
Berbekal GPS yang berhasil dilacak dengan bantuan Bang Ardi, Alex berangkat menuju Bandung, untuk menyelamatkan Kayla dan Tante Nadia. Dia membawa serta beberapa bodyguard yang mengikuti mobilnya di belakang, untuk berjaga-jaga jika kemungkinan situasi tak terkendali. Beberapa menit yang lalu Alex sudah memasuki kota Bandung, Alex mengamati GPS mobilnya yang menunjukkan bahwa jaraknya menuju ke lokasi keberadaan Tante Nadia adalah sejauh 10 km lagi. Hanya Tante Nadia yang dapat memberi Alex petunjuk, untuk menemukan keberadaan Kayla yang masih jadi misteri. Alex menghela nafas berat berkali-kali, sulit menenangkan dirinya dalam situasi seperti ini, terlebih lagi ia tidak tahu bagaimana keadaan Kayla saat ini.
Derrrtt...derrrrt....
Alex meraih ponselnya yang berdering, Bang Ardi yang menelpon. Alex yakin pasti ada perkembangan dari pelacakan Bang Ardi. Sebelumnya Alex memang meminta Bang Ardi untuk terus memantau keberadaan Tante Nadia melalui monitornya. Berkat keahliannya, dan berbekal nomer ponsel Tante Nadia yang diberikan oleh Alex, Bang Ardi bisa memperoleh segala akses yang terhubung ke nomer Tante Nadia. Alex juga telah meminta Bang Ardi tetap stand by didepan komputer dan peralatan elektronik canggihnya yang lain, sampai Alex berhasil menyelamatkan Kayla dan memastikan keamanan Tante Nadia. Semoga saja panggilan masuk dari Bang Ardi ini adalah kabar baik, dan jalan Alex untuk menemukan Kayla terbuka. Tanpa pikir panjang, Alex segera menggeser tanda hijau di layar ponselnya.
"Ya Bang?" ujar Alex to the point.
"Barusan ada yang nelpon ke nomer calon mertua lu." sahut Bang Ardi di seberang telpon.
"Hah? Siapa yang telpon? Trus gimana Bang?" tanya Alex bertubi-tubi.
"Nomer gak dikenal, tapi kalo lu mau gue bisa lacak GPS nya. Kali aja ada petunjuk."
"Sip Bang! Lacak tuh nomer, insting gue pasti ada hubungannya sama penculikan Kayla."
"Oke"
"Buruan kabarin ya Bang kalo udah dapet!"
"Yo'i, pasti!"
Tut..tuutt...
... __________________...
Kayla duduk meringkuk di samping ranjang, ia menyandarkan punggungnya di tepian ranjang, ia meletakkan kepala bagian kirinya di atas lutut dengan posisi miring, dan memeluk tubuhnya sendiri sambil menangis sesenggukan.
"Ya Allah... tolong Lily..hiks." lirihnya disela isakan yang tak henti.
"Mami...hiks.. mami..."
"Mi.. Lily takut..."
Sebelumnya Kayla sangat berharap mami akan datang menolongnya, mami akan membawanya keluar dari tempat kotor ini. Namun situasi tidak berpihak padanya, kejadian pahit bertubi-tubi menghampirinya, mami ternyata disekap oleh papi Kayla sendiri. Alih-alih bisa menolong Kayla, mami juga butuh pertolongan. Sebelumnya Kayla hanya takut hidupnya hancur, ia mengkhawatirkan nasibnya sendiri. Tapi sekarang ketakutannya bertambah, Kayla takut kehilangan mami mengingat mami dalam kondisi yang memprihatinkan, mami terduduk lemas dengan kedua tangan yang terbentang dan diikat dengan rantai.
Kayla masih tidak ingin mempercayai apa yang telah terjadi, tragedi apa ini, ujian apa ini, apa yang papinya lakukan padanya dan pada mami. Dulu, meski Kayla takut dengan papi akibat tragedi yang hampir terjadi kala itu, Kayla masih bisa memaafkan papinya. Kayla sangat menyayangi papi, Kayla tetap menganggap papi adalah papinya dan Kayla selalu merindukannya. Tapi kini, perlakuan papi sudah keterlaluan, Kayla tidak tahan, Kayla benci itu. Bolehkah Kayla membenci papi juga?
Sebenarnya tadi sore setelah King pulang dari rumah papinya, Kayla sempat menghubungi mami. Tanpa sengaja papi meninggalkan ponsel di kamar dimana papi mengunci Kayla. Setelah menyadari dirinya dalam bahaya besar karena akan dijual oleh papinya sendiri, Kayla ketakutan dan panik, situasi itu membuatnya memberanikan diri untuk kabur. Namun ia tidak mendapatkan celah untuk keluar dari kamar yang terkunci itu. Ketika itu ia melihat ponsel papi diatas kasur, ia segera menyambarnya dan menghubungi mami. Sayangnya, baru beberapa detik tersambung dan baru satu kata ia ucapkan, sambungan telponnya terputus. Kayla bahkan belum mendengar suara mami dari seberang sana. Tidak terlintas sedikitpun di benak Kayla bahwa terjadi sesuatu terhadap mami, ia belum tahu saat itu kalau mami mengalami masalah. la baru mengetahui itu setelah papi menunjukkan keadaan buruk mami lewat video call tadi.
Kayla tidak bisa berhenti menangis, air mata mengalir dengan derasnya, sebagaimana hatinya yang hancur berantakan. Dulu tragedi seperti ini pernah hampir terjadi, namun mami dengan sigap dan tegas menghalangi papi, sehingga hal menyedihkan yang terjadi saat ini dapat terhindar di masa lalu. Namun kali ini, siapa yang akan menghalangi papi, siapa yang akan menolong Kayla, juga menolong mami yang entah bagaimana keadaannya sekarang.
"Al..."
Nama Alex akhirnya terlintas dipikiran Kayla. Sejak ia sadar dari pingsan tadi siang, dalam hati dan pikirannya hanya ada papi karena kerinduannya pada sang papi. Kemudian saat menyadari dirinya dalam bahaya ia pun mengingat mami, tapi ternyata mami juga dalam bahaya. Kegundahan dan rasa sakit dihatinya tidak memberinya kesempatan untuk memikirkan yang lainnya, dan baru sekarang ia mengingat Alex. Kayla menyesal kenapa ia bisa melupakan Alex, padahal ia sangat membutuhkannya.
"Al.. aku butuh kamu...hiks.. kamu dimana...hiks..hiks."
Terakhir tadi siang Alex mengantarnya pulang bahkan menunggunya di depan rumah. Kayla hanya masuk ke rumah sebentar untuk mengganti seragamnya, namun tanpa diduga hal buruk terjadi dan Alex tidak mengetahui itu. Padahal sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Kayla sempat membuat suara berisik dengan menjatuhkan gelas dari atas nakas, namun sepertinya Alex tidak menyadarinya, sehingga dia tidak datang untuk menolong Kayla. Kayla juga meninggalkan bercak darah dari luka di tangannya agar Alex tahu bahwa Kayla tidak baik-baik saja. Semoga saja Alex menyadari itu, dan berusaha melakukan sesuatu untuk Kayla.
"Aku percaya sama kamu Mr Strawberry, aku berharap besar sama kamu, tolong jangan kecewain aku.."
__ADS_1
Kayla lalu mengelus-elus cincin berlian yang tersemat di jari manisnya, cincin tunangannya dengan Alex. Dengan air mata yang masih berderai, ia memanggil-manggil nama Alex dalam hatinya, berharap pria yang dicintainya itu segera datang.
Ceklekk
Kayla terperanjat kaget saat mendengar suara pintu terbuka, ia sontak berdiri dengan ekspresi tegang. Namun ketegangan itu hanya berlangsung beberapa detik, karena yang datang adalah papinya sendiri. Kayla tahu ini bukan sesuatu yang baik, tapi setidaknya ia masih memiliki harapan pada sang papi. Semoga papi berubah pikiran dan mau membiarkan Kayla bebas.
Mengetahui kedatangan papinya, Kayla segera mendekat dan memegang tangan papinya, dengan tatapan memelas penuh harap.
"Pi, papi gak akan jual Lily kan..? Papi kesini mau bebasin Lily kan pi? Papi sayang kan sama Lily?" kata Kayla sambil mengoyang-goyangkan tangan papinya dalam genggamannya.
Arman mengernyit dengan tatapan datarnya, "Kamu pikir papi akan berubah pikiran?"
Kayla tertegun. "Papi cuman mau ngasih tau, kalo klien udah dateng. Kamu siap-siap!"
Duaaaarrr.........
Kayla terbelalak, tubuhnya melemas seketika. "Pi.." lirihnya tercekat.
Selanjutnya air matanya lah yang berbicara, menjelaskan semua perasaannya saat ini. Arman hanya melirik sekilas wajah Kayla, ia tidak mau terpengaruh dengan air mata pilu gadis itu. Sedangkan Kayla terus memohon dengan suaranya yang terbata-bata diselingi isakan. la mengeratkan pegangannya pada tangan papi meski bergetar takut, masih berharap papi akan membatalkan rencana jahat itu.
"Hapus air mata kamu! Liat, riasan makeup kamu jadi berantakan. Jangan sampe klien ngeluh sama papi." Arman malah sibuk menghapus air mata di wajah Kayla dengan tangannya, sementara Kayla tertegun.
Jika dalam situasi yang berbeda, Kayla pasti akan sangat senang papi mengelus wajahnya, dan menghapus air mata kesedihannya. Tapi ini, Kayla tidak merasakan kasih sayang dari sentuhan papi, juga dari cara papi memandangnya. Terlebih lagi papi menghapus air matanya bukan untuk menghibur, melainkan untuk memaksakan keegoisan pria tak berhati ini. Bisa-bisanya papi meminta putrinya sendiri untuk menyiapkan diri menghadapi jurang kehidupan yang gelap, jurang yang akan membuatnya kehilangan dunianya.
Sesak dalam dada Kayla membuatnya berani menyentak tangan papi dari wajahnya, dengan kasar. Kayla memalingkan wajah dari papinya, sementara sang papi yang tak berhati itu memarahinya.
"Udah berani kurang ajar ya sama papi" ucap Arman geram.
"Papi? Siapa?" jawab Kayla sarkas, lalu terkekeh kecut. "Papi nganggep aku anak apa enggak sih? Aku nggak ngerasa diperlakuin sebagai seorang anak sama papi. Aku pikir gak ada di dunia ini orang tua yang ngebiarin anaknya dalam bahaya. Tapi papi..." Kayla menggeleng-geleng tak habis pikir.
Kayla mengangkat satu tangannya seraya mundur selangkah, memberi isyarat agar papi tidak mendekat ataupun bicara. Tindakannya itu membuat Arman semakin marah dan langsung menamparnya. Arman memaki sambil membujuk Kayla agar menurutinya. Sedangkan Kayla hanya bisa menangis terduduk di pinggiran ranjang, sambil memegang pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan Arman.
Arman lalu menarik tangan kiri Kayla yang sejak tadi menempel di pipi, membuat Kayla tersentak kaget dan mendongak menatap papinya. Rupanya cincin berlian yang tersemat di jari manis Kayla mencuri perhatian Arman. Tatapan Arman langsung mengintimidasi ke mata Kayla.
"Apa nih? Gaji mami kamu gak mungkin sebesar itu kan, sampe bisa beliin kamu berlian semahal ini!" tanyanya curiga.
Kayla menelan salivanya. "Ini cincin tunangan Lily" jawabnya kemudian dengan was-was.
"APA?!" Arman melotot marah, "Kamu tunangan?" ulangnya tak percaya. Kayla mengangguk.
"Jangan kamu kira papi bego! Apa kamu akan bertunangan semuda ini, kamu bahkan masih sekolah." Arman terkekeh remeh sambil menyibak tangan Kayla kasar.
"Lily emang udah tunangan kok. Apa papi kira Lily dapetin cincin ini dari hasil nyolong?" Arman mengernyit dengan tatapan tajam.
"Apa sekarang papi percaya kalo Lily udah gak suci lagi?" tanya Kayla membuat Arman meradang sekaligus gelagapan.
"Jangan main-main kamu! Jangan berani-berani nipu papi!" bentaknya.
"Lily emang udah tunangan, kalo papi gak percaya tanya aja sama mami" jawab Kayla tegas.
Arman mencengkeram bahu Kayla. "Siapa dia? Siapa baj****n itu, heh?! Bisa-bisanya kamu tunangan dan papi gak tau." Arman berteriak di depan wajah Kayla.
__ADS_1
"Apa itu penting buat papi? Papi juga gak peduli kan sama aku." jawab Kayla lirih meski ia berusaha tegas.
"Ck, JAWAB PAPI!! Kenapa kamu tunangan? Kamu hamil?" wajah Arman merah padam, urat-urat wajah dan lehernya menyembul kepermukaan kulit, tatapannya menghunus tajam ke dalam mata Kayla.
Sejujurnya hati Kayla hancur diperlakukan seperti ini oleh papinya sendiri. la merasa tidak memliki harapan saat ini, tapi ia tidak bersedia menyerah pada keadaan.
"Jadi sekarang papi percaya kalo aku udah gak suci lagi?" ujar Kayla lirih.
"Kemarahan apa yang aku liat ini pi? Apa papi marah karena aku gak bisa jaga diri, atau papi marah karena papi gak bisa ngejual aku yang udah gak suci?"
Plakk!!
Tamparan keras Arman mencetak jelas dipipi mulus Kayla yang basah. Kali ini Kayla diam, tatapannya nanar, merasakan berat cobaan yang ia tanggung.
"Anak kurang ajar!!"
Kayla mendengar suara Arman yang agak pelan dan tertahan, lalu terdengar langkah kaki yang berjalan meninggalkan kamar. Sebelum Arman benar-benar keluar dari kamar, Kayla menoleh dan memanggilnya.
"Papi bakal batalin transaksinya kan? Papi gak bisa jual aku pi, kalo klein tau dia gak bakal terima kan?"
Langkah Arman terhenti, tanpa menoleh ke belakang ia berkata, "Udah terlambat. Transaksi gak bisa dibatalin, dan gak ada negosiasi setelah transaksi. Kamu udah dibeli, jadi sekarang siapin diri kamu. Pemilik kamu sebentar lagi kesini."
Duaarrrr.........
Gubrakkk!!
Kayla tersungkur ke lantai, terduduk lemas dengan hati yang hancur berkeping-keping. Sementara Arman pergi meninggalkannya tanpa menoleh lagi. Hati papinya itu rupanya sudah membatu, sehingga dia tidak memperdulikan ratapan dan air mata pilu putrinya. Lihat, dia pergi begitu saja dengan santainya padahal dia tau Kayla dalam keadaan yang buruk, dan akan menghadapi keadaan yang lebih buruk lagi.
Saat pintu benar-benar tertutup oleh Arman, Kayla benar-benar merasa tidak berharga dimata papinya. Kayla merasa terbuang, harapannya pupus.
Entah berapa lama Kayla mematung duduk di lantai, kepalanya berat dan penuh, tatapannya kosong, dadanya sesak dan nafasnya tercekat. Air mata nampaknya juga sudah lelah, sehingga ia menyerah untuk menyirami wajah kusut Kayla yang tak memilik rona. Kenapa Kayla berhenti menangis? Tidak. Tidak mengeluarkan air mata bukan berarti ia merasa lebih tenang dari sebelumnya, tapi kini Kayla seolah mati rasa. Sehingga ia tidak sadar sejak kapan ada seseorang berjongkok di depannya. la tersadar saat orang itu menepuk pipinya, ia mengernyit bingung melihat orang itu, seperti orang linglung.
"Ayo bangun!" katanya sambil memapah Kayla, menuntunnya duduk di depan meja rias.
Kayla tidak membantah ataupun mencegahnya. la benar-benar tidak tahu harus apa dan bagaimana, ia tidak bisa berpikir sama sekali, seperti orang linglung atau robot yang dikendalikan.
Della menghela nafas lega setelah selesai memoles wajah Kayla, penampilan gadis itu sekarang terlihat lebih baik dan cantik. Ya meski wajahnya murung, kecantikannya tidak akan membuat klien kecewa, pikir Della. Della lalu keluar setelah tugasnya selesai.
Hening.
Kayla mengangkat pandangannya, menatap pantulan dirinya di cermin. Rasa takut, sedih, dan semua perasaan yang beberapa saat lalu membuatnya hancur itu kini kembali menyerang. Kulit lengan dan leher Kayla meremang, ia mulai gemetar ketakutan. Apalagi setelah melihat cermin yang menampakkan pantulan diri seorang pria yang berdiri di belakangnya. Kayla terperanjat kaget dan langsung berdiri dari duduknya, berbalik memastikan penglihatannya di cermin.
Pria itu tersenyum misterius sambil memandangi Kayla dari bawah ke atas, pandangannya seolah mengabsen setiap centi dari tubuh Kayla yang berbalut dress mini.
Pertanyaan-pertanyaan bermunculan di kepala Kayla, pikiran negatif kembali menghantuinya, kecamuk hati yang telah terluka kian tak terkendali, mendesaknya untuk segera bertindak. Namun gerak tubuhnya masih tertahan oleh rasa takut yang lebih dulu menjalar, kebas yang mendominasi. Kayla memaki dan merutuk dalam hati.
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...