
Pukul 22.00, suara bel rumah membuat Kayla yang baru saja memejamkan mata lantas melek lagi. la menilik jam dinding sambil mengernyit.
"Siapa yang namu malam-malam begini?" gumamnya sambil beranjak dari tempat tidurnya. la melihat ke sampingnya, Chika sudah tertidur pulas.
Kayla melenggang pergi ke depan untuk melihat siapa yang baru saja membunyikan bel rumahnya dua kali. Ternyata maminya juga keluar dari kamar, untuk tujuan yang sama.
Ceklekk
"Ken?"
"Assalamu'alaikum.." ucap Kenzo, ia mengulurkan tangannya kepada Nadia.
"Wa'alaikum salam.." jawab Nadia dan Kayla.
Nadia menerima tangan Kenzo dan membiarkan Kenzo menciumnya, memberi hormat padanya. Meski dalam hati Nadia masih marah dan sangat kecewa pada Kenzo, bahkan hingga saat ini ia masih enggan melihat wajah Kenzo.
"Ngapain malam-malam kesini?" tanya Nadia, agak ketus.
"Aku.. mau nginep Tante." jawab Kenzo kaku.
"Nginep?" ulang Nadia dan Kayla bermonolog.
Kenzo mengangguk. Nadia memutar bola matanya malas, dalam hati ia kembali mengomel dan memaki Kenzo. Namun Nadia hanya menahan semua umpatannya itu dalam hati, karena Nadia rasa sudah cukup kemarin ia memaki Kenzo habis-habisan. Bahkan Nadia melakukannya ketika ada Kayla, Alex, dan Chika di rumah, meski tidak di depan mereka secara langsung. Dan karena situasi itu, niat Alex untuk meminta maaf sekaligus memperbaiki hubungan dengan Nadia pun tertunda.
Ya, kemarin sore saat Kenzo berpamitan ingin pulang ke Bandung. Nadia memang belum bertemu Kenzo setelah tahu kebe**tan Kenzo dari Kayla, dan kemarin sore itulah pertemuan mereka, sehingga Nadia tidak tahan untuk tidak melampiaskan kemarahan dan kekecewaannya pada Kenzo. Sekarang, anak tidak tahu diri ini mau menginap di rumahnya? Padahal dia tahu dirumah ini semuanya perempuan. Dan lagi dia datang jam sepuluh malam.
"Emang kenapa kosan kamu, ada masalah ya sampe kamu harus nginep disini?" tanya Nadia ketus.
"Enggak kok Tante. Cuman kan besok pagi aku pulang ke Bandung, biar nggak ribet trus nggak kepepet waktunya, jadi aku pikir bisa berangkat dari sini bareng Chika langsung ke Bandara."
"Bener juga kata Kenzo, Mi" bela Kayla.
"Emangnya jam berapa penerbangannya?" tanya Nadia.
"Jam tujuh, Tante."
"Enggak papa ya mi, lagian kan dari sini ke Bandara lumayan jauh. Seenggaknya Kenzo harus jemput Chika sebelum setengah tujuh kan kalo berangkat dari kosan dia. Kalo dari sini gak ribet kan mi, pasti mereka sempet sarapan dulu sebelum berangkat." terang Kayla, berharap maminya tidak keberatan.
Nadia masih memasang muka dinginnya, namun tetap berpikir secara jernih untuk kebaikan anak-anaknya ini. Kayla benar, lagipula Nadia pikir mungkin Kayla dan Kenzo ingin menghabiskan waktu mereka bersama, di detik-detik terakhir sebelum perpisahan dua sahabat ini.
"Oke. Tapi tidur di sofa ya!" ucap Nadia akhirnya, membuat Kenzo dan Kayla tersenyum.
"lya Tante. Makasih!"
Nadia masuk lebih dulu. Kemudian Kayla meraih koper Kenzo mau membantunya membawa koper itu.
"Etss.. gak usah Kay, ini berat." cegah Kenzo.
"Yaudah kalo gitu yang ini aja." kata Kayla sambil menarik ransel yang tersampir dibahu kiri Kenzo.
Kenzo tertawa kecil seraya menjauh dari Kayla, ia berjalan masuk mendahului Kayla. "Ya ampun.. gak usah. Kayak gue mau kemana aja."
"Yaudah" pasrah Kayla.
Kenzo meletakkan koper dan ranselnya didekat sofa depan TV. "Chika udah tidur ya?"
"Hm. Aku harap kamu gak niat buat bangunin dia" jawab Kayla.
"Enggak kok. Tapi.. gue boleh liat nggak?"
"Liat apa? Liat Chika tidur?" bingung Kayla.
Kenzo mengangguk, membuat Kayla jadi curiga. "Jangan macem-macem kamu Ken, masih bagus diizinin mami nginep."
"Astaga Kay.. gue cuman pengen liat doang kok, sebentar. Ya..?!"
Kayla berpikir sejenak kemudian mengangguk. la lalu menemani Kenzo menuju kamarnya, untuk melihat Chika. Saat di depan pintu, Kayla mencegat langkah Kenzo.
"Liatnya dari sini aja." kata Kayla memperingatkan. la kemudian membukakan pintu kamarnya lebar-lebar, tanpa mengizinkan Kenzo masuk.
Kenzo cemberut tapi ia tidak membantah. la memandangi Chika dari jauh, dengan senyuman tipis dibibir nya. Cukup lama, entah apa yang ia pikirkan, Kayla hanya berdiri di sampingnya, memastikan Kenzo tidak nekat masuk. Perlahan tatapannya nanar, dan setetes air mata lolos mengaliri pipinya. la segera menyekanya seraya berbalik dan berjalan keluar rumah.
"Ken?" seru Kayla bingung, kemudian menyusul Kenzo.
Kenzo duduk di kursi yang ada di teras rumah Kayla, dan Kayla menyusul duduk di sampingnya. Ternyata Kenzo menyembunyikan air matanya, ia terisak kecil sambil menyeka air matanya. Kayla sengaja membiarkannya saja sampai ia merasa tenang. Karena Kayla sudah mengerti apa yang tengah Kenzo rasakan. Setelah ia tenang, ia mengangkat kepalanya dan melihat Kayla.
"Gue jahat Kay." Kayla hanya menatapnya datar.
"Gue egois." lanjutnya, Kayla mengangguk.
"Gue baj****n." kembali diangguki oleh Kayla.
"Chika itu cewek baik, enggak seharusnya gue nyakitin dia, apalagi sampe sia-siain dia." Kayla mengangguk lagi.
"Dia terlalu baik buat gue yang be**t ini, Kay." kali ini Kayla terdiam mengamati wajah murung Kenzo.
"Dia harusnya bisa dapetin cowok yang lebih baik dari gue." lanjutnya, suaranya masih parau.
"Ken, iya kamu salah, dan kamu harus perbaikin kesalahan kamu. Kamu nggak bakal nyakitin Chika lagi kan, kamu gak bakal sia-siain dia lagi kan Ken?"
"lya." jawab Kenzo mantap.
Kayla mengangguk, "Stop mikir kalo kamu gak pantes buat Chika, atau Chika harus dapetin cowok yang lebih baik dari kamu! Kalian itu ditakdirin buat satu sama lain, dan kalian saling membutuhkan. Cinta Chika tulus Ken, jangan sia-siain dia. Kamu boleh nyesalin perbuatan kamu selama ini, tapi jangan sampe kamu nyesal nanti di masa depan karena udah sia-siain Chika"
"Enggak Kay, gue gak bakal sia-siain dia lagi. Gue tau dia tulus, tuluuus.... banget sama gue. Gue nyesel baru sadar sekarang"
__ADS_1
"Enggak papa, belum terlambat kok Ken."
"Terlambat Kay, gue udah bikin dia menderita."
"Tapi kamu juga yang bakal jadi alasan dia buat bahagia." kata Kayla meyakinkan, membuat Kenzo menghela nafas berat lalu terdiam.
"Kamu sebenernya juga cinta kan Ken sama Chika?"
Kenzo menoleh, menatap Kayla sendu. Dan Kayla yang mengerti itu lantas memutus tatapan mereka.
"Dulu, kita pernah bikin kesepakatan, sebuah janji. Siapapun dari kita berdua yang jatuh cinta lebih dulu, dia harus ngasih tau siapa cinta pertamanya. Dan orang pertama yang kita kasih tau adalah salah satu dari kita masing-masing. Aku udah nepatin janjiku, tapi kamu enggak. Aku pikir meskipun kamu nggak bilang, aku tau siapa cewek yang kamu cintain. Ternyata aku salah."
Kayla kembali menatap Kenzo. Kenzo sedikit terperangah, ia buru-buru melarikan pandangannya dari Kayla.
"Aku udah tau Ken, dari Chika." kata Kayla dan itu sukses membuat Kenzo terperangah kaget.
"Chika ngomong apa sama kamu?" tanya Kenzo.
"Soal alasan kamu ninggalin dia dan pindah ke Jakarta." Kenzo menelan salivanya berat.
"Jadi.. Kayla udah tau. Tapi..." batin Kenzo, ia lalu menatap Kayla mencari jawaban dari sesuatu yang ia tanyakan sendiri di dalam hatinya.
"Maafin aku Ken.. aku gak tau."
"Padahal kamu udah sempat ngomong ke aku kan waktu itu. Tapi aku terlalu egois dan bodoh, aku gak peka sama kamu, aku selalu ngeremehin kamu."
Kenzo masih terdiam.
"Tapi Ken, kenapa kamu gak jelasin ke aku yang sebenarnya, kamu gak jujur sejujur-jujurnya padahal kamu bisa, dan kamu malah balikin semua kata-kata kamu jadi bercandaan."
"Kenapa? Jawabannya cuman satu. Gue.. gak bisa kehilangan elu" jawab Kenzo dengan nada suara yang rendah namun menyentuh.
"Liat elu nangis waktu itu, dengerin keluhan lu waktu itu, bikin gue sadar.. kalo gue mungkin bisa kehilangan elu kapan aja. Dan gue gak mau sampe itu terjadi. Lebih baik elu gak tau perasaan gue selamanya, daripada gue bahagia sebentar trus kehilangan lu nantinya."
Mata Kayla berkaca-kaca.
"Di sana gue sadar Kay, rasa takut gue akan kehilangan elu lebih besar dari rasa cinta gue. Gue takut elu nolak cinta gue, tapi gue lebih takut kehilangan sosok elu dalam hidup gue."
Kayla menghapus air mata yang membasahi pipinya, yang telah lancang menampakkan wujudnya didepan Kenzo. Kayla tidak ingin menangis, tapi ia tidak bisa menahan air matanya.
"Jangan nangis Kay, gue nggak nyesel kok."
Kenzo tersenyum getir. "Gue nggak nyesel jatuh cinta sama lu, dan gue juga nggak nyesel kalo elu nggak pernah tau perasaan gue. Tapi sayangnya.. ternyata elu udah tau" Kenzo terkekeh.
"Justru gue lega sekarang, walaupun.. elu tetap tersakiti gara-gara gue. Kalo aja saat itu gue bener-bener nyatain cinta gue dan elu terima, pasti saat ini elu udah benci banget sama gue. Elu mungkin orang pertama yang tau kebe**tan gue, dan elu orang pertama yang gue kecewain, kalo saat ini status kita pacaran.. pasti elu lebih kecewa lagi, dan benci banget sama gue kan"
"Tapi enggak, meskipun elu marah dan kecewa sama gue, elu masih ada di samping gue sekarang. Elu nasehatin gue, nguatin gue, bahkan elu yang bikin gue bisa bangkit lagi. Kalo sampe elu benci sama gue, saat ini gue pasti udah putus asa banget, Kay. Dan gue pasti bakal nyesel, senyesel-nyeselnya."
Kayla tersenyum getir sembari menghapus air matanya. Rasa lega sekaligus sesak membuncah di dalam dadanya, tapi ia bersyukur bisa mengobrol secara terbuka begini dengan Kenzo.
"Thank you so much Kay..!"
"Kamu akan selalu jadi sahabat aku Ken, kamu tetap HeroKenzo ku, sampe kapanpun.. Layaknya hubungan persaudaraan yang gak bakalan bisa putus selamanya, aku sama kamu bakalan tetap kayak gini, kita sahabat, meskipun jarak misahin kita. Meskipun kita nggak bakal bisa ngabisin waktu sebebas kayak saat kecil dulu lagi, kita tetap sahabat sampe kapanpun. lya kan Ken?"
Kenzo mengangguk. Lalu ia mengangkat tangan kanannya dan menyodorkan kehadapan Kayla, Kayla menyambutnya dengan senang hati. Mereka saling menautkan jari jemari mereka dan melilit-lilitkan jari itu satu sama lain, lalu melepaskannya dan saling mencolek hidung satu sama lain. Setelahnya mereka tertawa bersama.
"Kalo gue boleh jujur, gue cemburu sama Alex. Gue hampir gila waktu itu Kay, waktu elu dilamar sama Alex" Kayla terperangah mendengarnya.
"Jangan bilang yang waktu itu kamu lakuin atas dasar cemburu?! Kalo iya, kamu beneran gila!"
"lya sih, tapi nggak juga" jawab Kenzo, membuat Kayla mengernyit tanda tanya.
"Gue cemburu, tapi itu bukan satu-satunya alasan gue. Setelah tau kebrengsekan dia, gue gak tahan lah cuman diem. Kalo di sana cuman ada dia sendiri, pasti udah gue hajar abis-abisan tuh anak."
Kayla menatap Kenzo kesal. "Tapi sekarang gue udah ngerti kok, kenapa lu sampe bela-belain dia. Kenapa lu bisa jatuh cinta sama dia. Dan gue rasa.. dia emang pantes dapetin cinta elu, Kay"
Tatapan Kayla berubah heran. "Apa yang bikin kamu ngerti? Trus apa yang bikin kamu percaya sama dia?" tanyanya.
"Cinta dia ke elu. Dia bukan cuman tulus, tapi juga yakin banget sama lu. Gue yakin kalo sampe suatu saat nanti elu khianatin dia, dia masih bisa percaya sama elu."
Kayla memukul lengan Kenzo kesal. "Sembarangan ya kalo ngomong!"
"Ya kan itu cuman persepsi gue. Saking besarnya gitu cinta dan kepercayaan Alex ke elu. Beruntung lu Kay!"
Kayla tersenyum samar, "Kamu juga beruntung punya Chika. Sadar nggak?"
"Alhamdulillah sekarang udah sadar Kay" Kenzo cengengesan.
"Yah.. walaupun terlambat." lanjutnya kembali getir.
"Selama kamu masih bisa perbaikin kesalahan kamu, dan bisa bahagiain Chika, itu belum terlambat Ken."
Kenzo tersenyum, ia mulai membayangkan senyuman manis Chika. "Chika itu.. cewek hebat Kay."
Kayla tertarik mendengar kata-kata Kenzo. "Kayak gimana dia?" tanya Kayla.
"Dia.. cewek paling imut dan polos yang pernah gue kenal. Tapi meskipun polos, dia itu pintar, punya pemikiran yang luas dan percaya diri. Dari sana sih gue penasaran sama dia." Kenzo tertawa kecil mengingat saat-saat pertama kali Chika mendekatinya.
"Dia yang duluan deketin kamu..?" ujar Kayla.
"Kok tau? Emangnya Chika bilang gitu ya?"
"Hm."
"lya. Dia yang duluan deketin gue, dia hadir disaat gue ngerasa kesepian, hampa, dan sedih. Disaat gue kehilangan semangat, bahkan minat gue sama cewek-cewek cantik disekitar gue tuh ilang, drop deh pokoknya."
__ADS_1
"Disaat.. setelah aku pergi tanpa pamit?" tanya Kayla dalam hati.
Kenzo tersenyum. "Itu pertama kalinya dalam hidup gue kehilangan semangat gue, dan Chika hadir... dia ngehibur gue, nyemangatin gue, dan selalu support gue. Bahkan dia gak keberatan gue repotin mulu, gue manfaatin, dan kadang gue juga seenaknya sama dia." Kenzo meringis sendiri, "Jahat sih gue." lanjutnya.
"Elu nggak mau tau gitu kenapa gue bisa sampe drop, kehilangan semangat hidup?" ujar Kenzo.
"Aku udah tau." Kayla tertawa kecil.
"Ah gak seru. Chika udah cerita apa aja ke elu?"
"Hmm..banyak sih, tapi aku juga mau dengar dari sudut pandang kamu tentang dia dong"
"Btw, Chika itu cewek kamu yang ke berapa?" tanya Kayla absurd.
Kenzo terkekeh, "Ke berapa ya.." pikirnya.
Kayla tertawa geli, "Hahahaa... udah gak usah di jawab! Emang dasar playboy ya."
"Yang jelas Chika itu beda Kay. Dia yang paling spesial buat gue, dia yang paling hebat dibandingin mereka semua."
Kayla mengernyit semakin penasaran. "Ini masih yang positif kan..?"
"Ya iyalah! Gue juga punya malu kali ngomongin yang negatif" sewot Kenzo.
"Baguslah. Jadi, apa yang bikin dia spesial buat kamu?"
"Gue kalo mutusin cewek-cewek gue tuh gampaaang banget, tapi yang satu ini..." Kenzo menggaleng-geleng. "Gak bisa!"
Kayla menaikkan alisnya semakin tertarik.
"Emm...Chika bilang juga nggak kalo penyebab gue putus sama mantan-mantan gue itu cuman satu, dan selalu sama?"
"lya. Dan itu.. nggak masuk akal!" cibir Kayla.
Kenzo tertawa. "Gue nantang diri gue sendiri, gue penasaran.. ada nggak cewek yang sama sekali nggak masalah kalo gue muji-muji cewek lain didepan dia. Ternyata ada, hahaha.. nggak nyangka sih gue."
"Kamu gonta-ganti cewek cuman buat muasin rasa penasaran kamu itu aja?? Gak waras kamu Ken!"
"Ck, hmm... gimana ya... ya gitu deh." responnya mengesalkan.
"Tapi justru itu yang bikin gue suka sama Chika. Dia tau gue cuman cinta sama lu, dia juga tau kalo gue pacaran tuh gak ada yang serius. Tapi dia nggak kapok sama gue, dia malah nemenin gue terus kemanapun gue pergi nyariin elu selama ini. Dia selalu ada buat gue, sampe akhirnya gue ngerasa.. gue butuh dia buat terus ada disamping gue."
"Jujur sih, dia hebat bisa matahin persepsi dan prediksi gue. Bahkan dia matahin prinsip gue, tanpa dia sadarin. Gue kira dia gak bakal tahan sama gue yang gak pernah berhenti ngebahas elu mulu, tapi nyatanya dia gak masalah soal itu. Buat dia.. yang penting gue happy, gue nyaman sama dia, dan dia selalu bisa deket sama gue."
"Gak ada cewek yang bisa kayak dia, yang bener-bener bisa nerima gue apa adanya. Yang bisa tetap mencintai gue dengan tulus meskipun tau gue cintanya sama cewek lain. Mungkin kalo yang lain bakal benci sama elu Kay, karena gue selalu ngomongin elu didepan mereka, tapi Chika enggak. Dia malah milih buat ngertiin perasaan gue dan juga ngehargain elu. Itu yang bikin gue gak bisa lepasin dia."
"Dia selalu bisa jadi tempat gue curhat, ngeluh, ngomel, pokoknya semua senang susah gue tuh dia selalu jadi orang pertama yang ada disisi gue. Sampe gue ngerasa nyaman banget sama dia dan gak bisa jauh dari dia. Gue nggak pernah maksa dia dalam hal apapun, dan dia juga nggak pernah nolak gue dalam hal apapun."
"Kamu nggak pernah maksa dia, dan dia nggak pernah nolak kamu?! Tapi Ken, nggak termasuk yang...." Kayla mulai berasumsi.
"Ya enggak lah!" sergah Kenzo cepat. "Kalo yang itu pengecualian. Chika itu cewek baik-baik, gue aja yang baj****n."
Kayla lega, "Ya udah ketebak sih." gumamnya kecil.
"Gue nggak ngomong ke sana Kay, kenapa sih lu, kepo?"
"Enggak enggak" sergah Kayla mengelak. "Jadi intinya.. karena semua yang Chika lakuin buat kamu, kamu jadi jatuh cinta sama dia?"
"Cinta?" batin Kenzo, ia lalu tersenyum.
"Enggak tau. Yang jelas gue sayang banget sama dia. Waktu gue mutusin buat pergi ke Jakarta dan ninggalin dia.. hati gue nggak pernah ngerasa seberat itu sebelumnya. Gue selalu mutusin cewek dengan gampang dan dengan hati yang damai, tapi pas gue mutusin buat ninggalin Chika... rasanya berat banget. Gue tau gue jahat sama dia, gue sia-siain cewek setulus dia, dan dia malah dengan ikhlas lepasin gue walaupun gue tau dia sakit banget. Egois banget kan gue." ucapnya, dari hati yang dalam.
"Ya, bahkan kamu sempat nolak ngakuin anak yang dia kandung. Padahal kamu tau kalo dia nggak mungkin punya cowok lain."
Kenzo tertunduk, "Gue cuman takut nerima kenyataan Kay, gue gak siap buat nanggung beban seberat itu" lirihnya.
"Dan kamu milih nyakitin dia lagi?" Kayla melanjutkan.
"Gue buntu banget waktu itu, gue gak tau harus apa dan gimana. Ya intinya gue jahat, gue tau."
Kayla mendengus panjang. "Udah, situasinya udah lebih baik sekarang. Maaf aku terlalu mengkritik kamu Ken."
"Enggak papa Kay, gue pantes dapet kritikan yang lebih dari ini, bahkan gue pantes dihina karena gue emang-.."
"Sst... cukup Ken..!" sergah Kayla.
"Tugas kamu sekarang adalah bahagiain Chika. Perjuangin dia, jaga dia, cintai dia. Dia pantes dapetin itu semua Ken, dia pantes dapet kehormatan sebagai nyonya Kenzo."
Kenzo terkekeh geli mendengar kalimat terakhir Kayla, kemudian ia mengubah mimik wajahnya jadi lebih serius. "Itu pasti Kay"
"Seberat apapun masalah dan resiko yang bakal gue hadapin nanti, gue gak bakal nyerah. Gue gak bakal putus asa sampe gue bisa mastin kebahagiaan Chika."
"Denger ya Kay, dalam satu minggu.. gue bakal dapetin restu dari bokapnya Chika. Siap-siap aja lu dateng ke nikahan gue!" ucapnya jenaka namun kalimatnya mengandung keyakinan.
Kayla terperangah takjub kemudian tertawa, geli sekaligus senang. "Aamiin.. Ken. Aamiin...!"
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1