
Entah kenapa ketika Alex melihat Kayla, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Tapi setelah Alex perhatikan, tidak ada yang aneh pada wajah Kayla. Hanya saja, perasaan Alex sendiri yang membuatnya berpikir kalau ada yang berbeda dari Kayla.
Semakin lama Alex menatap Kayla, ia mulai melihat bayangan Miss Kissable lagi. "Ck, sialan! Kenapa sih gue ngebayangin Miss Kissable lagi pas liat nih cewek?!" rutuknya dalam hati.
"Mana si kutu buku?" tanya Bima.
Kayla sedikit terkesiap karena sejak tadi ia lumayan tegang berhadapan dengan Alex, dan sekarang perhatiannya teralihkan pada Bima yang tiba-tiba bertanya dengan nada ngajak ribut.
"Udah pulang." sahut Nia.
"Siapa kutu buku?" gumam Kayla pelan.
"Adit." sahut Nia berbisik.
"Mana si cewek penakut?" Bima bertanya pada dua orang siswi yang baru saja akan lewat di dekatnya.
Keduanya terlihat kaget karena pertanyaan Bima yang tiba-tiba dan dengan memekik.
"Si..siapa? Annisa ya?" tanya salah satu siswi itu hati-hati.
"Ya siapa lagi!" bentak Bima, membuat kedua siswi itu berjengkit takut.
"Ngapain cari Annisa? Kalian mau nakut-nakutin dia lagi?" sergah Kayla sebelum kedua siswi itu sempat menjawab.
"Heh?! Kenapa elu yang sewot?!" ketus Bima.
"Kamu punya masalah sama Adit atau sama Annisa?" tanya Kayla lagi.
"Sama lu!" pekik Bima kesal.
"Insane!! Masa' gue bandingin Miss Kissable sama cewek cupu sialan ini?!" batin Alex setelah melihat Kayla yang lagi-lagi mencampuri urusannya dan teman-temannya, padahal Kayla sendiri sedang dalam masalah.
"Heran gue! Mau lu apa sih? Ikut campur mulu" lanjut Bima.
"Aku tau kenapa kalian cegat aku, aku jugatau kenapa kalian nyari Adit, karena waktu itu aku sama Adit dateng ke markas kalian kan?! Tapi apa urusannya sama Annisa?" kata Kayla serius.
"Kalo kalian cowok dan bukan pengecut, kalian gak akan nargetin Annisa karena kesalahan Adit. Sebenarnya kalian mau bikin Adit takut, atau kalian yang takut sama Adit? Kenapa malah manfaatin adiknya yang gak tau apa-apa daripada kalian nargetin Adit langsung?" lanjutnya tanpa gentar.
Jangankan hanya Bima, semua yang mendengarnya pun dibuat kaget sekaligus takjub dengan keberanian Kayla berkata seperti itu.
Alex terbelalak dan seketika meradang. Tapi ketika mata mereka bertemu pandang, entah kenapa kemarahannya perlahan mereda.
"Kurang ajar lu! Ngatain kita pengecut?" Bentak Sandi.
"AL, lu denger kan?! Nih cewek makin berani aja, gak ada kapok-kapoknya. Kasih gue perintah, harus di apain nih cewek sialan?!" ujar Vicky tak kalah jengkelnya.
"Marah gak bakal ngerubah apapun. Aku yakin, bukan cuma aku yang mikir kayak gitu. Kalian gak malu sama perbuatan kalian? Pikirin harga diri kalian sendiri dong.. masa' cowok nyerang cewek? Gak gentle banget!"
Nia menyenggol Kayla, "Udah Kay.. jangan bikin mereka makin marah.." cicit Nia pelan.
"Ck, sialan!! Nih cewek gede' banget nyalinya. Apa sih yang dia pikirin?! Dan gue.. kenapa gue malah liat Miss Kissable mulu sih dari matanya?! Kenapa gue malah ragu buat bentak dia?!" gerutu Alex dalam hati.
Bima berdecih geram sambil melangkah maju mendekati Kayla. "Al, jangan diem aja dong!! Dia berani ngehina kita!!"
"Terserah kalian mau apain dia! Gue gak mau ngerusak mood gue Bim, gue juga gak mau ngotorin tangan gue seminggu ini, sampe gue ketemu cewek gue lagi." ucap Alex datar kemudian beranjak pergi begitu saja.
Bima, Sandi, dan Vicky melongo melihat reaksi Alex. Kayla dan semua orang yang melihatnya pun ikut dibuat heran.
"Eh, Al! Kok main pergi aja? Gue gak terima ya kita dikatain begitu!" pekik Sandi saat langkah Alex mulai menjauh.
"Ck, kenapa sih Alex?" kesal Bima, padahal ia sudah tidak tahan ingin menjambak rambut Kayla saking geramnya.
"Luar biasa Miss Kissable, gimana caranya dia bisa bikin Alex berubah gini ya?" gumam Vicky, membuat Kayla reflek menoleh kearahnya sambil menaikkan alisnya.
Sementara Alex berjalan gontai sambil melamun, ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Hari ini kata-kata yang dilontarkan Kayla memang begitu tajam dan membuatnya marah. Tentu saja, sebagai seorang pria dikata-katai seperti itu pasti melukai harga dirinya. Tapi disisi lain, bayangan Miss Kissable yang ia lihat dimata Kayla, seolah tak mengizinkannya untuk bertindak kasar pada Kayla.
"Miss Kissable... kayaknya aku udah tergila-gila sama kamu. Sejak aku natap wajah kamu dengan jelas kemarin, aku gak bisangelupain kamu. Aku bisa ngeliat kamu dimana-mana, bahkan dimata cewek cupu itu. Huuuffft..."
...________________...
Kayla mengirim pesan singkat ke nomor Adit.
π±
"Adit, Alex sama teman-temannya udah taukalo kita pernah masuk ke markas mereka. Mereka marah, tadi mereka juga nyari adik kamu Annisa. Aku takutnya mereka ngerencanain sesuatu buat Annisa, kamu hati-hati ya, Dit! Jagain Annisa terus!"
Beberapa menit kemudian, masuk chat balasan dari Adit.
π±
"Oh gitu ya, Kay. Makasih ya udah ngingetin. Aku pasti jagain Annisa kok, kamu juga hati-hati loh.. sebelumnya kan kamu sering kena masalah sama mereka."
π±
__ADS_1
"Kamu tenang aja, Dit. Aku kan udah terbiasa ngehadapin mereka, jadi ini bukan masalah besar buat aku. Yang penting kita harus pastiin, mereka gak akan ngapa-ngapain Annisa."
π±
"Oke, Kay! Thanks banget ya udah ngasih tau, dan peduli juga sama adik aku."
π±
π
Kayla tersenyum dan mendengus lega setelah mengirim chat terakhirnya yang hanya emoticon itu.
"Semoga aja Annisa aman." gumamnya.
Kayla duduk di depan meja belajarnya. Usai mengerjakan PR tadi, Kayla teringat kejadian sepulang sekolah yang cukup mengganggu pikirannya. Dan karena itulah Kayla mengirim chat pada Adit.
"Heran. Mereka gak punya malu ya, gangguin Annisa buat bikin Adit jera?! Mereka pikir itu hebat apa? Dasar preman sekolah!" Kayla mengoceh sendiri.
Kayla kemudian teringat akan reaksi Alex tadi. Kayla rasa kata-katanya cukup menyinggung mereka berempat, tapi kenapa Alex tidak terlihat marah. Kayla hanya melihat sekilas kekesalan dari mata Alex, setelahnya Alex langsung mengalihkan pandangannya dari Kayla.
Jika Bima, Sandi dan Vicky saja sangat marah dengan kata-kata Kayla, kenapa Alex tidak? Bahkan ia seolah tidak peduli, dengan pergi begitu saja dan membiarkan ketiga temannya yang mengurus masalah itu. Seharusnya kan dia yang paling terusik dengan kata-kata Kayla itu, secara... Alex terkenal sangat pemarah dan tidak sabaran.
"Aneh."
Kayla jadi teringat ucapan Vicky tadi. "Luar biasa Miss Kissable, gimana caranya dia bisa bikin Alex berubah gini ya?!"
"Masa' sih itu ada hubungannya sama aku?" gumam Kayla lagi.
Kayla kemudian teringat kata-kata Alexsesaat sebelum Alex pergi tadi, kalau dia tidak ingin merusak mood nya dan tidak mau mengurus masalah apapun selama seminggu, sampai dia bertemu ceweknya.
Ceweknya? Apa yang dimaksud Alex adalah Miss Kissable? pikir Kayla. Sepertinya iya, karena setelahnya Vicky berkomentar seperti di atas tadi. Bahwa Alex berubah karena Miss Kissable.
"Apa-apaan! dia bilang cewek gue?l isshhh..!!" cibir Kayla setelah mengingat kata-kata Alex.
Kalau dipikir-pikir, Alex yang terkenal pemarah itu tidak menunjukkan kemarahannya sedikit pun saat dia berperan sebagai Mr Strawberry. Dan dia juga bisa bersabar selama ini menunggu pertemuan dengan Miss Kissable, bahkan saat Kayla akan pergi malam itu tanpa menjawabnya, dia juga tidak marah dan mau bersabar menunggunya satu minggu. Padahal selama ini yang terlihat, sabar bukanlah sifat seorang Alex.
Bagaimana bisa dia memiliki dua sifat yang bertolak belakang itu, saat di depan Miss Kissable dan saat di sekolah?
"Apa jangan-jangan.. dia udah ngenalin aku? Apa dia udah tau kalo aku Miss Kissable??"
Kayla merasa cemas sendiri memikirkannya.
..._________________...
Alex duduk bersila dipinggir ranjangnya dengan bertekan dagu sambil memandangi lukisan wajah Miss Kissable.
"Tapi aku bingung, kenapa sih pas aku liat si cewek cupu itu.. kok aku langsung keinget kamu? Mata dia tuh.. huh! Aku gak tau kenapa, aku gak bisa lama-lama liat dia. Ck!" Alex menggeleng kesal.
"Apa ini karena rasa bersalah aku ya?"
Setelah terdiam dan menunduk beberapa saat, Alex kembali menatap lukisan Miss Kissable.
"Miss Kissable, sekarang aja aku belum tau kamu mau nerima aku atau enggak. Gimana kalo kamu tau.. aku ini cowok brengsek?" gumamnya lirih.
"Aku pernah kurang ajar sama cewek cupu itu. waktu itu aku gak bisa nahan diri aku pas nyium aroma stroberi dari tubuh dia. Aku juga langsung keinget sama kamu pas liat bibir dia, kamu tau kan aku kangen banget sama kamu?! Waktu itu aku ngerasa kamu yang ada di depanku, tapi abis itu aku sadar kalo dia bukan kamu. Dia itu cewek sialan yang nekat bikin aku marah, dia benar-benar bikin aku naik darah sampai aku hilang kendali. Aku benci banget sama dia pas dia nyebut mama, pas dia melototin aku, dia nantang aku!"
Alex menghela nafas gusar.
"Aku benci, cewek kayak dia kenapa bisa ngingetin aku sama kamu, Miss Kussable cewek yang aku cintai. Aku benci, ngeliat dia.. tapi aku ngerasa ngeliat kamu. Gak adil banget kan Miss Kissable?!" gerutunya kesal.
"Tapi yang udah terjadi.. aku malah ngelampiasin kebencian aku ke dia, aku.. aku maksa nyium dia." Alex berdecih kecut. "Aku sadar kalo aku kasar dan keterlaluan, aku inΓ brengsek Miss Kissable." lirihnya.
"Aku nyesel. Selama ini aku gak pernah nyentuh cewek kayak gitu. Aku bahkan gak suka liat cewek, tapi aku malah udah kurang ajar sama dia."
"Apa karena aku ngerasa bersalah sama dia ya, aku jadi ngeliat kamu dimata dia??"
"Atau.... karena aku terlalu rindu sama kamu?" Alex menghela nafas frustasi.
"Miss Kissable..." rengeknya sambil menatap frustasi pada lukisan gadis nya itu.
... ________________...
Setelah selesai olahraga, para siswa dan siswi kelas XI membubarkan diri dari lapangan. Ada yang duduk merehatkan penat di kursi-kursi pinggir lapangan, sambil makan, minum, atau hanya mengobrol saja. Ada juga yang melanjutkan dengan bermain sambil berolahraga lainnya di lapangan sekolah yang besar itu. Seperti main tenis meja, sepak bola, main basket, dan beragam olahraga lainnya.
"Bim, gimana rencana kita?" tanya Sandi.
"Al, lu yakin gak mau ikutan. Gue tau lu juga pasti marah gara-gara kata-kata si cupu kemarin, masa' lu gak mau ngasih pelajaran apa gitu ke dia?! Kita udah ada rencana nih, seenggaknya lu liat kek, biar puas."
"Kalian duluan aja ke markas, gue mau ke toilet dulu" malah itu jawaban dari Alex.
Alex pun beranjak, memisahkan dirinya dari Bima, Sandi, dan Vicky. Sedangkan ketiga temannya itu sudah siap untuk melakukan aksinya, memberi pelajaran pada Adit dan Kayla, juga Annisa.
Kayla duduk santai di kursi pinggir lapangan bersama Nia dan beberapa teman sekelasnya. Sambil mengemil dan mengobrol, mereka menonton para siswa yang sedang bermain basket.
__ADS_1
"Adit makin keren aja ya.." kata salah satu temannya.
"He'em, lemparannya itu loh.. inget gak pas operan bola Adit nyasar kena kepala si Jonny, trus si Jonny nya langsung jatuh dan benjol." ujar teman yang lainnya, membuat mereka seketika tertawa mengingat kejadian itu.
"Hooo.... masuk lagi!" pekik Nia girang sambil bertepuk tangan saat melihat Adit berhasil memasukkan bola ke ring basket. Kayla pun ikut bertepuk tangan.
Beberapa saat kemudian, situasi menjadi tegang saat operan bola Adit melesat jauh melewati teman satu timnya yang seharusnya menerima operan bola itu.
Bolanya melesat jauh keluar lapangan.
"Dit? Bolanya." kata teman Adit panik.
"Alex? Dit ada Alex!"
"Gawat!!"
Situasi pun semakin tegang saat bolanya melesat menuju ke arah Alex yang sedang berjalan di sisi lapangan. Beberapa orang yang menyaksikan ketegangan itu sekarang mulai panik, ada yang berteriak histeris karena bola itu menuju ke arah Alex, dan bisa kapan saja mengenainya. Kayla yang menontonnya pun ikut tegang.
"Enggak! Jangan sampe bola itu kena Alex!" gumam Kayla panik.
Tanpa berpikir panjang, Kayla bergegas lari. Secepat bolanya melesat, secepat itu juga langkah Kayla menuju ke arah Alex, dan...
Brukggh
"Ahk...!"
Situasi yang sebelumnya tegang seketika menjadi hening.
Alex meringis merasakan nyeri di punggungnya yang barusan terhantam sebuah tiang besar. Seseorang mendorong bahu kanannya sehingga ia hampir limbung, tapi malah tersandar ke tiang besar tepi koridor. Alex menunduk melihat seseorang yang mendorongnya tadi sekarang masih memegang bahunya dengan erat dan menjatuhkan sebagian tubuhnya ke dada Alex.
Kayla mendesah lega sekaligus menahan sakit di punggungnya. la berhasil menahan bola yang hampir mengenai Alex, dan bola mm itu malah mengenai punggung Kayla. Kayla mendorong bahu kanan Alex dengan kedua tangannya sampai menabrak tiang besar yang ada di belakang Alex. Kayla menopang tubuhnya sendiri dengan tangan tangan kirinya yang ia tumpu pada tiang itu, dan tangan kanannya memegang bahu Alex.
"Berani-beraninya lu nabrak gue!! Gak punya mata? Heh?!l" bentak Alex seraya mendorong Kayla, menjauhkannya dari tubuhnya.
Alex terbelalak kaget saat menyadari siapa yang menabraknya barusan. "Hah? Cewek sialan ini lagi?!" gumamnya dalam hati.
Kayla mendesis kesal sambil menyentuh punggungnya yang terasa sakit dan panas akibat bola basket Adit yang nyasar itu. la menatap Alex memicing dan mencondongkan wajahnya pada Alex danberkata dengan geram. "Gak sengaja!"
la berlalu setelahnya dengan langkahterseok-seok dan sedikit bungkuk karena menahan sakitnya. Alex yang masih kaget pun ditambah kaget lagi dengan kalimat Kayla yang terdengar sangat kesal itu, apalagi Kayla menatap geram ke arahnya dan berlalu begitu saja setelah mengatakan kalimat itu.
Bukan hanya Alex, semua yang menyaksikan kejadian itu juga dibuat kaget. Bagaimana bola basket itu hampir mengenai Alex, dan bagaimana Kayla datang tiba-tiba dan melindungi Alex dari bola itu. Ditambah lagi kemarahan Alex dan balasan Kayla yang juga marah setelahnya.
Alex yang merasa jadi tontonan saat ini menatap kesal ke arah mereka yang masih terdiam melihatnya. Sehingga mereka pun mengalihkan pandangannya dari Alex saat mata mereka bertemu dengan tatapan tajam Alex. Dan Alex melanjutkan langkahnya.
"Sumpah. Gak nyangka Kayla ngelindungin Alex" bisik salah satu siswa yang Alex lewati.
"Gue juga gak nyangka, tiba-tiba banget lagi. Kalo Kayla gak ngehalangin, pasti Alex yang kena bolanya." timpal siswa lainnya.
"Nekat banget gak sih tadi si Kayla, itu Alex loh. bener sih dia ngelindungin, tapi dia ngedorong Alex juga." bisik siswi lain.
"Nekat sih, tapi hebat loh." sahut siswi lainnya juga berbisik.
Alex melirik sedikit mereka dari balik ekor matanya sambil berjalan gontai. "Apa?Maksudnya apa dia ngelindungin gue? Trus, bola apa juga sih?" batin Alex.
"Siapa tadi yang ngelempar bola? Hampir aja kena Alex." siswi lainnya berkomentar.
"Adit. Lemparan bola Adit kan emang terkenal paling kenceng banget, kalo kena pasti sakit tuh. Untung aja Alex gak kena."
"Alex gak kena, tapi si cupu.. pasti sakit banget tuh punggungnya. Kalo gue, udah pingsan kali."
Alex mengernyitkan keningnya, "Si cewek cupu itu ngelindungin gue dari lemparan bola basket? Yang lempar Adit lagi? Kenapa dia ngelindungin gue dari serangan temannya? Dia anggap gue musuh kan?!" gumam Alex dalam hati ditengah-tengah langkahnya yang semakin lamban tanpa ia sadari.
Alex merasa bingung sekaligus takjub mendengarnya. Kayla, si cewek cupu itu melakukan hal yang besar. Lagi.
Alex rasa siswi bernama Kayla itu sebenarnya bukan gadis culun seperti yang kira selama ini. Mungkin penampilannya memang terlihat culun, tapi sikap dan keberaniannya itu... gadis culun tidak memiliki keberanian sebesar itu kan? Dia tidak bodoh kan? Biasanya gadis yang culun itu cenderung pendiam, minder, dan penakut. Tapi Kayla memiliki sifat yang bertolak belakang dengan itu.
Kayla selalu terlihat percaya diri, pemberani dan Bijak. Hari ini dia merelakan dirinya terhantam bola demi melindungi Alex?Benarkah itu? Alex masih tidak percaya.
Kenapa dia mau melindungi Alex, bukankah mereka adalah musuh. Selama ini Alex tidak pernah berbuat baik padanya kan, bahkan yang Alex lihat.. Kayla juga membencinya.
Lalu kenapa dia mau melakukan sesuatu yang tidak akan pernah dilakukan oleh seseorang yang benci.
Ah, Kenapa juga Alex repot-repot memikirkannya. Lagipula tadi dia menabrak Alex dengan tiba-tiba kan, punggung Alex juga sakit gara-gara terhantam tiang besar itu. Tidak salah kan kalau Alex marah?
Tapi, kalau dipikir-pikir lagi...
"Ck, ah kenapa sih gue, sinting apa?! Masih aja gue mikirin tuh cewek, bandingin sama Miss Kissable lagi. Huh!"
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...