Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Air Mata Dan Pelukan


__ADS_3

Setelah memencet bel dua kali, akhirnya pintu terbuka.


Ceklekk


Nampaklah dua orang anak perempuan berusia sekitar lima tahunan di depan pintu. Wajah keduanya berbinar melihat salah satu tamu yang datang, dan agak bingung melihat tamu yang lainnya.


"Assalamu'alaikum.." seru Kayla.


"Wa'alaikum salam.." jawab keduanya serentak.


"Bang Alex dateng, ayo kasih tau mama!" seru salah satu anak itu semangat yang diangguki cepat oleh anak lainnya.


Kedua anak itu lantas berbalik dan berlari ke dalam rumah, nampaknya ingin segera memberi tahu ibu mereka atas kedatangan Alex.


Tanpa dipersilahkan oleh sang tuan rumah, Alex mengajak Kayla masuk. "Enggak enak ah Al, tunggu mama kamu aja."


"Kalo gitu aku juga nunggu deh."


"Eh kok gitu?"


"Ya masa' aku jalan duluan, kita itu harus jalan berdampingan Miss Kissable! Kita ini kan-.."


Kayla mengangkat jari telunjuknya sejajar dengan wajah Alex, tak membiarkan Alex melanjutkan ucapannya. Karena Kayla tahu apa yang akan Alex katakan, dan Kayla risih dengan itu.


'Kita ini kan pasangan, Miss Kissable!'


Ah tidak, Kayla geli mendengarnya. Alex sudah pernah mengatakan kalimat itu padanya, sehingga membuat Kayla merasa kesal dan salah tingkah sendiri. Lagipula mereka kan bukan pasangan.


"Alex.." seru lirih seorang perempuan cantik yang kedua tangannya ditarik oleh dua anak perempuan tadi.


Alex menjadi kaku seketika melihat mamanya, ia bahkan menunduk karena tidak kuasa menatap wajah perempuan yang telah sering ia sakiti itu.


"Siang, Tante!" seru Kayla mencoba memecah kecanggungan antara ibu dan anak itu.


Vanessa-Mama Alex yang semula tertegun kini beralih pada Kayla. la nampak mengernyit menatap Kayla. Kayla meraih tangannya dan menciumnya hormat.


"Kamu..?" katanya sambil mengingat-ingat.


"Nama saya Kayla, Tante. Kita pernah ketemu di restoran A.S.W Food, kalo Tante masih ingat."


"Oh iya. Tentu Tante ingat! Tante belum berterima kasih sama kamu, berkat kamu..." Vanessa kemudian melirik putranya, dan memilih melanjutkan kata-katanya dalam hati. "..Alex mau menerima kue buatanku."


Menyadari arah pandang mama Alex, Kayla segera menepuk pelan bahu Alex yang hanya berdiri kaku. Alex terkesiap dan gelagapan, ia masih tidak berani menatap mamanya, ia memilih melarikan pandangannya ke wajah Kayla. Kayla tersenyum seraya mengangguk sekali, mencoba menguatkan kembali keyakinan hati Alex.


"Wah.. tumben ya Bang Alex bawa teman kesini. Temannya cewek lagi" gumam salah satu anak perempuan tadi, membuat ketiga orang dewasa itu menunduk meliriknya.


"lya. Eh tapi, dia teman Bang Alex, atau pacarnya ya..?" timpal anak yang satunya, membuat wajah Kayla memerah malu.


Vanessa tertawa kecil menyaksikan interaksi kedua putrinya. "Eh sini nak. Ini namanya Kak Kayla. Ayo kenalin diri kalian!"


"Fita." anak itu mengulurkan tangannya pada Kayla.


"Sita." anak yang lainnya pun melakukan hal yang sama.


Kayla tersenyum seraya berjongkok di depan mereka. "Hai.. panggil aja Kak Kayla." ujar Kayla seraya menjabat tangan mereka.


Kayla lalu mengusap kepala dan menyentuh pipi chubby mereka berdua. "Gemesin banget sih kalian.. mukanya sama lagi. Gimana ini Kakak bedainnya?"


"Aku lebih imut dari Sita." sahut Fita sambil memegang kedua pipinya sendiri.


"Huh.." sorak Sita mencibir.


"Bedanya, rambut aku lurus, kalo Fita agak keriting, Kak. Terus aku punya tahi lalat, kalo Fita enggak" jelas Sita sambil memperlihatkan tahi lalat diujung hidungnya.


Sementara Alex masih berdiri dengan kaku, bahkan untuk mencuri satu lirikan pada sang mama saja ia tak berani. Sedangkan sang mama sejak tadi terus menatapnya dengan tatapan yang menyiratkan banyak arti. Nampaknya sang mama juga ragu untuk menyapa Alex. Melihat kecanggungan itu, Kayla berdiri dan mencoba mencairkan suasana.


"Tante."


"lya?"


"Oh, ayo masuk nak! Tante bikinin minum dulu ya!" ujar Vanessa kemudian.


Alex mengepalkan kedua tangannya sejak tadi, ia terus mencoba mengeluarkan kata-kata dari mulutnya tapi terasa begitu berat. Alhasil ia hanya menggigit dan ******* bibirnya saja, belum juga berkata apapun. Kayla jadi gemas melihatnya, sedangkan mama Alex sudah berjalan lebih dulu ke dalam setelah mempersilahkan mereka masuk.


"AI.."


Alex mendongak, membuat Kayla bisa melihat matanya yang ternyata telah berkaca-kaca. Air mata sudah menggenang dan siap membanjiri wajahnya kapan saja.


"Apa ini AI?"


Alex segera mengusap ekor matanya yang baru saja mengeluarkan air tersebut. la lalu menatap Kayla, dan Kayla juga menatapnya.


"Hari ini kamu bakal lepasin semua beban hati kamu kan?" Alex tidak menjawab.


"Jangan ragu Al!"


Alex terkekeh kecil, "Kok aku jadi keliatan pengecut gini sih di depan kamu"


"Enggak kok. Siapa bilang kamu pengecut."


"Bang, Ayo! Abang sama Kakak harus cicipin kue buatan kita." seru Sita, mengalihkan Alex dan Kayla.


"Tadi pagi kita bikin kue nastar loh sama mama. Ada yang rasa nanas, coklat, sama stroberi." timpal Fita semangat, sambil menarik tangan Alex.


Benar saja, setelah Sita dan Fita mengajak Alex serta Kayla duduk, tidak lama kemudian mamanya datang dengan senampan kue yang dimaksud kedua adik Alex tadi.


"Ayo Kak, cobain! Kue bikinan mama itu paling enak loh.. apalagi yang ini" ujar Fita pada Kayla.


Anak itu mengambil satu kue yang bentuknya agak berantakan.


"Kenapa yang itu?" tanya Sita.


"Ini bikinan aku, liat tuh bentuknya kayak bunga kan!" ujar Fita polos.


"Bunga apaan.. mending juga yang bikinan aku nih." kata Sita sambil mencomot salah satu kue.

__ADS_1


"Tuh liat.. hemm.. coklatnya lumerr..." ujarnya sambil menggigit kue nastar isi coklat miliknya.


Mereka lalu tertawa bersama, setidaknya ocehan kedua anak itu mencairkan sedikit suasana canggung antara Alex dan mamanya. Setelah kurang lebih lima belas menit berbincang-bincang ringan, Alex belum juga buka suara. Hanya suara Kayla, Fita, Sita, dan suara mamanya yang mengisi ruangan. Sementara Alex masih betah diam di posisinya, dengan wajah ditekuk dan kaku.


"Al, ayo cicipin kuenya!" kata Vanessa sambil mengintip wajah putranya itu.


Kayla lega, akhirnya ada salah satu diantara mereka yang buka suara. Kayla rasa ini kesempatan bagus, la pun tersenyum.


"Eh Sita, Fita, tadi katanya kalian punya koleksi boneka Barbie ya? Boleh Kakak liat?"


"Oh boleh Kak. Ayo ikut!" sahut Sita seraya berdiri, diikuti Fita dan Kayla.


Kayla memilih meninggalkan Alex dan mamanya berdua, agar ibu dan anak itu memiliki ruang dan waktu yang leluasa untuk saling bicara dan mengungkapkan isi hati masing-masing. Sementara Kayla pergi bermain bersama Sita dan Fita.


Untuk sejenak, keheningan masih meliputi keduanya. Kemudian Vanessa mencoba buka suara, setidaknya untuk mencari tahu maksud kedatangan putranya itu kemari. Karena Alex tidak pernah datang kemari selain mengantarkan kedua adiknya itu pulang sekolah, itupun hanya di depan rumah, tidak pernah masuk. Dan lagi, sikap Alex agak aneh saat ini.


"Al, gimana kabar kamu nak?"


Alex *******-***** jemarinya yang ia sembunyikan di samping tubuhnya. la masih belum mengangkat kepalanya.


"Oh iya, kamu mau minum apa? Apa mau mama bikinin jus stroberi?"


Vanessa tertawa kecil, terdengar kaku. "Mama nggak tau kamu sekarang sukanya apa." ucapnya agak miris.


"Sebentar ya!" ucap Vanessa seraya berdiri dan beranjak dengan cepat.


"Ma!"


Tiba-tiba Alex menahan tangan mamanya, mendongakkan kepalanya menatap sang mama, dengan mata yang berkaca-kaca. Sang mama sontak menunduk, dan terkejut melihat wajah sedih Alex. Hatinya seketika berdesir cemas sekaligus haru. Sejenak Vanessa tertegun menatap tangan Alex yang memegang pergelangan tangannya, kemudian tatapannya beralih pada wajah lirih sang putra.


"Maaf.." lirih Alex pelan.


Air mata Alex mengalir melewati ekor matanya, membuat perasaan sang mama semakin tak karuan melihatnya. Vanessa lantas mendudukkan tubuhnya di samping Alex tanpa memutuskan arah pandangnya pada wajah Alex. Air matanya pun tak lagi dapat tertahan, tangannya terangkat untuk menyentuh wajah sang putra yang sangat ia rindukan. Vanessa terpana lirih.


"Maafin aku ma.." ucap Alex lirih seraya kembali menunduk.


"Aku udah durhaka sama mama." Alex mulai terisak.


Sang mama yang terenyuh itu tak mampu berkata apa-apa, ia begitu takjub dan terharu dengan apa yang dilakukan Alex saat ini. Ada banyak letupan kebahagiaan sekaligus perasaan cemas dihatinya, ada rasa sedih sekaligus lega yang memenuhi ruang hatinya, sehingga tidak dapat diungkapkannya melalui kata-kata. Air mata lah yang mewakili seluruh rasa dan getaran hatinya itu. la terus menggeleng-geleng sembari mengusap wajah sang putra dan mengelus kepalanya dengan penuh kasih.


"Aku ini anak yang nggak tau diri." rutuk Alex disela derai tangisnya.


Alex menurunkan kedua tangan sang mama dari wajahnya, kemudian menggenggamnya erat dan menciuminya berkali-kali.


"Maafin aku, ma.."


"Alex.." lirih Vanessa terharu.


Vanessa mendekat kemudian memeluk Alex, pelukan yang selama ini sangat ia rindukan. Air mata Alex pun tumpah ruah, bersamaan dengan beban hatinya yang selama ini memberatkannya, kini ia keluarkan semua gundahnya, semua rasa sakitnya dan semua perasaannya. Ini air mata penyesalan Alex, sekaligus air mata bahagianya. Ya, ia bahagia bisa dipeluk dan dielus oleh sang mama lagi.


Begitu juga Vanessa. Vanessa tidak lagi menahan dirinya, air matanya pun mengalir begitu saja, seiring rasa haru yang memenuhi dadanya. Seiring kebahagiaan dan kelegaannya, air matanya luruh, meleburkan semua rasa yang selama ini menyiksanya, semua rindu yang selama ini dipendamnya, dan segala sesuatu yang selama ini memberatkan jiwa keibuannya.


Vanessa belum bisa mengatakan apapun, lidahnya begitu kelu untuk bicara. Dan Alex pun tidak tahu harus berkata apa untuk memohon ampunan dari sang mama. Untuk beberapa menit, hanya air mata keduanya lah yang banyak berbicara. Diiringi dengan pelukan hangat yang telah lama dirindukan, dan elusan kasih sayang yang didambakan keduanya.


"Mama banyak salah sama kamu, mama udah jahat sama kamu.."


Tangisan Alex semakin tak tertahan, dan Vanessa mengeratkan pelukannya pada tubuh sang putra yang sekarang sudah tumbuh lebih besar dibandingkan dirinya sendiri. Terakhir Vanessa memeluk Alex, Alex masih kecil dan masih bisa ia dekap penuh tubuh mungilnya. Sang mama memeluknya hikmat bersama air mata penyesalan yang masih belum berhenti. Vanessa malu pada dirinya sendiri dan juga pada pemuda yang tengah menangis di dalam pelukannya ini. Begitu buruk perlakuannya di masa lalu pada pangeran kecilnya ini.


"Enggak ma, aku yang harusnya minta maaf.."


"Alex..." suara Vanessa semakin lirih dan pelan.


"Mama udah maafin kamu nak, mama selalu sayang sama kamu"


Alex semakin merasa bersalah. la tidak peduli lagi sebanyak apa kesalahan yang telah dilakukan mamanya di masa lalu, saat ini yang ia tahu hanyalah merutuki kebodohan dan kesialan dirinya sendiri, yang telah membenci dan mendurhakai sang mama.


Surga di bawah telapak kaki ibu. Alex tahu itu, ia sering mendengarnya. Tapi ia baru mengerti makna dari untaian mutiara itu. la baru menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, karena telah mengedepankan egonya hingga sampai membenci perempuan berharga yang telah berjuang melahirkannya ke dunia, dan merawatnya dengan penuh cinta saat ia tidak mengerti apa-apa serta tidak bisa berdiri sendiri.


"Terima kasih nak.. terima kasih karena masih mau memeluk mama.."


Tangisan Alex semakin menjadi-jadi, ia mengeratkan pelukannya sembari membenamkan wajah basahnya di pundak sang mama.


"Mama.." lirih Alex bergetar dan pelan, hampir tak bersuara.


Vanessa terus mengusap kepala Alex, ia sedikit menoleh untuk mengecup kening putranya namun hanya bisa meraih belakang kepalanya saja, karena Alex meletakkan wajahnya di pundak Vanessa.


Tanpa keduanya tahu, Kayla berdiri di balik pintu kamar Sita dan Fita, mengintip ke luar dimana ibu dan anak itu saling berbagi air mata dan kasih sayang. Kayla mengusap pipinya yang basah, ia tersenyum haru dan lega.


.......


.......


.......


Pukul 17.10. Kayla bersama Sita dan Fita kembali ke ruang tamu. Di sana mereka melihat pemandangan yang hangat, Alex duduk di lantai dengan kepala yang ia rebahkan di pangkuan sang mama, dan sang mama terus mengelus kepalanya penuh kasih. Menyadari kehadiran Kayla, Sita, dan Fita, Alex mengangkat kepalanya lalu beranjak dari posisinya. la tersenyum pada Kayla meskipun wajahnya terlihat kusut dan sembab, sangat kentara kalau ia habis menangis.


"Tante, saya pamit ya! Terima kasih, saya senang bisa main kesini."


"Eh Miss Kissable, mau pulang sekarang?" Kayla mengangguk.


Vanessa berdiri, "Terima kasih ya, Kayla! Terima kasih.." ucapnya dalam sembari menyentuh sisi wajah Kayla.


Vanessa mengerti, meski tidak dijelaskan ia bisa menebak bahwa perubahan Alex saat ini sedikit banyaknya adalah berkat kedekatannya dengan gadis yang berada dihadapannya ini. la sudah pernah melihatnya beberapa bulan yang lalu, saat kue ulang tahun yang ia buat untuk Alex ditolak oleh putranya itu, namun setelah membaca surat dari Kayla, Alex langsung menerima kuenya dengan senang hati. Vanessa sangat bahagia ketika itu, dan ia belum berterima kasih pada Kayla.


"Kok Tante yang bilang makasih?"


"Makasih kamu nolongin Tante waktu itu. Makasih juga buat hari ini, kamu bawa hadiah yang sangat istimewa buat Tante" Kayla mengernyit bingung. "Pangeran kecil Tante yang manja udah balik. Ini adalah hari yang Tante tunggu-tunggu selama bertahun-tahun"


Mata Vanessa mulai berkaca-kaca lagi. Alex melirik wajah mamanya saat mendengar suara sang mama mulai bergetar lagi. Kayla tersenyum hangat menatap ibu bahagia di depan ini, kemudian tatapannya beralih pada Alex sekilas.


"Selamat ya Tante, saya senang bisa jadi bagian dari kebahagiaan kalian"


"Saya pamit ya Tante! Al, aku duluan"


"Hei, kamu kesini bareng aku, jadi pulangnya juga harus bareng aku dong. Aku anter!"

__ADS_1


"Enggak perlu Al, nggak papa kok, aku udah mesan taksi online"


"Kok gitu sih, masa' kamu pulang sendiri. Jangan malu-maluin aku di depan mami kamu, Miss Kissable! Kalo gini caranya aku terkesan nggak bertanggung jawab dong."


Kayla tertawa kecil, "Enggak lah Al, santai aja! Aku tau kamu masih perlu ngabisin banyak waktu sama mama kamu, jadi nggak salah dong aku nggak mau ganggu"


"Aku bisa balik lagi kesini abis nganter kamu."


Kayla melirik ponselnya. "Kayaknya taksi online pesanan aku udah dateng deh. Thanks AI, nikmatin aja waktu kamu."


"Tapi-.."


"Al.. aku ngerti. Kamu nggak perlu cemasin aku, thanks ya udah ngajak aku kesini. Aku jadi bisa main sama adik-adik kamu yang lucu ini" Kayla mengusap kecil kepala Sita dan Fita.


"Kak Kayla, nanti main kesini lagi ya!" ujar Fita.


Kayla mengangguk gemas, "Oke. Nanti kalian juga main ke rumah Kakak ya, minta ajak sama Bang Alex!"


"Oke Kak!" sahut Sita dan Fita serentak.


"Tante." Kayla meraih tangan mama Alex lalu menciumnya.


"Makasih ya Kayla. Hati-hati di jalan, sering-sering main kesini ya!"


Kayla mengangguk, kemudian sedikit berbincang dengan Sita dan Fita sambil berjalan sampai ke depan rumah.


"Dah Kak Kayla.."


"Dah..."


Kayla membalas lambayan tangan Sita dan Fita saat ia sudah duduk di dalam taksi. Kemudian taksi yang Kayla tumpangi melaju meninggalkan rumah Mama Alex.


Vanessa memperhatikan arah pandang Alex. Yang dipandang malah salah tingkah saat terpergok tengah menatap Kayla yang sudah jauh dari pelupuk mata.


"Jadi.. udah berapa lama kalian pacaran?" sindir sang mama menggoda.


Alex menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Enggak kok ma."


"Ih enggak papa, mama ngerti kok anak remaja kayak kalian itu gimana."


"Tapi kita nggak pacaran, ma."


"Masa?"


"Hm. Kayla bukan tipe cewek yang mau diajak pacaran"


"Oh, mama kira kalian pacaran."


"Hmm... kita pasti udah pacaran sekarang kalo Kayla nerima aku waktu itu"


"Maksudnya.. Kayla nolak kamu?" Alex mengangguk.


"Mama tenang aja, meskipun Kayla nolak aku, dia mau dampingin aku sampe sekarang. Bahkan aku bisa berubah itu berkat dia."


"Mama bisa liat itu" timpal Vanessa paham.


"Mama tau? Padahal kan aku belum cerita."


"Mama bisa liat cara kalian saling tatap tadi. Tapi.. kok mama nggak yakin ya kalo kalian nggak pacaran"


Alex terkekeh, "Hubungan kita baik kok ma, meskipun kita nggak pacaran. Tapi bukan berarti aku nyerah buat merjuangin Kayla. Aku tulus sama dia ma, dan dia.. kayaknya juga mulai suka sama aku" katanya seraya tersipu.


"Emm... anak mama udah dewasa ya sekarang, udah bisa jatuh cinta." goda Vanessa.


Alex mengulum senyumnya seraya mengalihkan pandangan dari godaan sang mama.


"Tadi aja mama bilang kalo aku ini pangeran kecil mama yang manja, sekarang mama bilang aku udah dewasa."


Vanessa terkikik geli. "Ya Allah.. mama bahagia sekali Al, bisa liat kamu kayak gini."


"Ma?" Alex mulai serius.


"Apa menurut mama aku udah dewasa?"


Vanessa tersenyum hangat sambil menatap putranya. "Al, sedewasa-dewasanya seorang anak, bagi orang tua mereka tetaplah anak-anak. Kenapa nanya itu?"


"Menurut mama.. Kayla gimana?"


Vanessa mengernyit bingung. "Kayla... anaknya baik, sopan, cantik, emm.." Vanessa mengernyit dalam, mencoba membaca wajah Alex.


Alex tersenyum dengan wajah yang mulai memerah. "Kenapa AI?" tanya sang mama.


"Ma, aku cinta sama Kayla. Aku tulus, dan serius. Aku.. pengen ngelamar Kayla."


"Hah??"


Tentu saja Vanessa syok mendengarnya, tiba-tiba saja Alex mengatakan ingin melamar seorang gadis. Vanessa saja masih merasa baru bangun dari mimpi dimana ia menyaksikan masa kecil Alex, Vanessa baru menyadari bahwa kini pangeran kecilnya mulai tumbuh dewasa, tapi.. putranya ini berbicara serius tentang lamaran!


Ah tidak, dia pasti tidak serius. Dia belum sedewasa itu untuk berani melamar anak gadis orang. Vanessa jadi merasa lucu sendiri, membayangkan pangeran kecilnya ini akan melamar seorang gadis.


"Hhfft..." Vanessa menutup mulutnya, ia tidak bisa menahan tawanya.


"Kamu bercanda nak!" ujarnya seraya menepuk pelan pipi Alex, kemudian berbalik masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Alex sendirian, yang masih berdiri, wajahnya cemberut.


Alex hanya bisa mendengus, agak kesal dan jengah. "Orang serius juga, malah dianggap bercanda." gerutunya dalam hati.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2