
Setelah mencium tangan Juleha bergantian, dua anak penunjuk jalan yang mengaku sebagai murid Juleha itu berpamitan. Tinggallah Juleha bersama tamu-tamunya yang masih berdiri di depan rumah. Juleha begitu terkejut melihat siapa saja yang datang. Tak menyangka bahwa hari ini ia akan kedatangan banyak tamu dari Jakarta, itupun orang-orang yang sama sekali tak pernah ada dalam bayangannya. Juleha terpaku bingung, meski begitu ia tetap menampilkan senyumannya pada mereka.
"Ada siapa, Neng?" tanya seorang pria paruh baya yang baru muncul diambang pintu.
Juleha agak terkesiap, "Ini Pak, teman-teman Leha dari Jakarta."
Si bapak memandangi dan memperhatikan anak-anak yang berdiri di depan rumahnya ini. "Ya disuruh masuk atuh Neng teman-temannya! Ayo masuk!" ujar si bapak.
"Terima kasih, Pak." jawab Adit sopan.
"Assalamu'alaikum.." ucap mereka saat memasuki rumah Juleha.
"Wa'alaikum salam.." jawab Juleha dan bapaknya.
Beberapa menit kemudian setelah Juleha pamit ke dalam, ia kembali ke ruang tamu dengan membawa sebuah nampan berisi beberapa minuman. la menyuguhkan minuman pada para tamunya, yang ia tidak mengerti mengapa mereka kemari. Juleha harap, ini bukan masalah baru.
"Jadi.. Juleha sekarang ngajar ya Pak?" tanya Kayla.
"lya, Alhamdulillah. Sekalian ngambil paket C, Leha teh diminta ngajar juga, bantu-bantu." jawab si bapak.
"Kalian.. tau alamat rumah aku?" bingung Juleha.
"Kita nanya sama ibu kos tempat elu tinggal dulu."
Alex yang menjawab, membuat Juleha semakin bingung dan heran. Benarkah pria yang nampak sopan dan tenang ini Alex? Seingat Juleha, Alex itu tipe orang yang cuek dan dingin, terkesan tidak sopan. Tapi yang duduk dihadapannya ini.. berbeda.
Juleha mengangguk, "Oh."
"Ngomong-ngomong ini teh kalian sengaja ya datang dari Jakarta mau ketemu Leha?" tanya si bapak.
"lya Pak, terutama mereka berempat." jawab Kayla sambil menunjuk Alex, Bima, Sandi, dan Vicky.
Alex berdehem sebelum memulai kalimatnya. "Jadi begini, tujuan utama kita kemari itu buat minta maaf."
"Minta maaf?" ulang Juleha tak mengerti.
Si bapak melirik Juleha, menatap tanya, tapi yang ditanya juga bingung. "Punten den, minta maaf apa ya?" tanyanya.
"Soal.. penyebab Juleha diskorsing dulu." jawab Alex sungkan.
Juleha dan bapaknya nampak terkejut. Bapak Juleha mulai menampakkan raut tidak sukanya, Alex, Bima, Sandi, dan Vicky yang menyadari itupun hanya bisa menunduk, merasa bersalah.
Bapak Juleha menatap selidik ke arah mereka berempat. "Mana yang namanya Alex?"
"Saya, Pak" jawab Alex.
"Oh.. kamu." Bapak Juleha mengangguk-angguk. "Jadi sekarang kamu teh udah sadar?"
"Kita minta maaf Pak, kesalahan kita emang besar, tapi saya yakin bapak sama Juleha punya hati yang lebih besar." ucap Alex yang masih menunduk.
Juleha menatap Alex tidak percaya. Apa ia tidak salah dengar, Alex meminta maaf? la lalu melirik ke arah Nia dan Adit, mereka tersenyum dan mengedip sekali, seolah mengatakan..
Ya. Itu benar, mereka berempat emang udah sadar dan mau minta maaf.
"Kejadian itu udah lama, kalian masih ingat?" kata Juleha yang masih agak bingung.
"Kita mungkin lupa, tapi banyak orang yang ngingetin kita. Sekarang kita sadar kalo kita emang bersalah, kita nyesel, Juleha." ucap Vicky.
"Kalo bukan gara-gara kelakuan kita yang keterlaluan, mungkin sekarang elu masih sekolah di Jakarta." imbuh Sandi.
"Gue juga minta maaf, dulu gue pikir.. dengan nunjukin kekuasaan gue ke elu, gue hebat, dan ngasih jera buat elu itu gampang. Tapi gue gak mikir kalo sebenarnya.. gue udah nyakitin elu. Bahkan mungkin ngehancurin perasaan orang tua lu juga" sesal Alex.
Jangankan Juleha, semua yang mendengar kalimat penyesalan dari Alex lantas terenyuh, tak terkecuali Kayla. Kayla merasa sangat senang dan bangga bisa mendengar pengakuan dari mulut Alex.
Juleha melirik bapaknya sebelum berbicara, bapak mengangguk. "A-..aku..aku udah maafin kalian kok. Aku udah lupain masalah itu juga. Aku senang kalian nyadarin kesalahan kalian, dan aku hargain pengakuan kalian."
Lega. Rasanya beban dihati semakin berkurang, ternyata meminta maaf itu menenangkan. Memang berat mengakui kesalahan, tapi setelah melakukannya perasaan kita akan tenang dan pikiran menjadi plong. Begitu juga yang dirasakan Vicky, Sandi, dan Bima.
"Kita lupain soal itu ya! Anggap aja itu sebagai pelajaran buat kita sekarang, dan buat masa depan juga. Aku senang kalian mau dateng ke rumahku rame-rame kayak gini, jangan sungkan ya. Silahkan diminum!" ujar Juleha yang diakhiri dengan memecah kecanggungan dan ketegangan diantara mereka.
"Terima kasih" ucap Nia yang diiringi dengan kekehan kecilnya.
Suasana nampak bersahabat, mereka mengobrol bersama Juleha dan bapaknya. Ketika siang tiba, ibu Juleha datang dan mengajak mereka makan siang bersama. Tentu saja mereka merasa sungkan, tapi yang namanya tamu ya harus menghargai jamuan tuan rumah kan, jika mereka menolak tentu keluarga Juleha yang merasa tidak enak.
"Maaf ya teman-teman, kita duduknya di tikar aja." ujar Juleha minder.
"Enggak papa kita mah, gak usah repot-repot juga, Leha!" sahut Nia.
"Nah.. ini beras yang baru kita panen tempo hari. Cobain! Ini hasil kerja keras bapak loh." kata Bapaknya Juleha yang sudah duduk lebih dulu didepan makanan.
"Owh.. jadi bapak ini Mang Asep tani ya!" ujar Sandi.
Bapak hanya tertawa menanggapinya. "lya. Disini orang tau nya begitu, soalnya ada tiga orang yang namanya sama." Juleha menjawab.
"Tadi kita hampir nyasar loh Pak, nyari alamat rumah bapak nggak ketemu-ketemu. Kita taunya Mang Asep doang, itu juga dikasih tau sama ibu kos. Pas nyampe ke kampung ini, eh.. ternyata banyak yang namanya Mang Asep." ujar Bang Oki.
"He'em, untung aja ada anak kecil yang tadi tuh.. mereka yang nganterin kita kemari" timpal Nia.
Nia meneguk liurnya melihat makanan yang tersaji dihadapannya. Menunya sederhana, nasi putih dengan lauk ikan goreng, lodeh nangka, osengan teri tempe, dan lalapan yang dilengkapi dengan sambal terasi. Sengaja ibunya Juleha masak banyak karena senang kedatangan tamu dari Jakarta.
"Ya ampun.. bu, kita jadi ngerepotin.." kata Kayla.
"Enggak papa Neng, ibu malah senang, rumah jadi rame, makan juga jadi lebih semangat, iya kan Pak!"
"He'eh!" sahut Bapak tanpa kata, karena mulutnya sudah diganjal oleh nasi dan lalapan.
__ADS_1
"Sok atuh Neng, Den.. makan. Anggap aja rumah sendiri, walaupun tempat makannya bukan kayak di rumah sendiri. Hhehe..." celetuk ibunya Juleha.
Mereka pun ikut tertawa.
"Menunya seadanya ya."
"Makasih banget nih Bu, sederhana gini juga ngiler banget saya liatnya" ujar Bima.
"Sok atuh.. makan! Bapak udah duluan nih." ujar Bapak lagi.
Damai rasanya berada dalam suasana keluarga seperti ini. Menikmati hidup yang meski sederhana namun kebersamaannya kental. Alex jadi merindukan masa-masa dimana dulu ia, papa, dan mama makan bersama dengan hikmatnya. Kebersamaan itu, kehangatan itu, dan kebahagiaan itu.. sekarang tinggal kenangan.
... ....
... ....
... ....
Sorenya, Alex dan yang lainnya pun mulai mencari penginapan. Mereka sebelumnya bertanya pada Mang Asep, bapaknya Juleha. Mang Asep sebenarnya ingin menawarkan mereka tidur di rumahnya saja, tapi mau bagaimana, rumah mereka hanya punya tiga kamar. Satu kamar untuk Mang Asep dan istrinya, satu lagi untuk Juleha, dan yang lainnya untuk kedua adik Juleha, yaitu Sholeh dan Sobri yang masing-masing masih duduk di bangku SD. Mang Asep bilang di kampungnya ini tidak ada penginapan ataupun hotel. Adanya hanya rumah petak atau rumah kos saja, rumah sewaan yang dulu ditempati oleh pegawai KKN yang datang ke kampung ini. Itu pun jika rumahnya tidak ada yang menempati sampai sekarang, setelah kepulangan para pegawai KKN. Hanya itu yang mungkin bisa mereka tempati untuk menginap sementara. Mereka pun menuju ke lokasi rumah kos yang berjarak hampir satu kilometer dari rumah Juleha.
Sesampainya mereka di lokasi. Mereka melihat dari luar, rumah kos itu terlihat berjumlah 4 buah. Juleha lalu mengajak mereka menemui sang pemilik rumah kos. Sayangnya ternyata keempat buah rumah itu sudah berpenghuni. Akhirnya mereka pulang dengan hampa.
"Maaf ya teman-teman, selain rumah ini, aku gak tau lagi dimana ada tempat buat nginep. Tapi bapak enggak keberatan kok kalian nginep di rumah. Aku juga senang" kata Juleha.
"Tapi kita yang nggak enak, Leha. Kita udah ngerepotin ibu kamu soal makan siang, masa' sekarang kita mau numpang tidur juga." ujar Nia.
"Ih nggak papa tau. Enggak usah sungkan, kalian tamu aku. Aku senang kalian mau jalan-jalan ke kampungku, kapan lagi kita ngumpul begini, iya kan!"
"Tapi tetap aja, kita kesini buat liburan, bukan ngerepotin keluarga kamu." ujar Kayla.
Juleha tersenyum pada Kayla. la menatap lekat Kayla, mengingat-ingat apakah ia mengenal gadis ini juga, apa dia adik kelas atau kakak kelas.
"Kamu..?"
"Oh, kita belum kenalan, ya. Aku Kayla. Aku sekelas sama Nia dan Adit." kata Kayla seraya mengulurkan tangannya.
Juleha menyambut uluran tangan Kayla, "Salam kenal Kayla, kamu pasti udah kenal aku." ujar Juleha seraya diiringi tertawaan kecilnya.
"lya. Aku banyak dengar tentang kamu."
"Udah kenalannya?" ujar Bima malas, membuat Kayla dan Juleha menoleh kearahnya.
"Ini kita gimana, udah sore nih tapi belum juga dapat tempat nginep" ujar Bima lagi, nampak kesal.
"Kita udah sampe di tempat nginep." kata Juleha saat mereka sampai di depan rumahnya.
"Aduh Juleha, bukannya gimana-gimana sih, tapi kita beneran gak mau ngerepotin keluarga elu. lya tujuan kita kesini emang buat nyamperin elu, tapi kita sekalian liburan juga. Enggak enak dong sama keluarga elu." kata Alex.
"Kamu nggak tau gimana orang sini. Jangankan aku yang kenal kalian, kalo kalian datang ke rumah siapa aja di kampung ini, mereka pasti nyambut kalian dengan baik kok. Orang sini ramah-ramah, jiwa sosialnya tinggi, mereka suka kedatangan tamu. Mereka bahkan nganggep kalian bagian dari mereka loh. Jadi kalian gak perlu sungkan" jelas Juleha.
"Wah.. Neng Leha, ada tamu ya? Rame' bener ini..!" seru seorang ibu yang datang.
"Alhamdulillah Bu, ini temen-teman Leha dari Jakarta."
"Oh dari Jakarta.." sahut Ibu yang lain.
"Bu, ini mereka yang Uli ceritain tadi." ujar seorang anak pada ibunya.
Anak perempuan ini kan salah satu dari dua anak yang tadi menunjukkan jalan pada Kayla dan teman-temannya.
"Wah Leha, anak kota teh emang bening-bening ya.." salah satu ibu melirik Alex dan ketiga temannya.
Juleha menyengir. "Oh iya Bu, kenalin ini namanya Alex, ini Bima, ini Sandi, yang ini Vicky. Trus yang ini Adit, ini adiknya Adit namanya Annisa, trus ini Nia, dan ini.. Kayla."
Para ibu dan anak-anak itu pun mengangguk. Tanpa mereka sadari sedari tadi ada dua orang yang tengah memperhatikan mereka. Kedua orang itu akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan menghampiri Juleha.
"Nginep ya Neng?" tanya seorang ibu.
"lya Bu. Kita sekalian liburan kesini." Kayla menjawab.
Ibu-ibu itu tertawa renyah. Kayla tidak mengerti apa yang membuat mereka tertawa, tapi mereka tidak terlihat seperti sedang menertawakan dirinya.
"Orang kampung aja liburannya ke kota, eh ini kalian anak kota liburannya ke kampung."
Oh jadi itu yang membuat mereka tertawa, Kayla dan yang lainnya pun ikut tertawa. Tertawaan mereka terhenti saat dua orang yang tadi memperhatikan mereka kini menyapa.
"Kalian bisa nginep di rumah kita kalo mau. Ada dua kamar tamu yang kosong, biasanya juga kalo ada orang luar yang datang kesini, nginepnya di rumah kita." kata seorang pemuda menawarkan.
"Kak Rizki, Rini!" sapa Juleha, keduanya lantas membalas sapaan Juleha dengan senyuman.
"Oh ya teman-teman, kenalin ini Kak Rizki sama Rini. Mereka berdua anaknya Pak RW kampung sini. Rini ini teman aku, dan Kak Rizki.. dia ngajar SD sini." Juleha dan Rizki saling melirik dan tersipu.
"Salam kenal Kak.." kata Kayla pada Rizki dan Rini.
"Jadi.. maksudnya Kak Rizki sama Rini ini nawarin kita nginep di rumah Pak RW, gitu?" tanya Bang Oki memastikan.
"lya, kalo kalian mau."
Mereka saling melirik dan berpikir. "Apa nggak ngerepotin?" ujar Adit sungkan.
"Ya enggak lah. Kita udah biasa kedatangan tamu kayak kalian." sahut Rini yang sejak tadi melirik-lirik Alex.
"Maksudnya, tamu kayak kalian yang datang dari kota, trus kesini buat liat-liat suasana pedesaan, gitu."
Nia dan yang lainnya pun ber Oh ria.
__ADS_1
"Emm.. boleh sih kalo emang nggak ngerepotin." jawab Alex sambil melirik teman-temannya. "Tapi kita..ini delapan, eh sembilan. Banyak loh."
"Enggak papa, asyik kali rame." sahut Rini antusias. "Yuk aku anter!"
"Oh iya, aku Rini, kamu siapa?" ujar Rini lagi.
Alex menatap tangan Rini yang diulurkannya kehadapan Alex. Alex menjabatnya ragu. "Alex"
"Gue Bima." Bima nimbrung dan mengulurkan tangannya pada Rini sambil memainkan alisnya sekilas. Rini menjabat tangan Bima.
Tiba-tiba terdengar lakar tawa Mang Asep. "Dasar anak kota, ditawarin nginep disini gak mau. Eh..giliran Neng Rini yang nawarin langsung mau" ujar Bapaknya Juleha.
Rini tersipu malu sambil melirik Alex, Juleha yang melihatnya hanya terkekeh geli seraya menggeleng kecil. Rizki dan Rini akhirnya mengajak mereka mengunjungi rumahnya, dan mereka setuju untuk menginap di rumah Pak RW, yang notabenenya adalah rumah yang paling besar yang ada di kampung itu.
Kayla merasa sedikit kesal ketika melihat tingkah Rini yang menurutnya nampak sok akrab dan agak manja pada Alex, padahal mereka baru saja berkenalan. Dan Alex kelihatannya tidak terganggu dengan tingkah Rini.
"Gitu banget sih" gerutu Kayla pelan, yang hanya bisa didengar oleh Nia dan Juleha yang berada di samping kanan dan kirinya.
la kesal melihat Rini yang tengah berbicara pada Alex dengan nada manja yang dibuat-buat, sambil memegang lengan Alex. Nia dan Juleha yang melihat ekspresi Kayla, agak heran.
"Emm.. Juleha, aku kayaknya nginep dirumah kamu aja deh." kata Kayla, membuat semua orang menoleh padanya.
"Oh iya, iya. Boleh banget."
"Loh.. nggak jadi disini Kak?" tanya Annisa.
"Nggak enak sama Pak RW, mereka cowok-cowok aja udah banyak. Menurut aku, lebih enakan kalo dua kamar itu dipake sama kalian aja." kata Kayla, kalian maksudnya para cowok.
"Bener juga sih kata Kayla." timpal Sandi.
"Aku, Nia sama Annisa nginepnya di rumah Juleha aja" kata Kayla lagi sambil melirik Nia dan Annisa, keduanya mengangguk meski agak bingung dengan keputusan Kayla.
Selain karena rasa kesalnya melihat Rini dan Alex, Kayla agaknya ingin menghabiskan waktu dan berbicara banyak dengan Juleha, jadi ia memutuskan untuk menginap di rumah Juleha saja. Alex jadi merasa bimbang, dan ingin menginap di rumah Juleha juga, alasannya tentu saja karena ingin dekat dengan Kayla. Namun, Rini dan Pak RW meyakinkan Alex untuk menginap dirumah mereka.
"Kay, kok kamu tiba-tiba pengen nginep di rumah Juleha? Aku curiga.. jangan-jangan kamu sengaja ngehindarin Alex ya, kamu cemburu liat Alex sama Rini tadi..?" goda Nia.
Kayla membulatkan matanya kaget. Apa kata Nia tadi, cemburu? Bagaimana Nia bisa beranggapan seperti itu.
"Kamu ngomong apa sih Ni, ya enggak lah, ngapain aku cemburu!"
"Ehm.. kita liat kok.." Juleha pun ikut menggoda.
"Liat apa?" tanya Kayla mulai salting.
"Kamu kesel kan tadi liat Rini sama Alex?" ujar Juleha.
"Ya.. dikit. Kalian pasti juga kesel kan. Secara tadi tuh Rini kayak nempel-nempel gitu sama Alex, baru kenal juga. Aku.. rada gak enak aja liatnya."
"Kamu cemburu Kay, Alex dideketin sama cewek lain. lya kan..? Keliatan kok dari muka kamu." goda Nia lagi.
Kayla menaikkan alisnya heran. Benarkah ekspresi wajahnya menunjukkan kecemburuan? Kayla saja tidak begitu mengerti seperti apa itu cemburu, lagipula kenapa ia akan cemburu melihat Alex dan Rini!
"Cemburu itu tandanya cinta loh Kay, kalo kamu cemburu sama Alex, artinya kamu gak rela dia sama orang lain." kata Juleha.
"Aku nggak cemburu kok, lagian dia juga bukan siapa-siapa aku, ngapain aku cemburu"
"Bukan siapa-siapa?" bingung Juleha, "Emang bukan pacar ya?"
"Apa? Kamu kira aku sama Alex pacaran?" Kayla tertawa geli.
Juleha menatap tanya pada Nia dan Annisa, mencari jawaban atas kebingungannya. "Enggak Kak, Kak Kayla sama Kak Alex emang nggak pacaran kok" jelas Annisa.
"Owh.. sorry!" ujar Juleha tak enak.
"lya enggak pacaran, tapi deketnya kayak orang pacaran beneran. Aku paham sih kalo kamu cemburu Kay, Alex pasti juga bakal cemburu kalo liat kamu deket sama cowok lain." goda Nia.
"Cemburu itu tandanya suka kan, nah aku nggak suka kok sama dia. Jadi nggak ada cemburu, tadi itu aku cuman kesel aja kok." bantah Kayla lagi.
"Masa'? Nggak suka apa emang suka."
"Apa sih Ni, kamu ngaco ah!"
"Kalo emang kamu nggak suka, yakali kamu bela-belain ikut kesini cuman buat mastiin Alex bener-bener minta maaf!"
"Apa salahnya?" ujar Kayla.
"Eh tunggu, jadi Kayla kesini itu buat nemenin Alex, gitu?" tanya Juleha.
"Yups!"
"Bukan cuman itu loh. Kamu tau Leha, yang bikin Alex sama teman-temannya bisa berubah kayak sekarang, itu Kayla. Cinta Alex ke Kayla tuh bikin Alex bertekuk lutut sama dia. Keren kan!"
Juleha salut mendengarnya, sedangkan Kayla hanya geleng-geleng kepala menanggapi celotehan Nia.
Dan Annisa, sejak tadi hanya diam. Bukan ia tidak suka dengan obrolan mereka, Annisa hanya memikirkan dan mengkhawatirkan kakaknya, Adit. Annisa tahu betul jika Adit menyukai Kayla sejak lama, tapi sampai sekarang Adit belum mengungkapkan perasaannya pada Kayla. Mengesalkan sekali, Annisa sudah mewanti-wanti Adit berkali-kali jika Adit terus memendam perasaannya, maka Adit bisa kehilangan Kayla kapan saja, karena saat ini Kayla sudah semakin dekat dengan Alex. Annisa kesal karena Adit tidak berusaha memperjuangkan cintanya.
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1