
"Kok besok?" tanya Jessica memprotes. Diangguki oleh semua teman-temannya. Tentu saja, karena ini bukan kebiasaan Alex.
Jika ada murid baru, Alex dan teman-temannya biasa mengerjainya habis-habisan dihari pertama si murid baru masuk, sebagai sambutan katanya. Dan Jessica suka terlibat dengan hal itu. Nah ini, Alex bilang besok? Sepertinya ada yang tidak beres dengannya, hari ini ia tidak berminat memberi sambutan pada mainan baru mereka?
"Mood gue lagi bagus-bagusnya, jadi gue males ngurusin recehan begitu, murid barunya cewek lagi." jawabnya santai.
Jessica dan teman-temannya mengernyit bingung, sementara teman-teman Alex hanya tersenyum samar, mereka paham yang dimaksud Alex.
"Maksudnya?" tanya Luna bingung.
Melihat raut wajah para pria dihadapannya, agaknya Jessica mulai paham dengan situasinya. Ia menggeser posisi duduknya mendekati Alex. Alex bilang moodnya lagi bagus kan, siapa tau dia bisa welcome ke gue hari ini, pikir Jessica. Jessica pun berniat merayu Alex seperti biasanya meskipun sudah berkali-kali dibentak Alex, ia pantang menyerah.
Jessica menyentuh lengan Alex, dan Alex langsung menyelis ke arahnya.
"Mood lu lagi bagus.. gimana kalo pulang sekolah nanti kita nonton ke bioskop? Atau nggak, kita jalan-jalan aja. Santai-santai gitu di taman? Atau lu maunya apa?" ucap Jessica bersemangat.
Alex menampik tangan Jessica yang mulai bergelayut di lengannya.
"Kalo gue jalan sama lu, itu bikin mood gue ancur!" sahut Alex datar.
Teman-teman Alex mencibir ke arah Jessica, mereka sudah tau Alex pasti nolak lah diajak jalan sama Jessica, entah penolakan yang keberapa kali ini.
"Eh, maksudnya mood lagi bagus dan nggak mau ngerjain murid baru, itu apa sih Al..?" tanya Luna lagi, ia penasaran sejak tadi, begitu juga Erin.
"Alex itu lagi happy, jadi dia males bikin masalah." Bima menyahut.
"Ooh...." Luna dan Erin mengangguk.
"Yaudah Al.. gimana kalo kita ke ruang musik aja, main gitar bareng.." ajak Jessica, masih cari perhatian Alex.
Alex beranjak, membuat Jessica menatapnya takjub kegirangan, dia pikir Alex menerima ajakannya.
"Bro, cabut yuk..!" ajak Alex pada teman-temannya seraya beranjak.
"Ke ruang musik kan.." Jessica beranjak mengikuti Alex
"Siapa yang ngajak elu?!" kata Alex datar.
"Kita mau ke markas" Bima menimpali, membuat Jessica dan teman-temannya terdiam.
... ....
... ....
... ....
"Kayaknya The ruler kita ini berubah deh bro." ucap Vicky.
"Berubah gimana?" tanya Sandi
"Liat, setelah jatuh cinta dia jadi happy terus. Hari ini, dia ngebuang kebiasaanya bertahun-tahun."
"Bener juga lu, Vick. Kasian juga tu murid baru dianggurin gak dikasih sambutan. Hahaa ..." lakar Sandi.
"Beruntung kali, bukan kasian. Secara, dia selamat hari ini" timpal Bima.
Alex yang sejak tadi mendengarkan obrolan teman-temannya hanya tersenyum. Mungkin benar kata Vicky, ia mulai berubah sejak jatuh cinta. Suasana hatinya tengah berbunga-bunga setelah bertemu dengan Miss Kissable dan mengungkapkan perasaannya pada gadis itu beberapa hari yang lalu. Meski sudah beberapa hari, tapi perasaannya masih sama happy nya dengan pertama kali hatinya terpaut pada gadis pemilik bibir kissable itu. Sehingga ia tidak ingin mengusik suasana hatinya dengan mengerjai murid baru.
"Kira-kira murid barunya kayak apa ya.." Sandi berpikir.
"Ah, dari pada murid baru, gue lebih penasaran sama ceweknya Alex." ucap Bima sambil memainkan alisnya menatap Alex, membuat Alex mendengus senyum.
"Orangnya kayak gimana bro?"
Alex menerawang memandang langit, membayangkan wajah cantik Miss Kissable nya. "Miss Kissable..." gumam Alex.
Ketiga temannya lantas mengernyit mendengar gumaman Alex.
"Miss Kissable?" ulang mereka serentak memastikan, ketiganya nampak berpikir.
"Elu nyebut dia Miss Kissable?" tanya Vicky masih mencerna kalimat itu.
Bima kemudian terkesiap karena terpikir sesuatu.
"Miss Kissable maksudnya karena lu suka bibirnya gitu? Kalian ciuman..??" tanya Bima, membuat Sandi dan Vicky membelalak kaget dan menatap Alex. Alex mendecakkan lidahnya dan menggeplak kepala Bima.
"Jadi...?" tanya Sandi penasaran.
"Iya, dia cantik dan gue suka bibirnya. Apalagi waktu itu dia pake lipstick aroma st-... " Alex menghentikan kalimatnya. Ah bisa berabe kalo mereka tau gue suka stroberi, mau ditaroh dimana muka, bisa ilang ntar harga diri gue, pikir Alex.
"Aroma apa?" tanya Sandi lagi, Vicky dan Bima pun mengangguk, menunggu Alex melanjutkan kata-katanya.
"Aroma parfum favorit gue" jawab Alex agak gelagapan tapi ia bisa menyembunyikannya.
"Dan...?" Sandi bertanya lagi.
"Dan apa??" bingung Alex.
"Dan kalian ciuman?" Sandi melanjutkan.
Alex terkekeh "pengennya sih... tapi kan gue cowok baik, nggak sopan lah baru kenal langsung cium." jawab Alex dengan wajah songongnya.
"Ah, elu pake ngomong sopan segala." kata Bima sambil menepuk lengan Alex.
"Gue ngebayangin elu bersikap sopan sama cewek itu gimana ya.." kata Sandi remeh sambil terkekeh.
"Serius lu Bro? Kalo gitu, elu nggak jadi diri lu sendiri dong." Vicky menimpali.
Alex mendengus senyum "Menurut gue sih bukannya gue nggak jadi diri sendiri, tapi gue nemuin sisi lain dari diri gue." sahut Alex.
"Sisi baik apa sisi buruk nih?!" tanya Bima meledek. Alex hanya tertawa menanggapinya.
"By the way.. namanya siapa?"
__ADS_1
"Gak tau" jawab Alex lempeng.
"Loh.. kok bisa?"
"Gue nggak kepikiran nanya namanya."
"Emang kalian ngapain aja sih?" tanya Sandi
"Kita ngobrol banyak sih.. tapi kita nggak ngenalin diri masing-masing. Jadi dia nggak tau nama gue dan gue nggak tau nama dia." jawab Alex seraya tersenyum mengingat pertemuan mereka itu.
Ketiga temannya terkekeh geli mendengar jawaban Alex.
"Ah, aneh lu Al.. ngobrol banyak tapi nggak kenalan, gimana coba?!" timpal Bima tak habis pikir.
"Justru karena kita asyik ngobrol, makanya lupa nanyain identitas masing-masing."
"Ngobrolin apaan emang?" tanya Sandi penasaran.
"Kepo lu, San" ucap Alex sambil menoyor kepala Sandi.
"Trus.. rencana lu selanjutnya apa, Al?" tanya Vicky.
Alex mendesah nafas, agak berat kelihatannya. Karena Alex belum memikirkan hal itu. Benar, apa yang akan ia lakukan selanjutnya, apa ia bisa menemui gadis pujaannya itu lagi?
"Gue harus cari dia, gue harus nemuin dia."
"Tadi lu bilang, kalian nggak tau identitas masing-masing. Gimana caranya elu nyari dia?" tanya Bima
"Elu punya nomer hp nya? Atau alamat rumahnya?" tambah Vicky. Alex menggeleng lemah, membuat ketiga temannya mendengus pasrah.
"Namanya gak tau, nomer hp nya gak tau, alamatnya apalagi. Trus apa yang lu tau dari dia? Gimana bisa lu jatuh cinta sama dia?" tanya Bima heran.
"Gue emang gak tau itu semua. Gimana gue bisa jatuh cinta sama dia... ya.. gue ngikutin kata hati gue aja lah." sahut Alex dengan senyuman tipisnya.
"Tapi bukan berati gue gak bisa nyari dia" ucap Alex yakin.
... _______________...
Pelajaran terakhir pun selesai. Semua murid bersiap untuk pulang, begitu juga Kayla.
"Pulang naik apa Kay? Apa dijemput?" tanya Nia.
"Aku naik angkot." jawab Kayla sambil memasukkan beberapa bukunya ke dalam tas.
"Oh, kalo gitu bareng aja, aku juga naik angkot"
"Apa kita searah?" tanya Kayla.
"Hehee..bener juga ya, kalo nggak searah kan gak bisa bareng. Rumahku di daerah Komplek Anggrek 3, naik angkot dari sini nanti ambil jalur kiri." kata Nia menjelaskan.
"Yah...kita gak searah Ni, aku ambil jalur kanan setelah persimpangan pertama." sahut Kayla lesu.
"Yaudah, kita bareng sampai ke depan aja kalo gitu." ajak Nia, yang diangguki oleh Kayla. Mereka berdua beranjak keluar kelas.
"Kalo angkot yang biasa ke jalur kanan?" tanya Kayla.
"Itu biasanya agak belakangan sih datangnya, mungkin 15 menit lagi, tapi kadang bisa barengan juga sama angkot yang ke jalur kiri." jawab Nia.
Saat keduanya di ambang pintu kelas dan akan beranjak keluar, tiga orang siswi menghalangi jalan mereka. Siapa lagi kalau bukan Jessica CS.
"Ettsss...tunggu dulu murid baru." sergah Luna seraya menahan pundak Kayla. Kayla dan Nia lantas memundurkan langkah mereka, karena ketiga siswi dihadapan mereka ini maju mendekati mereka.
Jessica memberi isyarat dengan tangan dan matanya pada Nia, agar Nia pergi. Nia mengangguk dan mematuhinya, sebelum ia berlalu ia sempat menoleh ke arah Kayla menunjukkan senyuman masamnya.
"Aku duluan ya, Kay"
"Iya" sahut Kayla memaklumi.
Setelah Nia pergi, Jessica, Luna, dan Erin menatap sinis ke arah Kayla. Jessica memberi isyarat pada Luna.
"Denger ya..eh siapa sih namanya gue lupa" kata Luna sambil meletakkan telunjuknya di dagu, seolah berfikir.
"Ah penting amat?!" sahut Jessica remeh. "Si Cupu cocok kali ya panggilannya." lanjutnya. Luna dan Erin lantas tertawa.
Kayla mengernyit, apa ia terlihat seburuk itu sampai mereka menyebutnya Si Cupu??
"Iya.. cocok banget kok" Erin menanggapi.
"Kayl.a" ralat Kayla menegaskan tapi mereka bertiga mengabaikannya.
"Eh dengar ya cupu, disini murid baru nggak bisa pulang dihari pertamanya masuk, sebelum dia ngelakuin tugas penting." Luna buka suara
"Tugas penting?" tanya Kayla mengernyit.
"Yes." sahut Jessica kemudian menyodorkan sebuah sapu kepada Kayla. "Ini tugas penting lu yang pertama!" lanjutnya.
Dengan ragu Kayla menerima sapu itu.
"Aku giliran piket ya?" tanya Kayla polos.
Hahahaa... mereka bertiga menertawakan Kayla.
"Elu piket selama seminggu" sahut Erin meledek
"Seminggu?" tanya Kayla lagi.
Mereka bertiga mendengus nafas malas.
"Gini ya, disini itu murid baru emang tugasnya ngerjain piket kelas selama seminggu. Ngerti!?" Jessica menegaskan. Kayla mengangguk.
"Bagus! Yuk gaess...!" ucap Jessica seraya berlalu, diikuti kedua teman setianya.
... ....
__ADS_1
... ....
... ....
Kayla mendudukkan dirinya di kursi, menghela nafas lega setelah selesai membersihkan kelas. Ia melirik jam tangannya dan terkesiap, lalu ia menilik jam dinding yang ada di kelas.
"Ya Tuhan.. tadi kan kata Nia angkot yang lewatin jalur kanan bakal datang 15 menit lagi. Dan ini udah lewat 25 menit!" ucap Kayla panik.
Dengan terburu-buru Kayla beranjak dan meraih tasnya, ia berlari keluar kelas sambil menenteng tasnya dan mengenakannya di punggung. Lorong kelas sudah nampak sepi jadi Kayla merasa leluasa berlari, bahkan tanpa melihat sekeliling dengan benar.
Brrukk!!
Kayla jatuh terpelanting, dan tas yang belum sempat ia kenakan pun terlempar cukup jauh. Kayla meringis menahan sakit sambil mengelus pinggangnya. Ia kemudian menyadari didepannya ada empat orang pria berseragam SMA sepertinya, tengah berdiri menatapnya dengan sinis. Mereka adalah P-four, Alex dan ketiga temannya.
Opss.. Kayla baru saja menabrak salah satu dari mereka.
Keempat pria yang tadi berdiri berjejer didepannya kini melangkah memutar, membuat posisi Kayla terkurung di tengah. Kayla mendesah was-was, perasaanya tidak enak.
"Elu murid baru di kelas XI IPS?" tanya Bima.
Kayla hanya mengangguk menanggapi. Mereka berempat terlihat tersenyum miring.
"Owh..ini mainan barunya" gumam Sandi, membuat Kayla mengernyit bingung.
"Target udah di depan mata ni, bro. Yakin mau didiemin aja?" Sandi berbisik pelan di dekat telinga Alex. Samar, tapi Kayla masih bisa mendengarnya.
"Apa maksudnya? Target apa?" batin Kayla bertanya-tanya.
Keempat pria yang mengelilingi Kayla ini perlahan beranjak meninggalkannya, Kayla menghela nafas lega.
Tapi sepertinya Kayla salah mengira mereka melepaskannya, setelah salah satu dari mereka meraih tas Kayla yang tadi terlempar, mereka kembali berbalik menghadap Kayla dengan senyuman smirk mereka. Kayla hanya bisa menelan salivanya dan perlahan berdiri.
"Perasaan aku kok nggak enak gini ya" gumam Kayla dalam hati.
"Nih, ambil!" kata Alex, menyodorkan tas Kayla. Kayla pun melangkah maju untuk mengambil tasnya.
Ketika tangan Kayla terulur untuk meraih tasnya yang berada di tangan Alex, tas itu bergeser ke sisi kiri, Alex menjauhkannya dari jangkauan Kayla. Teman-temannya pun mulai tertawa.
Kayla mencoba meraih tasnya lagi, dan lagi-lagi Alex menjauhkan tas itu dari jangkauan Kayla. Tas itu beralih ke tangan Bima. Kayla mendengus lesu, ia baru mengerti kalau inilah target yang dimaksud mereka. Jadi, mereka mempermainkan Kayla.
Kayla melangkah ke arah Bima, tapi Bima melemparkan tas Kayla ke tangan Sandi. Kayla mulai kesal karena mereka mempermainkannya. Kayla melangkah ke arah Sandi, tapi Sandi melemparkan tas itu ke tangan Vicky.
"Pliiss... aku buru-buru." ucap Kayla kesal sambil melangkah kasar ke arah Vicky, dan Vicky melakukan hal yang sama, ia melemparkan tas Kayla ke tangan Alex.
"Yaudah kalo buru-buru, nih buruan ambil tas lu." sahut Alex meledek sambil menyodorkan kembali tas itu. Kayla mencoba meraihnya dengan gerakan cepat agar ia dapat meraih tasnya sebelum mereka mempermainkannya lagi, tapi ternyata reflek Alex lebih cepat darinya. Langi-lagi Alex menjauhkan tas itu dari jangkauan Kayla, membuat teman-temannya tertawa semakin kencang.
Kayla maju mendekati Alex agar ia lebih mudah menjangkau tasnya, tapi Alex malah melangkah mundur.
"Ayo ambil.." ledek Alex, ia memposisikan tas Kayla tepat di depan dadanya.
Kayla benar-benar kesal sekarang, dengan langkah memburu Kayla mendekat ke arah Alex dan dengan sigap meraih tasnya.
Grepp
Namun, bukan tasnya yang didapatkan Kayla, melainkan tubuh Alex. Astaga...
Karena Alex sebelumnya memposisikan tas Kayla di depan dadanya, lalu mengalihkan tas itu ke atas saat Kayla akan meraihnya, Kayla pun gagal mendapatkan tasnya dan malah tak sengaja memeluk Alex.
Seketika hening, suara tawa Alex dan teman-temannya tak terdengar lagi. Kayla yang menyadari posisinya pun sontak melepaskan dirinya dan melangkah mundur.
Alex yang masih terpaku dengan posisinya, tak bereaksi lagi saat Kayla merebut tas dari tangannya. Dan Kayla berlalu dari hadapan para pria menyebalkan ini.
Setelah kepergian Kayla keempat pria ini saling tatap dengan wajah kesal mereka, mengumpat siswi baru yang telah berhasil melarikan diri dari mereka.
"Sialan!! Berani-beraninya tuh cewek!" ucap Alex geram.
"Ck, awas aja besok!" timpal Bima menyeringai
"Sambutan apa nih yang pantes buat mainan baru kayak dia?" kata Vicky.
"Rencana lu apa bro?" tanya Sandi tak kalah kesalnya.
Alex menyilangkan kedua tangannya ke dada seraya tersenyum misterius.
... ....
... ....
... ....
Kayla berdiri di tepi jalan menunggu angkot, ia menyeka keringat yang mulai mengucur di pelipisnya karena berdiri di bawah terik matahari.
"Jam segini mana ada angkot yang lewat sini. Kalo mau, kamu mesti nunggu setengah jam lagi." suara berat bariton menyapa Kayla.
Kayla menoleh ke asal suara. Seorang pria menghentikan skuternya di depan Kayla, ia tersenyum pada Kayla. Kayla mengernyit menatap pria itu.
Ia menyodorkan helm cadangan pada Kayla.
"Biar aku anter." tuturnya.
Kayla masih menatapnya, seksama. Kayla mencoba mengingat-ingat sesuatu, ia rasa mereka pernah bertemu sebelumnya.
Oh, bukankah dia......
Senyum Kayla terbit setelah berhasil mengingat siapa dan dimana ia pernah bertemu dengan pria ini.
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... Bersambung...