Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Liburan


__ADS_3

Kayla baru sampai ke sekolah. la melihat Adit sedang mengobrol bersama Randa dan beberapa orang siswa lainnya di depan kelas. Entah kenapa sekarang rasanya ada sesuatu yang berbeda, apakah itu hanya perasaan Kayla saja atau Adit memang terlihat berbeda. Kayla hanya bisa tersenyum sendiri dengan suasana yang tengah ia rasakan ini, absurd. Padahal Adit terlihat sibuk dan serius mengobrol dengan teman-temannya, sama sekali tidak melihat Kayla.


"Ehem... kenapa nih senyum-senyum sendiri?" goda Nia.


"Enggak apa-apa"


"Ih jangan ngeles.."


"Kepo kamu." timpal Kayla.


"Eh Nia, kamu liburan ini ada rencana kemana?"


"Belum ada sih Kay, soalnya ayahku kayaknya gak ngambil cuti deh. Jadi kayaknya bakal liburan disini-sini aja. Emang kenapa?"


"Mau liburan bareng aku nggak?"


"Kemana?" tanya Nia antusias.


"Emm... kamu tau Juleha?"


"Juleha?" ulang Nia sambil mengingat-ingat.


"lya, Juleha itu.. salah satu korban bullying Pfour kan?"


"Owh.. Juleha! lya aku inget." kata Nia semangat, "Sayang banget loh Kay Juleha berhenti sekolah, dia anaknya baik, gak sombong dan gak sewotan. Enak diajak ngomong, aku lumayan kenal sih sama dia, soalnya dia anak OSIS juga, sama kayak aku."


Kayla mengangguk mendengar penjelasan panjang lebar Nia.


"Kenapa nanyain Juleha?" tanya Nia.


"Gini, rencananya liburan ini aku sama P-four mau nyamperin Juleha ke kampungnya, sekalian liburan."


"Liburan ke kampungnya Juleha?" bingung Nia.


"lya. Satu-satunya siswi korban bullying yang belum kita samperin buat minta maaf ya Juleha. Jadi kita mutusin buat manfaatin waktu liburan ini ke sana. Selain minta maaf, kita juga bisa sekalian liburan kan, katanya.. suasana di perkampungan itu sejuk dan masih asri. Lumayan banget kan kalo kita jalan-jalan ke sana." Nia mengangguk-angguk.


"Aku ngajak kamu nih, soalnya aku sendirian cewek. Gak enak kan kalo aku pergi berhari-hari sama cowok-cowok rese' itu. Temenin aku ya Nia!"


"Tapi.. apa gak papa nih aku ikut?" tanya Nia ragu.


"Ya nggak papa lah, emang kenapa?"


"Kali aja ada yang keberatan gitu."


"Nia, kalo kamu ikut.. kita bisa pisah mobil sama P-four. Enggak papa deh aku nyewa mobil atau carter taksi, yang penting aku ada temennya. Ya, mau ya..?"


"Aku sih mau Kay, tapi mendingan kamu nanya dulu deh ke mereka, kalo mereka gak setuju ntar aku yang nggak enak lagi."


"Kenapa mereka gak setuju? Mereka gak bakal keberatan kok, lagian kan kita beda mobil sama mereka." sergah Kayla.


"Ajak aja Adit sama Annisa!" tambahnya.


"Wah mau kemana nih, aku diajak?" Adit yang baru muncul pun nimbrung.


Kayla menoleh ke arah Adit, senyuman sumringahnya membuat lesung pipi Adit terlihat lebih dalam, manis sekali. Ketika mata Kayla dan Adit bertemu..


Degg


Adit mulai gugup. Kayla yang salah tingkah pun dengan cepat mengalihkan tatapannya.


"Ini Dit, Kayla mau ngajak kita liburan." sahut Nia.


"Liburan? Wah asyik nih, kemana?" tanya Adit berusaha menutupi kegugupannya.


"Ke kampungnya Juleha. Apa nama kampungnya Kay?" tanya Nia.


"Eh, iya?" Kayla terkesiap.


Duuuh... sempat-sempatnya Kayla melamun. "A-..apa tadi?"


"Kamu gak denger?" bingung Nia. "Kampungnya Juleha namanya apa?"


"Oh, Cidahu" sahut Kayla menyengir.


"Semarang ya?" ujar Adit.


"lya." jawab Kayla.


"Kalo kamu.. gak ada acara keluarga, rencananya kita hari senin sampe rabu mau kesana. Ajak Annisa juga." ujar Kayla pada Adit.


"Ada siapa aja?" tanya Adit.


"P-four" sahut Nia singkat. Adit agak terkesiap mendengarnya.


"Tau nih Kayla, bisa-bisanya dia punya inisiatif ngumpulin kita sama P-four." ujar Nia.


"Loh.. mereka kan sekarang teman aku juga. Lagian kalo bukan buat mereka, aku gak bakal ikut ke sana." Kayla memberi pengertian.


"Maksudnya Kay? Aku gak ngerti kenapa kamu milih tempat liburan di sana. Kamu kenal Juleha? Juleha.. yang anak beasiswa itu kan?" bingung Adit, ia bertanya pada Nia.


"Mereka berempat mau minta maaf sama Juleha, aku udah janji buat nemenin mereka pergi ke sana. Jadi aku ngajak kalian biar aku ada temannya, terutama cewek. Gak mungkin dong aku pergi berlima aja sama mereka, aku sendirian cewek" Adit mengangguk mengerti.


Adit berpikir sambil menilik wajah Kayla, sedangkan yang ditatap terlihat salting. Adit menaikkan alisnya saat menyadari ada yang berbeda dari ekspresi Kayla.


"Ikut ya Dit.. biar rame" ujar Nia, memutus tatapan Adit pada Kayla.


"Hmm.. of course! Kapan lagi kita bisa liburan bareng." jawab Adit senang, membuat senyuman Kayla mengembang.


...__________________...


Hari pengumuman kenaikan kelas tiba. Seluruh siswa dan siswi bersorak sorai ramai, merayakan kebahagiaan mereka, terutama siswa kelas XIl yang baru saja lulus. Kebahagiaan turut dirasakan oleh Kayla dan teman-temannya, karena mereka dinyatakan naik ke kelas XII. Mengenai nilai raport dan rangking, di kelas XI IPS Adit lah yang menjadi juaranya. Sedangkan Kayla, sejak SD selalu mendapat rangking yang berkisar antara angka 3 sampai 5. Tahun ini Kayla mendapat rangking 4, dan Nia teman sebangkunya mendapat rangking 5. Adapun Alex, dia selalu menjadi bintangnya. Meski dia nakal ataupun tidak, rajin ataupun malas, tetap saja peringkat 1 tidak pernah jatuh ke tangan murid lain. Karena ia memang cerdas, bukan karena uang atau kedudukannya loh ya...


"Kayla!" seru Bima.


Kayla yang baru keluar kelas bersama Nia lantas menoleh. Mereka mendapati Bima, Sandi, dan Vicky berjalan ke arah mereka.


"Ada apa Bim?"


"Berangkat besok jadi?"


"Jadi. Kalian bisa semua kan?" mereka mengangguk.


"Oh iya. Aku lupa ngasih tau, kalo besok aku berangkatnya sama Nia. Aku ngajak Adit sama Annisa juga. Jadi kita beda mobil, tapi berangkatnya barengan kok."


"Bawa rombongan Kay?" tanya Sandi menyindir.

__ADS_1


"Kenapa? Keberatan?"


"Alex udah tau?" tanya Vicky.


"Belum sih" jawab Kayla.


"Nah ini dia orangnya!" ujar Sandi saat melihat Alex datang.


"Hai cantik!" sapa Alex pada Kayla.


Kayla hanya menanggapinya dengan senyuman. Tapi itu cukup membuat hati Alex berbunga-bunga. Setiap kali Alex menatap Kayla seperti ini, Alex selalu merasa bahagia.


"Al, Kayla ngajak teman-temannya juga besok." ujar Vicky mengadu.


"Siapa, Nia?" tanya Alex.


"lya. Sama Adit sama Annisa juga" jawab Kayla.


Mendengar nama Adit, senyuman Alex memudar.


"Gak papa kan?" tanya Kayla.


Alex seolah berpikir. Kayla rasa Alex mencoba memikirkan alasan untuk menolak keinginannya.


"Al, aku gak bisa pergi jauh sama kalian sedangkan aku cewek sendiri. Mamiku gak bakal izinin. Lagian kita pake mobil kepisah kok, jadi gak bakal mepet-mepet di mobil kamu"


"Aku gak masalah kok. Cuman.." Alex menjeda kalimatnya, "..harusnya kamu gak perlu khawatir meskipun cewek sendiri, kan ada aku. Mereka bertiga gak bakalan berani ganggu kamu."


Kayla mendengus senyum, "Makasih Al, tapi aku justru khawatirnya sama kamu loh." Alex mengernyit.


"Mereka bertiga mungkin gak berani ganggu aku, tapi kamu berani kan?!" lakar Kayla, diiringi tertawaan Bima, Sandi, dan Vicky. Kayla dan Nia juga ikut tertawa.


Alex terkekeh geli. "Oke, terserah kamu lah sayang."


Suara tawa mereka lantas terhenti, Kayla jadi menegang seketika. Apa tadi? Mungkin Kayla salah dengar, atau.. mungkin Alex salah bicara.


"Sayang..?" ulang Vicky meledek. "Ciye ciyee.. udah mulai sayang sayangan..."


Alex jadi salting sendiri, ia menggaruk tengkuknya seraya melirik Kayla. Sedangkan Kayla yang wajahnya sudah memerah malu, menghindari tatapan Alex.


"Emm... kita duluan!" ujar Kayla sambil menarik tangan Nia, lalu pergi.


..._________________...


Keesokan harinya, Alex bersama ketiga temannya sudah siap untuk berangkat. Mereka berkumpul di halaman rumah Alex. Sambil menunggu Kayla dan teman-temannya datang, mereka mengecek ulang barang-barang bawaan mereka, yang rencananya akan berlibur selama dua hari dikampung Cidahu.


"Mana sih mereka, lama amat!" gerutu Sandi.


"Biasa lah San, namanya juga cewek." sahut Vicky.


Tidak lama kemudian sebuah mobil kijang memasuki pekarangan rumah Alex.


Nia dan Annisa tersenyum berbinar melihat ketampanan Alex, Bima, Sandi, dan Vicky.


"Ganteng banget ya Nis.." gumam Nia.


Sedangkan Kayla memutar bola matanya malas. Adit terkekeh melihatnya.


"Kok ekspresi kamu beda Kay sama mereka?"


"Aku? Gak tau aku akhir-akhir ini bawaannya keseeel aja liat Alex."


"Kesel kenapa?" tanya Adit.


"Tapi kemarin kamu senyum sama dia." timpal Nia.


"Aku ngehargain dia aja, Nia. Dia nyapa aku ya aku balas, karena males jawab ya aku senyum aja."


"Gitu..?" goda Nia.


"Ya kamu denger sendiri kan Ni, kemarin cara ngomongnya sama aku. Aku udah kesel dari sebelum itu, ditambah lagi kelakuannya kemarin, ya ampun.."


"Ngomong apa ya?" ujar Nia pura-pura lupa.


"Ngomong apa emangnya Kak?" tanya Annisa.


"Alex-.."


"Stop Nia! Jangan ngerusak mood aku!" sergah Kayla.


Nia mempoutkan bibirnya, "Kamu yang mulai tadi. Aku udah lupa sama yang kemarin, kamu malah ngingetin"


"Emang ada apa sih Kay, kamu ada masalah sama Alex?" tanya Adit.


"Udah ya gak usah dibahas. Turun yuk!" ujar Kayla mengalihkan.


Mereka turun dari mobil. Alex yang sudah berdiri sejak tadi menunggu Kayla, kini mendekat.


"Kamu udah siap?" tanyanya intens.


Kayla ingin menjawab tapi tatapan Alex membuat Kayla curiga. Kayla tahu apa yang Alex pikirkan.


"Aku sama teman-teman aku udah siap." jawab Kayla.


"Kalo.. buat aku, udah siap belum?" tanyanya lagi, lebih pelan.


Kayla mendengus, "Gak usah bahas itu deh, kamu ngerusak mood aku" sahut Kayla dingin.


Alex terkekeh, "lya sayang, maaf deh.."


"AL!" gertak Kayla keras, ia mendelik tajam, membuat teman-teman mereka menilik heran.


"Apa liat-liat? Kalo udah siap semua, buruan masuk ke mobil!" tegur Alex.


"Dit, elu bisa gabung sama kita!" kata Alex lagi.


"Thanks Al, gue disini aja" tolak Adit sembari membuka pintu mobil.


Alex mendesah pelan, hanya Kayla yang berada disampingnya yang menyadari itu. Kayla tertawa dalam hati, Kayla tahu Alex bermaksud ingin menjauhkan Adit dari Kayla, tapi sayangnya Adit menolak ajakan Alex.


Kayla pun beranjak hendak masuk ke mobil, namun Alex menghentikannya. "Yakin gak mau duduk di samping aku?"


Kayla terkekeh geli, "Apaan sih Al, ya yakin lah. Ngapain coba aku ngajak teman-teman aku kalo akunya malah sama kamu juga."


Kata-kata Kayla mungkin terdengar agak ketus tapi ia tahu Alex tidak akan menanggapinya dengan serius. Lihat saja sekarang, Alex malah mengusal kepala Kayla.

__ADS_1


.......


.......


.......


Setelah melewati perjalanan hampir empat jam, mereka sampai di Desa Cidahu. Jalanan di Desa sekarang sudah nyaman, sudah beraspal. Jadi tidak ada kendala bagi mereka saat berkendara. Mobil kijang yang memuat Kayla, Nia, Annisa, dan Adit melaju di belakang, mengikuti mobil Jeep Alex. Tadinya Kayla ingin menyewa mobil untuk transportasi mereka, tapi ayah Nia menawarkan mobilnya sekalian dengan supirnya. Si supir juga bukan orang lain, namanya Bang Oki, kakak sepupu Nia yang berusia 30 tahun.


"Masih jauh gak dek, ini minyaknya udah mau abis." ujar Bang Oki sambil menilik kearah jarum penunjuk pengingat bahan bakar minyak di mobilnya.


"Gak tau, Bang." sahut Nia.


"Kok gak tau? Ini kalian sebenarnya tau alamat rumahnya enggak sih?"


"Enggak." sahut Nia, Kayla, Annisa, dan Adit serentak.


"Lah...gimana sih!" gerutu Bang Oki.


"Ikutin aja mobil di depan, Bang!" ujar Adit, membuat Bang Oki mendengus.


Beberapa menit setelah itu, mobil Alex berhenti di depan sebuah kios sembako. Kayla dan teman-temannya memperhatikan dari belakang, tidak ada yang terlihat turun dari mobil.


"Mereka ngapain sih, nggak ada yang turun tuh." ujar Nia dengan tatapan lurusnya.


"Kayaknya nanya alamat deh." tebak Bang Oki.


Benar. Alex dan ketiga temannya berhenti di depan kios untuk bertanya alamat rumah Juleha.


"Misi Pak..!"' sapa Bima pada seorang bapak penjaga kios.


"lya den!" jawab si bapak.


"Numpang tanya nih, tau rumahnya Mang Asep nggak?"


"Mang Asep yang mana nih? Mang Asep domba, Mang Asep sayur, apa Mang Asep tani?"


Bima pun melirik paa teman-temannya, mereka sama-sama bingung. Saat bertanya pada ibu kos Juleha kemarin, ibu kos hanya mengatakan 'kalo ntar nyari di kampung, sebut nama bapaknya.. Mang Asep. Orang pasti tau'. Hanya itu. Tidak ada title atau gelar apapun dibelakang nama Mang Asep nya.


"Emm... kalo Mang Asep yang punya anak namanya Juleha, yang mana tuh Pak?" tanya Alex.


Si bapak kios nampak berpikir. "Wah.. saya kurang tau, den."


"Yaah.." desah Bima lesu.


"Tanya mereka gih!" ujar Alex sambil menunjuk mobil Nia yang berada di belakang mereka.


"Gue?" ujar Bima malas.


"lya."


"Males amat sih gue turun." gerutu Bima pelan sambil membuka pintu mobil.


Bima pun turun dan mendekat ke mobil Nia. Bertanya pada mereka tapi hasilnya sama, mereka pun tidak tahu. Bima akhirnya kembali ke mobil.


"Jadi gimana nih, gimana caranya kita nyari Juleha kalo kayak gini?" ujar Adit.


"Yaah... ngasal sih kalian. Orang kalo mau pergi, cari tau dulu yang jelas alamatnya! Jadi nggak begini kan." gerutu Bang Oki.


Tidak lama setelah itu datang dua orang anak berusia sekitar 10 tahunan, kedua anak itu jajan di kios.


"Nah, kita tanya aja sama anak-anak itu" usul Kayla.


"Yah.. Kay, orang dewasa aja nggak tau,  masa' mau nanya sama anak-anak." timpal Nia.


"Ya kali aja mereka kenal Juleha" ujar Kayla seraya membuka pintu mobil.


"Assalamu'alaikum dek.." sapa Kayla.


"Wa'alaikum salam..." sahut kedua anak itu.


"Kakak mau nanya, kalian kenal yang namanya Kak Juleha nggak?"


Kedua anak itu saling melirik, "Owh.. Bu guru Juleha ya?" ujar salah satu anak.


Kayla menaikkan alisnya bingung. Benar kah Juleha seorang guru, bagaimana jika salah orang?


"Emm.. Bu guru Juleha emang anaknya Mang Asep ya?" tanya Kayla ragu.


Entah apakah kedua anak ini tahu nama bapaknya Juleha atau tidak. Kedua anak itu kembali saling melirik, kali ini mereka nampak bingung. Kayla memikirkan cara untuk bertanya pada mereka, agar mereka mudah mengenali orang yang Kayla cari.


"Gini, kalian tau nggak, Bu guru Juleha itu..pernah sekolah di Jakarta?" tanya Kayla.


"lya. Bu guru Juleha pernah sekolah di Jakarta." sahut salah satu anak.


"Kakak ini dari Jakarta ya? Temennya Bu guru Juleha?" tebak anak lainnya sambil melirik-lirik dua buah mobil di belakang Kayla.


"lya." jawab Kayla semangat. Sekarang Kayla merasa yakin kalau ia tidak salah orang.


"Kalian tau rumahnya Bu guru Juleha dimana?"


"Tau." sahut mereka serentak.


Akhirnya Kayla mengajak kedua anak itu naik ke mobil, sebagai penunjuk jalan. Satu masalah terpecahkan. Anggap saja mereka sudah menemukan Juleha, dan sekarang waktunya melanjutkan agenda yang sempat tertunda, sebab jarak rumah Juleha yang membutuhkan waktu untuk kesana.


Perihal kasusnya, dulu Juleha masuk ke sekolah SMA Putra Bangsa dengan beasiswa. Dia anak yang sangat cerdas, tapi ekonomi keluarganya kala itu tidak memungkinkan untuk Juleha bisa bersekolah di sekolah menengah terbaik. Pihak pengelola pendidikan di desanya inilah yang memberinya beasiswa untuk bisa bersekolah di salah satu SMA terbaik di ibukota, dengan harapan Juleha bisa membanggakan desa mereka. Tapi sayangnya.. karena suatu fitnah, Juleha diskorsing oleh pihak sekolah. Tentu fitnah ini ada hubungannya dengan Alex dan ketiga temannya. Jika tidak, mereka tidak akan datang jauh-jauh ke Cidahu hanya untuk meminta maaf pada Juleha.


Suatu hari, Juleha memergoki Sandi dan Vicky yang diam-diam masuk ke ruang dokumen sekolah. Sandi dan Vicky mencuri kunci jawaban soal ujian dari sana. Saat Sandi dan Vicky curiga ada yang memata-mati mereka berdua, mereka mendapati Juleha yang sedang bersembunyi. Mereka berdua mengancam akan mempermalukan Juleha jika Juleha berani melapor. Akhirnya Juleha mengalah dan terpaksa melupakan insiden itu. Tapi kemudian, seminggu setelahnya Juleha kembali mendapati Sandi dan Vicky mengulangi hal yang sama. Kali ini Juleha tidak ketahuan memata-matai mereka berdua, karenanya ia memberanikan diri melaporkan kejadian itu kepada Pak Rudi. Sandi dan Vicky akhirnya dipanggil ke ruang BK, dari sinilah petaka dimulai.


Sandi dan Vicky yang mendapat pembelaan dari Alex, lantas mencari tahu siapa orang telah berani melaporkan mereka. Sangat mudah bagi mereka menemukan siapa orangnya, karena Juleha bukan anak yang pandai menyembunyikan kebenaran dengan ekspresinya. Mereka mencoba memutar balikkan fakta, yang tentu akan merugikan Juleha.


Meskipun para guru tahu bahwa Juleha adalah murid yang cerdas, permainan Alex tetaplah berjalan lancar. Alex berhasil memanipulasi keadaan dan memutar balikkan fakta sehingga para guru percaya bahwa Juleha melakukan kecurangan. Juleha dituduh telah mencuri kunci jawaban soal ujian dan menjualnya kepada teman sekelasnya. Bukti pun direkayasa oleh Alex dan ketiga temannya, saat loker Juleha digeledah, Pak Rudi menemukan tiga lembar amplop berisi uang masing-masing satu juta, yang juga berisi keterangan bahwa itu adalah uang hasil bisnis jual beli kunci jawaban soal ujian. Juleha tentu syok mendapati dirinya berada dalam masalah besar, terlebih karena kasus itulah ia diskorsing.


Kemudian pihak pengelola pendidikan di desanya mengetahui kasus memalukan itu, dan mereka mencabut beasiswa Juleha. Sehingga Juleha tidak punya pilihan lain selain berhenti sekolah.


Mendengar kisahnya dari Adit, Kayla merasa prihatin. Kasihan Juleha, dia difitnah dan kehilangan beasiswanya. Tapi mendengar kisah kecerdasan Juleha dari dua anak penunjuk jalan yang mengaku sebagai murid Juleha ini, Kayla merasa lega. Artinya kondisi Juleha tidak seburuk Sherly yang trauma setelah mendapat perlakuan buruk dari Alex dan teman-temannya. Kehidupan Juleha di kampungnya cukup baik, karena ia sekarang bisa mengajar di kampungnya.


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2