
Baru saja keluarga bahagia ini menyelesaikan sarapan pagi mereka, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Kedua gadis kecil itu nampak asyik dengan mainan mereka yang baru dibelikan oleh sang abang kemarin, mereka mendengar bel rumah berbunyi tapi mereka tidak tertarik ataupun peduli karena mainan yang baru mereka buka segelnya itu lebih menarik. Melihat keasyikan anak kembarnya, Vanessa yang tengah sibuk mencuci piring, tidak tega menyuruh mereka beranjak untuk membuka pintu bagi tamu yang memencet bel. Vanessa lantas membersihkan tangannya, tapi kemudian sang putra menyergah.
"Biar aku aja Ma." katanya seraya beranjak dari meja makan.
"Makasih nak." ucap sang mama tersenyum.
Beberapa menit kemudian, Alex sang putra kembali ke dapur untuk memanggil sang mama. Alex belum mengatakan apapun sampai ia berdiri disamping sang mama yang masih mencuci piring.
"Ma." hanya itu yang Alex ucapkan, ia tak melanjutkan kata-katanya sembari menatap lekat sang mama.
Vanessa menoleh, "Siapa Al?"
"Emm.. dia.. katanya asisten pribadinya Om Vino." Jawab Alex agak sungkan.
Aktivitas Vanessa lantas terhenti. Wajahnya berubah seketika, hatinya berdesir mendengar nama pria yang dicintainya itu disebut. Entah apa yang membuat asisten pribadi Vino datang menemuinya, perasaan Vanessa mulai tak enak.
"Dia bilang apa Al?"
Alex menggeleng, "Katanya ada sesuatu yang penting, dia cuman mau ngomong sama mama."
"Temenin mama ya!" Pinta Vanessa dengan nada cemas.
Alex tersenyum hangat, menghibur sang mama. "Iya. Rileks aja ma!" katanya sambil meletakkan tangan dipundak sang mama.
Vanessa, Alex, dan tamunya yang merupakan asisten pribadi Vino itu duduk diruang tamu. Sempat ada kecanggungan dan sedikit ketegangan diantara mereka, suasana itu dimulai oleh pria bernama Yadi yang merupakan asisten pribadi Vino, suami yang telah meninggalkan Vanessa tanpa alasan yang jelas. Vanessa nampak tak mau memulai percakapan, Alex pun tak merasa berhak untuk bicara lebih dulu. Jadi Yadi lah yang membuka suara.
"Kedatangan saya kemari buat nyampein amanat Pak Vino, Bu."
"Amanat?" ulang Vanessa tak mengerti.
Yadi menyerahkan sebuah amplop yang sejak tadi ia pegang kepada Vanessa. Vanessa menerimanya dengan perasaan yang aneh.
"Apa ini?" tanya Vanessa.
"Silahkan ibu liat dulu." jawabnya singkat.
Vanessa melirik Alex, dan Alex yang mengerti kecemasan mamanya lantas beralih duduk kesamping Vanessa, dan mendampingi mamanya membuka amplop itu. Isinya.. sebuah surat?
Vanessa membuka surat itu dengan perasaan semakin tak karuan, membuat Alex yang menyadari perubahan sang mama menghentikannya. "Tenangin perasaan mama dulu, baru liat isi suratnya."
Vanessa mengangguk, menghela nafas panjang lalu tersenyum samar. Ia pun melanjutkan membuka surat itu.
..."***Teruntuk Vanessa sayang:...
Maaf Nes, apa aku masih boleh memanggilmu sayang?
Apa kabar? Aku merindukanmu dan anak-anak. Rinduuu sekali.
Sayangnya keadaan membuatku nggak bisa menemui kalian. Tapi aku tidak menyesal, karena aku yakin kalian bisa bahagia tanpaku disisi kalian.
Sesungguhnya ini berat sekali untukku Nes, aku sendirian. Hanya kerinduanku padamu dan anak-anak lah yang menemani sisa hidupku.
__ADS_1
Maafin aku sayang, aku nggak jujur sama kamu. Saat ini aku sakit, tiga tahun yang lalu Dokter menyatakan aku mengidap kanker otak stadium 3. Aku menyembunyikannya darimu karena aku nggak mau kamu sedih dan mengkhawatirkanku. Aku melawan penyakitku dengan semangat, kamu dan anak-anak adalah penguatku. Tapi setelah aku dapat kabar buruk kalo penyakit ini mengganas sampai stadium 4, aku mulai ketakutan.
Awalnya aku takut kehilangan kalian, tapi lalu aku sadar.. kalian lah yang akan kehilangan diriku. Aku yang akan meninggalkan kalian karena penyakitku ini, aku yang akan membuat kalian menangis atas kepergianku, akulah yang akan membuat kebahagiaan keluarga kita hancur. Dan aku nggak bisa membayangkan kesedihan diwajah orang-orang yang kucintai. Aku nggak bisa menerima kenyataan itu akan terjadi.
Karena itu, aku mengambil jalan ini Nes. Aku mengambil jalan yang sulit dengan meninggalkanmu dan anak-anak sebelum aku benar-benar meninggalkan dunia ini. Supaya kalian nggak menangisi kematianku, supaya kalian tetap bahagia meski tanpa kehadiranku. Kamu mungkin marah dan kecewa sama aku, karena aku bersikap bodoh dan memilih dianggap sebagai pengecut yang nggak bertanggung jawab. Anak-anak juga mungkin akan membenci papanya yang tega meninggalkannya seolah tak memiliki kasih sayang. Tapi Nes, kesedihan dan kekecewaan kalian yang hanya sementara lebih baik buatku daripada harus menerima kenyataan akulah yang menjadi alasan hilangnya kebahagiaan dalam hidup kalian.
Jadi, walaupun aku sendirian disisa hidupku.. aku tetap tenang mendengar kalian bahagia. Yadi asisten setiaku, dia yang menemaniku dan mengurusku, dia selalu mengabariku bagaimana keadaan kalian selama ini.
Aku sempat hancur mendengar kondisimu setelah kepergianku, tapi sekarang aku sudah bahagia Nes. Sungguh aku bahagia untukmu saat aku mendengar hubunganmu dan Alex membaik kembali. Dan aku merasa lega mendengar Sita dan Fita selalu ceria dengan orang-orang disekeliling mereka yang selau menyayangi mereka. Enggak ada lagi yang membuatku berat untuk meninggalkan dunia ini, enggak ada lagi beban yang kutanggung setelah memastikan kebahagiaan kalian sebelum aku menutup mata untuk selamanya.
Ketahuilah Nes, ketika kamu sudah menerima surat ini dan membacanya, artinya aku sudah pergi dari dunia ini. Kumohon maafkan semua kesalahanku ya, sayang! Aku titip anak-anak kita, jangan biarin mereka menangis dengan ketidak hadiranku untuk melengkapi kebahagiaan mereka!
Ketahuilah Nes, aku masih mencintaimu. Aku sangat mencintaimu dan selalu mencintaimu. Bahagialah selalu bersama anak-anak, maafkan aku nggak bisa menepati janji-janjiku.
^^^TTD ^^^
^^^Alvino Setiawan***" ^^^
Vanessa lemas, tangannya yang sudah bergetar memegang sepucuk surat itu lantas terhempas kesisi tubuhnya. Air matanya juga sudah tak terbendung lagi, ia tidak bisa menahan dirinya meski ia tidak mau terlihat menyedihkan didepan Alex dan asisten Vino. Alex yang ikut membaca surat itu bersama mamanya pun terbawa perasaan hingga harus menarik nafas panjang dan menghelanya dengan berat demi menguatkan sang mama. Alex memeluk mamanya yang tengah menangis pilu.
"Surat itu dibuat Pak Vino 3 bulan yang lalu." ucap Yadi.
"Maafin saya Bu, Pak Vino yang meminta saya ngasih surat itu buat Bu Vanessa hari ini. Seandainya Pak Vino nggak minta saya berjanji buat nggak ngabarin Bu Vanessa sama sekali.. saya pasti udah by Bu bh bhkabarin Bu Vanessa soal keadaan Pak Vino dari dulu. Tapi.. saya cuman menjalankan amanat." sesal Yadi.
"Harusnya kamu mikirin saya sama anak-anak juga Di! Mas Vino pasti nggak akan marah kalo kamu ngasih tau saya soal keadaannya, dia pasti akan senang kalo bisa ketemu saya sama anak-anaknya. Tapi.. kamu biarin dia sendirian di akhir hidupnya?!" ucap Vanessa tersendat-sendat disela derai tangisnya.
Yadi tertunduk.
"Seenggaknya saya punya kesempatan buat ketemu Mas Vino terakhir kalinya. Seenggaknya anak-anak bisa meluk papa mereka untuk terakhir kalinya. Seenggaknya.. Mas Vino nggak kesepian diakhir hidupnya Di!"
"Maafin saya Bu.." sesal Yadi.
Alex mengusap sudut matanya, ia ingin sekali menghibur mamanya dengan kata-kata, tapi ia rasa saat ini waktunya tidak tepat. Saat ini yang mamanya butuhkan adalah rangkulan dan dukungan, bukan ucapan bela sungkawa atau kata-kata penghibur. Alex takut mengatakan sesuatu yang mungkin akan lebih membuat hati mamanya berat menerima kenyataan ini. Jadi ia hanya memberikan pelukan dan belaian kasih pada mamanya saat ini.
Vanessa duduk termenung, dengan tatapan nanar pada sebuah papan nisan yang sejak tadi dirabanya. Nama sang suami yang sangat ia cintai itu tertera dipapan putih yang menancap diatas kuburan baru yang masih basah. Kini ia bersama Alex dan Yadi berada di sebuah TPU yang ada di Semarang. Disanalah pusara sang mendiang suaminya berada. Hari ini juga setelah Yadi membawa kabar duka padanya, ia langsung meminta diajak ke makam suaminya. Vanessa belum memberitahu apapun kepada dua anak kembarnya yang sekarang menjadi yatim itu, ia tidak sampai hati mengatakan kabar buruk ini pada anak-anaknya itu.
Vanessa dan Vino memang sudah bercerai sejak dua tahun lalu, namun hanya dari kata talak yang terucap dari mulut Vino sebelum meninggalkannya tanpa alasan yang jelas waktu itu. Perceraian keduanya tidak diurus secara resmi ke pengadilan, karena memang setelah mentalak Vanessa.. Vino tak lagi terlihat batang hidungnya. Bahkan orang tua Vino dan sanak saudaranya di Semarang pun tak ada yang tahu kemana dia pergi. Tapi menurut Vanessa, keluarga Vino lebih beruntung darinya dan anak-anaknya, karena mereka sempat mendampingi Vino dihari terakhir ayah dua anak itu menghembuskan nafas terakhirnya. Sementara Vanessa dan kedua anak kembarnya tidak diberi kesempatan untuk itu.
"Sehari setelah Pak Vino mentalak Bu Vanessa, kami berangkat ke Singapore untuk perawatan Pak Vino. Cuman saya yang bersama beliau, cuman saya yang tau tentang penyakit beliau. Saya merasa menanggung beban berat Bu, dengan menyembunyikan kebenaran itu dari semua keluarga Pak Vino. Tapi Pak Vino minta saya berjanji buat nggak ngasih tau siapapun tentang penyakit beliau. Pak Vino nggak mau membuat keluarga sedih dan susah dengan kondisi beliau." Yadi menarik cairan hidungnya yang terasa melimpah karena berusaha menahan tangis.
"Sebenarnya Ibunya Pak Vino sempat mau menghubungi Bu Vanessa waktu mereka baru sampai di RS Singapore, tapi Pak Vino melarang. Pak Vino sangat merindukan Bu Vanessa, tapi beliau nggak siap melihat Bu Vanessa menangis kalo Bu Vanessa ada didepan beliau."
Air mata Vanessa terus mengalir namun ia sudah tak kuasa merintih ataupun mengeluarkan suara lagi. Ia hanya menatap nisan Vino saja sembari mengenang masa-masa indah yang telah ia habiskan bersama kekasihnya itu selama ini. Alex ada bersama sang mama untuk menguatkannya.
Vanessa juga merasa bersyukur karena tadi Yadi bilang ibunya Vino sempat ingin menghubungi Vanessa, karena artinya ibu mertuanya itu menghargai dirinya sebagai perempuan yang berarti dalam hidup putranya. Sebenarnya hubungan Vanessa dengan mertua maupun keluarga Vino yang lain tidak cukup baik, karena pernikahan keduanya pun dulu tidak direstui. Alasannya tentu saja karena ketika Vanessa dan Vino menjalin berhubungan, Vanessa masih berstatus sebagai istri orang lain. Namun cinta keduanya yang terbilang buta dan tuli itu membuat keduanya tetap bersatu tanpa memperdulikan siapapun dan apapun. Bahkan dua tahun lalu saat Vanessa datang pada mereka setelah perceraian, mereka juga menyalahkannya atas kepergian Vino yang mereka tidak ketahui. Mereka juga tidak memberikan kasih sayang untuk kedua anak kembarnya, tapi Vanessa cukup tahu diri karena memang ia menikah dengan Vino dulu tanpa restu mereka.
Sekarang, Vino telah tiada. Mau tidak mau Vanessa harus menerima kenyataan pahit ini, ia harus tegar demi Sita dan Fita. Vanessa sebenarnya ingin mengatakan banyak hal pada Vino, ingin marah, ingin menangis dipelukannya, ingin melakukan banyak hal yang selama ini ia bayangkan, tapi takdir tidak berpihak padanya. Pria yang ia cintai itu telah pergi mendahuluinya, meninggalkan banyak kenangan dan mutiara kehidupan untuknya. Vanessa pasti akan mengikhlaskan kepergiannya, tapi untuk saat ini.. Vanessa butuh waktu yang banyak. Karena Vino terlalu berarti baginya, terlalu dalam berada dalam lubuk hatinya, dan terlalu sakit Vanessa kehilangannya meski raga mereka telah berjauhan sejak dua tahun yang lalu.
... ________________...
Satu minggu kemudian, Yadi datang kembali ke rumah Vanessa. Kali ini dia datang bersama pengacara Vino, dan adik kandung Vino yang bernama Bian. Mereka datang untuk menyerahkan beberapa warisan Vino yang menjadi hak Vanessa dan kedua anaknya. Pengacara memberi tahu Vanessa bahwa keluarga Vino siap mengasuh Sita dan Fita, mereka ingin kedua anak kembar yang merupakan peninggalan terakhir Vino itu tinggal bersama mereka. Bian memperkuat maksud keluarganya itu dengan mengatakan langsung kepada Vanessa, tentu saja Vanessa menolaknya mentah-mentah.
__ADS_1
"Kalian mau ngerebut anak-anakku?" ujar Vanessa tanpa pikir, ia merasa terluka atas keinginan keluarga Vino yang seenaknya ingin mengambil Sita dan Fita setelah selama ini mereka abaikan mereka.
"Bukan ngerebut Mbak, Sita sama Fita itu keponakanku juga, mereka bagian dari keluarga kami. Mereka berdua tanggung jawab kami dong setelah Vino nggak ada, kami mikirin masa depan anak-anak itu." jawab Bian sambil menahan emosi.
"Mereka anak-anakku, aku bisa menghidupi mereka sendiri. Kalo kamu dan keluarga kamu itu mikirin masa depan anak-anakku, kenapa baru sekarang kamu ngomong mau tanggung jawab, kenapa baru sekarang kamu ngakuin anak-anakku adalah bagian dari keluarga kalian? Kemana aja selama ini, bukannya kalian nggak pernah peduli ya, Sita sama Fita nggak kenal tuh sama kalian. Lagian mereka nggak akan mau ikut sama orang asing." cerca Vanessa kesal.
"Mbak, aku tau Mbak sanggup menghidupi mereka saat ini. Tapi kita nggak tau nanti kan, Sita sama Fita akan tumbuh besar dan pasti butuh banyak biaya buat pendidikan mereka. Dan itu tanggung jawabku juga buat biayain mereka. Aku, ibu, ayah, sama keluarga yang lain akan memperlakukan Sita sama Fita seperti anak-anak kami juga. Mereka berdua nggak akan kekurangan apapun, mereka juga punya banyak saudara dan anggota keluarga yang lainnya buat ngelengkapin hidup mereka. Pikirin itu demi kebaikan anak-anak Mbak sendiri."
"Aku ibunya, aku tau yang terbaik buat anak-anakku. Selama ini mereka nggak pernah kekurangan apapun sola biaya hidup, mereka nggak cuman butuh uang buat masa depan mereka, mereka lebih butuh kasih sayang. Kalian akan menyayangi anak-anakku seperti anak kalian sendiri? Maaf Bian, tapi aku nggak bisa percaya sama kalian yang udah sia-siain mereka selama ini. Sampai kapanpun anak-anakku akan tetap sama aku."
Bian terdengar mendengus, "Kami khawatirin Sita sama Fita Mbak, kami juga sayang sama mereka. Lagian kalo Mbak mau nemuin mereka, Mbak bisa nemuin mereka kok kapanpun Mbak mau. Yang penting kehidupan mereka lebih baik Mbak, pendidikan mereka juga akan terjamin."
"Enggak bisa, Bian. Sita sama Fita nggak akan kemana. Mereka butuh aku, dan aku butuh mereka. Mereka masih kecil, mereka nggak akan bisa jauh dari aku. Kalo kalian emang peduli sama mereka, kalian bisa main kesini kapan aja, aku nggak akan ngehalangin. Tapi buat ngambil mereka dari aku.. aku nggak bisa kasih."
"Tapi aku dan ayah tetap wali mereka Mbak, mereka tanggung jawab kami."
"Kalo kalian emang ngerasa gitu, tunjukin ke aku! Tapi enggak dengan cara misahin mereka dari ibu mereka." tegas Vanessa.
"Selama ini aku berusaha buat ngenalin kalian ke mereka, tapi apa.. kalian nggak mau nerima mereka kan? Apa aku yang salah? Kalian menjadi orang asing buat anak-anakku itu karena kalian sendiri yang nggak mau membuka peluang buat mereka masuk ke keluarga kalian. Sekarang.. kalian mau mereka tinggal sama kalian? Itu nggak mungkin Bian. Kalo kalian emang mau Sita sama Fita nganggep kalian keluarga, kalian usaha sendiri! Enggak gini caranya."
Bian mulai marah, ia mengepalkan kedua tangannya agar tidak hilang kendali. "Kalo gitu biar pengadilan yang mutusin, hak asuh Sita sama Fita jatuh ketangan siapa."
Duaaarrr.............
Vanessa tersentak. "Apa-apaan kamu?! Aku nggak ngelibatin anak-anakku dalam masalah apapun, pikirannya nggak boleh tercemari dengan permasalahan orang dewasa kayak gini. Enggak ada pengadilan! Aku ibunya, aku yang menjamin anak-anakku!" gertak Vanessa tegas.
"Tapi mereka anak perempuan Mbak, mereka butuh wali buat masa depan mereka."
"Mereka akan mengerti kalo mereka udah dewasa. Aku nggak akan biarin masalah apapun ngerenggut masa kecil mereka!" suara Vanessa mulai bergetar.
"Aku akan tetap bawa masalah ini ke-.."
"Cukup!" ucapan Bian terhenti dengan sergahan pemuda yang tiba-tiba berdiri dari duduknya.
Alex yang sejak tadi hanya menyimak kini angkat suara. Ia jengah dan marah, pria didepannya ini terus menekan mamanya dengan ingin mengambil Sita dan Fita. Hingga sang mama mulai terlihat takut-takut cemas akan kehilangan anak-anaknya.
"Enggak ada perebutan hak asuh. Sita sama Fita nggak akan kemana-mana. Soal wali dan biaya hidup mereka, aku yang jamin. Aku bisa gantiin Om Vino buat ngurus mama sama adik-adikku. Enggak perlu Om sama keluarga Om repot-repot ngelibatin pengacara apalagi pengadilan." tegas Alex pada Bian.
Bian, pengacara, dan Yadi saling melemparkan pandangan. Mereka nampak berdiskusi dalam diam, sementara Alex memperhatikan mereka dan Vanessa terlihat semakin cemas.
"Kalo kalian nggak ada lagi keperluan, silahkan!" Alex mengangkat tangan mengisyarat ke arah pintu, meminta mereka pergi.
Dengan sedikit terpaksa mereka beranjak dan berpamitan pada Vanessa dan Alex. Hembusan nafas panjang Alex terdengar jelas ditelinga sang mama. Alex lantas duduk kembali dan menenangkan sang mama.
"Mama takut Al. Mama nggak nyangka keluarganya Mas Vino bakal minta hak asuh Sita sama Fita. Mama nggak mau kehilangan mereka, mama nggak mau mereka tertekan dan masa kecil mereka-..." lirih sang mama parau.
"Enggak ma." sergah Alex. "Itu nggak akan terjadi. Aku nggak akan biarin Sita sama Fita kehilangan masa kecil mereka."
Alex menggenggam tangan mamanya menyakinkan. Alex kemudian teringat akan masa kecilnya dulu yang hancur, tertekan karena hubungan berantakan kedua orang tuanya. Alex kehilangan masa kecil yang seharusnya dinikmati anak-anak seusianya kala itu. Sangat wajar bahkan memang sudah seharusnya sang mama cemas saat ini, sang mama tentu tidak mau mengulang kesalahan besarnya dengan menghancurkan masa kecil Sita dan Fita. Meski kasusnya berbeda, tapi tekanan yang akan mereka alami jika sampai ada perebutan hak asuh nantinya, sama-sama akan mengusik kebahagiaan masa kecil mereka.
Alex sendiri yang menjamin dan memastikan hal itu tidak akan terjadi. Keesokan harinya Alex menemui keluarga Vino secara pribadi untuk membahas tuntas permasalahan itu, ia pun berhasil membuat mereka menyetujui perkataannya dan menghargai Vanessa. Sekarang tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, Alex hanya perlu mendampingi sang mama dalam masa dukanya kehilangan Vino. Juga memastikan sang mama baik-baik saja meski telah kehilangan pria yang dicintainya itu. Tentang Sita dan Fita, Alex sekarang bertanggung jawab penuh untuk mereka.
__ADS_1
... Bersambung...