Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Saksi Dan Bukti


__ADS_3

Assalamu'alaikum..


Apa kabar reader semuanya...


Maaf banget ya guys aku kelamaan hiatusnya, dah gitu gak ada kabar lagiπŸ˜…πŸ™


Oke, aku balik lagi nih..


Selamat membaca kelanjutan kisah ***Miss Kissable & Mr Strawberry


...Happy reading***...


(Flashback On)


"Kamu ngumpet ya, mereka nggak boleh liat kamu apapun yang terjadi!" tegas Alex serius.


Feli membulatkan mata, peringatan Alex barusan terdengar horor ditelinganya. Memangnya ada apa, sampai ia harus bersembunyi dari orang-orang itu? Feli mulai takut akan ada ancaman yang menghampiri dirinya dan Alex.


"Ada apa Al?"


"Plis, kamu ngumpet dulu. Aku akan hadapin mereka. Tapi inget, apapun yang terjadi mereka nggak boleh sampe tau ada kamu disini."


"Al!" sergah Feli seraya menahan tangan Alex, membuat Alex urung membuka pintu mobil. "Bilang dulu ada apa, jangan bikin aku parno."


"Aku nggak tau, tapi perasaanku nggak enak."


"Kalo gitu jangan turun!"


"Woyy.. keluar lu!" pekik pria kekar itu marah.


Alex menatap Feli tegas, sementara Feli menggeleng-geleng cemas.


"Percaya sama aku, aku bisa hadapin mereka. Kamu cuman perlu diam disini dan saksiin. Jangan sampe mereka tau ada orang selain aku di mobil ini." Alex menggenggam tangan Feli meyakinkannya.


"Emangnya siapa mereka? Kamu nggak akan ngewanti-wanti aku gini kan kalo kamu nggak kenal mereka."


"Fel plis.. aku harus turun sekarang. Mereka nggak boleh sampe curiga."


Feli menelan salivanya takut seraya melonggarkan pegangannya pada tangan Alex, terpaksa ia membiarkan Alex turun meski berat hati. Sebelum benar-benar keluar dari mobil Alex memastikan Feli menyembunyikan diri dibalik kursi mobil, meringkuk menundukkan tubuhnya dengan pandangan cemasnya yang masih tertuju pada Alex.


Kecemasan Feli tidak salah, orang-orang itu memang bermaksud buruk dan Alex tidak aman. Baru saja Alex keluar dan menutup pintu mobil, dua pria kekar itu langsung menyerangnya. Feli hampir menjerit karena takut melihat aksi perkelahian mereka. Ia menutup mulutnya demi tidak menimbulkan suara, bagaimanapun juga seperti yang Alex peringatkan ia tidak boleh menimbulkan kecurigaan orang-orang jahat itu. Feli sangat cemas dengan kondisi Alex yang sudah kewalahan menghadapi dua pria kekar itu, sekarang dua pria lainnya yang tak kalah sangar turun dari mobil itu dan ikut menghajar Alex juga. Bagaimana Alex bisa menghadapi empat orang sekaligus, yang bahkan tubuh mereka berempat masing-masing lebih besar dari Alex.


"Al..." jerit Feli tertahan.


Air mata mengalir di pipi Feli tapi ia tetap bertahan ditempatnya. Alex jatuh tersungkur, kalah melawan tenaga empat orang pria bertubuh kekar itu. Feli takut dan cemas tapi ia bingung harus apa sekarang, ia ingin sekali melihat keadaan Alex. Feli pikir setelah mengeroyok Alex, empat pria jahat itu akan meninggalkannya begitu saja tapi tidak. Mereka mengangkat tubuh lemas Alex dan memasukkannya ke mobil mereka! Feli terbelalak panik.


"Apa? Al, apa.. Al.. kenapa mereka.." Feli meracau panik sendiri.


Feli beranjak, ia tidak bisa diam saja membiarkan mereka membawa Alex. Walaupun ia juga sangat takut melihat wajah sangar orang-orang itu.


"Periksa mobilnya! Ada orang lain nggak, atau mungkin CCTV. GPS nya juga matiin, jangan sampe kita ninggalin jejak!"


Feli menciut seketika mendengar ucapan salah seorang dari pria sangar itu. Ia gelagapan, terdesak keadaan, akhirnya ia memilih kembali bersembunyi seperti yang Alex suruh. Alex memastikan Feli aman, tapi malah Alex sendiri yang celaka. Feli tidak bisa melakukan apa-apa selain melihatnya dari jauh dan terpaksa membiarkan orang-orang jahat itu membawa Alex.


(Flashback Off)


Feli yang masih syok, tengah duduk sembari dipeluk oleh ibunya. Setengah jam yang lalu ia menceritakan kronologi kejadian yang menimpanya dan Alex saat keduanya dalam perjalanan pulang. Diruang tamu rumah Feli, bersamanya ada kedua orang tuanya dan juga Om Elfatt papa Alex.


Mendengar kabar buruk ini, Elfatt segera menyuruh orang kepercayaannya melacak mobil jeep yang membawa Alex. Berbekal nomer plat mobil yang sempat Feli ambil gambarnya, semoga saja keberadaan Alex dapat segera dideteksi. Kini mereka tengah gusar menunggu hasil pelacakan itu. Papa Feli juga sudah melaporkan kejadian itu kepada polisi, bahkan polisi baru saja pulang dari rumah mereka setelah mengantongi keterangan dari Feli. Dari polisi atau dari orang kepercayaan Elfatt, entah siapa yang lebih dulu berhasil menemukan titik keberadaan Alex. Elfatt terlihat sangat tegang dan gelisah sembari menatap ponselnya, entah kapan ponsel itu akan berdering dan memberinya kabar baik.


Derrtt....dertt....


Elfatt segera menyambar ponselnya yang berdering. Polisi yang menelpon.


"Halo?"


Feli dan kedua orang tuanya memperhatikan Elfatt seksama, setidaknya mereka bisa mengerti dari raut wajah karena tidak bisa mendengar pembicaraan Elfatt dengan polisi. Elfatt terlihat mengernyit dalam sembari mendengarkan keterangan polisi, ia lantas menyetujui sesuatu yang membuat Feli dan kedua orang tuanya sangat penasaran.


"Ada kabar apa Om?" Tanya Feli cepat sesaat setelah sambungan telpon Elfatt dan polisi berakhir.


"Pihak kepolisian bilang, tadi sekitar jam sebelas hari ini ada juga laporan penculikan yang masuk ke mereka. Penculikan itu terjadi di supermarket. Mereka menduga kasus penculikan Alex ini dilakukan oleh orang-orang yang sama dengan kasus jam sebelas itu, karena mobil jeep yang sempat kamu foto itu mirip dengan mobil penculik di supermarket. Jadi kita harus ke kantor polisi buat mastiin apa benar mobil itu emang mobil yang sama."


"Gimana kita mastiinnya Om, mobilnya udah ditemukan?"

__ADS_1


"Enggak. Tapi saksi penculikan di supermarket itu pasti ngenalin mobil penculiknya. Saksi itu juga sedang dalam perjalanan ke kantor polisi. Ayo!" Elfatt berdiri lebih dulu.


... ....


... ....


... ....


Sesampai Elfatt, Feli dan kedua orang tuanya di kantor polisi mereka cukup bingung mendapati Nadia mami Kayla, bersama suaminya. Di sana juga ada Arsya dan sopirnya yang menjadi saksi penculikan. Agak canggung, Elfatt hanya menyapa Tio sahabatnya sekejap tanpa menanyakan perihal kedatangan masing-masing ke kantor polisi. Setelah mereka semua berkumpul, kepala kepolisian duduk di tempat untuk menjelaskan keterangan yang baru disimpulkan.


"Saudari Feli, bisa kamu perlihatkan lagi gambar mobil yang sempat kamu ambil?" Ujar Pak Polisi.


Feli mengangguk, ia pun menyerahkan ponselnya dan memperlihatkan foto mobil jeep yang membawa Alex hampir satu jam yang lalu. Foto itu diambil dari belakang dan agak blur karena Feli memotretnya dalam keadaan terdesak dan gemetar, tapi plat mobil itu tetap bisa dikenali.


"Saudara Arsya, dan saudara Mukdi, bisa diliat gambar ini!" Ujar polisi meminta Arsya dan sopirnya mendekat.


Setelah beberapa detik memperhatikan gambar dari ponsel Feli, Arsya dan sopirnya lantas mengiyakan.


"Iya Pak, saya yakin ini mobilnya." kata Bang Mukdi si sopir.


"Saya emang nggak sempat merhatiin platnya tapi pasti ini mobil yang sama yang nyulik kakak saya Pak." Timpal Arsya.


"Apa? Kayla yang diculik?" tanya Elfatt agak terkejut.


Tio mengangguk, membuat Elfatt tak habis pikir. Ini hanya kebetulan atau memang direncanakan? Pertama Kayla yang diculik, kemudian Alex. Insting detektif Elfatt mulai berkelana.


"Kamu ingat wajah-wajah mereka? Ada berapa orang, dan seperti apa mereka?" Tanya polisi pada Arsya.


Arsya mengernyit dalam, berpikir keras. Kejadian itu terjadi sangat singkat yang menegangkan, mana sempat Arsya memperhatikan seperti apa mereka dan berapa jumlah mereka. Tapi ia cukup ingat dengan orang yang menarik Kayla dan menendang perutnya.


"Saya nggak tau jumlahnya Pak, tapi orang yang narik Kakak saya itu pake kaos biru dan dia pake kalung rantai gede'. Trus yang satunya yang nendang saya itu rambutnya gondrong dan kumisan, badannya kekar-kekar."


Feli membulatkan matanya, "Itu mereka! Mereka yang turun dari mobil duluan trus nyerang Alex, mereka ada empat orang Pak. Yang dua lainnya juga turun abis itu, dia.. botak dan pake topi jaring, yang satunya lagi yang nyetir itu.. pake kacamata item trus pake jaket jeans gitu." jelas Feli menggebu-gebu.


"Alex?" gumam Nadia agak terkejut. Mereka mencelakai Alex? Apa mereka juga menculiknya?


"Berarti bisa disimpulkan kalo saudari Kayla dan saudara Alex diculik oleh sekelompok orang yang sama. Kemungkinan besar keduanya juga berada di satu tempat yang sama, tapi kita masih belum tau motif penculikannya.. sama atau enggak." kata Polisi.


Nadia mengalihkan pandangannya ke arah luar ruangan, hari mulai gelap dan suasana hati Nadia pun gelap tak bersinar. Entah bagaimana keadaan putrinya sekarang, dia pasti ketakutan dan menangis sedangkan sang mami tidak berada disisinya. Dan jika benar Alex ada bersamanya, haruskah Nadia merasa lega atau justru semakin gelisah? Nadia hanya berharap putri kesayangannya itu tidak banyak menderita. Nadia kembali terisak, membuat Tio kembali mengelus pundaknya berusaha menenangkan.


"Ini udah mau malem Mas, gimana keadaan Lily.. dimana dia..?" cicit Nadia.


"Kami akan segera mencari keberadaan anak-anak anda Pak, Bu. Selain bukti gambar mobil jeep ini, kami juga sudah mengantongi satu nama yang terduga komplotan penculik itu." terang Polisi.


"Siapa Pak?" tanya Elfatt cepat.


"Arman. Dia tahanan Kapolsek Bandung yang kabur pagi ini."


Nadia memejamkan matanya seraya menunduk, menyesalkan nama Arman yang harus disebut sebagai terduga penculik. Ingin sekali Nadia memaki mantan suaminya itu. Sementara Elfatt seketika terbelalak marah mendengar nama Arman.


"Arman??" Elfatt mengepalkan kedua tangannya geram. "Gimana dia bisa kabur Pak, dia itu berbahaya!"


Dengan menyesal polisi menjawab, "Itu kelalaian kami Pak. Karena sebelumnya Kapolsek Bandung digegerkan oleh pembunuhan seorang polisi penjaga tadi malam."


"Pembunuhan polisi? Bisa aja itu cuman pengalihan kan Pak, biar tahanan licik itu bisa kabur."


"Saya nggak bisa memastikan, tapi pembunuh polisi itu juga seorang tahanan di sana. King, ketua mafia yang menaungi bisnis Arman sebelumnya."


"KING?!!" Elfatt terperangah bukan main. Ia reflek berdiri sambil menggebrak meja polisi dengan tatapan sengit pada polisi itu.


"Ya Tuhan...." desahnya kemudian sembari mengusap wajahnya frustasi.


"King sama Arman kabur dari penjara dan berhasil menculik Alex? Gimana keteledoran seperti itu bisa terjadi Pak, bukannya dari jauh-jauh hari saya udah mengamanatkan pihak kepolisian buat memperketat penjagaan mereka? Apa gunanya saya meninjau kepolisian Bandung dan Jakarta buat kemanan mereka, kalo akhirnya mereka berdua lolos juga?!" sungut Elfatt saking kalutnya.


Nadia memperhatikan gelagat mantan Bos nya itu. Jadi Pak William telah mewanti-wanti polisi Bandung dan Jakarta demi keselamatan Alex, dengan menekankan penjagaan King dan Arman didalam tahanan. Nadia baru tahu itu. Sebegitu khawatirnya Pak William akan keselamatan putranya, sampai dia meninjau pihak kepolisian untuk memperketat keamanan. Entah kenapa dalam situasi begini Nadia masih terpikir hal buruk tentang mantan Bos nya yang telah mengecewakannya itu. Nadia curiga kalau Pak William sebenarnya mengkhawatirkan keamanan bisnisnya, bukan keamanan Alex, tentu ini hanya isi kepala Nadia saja yang masih menyimpan luka atas penghinaan Pak William beberapa bulan silam.


"Kami sangat menyesalkan itu Pak. Saat ini anggota kami sedang berusaha mencari keberadaan anak bapak, kami pasti bertindak cepat untuk kasus ini." sahut Polisi.


"Secepatnya dan tetap hati-hati Pak! Jangan sampai anak saya kenapa-napa!" peringatkan Elfatt agak mengancam.


"Baik, kami mengerti."


Elfatt balik badan, pandangannya tertuju pada Nadia dan Tio, ia lantas menghampiri keduanya.

__ADS_1


"Saya bukan bermaksud nuduh atau menghakimi, tapi saya mau tanya, apa anak kamu dan anak saya masih berhubungan diam-diam?" Elfatt melihat ke arah Nadia yang tertunduk, setelah mendengar pertanyaan lancang itu Nadia lantas mendongak.


"EL?!" sergah Tio dengan nada yang kecewa. Tio berdiri menatap langsung sahabatnya itu.


"Kayla bukan cewek seperti itu, dan kamu.. nggak percaya sama anak kamu sendiri? Kayla sama Alex udah ngorbanin perasaan mereka demi nurutin kamu, mereka benar-benar nggak ada hubungan lagi. Aku bisa jamin itu, aku ayahnya Kayla dan aku tau seperti apa dia." ucap Tio tegas.


"Siapa tau kalo mereka diam-diam, dibelakang kamu dan dibelakang saya. Trus gimana kasus ini bisa sampai terjadi?"


"Maaf Om." Feli berdiri angkat suara, ia mendekat pada calon mertuanya itu. "Saya juga bisa jamin kalo Alex sama Kayla emang nggak ada hubungan lagi. Alex emang anak Om, tapi saya kenal dia, saya juga kenal Kayla. Mereka nggak akan ngelakuin sesuatu seperti yang Om khawatirin. Dan menurut saya, kasus ini sama sekali nggak ada hubungannya sama urusan pribadi Alex sama Kayla masing-masing."


"Kamu nggak tau Feli. Arman itu ayah kandung Kayla, dia yang membuat Alex harus mengusik bisnis gelap mereka, dan King itu bukan orang sembarangan. Mereka tau hubungan Alex sama Kayla, dan mereka punya dendam sama Alex." Feli terbelalak dan terdiam kaget.


"Sekarang kamu ngerti seberapa bahayanya nyawa Alex?" lanjut Elfatt, sementara Feli hanya terpaku kaget tanpa bisa merespon ucapan Elfatt.


"Maaf Pak, bisa jadi itu motif mereka melakukan penculikan. Mereka tau Alex dan Kayla ada hubungan kan, meskipun itu dimasa lalu mungkin mereka mengira masih seperti itu." sahut si polisi nimbrung.


"Itu dia Pak masalahnya. Sekarang meskipun orang-orang berbahaya itu tau yang sebenarnya atau enggak, anak saya udah ada ditangan mereka. Gimana nasibnya?!" sungut Elfatt lagi.


"Tenang Pak, kita harus percaya sama pihak kepolisian, mereka pasti ngusut kasus ini sampai tuntas. Alex akan baik-baik aja." Ayah Feli pun angkat suara demi menenangkan calon besannya yang tengah frustasi itu.


... __________________...


"*Keselamatan aku? Papi ngomong soal kebaikan aku? Emang apa yang bisa terjadi sama aku, justru aku nggak aman kalo aku deket papi. Jawab aku pi, papi kabur dari penjara?"


"Kayla-.."


"Papi kabur? Iya pi?" desak Kayla balik.


"Iya, papi kabur. Papi-.."


"Dan papi mau aku percaya sama papi?" Kayla terkekeh getir, "Plis pi, aku capek berurusan sama papi. Hidup aku udah tenang sekarang, jangan bawa masalah apapun lagi buat aku pi*..!"


Suara Kayla yang menolaknya tadi pagi masih terngiang-ngiang dibenak Arman, putrinya yang telah sering ia sakiti dan berkali-kali ia kecewakan itu tidak bisa mempercayainya. Menyakitkan, tapi itulah konsekuensi buruk yang harus Arman terima. Seandainya Kayla tahu bahwa Arman benar-benar mengkhawatirkannya, bahwa papinya telah berubah dan memang datang demi keselamatannya. Seandainya saja Arman tidak melakukan dosa terbesarnya dulu, maka Kayla pasti mau mendengarkannya. Seandainya...


hanya kalimat seandainya yang tersisa, dan itu tidak ada gunanya sekarang.


Arman termenung, nafasnya masih sedikit ngos-ngosan setelah beberapa menit yang lalu disiksa dan dihajar habis-habisan oleh para anak buah King, yang dulunya adalah bawahannya. Mereka, para pria sangar yang berjumlah 9 orang itu tidak lagi menghormatinya sebagai senior atau semacamnya, tapi mereka melihatnya sebagai seorang pengkhianat yang rendah.


Sekarang ini kondisi Arman memang terlihat menyedihkan, dengan berbagai luka ditubuhnya, tapi ia bisa mengabaikan itu semua. Penyesalannya yang mendalam jauh lebih menyiksanya dibanding luka-luka luar itu. Arman merasa sangat terlambat menyadari kesalahannya, dosanya pada Kayla terlampau besar hingga sekarang ia merasa seperti sampah atau barang rongsokan kotor, yang tidak berguna sama sekali. Lagi-lagi putrinya itu harus menderita karenanya. Arman sungguh menyesal, ia mengutuk dirinya, dan sungguh membenci dirinya sendiri.


Arman merasa sangat tidak beruntung sebagai seorang ayah, bahkan ia sadar bahwa dirinya tidak pantas disebut seorang ayah. Selama di penjara ia terus merenungi kemalangannya itu, ia terus teringat akan pertemuan terakhirnya dengan Kayla, pertemuan yang harusnya bisa jadi pengobat rindu tapi malah dijadikannya sebagai alat menghancurkan putrinya sendiri. Ia tidak bisa melupakan hari itu, dimana ia berlaku sangat buruk kepada putrinya sendiri, dimana ia menjadi monster yang mengancam bagi putri kecilnya yang malang itu.


"*Udah berani kurang ajar ya sama papi" ucap Arman geram.


"Papi? Siapa?" jawab Kayla sarkas, lalu terkekeh kecut. "Papi nganggep aku anak apa enggak sih? Aku nggak ngerasa diperlakuin sebagai seorang anak sama papi. Aku pikir gak ada di dunia ini orang tua yang ngebiarin anaknya dalam bahaya. Tapi papi..." Kayla menggeleng-geleng tak habis pikir.


Wajah Arman memerah, entah itu kemarahan atau rasa malu Kayla tidak mau tau. "Kayla!"


Kayla mengangkat satu tangannya seraya mundur selangkah, memberi isyarat agar papi tidak mendekat ataupun bicara. Tindakannya itu membuat Arman semakin marah dan langsung menamparnya.


Plakk


Arman memaki sambil membujuk Kayla agar menurutinya. Sedangkan Kayla hanya bisa menangis terduduk di pinggiran ranjang, sambil memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan Arman*.


Ingatan-ingatan itu terus berputar dalam kepala Arman, dan sedikit demi sedikit menggerogoti hati batunya. Hingga akhirnya hati itu menjadi hancur dan melunak oleh percikan air mata penyesalan. Arman benar-benar menjadi seseorang yang menyedihkan dan menderita didalam penjara, dengan penyesalan yang mengungkung dirinya. Hingga suatu hari King membuatnya membangkitkan gelora jiwanya, jiwa seorang ayah yang sempat hilang dari dirinya, yang dengan gelora itulah kini ia berada disini.


Rencana King untuk balas dendam membuat Arman memiliki harapan untuk memperbaiki kesalahannya pada Kayla, menebus dosa besarnya pada putrinya. Dengan menentang dan berkhianat terhadap King, orang yang telah membesarkan namanya dan memberinya banyak peluang menjadi orang kaya. Arman tidak peduli lagi akan itu sekarang, ia tidak peduli jika harus berakhir ditangan King, yang terpenting baginya adalah.. ia memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang benar sebagai seorang ayah, ia bisa menebus dosanya terhadap putrinya yang sudah banyak menderita akibat kesalahannya.


Itu saja. Jika untuk kata maaf dan penerimaan kembali adalah hal yang mustahil Arman dapatkan dari putrinya, maka itu saja sudah cukup untuknya.


Ya, meskipun sangat berat Arman harus merasa cukup dengan bisa melakukan sesuatu yang baik untuk putrinya walau tanpa pengakuan. Masalahnya saat ini, ia terbelenggu dan tenaganya sudah terkuras.


Arman menghembuskan nafas panjang, mengeram kecil karena kesal tak bisa berbuat apa-apa. Namun detik berikutnya ia terperangah kecil karena merasakan sesuatu yang janggal, ia lantas menilik tangan kanannya. Bukan pada tangannya, sesuatu yang janggal itu ada pada rantai yang membelenggu tangan kanannya. Arman mendengus lega, raut wajahnya pun berubah seketika. Ia seolah menemukan seteguk air ditengah keringnya gurun tandus.


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2