
Kayla dan Alex menghampiri kedua mempelai pengantin ke atas pelaminan. Sang pengantin lantas berdiri untuk menyambut pasangan yang baru bertunangan itu.
"Selamat ya Ken, Chik.. ya ampun.. aku speechless banget tau nggak. Hmm..." ujar Kayla gemas sambil memegang tangan Kenzo dan Chika.
Kenzo tersenyum. "Makasih Kay, ini juga berkat kamu" kata Chika seraya menatap Kayla haru.
Kayla dan Chika berpelukan, "Maafin aku ya Kay.." cicit Chika berbisik.
"Kamu ngomong apa sih Chik..?"
"Aku bukan cewek baik Kay, aku egois, dan aku ngerebut Kenzo dari kamu." lirih Chika.
"Chik, pliss stop mikir kayak gitu! Kenzo cuman punya kamu, aku sahabat dia Chik... itu nggak akan berubah" timpal Kayla juga berbisik.
Kayla lalu melepaskan pelukan mereka. "Aku titip Kenzo ya Chik! Makasih loh kamu udah mau terima sahabat aku yang suka nyusahin ini. Kamu banyak-banyak sabar aja ya sama dia!"
Kenzo terkekeh mendengarnya, "Emangnya gue senyusahin itu ya selama ini? Kenapa baru ngomong..?"
"Emm... nggak juga sih. Tapi kan mulai sekarang Chika bakal selalu sama kamu tiap hari, jadi kamu pasti bakal nyusahin dia dong.." ejek Kayla.
Kenzo mencibir sambil melirik Kayla dan Chika bergantian. Chika terkikik geli.
"Ken, jagain Chika baik-baik ya! Jadi suami yang bertanggung jawab, belajar dewasa, bahagian Chika!" tutur Kayla, kali ini ia serius.
"Gue kan udah tanggung jawab" sahut Kenzo lempeng.
"Serius Ken.." timpal Kayla.
Kenzo pun mengubah mimik wajah konyolnya menjadi lebih serius, ia tersenyum tipis. "Thank you so much Kay.. maafin gue selama ini."
Kayla mengangguk seraya tersenyum. "Pliss jangan mellow gitu mukanya, ini hari bahagia kamu. Mulai sekarang tugas kamu nambah Ken, kamu harus jadi Hero juga buat Chika dan calon anak kamu. Bravo!" Kayla menepuk pipi Kenzo, dan Kenzo membalasnya.
"Ekhemm..!" dehem Alex menegur, membuat dua sahabat itu menoleh serentak ke arahnya seraya menurunkan tangan mereka dari pipi masing-masing.
"Iri bilang bos..." ledek Kenzo.
"Gak cukup colak-colekin idung aja apa, harus pake megang-megang pipi juga? Inget, lu udah punya istri, dan Kayla sekarang tunangan gue!"
Kayla mendengus senyum mendengarnya. Wajah Alex terlihat menggemaskan saat bereaksi seperti itu.
"Istri gue nggak masalah tuh gue megang pipi tunangan lu" Kenzo melirik Chika sebentar lalu menatap Alex dengan songong.
"Tapi gue.. masalah!" timpal Alex.
"Hahaa... apasih kalian, pliss deh malu-maluin tau ribut disini." Kayla merasa lucu.
"Alex bener juga kok Ken. Kita sekarang udah punya pasangan masing-masing, meskipun Chika nggak masalah sama apa yang kita lakuin barusan, kita tetap harus jaga perasaan dia kan."
"Siapa bilang aku nggak masalah?! Aku ngambek tau" timpal Chika, ia melipat tangannya di depan dada sambil memanyunkan bibirnya menunjukkan seolah dia merajuk.
Kenzo mencubit pipinya gemas, Chika menepis tangan Kenzo dari pipinya. "lih..main cubit-cubit aja."
"Gemes sayang, kamu makin chubby tau nggak." ujar Kenzo, membuat Chika semakin merajuk.
"Maksud kamu aku gendut?" tanyanya sewot.
"Bukan gendut, tapi cantik. Kamu sekarang makin cantik semenjak ham-.."
Chika menahan mulut Kenzo dengan telunjuknya, membuat perkataan Kenzo terhenti. Chika, Kenzo, Kayla, dan Alex melirik-lirik ke sekeliling mereka. Jangan sampai ada tamu yang mendengar kalo Chika sedang hamil, bisa-bisa heboh nanti. Meskipun perut Chika sudah mulai menonjol jika diamati, tapi gaun Chika yang longgar menyamarkan penampilannya, sehingga tidak nampak kalau perutnya agak buncit. Untungnya saat ini tidak ada orang yang berada terlalu dekat dengan mereka sehingga mereka merasa yakin dan lega, tidak ada yang mendengar perkataan Kenzo tadi.
"Opss! Sorry.." cicit Kenzo.
"Congrats ya bro! Semoga kalian langgeng sampe kakek nenek." Alex menepuk bahu Kenzo lalu merangkulnya.
Kenzo menjabat tangan Alex dan memeluknya. "Makasih."
"Ck, curang lu ya! Elu berantakin acara lamaran gue.. eh malah elu yang nikah duluan, padahal kan gue yang duluan tunangan." ujar Alex membuat Kenzo tertawa geli.
"Tapi masih curangan elu. Elu tunangan nggak ngundang gue, nah gue nikah ngundang elu." balas Kenzo tak mau kalah. Alex pun tertawa, sementara Kayla dan Chika hanya menatap gemas pada kedua pemuda itu.
"Gue titip Kaylily gue ya!" ujar Kenzo sambil menepuk pundak Alex.
"Dia Miss Kissable gue, calon istri gue, jelas gue pasti jagain dia." jawab Alex setelah melepaskan pelukan mereka.
"Dia Kaylily gue sebelum jadi Miss Kissable lu!" timpal Kenzo.
"Tapi sekarang dia Miss Kissable gue. Catet, CALON ISTRI gue" timpal Alex menekankan.
Kenzo terkekeh, "lya calon istri lu! Songong amat sih baru juga tunangan. Kayla udah jadi sahabat gue dari zaman ingusan kali." timpal Kenzo lagi, tak mau kalah.
"lya Kayla sahabat lu, tapi dia bakal jadi masa depan gue"
"Elu-.."
"Husst..! Apaan sih kalian." sergah Kayla membuat Kenzo berhenti bicara. "Malu-maluin ah kayak anak kecil aja, gak ada yang mau kalah."
"Dia yang mulai, Kay" ujar Kenzo.
"Kok gue? Elu lah yang duluan" sahut Alex.
"Elu yang duluan sewot sama omongan gue!" timpal Kenzo.
"Elu yang duluan-.."
"lih... pliss deh!" gertak Kayla sambil berkacak pinggang, membuat kedua pemuda itu menoleh ke arahnya dan menutup mulut seketika.
Beberapa detik suasana di atas pelaminan menjadi absurd, Kayla masih memasang wajah juteknya pada Kenzo dan Alex. Sedangkan Chika hanya diam menunggu reaksi selanjutnya dari ketiga orang didepannya ini.
"Emm... enggak ada yang mau foto selfie gitu..?" kata Chika datar, membuat Kayla, Kenzo, dan Alex menoleh padanya serentak dengan pandangan yang senang.
"lya iya..kita selfie!" sahut Kayla semangat.
__ADS_1
"Owh.. bener!" timpa Alex.
"Harus dong.. harus..!" Kenzo pun menyahut berbarengan dengan Kayla dan Alex.
Berakhirlah cekcok absurd Kenzo dan Alex, serta kejengahan Kayla melihat kedua pria terdekatnya itu. Mereka tertawa riang bersama-sama sambil berfoto selfie, mengabadikan momen kebersamaan mereka, dihari yang penting ini.
... ....
... ....
... ....
Tante Lia duduk bersama Nadia, sambil memandangi anaknya yang tengah berbahagia dia atas pelaminan. Tante Lia tersenyum haru, sesekali terisak kecil dan mengusap ujung matanya.
"Mbak.." lerai Nadia sambil menyentuh pundak Tante Lia.
"Aku masih nggak nyangka Nad, Ken sekarang jadi pengantin. Ken udah nikah Nad, dia punya istri. Bahkan dia.." Tante Lia sempat tercekat sebel melanjutkan kata-katanya. "..dia sebentar lagi punya anak." lirihnya.
Nadia tersenyum haru. "lya Mbak, aku juga nggak nyangka, secepat ini anak-anak kita dewasa."
"Tapi Ken.." Tante Lia kembali terisak, ia menyembunyikan wajahnya saat melihat Kenzo melirik ke arahnya sekilas.
"Ini kesalahanku Nad, aku lalai sebagai ibu. Aku terlalu manjain Ken dan biarin dia bebas. Aku malu.."
"Mbak.. udah. Semuanya baik-baik aja kan sekarang. Liat, Kenzo itu laki-laki yang bertanggung jawab. Aku tau, sulit buat dia ngejalanin ini, dia masih terlalu muda dan mungkin dia juga belum siap, tapi dia mau memperbaiki kesalahannya. Aku ngerti perasaan Mbak, Mbak yang tegar ya..!"
Tante Lia mengangguk. "Makasih, Nad."
Sebenarnya sejak tadi Tante Lia merasa canggung berada di tengah-tengah keluarga Chika. Terlebih lagi, tatapan kedua orang tua Chika yang tidak bersahabat. Tante Lia pun cukup tahu diri, mengetahui kesalahan besar yang telah dilakukan anak mereka, mungkin orang tua Chika terpaksa merestui Chika menikah dengan Kenzo. Tapi dalam kasus ini, orang tua Chika dan orang tua Kenzo sama-sama tahu kalau Kenzo dan Chika melakukan hubungan terlarang itu secara suka sama suka tanpa paksaan, jadi orang tua Chika tidak bisa menuntut pertanggung jawaban Kenzo melalui jalur hukum.
Sekarang mereka harus menanggung malu sama-sama, menikahkan anak mereka diusia sekolah. Pernikahan Kenzo dan Chika digelar di lingkungan keluarga Chika, dan gunjingan pun mulai terdengar. Meski begitu, aib mereka masih bisa disembunyikan untuk saat ini. Setidaknya pernikahan sudah terjalin antara Kenzo dan Chika, jika nanti akan timbul masalah atau aib yang lain maka akan lebih mudah diatasi.
"Mbak?"
"lya Nad?"
"Aku boleh nanya?"
"lya. Nanya apa?"
"Maaf sebelumnya Mbak, tapi.. Mas Awan kok nggak keliatan ya? Tadi di rumah juga aku nggak liat Mas Awan" akhirnya Nadia mengungkapkan rasa penasarannya.
Tante Lia jadi murung lagi. "lya Nad. Kamu tau kan kalo papanya Ken itu orangnya keras, dia masih marah sama Ken. Sebagai orang tuanya Ken, dia malu menampakkan muka di depan orang tua Chika. Aku juga malu, malu banget Nad. Tapi aku nggak mau melewatkan momen pernikahan anakku. Sebagai ibu, aku mau menyaksikan dan terlibat dihari terpenting bagi anakku kan, apalagi Ken anakku satu-satunya."
"Tapi, Mas Awan ngerestuin kan Mbak?"
"Aku nggak tau Nad. Papanya Ken udah angkat tangan sama masalah ini. Dia tetap keras mau ngehukum Ken, bahkan ngusir anaknya sendiri. Dan Ken juga sama kerasnya kayak papanya, dia ngotot nggak mau diusir dan tetap bolak balik ke rumah Chika buat dapetin restu"
"Aku sempat frustasi liat Ken, berkali-kali dia pulang dari rumah Chika dalam keadaan yang nggak baik. Aku khawatir anakku bakal celaka Nad, bayangin aja kalo kamu liat Ken babak belur dan berdarah. Aku ngelarang dia buat pergi lagi tapi dia tetap ngotot. Dia yakin kalo dia pasti dapet restu dari orang tuanya Chika."
Nadia tersenyum. "Kenzo itu emang pejuang Mbak, meskipun dia bikin kita kecewa sebelumnya, tapi dia juga bikin kita bangga."
"lya Mbak, aku ngerti. Terkadang kita emang harus ngambil keputusan yang berat buat kebaikan anak kita."
Nadia lalu memandang ke atas, flashback masa lalunya pun muncul di benaknya. Tante Lia memahami itu.
"Nad, apa kamu pernah ketemu Arman lagi setelah kamu pindah ke Jakarta?" tanyanya.
Nadia tersenyum tipis seraya menggeleng. Kemudian ia teringat akan sesuatu yang terjadi kurang lebih satu jam yang lalu. la merasa melihat seseorang yang ia kenal, saat ia mengambil makanan di meja hidangan. Perasaannya kembali cemas, namun ia tetap meyakinkan hatinya bahwa ia salah lihat.
"Mbak, apa Mas Arman pernah nemuin Mbak Lia? Atau nemuin Mas Awan? Tanyain soal aku sama Kayla?" tanya Nadia, Tante Lia menyadari kecemasan dari suaranya.
"Nad, tenang.. Arman udah nggak pernah keliatan kok. Dia juga nggak pernah nyamperin aku ataupun papanya Ken. Dia pernah nemuin Ken beberapa kali, tapi kan kita semua nggak ada tau kamu sama Kayla ada dimana. Sekarang dia pasti udah nggak cari-cari kalian lagi kok. Kamu nggak usah khawatir ya..!"
Nadia menghela nafas panjang. "Alhamdulillah Mbak kalo gitu."
Entah kenapa perasaan Nadia masih tak lega, meski setelah mendengar penuturan Tante Lia. la punya firasat buruk, dan terus menekan perasaannya bahwa tadi ia hanya salah lihat saja.
"Enggak mungkin itu Mas Arman, iya.. aku pasti salah liat" gumamnya dalam hati.
"Emm.. Mbak, aku ke toilet bentar ya!" pamit Nadia seraya berdiri, yang diangguki oleh Tante Lia.
Bagaimanapun juga Nadia harus menenangkan dirinya. la harus memastikan bahwa penglihatannya salah, ia harus melihat ke sekitar tempat itu lagi bahwa yang ia lihat tadi bukanlah Arman, mantan suaminya. Nadia berjalan keluar ruangan, tepatnya ke samping rumah Chika yang terdapat taman. Di dekat sanalah tadi ia melihat sosok seperti mantan suaminya. Setelah mengelilingi tempat itu dan sekitanya, mengedarkan pandangannya ke seluruh arah sepanjang jangkauannya, ia tidak menemukan orang yang ia cari. Yang ada hanya beberapa tamu undangan yang tersisa, setelah acara pernikahan selesai beberapa jam yang lalu.
Tiba-tiba...
"Hmmppth...!" Teriakan Nadia tertahan karena mulutnya dibekap oleh seseorang yang berada di belakangnya.
Nadia memberontak, ia berusaha melepaskan bekapan orang itu dari mulutnya. Sambil terus berusaha melepaskan diri dari dekapan orang yang menyeret tubuhnya ke belakang, Nadia mencoba menoleh untuk melihat siapa orang yang mengendalikan tubuhnya saat ini.
Tidak ada orang yang melihat Nadia diseret dan dibawa paksa, karena posisi Nadia yang berada di tempat yang sudah sepi. Kini Nadia di lemparkan masuk ke sebuah mobil yang terparkir sembarangan, tidak jauh dari belakang rumah Chika yang lokasinya sepi. Mata Nadia membulat sempurna disertai debar jantungnya yang berpacu cepat berkali-kali lipat.
"M-..mas..." gumamnya bergetar.
Ternyata benar, orang yang sebelumnya ia lihat memanglah mantan suaminya. Dia ada disini, di depan mata Nadia, mungkin dia juga sudah melihat Kayla. Sekarang hati Nadia semakin kacau. Apalagi melihat wajah evil mantan suaminya itu.
Brakkk
Arman menutup pintu mobil dengan sentakan kuat setelah ia masuk dan duduk didekat Nadia. Nadia tersentak kaget, terlebih memikirkan apa yang akan dilakukan pria yang tak berperasaan ini.
Nadia memundurkan tubuhnya saat Arman mendekat. "Mau apa kamu? Jangan macam-macam..!" tegas Nadia was-was.
Dengan tenang Arman menghela nafas sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, ia tersenyum puas.
"Apa kabar sayang..."
Nadia bergidik, ia memalingkan wajahnya sambil menekan-nekan knop pintu mobil, mencoba untuk segera keluar dari mobil.
"Hahahaa... kamu nggak bakal bisa keluar."
"Apa mau kamu Mas? Jangan ganggu aku sama Lily lagi!"
__ADS_1
"Apa?? Setelah kamu sama Kayla pergi dari aku diam-diam, dan setelah satu satu tahun kita ketemu lagi, kamu ngancem aku kayak gini?!" Arman berdecih.
"Kamu nggak kangen sama aku Nad..?"
"Jauhin aku..!" ancam Nadia saat Arman mendekatinya.
"Tolong Mas, jangan ganggu aku sama Lily lagi."
"Ganggu? Hei.. aku kangen sama istriku, aku kangen sama anakku, apa itu salah? Itu gangguan?!" ucapnya dengan nada yang rendah namun menakutkan.
"Mantan istri!" ralat Nadia.
"Terserah kamu. Lagian aku kesini buat jemput Kayla. Bawa dia kesini!"
"Jemput Kayla kamu bilang? Aku harap kamu udah ngelupain rencana busuk kamu tahun lalu."
Arman terkekeh, "Bagus kamu masih ingat, jadi aku nggak perlu ngejelasin ulang"
Nadia melotot tajam. "Gak waras kamu Mas!" Nadia mendorong tubuh Arman sampai mantan suaminya itu terantuk kaca mobil.
Sontak Arman marah. "Ck, beraninya kamu! Kalo kamu gak mau bawa Kayla kemari sekarang, aku sendiri yang bakal bawa dia!"
"Kamu mau nyulik anak kamu sendiri?" tanya Nadia membentak.
"Kenapa? Dia anakku, aku berhak nentuin apa yang bisa aku lakuin buat dia."
Arman akan membuka pintu mobil, dan Nadia yakin bahwa Arman tidak main-main, dia akan benar-benar membawa paksa Kayla.
"Mas!" sergah Nadia reflek memegang lengan Arman.
"Tolong jangan..! Lily takut sama kamu Mas, dia trauma sama kejadian waktu itu. Tolong Mas, sekali aja kamu pikirin kebaikan anak kamu sendiri, pikirin kebahagiaan Lily. Kalo kamu masih punya hati, kamu nggak akan ngejual anak kamu sendiri dan ngehancurin hidupnya."
Arman menyentak tangan Nadia, ia menatap tajam mata Nadia yang berkaca-kaca. "Udah lama aku nunggu saat ini, aku bisa dapetin Kayla dengan mudah dan kamu nggak bakal bisa ngelakuin apapun. Aku nggak bakal buang kesempatan ini"
Arman membuka pintu mobil dan hampir keluar namun Nadia kembali menahannya.
"Mas jangan..!" Nadia memegang erat lengan Arman dan menangis. "Aku mohon Mas, dia anak kita..anak kamu Mas.. jangan hancurin dia Mas.."
"Lakuin apapun yang kamu mau, tapi jangan lakuin apa-apa ke Lily Mas.." lirih Nadia disela tangisannya.
"Minggir!" sentak Arman keras namun Nadia tak menyerah.
"Aku bisa lakuin apapun yang kamu mau, minta apa aja dari aku Mas, tapi jangan sakitin Lily..!"
Arman mulai berpikir. Sembari Nadia menangis meraung, memeluk lengannya dan membenamkan wajah ke pundaknya, terlintaslah rencana licik di otaknya. Arman tersenyum smirk, ia menjauhkan tubuh Nadia darinya agar bisa menjangkau wajah Nadia. Nadia mendongak dengan mengiba, dalam hati Arman tertawa puas melihatnya.
"Kamu mau lakuin apa aja yang aku minta?" tanyanya sambil menyentuh dagu Nadia.
Nadia mengangguk takut-takut. la tahu yang ia lakukan ini hanya menempatkan dirinya dalam bencana, tapi demi keamanan dan keselamatan Kayla, ia akan menghadapinya.
"Aku kangen sayang..." bisik Arman sensual, sambil membelai wajah Nadia.
Nadia menggeleng kecil sambil memundurkan tubuhnya, menepis tangan kanan Arman yang membelai wajahnya dan tangan kiri yang memegang pinggangnya. Tidak! Nadia tidak terpikir Arman akan meminta hal ini darinya, Nadia tidak mau melakukannya.
"Gak usah munafik, kamu pasti juga kangen kan sama aku? Atau.. sekarang kamu udah punya cowok baru? Hm?!"
Nadia menggeleng-geleng. "Enggak Mas, kamu bisa minta aku ngelakuin apa aja tapi enggak buat ini"
"Tapi aku cuman mau ini. Enggak ada yang lain. Kamu layanin aku, atau kamu nggak akan bisa liat Kayla lagi!" ancam Arman seraya menyeringai.
Nadia menelan salivanya berat. Arman mendekatinya dan mulai beraksi, Nadia sontak memberontak.
"MAS!! Lepasin aku!"
"Dengar Nad, kalo kamu nurut aku gak bakal ganggu kamu sama Kayla lagi" bisiknya sambil membelai wajah Nadia dengan nafasnya, kedua tangannya sudah memegangi kedua lengan Nadia.
"Enggak! Kamu penipu, kamu cuman mau manfaatin aku, trus kamu tetap ngambil Lily dari aku! Jangan harap kamu dapetin apa yang kamu mau Mas!" ancam Nadia balik, kali ini tidak ada ketakutan dalam suaranya.
Arman semakin marah. la menindih tubuh Nadia secara mendadak dan kasar, membuat Nadia meringis dan memekik.
"Denger Nad, jangan kamu kira aku bego! Aku nggak main-main, dan aku nggak sendirian kali ini. Kamu nggak bakal bisa kemana-mana, dan Kayla juga nggak bakal lolos dariku kali ini!" ancamnya seraya menyeringai.
Mata Nadia yang berkaca-kaca itu melotot tajam. la mengumpat marah di depan wajah Arman, bisa-bisanya mantan suaminya yang kejam ini berencana untuk menjebaknya dan menculik anaknya sendiri. Nadia melihat Arman yang semakin jauh berbeda dari yang ia kenal pertama kali. Sangat jauh berbeda.
Arman tertawa mengerikan, ia semakin menindih Nadia sehingga pergerakan Nadia terbatas. Arman mulai menjamah tubuh Nadia meski perlakuannya semakin lembut tak lantas membuat Nadia bergeming apalagi terlena.
"MAS!" Nadia terus memberontak.
"Diam! Nurut atau kamu nggak bakal liat Kayla lagi!" bentak Arman.
Dalam kepanikan dan terjebak begini Nadia terus memikirkan cara melepaskan diri dari kendali Arman. Beruntungnya Arman membiarkan sebelah tangan Nadia bebas, sehingga Nadia bisa menggunakan tangannya itu untuk mencari sesuatu yang bisa membantunya dengan meraba-raba apa saja yang ada disekitarnya. Kemudian ia melihat sesuatu di bawah kursi kemudi, yang ia yakini bisa membantunya. Tangannya berusaha menjulur lebih jauh agar dapat menjangkau benda itu, pergerakannya terbatas karena kendali Arman.
Nadia semakin tidak tahan dengan aksi Arman yang semakin jauh, sebelum Arman melepas pakaiannya Nadia harus berhasil mengambil benda itu agar secepatnya bebas dari pria baj****n ini.
Nadia pun berhasil menggenggam benda itu di tangannya, tanpa diketahui oleh Arman. la mengumpulkan nyali dan kekuatannya, menggenggam erat benda itu. Dan..
Buggh
"Aakkhhh...." Arman mengerang keras, sekeras hantaman benda berat yang berhasil dipukulkan Nadia ke kepalanya.
Arman menyadari apa yang baru saja Nadia lakukan, ia melotot dengan wajah yang marah padam. Namun sebelum ia bereaksi lebih dari itu, ia ambruk.
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1