Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Bersama Papi


__ADS_3

Kayla mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya ruangan yang menghampiri pandangannya. Setelah ia membuka matanya dengan sempurna ia pun mengernyit, mencoba mengenali pemandangan di sekelilingnya. Asing.


"Aku dimana?" pikirnya.


Kayla terbaring di sebuah ranjang besar yang ia tidak tahu milik siapa. Dimana ia, ia tidak tahu sedang berada di rumah siapa. Kayla bangun duduk, mengingat-ingat sesuatu yang terjadi sebelum ia tidur. Bukan, ia bukan tidur tapi pingsan.


Benarkah ia pingsan? Selama ini Kayla tidak pernah pingsan, dan tentu ia tidak tahu seperti apa rasanya pingsan. Tapi Kayla sangat yakin bahwa ia tidak tidur dengan sengaja sebelumnya, dan tiba-tiba saja ia sudah terbangun di tempat yang tidak ia kenali.


(Flashback On)


Sepulang sekolah, Alex mengajak Kayla makan siang diluar sekalian jalan-jalan. Jadilah Kayla minta diantar pulang dulu untuk mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian santai. Kayla meminta Alex menunggu diluar sembari ia mengganti pakaian.


Setelah Kayla selesai berganti pakaian, ia mendengar sesuatu di dekat jendela kamarnya. Karena penasaran ia pun mendekat ke arah jendela dan mengecek. Tidak ada apa-apa, tapi tiba-tiba saja perasaannya tidak enak.


"Ah mungkin cuman kucing" pikirnya sambil menggelengkan kepala, mengusir pikiran tak enaknya.


Kayla pun berbalik akan keluar kamar, ia meraih tas kecilnya dan ia selempangkan dibahu. Kemudian pintu belakang kamarnya berbunyi, membuat Kayla terperanjat kaget. Belum sempat ia berbalik memastikan apa yang terjadi, matanya membulat sempurna saat tiba-tiba mulutnya dibekap dari belakang. Entah siapa, tapi Kayla yakin jika orang itu adalah seorang laki-laki. Kayla didekapnya dari belakang dan ditarik mundur menuju keluar dari kamarnya, dengan gerakan cepat dan terburu-buru. Orang itu tak memberi Kayla kesempatan untuk bersuara ataupun menghindar, bahkan untuk melihat wajahnya saja Kayla tidak mampu.


Tapi Kayla tak gentar, ia menyadari dirinya dalam bahaya dan ia mencoba membebaskan diri dari kendali orang yang terus menyeret tubuhnya ini. Karena teriakannya tertahan, Kayla melambai-lambaikan tangannya ke segala arah, mencari apa saja yang dapat membantu dirinya. Setidaknya ia bisa membuat suara dengan barang-barang yang ia sentuh, untuk memberi isyarat pada Alex yang berada didepan rumahnya.


"Tolong AI..!" pekiknya, namun hanya bisa ia ucapkan dalam hati saja.


Kepala Kayla mulai pusing, entah kain apa yang orang itu gunakan untuk membekap mulut Kayla, aromanya sangat membuat pernafasan Kayla tidak nyaman. Apa mungkin kain ini mengandung obat bius?? Oh, gawat! Kayla berusaha menahan dirinya agar tetap sadar, ia harus melakukan sesuatu agar Alex tahu bahwa saat ini ia dalam bahaya, dan sangat membutuhkannya.


Sebuah ide muncul di kepala Kayla. Saat tubuh Kayla terseret ke arah pintu belakang, ia mengumpulkan tenaganya sebanyak yang ia punya, lalu ia mendorong orang yang mendekapnya dari belakang ini dengan tubuhnya sendiri. Sehingga punggung orang itu menghantam pintu dengan cukup keras, dan pegangannya pada tubuh Kayla melonggar. Kayla menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri, namun malangnya ia malah terjatuh terjerembab ke depan. Padahal tangan Kayla sempat berpegangan pada meja nakas di sampingnya, tapi karena kurang perhitungan serta tubuhnya yang mulai lemah, ia malah terjatuh dan membuat nampan kecil yang ada diatas nakas ikut jatuh. Nampan kecil berisi gelas itu jatuh kelantai, dan gelasnya pun pecah. Jam weker Kayla yang ikutan jatuh juga pecah.


"Awh...!" jerit Kayla saat mendapati telapak tangan kirinya tergores pecahan gelas yang baru saja pecah.


"Tol-.."


Tanpa membuang waktu, orang yang berniat jahat pada Kayla itu kembali membekap mulut Kayla sebelum Kayla sempat berteriak. Sialnya, kain beraroma tidak enak itu kembali mengganggu pernafasan Kayla. Bahkan kali ini aromanya lebih menyengat dari sebelumnya, membuat Kayla lemas dan pusing. Tidak banyak yang bisa Kayla lakukan dalam situasi seperti ini, ia hanya berharap Alex mendengar suara gaduh didalam kamarnya ini dan segera datang untuk menolongnya.


Setelah itu Kayla tidak tahu lagi apa yang terjadi.


(Flashback O**ff**)


"Halo anak papi.. apa kabar?"


Kayla terkesiap mendengar sapaan ramah dari seseorang yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping ranjang tempatnya berada. Mata Kayla membulat sempurna melihat siapa yang baru saja menyapanya. Jantungnya berdegup kencang, ada rasa yang membuncah seketika di dadanya.


"P-..papi..." lirihnya pelan, hampir tak percaya dengan yang ada dihadapannya.


Kayla rindu papi, tapi juga takut. la hanya bisa terpaku saat pria paruh baya itu tersenyum padanya lalu duduk di sisi ranjang, berhadapan dengannya. Seketika kilasan balik berbagai momen dimasa lalu bermunculan di ingatan Kayla. Saat ia dimanja oleh sang papi, bermain bersama, dengan kasih sayang yang sempurna. Kemudian saat dimana sang papi menunjukkan perubahan dan amarahnya, sampai terjadinya tragedi buruk yang sampai sekarang masih sulit ia lupakan.


"Kamu takut sama papi?"


Kayla kembali terkesiap, ia masih melongo tak tau harus bereaksi seperti apa. Arman, sang papi meraih tangan kiri Kayla yang berbalut perban. Kayla sempat terperanjat kecil saat papinya menyentuh tangannya, ia memberikan reaksi spontan atas tindakan itu. Kayla memandang tangannya yang dipegang oleh sang papi, perban ini pasti disebabkan luka telapak tangannya yang tergores pecahan gelas. Apakah goresan itu mengeluarkan banyak darah, sehingga tangannya harus dibalut perban sebanyak ini? Entah kenapa malah pertanyaan itu yang terlintas di benak Kayla.


"Maafin papi, papi harus bawa kamu dengan cara kayak gini. Mami kamu nggak ngizinin papi buat ketemu kamu, padahal papi kangen banget sama kamu."


Kayla mengalihkan pandangannya ke wajah sang papi. Benarkah kata papi? Benarkah yang Kayla dengar?


"Papi kangen aku..?" ulangnya dalam hati.


"Kamu masih marah sama papi? Kamu benci sama papi? Apa kamu nggak kangen sama papi?"


Kayla menggeleng-geleng lalu terdiam saat papinya bertanya yang terakhir. la menatap wajah papinya lamat-lamat, sampai ia yakin bahwa memang kerinduan seorang ayah yang tampak di mata papinya.


"Lily kangen sama papi" ucapnya lirih.


Senyuman Arman melebar, ia merentangkan kedua tangannya di depan Kayla. "Kalo gitu ayo peluk papi!"


Kayla pun menghambur memeluk sang papi yang ia rindukan.


... __________________...


Alex mengendarai motornya dengan kencang, melampiaskan amarah yang tertahan. Sungguh, Alex begitu menyesal dan merasa tak berguna. Bagaimana bisa ia lengah menjaga Kayla sehingga gadisnya itu menghilang tanpa ia sadari. Bahkan hilangnya Kayla meninggalkan tanda-tanda yang seharusnya bisa Alex sadari sejak awal, Alex merutuki kebodohan dirinya sendiri.


Saat ia menunggu Kayla berganti pakaian, ada seorang pria berseragam driver ojek online memanggilnya di depan pagar rumah Kayla. Alhasil ia pun beranjak dari duduknya dan menghampiri pria itu. Pria itu bertanya alamat padanya, tapi yang mengesalkan adalah pria itu tidak mematikan mesin motornya sehingga obrolan mereka agak terganggu, dan keduanya harus berbicara lebih keras agar suaranya jelas terdengar masing-masing.


"Brengsek!! Harusnya gue gak samperin tuh orang, gara-gara dia gue jadi gak denger apa-apa di rumah Miss Kissable!"


"Aaakh.. sial!" rutuknya geram.


"Apa jangan-jangan orang itu sengaja ngecoh gue?" pikirnya.


"Sialan! Siapa pun elu, dan yang nyulik Miss Kissable gue, gak bakal gue kasih ampun!"


Saat ini Alex sedang berkendara menuju kantor tempat Tante Nadia bekerja. Sebenarnya Alex tidak ingin Tante Nadia tahu masalah ini, karena Tante Nadia pasti syok dan akan marah serta menyalahkan Alex, lagi pula ini memang kesalahan Alex. Kesalahan yang memalukan bagi seorang pria. Tapi jika benar yang menculik Kayla adalah papinya sendiri, maka Tante Nadia kemungkinan besar tahu kemana Kayla dibawa. Mau tidak mau Alex harus memberitahu Tante Nadia kabar buruk ini, demi mencari keberadaan Kayla dan menyelamatkannya. Karena tidak mungkin Alex memberitahu masalah seserius ini lewat telpon, ia memutuskan untuk menemui Tante Nadia secara langsung.

__ADS_1


Derrt...dertt..


Ponsel Alex berdering untuk yang ketiga kalinya, ada panggilan masuk. Alex tahu, tapi ia mengabaikan ponselnya dan siapapun yang menelponnya disaat kalut begini. Tapi kali ini ia penasaran juga siapa yang menelponnya sampai tiga kali berturut-turut, seolah penting bagi Alex meladeninya. Dengan kesal Alex merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya.


"Tante Nadia!" gumamnya kaget.


Ternyata Tante Nadia yang menelpon. Dengan perasaan tak karuan, Alex menepikan motornya kemudian memberanikan diri mengangkat telpon Tante Nadia. Apapun yang akan dikatakan atau ditanyakan oleh Tante Nadia, Alex harus menghadapinya dan menanganinya dengan gentle. la menarik nafas sebelum mengangkat telpon.


"ALEX?!"


Alex kaget, Tante Nadia langsung memekik sesaat setelah telpon tersambung. Dan belum sempat Alex menjawab, Tante Nadia kembali berucap.


"Apa yang terjadi? Kamu nggak sama Lily?! Udah Tante bilang.. jagain Lily! Kamu gak bisa diharepin ya!! Tante gak mau tau, cari Lily sampe ketemu! Bawa dia pulang dengan selamat! Sebelum malam kamu udah harus bawa Lily pulang, dan jangan sampe kurang satu apapun! Ngerti?"


Alex terpaku. Tante Nadia membentaknya dengan nada yang begitu frustasi, tapi bagaimana Tante Nadia tahu yang terjadi pada Kayla?


"M-..maaf Tante.. aku-.."


"Tante gak mau denger maaf dari kamu! Tante gak mau tau, kamu harus selamatin Lily! Kalo sampe terjadi sesuatu sama Lily, Tante-.."


"Enggak Tante, gak bakal terjadi apa-apa sama Lily. Aku pasti bawa Lily pulang dengan selamat, aku janji."


Alex hanya mendengar suara dengusan nafas dari seberang sana sebelum Tante Nadia memutuskan sambungan telpon begitu saja. Sepertinya Tante Nadia sangat marah dan kecewa sekali pada Alex. Alex menggeram marah pada dirinya sendiri.


Alex menghembuskan nafas berat. Sudah dulu menyalahkan diri sendiri, yang terpenting sekarang ia harus menyelamatkan Kayla bagaimana pun caranya. Alex juga sampai berjanji pada Tante Nadia, bahwa ia akan membawa Kayla pulang dengan selamat. Meski yakin, Alex sebelumnya tidak pernah membuat janji apapun dan kepada siapapun. Tapi kali ini ia harus berjanji pada Tante Nadia demi meyakinkan dan menenangkan hati calon mertuanya itu. Sekarang ia harus menemui Tante Nadia secepatnya dan bertanya tentang papi Kayla, karena akan membuang waktu jika berbicara lewat telpon. Lagipula Tante Nadia sangat marah kan, tidak baik jika Alex menelponnya sekarang meski menyangkut Kayla.


Alex pun kembali melajukan motornya menuju kantor Tante Nadia. Sesampainya di kantor, Alex bergegas masuk dan mencari Tante Nadia, namun calon mertuanya itu tidak berada di tempat.


"Mana Tante Nadia?" tanya Alex pada salah satu karyawan.


"Mas Alex!" karyawan wanita yang ditanya malah terkesima melihat kehadiran Alex, membuat Alex mendengus.


"Oh iya Mas, Mbak Nadia tadi pergi" jawabnya kemudian.


"Pergi?" bingung Alex. "Kemana?"


"Saya nggak tau Mas. Tapi kayaknya Mbak Nadia ada masalah, soalnya perginya kayak buru-buru gitu"


Alex semakin serius mendengar pernyataan karyawan itu. "Apa yang terjadi sebelum Tante Nadia pergi?"


Karyawan itu terdiam mengingat-ingat. "Oh iya, Mbak Nadia nerima telpon. Abis itu Mbak Nadia langsung panik dan buru-buru pergi"


"Kalo itu saya nggak tau, Mas." sesal karyawan itu.


"Tante Nadia nerima telpon dari seseorang, trus panik dan buru-buru pergi. Apa orang itu yang ngasih tau Tante Nadia soal Miss Kissable?" pikir Alex.


"Sebelum nerima telpon, Tante Nadia ada nelpon seseorang nggak?" tanya Alex lagi pada karyawan itu.


"Seingat saya enggak ada, Mas."


"Berarti.. waktu Tante Nadia nelpon gue dia udah nerima telpon dari orang itu" gumam Alex dalam hati.


"Ck, siapa sih?!! Sialan!" rutuk Alex dalam hati.


"Eh tapi Mas, maaf... sebelum Mbak Nadia bener-bener pergi, Mbak Nadia ada nyebut nama Mas Alex." kata karyawan itu lagi.


Alex menghembuskan nafas berat. "Tante Nadia bener gak bilang mau kemana? Nemuin siapa gitu?"


"Enggak Mas, saya sempet tanya tapi gak dijawab sama Mbak Nadia"


Alex segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomer Tante Nadia, tapi tidak tersambung. la mencoba lagi, namun kali ini nomer ponsel Tante Nadia tidak bisa dihubungi. Sepertinya ponselnya mati. Untuk memastikan Alex mencoba menghubungi lagi, tetap tidak bisa. Alex memejamkan matanya, menyesalkan yang terjadi. Sekarang bagaimana caranya ia mencari keberadaan Kayla, sementara satu-satunya kunci informasi yaitu Tante Nadia tak bisa ia hubungi. Dan entah kemana Tante Nadia.


Alex menilik jam tangannya, lalu mencocokkan dengan waktu panggilan di ponselnya. Tante Nadia menelponnya sekitar sepuluh menit yang lalu, artinya Tante Nadia menerima telpon dari seseorang itu belum lama juga. Alex pun bergegas pergi untuk mencari Tante Nadia, karena mungkin calon mertuanya itu belum terlalu jauh dari sini.


"Makasih Mbak!" ucap Alex pada karyawan yang ia tanyai tadi sebelum pergi.


"lya Mas, sama-sama."


... ....


... ....


... ....


Alex pikir mungkin Tante Nadia pulang ke rumah, tapi ternyata tidak. Alex kembali menghubungi nomer Tante Nadia namun masih tidak bisa. Semakin frustasi, Alex kembali merutuki kelalaiannya menjaga Kayla. Entah dimana sekarang gadis nya itu berada, dan bagaimana keadaannya, Alex belum tahu. Sekarang malah Tante Nadia ikutan mengkhawatirkan. Alex merasa begitu buruk dan bodoh, ia bingung bagaimana caranya menyelamatkan Kayla dan juga menemukan Tante Nadia.


Setelah terduduk berpikir beberapa menit, ia mendapat sebuah titik terang. la segera meraih ponselnya untuk menghubungi Om lwan, mungkin Tante Nadia ada bersama saudaranya itu. Namun ternyata Om lwan tidak tahu apa-apa, dan Alex tidak memberitahu Om Iwan tentang kekacauan yang terjadi. Kemudian Alex pergi menemui Bang Ardi, temannya sejak kecil sekaligus pekerja Telephone Operator Front Office di hotel bintang lima milik papa Alex. Alex meminta Bang Ardi mengecek dan menelusuri nomer ponsel Tante Nadia, demi melacak keberadaannya.


Berhasil, Bang Ardi menemukan titik posisi ponsel Tante Nadia berada.

__ADS_1


"Aktif sekitar sepuluh menit yang lalu, Al. Kemungkinan sih calon mertua lu itu ada di lokasi ini" jelas Bang Ardi sambil menunjuk layar monitornya.


"Oke, tapi dimana itu Bang? Kayaknya jauh banget dari sini"


"Ini menuju Bandung Al" jawab Bang Ardi, membuat Alex kaget.


"Bandung?!"


Dugaan Alex semakin kuat, bahwa papi Kayla lah pelakunya. Pertama dia membawa Kayla, kemudian mengancam Tante Nadia sehingga Tante Nadia panik dan menyusul ke Bandung? Baiklah, Alex segera meluncur.


"Thanks Bang!" Alex menepuk pundak Bang Ardi kemudian melenggang pergi.


... __________________...


Kayla senang sekali, bisa menikmati makan siang berdua dengan papinya. Jika diingat-ingat sudah lama sekali Kayla tidak menghabiskan waktu bersama papinya. Terakhir Kayla ingat, ia menghabiskan waktu dengan sang papi adalah saat ia masih kelas 6 SD. Setelah itu papinya selalu sibuk, dan akhirnya berubah.


"Pi, ini rumah papi ya?"


"Hm" jawab Arman sambil mengunyah makanannya.


"Kamu suka disini?"


Kayla tersenyum manis, "Lily senang. Abis ini ajak Lily liat-liat keluar ya pi!"


"Kamu di kamar aja. Sebentar lagi ada tamu"


"Tamu?" bingung Kayla.


"Hm. Cepat abisin makan kamu, Tamunya sebentar lagi sampe." kata Arman setelah mengecek ponselnya.


Kayla mulai merasa papinya kembali bersikap dingin, sesaat setelah mengecek pesan yang masuk ke ponselnya beberapa menit yang lalu. Padahal tadinya papi sangat hangat pada Kayla.


Setelah Arman selesai makan, ia langsung meninggalkan Kayla di kamar sendirian, dan tak lupa mengunci pintu kamar. Kayla merasa heran, kenapa ia harus dikunci dikamar. Bukankah ini rumah papinya sendiri, dan kenapa ia tidak diizinkan keluar dari sini.


Setengah jam kemudian, Arman masuk ke kamar Kayla bersama seorang pria paruh baya yang berwajah sangar. Baru melihat Kayla, pria itu langsung menyeringai.


"Apa ini tamu papi? Tapi kok papi ngajak dia ke kamar sih?" gumam Kayla dalam hati.


Arman mengajak pria sangar itu berjalan mendekat ke arah Kayla yang sedang duduk di tepi ranjangnya. Pria sangar itu memperhatikan Kayla dari bawah ke atas sambil tersenyum misterius, membuat Kayla risih.


"Kayla, ini Bos papi, King X"


Perasaan Kayla tidak enak, jadi pria sangar didepannya ini Bos papi! Untuk apa papi memperkenalkan Kayla pada Bos papinya? Apakah pria yang disebut Bos oleh papi ini, adalah yang selama ini mempekerjakan papi? Batin Kayla bertanya-tanya. Jika benar, maka ini pertanda buruk. Kayla mulai gusar, ia menatap papinya penuh tanya, berharap kecurigaannya salah dan papi akan segera mengatakan sesuatu yang membuatnya tenang. Tapi tidak, sang papi malah menatap Kayla datar, itupun hanya sekilas. Hati Kayla semakin tidak tenang tapi ia masih berharap tidak akan terjadi hal yang buruk, karena ia bersama dengan papinya.


Pria sangar itu lalu menarik tangan Arman dan berbalik, membawanya sedikit menjauh dari Kayla, namun masih di dalam kamar itu. Mereka berbisik, dan Kayla tanpa ragu menguping untuk memastikan kecurigaannya tidak benar.


"Dia udah tau?" tanya pria sangar itu pada Arman.


"Belum Bos."


"Ck, kapan elu mau kasih tau? Enggak ada waktu lagi Man!" bentak pria itu dengan suara berbisik.


"Sorry Bos, secepatnya gue kasih tau."


"Gue gak mau tau, elu harus inget perjanjian kita. Malam ini dia udah harus siap!"


Kayla terbelalak, jantungnya berdesir takut.


"Apa harus malam ini Bos? Kasih gue waktu, gue janji besok malam Kayla pasti siap"


"Malam ini!! Gak ada negosiasi lagi!!" bentak pria itu geram.


"Inget, sebelum jam tujuh elu sama dia udah sampe di tempat!" pria itu memberi peringatan keras sambil melotot dan menunjuk wajah Arman.


"Bos, ini barang langka. Bisa lah sabar dikit.. gak gampang dapetin cewek suci yang sesuai kriteria kita jaman sekarang ini. Bukannya kita bisa dapetin harga yang fantastis kalo langsung ada yang nawar?"


Duaaaaarrrr..............


Apa?! Harga?! Harga apa yang dibicarakan papi? Cewek suci, apa maksudnya? Apa ketakutan mami selama ini akan terjadi? Apa tragedi yang dulu hampir menimpa Kayla, akan menimpanya lagi? Tidak!! Tidak!!


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2