
Kayla mondar mandir di kamarnya dengan gelisah. Entah apa saja yang Alex bicarakan dengan mami, Kayla saat ini tidak bisa tenang. Beberapa menit yang lalu mobil Alex baru saja meninggalkan rumahnya. Kayla menunggu mami menemuinya ke kamar, tapi sampai sekarang mami belum juga muncul. Kayla malu untuk menemui mami lebih dulu, karena kali ini persoalan yang tengah mereka hadapi sangat serius dan juga sensitif.
"Kok mami gak kesini juga sih, Alex nya udah pulang kan." batin Kayla.
Cklekk
Pintu kamar Kayla terbuka, mami melenggang masuk dengan senyuman khasnya yang hangat. Kayla menjadi semakin gugup, rasanya seperti sedang berhadapan dengan guru besar saja. Aneh, padahal kan yang di depannya ini adalah maminya sendiri.
"Sayang."
"lya mi?"
Mami menuntun Kayla menuju ranjangnya, kemudian keduanya duduk berhadapan diatas ranjang Kayla. Mami tersenyum hangat sambil mengelus kedua sisi wajah Kayla, membuat rasa gugup Kayla berkurang perlahan.
"Mi?"
"Hm?"
"Alex ngomong apa aja?"
"Ngomongin kamu." jawab mami santai dengan nada yang agak menggoda Kayla.
"Hummm....mami.." rengek Kayla gelisah.
"Eh kenapa?" tanya mami bingung. Lebih tepatnya pura-pura bingung.
"Apa Alex bilang ke mami kalo minggu depan dia mau...." Kayla mengulum bibirnya, ia malu melanjutkan kalimatnya. la malu mengatakan kalau Alex akan melamarnya minggu depan.
"lya. Minggu depan dia mau kesini, sama papanya." Mami kemudian menghela nafas panjang.
"Mami tegang deh sayang, nanti Pak William mau datang kesini loh. Mami harus gimana ya ngehadapinnya, dia kan Bos mami."
"Ih.. mami, kenapa ikutan tegang juga." rengek Kayla.
Mami terkikik geli. "lya ya, kenapa mami yang tegang, yang mau dilamar kan anak mami."
Kayla merengek kesal karena sang mami terus menggodanya. Mami pun mulai merubah ekspresi wajahnya jadi lebih serius.
"Sayang, apa kamu juga suka sama Alex?"
Kayla menunduk malu, "Kok mami nanya gitu sih?"
"Alex itu udah serius sama kamu, jadi mami berhak tau dong perasaan anak mami gimana. Ini tentang tahap besar kehidupan kamu sayang, sebagai orang tua.. mami gak mau salah langkah."
"Nanti yang berhak milih emang kamu sepenuhnya, tapi mami gak mau anak mami salah pilih, mami gak mau anak mami nanti terbebani, atau patah hati."
"Menurut kamu, apa Alex itu beneran.. sayang sama kamu? Emm... bukan maksud mami gak percaya sama dia, tapi pendapat kamu soal dia itu sangat penting, sayang"
"Emm..." Kayla menggigit bibir bawahnya.
"Lily sih yakin Alex emang sayang sama Lily. Lily juga percaya kalo dia serius, tapi Lily gak yakin buat nerima dia mi."
"Apa yang bikin kamu gak yakin? Mami liat Alex itu anaknya cukup dewasa, dia kayaknya juga perhatian sama kamu. Yang terpenting dia punya keberanian dan keyakinan buat minta kamu ke mami langsung. Sangat jarang loh ada anak muda yang begitu, dia punya niat yang baik buat ngehalalin kamu sayang."
"Lily tau, Alex emang baik, perhatian, dan cukup dewasa. Dia juga udah punya penghasilan sendiri. Dia bahkan yakin mau ngelamar Lily, padahal Lily sama sekali gak ngasih dia harapan atau apapun yang nunjukin kalo Lily bakal nerima dia. Dia juga.. nyerahin keputusannya sama Lily. Apa Lily harus bikin dia kecewa mi?"
Kayla mendengus frustasi, "Lily gak siap buat semua ini mi, Lily gak siap buat nikah muda. Meskipun sama cowok sebaik Alex. Sebesar apapun cinta dia, seserius apapun dia, Lily gak siap buat nerima itu. Lily percaya sama dia, Lily juga tau kalo dia udah persiapin diri dia, tapi Lily yang gak percaya sama diri Lily sendiri mi"
"Lily harus gimana..?" rengek Kayla gelisah.
Mami menggenggam erat tangan Kayla. "Sayang, suatu hubungan itu dibangun dengan ketulusan dan kepercayaan. Kalo kalian berdua bisa saling tulus menerima, dan kalian saling percaya, insya Allah hubungan kalian akan baik-baik aja. Meskipun seandainya kamu belum mencintai dia, rasa percaya di dalam hati kamu itu cukup kok buat persyaratan mulainya hubungan kalian."
Jantung Kayla berdegup semakin kencang, ia menaikkan alisnya menatap mami dengan lekat.
"Mami dukung Lily sama Alex? Mami ngerestuin Alex buat ngelamar Lily?"
Mami tersenyum lembut. "Mami percaya sama Alex, dia bisa mencintai kamu dan menghargai kamu sepenuh hatinya. Kalian juga saling kenal kan, jadi kalian pasti tau apa kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalo Alex serius berarti dia siap nerima kelebihan dan kekurangan kamu. Alex juga berasal dari keluarga baik-baik, bahkan terpandang. Orang seperti dia dan keluarganya gak bakal ngelakuin sesuatu yang bakal ngerusak reputasi mereka."
"Yah.. walaupun mami masih gak bisa bayangin gimana mami bakal besanan sama orang sehebat Pak William. Mami sendiri masih bingung mau ngehadapin Pak William nanti gimana. Tapi mami tau Pak William itu orangnya bijaksana dan pantang mengambil keputusan terburu-buru. Kalo Pak William setuju ngelamarin kamu buat anaknya, pasti beliau udah pertimbangin baik-baik, sayang."
"Mi, apa mami mikir kalo Lily bakal jadi bagian dari keluarga terpandang itu? Apa Lily bisa nyesuain diri sama mereka, sedangkan Lily cuman dari keluarga yang biasa kan. Mami sendiri pernah bilang kalo kita gak setara sama keluarga Alex yang kelas tinggi"
"lya emang benar. Tapi sebenarnya sayang, kesetaraan itu gak cuman diukur dari materi aja. Banyak sudut pandang yang harus kita liat buat nentuin kesetaraan. Misalnya dari sifat masing-masing, sosialnya, atau juga latar belakangnya."
"Tuhan itu gak pernah salah nentuin jodoh buat makhluknya. Tuhan pasti ngasih yang setara buat masing-masing jodoh makhluknya. Kalo emang kamu sama Alex berjodoh, berarti kalian punya sisi kesetaraan yang bikin kalian pantas buat hidup berdampingan. Kalo emang kalian gak setara, maka kalian gak akan berjodoh."
"Mi, mami dulu juga nikah muda kan?"
"lya. Mami nikah umur 19 tahun"
__ADS_1
"Kenapa mami milih nikah muda?"
"Karena waktu itu udah ada cowok yang serius sama mami, dan kita ngerasa cocok. Yaitu papi kamu."
"Alasan lainnya?"
"Emm... karena mami yakin papi kamu itu cowok yang baik dan bertanggung jawab. Juga sayang sama mami tentunya."
"Apa mami sama papi saling cinta?"
"Waktu kita nikah sih belum. Kita waktu itu gak diizinin pacaran sama kakek kamu, kakek kamu itu agak keras sih sama mami dulu. Jadi pas ada yang deketin mami, kakek kamu langsung ngancem 'kalo gak serius jangan deketin anak saya' gitu. Ternyata papi kamu mau serius, karena udah gak bisa berpaling dari mami, katanya." Mami agak tersipu malu.
"Ya.. jadi kita nikah, padahal baru kuliah semester tiga. Tapi kita bahagia kok, kita bisa saling nerima kekurangan dan kelebihan masing-masing, susah senang sama-sama, ngurus rumah tangga sambil kuliah."
Kayla tersenyum, ia mulai membayangkan kalau ia dan Alex ada di posisi yang sama seperti mami dan papinya dahulu kala. Tapi kemudian senyumannya pudar.
"Kenapa mami percaya sama papi? Papi kan-.."
"Dulu papi kamu gak kayak gitu sayang. Dia laki-laki yang baik dan pekerja keras. Walaupun sedikit pemarah, hehe.." Mami kemudian mengubah mimik wajahnya. "Tapi, setelah perusahaan tempat papi kamu kerja itu bangkrut, papi kamu sampe stres karena susahnya nyari kerjaan baru. Mami gak tau kalo papi kamu ngambil jalan yang salah buat dapetin uang. Lama-lama papi kamu berubah, tapi mami tetap percaya sama dia. Kalo aja.. dia gak berniat nyakitin kamu, pasti sampe sekarang pun mami tetap bertahan sama dia." suara mami mulai parau, agak pelan.
Kayla tahu mami sedih, ia pun tentu ikut sedih. Kayla memeluk mami, berharap ia tidak menitikkan air matanya di depan mami.
"Maafin Lily ya mi."
"Kok minta maaf sih sayang?"
"Gara-gara Lily, mami jadi pisah sama papi"
"Eh.. bukan salah kamu, sayang. Jangan pernah ngomong gitu ya, mami gak suka! Sama seperti mami gak nyesel nikah sama papi kamu, mami juga gak pernah nyesel ninggalin papi kamu."
Kayla melepaskan pelukannya, heran akan pengakuan mami. "Maksud mami? Mami gak nyesel nikah sama papi, meskipun papi nyakitin mami?"
"Gak ada rasa sakit kalo kita punya cinta yang tulus, sayang. Yang ada itu kesedihan, tapi itupun gak berlangsung lama, karena kita bisa ikhlas. Tapi kalo kepercayaan kita yang dirusak, maka kekecewaan bisa ngehancurin cinta yang udah kita jaga."
Kayla terdiam. "Kalo nanti kamu udah ngerti soal cinta, kamu pasti bakal ngerti maksud mami" mami tersenyum seraya menyentuh pipi Kayla.
"Mami gak nyesel nikah sama papi kamu, karena dari pernikahan itu mami bisa ngerasain yang namanya cinta. Dan mami dikasih keberuntungan jadi seorang ibu. Kamu adalah anugerah terindah dalam hidup mami, kamu lebih berharga dari apapun di dunia ini buat mami. Jadi, saat papi kamu berusaha ngerusak harta paling berharga mami ini, mami gak bisa diam aja. Mami juga gak akan pernah nyesal kok ninggalin orang yang udah nyoba ngehancurin anugerah terindah mami ini"
Kayla terenyuh. Kali ini ia tidak bisa menahan air matanya lagi. "Mami.." lirihnya pelan.
"Jadi jangan pernah ngerasa kalo kamu bersalah ya, sayang! Mami akan selalu ada buat kamu, mami akan selalu ngejaga kamu, dan mami bisa ngelakuin apa aja buat kamu. Kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan mami juga." Mami menghapus air mata Kayla dengan lembut.
"Sayang, mana mungkin mami gak khawatir sama kamu. Mami juga mungkin kesepian kalo kamu ikut suami kamu. Tapi kalo anak mami bahagia, mami pasti sangat bahagia. Dimana pun kamu berada, jarak gak akan jadi pemisah buat kita. Lagian Alex kan juga tinggal di Kota ini, bisnis dia pusatnya disini, mau kemana dia bawa kamu? Hm?"
"Mami percaya sama Alex, dia anak yang bisa bertanggung jawab, dan menyayangi kamu dengan tulus. Itu cukup buat mami. Soal cinta, itu bisa hadir setelah nikah kan.." goda mami akhirnya.
"Mami.." rajuk Kayla.
"Tetap aja mi, Lily gak siap buat semua itu. Apa menurut mami, Lily udah cukup mampu buat ngebangun rumah tangga? Apa Lily bisa jadi istri yang baik, Lily kan baru bisa masak sedikit"
"Emangnya jadi istri itu kerjaannya cuman masak?" malah kalimat menjengkelkan itu yang keluar dari mulut mami.
"Mami iih..."
"Ya, anak mami emang masih manja, tapi manja sama suami juga bagus kok. Mami rasa Alex gak masalah sama sikap manja kamu, dia juga udah tau kan kalo kamu kayak gini."
Kayla mendengus. "Meskipun kamu masih suka manja, kamu juga udah punya pemikiran yang luas. Cukup dewasa dan pantas kok buat nikah. Mami percaya kamu bisa beradaptasi dengan mudah sama kehidupan baru kamu nantinya."
Melihat wajah kusut Kayla, mami bisa menangkap kegelisahan dan rasa khawatir yang besar dari wajah putrinya itu.
"Sayang.. denger ya, kalaupun nanti kamu terima lamaran Alex, mami gak anak ngizinin Alex nikahin kamu sebelum lulus SMA kok. Percaya deh sama mami, kamu jangan terlalu khawatir ya! Ada mami disini, mami gak mungkin biarin kamu susah apalagi menderita."
"Mami gak bohong kan? Lily gak mau nikah terlalu cepat mi.."
"lya. Mana pernah mami bohong. Tapi.. kalo kamu sendiri yang minta cepet-cepet nikah nanti, ya mami pasti langsung nikahin kalian"
Ah mami, lagi-lagi kalimat ujungnya mengesalkan. Kayla kan jadi sebal dan merajuk lagi.
"Mami udah bilang, pilihan ada di tangan kamu. Mau kamu terima ataupun kamu tolak Alex nanti, mami akan selalu dukung kamu. Siapapun jodoh kamu, dan kapanpun dia datangnya, bagi mami yang terpenting itu kebahagiaan kamu. Jadi tenangin diri kamu ya, mami gak suka liat kamu kusut gini"
Mami membelai wajah Kayla dengan lembut. Mendengar semua penuturan mami, hati Kayla yang sebelumnya sudah gelisah kini merasa mulai rileks, tapi tak serta merta tenang juga. Jantungnya masih berdegup kencang, dadanya terasa berat, ia tidak bisa menyembunyikan perasaan itu. Entah kenapa, saat ini ia ingin menangis. la tidak tahu apa saja yang ia rasakan saat ini tepatnya, yang ia tahu adalah ia ingin menangis.
"Eeeh... kok nangis sih?" lirih mami sambil mengusap kepala Kayla. Kemudian menyeka air mata putri kesayangannya itu.
"Kalo kamu ngerasa bimbang, bingung, dan gak tau harus gimana, sebaiknya sholat istikharah ya! Nanti mami ajarin."
Kayla menghela nafas panjang berkali-kali, agar ia bisa menahan air matanya. "Apa harus begitu mi?"
"Kamu renungin aja dulu, selama kamu kenal sama Alex.. apa aja yang kalian laluin bersama, dan gimana cara kalian ngehadapin situasi. Gimana dia memperlakukan kamu, dan apa aja yang perlu kamu pertimbangin. Dari sana mungkin kamu bakal dapet titik terangnya, sayang. Baik itu yang bikin hati kamu cendrung ke 'penerimaan' ataupun ke 'penolakan".
__ADS_1
"Kalo kamu masih ngerasa buntu juga, kamu harus solat istikharah, ya!"
"lya mi." Kayla tersenyum kecut, tapi hatinya mulai lega.
"Kamu istirahat ya sayang! Gak perlu buru-buru nentuin jawaban buat Alex, kamu pikirin baik-baik. Tapi jangan terlalu mikir sampe kamu stres juga. Apapun persoalan yang ngeganggu kamu, ngomong sama mami!"
Kayla mengangguk. "Makasih mi.. i love you." Kayla mencium pipi mami.
"Love you to.. sayang." balas mami sambil mencium kedua pipi Kayla.
... __________________...
"Kay, Kenzo tuh!" ujar Nia sambil menunjuk Kenzo dengan dagunya.
Kenzo berjalan ke arah Kayla sambil melambaikan tangan dan tersenyum lebar menampilkan gigi-gigi rapinya. Kayla pun membalasnya.
"Pulang bareng Kenzo lagi hari ini?"
"lya dong." jawab Kenzo saat sudah berada didepan Kayla.
"Kita duluan ya, Nia." ujar Kayla pamit.
Nia mengangguk sambil tersenyum kecut. Jujur saja Nia iri, Kayla dikelilingi oleh para pria tampan. Pertama Pak Bayu, yang nampaknya sekarang sudah mundur setelah tahu Kayla dekat dengan Alex. Kemudian Alex sendiri, yang memang mengenal Kayla jauh sebelum Pak Bayu. Nia juga curiga pada Adit sahabatnya sendiri, karena Nia sering memergoki Adit menatap Kayla dengan tatapan berbeda, namun Adit tidak pernah mengakuinya. Apalagi Kayla dan Adit akhir-akhir ini semakin dekat. Ya, itu sebelum kehadiran Kenzo. Setelah mereka bertiga, pria tampan selanjutnya yang dekat dengan Kayla adalah Kenzo, sahabat kecil Kayla yang begitu mempesona itu.
Kayla pernah bercerita tentang Kenzo pada Nia sebelum Kenzo datang ke Jakarta. Kayla bilang Kenzo itu anaknya humoris dan berparas tampan. Tapi sayangnya dia playboy. Nia begitu penasaran dengan sosok Kenzo yang saat itu begitu disanjung Kayla, ia membandingkan Kenzo dengan Alex. Ternyata aslinya Kenzo memang tampan, banyak siswi yang bilang ketampanannya itu menyaingi Alex.
Tapi Nia tetap seperti biasanya, hanya bisa sebatas mengagumi para pria tampan itu. Bisa berteman dengan mereka saja sudah beruntung, mana berani Nia berharap lebih.
"Enggak papa lah Kay, kalo kamu happy aku juga happy. Aku bersyukur punya teman sebaik kamu" gumam Nia sendiri.
Sejak Kenzo sekolah di SMA yang sama dengan Kayla, setiap harinya mereka selalu pulang bersama dengan mengendarai motor Kenzo. Hanya kemarin saja mereka tidak pulang bersama, karena Kenzo bilang ada hal penting yang harus ia urus, dan ia pulang terburu-buru. Entah urusan apa Kayla tidak tahu, tapi feeling Kayla pasti hal itu tidak jauh-jauh dengan yang namanya 'cewek'.
Kayla dan Kenzo memang terlihat semakin dekat, jika orang tidak tahu mungkin mereka akan menyangka Kayla dan Kenzo sedang pdkt. Tentu keduanya hanya tertawa geli mendengar tanggapan mereka tentang kedekatannya. Kayla tahu Alex cemburu melihat Kayla selalu bersama Kenzo, tapi Alex tidak mengatakan apa-apa pada Kayla. Dan Adit.. dia juga sepertinya cemburu, kadang-kadang Adit menggerutu pada Kayla dan mengadukan sikap plin plan Kenzo, juga kelakuan konyol sahabat Kayla itu.
Kayla tidak terganggu dengan semua itu. Baik itu kelakuan Kenzo, kecemburuan Alex, ataupun reaksi Adit. Hanya satu hal yang terus membayangi pikiran Kayla saat ini, yaitu tentang kebimbangannya mengenai pilihan yang akan ia ambil minggu depan.
"Kay!"
"Hm?"
"Kenapa sih, ngelamun lagi?
"Enggak kok."
"Elu pikir bisa ngibulin gue?!"
Kayla mendengus. Apa sebaiknya ia ceritakan saja pada Kenzo, biasanya kan dulu ia selalu curhat pada Kenzo tentang apa saja. Tapi kali ini.. persoalannya sangat serius, apa tidak masalah jika Kenzo tahu? Huh.. lagi-lagi Kayla ragu. Mungkin Kenzo bisa memberikannya solusi atau setidaknya petunjuk untuknya agar lebih mudah menghadapi persoalan serius ini. Tapi Kayla ragu berbagi tentang ini pada Kenzo. Bagaimanapun juga Kenzo...
"Kay!"
"Hm?"
"Tuh kan ngelamun lagi"
"Ayo sini!" Kenzo menarik tangan Kayla dan mengajaknya duduk di kursi taman.
"Gue mau ngomong serius." ucap Kenzo dengan ekspresi yang memang agak serius.
Kayla sedikit kaget, apa yang ingin Kenzo bicarakan sampai ia menatap Kayla seperti itu?! Apalagi saat ini Kenzo memegang tangan Kayla dan menggenggamnya.
Kayla mendengus, "Ken, plis deh.. jangan bikin aku tegang. Langsung aja ngomong!"
"Janji, elu gak akan nganggep gue bercanda kali ini. Kalo elu ketawain gue, gue gak mau lagi ngomong sama lu."
Kayla mengulum senyum, "Kok jadi ngancem duluan sih, emangnya kamu mau ngomong apa?"
Kenzo terdiam cukup lama sambil menatap wajah Kayla, membuat Kayla semakin bingung saja. Kemudian Kenzo membuka mulutnya perlahan dan sepertinya penuh pertimbangan akan kalimat yang akan ia katakan. Akhirnya kalimat yang sejak lama ia tahan kini ia ucapkan.
"I Love You"
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1