
Walaupun kini Kayla dan Nia sekolah terpisah, hubungan keduanya tetap terjalin baik, begitu juga dengan teman-teman Kayla yang lain, Adit dan Annisa. Seperti minggu-minggu sebelumnya, jika mereka masing-masing punya waktu luang diakhir pekan, maka mereka memanfaatkannya dengan berkumpul bersama. Berbagi cerita dan tawa, jalan-jalan dan terkadang belajar bersama juga di perpustakaan umum kota. Hari ini mereka memilih bioskop untuk tempat berkumpul mereka, setelah selesai menonton film action yang menegangkan mereka melenggang pergi menuju tempat makan yang tidak jauh dari bioskop.
"Huufft... Masih tegang nih gaess.." ujar Nia sambil mendudukkan dirinya dikursi resto, tempat yang mereka pilih untuk mengisi perut siang ini.
Adit dan Kayla tertawa kecil menanggapinya, Nia memang yang paling heboh diantara mereka jika soal menonton film, apalagi film action. Sementara Annisa datang terlambat ke meja makan karena ia belok ke toilet sebentar, sebenarnya ia dan Nia sefrekuensi, sama-sama penakut jika dihadapkan film-film yang menegangkan.
Ditengah-tengah santap makan siang mereka, tiba-tiba seorang pemuda datang menghampiri mereka, lebih tepatnya menghampiri Kayla.
"Kayla!"
"Eh, Ryan." Balas Kayla setelah menoleh dan mendongak pada seseorang yang berdiri disampingnya.
Ryan, pemuda yang membawa senampan makanan ditangannya itu melirik satu persatu teman-teman Kayla seraya menampilkan senyuman ramahnya. "Boleh gabung nggak?"
"Oh, boleh. Iya kan teman-teman?" Ujar Kayla.
"Iya, silahkan!" Sahut Adit, yang diangguki oleh Nia dan Annisa.
Ryan duduk disamping Kayla setelah dipersilahkan, ia meletakkan makanan yang ia bawa ke atas meja.
"Kay Kay.. cowok ganteng mana lagi nih, emang ya orang cantik mah gampang dideketin cowok keren." Gumam Nia dalam hati, sambil memperhatikan pemuda didepannya.
"Teman-teman, kenalin ini Ryan, teman sekelas aku di SMAN 2 Keraton Timur. Dan Ryan, kenalin mereka teman-teman aku di SMAN Putra Bangsa."
Merekapun saling berkenalan seraya berjabat tangan bergantian. Ryan yang notabenenya hanya datang sendirian ke tempat makan bingung mencari tempat duduk untuk makan sedangkan ia tidak terbiasa makan sendirian. Ketika ia melihat seseorang yang dikenalnya ia pun menghampirinya. Kayla, teman sekelasnya yang periang dan baik, juga seorang gadis yang manis.
"Kamu disini, sendirian aja?" Tanya Kayla mencaritahu.
"Gue nganterin sepupu gue meeting." Ryan menunjuk ke atas yang merupakan lantai dua resto ini, ruang meeting ada disana.
"Oh.. sopir ya?" Goda Kayla meledek.
Ryan terkekeh, "Sial amat nasib gue hari ini, gagal nge'gym.. malah disuruh nganterin sepupu meeting, udah gitu dia minta ditungguin lagi. Bete'" gerutunya.
Kayla terkikik mendengarnya, "Yaudah sih, nyantai aja. Kebetulan kan ketemu kita disini. Yuk makan!"
Ryan tersenyum, dan mereka melanjutkan makan bersama. Selang beberapa menit setelah selesai makan, ponsel Ryan berdering.
"Halo Mbak!"
Terdengar sahutan samar dari seberang telpon Ryan, kemudian Ryan terlihat mendengus malas. "Oke."
"Iya iya, kebetulan ini gue juga ketemu sama temen. Jadi nyantai aja." Sahut Ryan lagi agak malas.
Setelahnya Ryan menutup telponnya, "Huh.. tahu gitu kan nggak gue tungguin." gerutunya lagi.
"Kenapa sih Ryan, ngomel-ngomel aja dari tadi." Kata Kayla.
"Ini barusan sepupu gue yang nelpon, katanya gue pulang aja, dia dijemput sama tunangannya. Huh.. tadi pagi aja katanya nggak bisa nemenin, eh sekarang bisa jemput. Dasar cowok plin-plan."
"Sepupu kamu cowok apa cewek sih? Tadi bukannya manggil Mbak ya?"
"Cewek." Sahut Ryan singkat.
"Eh iya. Sepupu gue itu ngajar di SMAN Putra Bangsa loh, kalian pasti tau." kata Ryan kemudian.
"Oh ya? Siapa?" Tanya Nia penasaran.
"Guru?" Tanya Adit.
"Hm, Felisha namanya."
"Bu Feli?" Ulang Kayla, Nia, Adit, dan Annisa bermonolog.
"Jadi sepupu yang kamu omongin tadi.. Bu Feli?" Tanya Kayla lagi, yang kembali diangguki oleh Ryan.
"Hebat ya Bu Feli, ternyata pengusaha juga." Annisa berkomentar.
"Yah.. namanya juga anak pengusaha. Tunangannya juga pengusaha, ya nggak jauh-jauh lah dari dunia bisnis."
Adit, Annisa, dan Nia menegang seketika. Sementara Kayla mengangguk-angguk mendengar perkataan Ryan.
"Tadi kamu bilang sepupu kamu dijemput tunangannya, jadi Bu Feli udah tunangan ya?" Tanya Kayla, membuat Adit, Annisa, dan Nia semakin tegang dan mulai gelisah.
"Iya." Ryan tertawa kecil, "Lucunya, tunangannya itu-.."
"Uhukk..uhkk..!" Adit tiba-tiba batuk, membuat ucapan Ryan terhenti dan mereka serentak mengalihkan pandangan mereka pada Adit.
"Dit?" Kayla memberikan minum pada Adit untuk meredakan tersedaknya.
"Makasih Kay. Sorry ya!" ujar Adit setelahnya.
Adit, Annisa, dan Nia kembali saling melemparkan pandangan, Kayla dan Ryan tidak menyadari itu.
"Tadi kamu mau bilang apa Ryan?" tanya Kayla mengulang.
"Tunangannya Mbak Feli itu-.."
"Kay!" Sergah Nia tiba-tiba berdiri sambil memegang tangan Kayla.
Kayla yang terkejut lantas menatap heran pada Nia, "Ada apa Nia?"
"Ikut aku bentar deh!" ajak Nia agak tegang.
"Kemana?" bingung Kayla.
"Emm.. ikut dulu deh pokoknya, penting." bujuk Nia.
"Iya iya.." Kayla pun berdiri, "Bentar ya!" ujarnya kemudian pamit pada teman-temannya yang lain.
Nia membawa Kayla ke toilet, ia terdengar menghela nafas setelah menutup pintu toilet.
"Ada apa sih Nia?" tanya Kayla lagi.
"Emm..." Nia bingung, Kayla pun menatapnya semakin bingung.
"Anu.. ini.. aku.." Nia menggaruk kepalanya sambil berpikir, Kayla jadi curiga.
__ADS_1
"Aku.. kayaknya dapet deh." Nia menyentuh bokongnya seraya menyengir.
Kayla lantas tertawa, dan kebingungannya pun hilang, "Ya ampun Nia.. aku kira kenapa. Sepanik ini?!"
"Kamu ada pembalut nggak?" Tanya Nia yang juga mulai rileks.
"Enggak ada. Eh tapi didepan sana ada toko, beli aja dulu! Masih aman juga kan?" ujar Kayla kemudian melirik belakang Nia, yang masih ditutupi Nia dengan tangannya.
"Iya, aman kok."
"Yaudah yuk!"
"Eh tunggu!" sergah Nia saat Kayla hendak keluar. "Biar aku aja yang beli sendiri, kamu tunggu sini aja!" Katanya kemudian agak panik.
Kayla mengernyit, "Trus aku ngapain disini?"
"Eh?" Nia jadi makin mumet, ia bingung mau beralasan apa.
Kayla terkikik geli, "Kamu nih kenapa sih Ni, kayak anak ABG yang baru pertama kali dapet aja. Ayo aku temenin beli pembalutnya."
"Hehe.. iya Kay."
Keduanya pun keluar dari toilet. Nia berjalan lambat, sengaja agar mereka tidak cepat sampai ke meja makan mereka tadi. Saat sudah hampir sampai, Nia berhenti, ia menilik-nilik cemas ke sekeliling meja makan mereka. Ada Adit, Annisa, dan Ryan yang masih duduk disana, tidak ada yang janggal. Nia pun lega.
Kayla melirik belakang Nia lagi, "Aman kok Ni, tenang aja." kata Kayla yang mengira Nia malu karena disana ada cowok, dan mungkin was-was karena takut bocor.
"Iya." ujar Nia yang sudah lega.
..._________________...
Dertt..drtt...
Ponsel Nia berdering, ia lantas meraih benda pipih itu dan mengecek siapa yang mengiriminya chat.
"Alex?" gumamnya kecil.
📱
"Tadi siang gue ketemu Adit sama Annisa, katanya mereka sama Elu dan Kayla juga."
Nia menelan salivanya setelah membaca chat dari Alex. Ya, memang tadi siang saat di restoran Nia melihat Alex berjalan ke arah mereka karena itulah Nia segera membawa Kayla pergi, agar Kayla tidak melihat Alex. Nia tidak mau Kayla terluka jika dia melihat Alex.
Derrt.. dertt..
Ponsel Nia kembali berdering, membuat lamunannya buyar.
📱
"Apa Kayla tau gue kalo sempet nyamperin meja kalian?"
📱
"Enggak. Kita nggak bakal ngasih tau dia."
Nia membalas.
📱
📱
"Enggak sama sekali."
📱
"Kenapa? Gue pengen tau reaksi dia kalo liat gue, gue pengen tau dia udah move on dari gue apa belum."
Nia mengernyit tak terima, kemudian berdecak kesal sambil membalas chat Alex.
📱
"What?! Kamu mau nyakitin Kayla lagi?! Enggak bakal kita biarin!"
📱
"Kalo dia udah move on dari gue, dia nggak bakal sakit kok liat gue. Tapi kayaknya dugaan gue bener.. dia belum lupain gue. Elu sama teman-teman lu juga khawatir kan kalo dia sampe liat gue, ataupun tau soal gue yang sebenarnya."
Nia menggeram kecil, ia menggeleng-gelengkan kepalanya kesal.
📱
"Asal kamu tau ya Al, aku tadi tuh sengaja ngajak pergi Kayla biar kalian nggak sampe ketemu. Dan kamu malah pengen liat dia, demi mastiin dia udah bisa lupain kamu apa belum? Maksud kamu apa sih?! Aku sama teman-temanku nggak bakal biarin kamu nyakitin Kayla lagi!"
📱
"Asal elu tau juga, gue nggak pernah niat sekali pun buat buat nyakitin Kayla. Gue cuman pengen tau keadaan dia sekarang kok. Dan dari pernyataan lu tadi.. gue jadi tau kalo ternyata Kayla belum bisa move on dari gue. Teman-temannya sendiri aja khawatirin dia, nggak yakin kalo dia bisa baik-baik aja. Gimana gue bisa tenang."
📱
"Pliss deh Al, aku bosen ngingetin kamu, udah aku bilang berkali-kali.. kamu nggak usah mikirin Kayla lagi! Mending kamu fokus aja sama hubungan baru kamu, dan mulai lupain Kayla! Aku, Adit, sama Annisa khawatirin Kayla bukan karena kita nggak percaya sama dia, tapi kita ngejaga biar teman kita nggak sedih lagi. Ngerti nggak?!"
Nia mendengus kesal.
📱
"Artinya Kayla belum nunjukin tanda-tanda dong kalo dia udah move on dari gue! Kalo nggak.. kalian nggak bakal nutupin kebenaran soal gue dari dia selama ini, dan kalian nggak harus hindarin dia dari gue kayak tadi."
Nia semakin kesal, "Ih.. makin nyebelin aja sih nih cowok! Kepede'an amat! Kita tuh cuman ngejaga perasaan Kayla, lagian belum tentu juga kok Kayla bakal nangis liat kamu gandengan sama cewek kamu!" gerutunya sendiri sambil menatap sengit pada ponselnya sendiri.
📱
"Sorry sorry aja nih Al, kita nggak pernah masukin nama kamu sama sekali kedalam obrolan kita! Lagian sekarang Kayla tuh baik-baik aja kok, dia bahagia kok tanpa kamu. Kayaknya dia juga nggak peduli tuh sama kamu, buktinya selama ini dia nggak pernah nanyain soal kamu ke kita."
📱
"Gue nggak percaya kalo belum liat sendiri."
📱
__ADS_1
"Pliss deh Al, nggak bisa apa kamu tuh hidup tenang tanpa kepoin Kayla? Kamu kan udah punya gantinya sekarang, lupain Kayla!"
📱
"Setelah gue pastiin kalo Kayla emang udah move on dari gue.. baru gue bakal lupain dia."
Nia mendengus panjang. "Heran deh! Masa' sampe sekarang dia masih nyimpen rasa yang sama buat Kayla, padahal kan dia udah punya gantinya." gumam Nia sendiri.
📱
"Tolong jangan lakuin sesuatu yang bakal bikin Kayla keganggu Al, aku nggak mau liat dia sedih."
Nia merasa cemas setelah beberapa menit Alex tidak juga membalas chat terakhirnya. Alex bahkan sudah tidak online lagi, dia menutup ponselnya setelah membaca chat itu tanpa membalas? Semoga saja Alex tidak nekat menemui Kayla. Sungguh Nia cemas, bayangan kesedihan Kayla saat hubungannya putus dengan Alex lantas terlintas diingatan Nia. Nia tidak mau melihat Kayla rapuh lagi.
.......
.......
.......
Sementara Alex termenung setelah membaca chat terakhir dari Nia.
"Tolong jangan lakuin sesuatu yang bakal bikin Kayla keganggu Al, aku nggak mau liat dia sedih."
Sesuatu yang bisa mengganggu Kayla, dan membuatnya sedih? Sayangnya Alex sudah melakukannya. Meski itu bertentangan dengan hatinya.. Alex telah melakukannya. Jika saja Kayla tahu kebenaran tentang Alex sekarang.. maka Kayla pasti sedih, dan mungkin terluka. Ya, mungkin saja jika gadis yang ia cintai itu juga masih mencintainya. Tapi jika memang Kayla sudah move on, maka mengetahui kebenaran tentang Alex sekarang tidak akan membuatnya terganggu.
Alex merasa tercekik dengan kenyataan yang ada saat ini. Menjalani hari-hari tanpa Kayla sangat berat bagi Alex, dan semakin berat lagi sejak dirinya dijodohkan oleh sang papa. Alex dijodohkan dengan anak salah satu pengusaha kaya sekaligus investor kepercayaan sang papa, dengan harapan agar Alex bisa segera melupakan Kayla. Sang papa tahu Alex melamar Kayla dulu tidak terpaku dengan tujuan untuk menikah diusia muda, tapi karena sang papa yakin Alex bisa menjadi suami yang baik meski diusia mudanya.. maka sang papa benar-benar memilihkan seorang gadis untuk Alex. Dengan hadirnya gadis itu maka Alex bisa segera melupakan Kayla dan benar-benar memulai hidup barunya tanpa bayangan Kayla, itulah yang diinginkan sang papa.
Namun sampai sekarang Alex masih sama dengan seorang Mr Strawberry yang dulu, tidak ada yang berubah dari cintanya. Meski ia mencoba membuka hatinya untuk gadis yang dipilihkan sang papa, ia belum memiliki perasaan apapun untuk gadis itu dihatinya. Gadis itu memasuki kehidupan Alex, mencoba menjadi pelipur laranya ketika ia terpuruk, juga menemaninya sebulan terakhir ini, namun Alex belum merasakan bahwa gadis itu spesial untuknya. Alex menyukai sikap manisnya, bahkan Alex belajar menyesuaikan diri dengannya dan dengan keluarganya, sehingga dia mendapat kehormatan dimata Alex. Namun tetap saja, hati Alex belum mengizinkan gadis itu mengambil tempat didalamnya.
Alex belajar menerima kehadiran gadis itu bukan karena Alex benar-benar ingin melupakan Kayla, Bagaimanapun juga Alex tidak rela tempat Kayla dihatinya digantikan oleh orang lain. Tapi Alex mencoba membuka hati untuk gadis itu karena papanya yang menginginkannya melakukan itu. Karena bagaimanapun juga gadis itulah yang dipilihkan papanya untuk mendampingi hidupnya, jadi dia berhak mendapatkan apa yang memang harus dia dapatkan. Alex hanya mencoba menyikapi keadaan yang terjadi dihidupnya ini dengan sebijak yang ia bisa, meskipun dari lubuk hatinya yang terdalam ia tidak ingin menerima gadis itu sebagai pengganti Kayla.
Pengganti? Ah, Kayla terlalu indah untuk digantikan dengan yang lain, Miss Kissable terlalu berharga untuk diduakan apalagi disingkirkan hanya demi Dia yang baru. Tapi mau bagaimanapun juga, Alex tidak bisa menjadi pria jahat lagi, dengan berlaku tidak adil kepada gadis yang telah dipilihkan papanya itu. Alex sudah berjanji pada Miss Kissable nya untuk tidak merusak kepercayaan cintanya. Siapapun dia, gadis itu tidak bersalah dan tidak pantas diperlakukan tidak adil.
...__________________...
Kayla duduk di halte untuk menunggu angkot, hal yang ia lakukan setiap hari ketika pulang sekolah. Sembari menunggu angkot langganannya, yang tentu berbeda dengan angkot langganannya yang dulu selalu menjemputnya dari SMAN Putra Bangsa, Kayla memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa jenuh sekaligus lelah.
Tet..tett....
Seseorang menghentikan motornya didepan Kayla, kemudian membuka helm, membuat rambut gondrongnya tergerai acak. Dia tersenyum pada Kayla seraya turun dari motornya.
"Ryan."
"Naik angkot mulu Kay pulangnya, nggak bosen apa?" kata Ryan seraya duduk disamping Kayla.
Kayla terkekeh, "Kok bosen, aku kan emang biasa naik angkot."
"Kamu sendiri ngapain?" tanya Kayla kemudian.
"Nemenin kamu."
Kayla mengernyit menatap tanya pada Ryan. "Males pulang cepat, gak ada orang juga dirumah." ujar Ryan.
Kayla hanya mengangguk kecil menanggapinya, kemudian ia kembali fokus pada ponselnya. Melihat Kayla, Ryan pun merogoh ponsel dari sakunya.
"Kay, elu udah follow IG gue belum?"
Kayla menyengir, Ryan sudah beberapa kali meminta Kayla memfollow akun IG nya, tapi Kayla selalu saja lupa. "Belum.."
Ryan mendengus, "Yaudah sini!"
"Eh?"
Ryan merebut ponsel Kayla, membuat Kayla terkesiap. Kayla kurang suka dengan sikap tidak sopan Ryan, walaupun ia tahu pemuda disampingnya ini suka bercanda. Setelah menemukan akun ig nya lewat akun ig Kayla, Ryan mengklik follow kemudian mengembalikan ponsel Kayla kepada empunya.
"Udah tuh, hehe.. jangan lupa like postingan gue ya..!" ujarnya menyengir.
Kayla menggeleng-geleng seraya terkekeh geli. Ia lalu melihat-lihat isi akun ig Ryan, "Cuman tiga postingan aja nih?"
"Hehe.. gue lebih aktif di instastory sih."
Sesuai keinginan Ryan, Kayla memberi like pada postingan Ryan yang terbaru, kemudian yang kedua, dan...
Degg
Postingan pertama di akun ig Ryan, adalah foto..
Degg
Kayla terpaku tegang, detak jantung terasa berhenti sesaat kemudian berdebar dengan debaran yang kencang.
"Nah, itu foto selfie di pertunangan sepupu gue, Mbak Feli."
Ya, Kayla melihatnya. Di dalam foto itu Ryan mengambil selfie bersama pasangan yang katanya bertunangan. Bu Feli yang merupakan sepupunya, dan pria disampingnya...
"Nah ini tunangannya. Elu pasti kenal, dia anak SMAN Putra Bangsa juga. Haha..."
Ryan tertawa, Kayla juga pasti akan tertawa geli jika saja dirinya dalam emosi yang stabil. Karena caption yang Ryan tulis disana.. "Ketika jodohmu adalah muridmu sendiri. Wkwkw"
"Hahaa... namanya Alexander." lanjut Ryan yang baru berhenti tertawa.
Duaaarr.....
Apa?! Bu Felisha.. bertunangan dengan Alex?
Alex??
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1