Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Semangat dan Tekad Baru


__ADS_3

Setelah Kayla selesai mengoleskan salep pada leher dan rahangnya yang kemerahan, serta menempelkan plester pada bagian wajahnya yang luka, Kayla kembali duduk di ranjangnya.


Kayla masih terpikir tentang gadis berhoodie yang ia temui di apotek. Dia membeli alat tes kehamilan, padahal dia masih berstatus pelajar. Dia seumuran Kayla, dan sepertinya dia juga belum menikah kan?


Melihat gelagat dan raut wajahnya.. Kayla jadi cemas, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Apa dia hamil? Kayla menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan pikiran buruknya itu.


Tapi.. kalau benar dia hamil dan belum menikah, itu pasti akan membuatnya ketakutan sendiri dan panik, mungkin juga frustasi. Kayla yang membayangkannya saja merasa takut dan deg-deg an sendiri, apalagi gadis itu yang mengalaminya.


Kalau dugaan Kayla itu benar.. berarti gadis berhoodie itu tidak perawan lagi kan? Ya Tuhan.. perasaan Kayla jadi tak karuan memikirkan semua itu.


Apa dia kehilangan keperawanannya karena kesalahannya sendiri, atau direnggut paksa?


Kayla memegang dadanya sendiri yang mulai berdegup tak beraturan, rasanya air mata Kayla pun sebentar lagi akan tumpah. Malang sekali jika gadis itu benar-benar seperti yang Kayla duga.


Ah, apa Kayla berpikir terlalu jauh?


Membayangkan bagaimana nasib gadis itu, Kayla merasa lebih beruntung darinya. Kayla sadar.. rasa sakit dan kehancuran yang ia alami tidak sebanding dengan gadis berhoodie itu. Kayla masih sangat beruntung kan, meskipun ia dilecehkan dan dipermalukan.. ia tidak sampai kehilangan mahkotanya. Sedangkan gadis itu, sekarang pasti sedang risau memikirkan nasibnya, entah bagaimana hasil testpack nya dan bagaimana perasaannya sekarang. Kasihan dia. Kayla harusnya bersyukur karena nasibnya lebih beruntung dari gadis berhoodie itu.


Ya, Kayla masih beruntung. Tak terasa, air mata Kayla pun menetes membasahi pipinya. Ia merasa sedih sekaligus lega, diantara gadis-gadis di dunia ini yang mendapat perlakuan buruk atau mengalami penganiayaan dan pelecehan..


..mungkin ia lah yang paling beruntung.


Senyum tipis mulai terbit dari bibir kissable nya, sekarang Kayla tak merasa putus asa lagi. Kegelapan jalan yang ia lalui kini sudah menemukan setitik cahaya terang. la bertekad, bahwa ia harus bangkit dan tidak akan meratapi kemalangannya lagi.


Kayla menghapus air matanya seraya bergumam, "Aku gak akan nyerah. Aku gak boleh kalah dari cowok brengsek itu. Aku udah nantang dia sejauh ini, dan aku harus tetap ngelanjutin rencanaku. Aku juga udah nemu titik terangnya dari usaha aku, jadi aku bisa prediksi apa yang bisa aku lakuin selanjutnya dan yang bakal terjadi juga." Kayla tersenyum miring.


"Mamanya...?"


"Jadi itu kelemahannya? Oke, kita liat aja Al!" gumam Kayla dengan suara dalam dan ekspresi yang serius.


.......


.......


.......


Hari ini, Kayla kembali masuk sekolah. Dengan semangat dan tekad yang baru, Kayla harus terus berusaha merubah keadaan di sekolah dan mengembalikannya seperti sebelum Alex bersekolah di sana. Yang tidak ada pembullyan, seorang penguasa sekolah yang sombong dan ditakuti, atau pun guru yang lemah dan tidak bijaksana. Agar dia dan semua siswa-siswi bisa belajar dengan tenang dan khusyuk tanpa ancaman dan beban, para siswi yang sering dibully juga bisa mendapat keadilan dan Alex mendapat hukuman, juga agar para guru dihormati karena kebijaksanaan dan wibawanya, bukan hanya karena mereka adalah guru. Seperti keadaan di sekolah-sekolah pada umumnya.


Pagi, Mi!" seru Kayla seraya duduk di depan meja makan.


"Pagi sayang.. udah enakan?"


"Alhamdulillah Mi. Nih liat, Lily udah siap masuk sekolah lagi." sahut Kayla dengan semangat.


"Alhamdulillah... mami tersenyum simpul. "Yuk sarapan!"


"lya, mi"


Beberapa detik kemudian, Kayla dibuat bingung karena mami yang baru akan menyuap makanan yang baru diambilnya malah mengurungkannya dan tiba-tiba mami berdiri dari duduknya dan beralih menuju kamarnya.


"Ada apa, mi?"


"Sebentar ya, sayang."


Tidak lama setelah itu, mami kembali kemeja makan dengan membawa sesuatu ditangannya. Sebuah paper bag berukuran kecil diletakkan di hadapan Kayla.


"Apa ini mi?"


"Buka dong.."


Kayla meraih paper bag itu dan mengeluarkan isinya. Kayla terperangah senang melihatnya.


"Kacamata baru!"


"lya, mami liat.. kemarin kacamata kamu pecah kan sayang? Jadi mami beliin yang baru"


"Terima kasih banyak mi.. i love you so much.." ucap Kayla manja seraya menatap mami dan mendekap kacamata barunya di dada.


Memang benar setelah kacamata Kayla pecah kemarin, Kayla cukup kerepotan. Matanya yang minus itu tak bisa melihat apapun dengan baik, bahkan saat ia baru saja membuka mata ia sudah merasa pusing. Kayla tidak bisa hidup tanpa kacamatanya. Terpaksa Kayla harus memakai softlens lagi untuk membantu penglihatannya. Ternyata diam-diam mami telah membelikannya kacamata baru. Kayla senang sekali.


"Ngomong-ngomong sayang.. kenapa kacamata kamu bisa pecah?"


Kayla lantas terkesiap mendengar pertanyaan mami. Senyuman bahagianya seketika hilang, berganti dengan ketegangan.


"Em... itu.." Kayla gelagapan


Kemarin gak sengaja jatuh mi.


"Mami mengernyit, merasa ragu dengan jawaban Kayla.


"Beneran?"


"lya, mi. Makasih ya udah beliin Lily kacamata baru" sahut Kayla semangat sambil mencoba mengenakan kacamata barunya. Mami mengangguk sambil memperhatikan Kayla.


"Sayang, mami sebenarnya lebih suka kamu pake softlens loh dari pada kacamata."


"Kenapa mi?"


"Lebih cantik"


"Jadi maksud mami Lily jelek kalo pake kacamata?" sergah Kayla dengan ekspresi merajuknya.

__ADS_1


"Bukan gitu.. kan tadi mami bilang kamu lebih cantik, bukan berarti sebelumnya jelek. Gini loh sayang.. waktu kamu pake softlens di pesta ulang tahunnya Riana, mami tuh ngerasa aura kecantikan anak mami benerbener luar biasa loh" ucap Mami berbinar-binar.


Kayla hanya tersenyum dan menaikkan alisnya seraya mendengarkan mami.


"Penampilan kamu waktu itu kan emang beda dari biasanya. Yang biasa kamu pake kacamata sama berponi.. waktu itu enggak kamu keliatan lebih dewasa loh sayang dengan gaya itu. Mami suka."


Kayla terkekeh, "Emangnya kalo kayak gini Lily keliatan kayak anak kecil ya?"


Tanpa Kayla duga, mami mengangguk membuat Kayla melongo. Apa kacamata sebegitu berpengaruhnya bagi karakter Kayla, sampai mami berpendapat seperti itu?


"Mami kayak ngerasa punya anak gadis beneran waktu di ulang tahun Riana kemarin, kamu cantik banget.. sayang aja pake topeng. Coba kalo enggak, pasti semua orang kagum sama kecantikan anak mami"


"Apa tadi mami bilang? mami ngerasa kayak punya anak gadis beneran? Emangnya Lily-.."


"Ets..ets.. dengerin mami dulu sayang."


Kayla memanyunkan bibirnya sambil mendengus setelah menunjukkan kekesalannya.


"Maksud mami.. gaya dan penampilan kamu di ulang tahun Riana kemarin itu tuh bagus banget loh sayang, kamu cantik dan keliatan dewasa. Beda sama gaya kamu dan penampilan kamu biasanya, kayak sekarang gini.. mami selalu ngerasa liat Lily kecilnya mami" jelas mami sambil bertekan dagu dan menatap wajah Kayla dengan eskpresi takjubnya.


Kayla mempoutkan bibirnya. "Jadi bener kan.. Lily kayak gini keliatan kayak anak kecil..?"


"Keliatan sederhana dan polos sayang..kamu itu keliatan chubby dan imut pake poni sama kacamata, ngeliat kamu dengan penampilan ini mami selalu ngerasa anak mami masih kecil, masih jadi boneka kesukaan mami yang ngegemasin dan selalu jadi kesayangan mami." tatapan mami semakin dalam, Kayla hanya bisa terdiam membalas tatapan sang mami, sekaligus terenyuh.


"Tapi waktu ngeliat kamu dengan penampilan yang beda, mami sadar.. kalo ternyata boneka kecil mami udah besar, udah dewasa dan tumbuh jadi gadis yang cantik. Mami rasanya terharu dan bahagiaaa...banget." lanjut mami tak henti-hentinya takjub melihat sang putri.


"Mami.."


Kayla beranjak, berjalan mengitari meja makan dan berdiri di belakang mami sambil memeluk mami dari belakang.


"Lily lebih suka jadi boneka kecilnya mami loh dari pada jadi orang dewasa. Tapi Lily senang, mami bangga punya anak kayak Lily, yang kata mami udah dewasa dan cantik. Tapi Lily belum sedewasa itu ya Mi!" Kayla meletakkan kepalanya di pundak mami. "Lily bakalan selalu jadi anak kesayangan mami yang akan nemenin mami sampai kapanpun. Lily sayang mami." ucap Kayla manja.


Mami tersenyum seraya mengeratkan pelukan mereka.


"lya anak mami sayang..mau penampilan kamu gimana pun anak mami ini selalu cantik. Maafin mami ya udah banding-bandingin penampilan kamu. Mami sayang sama kamu" ucap mami seraya berbalik dan menangkupkan kedua tangannya di pipi Kayla, lalu mencium kening putri kesayangannya itu.


"Oh ya sayang, besok malam acaranya Bos Mami, kamu jadi ikut kan nemenin mami?"


"Nanti kamu dandan kayak waktu di ulang tahun Riana waktu itu ya! Mami mau ngenalin kamu ke teman-teman mami, mami mau semua orang tau kalo mami punya anak gadis yang cantik." sambung mami cepat sebelum Kayla sempat menjawab.


Kayla terkekeh geli. Apa kata mami tadi? Mami memintanya kembali berpenampilan seperti gadis dewasa lagi.. setelah sebelumnya mengatakan tak akan membanding-bandingkan penampilan Kayla?


"Kalo kamu gak mau.. mami ngambek ah, mami gak mau dateng ke acara itu." ucap mami seraya menyilangkan tangannya ke dada dan mempoutkan bibirnya.


"Kok jadi mami yang ngambek sih? Bukannya Lily ya yang harusnya ngambek, kan mami minta Lily dandan kayak gitu lagi. Lily kan lebih suka kayak gini, Lily mau pake kacamata baru Lily ini ke acara nanti." sahut Kayla seraya menunjukkan ekspresi ngambeknya tapi sambil tertawa geli.


Mami pun ikut tertawa.


...________________...


Hingar bingar dari kejauhan Kayla dengan menyebut namanya dan juga Alex, Kayla bisa mengerti situasinya. Sebelum pergi ke sekolah pun Kayla sudah memikirkan ini, ia sudah memprediksi kalau situasi di sekolah akan seheboh ini melihatnya kembali ke sekolah. Kayla juga sudah mempersiapkan hatinya dan mentalnya untuk menghadapi ini.


Kayla terus melangkah memasuki area sekolah, ia berusaha bersikap seperti biasa walaupun sangat sulit. Rasanya, Kayla tidak punya nyali untuk menunjukkan wajahnya apalagi bertatap muka dengan semua orang di sana, terlebih mereka yang menyaksikan insiden memalukan itu. Kayla berjalan gontai seraya menahan dirinya agar tak terlihat gugup, tatapannya lurus tanpa menoleh atau melirik siapa pun, walaupun mata mereka semua tentu tertuju pada Kayla, Kayla sedikit menunduk untuk menghindari tatapan mereka. la merasa malu dan canggung, deg-degan dan langkahnya terasa berat. Ingin sekali Kayla berlari menghindari mereka semua, apalagi setelah mendengar ocehan diantara mereka yang berbisik-bisik ketika Kayla berjalan melewatinya.


"Wah! Gila ya, dia masih punya nyali buat nunjukin diri"


"Palingan juga.. ini hari terakhir dia masuk, besok out deh"


"Gue pikir kemarin itu udah hari terakhirnya dia.. eh dia nongol lagi"


"Yah.. mau pamitan dulu kali dia, bikin drama perpisahan gitu.. Hahahaaa.."


"Gak tau diri amat sih!"


"Udah putus kali urat malunya. Cewek murahan mah mana punya malu"


"Ilih... ilfil banget gue"


"Gondok banget tau nggak gue, ngeliat mukanya itu.. huh!"


"Iya, gue juga. Pengen ngejambak rambutnya. Bisa-bisanya dia bikin Alex emosi jiwa"


"Udah tau kejebak di kandang singa,bukannya nyari jalan keluar malah sengaja ngeganggu singa nya. Tau rasa kan!"


"Tau rasa apaan..?? Itu keberuntungan lah!Keberuntungan yang gak pantes banget buat dia!"


"Kalo ada videonya.. udah gue sebar tuh kesemua akun medsos gue!"


Itu diantaranya yang dapat Kayla dengar,karena sebagian mereka hanya berbisik-bisik. Kayla heran, kenapa mereka menganggap Kayla beruntung? Kalau mereka memandang jijik padanya.. Kayla mengerti, bahkan Kayla pun sempat merasa jijik pada dirinya sendiri. Tapi kalau beruntung.. apa untungnya? Entah apa yang mereka pikirkan.


Kayla tetap berusaha mengabaikan semuanya dan berjalan lurus menuju kelasnya, sampai suara yang tak asing tertangkap indera pendengarannya. Kayla lantas terkesiap dan langkahnya terhenti,debaran jantungnya jadi tak karuan dan ia merasa was-was.


Tidak!


Kayla tidak siap untuk ini, meski ia sudah mewanti-wanti dirinya sendiri sebelum masuk sekolah hari ini. la memang mempersiapkan segala kemungkinan yang akan ia alami di sekolah, tapi untuk yang satu ini.. meski Kayla mencoba mempersiapkannya juga, tetap saja Kayla belum bisa.


Beberapa suara memang terdengar bersahutan sejak tadi, tapi hanya suara ini lah yang paling membuat Kayla gentar. Suara yang paling ingin ia hindari sekaligus suara yang paling ingin ia dengar rintihan dan derita darinya, sepertinya yang selalu membuat orang merintih dan menderita. Kayla benci, bahkan hanya dengan mendengar suaranya saja, apalagi jika melihat wajahnya. Kayla belum siap untuk itu.


Memang benar, tujuan Kayla kembali ke sekolah selain belajar, adalah untuknya.Untuk memperjuangkan keadilan dan hak-hak yang selama ini dia ambil. Untuk memberikannya pelajaran berharga yang akan membuatnya berubah. Untuk menghentikan ketidak benaran yang terjadi di sekolah karena ulahnya.


Karena dia, karena jalannya yang salah,sejauh ini tidak ada yang bertindak untuk meluruskan dan menuntunnya ke jalan yang benar, jadi Kayla lah sekarang yang akan bertindak, untuk kebaikan semua orang. Itu tekad Kayla.

__ADS_1


"Kita liat! Sampai mana nyalinya!"


Hanya kalimat sedatar dan sesingkat itu yang pria tampan bermata tajam itu katakan tapi mampu membuat Kayla seketika gentar dan langkahnya terhenti.


Setelahnya pria itu yang tak lain adalah Alex, melangkah memasuki kelasnya bersama ketiga temannya.


Kayla menghela nafas panjang. Meski tanpa menoleh ke arahnya, Kayla cukup bisa merasakan aura mencekam yang Alex tunjukkan. Kayla kembali melanjutkan langkah menuju kelasnya, meski beberapa suara lainnya terus mencoba mengusiknya.


"Kayla..!" seruan melengking dari ambang pintu kelas membuatnya sedikit terkesiap.


"Nia?"


"Sini sini.. ayo!" Nia menarik tangan Kayla dengan semangat dan membawanya ketempat duduk mereka.


"Kenapa sih Ni?"


"Ya ampun Kay.. sumpah aku kaget banget.. jantungan tau! Apa sih yang terjadi sebenarnya? Aku.. aku syok banget ngedengarnya..!" kata Nia menggebu-gebu, sambil mengipas-ngipaskan tangannya tak karuan. Kayla menghela nafas panjang.


Adit yang baru datang pun ikut nimbrung dan duduk di depan Kayla. "Kayla? kamu udah masuk sekolah.. kamu baik-baik aja?"


"Yah. seperti yang kalian liat" jawab Kayla seraya mengedikkan bahunya.


Adit memperhatikan wajah Kayla,memang terlihat baik-baik saja dan seperti biasanya, tapi ada satu yang membuat Adit mengernyit. "Kay? pipi kamu...?"


Nia pun ikut melirik ke arah pandangan mata Adit.


"Oh ini." Kayla menyentuh kedua pipinya yang masih ada bekas luka kecil disana, luka bekas cakaran kuku Alex waktu itu. Kayla memang tak memakai plester lagi di pipinya karena merasa lukanya sudah sembuh, tapi bekasnya tak serta-merta langsung hilang kan.


"Enggak papa, cuman bekas luka kecil doang."


"Bekas luka apa, Kay?" tanya Nia polos.


Sedangkan Adit langsung faham setelah memperhatikannya. Adit menatap iba pada Kayla, ia menelan salivanya yang hampir tercekat, hatinya mencelos.


Kayla hanya menatap Nia ambigu, "Udah lah, gak usah dibahas."


"Eh Kay, sebenarnya kita kemarin mau jenguk kamu loh. soalnya khawatir, kamu gak masuk gara-gara kejadian itu"


"Kamu sama Adit?"


Nia dan Adit mengangguk. "lya, tapi gak jadi." Nia mencibir ke arah Adit, membuat Adit salah tingkah dan membuang mukanya.


"Kenapa gak jadi?"


"Tau tuh Adit, ngeselin banget. Padahal kita udah di depan rumah kamu loh, tapi pas liat Pak Bayu. Adit langsung ngajak aku ngumpet"


Kayla mengernyit bingung sambil melirik Adit, yang dilirik malah menekan dahinya dan menunduk, menghindari tatapan Kayla.


"Trus.. kalian pulang? Tanpa nemuin aku?"


"lya. Ngeselin banget kan? Marahin aja tuh Adit! Masa' kita yang teman kamu gak jenguk, Pak Bayu aja jenguk kamu. Aku udah mau nyamperin kamu loh padahal, tapi dicegat sama dia tuh, trus dipaksa pulang." Sahut Nia bersungut-sungut.


"Ya enggak enak dong sama Pak Bayu, ngerti situasi lah..." Adit membela diri.


Kayla memutar bola matanya malas. "Harusnya kalian samperin aja.. biar Pak Bayu nya pulang. Aku males tau sama Pak Bayu"


Nia dan Adit lantas melongo mendengar Kayla bilang aku males tau sama Pak Bayu.


"Tapi kamu udah baik-baik aja kan sekarang?" tanya Adit sedikit mengalihkan. Kayla pun mengangguk.


"Kayla. Kamu serius dicium sama Alex?" Kayla reflek melototi Nia menunjukkan ketidak sukaannya atas pertanyaan Nia barusan, apalagi Nia mengucapkannya dengan ekspresi takjub.


"Beruntung banget sih, dari sekian banyak cewek yang naksir dan ngejar-ngejar dia.. Alex milih kamu Kay? Dia nyium kamu? Ya ampun... kamu dicium sama cowok paling keren, Kay?" Nia sampai berdecak kagum seraya menerawang ke atas seolah sedang membayangkan apa yang ia katakan.


"Hah??" Kayla mendengus kesal, "Kamu sehat, Ni?" tanyanya sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Nia, Membuat Nia bingung.


"Kamu ngomongnya ngelantur banget loh..kamu baik-baik aja kan?"


"Apa sih Kay.. aku baik dong" sahut Nia seraya menjauhkan tangan Kayla dari dahinya.


"Harusnya aku yang tanya kamu..kamu baik-baik aja abis dicium Sama pangeran ganteng?"


"Hah??" Kayla terbelalak tak percaya atas ucapan Nia.


"Nia! Aku tuh dilecehin bukan dicium!" Jawab Kayla dengan nada yang terdengar tinggi karena ia mulai marah.


"Dan apa kamu bilang? Aku beruntung? Sumpah ya, aku heran deh kamu kok sama aja sih kayak mereka, yang nganggep aku beruntung diperlakuin kayak gitu sama Alex?" Semprot Kayla sebelum Nia menjawab.


"Kamu? Apa kamu juga sependapat?" tanya Kayla beralih pada Adit, membuat Adit terkesiap. Adit menggeleng cepat saat Kayla menanyainya dengan kesal.


Kayla bahkan sampai berdiri dari duduknya saking kesalnya. Kayla tidak Menyangka Nia akan berpendapat seperti itu. lya Kayla tahu, Nia memang termasuk cewek yang mengagumi Alex. Tapi Kayla tidak menyangka Nia akan bereaksi seperti ini saat teman dekatnya sendiri yang dipermalukan.


Sangat aneh dan janggal, dalam kasus ini Kaya adalah korban, tapi orang-orang malah menyudutkannya dan bukan Alex si pelaku. Anehnya lagi, tak sedikit dari mereka yang menganggap Kayla beruntung bukannya malang.


Kok rasanya dunia terbalik ya..?


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... ....


...Bersambung...


__ADS_2