Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Perkelahian Sengit


__ADS_3

"Aarkh...!!"


Erangan kesakitan yang tiba-tiba terdengar dari suara berat itu, membuat semua orang yang berada disana terbelalak dan terpaku kaget.


Seorang pria yang tak asing berdiri dibelakang King, dia melotot murka pada King dengan sebuah senjata kuno berbahaya ditangannya. Nafasnya memburu panas sembari menggenggam gagang senjatanya, senjata yang baru saja ia hunjamkan kepunggung King itu adalah bola berduri yang terbuat dari besi, atau disebut orang dengan flail. Punggung King langsung terluka akibat serangan bola berdurinya itu, sehingga King mengerang reflek.


"Papi.." lirih Kayla bergumam kecil.


King berang mendapati Arman yang telah menyerangnya. Dan apa, Arman menyerangnya menggunakan senjata milik King sendiri! Baru saja King akan naik ke kasur untuk menyentuh Kayla, tapi ia malah mendapat serangan mendadak dari pria yang sangat ingin ia habisi.


"Brengsek! Gimana bisa elu bebas?" King marah, pada semua anak buahnya juga bukan hanya pada Arman.


Sementara semua anak buahnya saling melempar pandangan karena memang tidak tahu menahu bagaimana Arman bisa bebas dan sampai menyerang King, disaat mereka semua sibuk menyiksa Alex. King melihat ke arah monitor CCTV, yang terlihat disana hanya dua anak buah King yang bertugas menjaga Arman, namun sekarang malah terikat. Sialan!


"Gak usah banyak bacot lu, Bang**t! Hadapin gue kalo elu bukan pengecut, berani-beraninya lu nyentuh Kayla!!" Hardik Arman keras seraya mengambil ancang-ancang.


King berdecih sadis, ia lantas maju untuk menghajar Arman tapi Arman dengan cepat menangkisnya. Arman akan memukulkan kembali bola besinya pada King tapi King menggagalkannya dengan menghadang tangan Arman dan memelintirnya sehingga Arman mendesis kesakitan dan senjatanya itu terjatuh. Namun perlawanan Arman tidak hanya sampai disitu, ia membalas perlakuan King sehingga King semakin panas dan menyerangnya bertubi-tubi. Perkelahian sengit keduanya pun tak terelakkan, para anak buah King juga ikut menyerang Arman seperti yang mereka lakukan pada Alex sebelumnya.


Kayla terpaku takut, sekarang ia mengkhawatirkan papinya. Kayla lalu melirik Alex yang terduduk lemas dilantai, dengan kedua tangan yang menjamak lantai sebagai penopang tubuhnya. Alex nampak terbatuk-batuk karena dadanya sesak dan nafasnya tak beraturan. Kayla beranjak untuk menghampiri Alex, karena memang sejak tadi ia ingin sekali melihat keadaan Alex.


"Al.." panggilnya lirih saat sudah berlutut didepan Alex.


Alex mengangkat kepalanya, sorot matanya redup tapi ia nampak senang melihat Kayla berada didepan sekarang. Kayla menatapnya iba, tangan gemetar Kayla terangkat untuk menyentuh Alex. Kayla menitikkan air matanya dengan sedikit suara rintihan saat kedua tangannya memegang kedua sisi wajah Alex. Wajah Alex lebam, dengan beberapa luka dan darah di bagian kening, pelipis, hingga bibir. Alex meringis saat tangan Kayla mulai menyentuh kulit wajahnya, namun Alex tetap menunjukkan rasa senangnya melihat keadaan Kayla baik-baik saja.


"Maafin aku Al.."


"Sst.. jangan minta maaf. Aku nggak suka kamu nyalahin diri kamu terus, aku nggak papa aku bilang. Luka gini doang pasti sembuh kok."


"Gara-gara aku kamu harus ngalamin semua ini.." sesal Kayla sembari terus memandangi Alex.


"Enggak Miss Kissable, aku disini buat kamu.. dengan cintaku. Bukan gara-gara kamu.. dengan rasa bersalah kamu itu. Plis.. nggak ada yang perlu ditangisin, aku akan baik-baik aja, karena sekarang kamu baik-baik aja kan." Alex menghapus air mata Kayla dengan tangan lemahnya.


Apapun kata Alex, perasaan Kayla tetap getir melihat kondisinya. Dia sangat memprihatinkan dimata siapa saja yang melihat kondisinya ini, meski dia berkata baik-baik saja Kayla tahu dia kesakitan. Alex menarik Kayla kedalam pelukannya dan Kayla pun menyambutnya. Untuk sejenak mereka memejamkan mata, berbagi perasaan dan airmata didalam pelukan itu. Tidak berlangsung lama, Kayla melepaskan pelukan mereka karena Kayla takut air matanya akan membasahi tubuh Alex yang penuh luka. Kayla takut akan menambah sakit yang Alex rasakan jika sampai ia menyentuh Alex berlama-lama. Bagaimanpun juga Alex telah mengalami penganiayaan yang membuatnya mendapat banyak luka ditubuhnya.


Kayla tidak bisa berhenti menangis dan menyesali yang terjadi pada Alex, Kayla sangat takut terjadi sesuatu yang lebih buruk pada Alex jika tidak segera mendapat perawatan. Tapi ia lihat suasana diruangan ini begitu ricuh dan semakin menegangkan, ia tidak bisa pergi begitu saja meski ada kesempatan. Dan Alex juga tidak ingin pergi sekarang, Alex malah ingin membantu papi Kayla melawan anak buah King. Tentu saja itu dilarang oleh Kayla, mana bisa Kayla membiarkan Alex memperparah kondisinya dengan maju lagi ke perkelahian sengit itu.


Alex berhasil berdiri dengan bantuan Kayla, tapi bukan berarti Kayla mengizinkannya untuk menghadapi para penjahat kejam itu lagi. Kayla sebenarnya juga tidak tega melihat papinya sendirian bertarung melawan sepuluh orang sekaligus, cepat atau lambat mereka akan mengalahkan papi juga. Apalagi sekarang King dan papi saling mencekik leher satu sama lain, ditambah lagi King meminta salah seorang anak buahnya untuk mengambil sesuatu yang katanya ada didalam koper di ruangan sebelah. Entah apa itu, tapi perasaan Kayla semakin cemas melihat situasi ini, begitu juga Alex. Karena itu Alex tidak bisa diam saja membiarkan papi Kayla menghadapi mereka sendirian.


"Enggak Al, aku mohon..!" Tegas Kayla setelah menghapus air matanya.


"Miss Kissable, kita nggak bisa biarin mereka ngelukain papi kamu lebih parah lagi dong. Tolong, percaya sama aku, aku masih kuat kok."


"Enggak Al, jangan keras kepala dong, liat kondisi kamu!"


"Aku masih kuat." Alex menggenggam tangan Kayla erat.


Kayla tetap menggeleng, tapi Alex juga tetap ingin maju, ia melepaskan tautan tangan mereka namun buru-buru ditahan oleh Kayla.


"Al aku mohon! Nyawa kamu dalam bahaya..." Kayla mulai menangis lagi. "Kalo papa kamu liat keadaan kamu kayak gini, aku sama papi pasti disalahin. Dan aku nggak bisa biarin kamu bertaruh nyawa lagi, gimana kalo terjadi sesuatu sama kamu?!" sungut Kayla takut.


"Kenapa kamu mikirin papaku? Kamu sendiri gimana, papi kamu gimana?"


"Balas dendam mereka emang sama aku dan papi, apa lagi yang bisa terjadi? Jangan bikin aku makin ngerasa bersalah Al, jangan bikin aku makin takut..."


"Miss Kissable, aku nggak akan nyesel bertaruh nyawa demi nyelamatin kamu. Aku juga nggak takut maju sekali lagi buat bantu papi kamu." Alex lalu meletakkan tangan kirinya dipipi Kayla. "Miss Kissable, papi kamu udah kembali kan, hubungan kalian bisa baik lagi kayak dulu. Aku nggak akan biarin orang-orang jahat ini ngerenggut kebahagiaan kalian. Aku akan senang bisa lakuin sesuatu buat kamu sama papi kamu, walaupun harus pertaruhin nyawaku."


"Enggak aku bilang! Kamu nih kenapa sih, yang ada diotak kamu tuh apa?! Kalo kamu nggak peduli sama nyawa kamu sendiri, pikirin mama kamu Al, pikirin Bu Feli, pikirin.. gimana aku bisa ngehadapin keluarga kamu kalo terjadi sesuatu sama kamu..!" Tegas Kayla dengan kesal.


Alex tertegun. Ia menatap mata Kayla yang berkilat, ada kemarahan dan ketakutan yang berbaur dari sorot matanya itu. Detik berikutnya setetes air mata kembali lolos dari kolam kecil mata Kayla, yang buru-buru dihapus oleh Alex.


"Maafin aku." ucap Alex lirih.


"Aargh...." Jeritan Arman membuat Alex dan Kayla tersentak, mereka menoleh ke arah Arman yang ternyata baru saja ditendang oleh King hingga tubuhnya terbentur dinding dan terpelanting.


"Papi.."


"Om.."

__ADS_1


King dan anak buahnya semakin membabi buta, sementara Arman mulai kewalahan. Salah satu anak buah King yang dimintanya mengambil sesuatu tadi lantas menyerahkan benda yang ia ambil kepada King. Kayla dan Alex terbelalak melihat benda apa itu. Pistol.


DORR!!


"Papi..!!" Pekik Kayla seketika.


Satu tembakan mengenai lengan Arman. Jika saja Arman tidak menghindar maka tembakan itu bisa saja mengenai dadanya, dan itulah sebenarnya tujuan King. Beruntung Arman gerak cepat, tapi tetap saja tembakan itu mengenainya membuat Kayla menangis ketakutan sambil menutup mulutnya. Darah segar mengucur dari lengan papinya. Kayla mengeluh dalam hati, sampai kapan pertarungan ini berlangsung, Kayla takut kehilangan papi.


"Al.. papi Al.." rengek Kayla begitu sedih dan frustasi.


Baru saja Alex maju selangkah Kayla menghentikannya. "Enggak Al, apapun yang terjadi kamu nggak akan ngelawan mereka lagi."


"Maaf Miss Kissable, aku nggak bisa diam aja." Alex menepis tangan Kayla.


"Laknat elu semua!!" Hardik Alex berang. Ia mengambil sebuah tongkat besi yang tergeletak dilantai lalu memukulkan tongkat itu pada beberapa anak buah King.


Arman bangkit melihat aksi Alex, ia juga khawatir melihat kondisi Alex yang tidak seharusnya bertarung lagi. King terdengar mengumpat murka sepanjang pertarungan itu, dia kembali menarik pelatuk pistolnya namun Arman berhasil menghindar. Sementara Kayla menangis ketakutan sambil memeluk tubuhnya dengan sebelah tangan dan tangan lainnya menutup mulutnya yang berkali-kali menjerit saat suara tembakan terdengar meledak.


Alex bertarung dengan dua anak buah King sekaligus, tanpa ia tahu dari arah belakang seorang lainnya akan menyerangnya juga. Kayla yang menyadari itu lantas beranjak tanpa pikir, apapun resikonya ia tidak akan membiarkan Alex terluka lebih parah.


"Aaaakhh....!!" jerit Kayla kesakitan.


"Hah?!" kaget Alex.


Mulanya Alex kaget saat Kayla tiba-tiba memeluknya dari samping, saat Alex lihat ia lebih kaget karena ternyata Kayla melindunginya dari seorang anak buah King yang akan menyerangnya dengan bola berduri. Hingga sasarannya meleset dari Alex dan malah mengenai pundak kiri Kayla. Alex mencelos, ia sangat menyesalkan yang terjadi karena baginya tidak seharusnya Kayla memasang badan untuknya dan malah menyakiti diri sendiri.


"Miss Kissable.. kenapa kamu-.."


"Al.. Aaakhhh......!!"


Lagi, serangan lainnya muncul dari arah belakang Alex dan Kayla lagi-lagi berhasil menghalanginya. Alex menoleh cepat, ia lebih kaget melihat Kayla ternyata melindunginya dengan menahan serangan seorang anak buah King. Orang itu hampir saja menusuk punggung Alex dengan pisau, tapi Kayla menghentikannya. Kayla bermaksud menangkis tangan orang itu, tapi ia malah menggenggam pisau yang dipegang orang itu. Sehingga tangannya terluka dan mengeluarkan darah segar. Berang sekaligus cemas, Alex langsung menendang orang itu sampai terpental ke lantai.


"Miss Kissable.. Ya Allah... kamu ngapain sih Miss Kissable..?!" racau Alex khawatir, ia sempat kalangkabut sebelum dapat berpikir akan melakukan apa.


Telapak tangan kanan Kayla yang mengeluarkan darah itu bergetar kesakitan, Kayla meringis dan menggigit bibirnya demi menahan sakit itu. Buru-buru Alex melepas kemejanya, yang meski sudah robek-robek dan kotor tetap akan ia gunakan untuk membalut luka Kayla. Alex tahu kain kemeja kotornya ini tidak layak untuk menyentuh luka Kayla, tapi tidak ada cara lain saat ini, ia harus melakukannya agar darah Kayla tidak keluar lebih banyak lagi.


"Harusnya kamu nggak ngelakuin apa-apa Miss Kissable, kalo terjadi sesuatu yang fatal gimana, gimana aku bisa bertahan kalo kamu terluka.."


"Aku nggak bisa lakuin apa-apa waktu mereka ngeroyok kamu Al, sekarang aku punya kesempatan buat ngelindungin kamu, mana mungkin aku diam aja. Aku nggak bisa liat keadaan kamu lebih parah lagi, enggak masalah kalo aku harus ngerasain sakitnya juga kan sedikit. Luka ini nggak sebanding sama luka ditubuh kamu."


"Aku baik-baik aja Miss Kissable. Selama kamu baik-baik aja.. luka apapun nggak akan bikin aku kenapa-napa. Aku pasti bertahan, tapi kalo terjadi sesuatu sama kamu.. gimana aku bisa bertahan?!"


"Aku juga baik-baik aja selama kamu baik-baik aja Al. Enggak ada yang perlu ditangisin, aku nggak nyesel terluka gini demi ngelindungin kamu." Kayla lihat Alex mengusap sudut matanya yang basah.


"Aku yang harusnya ngelindungin kamu, Miss Kissable. Kenapa sih kamu nekat, liat ini belum lagi pundak kamu.. Ya Allah..." Alex menyentuh pundak Kayla yang juga terluka akibat hunjaman bola berduri.


Cukup parah, Kayla merasa leher, pundak dan punggungnya sakit, tapi entah bagaimana ia hampir melupakan lukanya itu. Kayla tetap memperhatikan gerak-gerik Alex yang terus saja mengkhawatirkannya, seolah dia sendiri tidak terluka.


"Kamu khawatir Al sama aku, kamu ngerasa bersalah aku terluka karena ngelindungin kamu? Kamu takut terjadi sesuatu yang fatal sama aku, itu yang kamu rasain, hm? Kamu sampe nangis gini."


Alex mengalihkan pandangannya ke mata Kayla. "Itu juga yang aku rasain waktu nyaksiin mereka ngeaniaya kamu. Sekarang kamu ngerti kan kenapa aku ngerasa bersalah banget, kenapa aku takut. Aku nggak tahan liat kamu menderita, sama kayak kamu yang nggak bisa biarin aku terluka, Al."


Degg


Kata-kata Kayla terdengar tulus dan dalam, membuat hati Alex tersentuh. Tatapan Kayla saat ini pun membuat Alex teringat akan tatapan yang dulu sering ia lihat dari mata indah itu. Tatapan yang Alex rindukan, tatapan yang membuat kondisi hati Alex membaik dan cerah kembali. Setelah sekian lama Alex bisa melihatnya lagi, dan setelah sekian lama Alex menata hatinya untuk menghapus perasaan ini, tapi takdir malah membawanya kembali pada gadis pujaan hatinya ini.


"Artinya.. kamu masih-.."


**DORR!!


DORR**!!


DORR!!


Ucapan Alex terpotong seketika, saat tiba-tiba bunyi tiga tembakan menggelegar mendominasi tempat ini. Alex dan Kayla tersentak kaget, begitu juga dengan Arman dan King beserta para anak buahnya. Perkelahian sengit mereka lantas terhenti, mereka juga menunjukkan ekspresi yang sama, kaget dan tegang, pandangan mereka tertuju pada arah yang sama. Detik berikutnya, dua orang polisi muncul di ambang pintu dengan menodongkan pistol.


"Angkat tangan!" Titah salah seorang dari mereka.

__ADS_1


Kemudian rombongan polisi lainnya masuk berbondong-bondong ke dalam ruangan. Mereka menangkap para anak buah King dan memborgol tangan mereka. Sementara King, jangan kira dia langsung ciut dengan gertakan polisi. King siaga, mencari celah untuk melarikan diri. Seorang polisi menuju pada King, dengan tatapan fokus dan pistol yang siap membidiknya. King tersenyum miring, kemudian tiba-tiba saja menembak Arman dan mendorong tubuh Arman sehingga menimpa polisi itu, membuat konsentrasi si polisi teralihkan. Situasi itu dimanfaatkan King untuk kabur. Namun aksi kabur King itu gagal setelah polisi lainnya berhasil menembak kaki kiri King.


Mereka, King beserta anak buahnya digiring bersama-sama keluar dari markas penyekapan itu, dengan tangan yang diborgol masing-masing. Begitu juga Arman yang statusnya masih sebagai narapidana, tembakan dilengan kanannya dan kaki kirinya itu membuatnya harus digandeng oleh polisi. Kayla semakin sedih melihat kondisi papinya, tapi disisi lain ia lega karena situasi sudah terkendali dan ia sekarang aman. Begitu juga yang Alex rasakan, helaan nafas lega terdengar kentara dari nafasnya yang terbatas disebabkan keadaan tubuhnya. Kayla dan Alex pun dituntun polisi keluar dari tempat itu.


Melihat dua orang polisi memapah dan menggandeng Alex, disebabkan kaki kanannya cedera, Kayla menawarkan diri untuk menggandeng Alex, karena ia merasa bertanggung jawab atas kondisi Alex sekarang. Ketika Kayla dan Alex sampai didepan pintu besar markas itu, keduanya dibuat terharu dengan pemandangan didepan mata mereka.


Dua keluarga telah menanti mereka berdua didepan pintu markas. Suasana haru sekaligus sedih meliputi orang-orang tersayang mereka itu, mereka memandang Kayla dan Alex dengan perasaan yang begitu dalam.


"Lily..!" Nadia yang terisak-isak sedari tadi tak dapat lagi membendung air matanya tatkala melihat sang putri berdiri didepan sana. Nadia langsung menghambur memeluk Kayla. Tio yang datang bersamanya terlihat mengecup pucuk kepala Kayla dengan penuh perasaan.


"Al.. Ya Allah nak.." Vanessa mencelos, miris melihat kondisi menyedihkan putranya. Iapun memeluk Alex disertai derai airmatanya.


Sementara Pak William mematung dengan perasaan yang hampir sama, tapi rasa sedihnya dibalut dengan amarah yang tak kalah besarnya. Pandangannya kemudian teralih pada Kayla, gadis sok polos yang lagi-lagi melibatkan putranya kedalam masalah yang bahaya. Gadis yang entah bagaimana kemarahannya tersulut jika putranya menyebut nama gadis itu. Kayla membalas singkat pandangan Pak William yang nampak mengintimidasi dirinya, lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah lain karena merasa minder.


Feli yang datang bersama ayahnya dan calon mertuanya juga terlihat menangis, ia menahan raungannya dengan menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia mengalihkan pandangannya karena tidak sanggup melihat kondisi Alex yang luka-luka.


Setelah Vanessa melepaskan pelukannya dari Alex, Pak William memegang kedua pundak Alex sembari mengamati putranya itu dari atas kebawah. Pak William begitu menyesal, kejadian buruk yang ia takutkan dulu dan sudah berusaha ia hindari sekeras mungkin.. nyatanya tetap menimpa sang putra. Detik berikutnya setelah Pak William menatap wajah Alex, ia menangkap siluet si biang kerok yang membuat putranya sampai mengalami hal buruk ini. Sontak saja amarah Pak William membara, ia menatap nyalang pada Arman yang lewat disampingnya bersama polisi. Tanpa pikir dan dengan tiba-tiba, Pak William menarik baju Arman lalu meninju wajahnya.


Bughh


"Pa!" Sergah Alex kaget.


"Papi..!"


Bukan hanya Alex, semua yang ada disana pun terkejut dengan tindakan mendadak Pak William. Nadia sampai melepaskan pelukannya dari Kayla saat putrinya itu menjerit menyebut nama sang papi.


"Pak, sabar Pak!" Polisi pun menengahi.


"Bang**t! Kepa**t kamu, berani-beraninya kamu libatin anak saya lagi dalam masalah menjijikanmu itu, hah?!!" hardik Pak William pada Arman.


Sebelum Pak William kembali menghajar Arman, Alex mencegahnya. "Pa, papa tenang dulu! Om Arman nggak salah."


"Apa? Kamu belain orang be**t ini Al?!" ujar Pak William heran.


"Pa, Om Arman disini bukan sebagai penjahat tapi penyelamat. Kalo Al masih hidup saat ini dan bisa berdiri didepan papa, itu berkat Om Arman. Kayla bisa selamat dari monster-monster itu, juga karena pengorbanan Om Arman, Pa." terang Alex.


Nadia, Tio, Pak William, Vanessa, Feli dan ayahnya, mereka semua terdiam. Alex menjelaskan secara singkat dan tepat perihal kenapa ia membela Arman, ia tidak mau orang-orang memandang Arman sebagai penjahat lagi. Kemudian polisi juga memberikan sedikit keterangan kalau pihak mereka akan membawa Arman ke klinik pengobatan tahanan untuk mengobatinya, lalu memasukkannya ke penjara kembali setelah dia pulih. Akhirnya mereka masing-masing beranjak bubar, bukan untuk pulang ke rumah, melainkan ke rumah sakit untuk mengobati Kayla dan Alex. Kayla bersama mami dan ayahnya, dan Alex bersama papa, mama, Feli dan ayah Feli. Sementara Arman akan dibawa dengan mobil terpisah dengan King dan anak buahnya.


Sebelum mereka memasuki mobil masing-masing yang letaknya tidak berjauhan, Kayla dan Alex saling mencuri pandang diam-diam, dengan pandangan yang saling mengkhawatirkan keadaan satu sama lain. Sayangnya Pak William memergoki mereka, membuat mereka mengalihkan pandangannya. Alex masuk ke dalam mobil, duduk di kursi belakang bersama mamanya dan Feli. Sementara Kayla melirik ke arah papinya sekali lagi sebelum masuk ke mobil, papi tersenyum tipis membuat hati Kayla menghangat. Lalu tanpa sengaja Kayla melihat ke arah King. Monster itu nampak menatap tajam ke arah satu objek, lalu terlihat menggerakkan tangannya diam-diam sambil mengawasi polisi disisinya. Kayla jadi penasaran akan gelagat anehnya, ketika Kayla menurunkan pandangan ke arah tangan King, betapa terkejutnya Kayla melihat King memegang pistol.


Kayla terbelalak tegang saat menyadari King menodongkan pistolnya diam-diam ke arah seseorang. Kayla melihat ke arah seberang dan sekitarnya, menelisik seksama kepada siapa tatapan tajam King itu? Siapa target yang akan  ditembak King?


*Degg


Degg*


Kayla kaget, matanya semakin membulat dan mulutnya pun terbuka. King menggerakkan satu jari, menarik pelatuk pisolnya. Tanpa sengaja Kayla menyentak tangan mami yang menggandengnya, sehingga mami pun terkesiap heran. Kayla berlari secepat yang ia mampu sambil berteriak..


"Om.. awaaas.....!!"


"Kayla...!"


"Aaaa... Lily.....!!"


"KAYLA!!!"


DORR!!


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2