
Sudah hampir 24 jam setelah prosedur transfusi darah, belum juga ada kemajuan dari kondisi Kayla. Akhirnya Dokter mengambil tindak lanjutan untuk memastikan kondisinya. Prosedur pemeriksaan medis berupa CT scan dilakukan saat ini, untuk mencari tahu apakah ada cedera didalam tubuhnya, juga untuk mendeteksi barangkali ada kelainan lainnya. CT scan adalah mesin pemindai berbentuk lingkaran yang besar dan cukup dimasuki orang dewasa dengan posisi berbaring.
Setelah hampir satu jam, hasil diagnosa pun keluar. Nadia dan Tio diminta duduk berhadapan dengan Dokter yang menangani Kayla. Dokter lalu menyodorkan dua lembar hasil CT scan Kayla kepada mereka untuk bisa dilihat. Hasil CT scan pertama memperlihatkan organ dalam tubuh Kayla bagian kepala hingga leher, yang kedua memperlihatkan bagian leher hingga bawah dada. Dokter pun menjelaskan hasil diagnosanya.
"Selain kehilangan banyak darah, pasien sebelumnya juga sempat terhantam benda keras kan Bu."
"Iya Dok, dipundaknya." Sahut Nadia getir, sembari mengingat kembali penjelasan polisi terkait apa saja yang terjadi pada Kayla selama berada di markas penculik. Sesuai keterangan yang telah diberikan oleh Alex kepada pihak kepolisian.
"Benturan dari benda keras yang tajam itu mengakibatkan cedera pada tulang belakang hingga tulang leher pasien. Kami melakukan CT scan dua kali untuk memastikan diagnosis. Anda bisa lihat dan satukan dua gambar ini, ini detail bagian kepalanya." Dokter menjelaskan sambil menunjuk beberapa titik dalam gambar hasil CT scan. "Cedera di bagian tulang belakang hingga ke leher itu juga mempengaruhi salah satu syaraf otak pasien. Itulah yang menyebabkan pasien nggak sadar sampai sekarang."
Nadia dan Tio menyimak seksama penjelasan Dokter, dengan perasaan sedih dan gelisah. "Jadi gimana kelanjutannya Dok?" Tanya Tio.
"Kami akan memberi suntikan sebagai bentuk rangsangan terhadap syarafnya, dalam beberapa jam kedepan insya Allah akan ada perkembangan dari kondisi pasien."
Nadia dan Tio sedikit tenang mendengarnya. Mereka membanyakkan doa dan harapan untuk keselamatan Kayla.
Beberapa jam berlalu, Nadia beserta anggota keluarga lainnya termasuk Riana sepupu Kayla, menunggu perkembangan kondisi Kayla dengan gelisah. Karena belum ada respon sedikitpun dari tubuh Kayla sejak diberikan suntikan, Dokter kembali memeriksa Kayla. Ketika Dokter keluar dari ruangan tempat Kayla dirawat, Nadia dan yang lainnya siaga menunggu kabar baik dari Dokter.
"Gimana Dok?" Tanya Tio.
"Masih belum ada perkembangan. Satu jam lagi kami akan cek kembali, Suster Ika akan tetap berjaga disini dan terus memantau kondisi pasien. Semoga tubuh pasien cepat memberikan respon. Saya permisi dulu."
Nadia mencelos, ia merasa berkecil hati dan rasa takutnya semakin besar. Tangisannya membuat Arsya tidak tahan untuk tidak menangis juga, Arsya semakin merasa bersalah.
"Nad, kamu jangan mikir yang jelek-jelek ya, kita berdoa buat kesembuhan Kayla. Kita semua disini berharap Kayla cepat siuman, kita semua sayang sama Kayla." Hibur Tio.
"Iya Nad, kamu maminya. Kamu harus lebih semangat dan optimis, bayangin yang baik-baik maka anak kamu pasti akan baik-baik aja. Doa seorang ibu itu berkah buat anaknya, doa kamu pasti dikabulkan sama Allah. Jangan terlalu takut ya!" Vina kakak iparnya pun ikut menenangkan.
"Makasih Mbak.." ucap Nadia pada Vina, Vina pun memeluk hangat adik dari suaminya itu.
Riana mengisyarat pada papanya melihat Arsya menangis sembunyi-sembunyi. Sang papa yang mengerti lantas mendekati Arsya dan menepuk pundaknya. Arsya buru-buru menghapus air matanya kemudian mengangkat kepala.
"Anak laki-laki harus kuat. Kamu boleh menyesal, tapi jangan juga terlalu mengutuk diri kamu. Yang terjadi sama kakak kamu itu kecelakaan Sya, bukan salah kamu. Kamu bahkan sempat jadi pahlawan kan buat kakak kamu, kamu berani ngelawan orang jahat itu padahal kamu sendirian dan badan mereka lebih besar dari kamu. Sampe kamu diserang sama mereka, kamu masih berusaha. Jadi, udah cukup nyalahin diri kamu! Kamu udah ngejalanin tugas kamu sebagai seorang saudara, sekarang kamu harus semangatin perjuangan kakak kamu, do'ain dia. Dan biar Dokter ngelakuin tugasnya, kita semua berharap kesembuhan Kayla." Om Iwan tersenyum hangat, membesarkan hati Arsya.
Arsya pun mulai merasa lega setelah dihibur oleh Om Iwan. "Makasih Om."
...__________________...
Malam berganti siang, penantian Nadia beserta keluarganya akan kabar baik perkembangan kondisi Kayla masih berlangsung. Setiap satu jam sekali Dokter mengecek keadaan Kayla, dari kemarin sejak diberi suntikan perangsang respon hingga kini di siang menjelang sore. Namun belum juga ada hasil yang melegakan.
Nadia ditemani Vanessa duduk di sofa panjang yang ada di ruang perawatan Kayla. Keduanya berbagi perasaan dan saling menguatkan, sambil memandangi gadis kesayangan mereka yang terbaring di ranjang rumah sakit dan belum ada kemajuan pada kondisinya. Sebagai sesama ibu, Vanessa memahami kesedihan dan kekhawatiran Nadia. Vanessa yang sudah menganggap Kayla seperti putrinya sendiri itu juga merasakan kecemasan yang sama, mengingat kronologi kecelakaan yang menimpa gadis malang itu dua hari yang lalu. Mendengar ceritanya dari Alex saja Vanessa sudah tak karuan, apalagi membayangkan insiden itu terjadi didepan mata, ibu manapun tidak akan sanggup melihat putrinya mengalami kecelakaan tragis.
"Kayla anak yang hebat Nad, dia sangat pemberani dan tulus. Aku juga sangat menyayangkan kecelakaan ini, sejujurnya aku malu tapi aku juga sayang banget sama Kayla. Aku bisa ngerti perasaan kamu Nad." ucap Vanessa sembari merangkul Nadia.
"Aku nggak nyalahin siapa-siapa Mbak, yang terjadi sama Lily emang kecelakaan. Aku cuman takut terjadi hal buruk sama Lily." Nadia berusaha tegar dan tidak menangis lagi, meski keadaan ini sulit untuknya.
"Kalo gitu pikirin yang baik-baik aja, jangan mikir yang buruk. Kita husnuzzhon sama Allah ya, aku yakin Kayla pasti bisa lewatin semua ini, dia anak yang kuat."
Nadia menoleh melihat wajah Vanessa, ia lalu mengangguk seraya tersenyum samar. "Alex gimana Mbak? Dia juga ngalamin hal buruk kan, dia dianiaya dan disiksa. Aku takut denger itu Mbak."
Vanessa mengulum bibirnya getir, "Aku juga takut Nad. Tapi Alhamdulillah sekarang Alex udah lebih baik. Dia ngalamin banyak luka di tubuhnya tapi dia akan cepat pulih. Cuman kakinya aja yang harus diterapi lanjut, karena cedera lagi. Aku bisa lebih tenang, tapi Alex enggak."
"Maksudnya Mbak?" tanya Nadia tak mengerti dengan kalimat terakhir Vanessa.
"Aku bisa tenang liat kondisi Alex yang sekarang udah lebih mendingan, tapi Alex nya nggak tenang karena mikirin kondisi Kayla."
Nadia terdiam, ia mengalihkan pandangannya dari Vanessa, karena merasa tidak nyaman dengan pernyataan Vanessa. Vanessa yang memahami gelagat Nadia lantas menguraikan kata-katanya.
"Jangan salah paham Nad, aku memahami situasi mereka. Mereka emang nggak ada hubungan lagi, tapi kemarin mereka sama-sama disekap di satu tempat yang sama. Mereka sama-sama menyaksikan apa yang dialamin satu sama lain, perasaan apapun yang muncul dihati mereka.. yang jelas kekhawatiran itu wajar Nad. Baik Alex ataupun Kayla, sama-sama nggak tega liat penderitaan satu sama lain, dan mereka sama-sama ingin saling melindungi. Itu nggak salah kan?"
"Aku ngerti maksud Mbak Vanessa. Aku cuman sedikit keinget soal masa lalu aja Mbak, entah kenapa perasaan ngeganjel itu selalu muncul kadang-kadang, maafin aku Mbak."
"Jangan minta maaf Nad, aku malu sama kamu kalo inget masa lalu. Gimanapun juga aku nggak mau kita jadi sungkan satu sama lain gara-gara masalah di masa lalu, meskipun kesalahan ada dipihak aku. Harusnya aku kan yang minta maaf."
"Aku udah ikhlasin itu Mbak, cuman.. aku nggak tau kenapa kadang-kadang keinget aja dan perasaan aku jadi sensitif. Aku juga sayang sama Alex, aku nggak nyalahin dia kalo emang dia khawatirin keadaan Lily. Aku ngerti."
Vanessa menarik sudut bibirnya, tersenyum sungkan. "Aku disini buat kamu, kamu yang tegar ya Nad. Kayla pasti sembuh."
Nadia mengangguk, "Makasih Mbak."
__ADS_1
Dokter bersama seorang susternya masuk ke ruangan. Setelah satu jam yang lalu Dokter mengecek keadaan Kayla, sekarang pun Dokter kembali melakukan hal sama. Namun masih tak terlihat juga perkembangannya. Tubuh Kayla sama sekali tidak memberikan respon setelah diberi suntikan semalam. Dokter bahkan kembali memberikan suntikan pada Kayla tadi pagi, demi mengusahakan kemajuan kondisinya, namun tak juga terlihat hasilnya. Akhirnya dengan berat hati, sekitar pukul lima sore Dokter memberikan kabar tak mengenakkan pada keluarga Kayla.
"Gimana Dok?" Tanya Nadia untuk kesekian kalinya.
Dokter mendengus samar, raut wajahnya menunjukkan perasan berat karena harus memberi kabar tak diinginkan kepada keluarga pasien yang telah menanti kabar sebaliknya. Sebelum mengucapkan sesuatu, Dokter melihat satu persatu wajah keluarga Kayla yang tengah berkumpul di ruangan ini. Nadia masih ditemani Vanessa, Iwan kakaknya bersama anak dan istrinya pun ada disana. Tentu tak ketinggalan Tio dan Arsya yang selalu siap siaga menjaga Kayla selama berada di rumah sakit.
"Kami sudah berusaha sebaik yang kami bisa Pak, Bu. Tapi.. tetap nggak ada respon dari tubuh pasien."
"Dok, tolong diperjelas!" Desak Tio gelisah.
"Jadi gini Pak, cedera pada syaraf otak pasien yang diakibatkan oleh benturan benda keras di pundaknya itu.. membuat pasien nggak sadar dalam waktu yang lama. Umumnya setelah menjalani transfusi darah pasien akan sadar minimal dalam waktu kurang dari 6 jam. Tapi untuk saudari Kayla, meskipun sudah lebih 12 jam setelah diberikan suntikan pun, tubuhnya sama sekali nggak merespon."
Nadia, Tio, dan yang lainnya memasang wajah serius yang sangat kentara kecemasan mereka. Dokter lantas memperjelas lagi keterangan diagnosanya.
"Maaf, maksud saya.. pasien mengalami koma."
Duaaaarr........
"KOMA?!"
"A..apa..? Koma?"
Mereka semua terperangah getir mendengarnya. Meski bukan ahli dalam hal yang berkaitan dengan medis, sedikit banyaknya mereka tahu apa yang dimaksud dengan kondisi koma pada seorang pasien. Koma adalah tingkatan paling dalam ketika seseorang tidak sadarkan diri. Penderita yang mengalami koma tidak dapat merespon terhadap lingkungannya sama sekali. Berbeda dengan pingsan yang hanya terjadi sementara, penderita koma mengalami penurunan kesadaran untuk waktu yang lama.
"Iya. Kami akan memindahkan saudari Kayla ke ruang ICU agar pasien mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Kami juga akan terus memantau kondisinya dan tetap mengusahakan yang terbaik."
Nadia melemas, ia begitu terpukul mendengar kabar buruk dari Dokter mengenai putrinya. Ia pun kembali menangis sambil memeluk suaminya. "Ya Allah.. Lily sayang.."
"Sabar Nad, kita do'ain Kayla sama-sama ya.." ucap Tio parau.
"Berapa lama Dok Kayla akan mengalami koma?" Tanya Om Iwan.
"Kami nggak bisa memastikan. Kalo tubuh pasien memberikan respon lebih cepat, maka dia akan pulih dalam waktu dekat. Tapi kalo sebaliknya, masa pemulihannya juga akan lama. Kita berdo'a saja ya Pak."
"Dok, tolong lakuin yang terbaik buat kakak saya biar dia cepat pulih." Mohon Arsya lirih.
"Baik Dok." Iwan menjawab.
Beberapa perawat diminta memindahkan Kayla ke ruang ICU, agar memudahkan para tenaga medis untuk memberikan perawatan terbaik terhadap Kayla, juga agar kondisinya dapat terpantau secara intensif. Sebelumnya Kayla sudah dipasangi selang infus sejak dia dibawa keruang operasi, kemudian alat bantu pernapasan juga dipasangkan untuknya demi menjaga laju pernapasannya sejak ia mengalami sesak nafas kemarin. Setelah selesai transfusi darah, selain selang infus yang hanya berfungsi untuk memasukkan nutrisi dan obat-obatan, selang itu juga difungsikan untuk memasukkan makanan mengingat kondisi Kayla yang kini koma. Disamping itu, dokter juga akan memasang monitor denyut jantung serta kateter urine untuknya.
Sebagai ibu, hati Nadia hancur melihat kondisi menyedihkan putrinya. Terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit dengan berbagai peralatan medis sebagai penopang hidupnya. Nadia sungguh tidak ingin selemah ini, tapi inilah dirinya. Kayla adalah hidupnya, dan melihat Kayla tak berdaya iapun seolah mati rasa. Selain Nadia, tentu keluarganya yang lain pun sedih melihat kondisi Kayla yang ternyata semakin mengkhawatirkan. Arman yang awalnya akan dibawa kembali ke penjara malam ini untuk melanjutkan hukumannya, malah tertahan di tempat mengetahui kondisi putrinya. Arman meminta izin kepada pihak kepolisian agar ia diberi waktu satu hari untuk menemani putrinya yang kini koma, untungnya ia diizinkan.
Lalu bagaimana kabar Alex? Juga Elfatt yang sebelumnya menyesali dan menyayangkan kecelakaan yang menimpa Kayla?
Dengan berat hati Vanessa harus memberitahu kabar buruk itu kepada Alex dan papanya, meski tak ingin melihat Alex bersedih dengan kondisi Kayla, Alex tetap berhak tahu tentang kondisi gadis itu. Vanessa berjalan gontai menuju ruang rawat Alex, ia terhenti didepan pintu. Melihat didalam sana Alex tengah bersama ketiga temannya dan calon istrinya, Vanessa urung masuk. Ia memilih berdiri di tempat memperhatikan putranya dari jauh. Alex terlihat sudah bisa tersenyum dengan hiburan teman-temannya, Vanessa tidak sampai hati merusak momen mereka dengan memberi kabar buruk.
"Nes." Vanessa terkesiap menyadari seseorang menegurnya.
"Mas." Ternyata itu Elfaat, papa Alex.
"Kenapa diam aja? Ayo masuk, nggak mau gabung di sana buat ngehibur Alex?" kata Elfatt.
Vanessa terdiam, raut wajahnya yang murung membuat Elfatt menyadari kalau ada sesuatu yang menjadi pikirannya saat ini.
"Ada apa Nes?"
"Kayla, Mas."
Degg
Elfatt mulai resah, "Kayla? Ada apa sama Kayla?"
Vanessa menelan salivanya getir. "Kamu dari tadi sama Nadia kan, gimana keadaan Kayla?" tanya Elfatt agak mendesak.
"Dia koma, Mas." Vanessa terisak seraya menutup wajahnya.
"Hah?!" Elfatt terperangah kaget.
Vanessa duduk di kursi tunggu depan ruangan Alex sambil berusaha menahan tangisannya, Elfatt yang merasa terpukul akan kenyataan tentang kondisi Kayla pun melemas dan lantas terduduk.
__ADS_1
"Nes, kamu serius? Kayla koma?" tanya Elfatt tak siap mempercayai kenyataan itu.
"Iya Mas. Aku di sana waktu Dokter menyatakan kalo Kayla koma." sahut Vanessa disela isakannya.
Elfatt tertegun, ia menempelkan telapak tangan di keningnya sendiri sambil memikirkan nasib gadis malang yang telah mengorbankan nyawa demi menyelamatkannya tempo hari.
"Gimana bisa.." gumamnya samar, tapi masih dapat didengar oleh Vanessa.
"Kata Dokter, penyebabnya adalah karena cedera syaraf otak Mas. Alex bilang kan kemarin kalo pundak Kayla kena bola besi dan dia terluka. Ternyata tulang belakang sama lehernya cedera, dan itu berpengaruh sampe ke otaknya juga." terang Vanessa terbata-bata.
"Bukan karena kehilangan banyak darah?"
"Itu mungkin juga salah satu pemicunya, aku juga nggak begitu ngerti, yang jelas dia sekarang koma."
Akibat hantaman senjata tajam berupa bola besi milik King, kondisi Kayla mengalami penurunan besar. Harusnya setelah berhasil melewati prosedur transfusi darah Kayla baik-baik saja. Ya seandainya ia hanya terluka karena kehilangan banyak darah. Tapi sayangnya sebelum mendapat tembakan yang mengenai perutnya, Kayla lebih dulu diserang dengan bola besi. Yang ternyata pengaruh dari serangan itu lebih membahayakan dibanding sebutir peluru yang sempat bersarang diperutnya.
Vicky mematung ditempat, ia awalnya ingin keluar dari ruangan Alex untuk membeli minuman, tapi saat sampai didepan pintu ia malah melihat kedua orang tua Alex nampak berbicara serius dan dengan nada lirih. Vicky jadi penasaran dan urung melanjutkan langkahnya, dan alhasil ia mendengar pembicaraan Vanessa dan Elfatt tentang kondisi Kayla.
"Vick!" seru Bima, membuat Vicky terkesiap.
Vicky berbalik menghadap teman-temannya, ekspresi wajahnya sekarang berbanding terbalik dengan ekspresinya sebelum membuka pintu dan mengatakan ingin membeli minuman. Sandi yang mulanya berniat menjahili Vicky malah urung ia lakukan, melihat perubahan dari wajah temannya itu.
"Kenapa sih bro?" tanya Sandi heran.
"Didepan ada bokap sama nyokap lu Al." kata Vicky membuat teman-temannya mengernyit tak mengerti.
"Trus?" tanya Alex bingung.
"Gue denger mereka ngomong.. soal-.."
"Ck, ah elu nguping?!" sela Sandi mencecar.
"Kalo gue nggak nguping gue nggak bakal tau kondisi Kayla sekarang ini." sahut Vicky agak kesal.
"Maksud lu?" tanya Alex tak sabar.
"Barusan Tante Vanessa bilang, kalo..." Vicky menjeda kalimatnya, ia melirik satu persatu wajah teman-temannya termasuk Feli yang juga ada disana.
"Vick?!" tegur Alex tak sabar.
"Kayla koma Al."
Duaaarr...........
"APA?!"
"Vick, bercanda lu nggak etis!" sergah Bima sambil memukul lengan Vicky.
"Gue serius, barusan Tante Vanessa sendiri yang ngomong gitu. Tante Vanessa abis dari ruangan Kayla kan Al?"
"Iya. Tapi.... gimana mungkin?" kata Feli tak menyangka akan kenyataan yang baru didengarnya.
"Vick?!" tegur Alex sekali lagi. Sangat kentara kecemasan dan keterkejutan dari raut wajahnya.
"Iya Al, gue denger sendiri barusan nyokap lu bilang gitu. Kayla koma."
Duaarrr........
Alex tersandar lemas di ranjangnya, detak jantungnya pun terasa berhenti beberapa detik kemudian kembali berdegup dengan degupan yang menyesakkan.
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1