Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Dibawah Hujan


__ADS_3

Kayla, Adit, Ferdy, dan Anggita pergi ke rumah Nia untuk mengerjakan tugas kelompok mereka. Pukul 16.30 mereka berangkat, dan mereka selesai pukul 20.00 malam. Sebenarnya mengerjakan tugas tidak selama itu, tapi yang namanya kumpul-kumpul bersama teman, tentu diselingi dengan bercandaan dan bersantai-santai juga.


"Sebelum pulang, kita makan dulu ya! Mama aku udah masak banyak, buat kita semua." kata Nia.


"Ya ampun Ni, ngerepotin amat." ujar Adit tak enak.


"Santai aja lagi, Dit"


"Makasih banget loh Ni, pas banget nih perut aku laper. Udah lama juga gak makan masakan mama kamu, hehe.." ujar Anggita.


Setelah makan malam bersama, merekapun pulang ke rumah masing-masing. Kayla pulang dengan mengendarai motor matic nya.


"Kay, mau aku temenin sampe rumah?" tawar Adit.


"Gak usah Dit, kita kan gak searah. Lagian ntar kalo kamu nganter aku dulu, kamu larut pulangnya." sahut Kayla.


"Pulang larut mah gak masalah Kay, tapi kamu emang berani pulang sendirian malam-malam?"


Kayla terkekeh, "Berani lah Dit. Kalo aku takut ya tinggal ngebut. Hehe.."


"Yaudah, aku duluan ya!" ujar Adit seraya menyalakan mesin motornya.


"lya, dah..!"


Di tengah jalan, motor Kayla mogok. la bingung, ia kan belum lama bisa naik motor, sekarang motornya mengalami masalah ia tidak mengerti. Kayla berpikir harus mencari bengkel terdekat, ia pun menggeret motornya sambil berjalan.


"Mogok ya dek?" sapa seorang ibu penjaga kios.


"lya bu, ada bengkel gak dekat sini?"


"Disini sih gak ada, tapi kalo adek belok kesana gak jauh kok ada bengkel. Coba aja ya!" kata si ibu sambil menunjuk ke arah kiri jalan.


Kayla belum pernah menuju jalan itu, karena jalan menuju rumahnya hanya lurus saja sebelum masuk komplek. Tapi sekarang mau tidak mau Kayla harus kesana untuk membawa motornya.


"Makasih ya Bu!" ucap Kayla.


"lya dek, hati-hati ya!" Kayla mengangguk lalu pergi.


Setelah berjalan kurang lebih sepuluh menit dari kios tadi, akhirnya Kayla menemukan bengkel. la lega setelah memarkirkan motornya di depan bengkel itu.


"Kenapa dek?" tanya si Abang bengkel yang tengah sibuk memperbaiki motor nampaknya.


"Mogok bang, gak tau kenapa." jawab Kayla.


"Wah padahal Abang udah mau tutup ini." ujar si Abang bengkel.


"Yah.. bisa lah bang bantuin saya dulu. Ini juga belum jam sembilan kok."


"Tapi ini malam Jumat dek, jadi Abang kudu tutup cepat."


"Emangnya kenapa bang kalo malam Jum'at?" tanya Kayla polos.


Si Abang terkekeh pelan. "Yaudah, tunggu aja kalo mau. Emangnya kenapa bisa mogok motornya?" tanya si Abang yang masih sibuk.


"Gak tau bang, saya gak ngerti motor. Ntar Abang cek aja!" sahut Kayla.


Sembari menunggu, Kayla duduk di kursi panjang yang tersedia di depan bengkel itu. la mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu ia melirik jam tangannya.


"Disini sepi ya, padahal belum larut amat." gumamnya pelan.


Sepertinya karena jalan ini bukan jalan besar, jadi tidak seramai jalan raya yang biasa Kayla lewati. Jalan ini bisa dibilang sempit, untuk kendaraan mobil hanya bisa dilewati satu buah saja, tidak bisa dilalui oleh dua mobil yang berselisihan. Ada dua kios di dekat bengkel ini, dan ada sebuah ATM. Tidak jauh dari bengkel ini juga ada sebuah tempat yang banyak terparkir mobil dan motor didepannya, dilihat dari luarnya Kayla tebak itu adalah diskotik atau semacamnya. Kayla jadi bergidik ngeri melihat tempat itu meski hanya dari jarak jauh.


"Masih lama gak bang?" tanya Kayla.


"Lumayan. Makanya Abang bilang mau tutup, abis ini bisa selesai lima belas menitan lagi dek." sahut si Abang bengkel.


Kayla cemberut mendengarnya, semoga ia tidak pulang terlalu malam, nanti mami khawatir. Sebelum pulang dari rumah Nia tadi, Kayla sudah bilang pada mami lewat chat bahwa ia akan pulang paling lambat jam sembilan malam. Sedangkan sekarang hampir jam setengah sepuluh.


Tidak lama kemudian, Kayla melihat dua orang yang nampak berdebat di depan diskotik. Seorang wanita dan seorang pria, yang Kayla rasa ia kenal dua orang itu. Kayla dengar dari suaranya.. oh itu Alex? Dan yang sedang berdebat dengannya itu.. Kayla mengernyit dalam seraya membetulkan letak kacamata nya, melihat dari jauh dan dengan seksama siapa wanita itu.


Bukankah itu mamanya Alex? Ada apa lagi dengan Alex, apa ia bertengkar dengan mamanya juga?


... ....


... ....


... ....


Vanessa menyusul Alex yang sudah keluar dari club, dan pria yang tadi datang bersamanya pun ikut menyusul.


"Alex..!" seru Vanessa.


"Apa lagi? Ngapain nyusul, mama gak mau kan aku ikut campur urusan mama?" ketus Alex sambil berjalan menuju motornya.

__ADS_1


"Dengerin mama dulu, mama mohon kamu jangan datang ke tempat begini lagi ya! Kamu itu masih sekolah nak, belajar yang serius, jangan main-main ke tempat begini, bahaya!"


"Oh ya? Sebahaya apa? Kalo emang bahaya, kenapa mama suka tempat beginian? Mama mau buktiin ke aku kalo mama emang cewek gak bener?"


"Stop!" sergah pria Vanessa kasar, kemudian menyerang Alex.


Buggh


Pria itu meninju wajah Alex, membuat Alex berang. Sedangkan Vanessa mencoba menghentikannya.


"Anak kurang ajar! Nes, ayo kita masuk!" ajak pria itu.


Vanessa menolak dan ingin melihat wajah Alex yang baru saja dihajar itu, tapi Alex menyentak tangannya.


"Kamu liat! Udahlah Nes, anak durhaka begitu gak usah dibelain!"


"Mas?!" sergah Vanessa tak terima Alex dikatai anak durhaka.


la kembali mencoba mendekati Alex. Alex yang sudah memanas pun tak terima dikatai seperti itu, ia maju dan langsung membalas perbuatan pria itu dengan meninju wajahnya juga.


"Dan lu cowok brengsek! Jangan mimpi bisa jadi papa tiri gue!!" bentaknya kasar.


Vanessa histeris ketika pria nya kembali membalas pukulan Alex dan Alex pun melawan. Mereka sungguh bertengkar, saling pukul, bukan hanya wajah sasarannya tapi juga anggota tubuh yang lain.


"Cukup! Cukup.. Al!" Vanessa mencoba melerai.


"Mas udah mas, berhenti..!" jerit Vanessa tiada henti.


Vanessa mendorong tubuh pria nya dan menghalangi Alex, "Udah nak, mama mohon..." lirihnya seraya memegang wajah Alex yang babak belur.


Alex menatap mamanya yang menangis, ia benci sekaligus sakit melihat air mata itu. Alex memalingkan wajahnya dan melepaskan tangan sang mama.


Pria itu bangun sambil menyeka ujung bibirnya yang berdarah akibat pukulan Alex, ia lalu menarik Vanessa untuk mendekat. "Nes, kita pulang atau masuk?!" titahnya tegas.


"Tunggu mas!" sergah Vanessa lalu mendekati Alex lagi, membuat pria itu berdecak kesal.


Alex melirik pria itu dan amarahnya kembali berkobar, ia mencoba memukulnya lagi tapi dihentikan Vanessa.


"Udah nak, cukup!"


"Udahlah Nes, lupain kamu punya anak kayak dia! Ikut aku!"


Pria itu menarik Vanessa untuk masuk ke dalam mobilnya tapi kemudian Alex menahan tangan mamanya. Vanessa terhenti dan terenyuh melihat tangannya dipegang oleh Alex.


"Siapa yang brengsek?!" marah pria itu lalu memukul Alex lagi sampai Alex terdorong ke belakang dan pegangan tangannya pada mama pun terlepas.


"Udah mas, cukup!" jerit Vanessa lagi.


Alex tak tinggal diam, ia pun membalas. Dan kembali terjadi adu pukul antara mereka berdua. Vanessa pasrah ia tidak bisa menghentikan kedua orang yang sama-sama dikuasai amarah ini.


"OKE!!" pekik Vanessa sehingga membuat Alex dan pria itu menghentikan aksi mereka.


"Aku ikut kamu mas, ayo pulang!" ucap Vanessa pasrah, membuat Alex merasa kecewa.


"Enggak! Jangan ikut dia!" sergah Alex kembali memegang tangan mamanya.


Vanessa meragu, ia menatap tangan Alex yang memegang erat tangannya. Tapi buru-buru dilepaskan oleh pria itu.


"Ayo Nes!" tariknya membawa Vanessa memasuki mobilnya.


Alex bangun dan menyusul, ia melangkah kasar dibelakang pria itu dan mamanya. "Cowok brengsek! Lepasin nyokap gue atau gue abisin lu!" bentak Alex berang.


Vanessa tercekat, ia menoleh ke belakang dan melihat ekspresi sangar putranya. Pria itu membuka pintu mobil untuk Vanessa dan memintanya segera masuk, tapi dicegat oleh Alex. Alex menutup pintu mobil itu dengan kencang, sehingga membuat pria Vanessa marah. Pria itu akan memukul Alex lagi tapi dihentikan oleh Vanessa.


"Nes, kalo kamu masih belain dia, aku pergi. Kita gak akan-.."


"Jangan mas, aku ikut kamu! Aku cuman gak mau kamu nyakitin Alex, ayo kita pergi." sergah Vanessa cepat.


Alex tertawa, kencang sekali. Ada duka dan rasa sakit dalam tertawaannya itu, yang entah Vanessa mengerti atau tidak.


"Bagus..! Bagus..!" Alex bertepuk tangan. "Pergi sana! Anggap aja kita gak pernah kenal!" bentak Alex.


"Kamu pulang nak, tenangin diri kamu." lirih Vanessa kemudian berbalik dan masuk ke mobil.


Vanessa tau Alex membencinya, tapi hari ini Vanessa melihat kepedulian Alex padanya. Yang ia tunggu selama ini, akhirnya Alex memegang tangannya. Tapi disisi lain ada Tommy, pria yang mendampinginya satu bulan terakhir. Dia membuat Vanessa merasa nyaman dan aman disisinya, dia juga mencintai anak kembar Vanessa dan berniat menikahi Vanessa. Dia memang terbilang posesif tapi dia adalah pria yang baik. Sejauh ini, setelah ditinggalkan Vino, baru kali ini Vanessa merasa ada pria yang benar-benar tulus padanya, pria itu adalah Tommy. Dan hari ini, terjadi perkelahian antara putranya dan pria nya, yang membuat Vanessa dilema.


Untuk kesekian kalinya, Vanessa  mengorbankan perasaan Alex. Saat ini pun ia melakukannya, saat ini Alex tengah dikuasai amarahnya. Tidak ada gunanya jika ia mencoba bicara baik-baik pada anak itu sekarang, Alex pasti akan melampiaskan amarahnya pada siapa saja atau pada benda apapun disekitarnya. Jika ia tetap disini dan berusaha bicara pada Alex, maka Tommy yang juga sudah sangat marah pun bisa hilang kendali, dan situasi serta kondisi kedua laki-laki yang ia sayangi itu akan semakin buruk. Vanessa juga tidak mau Alex kehilangan kendali lebih buruk dari yang sudah terjadi tadi, jadi ia memilih membiarkan putranya sendiri dulu agar putranya itu bisa meredam amarahnya.


Alex menendang mobil Tommy dengan marah, "Keluar lu brengsek! Jangan jadi pengecut, lu mau ngehindarin pukulan gue, heh?!"


Tommy melirik Vanessa yang sedang menghapus air matanya. "Maafin aku Nes.." ucap Tommy sebelum melajukan mobilnya.


Vanessa melihat Alex sekali lagi sebelum ia pergi, sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Alex dalam keadaan begini dan ditempat seperti ini, tapi jika ia tetap disini maka pertengkaran akan semakin sengit. la hanya bisa berdo'a agar Alex baik-baik saja dan bisa  menenangkan dirinya setelah ini.

__ADS_1


"Tenangin diri kamu nak.." gumamnya lirih


Mobil pun melaju meninggalkan Alex sendirian dalam kemarahan. Alex menggeram marah dan menendang motornya sendiri hingga tumbang.


... ....


... ....


... ....


Kayla yang melihat Alex dari jauh, terperangah. la ingin menghampiri Alex tapi kemudian ia ingat bahwa ia tidak akan bicara pada Alex. Kayla mencoba tidak peduli pada Alex, ia memalingkan pandangannya.Teriakan Alex yang mengerang marah membuatnya bergidik ngeri, tapi teriakan itu juga terdengar seperti orang yang kesakitan.


"Wah dasar anak muda labil, teriak-teriak gak jelas!" gerutu si Abang bengkel yang tentu juga mendengar teriakan Alex.


Si Abang bengkel lalu melirik Kayla yang menggenggam kedua tangannya sendiri dan nampak takut, "Jangan kaget dek, disini emang biasa orang kayak gitu. Yah.. namanya juga bengkel dekat diskotik. Kadang-kadang Abang juga digangguin sama cewek-cewek sana, hehee.. maklum lah Abang kan masih muda."


Kayla tersenyum tipis. Akhirnya si Abang bengkel selesai dengan motor yang menyibukkannya tadi, sekarang ia menggeret motor Kayla ke dekatnya.


"Baru dek?" tanya si Abang setelah melihat-lihat motor Kayla.


"lya bang, baru beberapa bulan lalu belinya."


Si Abang tertawa kecil. "Ini mah cuman abis bensin doang dek, motornya mah baik-baik aja."


"Gitu ya bang, hehe.. Alhamdulillah deh" sahut Kayla kikuk.


Kayla menertawakan dirinya sendiri, ia bahkan tidak tahu motornya kehabisan bensin, ia sungguh tidak mengerti motor sama sekali.


Tiba-tiba guntur dan petir menyambar langit, membuat Kayla berjengkit kaget. Detik berikutnya, hujan langsung mengguyur bumi dengan derasnya. Setelah si Abang bengkel mengisi bensin untuk motor Kayla, si Abang pun menutup bengkelnya.


"Abang duluan ya dek. Adek hati-hati pulangnya, kalo gak berani ujan-ujanan, neduh aja dulu disini."


"Tapi bang, abangnya mau pulang sekarang? Ini hujannya deras banget loh.."


"Rumah Abang dekat kok, tuh di belakang sana" tunjuknya ke arah depan, sambil memasang jas hujannya.


"Hati-hati ya dek, maaf nih ninggalin!" Kayla mengangguk.


Setelah si Abang bengkel pergi, Kayla tidak langsung pulang, ia menelpon mami, memberitahu keberadaannya dan memintanya jangan khawatir.


Kayla kembali melihat ke arah Alex, ia masih berteriak-teriak tak karuan, mengumpat dan mengamuk. la nampaknya tidak peduli dengan hujan yang membasahi tubuhnya, ia lalu terduduk di aspal, mungkin karena kelelahan berteriak. Kayla iba melihatnya.


Alex meninju-ninjukan kepalan tangannya ke aspal berkali-kali, ia menunduk dan tubuhnya bergetar. Kayla perhatikan Alex nampak betah duduk di bawah hujan, ia terus meninju-ninjukan kepalan tangannya tanpa ampun. Kayla khawatir, jika terus seperti itu tangannya pasti terluka, tapi ia sepertinya tidak memperdulikan itu. Hujan sederas ini, dan Alex tidak beranjak dari sana, ia seolah menyiksa dirinya sendiri karena kemarahannya. Sekarang Kayla semakin khawatir akan kondisinya, dan Kayla tidak bisa hanya berdiam diri menyaksikannya.


Akhirnya Kayla beranjak, Kayla tidak punya payung ataupun jas hujan, ia pun membiarkan air hujan yang deras membasahi tubuhnya. la berjalan gontai menghampiri Alex dengan ragu, takut-takut Alex tiba-tiba mengamuk lagi.


Kayla menggenggam tangannya sendiri sebelum ia ulurkan untuk menyentuh pundak Alex, ia ragu tapi ia juga tidak tega melihat Alex. Akhirnya tangan Kayla pun menyentuh pundak Alex, tapi Alex tak lantas bereaksi. Kayla menunduk, untuk menengok Alex.


"Al.." serunya lirih.


Alex mendongak, dan langsung menarik tangan Kayla yang menyentuh pundaknya. Sehingga Kayla yang kaget atas aksi mendadak Alex itu sontak terduduk dihadapan Alex.


Grepp


Kayla terbelalak, Alex langsung memeluknya. Alex membenamkan wajahnya di ceruk leher Kayla dan melingkarkan sebelah tangannya ke pundak Kayla, dan sebelahnya lagi di pinggang Kayla. Alex menangis sejadi-jadinya, tidak peduli apapun, ia mengerang tangisnya kencang, mengeluarkan seluruh kegundahan hatinya.


Suara tangisannya seperti tangisan anak kecil yang mainannya dirusak atau anak kecil yang ketakutan akan sesuatu. Tangisannya terdengar menyakitkan dan pilu, membuat Kayla yang mendengarnya pun bisa merasakan rasa sakit itu. Kayla tidak tega melepaskan pelukan Alex meskipun ia risih dipegang seperti ini.


Jantung Kayla berdegup sangat kencang saking terkejutnya atas perlakuan Alex. Kayla pikir tadinya Alex akan mengamuk, tapi tidak. Sekarang Kayla mengerti, Alex terluka dan memiliki beban berat yang sudah lama ia tahan, sehingga ia membutuhkan sandaran dan juga pertolongan untuk dirinya sendiri.


Air matanya seolah menjelaskan semua yang tengah ia rasakan, air mata yang membasahi wajahnya juga membasahi leher dan pundak Kayla. Dinginnya guyuran air hujan menyatu dengan hangatnya air mata Alex yang terus mengalir. Kayla menelan salivanya berat, ia tercekat, tidak pernah ia bayangkan akan menghadapi situasi seperti ini.


Alex yang dikenal angkuh, kuat, berhati batu dan ditakuti orang-orang, kini tengah menangis pilu dipundak seorang gadis. Hanya orang yang tidak sanggup menanggung bebannya yang akan menangis seperti ini, bahkan Kayla sendiri tidak pernah menangis seperti ini dipelukan mami selain ketika ia masih kecil.


Dibawah hujan, air mata dan duka Alex mengajarkan Kayla sesuatu. Bahwa kita, makhluk yang lemah, tidak pernah bisa menanggung beban sendirian. Beban yang ditimbulkan oleh perbuatan kita sendiri, perbuatan yang melibatkan perasaan orang lain. Kita butuh sandaran, kita butuh bantuan dan arahan.


Jika kita tidak punya siapapun untuk bisa kita jadikan sandaran, atau kita mintai bantuan, ingatlah.. kita masih punya Tuhan yang selalu ada dan selalu siap untuk hambaNya. Kembalilah padaNya, dan kita tidak akan pernah menerima penolakan.


Untuk Alex, bagaimanapun juga Kayla terlibat dalam duka dan beban yang tengah ia alami, jadi Kayla bertanggung jawab untuk membantunya dan menguatkannya. Kayla sadar, meskipun tujuan awal Kayla adalah ingin Alex berubah menjadi lebih baik, tapi cara yang Kayla ambil itu salah. Bagaimana bisa ia mewujudkannya hanya dengan menunggu dan diam saja? la harus membantu Alex dan mendampinginya, untuk bisa berubah menjadi lebih baik.


Kayla tidak akan membiarkan Alex merasa sendirian lagi, ia harus membantu Alex keluar dari luka dan dukanya ini. Seperti yang papa Alex harapkan, dan seperti yang Kayla sendiri inginkan juga.


Perlahan, tangan Kayla terangkat untuk mengusap punggung Alex yang masih bergetar karena tangisannya. Biarkan saja dulu, biarkan Alex menangis sepuasnya sampai kegundahannya hilang dan beban dihatinya menjadi ringan.


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2