Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Pria Yang Telah Membuat Jatuh Cinta


__ADS_3

Kayla bersama siswa-siswi lainnya duduk di halte sembari menunggu angkot mereka. Kemudian sebuah mobil sport merah yang familiar berhenti di depan mereka. Kaca mobil di bagian kemudi terbuka. Alex tersenyum pada mereka semua, seraya membuka pintu mobilnya dan keluar.


"Miss Kissable, aku anter ya!" katanya saat sudah berdiri di depan Kayla.


Kayla jadi merasa canggung, karena semua siswa-siswi di dekatnya kini melihat kearahnya. la menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah, lebih baik pergi saja dari sini daripada terus jadi objek perhatian begini lebih lama. Kayla lalu mendongak, menyunggingkan senyuman kakunya pada Alex seraya berdiri dari duduknya.


Keduanya pun masuk ke mobil, Kayla menghela nafas lega setelah merasa bebas dari pandangan orang-orang yang kini masih menyorotkan mata mereka ke mobil Alex yang tentu agak gelap dari luar kacanya.


Alex mendengus senyum. "Awkward ya?"


Kayla mempoutkan bibirnya, "Kamu sih.."


Alex menyalakan mesin mobilnya, dan melajukannya meninggalkan halte.


"Miss Kissable, maaf aku sempat denger omongan Kenzo yang bisik-bisik ke kamu, pas.. kalian pelukan"


Kayla sedikit terkesiap. "Kamu.. apa kamu marah aku peluk Kenzo?"


Alex menoleh ke wajah Kayla, "Enggak, ngapain marah. Aku ngerti kok."


"Makasih."


"Kok makasih? Tadi aku bilang aku denger omongan Kenzo sama kamu, kesalahanku dimaafin nggak?"


"Kamu denger... apa?" tanya Kayla memastikan dugaannya.


Alex sempat terdiam, "Kenzo.. dia cinta sama kamu?


Degg


Dugaan Kayla benar. Apa Alex akan marah, apa dia cemburu? Karena tidak ada jawaban dari Kayla, Alex bertanya lagi.


"Apa kamu juga sama?"


Kayla menaikkan alisnya, terdiam sebentar lalu menjawab Alex dengan anggukan kepalanya. "lya."


Alex tersenyum samar, dalam hati ia merasa sesuatu baru saja melukainya. Rasanya perih, dan itu cukup membuatnya berkecil hati.


"Jadi itu alasan kamu nolak aku? Itu juga alasan kamu nggak mau pacaran?" tanyanya datar.


"Enggak. Kenzo bukan sebuah alasan."


"Seandainya Kenzo nembak aku, aku pasti juga nolak. Tapi.. selama ini dia lebih milih mendam perasaannya, dia lebih milih pacaran dan main-main sama cewek lain demi nggak nyakitin aku. lya kelakuannya kayak gitu itu nggak baik sih, tapi seenggaknya dia selalu mastiin aku baik-baik aja. Meskipun dengan cara mempermainkan hidupnya sendiri selama ini."


Alex diam.


"Aku juga baru tau kebenaran itu, dari Chika. Seandainya Chika nggak cerita, mungkin aku nggak akan pernah tau"


"Tapi udah terlambat? Kenzo udah terlanjur ngehamilin Chika?" tanya Alex.


"Enggak ada yang terlambat AI, emang takdirnya aja kayak gini. Kenzo nggak nyesal sama sekali kok nyembunyiin perasaannya, dan aku juga nggak nyesal baru tau perasaan dia sekarang. Kita malah bersyukur karena kita nggak saling nyakitin."


Konsentrasi menyetir Alex mulai buyar, ia berusaha untuk tidak terbawa perasaan.


"Trus, gimana soal perasaan kamu ke dia?" tanya Alex.


"Perasaan aku?" Kayla mengernyit, lalu mendengus tawa.


"Kamu tau Al, dulu.. waktu kita masih kecil dan baru denger yang namanya pacar-pacaran, kita tuh pernah bikin janji." Kayla tertawa kecil sambil mengingat kesepakatan konyol yang ia buat dengan Kenzo dulu.


"Jadi kita tuh kayak saling taruhan gitu, siapapun dari kita yang jatuh cinta nanti.. orang pertama yang harus tau adalah salah satu dari kita masing-masing. Kayak pas Kenzo jatuh cinta gitu akulah orang pertama yang harus tau, gitu juga sebaliknya."


"Waktu Kenzo bilang dia jatuh cinta, itu kelas 6 SD deh kalo nggak salah. Dia ngomong ke aku, tapi dia nggak mau ngasih tau siapa cewek itu. Heran sih, kesel juga aku, tapi nggak nyampe sebulan.. eh dia pacaran. Ya aku pikir rasa penasaran aku udah kejawab, aku pikir pacar pertamanya itulah orang yang dia cintain." Kayla menjeda kalimatnya, wajahnya sedikit berubah.


"Padahal cewek yang dia maksud itu kamu? Jadi dari awal dia udah jatuh cinta sama kamu?" tanya Alex.


"Hm. Tapi aku nggak peka, dan nggak tau sama sekali, bertahun-tahun dia nyembunyiin itu dari aku. Kalo bukan Chika yang ngasih tau, dia mungkin nggak akan pernah ngasih tau aku"


"Dia pacaran, tapi katanya itu cuman pelampiasan, saking dia takutnya nyakitin aku. Sayangnya.. malah aku yang nyakitin dia."


Oh jadi hal itulah yang membuat wajah Kayla berubah, yang tadinya ceria dan santai jadi terlihat agak murung dan seperti ada sesal. Tapi apa maksudnya Kayla yang menyakiti Kenzo?


"Maksud kamu apa?"


"Aku ngomong ke dia kalo aku jatuh cinta. Dan aku ngasih tau dia soal cowok yang bikin aku jatuh cinta." jawab Kayla dengan tatapan lurus ke jalan, tanpa menoleh pada Alex.


"Trus kenapa itu nyakitin dia? Bukannya kamu jatuh cintanya sama dia?" bingung Alex.


Kayla melirik Alex sekilas, "Jadi gini, dulu waktu aku kelas tujuh.. aku pertama kali ngerasain sesuatu yang aneh di hati aku. Sesuatu yang kayaknya tuh aku bahagiaaa gitu kalo liat dia, trus bawaannya tuh kangeeen aja kalo lagi jauhan. Aku belum ngerti yang namanya cinta waktu itu, dan aku juga nggak sadar kalo aku tuh pernah cemburu."


"Jadi.. kamu emang suka sama Kenzo dari dulu?" tanya Alex berat.

__ADS_1


Kayla hanya tersenyum tipis tanpa mengiyakan. "Aku sempat mikir buat jujur soal perasaanku ke dia. Aku pikir kalo aku bilang suka sama dia, kemungkinan besar dia bakal balas aku, tapi.. aku takut nasibku sama kayak mantan pacarnya. Abis putus trus musuhan, ih amit-amit"


"Dari sana aku mikir, apa untungnya pacaran? Happy sebentar doang trus kalo ada apa-apa berantem, putus, sakit hati, jauhan deh. Ya aku nggak mau lah kayak gitu. Lebih baik aku selamanya jadi sahabat dia, karena sahabat itu selalu berjalan bersisian kan, saling sayang dan saling ngerti. Saling support, dan nggak pernah ada kata putus. Ikatan sahabat itu murni dan abadi, nggak bakal ada yang namanya kehilangan satu sama lain."


Kayla melirik Alex yang nampak termenung sambil menyetir.


"Jadi.. aku mutusin buat lupain perasaan itu, aku nggak mau jadi cintanya. Selamanya aku pengen jadi sahabat yang terus ngedukung dia dan selalu ada buat dia. Dan dia ngelakuin hal yang sama selama ini ke aku, meskipun aku nggak tau perasaan dia yang sebenarnya."


"Dan Kenzo juga nggak tau kalo kamu suka sama dia?" tanya Alex.


"Hm." Kayla mengangguk.


"Kenapa kamu nggak jujur sama dia?Seenggaknya biar kalian sama-sama tau kan."


"Buat apa? Itu cuman cerita lama Al, perasaan itu juga sekarang udah nggak ada lagi. Aku juga sama sekali nggak pernah niat buat ngasih tau dia suatu saat, apalagi dalam situasi dia sekarang. Meskipun sekarang aku udah tau dia cinta sama aku, aku nggak pernah kepikir sekalipun buat ngebalas dia. Karena disaat aku tau dia cinta sama aku.. perasaanku udah beda."


"Beda? Maksud kamu.. kamu udah nggak cinta lagi sama Kenzo?"


"Aku nggak tau itu cinta atau bukan, mungkin begitu. Tapi ya, perasaan itu udah nggak ada lagi"


Alex terdiam, kembali memfokuskan kemudinya. "Kamu yakin?"


"lya. Waktu itu emang aku susah sih ngehilangin perasaan itu, dan nganggep dia biasa lagi kayak sebelumnya. Tapi seiring berjalannya waktu, aku bisa. Ternyata move on itu nggak sesulit kata orang-orang, karena yang penting tuh kita emang mau ngerubahnya bener-bener dari hati kita."


"Apalagi aku sering liat dia jalan sama pacarnya, gonta-ganti lagi. Jadi aku lebih gampang buat move on." Kayla tertawa kecil.


"Move on? Apa kamu yakin? Kalian selalu deket kan, gimana kamu bisa move on dari dia?" tanya Alex.


"Emangnya buat bisa move on itu harus jauhan?" Kayla mendengus senyum. "Move on itu tentang ngehapus rasa Al, bukan ngehapus kontak"


"Lagian percuma juga kalo kita jauhan tapi perasaan itu tetap ada. Dan nggak mesti juga yang tetap dekat itu nggak bisa ngehapus perasaannya. Buktinya aku bisa." lanjutnya.


Alex semakin tertarik mendengarnya, dan mulai berpikir.


"Kenzo itu sahabat aku, nggak mungkin aku ngejauhin dia. Aku cuman mau kita tetap sahabatan, dan gak akan pernah berubah. Kalo aku ngambil jarak demi ngehilangin perasaan itu, dia bakal ngerasa ada yang nggak beres dong sama aku, aku nggak maulah kayak gitu"


Alex terkesima, ia menoleh melihat wajah Kayla yang nampak tanpa beban membeberkan itu semua.


"Aku nggak ngebiarin perasaan itu pengaruhin persahabatan kita. Dan aku bersyukur, itu berhasil."


Alex mengangguk pelan. Kayla benar, move on itu tentang menghapus rasa, bukan menghapus kontak. Karena percuma saja memutuskan kontak jika perasaan itu masih ada.


"Jadi.. kamu udah move on dari Kenzo?Perasaan kamu ke dia nggak lebih dari sekedar sahabat?" tanya Alex lagi, memastikan.


Kayla tersenyum tipis. "Kalo pun perasaan aku ke dia keluar dari batas persahabatan, itu adalah perasaan seorang adik ke kakaknya. Selama sama dia tuh aku bener-bener ngerasa kayak punya kakak tau nggak. Senang.. sedih.. ketawa.. nangis.. semuanya nggak ngelamapauin dari perlakuan seorang adik ke kakaknya." tuturnya seraya tersenyum lebar.


Bibir Alex pun ikut tertarik mengembangkan senyuman. "Tapi Miss Kissable, bukannya kamu bilang.. kamu udah kasih tau ke Kenzo kalo kamu jatuh cinta?"


"lya."


"Jadi.. cowok itu bukan Kenzo? lya kan, karena nggak mungkin kamu nyakitin dia dengan bilang kalo kamu jatuh cinta sama dia."


Kayla mengulum bibirnya, merasa gemas sendiri. Alex terlalu banyak bertanya sejak tadi, ada apa dengannya! Apa dia tidak bisa berpikir secara tenang dan luas seperti biasanya. Dia itu cerdas kan, masa' setelah Kayla berbicara panjang lebar tadi dia belum mengerti juga!


"Miss Kissable..?"


"Hm? Hehe.. iya emang bukan Kenzo."


Alex menaikkan alisnya, wajahnya menoleh sempurna menatap Kayla. "Trus siapa?" tanyanya antusias.


"Fokus nyetir, Al!" peringatkan Kayla.


"Oh?!" Alex pun kembali memandang jalanan. Namun sesekali ia melirik Kayla, menunggu jawaban dari gadis nya itu. Tapi sepertinya Kayla betah membungkam


"Aku penasaran, siapa cowok yang bikin kamu jatuh cinta."


Kayla tersenyum samar, tapi dalam hati ia tertawa geli. "Alex pura-pura bego apa emang gak bisa mikir sih..?"


"Tanya aja sama Kenzo!" sahut Kayla lempeng.


"Harus tanya Kenzo? Kan kamu nya ada disini, emang aku nggak boleh tau langsung dari mulut kamu ya?"


Kayla mengedikkan bahunya, dengan tatapan yang tetap lurus ke depan tanpa melihat wajah Alex. Sepanjang perjalanan Alex terus berpikir, kenapa Kayla tidak mau memberitahukannya langsung tentang siapa pria yang dia cintai. Alex tentu berharap bahwa pria beruntung itu adalah dirinya, tapi jika memang dirinya kenapa Kayla tidak memberikan tanda maupun bukti yang mengarah kepada dirinya. Tapi jika bukan Alex pria itu.. lalu siapa?


Alex tidak tahu jika Kayla dekat dengan pria lain, ataupun diam-diam menyukai seseorang. Kecuali Adit. Apa mungkin dia..?


Hhh.. Alex mendesah dalam hati, perasaannya jadi tidak karuan. Harap-harap cemas menantikan Kayla mau menjawab rasa penasarannya. Sesekali ia melirik Kayla yang duduk dengan tenang di sampingnya.


"Beruntung banget dia. Salut deh, bisa bikin cewek yang pantang ngelibatin perasaan gini.. jatuh cinta."


Kayla tersipu malu, ia menyembunyikan wajahnya dari intaian mata Alex. "Bukan dia yang beruntung, tapi aku."

__ADS_1


"Oh ya?" Alex kembali memancing agar Kayla mau memberitahunya tentang pria itu. Atau setidaknya Kayla menyebutkan ciri-cirinya.


"Hm. Karena dia tulus banget sama aku."


"Jadi kamu jatuh cinta sama dia karena ketulusannya?"


"lya, salah satunya." jawab Kayla.


"Sejak kapan kamu jatuh cinta sama dia? Apa kamu kenal dia lebih dulu sebelum aku? Dan apa kamu udah suka sama dia sebelum aku nyatain perasaan aku ke kamu?"


Kali ini Kayla tertawa lepas, ia tidak tahan lagi. "Kamu nanya mulu ya.."


Alex berdecak frustasi, Kayla malah menertawakannya, dia pikir ini lucu? Tidak tahukah Miss Kissable nya ini kalau Alex tengah gusar!


Melihat wajah kusut Alex, Kayla pun menghentikan tawanya. "Sorry Al."


"Sayangnya aku nggak mau maafin kamu sebelum kamu ngasih tau aku, siapa dia?"


Kayla mengerucutkan bibirnya gemas, "Sayangnya kita hampir sampe di rumah aku. Ngomongnya kita lanjutin nanti ya..!" lakar Kayla.


"Hah..?" Alex yang menyetir malah baru sadar bahwa mereka hampir sampai di tujuan, rumah Kayla.


Kayla terus mengulum bibirnya agar tidak lepas tertawa, sementara Alex dengan malas menghentikan mobilnya di depan rumah Kayla.


"Gitu amat sih mukanya, nggak ikhlas ya nganterin aku?"


"Nganterinnya ikhlas, tapi nurunin kamu nya sekarang yang aku nggak ikhlas"


"Kamu cemburu?"


Alex menoleh ke wajah lugu Kayla, haruskah dia menanyakan itu pada Alex, tidakkah dia melihat kegusaran Alex dari wajahnya!


Alex mendengus, "Emangnya kalo aku cemburu aku bisa apa? Kamu juga nggak bisa ngapa-ngapain kan, karena kamu udah jatuh cinta sama cowok lain" sahutnya datar, tanpa melihat wajah Kayla.


"Cowok lain..?" gumam Kayla bermonolog dalam hati.


"Hmm... ya, aku bisa apa. Cinta kan nggak bisa dipaksain." timpal Kayla dengan ekspresi wajah yang menyebalkan.


"Yaudah Al, makasih ya udah nganterin aku" kata Kayla santai, lalu turun dari mobil, bagaikan orang yang tak merasa bersalah dan tak tahu diri.


Kayla berjalan memutari mobil dan berdiri didekat kaca jendela tempat Alex duduk. "Seru juga ya jahilin Alex, lucu" batinnya.


"Kamu nggak mau ngasih tau aku? Apa aku nggak berhak tau?" tanya Alex lagi dengan raut wajah yang begitu berharap, membuat Kayla merasa tidak enak.


Kayla berbalik membelakanginya, dan Alex mengerti jika Kayla tidak ingin melanjutkan obrolan mereka. Apa boleh buat, Alex terpaksa pulang dengan perasaan yang tak karuan. la pun menyalakan mesin mobilnya.


"Mr Strawberry."


"lya?" Alex segera mematikan mesin mobilnya setelah mendengar seruan Kayla.


Kayla terpaku sesaat, "Namanya Mr Strawberry" ulangnya.


Kayla memastikan bahwa kali ini Alex tidak mengira bahwa Kayla memanggilnya, tapi menyebutkan nama pria yang telah membuatnya jatuh cinta.


Alex terpaku dengan ekspresi melongo. Sampai ia tersadar, saat Kayla menghilang begitu saja dibalik pintu rumahnya. Alex baru paham, bahwa sebenarnya Kayla tidak memanggilnya melainkan menyebut nama pria yang telah membuatnya jatuh cinta. Dan nama pria itu...


Mr Strawberry!


Ya, itu artinya dirinya sendiri kan!!


Ya Tuhan.... apa ini mimpi? Apa Alex salah dengar? Bisakah Kayla mengulangi kalimatnya tadi? Sayangnya gadis itu sudah masuk ke rumahnya, sebelum melihat reaksi Alex yang disebabkan satu nama yang baru saja disebutkan olehnya. Dia jadi tidak melihat ekspresi Alex saat ini.


Alex mendesah panjang, ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kemudi. Wajah frustasinya seketika berubah menjadi berseri-seri. Tidak bisa digambarkan lagi suasana hatinya saat ini, ia begitu bahagia..


"Miss Kissable..." gumamnya berbisik sambil menempelkan telapak tangan di dada sendiri, yang berdegup kencang dengan irama yang yang sangat merdu baginya. Senyumannya mengembang sempurna, jutaan letupan kebahagiaan menghiasinya saat ini. Jika boleh dikatakan, Alex merasa seperti sedang terbang bebas dengan sayap cintanya yang terbalas.


Sangat menyenangkan. Ucapan syukur pun berkali-kali terlontar dari bibirnya yang tak henti-hentinya tersenyum.


Tanpa Alex tahu, gadis impiannya itu tengah memperhatikannya dari balik tirai kaca jendela rumahnya. Senyuman manis juga tak memudar sedikitpun dari bibir kissable nya. Wajahnya merah merona, dan hatinya lega.


Namun dibalik itu, masih ada sesuatu yang sedikit mengganjal di lubuk hatinya yang terdalam. Untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati kebahagiaan yang tengah datang padanya, biarlah sesuatu yang tersembunyi di dalam hatinya itu ia abaikan dulu.


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2