pembullyan itu berhenti, dan keadaan sekolah juga anak-anaknya kembali normal, kayak sekolah-sekolah lainnya. Dan kuncinya ada di Alex."
"Maaf kalo saya banyak bicara Om, saya pikir Om berhak tau masalah ini."
"Jangan sungkan Kayla, kamu benar. Harusnya Om tau soal ini dari awal, jadi masalahnya gak akan sebesar sekarang. Walaupun ini berat buat Om, tapi Alex itu anak Om, gimanapun juga Om berhak tau." Pak William menghela nafas berat kemudian menoleh ke arah Kayla.
Kayla tersenyum, "Jujur Om, saya bisa plong sekarang setelah bertukar pikiran sama Om!Saya pasti bantu Alex buat bisa berubah jadi lebih baik, gak Om minta pun saya pasti lakuin. Karena kebaikan Alex adalah kebaikan buat semua orang disekitarnya. lya kan Om?"
Pak William terenyuh, "Terima kasih Kayla, gak salah Om meluangkan waktu buat ngomong sama kamu. Kamu anak yang baik, Om sangat bersyukur Alex punya kenalan seperti kamu. Jadi kamu mau ngedukung dia, dan dampingin dia kan?"
Kayla ragu untuk menjawab, "Kalo Om ngerasa dukungan saya emang penting, dan Om yakin kalo saya bisa jadi penyebab berubahnya Alex, saya ngerasa beruntung, Om. Tapi saya gak janji kalo saya akan dampingin Alex."
"Kenapa?"
"Saya gak mau terikat Om. Tapi saya akan temenin Alex juga ngawasin dia dalam perubahannya kok. Terima kasih Om percaya sama saya!" Pak William mengangguk seraya tersenyum lega.
"Baiklah Kayla. Lakuin aja apa yang menurut kamu benar! Kita berdua punya keinginan yang sama kan? Om gak bisa terus ngawasin dan merhatiin Alex, tapi kamu bisa." Kayla mengangguk.
"Kamu tau Kayla, dulu waktu Alex masih SMP Om pernah nyewa bodyguard buat Alex. Om pikir karena Om sibuk, jadi Om minta bodyguard aja buat ngejaga Alex dan ngawasin dia. Mereka empat orang, tapi gak tau kenapa mereka nyerah ngehadapin Alex. Padahal mereka badannya gede-gede loh, mukanya juga sangar, Om pikir Alex gak akan bandel lagi kalo sama mereka. Eh gak taunya malah mereka yang ampun-ampunan gara-gara Alex. Gak sampe seminggu, mereka semua minta berhenti." Pak William tertawa renyah.
"Jadi Alex emang punya bakat ngebully dari SMP ya?" tanya Kayla dalam hati. Kayla pun ikut tertawa.
"Berarti Alex lebih sangar dari mereka dong Om?" lakar Kayla membuat Pak William kembali tertawa.
"Anak nakal." gumam Pak William.
Kayla jadi teringat akan perubahan Alex yang diceritakan Pak William sebelumnya. Kesimpulannya.. Alex berubah setelah mamanya pergi, dan luka masa lalunya lah yang membuatnya banyak berubah. Kayla jadi penasaran seburuk apa peristiwa masa lalu yang membuat Alex dan papanya terpuruk itu, sehingga Alex terluka, dan tidak bisa melupakannya sampai sekarang? Dan peristiwa itu ada hubungannya dengan sang mama kan? Papanya bisa bangkit tapi Alex tidak. Dia malah berubah menjadi pemuda yang pemarah dan kejam, padahal dulunya dia periang dan penyayang. Seolah-olah luka masa lalunya itu merenggut hatinya, dari seorang anak yang memiliki hati yang lembut penuh kasih sayang, menjadi pemuda berhati batu yang tega melihat orang menderita.
__ADS_1
Tapi Kayla akui, saat Alex menjadi Mr Strawberry.. Kayla melihat kasih sayangnya, keramahannya dan sifat humble nya. Dia seperti Alex kecil yang diceritakan Pak William. Jadi benar, kalau Alex mulai berubah kembali menjadi seperti dulu karena kehadiran Kayla? Maksudnya sejak Alex mengenal Miss Kissable, begitukah?
"Kayla, rumah kamu yang mana?" pertanyaan Pak William membuyarkan lamunan Kayla.
Ternyata mereka hampir sampai, Pak William bertanya saat baru belok melewati persimpangan.
"Yang itu Om, nomer 5!" jawab Kayla.
Mobil pun berhenti di depan pagar rumah nomer 5, tempat tinggal Kayla. Kayla lega ia bisa sampai di rumah, jika mengingat peristiwa berat yang ia alami di hutan.. Kayla sempat putus harapan bisa kembali pulang. Beruntungnya ada Alex, yang bersedia Kayla repotkan. Alex menemani Kayla dalam kegelapan malam di tengah hutan, juga memberinya rasa aman dari ketakutan. Kayla tidak bisa melupakan itu, dan tidak akan melupakannya.
"Om, terima kasih banyak ya udah nganterin saya sampe rumah!"
"Sama-sama Kayla, Om juga berterima kasih sama kamu! Kamu mau peduli sama Alex dan mau bantu dia, walaupun dia pernah membully kamu"
"Saya udah maafin dia soal itu, Om"
"Hati-hati!" ucap Pak William saat Kayla membuka pintu mobil. Pak William pun turun untuk mengeluarkan barang-barang Kayla dari bagasi, dan membantunya membawa barang-barangnya sampai ke depan pintu rumah Kayla.
"Sekali lagi terima kasih ya Om!"
"lya, jangan sungkan sama Om"
"Om pamit ya!" kata Pak William kemudian hendak berbalik.
"Om!"
"Ya?"
"Om gak akan marahin Alex kan?"
Pak William mengernyit. "Om udah tau tentang kelakuan Alex di sekolah, padahal selama ini Alex gak mau Om tau. Tapi saya malah ngasih tau Om" kata Kayla.
"Kamu takut sama Alex?" tanya Pak William.
"Enggak. Kita sama-sama tau kalo Alex udah mulai berubah. Dia juga gak ngebully lagi kok akhir-akhir ini, jadi saya pikir gak perlu bahas soal kelakuan dia lagi. lya kan Om?"
"Saya tau, emang saya yang mulai. Tapi saya gak ada maksud ngadu, ataupun balas dendam sama Alex. Saya bakal ngerasa keputusan saya cerita sama Om itu salah, kalo Om marahin Alex."
"Dia pantas dapat hukuman, kamu pasti juga pernah berpikir begitu kan Kayla?"
Kayla menaikkan alisnya takjub, bagaimana Pak William bisa mengira seperti itu. Ya memang benar dulu Kayla berpikir begitu. Alex bersalah dan pantas mendapatkan hukuman, tapi sekarang Alex sudah mulai berubah, dia tidak melakukan pembullyan lagi. Jika saat ini Kayla masih berpikir bahwa Alex harus dihukum meski ia telah berhenti melakukan kesalahan, maka itu sama saja dengan balas dendam kan? Apa Kayla salah?
"lya Om. Tapi kan sekarang Alex beda. Saya mikirnya kalo papanya tau kelakuan dia di sekolah kayak gimana, dia akan marah Om. Dia akan cari tau siapa yang ngadu ke papanya, dan dia gak akan ampunin orang itu. Sejauh yang saya tau, Alex akan lakuin itu! Bukannya hal itu bisa menghambat proses perubahan dia ya Om? Hatinya itu masih sensitif, dia bisa dengan mudah nerima ataupun nolak sesuatu yang masuk. Om pasti ngerti maksud saya."
"Om akan pikirkan itu. Kamu istirahat ya!" Kata Pak William seraya mengusap kepala Kayla.
"Om pamit! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, Om."
Kayla masuk ke rumah setelah mobil Pak William berlalu dari depan rumahnya. la masuk dengan pelan karena takut membangunkan mami, mami pasti sudah tidur di jam selarut ini.
Kayla agak terkesiap melihat mami tidur di sofa, dalam keadaan duduk dan tangannya masih memegang ponsel. Kayla menatap haru wajah mami, terpisah dengan mami beberapa hari, membuat Kayla sangat merindukan maminya. Kayla duduk bertekuk lutut di dekat kaki mami seraya mendongak menatap wajah maminya. Mami terbangun setelah beberapa menit Kayla duduk.
"Eh sayang, kamu udah pulang..?" mami menarik Kayla untuk duduk di sampingnya.
"Mami kok tidur disini?"
"Mami nungguin kamu, sayang."
Mereka pun berpelukan, "Hmm.. anak mami sayang.."
"Lily kangen mami.." ucap Kayla manja.
"Mami juga.."
Kayla mengeratkan pelukannya seraya memejamkan mata dan menikmati kehangatan pelukan mami. Kayla sangat bersyukur bisa pulang dan memeluk mami lagi. Tidak bisa ia bayangkan jika ia masih terjebak di tengah hutan dan tersesat. Kemarin, di jam malam selarut ini, Kayla masih meringkuk di kegelapan dalam ketakutan. Alhamdulillah.. hari ini ia sudah bisa kembali pulang pada mami. Rasa takut yang ia rasakan kemarin, dan rasa haru bisa memeluk mami lagi kini bercampur aduk dalam dadanya. Rasa takutnya sudah berlalu tapi bayangannya tidak bisa Kayla lupakan, tanpa Kayla minta air matanya mengalir begitu saja, sehingga menimbulkan suara isakan yang menarik perhatian mami.
"Eh sayang.. kok nangis?" tanya mami seraya melepaskan pelukannya dan melihat wajah Kayla.
"Lily kangen mami..."
"Ya ampun sayang, udah ah. Kita kan udah ketemu lagi, mami juga kangen sama Lily" ucap mami seraya membelai wajah putri kesayangannya itu dan menghapus air mata Kayla.
"Eh, kenapa ini kok anak mami keliatan lemes gini? Jangan bilang alasannya kangen mami lagi ya?!" rajuk mami.
Kayla menyembunyikan tangannya yang masih tertempel kapas kecil di punggung tangannya, bekas jarum infus. Semoga saja mami tidak berpikir macam-macam setelah melihat wajah lemas Kayla.
"Lily laper mi, Lily kangen masakan mami.."
Mami tertawa kecil. "Ya ampun.. anak mami laper, yaudah kamu mandi dulu gih, abis itu kita makan!"
"Mami juga belum makan?"
"Hehe mami kan nunggu kamu sayang, mami kangen makan berdua sama kamu. Oh iya mami udah masakin sup iga kesukaan kamu loh."
__ADS_1
"Iya mi? Hmm... Lily jadi tambah laper."
"Yaudah sana, kamu mandi dulu, bersih-bersih abis dari perjalanan jauh! Ini juga ya ampun.. lepek banget rambutnya." kata mami sambil mengelus kepala Kayla.
"lya mami sayang..."
"Mami panasin sup nya dulu ya!"
"Hm.." Kayla mengangguk antusias, setelahnya ia beranjak menuju kamarnya.
Kayla lega mami tidak mencurigai dirinya yang terlihat lemas. Kayla juga merasa lebih mendingan sekarang, ia hanya perlu membersihkan diri, makan dan minum obat, setelah itu beristirahat.
... ....
... ....
... ....
Pukul 00.48 dini hari, Kayla baru bersiap-siap untuk tidur. la menepuk-nepuk dan merapikan bantalnya, kemudian berbaring dengan mengucap basmalah. Kayla lega, setelah semua yang terjadi hari ini, sekarang ia bisa merasakan kembali kenikmatan yang ia tinggalkan beberapa hari. Hari ini hari yang berat bagi Kayla, berbagai peristiwa dan pengalaman Kayla dapatkan. Bersama Alex, seharian ini Kayla lalui dengan melawan rasa takut, lapar, haus, dan keduanya juga belajar bersabar, belajar bagaimana hidup dengan kekurangan dan kesusahan. Kayla mendapatkan banyak pelajaran dari pengalamannya hari ini.
Bukan hanya ketika di hutan saja, bahkan saat Kayla berbincang-bincang dengan Pak William, papanya Alex. Bertukar pikiran dengan Pak William ternyata menyenangkan, Kayla sendiri masih tidak percaya bahwa ia hari ini bisa berbicara banyak dengan seorang pebisnis ternama seperti Pak William, bahkan bertukar pikiran dengannya. Demi putranya, Pak William meluangkan waktu untuk berbicara dengan Kayla yang hanya seorang anak gadis biasa. Demi putranya Pak William bahkan tidak ragu untuk meminta bantuan pada seorang anak yang baru ia kenal.
Dari Pak William, Kayla sekarang tahu, kehidupan mewah Alex yang selalu dijalaninya dengan enjoy, ternyata tak senyaman yang orang lihat. Dia memiliki sisi lain yang ditutupinya, dia punya luka masa lalu yang masih mempengaruhinya. Dan ia menutupi itu dengan sifat angkuh dan juga percaya dirinya.
Tapi tetap saja, sejahat-jahatnya Alex dia dulu anak yang baik. Dan sifat baiknya itu tidak serta-merta hilang begitu saja, meski dia sering memperlihatkan sisi buruknya. Bersama Miss Kissable, dia bisa kembali menjadi Alex yang baik dan lembut. Yang perlu Kayla lakukan adalah bagaimana agar Alex tetap bersifat seperti Mr Strawberry dan kembali menjadi anak yang baik seperti dulu, seperti yang papanya inginkan. Agar Alex bisa berperilaku baik kepada siapapun, bukan hanya kepada Miss Kissable saja tapi juga semua orang. Kepada para guru di sekolah, dan siswa-siswi semuanya, atau siapapun orang disekitarnya.
"Alex apa kabar ya?" gumamnya pelan.
Tiba-tiba ponsel Kayla berbunyi sekali, menandakan sebuah chat masuk ke nomernya. Kayla meraih ponselnya di atas nakas. la mengernyit saat melihat sebuah pesan dari nomer tanpa nama.
"Siapa ya?" gumamnya sambil membuka pesan itu.
📱
"Miss Kissable, kamu udah tidur? Kamu istirahat kan?
Kayla tersenyum, ia tentu tau siapa pemilik nomer ini setelah membaca isi pesannya. Tapi bagaimana Alex tahu nomernya? Kayla pun mencek rincian dan info nomer itu diponselnya. Oh.. ternyata sebelumnya ada banyak panggilan tak terjawab dari nomer ini. Kayla ingat-ingat.. waktu itu Adit kan yang memberi nomernya pada Alex, saat Alex baru mengetahui kalau Kayla adalah Miss Kissable?lya benar.
Kayla tersenyum dan membalas pesan Alex.
📱
"Hai Mr Strawberry, gimana kabar kamu? Aku istirahat kok, kamu gak usah khawatir."
Tidak lama berselang chat balasan pun masuk.
📱
"Oh ya? Kenapa belum tidur, ini udah mau pagi?"
📱
"Aku udah mau merem kok, kamu aja yang ganggu. Kamu sendiri kenapa belum tidur?"
📱
"Aku mau mastiin keadaan kamu. Ya baguslah kalo udah mau tidur.
📱
"Good night Miss Kissable.."
📱
"Terima kasih, kamu juga harus tidur ya! Good night Mr Strawberry"
📱
"Hm, aku bisa tenang sekarang. Selamat beristirahat 😘"
Kayla menaikkan alisnya melihat emoticon yang diberikan Alex di chat terakhirnya itu. Ia bergidik dan terkekeh geli. Setelahnya ia pun mematikan ponselnya dan tidur, Kayla pikir tidak perlu membalas chat itu. Kalau Kayla balas, nanti Alex membalas lagi dan seterusnya. Maka mereka akan chattingan saja malam ini, bukannya istirahat.
Di tempat yang berbeda, Alex tersenyum sambil memandangi ponselnya. Setelah beberapa menit ia mengirim chat, tidak ada balasan dari Kayla. Baiklah, gadis itu pasti sudah tidur, dan Alex pun akan tidur juga karena perasaannya sudah lega. la meletakkan ponselnya dan melirik ke arah papanya yang sedang tidur di sofa ruangan rumah sakit. Satu jam yang lalu, Alex sudah dipindahkan ke ruang rawat VIP, karena ia harus opname beberapa hari untuk perawatan kakinya.
Alex kembali membaringkan tubuhnya, ia menghela nafas lega. Seharian ini adalah hari yang berat baginya, ia butuh istirahat sekarang.
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1