Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Kacau


__ADS_3

"Dia pantes disebut baj****n, karena dia.. udah NGELECEHIN KAYLA!"


Duaarrrr........


"Lebih b***t lagi, dia ngelakuin itu di depan umum!" lanjut Kenzo menggebu-gebu.


Duaarr..........


Kayla melemas seketika, langkahnya termundur reflek dan ia terhempas terduduk. Dan Alex pun hampir sama, tangannya yang terkepal kuat dan gemetar itu sontak terbuka. la memucat setelah wajahnya merah padam menahan amarah. Bagai dihujam senjata tajam di jantungnya, ia mati rasa seketika.


Tentu saja semuanya terkejut, sangat terkejut. Nadia langsung terisak sambil menggeleng-geleng tak percaya. Nadia memeluk sang putri yang malang, dan Om Iwan pun mematung dalam amarah dan perasaan terpukul. Begitu juga Pak William, ia yang semula berdiri dengan tegap kini menciut dan lantas terduduk kembali. la tidak percaya dengan kata-kata Kenzo, tapi saat ia mengamati wajah Alex, putranya itu telah tertunduk.


"Kenapa diam Al, kenapa kamu nggak membantah tuduhan keji itu?!" gumam Pak William lirih dalam hati, sembari menatap kecewa pada Alex.


Dan Vanessa, apa yang bisa dia lakukan selain menangis dalam diam. Tidak! Tidak mungkin putranya melakukan perbuatan seb***t itu. Senakal-nakalnya Alex, Vanessa yakin putranya tidak akan nekat berbuat sampai sejauh itu.


Sebelum Vanessa angkat bicara untuk memprotes, ternyata Kayla lebih dulu protes.


"Cukup Ken, kamu udah keterlaluan! Jangan fitnah, kamu tuh gak tau apa-apa. Aku lebih kenal Alex dan aku tau gimana dia." ucap Kayla bergetar.


Kenzo sedikit terperangah mendengar pembelaan Kayla untuk Alex. "Gue emang gak tau kejadian itu, tapi saksinya banyak. Iya kan? Tiga orang saksi, mereka ngomong hal yang sama ke gue, apa itu gak cukup buat ngebuktiin?"


"Ya, elu lebih kenal dia dibandingin gue, dan elu tau kayak gimana dia. Elu tau!" Kenzo mengalihkan tatapannya kepada Alex. "Pembully, kasar, gak berperasaan, brengsek!"


"Itu dulu, Ken!" jawab Kayla marah. "Kamu gak berhak ngungkit masa lalu orang yang udah berubah."


"Tapi Kay-.."


"Cukup! Udah cukup, Ken.." Kayla terisak.


Mendengar pembelaan dari Kayla, Alex memberanikan diri untuk sedikit mengangkat kepalanya demi melihat wajah gadis yang ia cintai itu.


"Gak perlu lu tangisin cowok kayak gitu! Dia udah ngehina elu, tapi lu masih bela dia? Kenapa? Elu takut, takut terancam lagi, iya kan, karena dia yang berkuasa di sekolah. Jadi.. elu ngerasa gak berdaya?" kata Kenzo datar dan rendah.


"Ken kamu bisa diam kan?!" kesal Kayla.


"Gak bisa! Mana bisa gue diam elu diperlakuin kayak gitu sama dia, dia ngelecehin lu di depan umum Kay! Satu sekolah tau, dan hampir satu sekolah jadi saksi kebrengsekan dia!" suara Kenzo kembali meninggi, tapi mulai parau dan bergetar.


Pak William menatap tajam ke arah Alex, melihat Alex yang masih terdiam kemarahan dan kekecewaan Pak William bertambah. Begitu juga yang dirasakan oleh Vanessa dan Nadia. Tentu dua ibu ini sulit mempercayai apa yang baru saja mereka dengar, itu sangat menyakitkan dan memalukan.


"Tapi apa? Apa ada yang ngelapor, ada yang maju jadi saksi di depan guru? Enggak! Apa dia dihukum, diadili? Enggak! Kenapa semua orang diam, dan elu juga diam Kay." lanjut Kenzo marah.


"Harusnya kalian semua tau masalah sebesar ini, harusnya kalian tau waktu itu gimana baj****nnya dia, dan gimana menderitanya Kayla." Kenzo berapi-api, ia menatap satu persatu wajah para orang tua di depannya, dan berhenti pada Pak William.


"Anda. Apa gak ada yang bilang ke anda tentang sebusuk apa putra anda ini di sekolah? Gimana mungkin orang terhormat seperti anda membiarkan tindak kriminal itu terjadi di ruang lingkup kekuasaan anda? Yang bahkan pelakunya adalah putra anda sendiri!"


Kenzo begitu marah sampai ia berani menatap Pak William dengan remeh dan berkata sarkas seperti itu. Dan Pak William yang sudah terlalu malu dan kecewa hanya bisa diam tanpa mengangkat kepalanya.


"Al, ngomong nak! Jelasin kalo semua yang dia katakan itu fitnah, kamu gak sejahat yang dia bilang, mama tau itu!" Vanessa memegang erat lengan Alex, dan Alex masih diam.


"Siapapun yang ngehasud kamu buat berani ngomong selancang ini.. kesaksiannya gak bisa dipercaya. Kamu gak akan semarah ini kalo yang dia ceritain itu benar-benar seperti yang terjadi, Ken" kata Kayla lirih.


"Lily..sayang..? Bilang kalo Kenzo cuman salah paham, kamu gak sampe ngalamin hal seburuk itu kan nak?" tanya Nadia disela isakannya.


"Enggak mi, itu fitnah. Yang Kenzo bilang gak semuanya benar,-.."


"Dan gak semuanya salah!" sela Kenzo cepat.


"Cukup Ken! Apa yang kamu mau, kamu mau ngehancurin hidup aku, heh? Udah aku bilang itu masa lalu, masa laluku Ken! Kamu ngungkit itu sama aja kamu nyakitin aku."


"Masa lalu elu. Jadi itu benar kan? Kejadian itu emang ada kan, elu gak bakal nangis sebegininya kalo yang gue bilang itu gak benar. Dia udah bikin elu menderita kan Kay?!" marah Kenzo.


Kayla mendesah nafas berat, ia lalu melirik Alex. Alex buru-buru mengalihkan pandangannya dan kembali menunduk. la merasa terguncang dan terlalu malu, sehingga ia tidak tahu harus apa sekarang.


"Mi.. minta Kenzo diam, atau suruh dia pergi..hiks.." rengek Kayla terisak, ia lalu memeluk mami.


"Al, ayo ngomong! Jangan diam aja dong, jelasin kalo kamu nggak melakukan kejahatan itu! Kamu sayang kan sama Kayla, kamu gak akan sanggup nyakitin dia, iya kan nak?" Vanessa mulai terbawa emosi yang sudah lelah ia tahan.


"Dia mau ngomong apa kalo dia emang bersalah?!" suara Pak William mendominasi, ia benar-benar sudah geram.


Alex memejamkan matanya frustasi. Alex merasa hatinya luluh lantak, sakit sekali, dan tentu saja merasa bersalah. Dadanya begitu sesak, bahkan untuk sekedar bernafas saja rasanya berat.


"Sudah cukup. Ayo pulang!" Pak William berdiri kemudian menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


Pak William tak kuasa berkata apa-apa lagi, bahkan sekedar untuk mengucapkan pamit pada sang tuan rumah yang kini merasa terguncang pun tak sanggup. Om Iwan pun berdiri dan membalas perlakuan Pak William, menangkupkan kedua tangannya di depan dada, tanda menghormati tamunya.


Sejujurnya Alex tidak ingin pergi sekarang, tapi ia harus mengerti situasi disini. "Ayo Al!" tarik sang mama.


Dengan berat hati ia berdiri. Vanessa memohon maaf pada Nadia dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada, serta raut wajah yang menyiratkan penyesalan. Dengan berat Nadia pun membalas Vanessa tanpa melihat wajahnya.


"Om, Tante, tolong jangan pergi sebelum kita selesain masalah ini. Masalahnya-.."


"Lily..." cicit sang mami mencegahnya. Mami lalu menggeleng, seolah mengisyaratkan 'biarkan mereka pergi!'


"Mi, biarin Lily jelasin yang sebenarnya, biar gak ada kesalah pahaman. Lily bisa tanganin ini, biar keadaannya gak makin kacau, mi"


Nadia tetap melarang Kayla, namun Kayla masih bersikeras.


"Om, Tante, saya mohon-.."


"Buat apa lu mohon-mohon ke mereka Kay? Harusnya mereka yang malu dan mohon-mohon sama lu."


Tangan Pak William terkepal kuat, seandainya ia tidak memperdulikan reputasinya, ia pasti sudah memukul Kenzo. Sedangkan Vanessa hanya tertunduk.


"Biar Alex sendiri yang jelaskan pada orang tuanya. Dan kamu jelaskan pada orang tua kamu. Semoga kekacauan ini bisa diperbaiki." Pak William menangkupkan kedua tangannya sekali lagi sebelum berbalik dan pergi.


"Kenzo benar. Aku emang baj****n, dan.. aku gak pantes buat Kayla." ucap Alex lirih.


Kayla hanya bisa terpaku mendengarnya, sejujurnya ia kecewa. Kenapa Alex tidak membela dirinya sedikitpun, bahkan dia mengakui tuduhan Kenzo yang begitu menyudutkannya itu. Kemana keberaniannya, ketegasannya, dan sifat kerasnya?! Setidaknya dia membela harga dirinya didepan para orang tua ini. Tapi tidak, dia hanya diam. Dan ketika dia angkat bicara, dia malah mengatakan sesuatu yang menyakitkan itu.


Alex pun menangkupkan kedua tangannya di depan dada, ia mendongak sekilas melihat wajah Kayla dengan tatapan kosongnya. Kemudian Om lwan, Om lwan langsung memalingkan wajahnya. Dan terakhir Tante Nadia. Dengan berat hati Nadia memalingkan wajahnya dari Alex, Nadia tidak mau melihat wajah Alex, atau perasaannya akan bertambah sakit dan kecewa.


Akhirnya Alex berbalik dan keluar bersama sang mama, sedangkan papanya sudah lebih dulu keluar. Kenzo nampak lega, namun matanya masih mengawasi Alex. Alex melewatinya begitu saja tanpa meliriknya sedikitpun.


Sementara Kayla masih terpaku ditempatnya duduk. Tak lama kemudian..


"Puas kamu Ken?!" ucap Kayla pelan dan lirih.


"Hapus air mata lu, Kay! Jangan sia-siain tenaga dan air mata lu buat cowok kayak dia!"


"Gue ngerti perasaan lu, gue tau lu menderita gara-gara dia. Trus apa yang lu lakuin hari ini, elu malah mau nerima dia? Elu mau bikin hidup lu lebih menderita, lu mau ngejebak diri lu sendiri buat hidup sama dia? Gue gak akan biarin itu, Kay!"


"Kamu gak tau apa-apa Ken, kamu juga gak ngerti perasaan aku! Kamu gak berhak ngehina Alex kayak gitu, kamu salah ngenilai dia!"


Kayla menatap wajah resah Om nya. "Apa Om pikir aku bakal ngebela orang yang salah? Alex dulu emang jahat, tapi dia udah berubah. Dia udah nyesalin perbuatannya, dia udah minta maaf berkali-kali sama aku"


"Berubah? Elu pikir dia beneran berubah, elu pikir cowok kayak gitu bisa berubah Kay?! Enggak. Dia cuman pura-pura, dia nyari muka doang sama lu! lya keliatannya dia baik sekarang, tapi ntar kalo dia udah dapetin lu.. dia pasti balik lagi ke sifat aslinya. Gue tau cowok model gitu Kay, jangan percaya! Gue gak akan biarin lu jatuh ke pelukan dia" sungut Kenzo kesal.


"Jangan sok tau! Kamu gak bisa ngenilai orang cuman dari masa lalunya, kamu gak tau apa aja yang dia laluin buat bisa berubah. Aku percaya sama dia, karena aku liat prosesnya. Ada alasan dibalik semua perbuatan seseorang Ken, kamu gak akan ngerti kalo kamu gak ngerasain sendiri apa yang dia rasain." lirih Kayla dengan suara rendah.


Kenzo terkekeh, "Ya. Ada alasan dibalik semua perbuatan seseorang. Dan gue juga punya alasan kenapa gue sampe kayak gini. Gue sayang sama lu Kay, elu tau itu. Gue gak mau elu ngambil keputusan terburu-buru, yang nantinya bakal lu sesalin, dan bakalan ngehancurin hidup lu."


"Makasih Ken! Tapi yang kamu lakuin barusan.. udah bikin hidupku hancur"


Duaarr.......


Kenzo membulatkan matanya seketika. Kayla marah, kecewa dan sangat sedih. Dadanya sudah sesak saat ini, ia beranjak dari duduknya dan hendak masuk kekamarnya.


"Kay tunggu!" Kayla pun berhenti.


"Tante, Om, apa kalian juga nganggap aku salah? Apa kalian bisa terima Kayla dapetin perlakuan seburuk itu, apa kalian akan biarin Kayla hidup bersama cowok kayak gitu? Enggak kan?! Kayla mungkin bisa pasrah karena dia ngerasa hancur, tapi aku gak akan biarin dia bikin hidupnya lebih hancur lagi"


Om lwan dan Tante Nadia terdiam dalam kebingungan, kesedihan dan rasa sakit mereka.


"Kamu gak ngerti Ken" jawab Kayla lemah, tanpa berbalik melihat Kenzo.


"Lily.. kenapa kamu gak bilang sama mami, sayang? Kapan itu terjadi, semenderita apa kamu, kenapa mami gak tau?! Sejak kapan kamu nanggung beban sendirian sayang, ada mami, ada mami disini! Kenapa kamu gak ngomong.." lirih mami disela tangisannya.


Kayla segera berbalik dan memeluk mami. "Enggak mi. Enggak ada yang terjadi, Lily baik-baik aja. Lily masih anak mami yang sama, tolong jangan liat Lily kayak gitu mi.."


"Kenapa Alex tega? Kenapa dia bisa-.."


"Ssst... denger Lily, Alex gak sejahat itu. Biar Lily jelasin ya Mi, Om, kejadiannya gak seburuk yang kalian kira." Kayla melepas pelukannya sambil menghapus air matanya.


"Ken, ayo duduk!" Kenzo memalingkan wajahnya.


"Ken aku masih ngehargain kamu setelah apa yang udah kamu lakuin. Aku yakin kesaksian yang kamu dengar itu ada yang dilebih-lebihin. Jadi, dengerin kebenarannya langsung dari aku!"

__ADS_1


"Gue yakin kok mereka gak bohong. Apa harus gue minta kesaksian anak-anak satu sekolah? Intinya sama aja kan, elu dizolimin."


"Kamu harusnya klarifikasi ke aku dulu sebelum kamu ngacauin acara lamaran aku. Aku udah nutup aibku dan pengalaman burukku itu rapat-rapat, Alex juga. Tapi kamu seenaknya ngebuka itu di depan orang tuaku dan orang tuanya Alex."


"Mereka emang harus tau Kay. Kalo malam ini bukan acara lamaran lu, mungkin gue masih bisa nahan diri gue. Tapi gak ada waktu lagi kan, Tante Nadia, Om Iwan, dan terutama orang tua dia harus tau soal itu. Kalian mau bangun hubungan serius, tapi kenapa nyembunyiin kebenaran? Bukannya hubungan itu dibangun dengan kejujuran?"


"lya kan Tante?" tanyanya pada Tante Nadia.


"Ken, kadang ada kebenaran yang gak harus diungkapin. Kebenarannya juga gak terlalu buruk buat disembunyiin, malah kalo diungkapkan itu bisa bikin orang yang kita sayang sedih. Kamu liat, mamiku nangis, Om ku juga sedih, kamu sia-siain usahaku, Ken!"


"Kayla, kamu gak harus nganggung penderitaan sendiri nak. Masalah sebesar ini harusnya kamu ceritain, apa kamu pikir Om rela kamu disakitin?!" kata Om lwan sambil memegang wajah Kayla.


"Masalahnya gak sebesar itu Om, aku masih bisa hadapin masalah itu sendiri. Dan fakta yang sebenarnya juga gak seburuk yang kalian kira. Reaksi Kenzo yang berlebihan, dan bikin kalian semua salah paham."


"Salah paham? Elu anggap masalah itu gak besar Kay, dia udah nginjek harga diri lu didepan umum, elu dihina, dipermaluin, dan dianiaya. Itu yang lu bilang bukan masalah besar?!" ucap Kenzo emosi.


"Lily.. bilang sama mami, apa yang udah Alex lakuin ke kamu sayang!"


Kayla terdiam beberapa saat, kemudian ia menceritakan kronologi kejadian yang sangat membuatnya terpukul saat itu. Insiden memalukan yang sempat membuatnya trauma dan terpuruk, pengalaman buruk yang paling ingin ia lupakan. Insiden dimana Alex dengan kasar menciumnya secara paksa di depan banyak siswa. Kayla juga menjelaskan apa penyebab yang memicu hal buruk itu terjadi. Ya, Alex memang salah, tapi Kayla tidak sepenuhnya menyudutkan Alex. Karena di detik-detik sebelum insiden buruk itu menimpanya, Kayla juga cukup keterlaluan berkata-kata yang merendahkan harga diri Alex.


Nadia menangis sesenggukan mendengar cerita Kayla, dan Om lwan menenangkannya. Kayla melirik ke arah Kenzo yang kini tertegun namun ekspresi wajahnya masih menunjukkan kemarahan.


"Dan elu pingsan kan Kay, elu ditinggalin sendirian. Mereka semua sama aja, gak punya hati."


"Aku nggak pingsan, Ken. Kamu nggak tau situasinya saat itu, jadi kamu nggak perlu nyalahin siapa-siapa."


"Apa? Gimana bisa elu ngomong kayak gitu?! Kasus seserius itu gak ditindak sama pihak sekolah, iya kan Kay! Bahkan guru gak percaya kalo itu sebuah penganiayaan. Kenapa? Karena Alex yang lebih berkuasa disana. Apa itu adil?!"


"Gimana mungkin pihak sekolah mengabaikan tindakan murid yang seperti itu?" protes Om lwan.


"Mau gimana lagi Om, sekolah juga punya papanya Alex kan. Guru sekalipun gak ada pengaruhnya buat murid kurang ajar itu." sahut Kenzo sarkas.


"Tapi ini gak bisa dibiarin, pelaku kriminal harus diadili secara hukum." ucap Om Iwan marah.


"Om, Lily udah lupain kejadian itu. Alex juga udah tobat kok, dia udah berubah. Tolong jangan dibesar-besarin ya." pinta Kayla.


"Tapi dia harus dihukum, Kayla. Kejahatan yang dia lakukan ke kamu itu bisa kena pasal berlapis, gak main-main. Om bisa urus ini, Om gak bisa diam aja."


"Om, janga!n" sergah Kayla.


"Jangan bela dia lagi. Dan yang terpenting, jauhin cowok brengsek itu!" gertak Om Iwan, membuat Kayla terpaku kaget.


Om Iwan lalu beranjak, "Mas akan urus kasus ini Nad, kamu jangan terlalu cemas. Gak peduli dia siapa, anak itu harus mempertanggung jawabkan kejahatannya."


"Mi..?" kata Kayla lirih sambil melirik maminya dan Om lwan bergantian, ia takut Om Iwan akan melaporkan Alex ke polisi.


"Lupain soal lamarannya ya, sayang."


Kayla tidak percaya mami akan berkata begitu. "Alex udah berubah mi, mami tau sendiri kan?! Alex itu baik, dia sopan. Mami tau itu. Dia udah gak kayak dulu lagi mi..di sekolah pun sekarang udah gak ada kejahatan atau pembullyan lagi."


Karena mami hanya diam, Kayla pun beranjak menyusul Om lwan yang berjalan keluar rumah.


"Om, keadaannya sekarang udah beda. Alex udah berubah, gak ada kasus lagi di sekolah, gak ada korban lagi. Aku juga udah maafin dia. Tolong jangan buka kasus itu ya Om, aku mohon.." Kayla memegang tangan Om nya dan menggenggam penuh harap.


"Aku udah susah payah lupain kejadian itu, Om. Aku udah ikhlas, dan aku juga nggak kehilangan apapun. Om gak perlu ngelakuin apa-apa. Semuanya udah baik-baik aja, Om." bujuk Kayla lagi.


"Apa kamu yakin nak?"


Kayla mengangguk seraya tersenyum tipis, ia mulai merasa lega.


"Om akan pertimbangin" ucap Om lwan datar, membuat senyuman Kayla memudar.


"Kalo pun Om gak perlu ngusut kasus itu, Om akan tetap bicara sama Pak William. Dan Alex tetap harus menerima hukuman."


Kayla mematung, sampai Om Iwan mengusap kepalanya dan kemudian berjalan melewatinya, ia baru tersadar.


Semoga kekacauan ini bisa diperbaiki. Semoga hubungan Kayla dan Alex akan baik-baik saja. Itulah harapan Kayla saat ini.


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... ....


... Bersambung...


__ADS_2