Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Agenda Alex


__ADS_3

Berbekal informasi yang mereka dapatkan dari Pak Rudi selaku guru BK di sekolah, Alex dan Kayla memulai agenda baru mereka. Setelah meminta maaf pada para korban bullying Alex, kini keduanya mulai mencari keberadaan para siswa dan siswi yang sudah keluar dari sekolah, yang keluarnya mereka disebabkan kekejaman bullying yang pernah mereka alami.


Ada satu orang siswa laki-laki dan enam orang siswi perempuan dalam agenda Alex. Dari data yang masih disimpan oleh Pak Rudi, mereka mendapatkan alamat rumah para siswa dan siswi itu, juga nomer hp orang tua mereka.


"Ello, Vivi, Juleha, Hanum, Gia, Sherly, sama Syifa. Kalo kasus Sherly, Syifa sama Gia aku udah tau. Nah yang empat lagi apa aja Al yang terjadi sama mereka?" tanya Kayla yang fokus pada catatan yang mereka dapatkan dari Pak Rudi pagi ini.


Alex memanyunkan bibirnya, "Aku lupa."


"Ih gampang banget udah lupa aja. Gimana mau minta maaf kalo kesalahannya aja lupa!"


"Itu dia! Ngapain minta maaf, lagian itu kasusnya udah lama kok, mereka juga pasti udah lupa sama aku."


"Kamu pikir mereka bisa lupa dengan mudah ya sama orang yang bikin mereka dikeluarin dari sekolah?"


"Enggak semuanya dikeluarin kok, cuman Vivi sama Juleha doang yang dikeluarin. Sisanya mereka keluar sendiri."


"Ya sama aja. Mereka pernah ngalamin kejadian buruk dalam aspek pendidikan mereka, gak mungkin mereka lupa gitu aja kalo kejadiannya cuman setahun atau dua tahun lalu doang"


Alex mendengus, "lya.. iya.. jadi kita mulai dari yang mana nih?" kata Alex malas.


"Kita coba hubungin dulu nomer mereka satu-satu, konfirmasi apa mereka bisa ditemuin atau enggak."


"Miss Kissable, apa perlu aku ngomong ke Bima, Sandi, sama Vicky. Aku pengen minta maafnya bareng mereka. Kan kita ngebully bareng-bareng."


Kayla sempat terdiam sebelum mengangguk, "Coba aja ya!"


Alex tersenyum lega. Semoga kali ini Bima, Sandi, dan Vicky mau diajak bicara baik-baik. Toh akhir-akhir ini mereka bertiga terlihat agak berbeda. Secermat perhatian Alex, sudah empat hari ini tidak terdengar pembullyan yang mereka lakukan. Saat beberapa kali mata mereka bertemu tatap juga nampaknya mereka menghindari tatapan Alex, dengan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya. Semoga mereka sudah melupakan kemarahan mereka.


... _______________...


Malam ini Bima, Sandi dan Vicky nongkrong di cofee shop milik kakaknya Vicky. Mereka bersantai sambil bernyanyi dan main gitar. Vicky dan Sandi yang suka menyanyi, sedangkan Bima suka bermain gitar.


"Cinta karena cinta.. tak perlu kau tanyakan..tak usah jelaskan karena hati ini telah bicara.." lirik lagu yang dilantunkan Vicky dan Sandi, diiringi petikan gitar Bima.


Treng...treng...


Bima mengakhiri petikan gitarnya. Tidak lama setelah itu Alex muncul, membuat mereka terdiam sambil saling melirik.


"Malam bro!" sapa Alex.


"Boleh gue gabung?" tanya Alex karena mereka hanya diam.


Alex menatap tanya pada ketiga temannya, berharap mereka mau menerima kehadirannya. Vicky mengedikkan bahunya menanggapi Alex, membuat Alex bersemangat. Itu sudah cukup bagi Alex sebagai jawaban bahwa Vicky tidak keberatan dengan kehadiran Alex. Alex pun duduk bergabung di meja mereka.


"Gue.. mau tau tanggapan kalian.. soal gue." ucap Alex sedikit ragu.


Mereka bertiga menunjukkan reaksi yang sama, mengernyit ambigu.


"Gue masih berharap kalian mau baikan sama gue, seenggaknya kalian mau maafin gue."


Mereka masih diam. Beberapa menit kemudian datang tiga orang gadis yang melambaikan tangan pada mereka, mereka pun membalasnya dan para gadis itu menghampiri mereka.


"Hai.." sapa mereka.


"Hai sayang!" Bima berdiri untuk menyambut Sissy, pacarnya.


Sandi pun berdiri untuk mencium kening pacarnya, Melly. Dan Lira pacar Vicky sedikit terkejut melihat Alex ada di sana.


"Ehemm! Sini duduk.." tegur Vicky pada Lira.


"Eh iya sayang." sahut Lira.


"Hai Al!" sapa Lira ragu.


"Hai" balas Alex singkat dengan senyuman tipisnya.


"Sorry nih Al, tempat duduknya kita sediain buat mereka bertiga." ujar Vicky datar seraya menunjuk tempat duduk yang Alex duduki dan juga tempat duduk yang masih kosong di samping Alex.


"Jadi lu bisa..." Vicky melanjutkan kalimatnya dengan mengangkat telunjuknya, meminta Alex beranjak.


"Oh?" Alex mencelos, dengan berat hati ia pun beranjak dan mempersilahkan ketiga gadis itu untuk duduk.


Alex masih berdiri di dekat meja mereka. Mereka mengabaikannya.


"Btw, ini triple date ya. Elu gak punya pacar kan buat lu kenalin ke cewek-cewek kita, jadi.. sorry!" ujar Bima mengusir dengan sindirannya.


"Oke, gue duluan. Kita bisa lanjutin obrolan tadi besok kan?" ujar Alex.


"Terserah. Sekarang lu bisa cabut, biar kita gak terganggu!" ujar Sandi sarkas.


Alex pun berbalik dan pergi dari sana, dengan langkah gontai dan hati yang berdenyut ngilu.


... ....


... ....


... ....


Sepulangnya Alex ke rumah, la curhat pada Kayla lewat chat. Diabaikan rasanya sangat tidak mengenakkan, mereka juga menyindir Alex. Itu yang Alex alami selama beberapa bulan ini. Tapi Alex belum menyerah, semoga besok mereka bertiga berbesar hati agar mau bicara pada Alex.


Selama beberapa bulan ini mereka bertiga juga beberapa kali mengganggu Kayla, sangat sulit bagi Alex berada di situasi itu, tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam. Meski ia sangat marah karena Miss Kissable nya disakiti, ia tidak mau sampai pertengkaran di tengah lapangan waktu itu terulang lagi. la sudah sangat menyesal karena telah dipukul dan juga memukul teman-temannya sendiri.


Bukan hanya mereka, selama dekat dengan Alex, semakin banyak siswa dan siswi yang tidak menyukai Kayla. Bahkan mereka tidak segan-segan mengganggunya juga, meski mereka tahu Alex bersamanya. Tentu saja Alex marah ketika mendapati Miss Kissable nya diganggu, tapi Kayla selalu berhasil menenangkan dirinya sehingga ia tidak membalas perbuatan para pengganggu itu. Dan tanpa sepengetahuan Kayla, rasa marah dan dendam terpendam dalam dada Alex untuk para pengganggu itu. Sudah lama ia tidak membully siapapun, tentu sulit bagi otak liciknya serta tangan jahilnya menahan itu.


Tapi sekali lagi, ia tidak mau berbuat sesuatu yang akan membuat Kayla kecewa. la tidak mau merusak usaha dan perjuangan yang mereka berdua lakukan selama beberapa bulan ini. Berperang melawan ego memang sangat sulit, tapi dukungan Kayla lah yang membuat Alex bertahan sampai saat ini. Dan Alex tidak mau menyia-nyiakan itu.


Sejauh ini, usaha yang mereka berdua lakukan sudah menunjukkan hasilnya. Perubahan yang diinginkan sudah terlihat, dan Alex rasa tujuannya hampir tercapai. Ia tinggal mempertahankan keadaan ini agar tetap baik, juga beberapa tugas yang sebentar lagi akan ia selesaikan.


Tanggung jawabnya sebagai CEO dan owner juga berjalan baik. Awalnya ia kalang kabut menangani beberapa perusahaan dan bisnis-bisnis lainnya sekaligus, tapi berkat kesabaran dan ketelatenannya, juga bantuan dari beberapa pegawai senior yang merupakan orang kepercayaan papanya, serta dukungan Kayla tentunya, akhirnya semua bisa terkendali. Kini ia bisa menjalankannya dengan baik dan benar, dan ia berencana akan mengembangkan bisnis-bisnis itu dalam waktu dekat. Mungkin tahun depan jika situasi dan kondisinya memungkinkan.


... __________________...


Derrt...dertt....


Ponsel Kayla berdering. la sedikit kaget melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Om William?" gumamnya.


Sudah lama rasanya sejak ia bertemu dengan papa Alex dan bertukar pikiran waktu itu. Kayla tebak, papa Alex pasti akan menanyakan tentang putranya yang sudah banyak berubah itu. Kayla pun mengangkat telepon.


"Assalamu'alaikum, Kayla!"


"Wa'alaikum salam, Om!"


"Gimana kabar kamu?"

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, Om."


"Kayla, terima kasih banyak ya, kamu udah mau bantu Alex! Om liat Alex banyak berubah, Om senang, Om bangga sekali."


"Sama-sama, Om. Saya juga senang banget Alex bisa kayak sekarang, itu juga berkat dukungan Om."


"Ini semua hasil kerja keras kamu Kayla. Kamu pantas dapat penghargaan!"


Kayla tertawa kecil, "Om bisa aja."..


"Om gak tau harus ngomong apa lagi sama kamu, intinya Om sangat bersyukur liat Alex yang sekarang. Kamu bener-bener dampingin dia sampai dia bisa kayak gini."


"Kamu bisa minta apa aja sama Om! Oh iya, kapan kita bisa ketemu, Kayla? Om mau kasih sesuatu buat kamu"


"Gak usah repot-repot Om, saya gak ngeharapin apa-apa kok. Kita kan sama-sama pengen yang terbaik buat Alex."


"lya, tapi Om mau berterima kasih sama kamu"


"Kan barusan Om udah bilang terima kasih. Saya ngerti Om kan orang sibuk, jadi saya rasa gak perlu Om buang-buang waktu buat ketemu saya. Saya cuman pengen satu hal, kalo Om gak keberatan."


"Tentu."


"Luangin waktu buat ngobrol sama Alex setiap hari ya Om, atau enggak dua hari sekali. Alex butuh berbagi sama papanya, obrolin apa aja.. yang penting kalian bisa quality time, sebentar juga gak papa. Kalo Om lagi sibuk atau gak pulang, ngobrol aja lewat telpon."


Hening. Tidak ada sahutan dari seberang sana.


"Om? Halo?"


"Maaf Om apa saya terlalu lancang?"


"Oh, Kayla! Iya Om dengar, Om akan usahain itu. Sekali lagi terima kasih ya!"


"lya Om. Terima kasih juga, maaf kalo saya salah ngomong."


"Enggak papa. Om cuman mau bilang.. Alex beruntung punya cewek kayak kamu"


Degg


"Assalamu'alaikum, Kayla!"


"Wa'alaikum salam, Om!" Kayla tersenyum tipis.


... ________________...


Pagi ini Alex kembali mencoba untuk bicara pada teman-temannya. Meski awalnya mereka mengabaikan Alex seperti kemarin, lambat laun mereka akhirnya mau mendengarkan Alex. Selain meminta maaf, Alex juga menjelaskan tentang bagaimana saat ia baru mengetahui identitas Miss Kissable. Alex memberikan pengertian kepada ketiga temannya itu tentang yang ia rasakan, juga tentang betapa pentingnya mereka bertiga untuk dirinya. Terakhir, Alex menjelaskan tentang alasannya berubah, juga perihal kedekatannya dengan Kayla akhir-akhir ini.


Bima, Sandi, dan Vicky menjadi pendengar yang baik kali ini. Mereka menyimak penjelasan Alex dengan sikap yang cukup terbuka. Alex sangat bersyukur.


"Semua yang gue bilang.. gue jujur. Sekarang terserah kalian, kalo hati kalian masih gak bisa nerima, gue faham kok" ucap Alex mengakhiri kata-katanya.


"Jadi sekarang semuanya udah berubah?" ujar Vicky ragu.


"Gak semuanya Vick, kalian tetap teman gue kok. Buat gue gak ada yang bisa ngambil tempat kalian dalam hidup gue." jawab Alex tulus.


"Kok elu bisa sih ngejalanin ini semua? Gue yakin pasti gak mudah kan." ujar Sandi.


"Ya. Berat sih, tapi demi kebaikan, demi masa depan, gue belajar buat ini semua. Gue belajar dari kejadian-kejadian yang udah gue alamin, termasuk dari pertengkaran kita waktu itu."


"Btw, elu sama nyokap lu.. gimana?" tanya Bima.


"Tapi itu kan akar semua masalah lu." timpal Bima.


"Emang. Tapi gue belum siap buat ketemu dia lagi."


"Oh iya, gue mau ngasih tau kalian soal agenda gue selanjutnya."


"Agenda selanjutnya?" monolog Sandi.


"Hm. Gue mau minta maaf ke anak-anak yang udah keluar dari sekolah, gara-gara dulu mereka kita bully"


Bima, Sandi, dan Vicky menaikkan alisnya heran. Mereka saling melirik.


"Ah, semuanya lu mintain maaf, kayak mau lebaran aja maaf-maafan!" Alex terkekeh geli mendengar perkataan Sandi.


"Mereka, siapa aja tuh?" tanya Bima.


"Emm.. di agenda gue ada tujuh orang. Gue juga lupa nama-nama mereka."


"Ck, namanya aja lupa. Gimana lu mau minta maaf?" ledek Vicky.


"Gue udah dapet infonya dari Pak Rudi. Sekarang tinggal hubungin mereka atau samperin rumah mereka langsung"


"Serius?" tanya Vicky tak percaya.


"Hm. Tapi gue masih ragu sih"


"Kenapa?" tanya Bima.


"Karena gue.. ngerasa gak lengkap tanpa kalian, bro!"


Bima, Sandi, dan Vicky tertawa mendengarnya. Terdengar geli bagi mereka saat Alex berkata-kata manis seperti itu, apa sekarang hatinya telah menjadi begitu lembut sampai dia bisa berkata sedramatis itu? Ah lucu sekali.


"Jadi maksud lu, elu mau ngajak kita minta maaf sama mereka semua? Heh, emangnya lu pikir kita udah maafin lu apa?" lakar Bima, membuat Sandi dan Vicky tertawa lagi.


Alex bingung, mereka bercanda atau sungguhan meledek dirinya? Mereka pikir ini lelucon, padahal Alex serius. Setidaknya sampai disini Alex sudah merasa sedikit lega karena mereka bertiga mau bicara padanya.


... _______________...


Diurutan pertama agenda mereka, ada nama Ello. Siswa laki-laki sekelas Alex saat masih duduk di kelas X. Dia tidak dikeluarkan dari sekolah, tapi karena kesalahan yang tidak sengaja dia buat dulu, Alex membuat kedua orang tuanya dipecat dari pekerjaan mereka, yang merupakan bawahan papa Alex di kantor. Sehingga membuat ekonomi keluarganya kesulitan, dan dia terpaksa keluar dari sekolah. Dia saat ini bersekolah di sekolah swasta saja, sesuai ekonomi keluarganya.


Sore ini Alex dan Kayla mengunjungi kediamannya. Mereka berdua mengendarai motor Alex dengan berboncengan. Sesampai di depan rumah Ello, Alex merasa gugup. Bukan karena ia segan pada Ello, ia bahkan tidak ingat bagaimana rupa si Ello siswa yang dulu ia buat menderita itu. Alex gugup karena ia datang untuk meminta maaf, entah bagaimana reaksi Ello saat melihatnya, apalagi saat ia meminta maaf. Dan sudikah Ello memaafkannya?


Rumah Ello terbilang sederhana, di gang perumahan yang padat. Tidak ada bel di depan pintu rumahnya, Kayla dan Alex mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Sembari menunggu sang pemilik rumah membukakan pintu, Alex menggenggam tangan Kayla untuk mengatasi kegugupannya.


"Tenang Al, gak perlu terlalu tegang. Tunjukin kalo kamu serius mau minta maaf!"


Alex mengangguk.


Ceklekk


Pintu terbuka, seorang pemuda jangkung bermata sayu berdiri diambang pintu. la nampak terkejut saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya.


"Assalamu'alaikum." seru Kayla.


"Wa'alaikum salam" sahutnya.

__ADS_1


"Masih ingat dia?" tanya Kayla pada Ello, sambil menunjuk Alex. Sedangkan Alex berdiri dengan kaku.


Ello mengangguk sebagai jawaban. la masih nampak tak percaya melihat Alex.


"Oh, silahkan masuk!" ucapnya saat tersadar.


Setelah Ello mempersilahkan Alex dan Kayla duduk, dia pergi ke dalam.


"Miss Kissable, gimana?" tanya Alex nampak cemas.


"Rileks Al.."


"Aku harus ngomong apa?"


"Minta maaf." jawab Kayla singkat, membuat Alex berdecak.


"Tapi gimana..?"


Kayla mencoba menenangkan Alex dan memberinya arahan. Beberapa menit kemudian Ello keluar dengan membawakan dua cangkir teh.


"Silahkan!" ucapnya seraya meletakkan dua cangkir teh di depan Alex dan Kayla.


Ello berdehem, ia nampak kaku berhadapan dengan Alex, Kayla bisa melihat itu.


"Emm.. elu masih ingat gue?" tanya Alex memulai.


Seketika Ello mengubah mimik wajahnya, ia terkekeh. "Menurut lu gue bisa lupa?!" jawabnya datar tapi nampak serius.


Tentu Ello ingat, kejadian ítu terjadi satu tahun yang lalu. Pada saat itu mereka berada di kelas biologi, Ello berjalan membawa prakarya yang baru ia selesaikan, ia akan menyerahkannya pada guru. Secara tidak sengaja ia menyenggol prakarya milik Alex, sehingga jatuh dan rusak. Bencana dimulai. Ello meminta maaf tapi Alex terlanjur marah, Alex memukulnya dan merusak prakarya milik Ello yang susah payah ia buat. Ello pun tidak terima prakarya nya dirusak, ia membalas memukul Alex sehingga terjadi perkelahian. Setelah itu, Ello pikir masalah mereka selesai dan Alex melupakan kejadian itu. Tapi ternyata tidak, beberapa hari setelahnya ayah dan ibu Ello pulang dengan sedih, mereka bilang kalau mereka dipecat dari pekerjaan mereka.


"Untuk itu gue kesini." ucap Alex menyadarkan Ello dari lintasan ingatannya.


"Gue minta maaf! Gue emang udah keterlaluan, gue nyesel."


Ello diam.


"Apa lu bisa maafin gue?" tanya Alex.


Ello melirik Alex dan Kayla bergantian. "Apa seorang Alex udah jadi banci, buat nyamperin gue trus minta maaf, ditemenin cewek?!" katanya sarkas.


Alex mengepalkan kedua tangannya, menahan marah. Kayla pun mulai khawatir.


"Maaf Ello, kita emang gak saling kenal tapi urusan Alex adalah urusan aku juga. Jadi tolong maklumin kalo aku keliatan ikut campur."


Ello memfokuskan tatapannya pada Kayla. "Kita kesini buat minta maaf, Alex udah berubah, dia bukan lagi anak yang sombong ataupun pemarah kayak yang dulu kamu kenal, tapi itu gak berarti dia kayak apa yang kamu bilang tadi. Alex udah nyadarin kesalahannya, makanya dia datang kesini. Buat minta maaf, bukan nyari masalah. Kita ngeharap kebesaran hati kamu buat ngasih maaf!" ucap Kayla tenang.


"Minta maaf mah gampang.. dia udah terlanjur ngerenggut hak gue, dia bikin orang tua gue susah. Kalo gue maafin dia, apa yang bisa gue dapetin? Apa ada untungnya buat gue?" ujar Ello pada Kayla.


"Eh, lu-.."


"Al.." tegur Kayla saat Alex mulai terpancing emosinya.


"Kita mau maaf yang tulus dari kamu. Kalo kamu minta syarat, kita bisa terima kok. Sebutin aja apa yang kamu mau!"


Alex mengernyit tak suka mendengar perkataan Kayla. Tapi ia tetap diam agar situasi tidak semakin buruk, meski suasana hatinya buruk.


"Bersihin nama baik orang tua gue, kalo bisa gue pengen orang tua gue balik lagi kerja diperusahaan itu!"


"Oke, itu gampang." sahut Alex datar.


Ello diam, ia merasa tidak yakin dengan Alex. Mengherankan memang, jika Alex benar-benar telah berubah. Entah apa saja yang terjadi setahun belakangan sehingga hatinya terbuka untuk meminta maaf, pikir Ello.


"Apa dia bisa dipercaya?" tanya Ello pada Kayla.


"Tentu, aku jamin!" sahut Kayla mantap.


... ....


... ....


... ....


Sepulang dari rumah Ello, Alex terus menggerutu sepanjang jalan. la begitu kesal dengan sikap Ello, bahkan dengan Kayla juga. Karena Kayla banyak mengalah dan malah menerima syaratnya yang menurut Alex tidak tahu diri itu. Sedangkan Kayla hanya menanggapi Alex dengan santai seperti biasanya.


... _________________...


Keesokan harinya, Alex dan Kayla berencana mengunjungi rumah Vivi langsung sepulang sekolah. Kali ini Alex mengajak Kayla pergi mengendarai mobil sport merah kesayangannya.


"Ini alamatnya, Al" ujar Kayla seraya memperlihatkan selembar kertas yang bertuliskan alamat rumah Vivi.


"Oke." Alex mengangguk. la menyalakan mesin mobilnya. Tapi sebelum ia sempat melaju, Bima, Sandi, dan Vicky menyergahnya.


"Agenda hari ini.. mau kemana?" tanya Bima, membuat Alex dan Kayla saling melirik bingung.


"Ke rumah Vivi." sahut Kayla.


Mereka bertiga mengangguk-angguk sambil mengingat-ingat sesuatu tentang Vivi.


"Ada apa bro?" tanya Alex.


"Kok ada apa, bukannya kemarin elu ngajak kita?" ujar Vicky membuat Alex terperangah.


Kayla tersenyum senang, begitu juga dengan Alex. Wajah keduanya berbinar seketika.


"lya!" Alex buru-buru keluar dari mobilnya.


"Trus kenapa elu keluar? Bukannya ngajak kita masuk!" ujar Sandi nampak kesal.


"Oh?" Saking senangnya Alex sampai tidak bisa berpikir.


"lya. Ayo masuk, kita bareng." ujar Alex antusias sambil membukakan pintu mobil untuk ketiga temannya itu.


Merekapun masuk ke mobil Alex. Mereka bertiga duduk di jok belakang, sedangkan Kayla duduk di depan, di samping kursi kemudi yang dikemudikan oleh Alex sendiri. Kayla sangat senang dan lega melihatnya.


"Bro, sorry nih, gue bawa.." Alex bicara pada teman-temannya sambil melirik Kayla.


Bima, Sandi, dan Vicky berdehem-dehem keras menggoda Alex, membuat Alex salah tingkah dan Kayla pun tersipu malu sambil menyembunyikan wajahnya.


... ....


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... Bersambung...


__ADS_2