Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Menuju Lamaran


__ADS_3

"Ken, pulang yuk.." ujar Kayla malas.


Kenzo tak menyahut, ia hanya tersenyum miring membuat Kayla semakin jengah saja. Saat ini mereka berdua sedang berada di lapangan kota. Setelah joging mereka beristirahat di sisi lapangan, yang bersebelahan langsung dengan taman kota yang mulai ramai pengunjung. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 tapi rupanya Kenzo masih betah berjemur di bawah terik pagi ini, ia berbaring santai di atas rumput. Sedangkan Kayla duduk di bangku yang tersedia, berteduh di bawah pohon.


"Ken..." rengek Kayla.


"Hmm.." Kenzo hanya menanggapinya dengan gumaman kecil.


"Ini udah jam sembilan. Tadi kan bilangnya sama mami cuman sampe jam delapan, gimana sih?!" gerutu Kayla.


"Udah panas nih Ken, ayo ah!"


"Panas matahari pagi itu menyehatkan buat tubuh, Kay. Gak mau ikutan berjemur gitu?"


"Udah satu jam kamu berjemur Ken, mau berapa lama sih? Aku belum nyuci loh, belum nyapu, belum bersihin halaman."


"Trus?"


"Ya ampun ih..." Kayla mulai gemas, ia beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Kenzo.


"Bangun! atau aku pulang sendiri!" gertak Kayla sambil menarik tangan Kenzo.


"Duh.. cerewet juga ya. lya iya gue bangun"


Akhirnya mereka beranjak pulang. Sembari berjalan Kenzo terus memainkan ponselnya, ia senyum-senyum sendiri sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Kayla yang merasa diabaikan lantas merengut malas.


"Siapa sih Ken?"


"Hm?" sahut Kenzo tak fokus.


"Oh.. Jessica ya?" tebak Kayla saat ia teringat sesuatu.


Kenzo langsung mengalihkan pandangannya dari ponsel ke wajah Kayla. la tak menjawab tapi hanya memainkan alisnya, yang menunjukkan tebakan Kayla benar.


"Ken, jadi benar yang dibilang anak-anak? Kamu jadian sama Jessica?"


"Hehe.. iya" jawab Kenzo menyengir.


"Apa?! Jadi kamu sekarang sama Jessica...pacaran?!"


"lya. Kenapa sih, kaget amat" ujar Kenzo kembali fokus ke ponselnya.


"Katanya udah tobat, udah mau serius dalam hidup, kok pacaran lagi?"


Kenzo menutup ponselnya sebelum menjawab Kayla. "lya gue tobat kok, gue juga serius dalam hidup. Buktinya gue gak pindah-pindah sekolah lagi. Gue udah mantap buat nyelesain SMA di sini, gue juga serius belajar kok biar lulus dengan nilai yang gak malu-maluin."


"Trus?" tanya Kayla geregetan.


"Trus.. Jessica duluan yang deketin gue." la menyengir, membuat Kayla mendengus.


"Beneran Kay. Logikanya.. gue yang belum kuat iman ini mana tahan digodain sama cewek secantik Jessica." la berdecak kagum sambil memejamkan mata, membayangkan kecantikan Jessica.


"Nih lu liat!" la menunjukkan jam tangan bermerk yang melingkar di tangan kirinya.


"Ini hadiah ulang tahun dari Jessica. Dan elu tau gak, dia nembak gue abis itu!"


Kayla membulatkan matanya, "Dia yang nembak kamu?"


"lya. Mau gimana lagi, pesona gue kan gak ada obat." Kenzo menyisir rambut dengan jemarinya, bergaya cool.


"Nah sekarang kasih tau gue, gue harus gimana coba? Kalo gue tolak sayang banget dong cewek seperfect itu gue anggurin. Lagian mana bisa gue nolak Kay, dari awal liat dia aja gue udah feeling kalo kita bakalan cocok. Yah... mana tau kan kalo dia emang ditakdirin jadi cewek gue." ucap Kenzo dengan percaya dirinya.


Kayla menggeleng tak habis pikir, "Kenzo.. Kenzo.. mau sampe kapan kamu kayak gini?"


"Kay, gue udah beneran pengen berubah kok. Gue juga mikir dulu kali sebelum nerima cintanya Jessica, dan gue juga beneran suka kok sama dia, gue gak main-main lagi. Suwer deh!"


Kayla memandang seksama ekspresi wajah Kenzo, apakah dia serius dengan kata-katanya itu atau tidak. Kayla tidak mau Kenzo mempermainkan Jessica, lebih tepatnya Kayla tidak suka Kenzo mempermainkan perasaan perempuan manapun.


"Kamu tau kan aku gak suka kamu nyakitin cewek, aku harap kamu gak ada niat buat nyakitin Jessica"


Kenzo tersenyum. "Kay, gue beneran suka sama Jessica.."


Kenzo menjeda kata-katanya seraya menatap lekat wajah Kayla. la seolah mencari sesuatu dari tatapan itu. Sedangkan Kayla hanya mengangguk dengan santai.


"..gue pasti bisa jadiin Jessica mantan terakhir gue." lanjutnya mantap.


"Bagus. Aku harap kamu serius sama kata-kata kamu. Atau seenggaknya kamu gak akan main-main lagi sama cewek."


Kenzo cemberut, "Elu gak percayaan banget sih Kay sama gue!" gerutunya.

__ADS_1


"Aku selalu percaya kok sama kamu, kecuali soal cewek." timpal Kayla.


"Aku bukannya ngeremehin kamu atau ngakuin kamu playboy Ken, mau gimanapun juga kan kamu itu sahabat aku. Tapi tingkah kamu selama ini tuh bikin aku khawatir tau nggak sama kamu, semoga aja kamu bisa jaga diri." sungut Kayla, ia agak jengkel mengatakan itu, tapi nadanya lirih.


Kenzo terpaku sesaat, ia lalu tertawa kecil. "Ya ampun Kaylily gue.. perhatian banget sih. Makasih ya, gue pasti jaga diri kok" Kenzo mentoel ujung hidung Kayla gemas.


... ....


... ....


... ....


Sesampainya mereka berdua di depan rumah Kayla, mereka melihat mami Kayla sedang duduk dan mengobrol dengan Alex.


"Alex" gumam Kenzo pelan.


Alex yang menyadari kehadiran Kayla lantas tersenyum dan berdiri. la pun tersenyum kearah Kenzo, namun agaknya Kenzo malas menanggapinya.


"Kamu bilang kemarin katanya hari ini gak kemana-mana, ini kok pagi-pagi udah sama Kenzo." gumam Alex dalam hati.


Kayla mengucapkan salam kemudian mencium tangan mami, Kenzo pun melakukan hal yang sama.


"AI, kamu disini!" seru Kayla.


"Hm." jawabnya singkat.


"Lily, kamu gimana sih sayang, kok hp nya ditinggal? Mami kan jadi gak bisa ngabarin kalo Alex udah dateng, udah satu jam loh dia nungguin kamu."


Kayla mengernyit bingung. "Apa? Kamu nungguin aku, satu jam?"


Alex hanya tersenyum.


"Mi, maaf Lily gak sengaja kok gak bawa hp. Tadi tuh kan Kenzo yang make hp nya, isshh... kamu nih!" Kayla melirik kesal Kenzo.


"Kok nyalahin gue?!" sahut Kenzo cuek.


"Al, maaf ya! Emang ada apa kamu nunggu aku, kok tumben kesini gak ngabarin dulu?" tanya Kayla, membuat Alex bingung.


"Emm.. aku pikir kamu udah baca chat aku. Aku mau ngajak kamu ke rumah mama, Sita sama Fita pengen main sama kamu"


"Oh ya? Wah aku gak sabar deh mau ketemu anak-anak unyu itu. Eh tunggu, kamu bilang chat? Kamu ngechat aku, kapan?"


Alex mengecek ponselnya, mami yang ikutan bingung pun memberikan Kayla ponselnya. Tadinya saat Alex datang mami bilang kalau Kayla sedang joging bersama Kenzo, lalu Alex menelpon ke nomer Kayla, ternyata ponselnya malah ada di rumah. Jadilah Alex memutuskan untuk menunggu Kayla pulang. Tapi yang membingungkan.. chat yang Alex kirimkan pada Kayla sudah terbaca. Jika Kayla tidak tahu menahu tentang Alex yang sudah memberitahunya akan datang pagi ini.. lantas siapa yang membaca chat itu?! Tidak mungkin mami, karena mami baru tahu ponsel Kayla tertinggal di rumah setelah mendengar ponsel itu berdering ketika Alex menelpon.


Kenzo mendengus. "Iya gue yang salah"


Kayla, Alex, dan mami lantas menatap sewot ke arah Kenzo serentak. "Tapi gak sengaja kok. Gue main game trus itu chat masuk, daripada game gue keganggu yang gue geser aja itu notif nya. Eh taunya malah kebuka, yaudah deh" dalih Kenzo sambil mengedikkan bahunya.


"Yaudah apanya? Kenapa gak ngasih tau?" sewot Kayla.


"Lupa." sahutnya lempeng, membuat Alex berdecak kecil sambil memutar bola matanya jengah.


Kayla dan mami lantas mendengus, Kenzo ini memang suka sekali membuat orang jengkel. Kelakuannya kadang kekanak-kanakan tapi nakal juga, membuat orang-orang terdekatnya geleng-geleng kepala.


"Udah udah.. masalah selesai kan? Yaudah gue mau rebahan dulu!" ujar Kenzo kemudian menyelonong masuk ke rumah tanpa permisi.


"Kayak rumah sendiri aja." gumam Alex dalam hati, agak kesal.


Kayla menyengir tak enak dengan Alex, "Maaf ya Al"


"Enggak papa. Santai aja."


... _________________...


Nadia pulang lebih awal dari kantor hari ini, karena ia harus pergi berbelanja untuk keperluan menjamu tamu terhormat yang akan bertandang ke rumahnya malam ini. Rasanya hari begitu cepat berlalu dan waktu pun kian berjalan terburu-buru, mungkin penyebabnya adalah ketegangannya dan kecemasan sang putri yang begitu kentara. Hari yang menegangkan itupun tiba, hari dimana putrinya akan dilamar oleh pemuda yang baik dan sopan, yang memiliki cinta dan kebijaksanaan, serta berasal dari keluarga yang terpandang.


Nadia menyukai pemuda itu, pemuda itu cukup dewasa untuk anak seusianya, dan yang terpenting dia berhasil memenangkan hati Nadia. Namun pilihan dan keputusan tetaplah putrinya yang akan memilih, karena putri kesayangannya itu berhak menentukan masa depannya sendiri. Sebagai orang tua, Nadia berkewajiban mengingatkannya dan mendukungnya, selama yang putrinya inginkan itu adalah sesuatu yang baik dan tidak keliru.


Teng tong..


Bel rumah berbunyi, Nadia agak terkesiap, ia menilik ke arah jam dinding, pukul 19.25. la pun terkejut, saking sibuknya ia sampai tidak sadar sekarang sudah hampir jam setengah delapan malam. Dan siapa yang memencet bel di depan rumahnya itu? Semoga saja bukan Alex dan papanya. Karena menurut rencana dan kesepakatan, Alex dan papanya akan datang jam delapan malam.


Dengan sedikit tergesa-gesa Nadia beranjak dari dapur untuk membukakan pintu bagi sang pemencet bel. la agak kalangkabut takutnya benar-benar Alex yang datang sedangkan ia belum bersiap-siap. Nadia mengintip dari balik tirai jendelanya, ia pun lega melihat bukan Alex yang berada didepan itu.


Ceklekk


"Mas! Alhamdulillah kamu datang, makasih ya Mas!" ucapnya lega.


Yang datang adalah sang kakak, Iwan. Nadia sengaja meminta sang kakak datang untuk menemaninya menghadapi tamu nanti. Nadia pun sebelumnya sudah memberitahu sang kakak perihal rencana lamaran Kayla. Iwan tentu saja terkejut, ia bahkan sempat menentang keras. Tapi setelah mereka berdiskusi baik-baik dengan kepala dingin akhirnya ia memahami maksud adiknya dan keponakannya itu.

__ADS_1


Dan disinilah kini lwan, Om Kayla satu-satunya. Dia datang untung mendampingi sang adik dan keponakannya yang akan menghadapi sebuah momen yang serius dan penting dalam hidup. Iwan tersenyum hangat pada Nadia yang baru saja membukakan pintu untuknya.


"Tentu Mas datang Nad, ini momen penting buat kamu dan Kayla. Mas tau kamu dan Kayla butuh Mas, dan Mas juga gak mau ngelewatin momen ini. Kayla kan anak Mas juga" ucapnya sambil mengelus pundak sang adik sayang.


Nadia sangat senang dengan kehadiran sang kakak satu-satunya itu. Siapa lagi yang akan mendampinginya disaat-saat paling penting seperti ini, sedangkan papi Kayla tidak mungkin bisa diharapkan. Kepada siapa lagi ia mengadu dan meminta pendapat selain kepada kakak tersayangnya. Sebagai orang tua tunggal yang terbilang masih berusia muda, tentu Nadia merasa bingung dan gugup menghadapi situasi seserius ini.


"Makasih Mas. Masuk yuk!"


Iwan memandangi Nadia dari atas ke bawah, ia merengut gemas. "Kamu kok kucel gini Nad, ngapain aja sih?"


"Hhh... ya ampun aku abis dari dapur Mas, Alhamdulillah udah selesai sih. Aku harus buru-buru mandi dan siap-siap nih."


"lya. Jangan sampe kamu telat, gak enak dong sama tamu kita."


Nadia segera melepas celemek yang terpasang di badannya, lalu bergegas masuk ke kamar.


"Eh Nad, Kayla gimana, udah siap-siap?"


"lya Mas, dia siap-siap kok di kamarnya. Tolong cek ya!" sahut Nadia tanpa menoleh lagi sebelum hilang dibalik pintu.


... ....


... ....


... ....


Kayla duduk di depan meja riasnya, menatap gugup pada pantulan dirinya sendiri di cermin. la merenungkan kembali keputusan yang akan ia ambil malam ini. Setelah berpikir panjang dan bermusyawarah dengan mami, juga Om lwan kemarin, akhirnya Kayla memberanikan dirinya untuk menentukan pilihannya. la juga memantapkan keyakinan hatinya dengan sholat istikharah sesuai anjuran seorang Ustadz kenalan Om lwan.


Ini bukan persoalan yang sepele. Mana berani Kayla mengambil keputusan apalagi sampai seyakin ini dengan pilihan hatinya, karena ini menyangkut hubungan dua keluarga, bukan hanya dua hati saja. Tentu saja Kayla harus memikirkannya dengan sebaik-baiknya dan mengambil keputusan secara matang. Dan tidak mungkin juga ia bisa menangani persoalan ini sendirian di usianya yang terbilang masih labil. Untungnya Kayla memiliki mami yang sudah seperti sahabat terbaiknya dan tempat curhatnya, dan juga Om lwan yang bijaksana. Meski dari hati kecilnya yang terdalam ia ingin melibatkan papinya juga dalam keputusan besar ini. Namun apa daya, papinya yang sekarang bukanlah pria pengertian dan penyayang seperti yang ia kenal dulu. Papinya telah berubah menjadi pria kejam dan tak berperasaan, dan membuat Kayla merasa terancam berada didekatnya.


Kayla menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya. Kemudian ia terkesiap ketika mendengar suara ketukan pintu.


"Masuk aja mi."


Ternyata bukan maminya yang mengetuk pintu, melainkan Om nya. Om Iwan berdiri didepan pintu seraya tersenyum pada Kayla.


"Om Iwan!" Kayla berdiri dari duduknya.


"Om masuk ya?"


"lya Om."


Om Iwan pun melenggang masuk kemudian menggeret kursi belajar Kayla dan duduk disamping Kayla.


"Gimana perasaan kamu nak?"


Kayla tersenyum kaku, ia bingung mau menjawab bagaimana. Akhirnya ia menunduk malu.


"Kamu udah yakin sama keputusan kamu?"


Kayla mengangkat kepalanya perlahan. "Insyaallah, Om. Menurut Om gimana?"


"Om dukung kamu, apapun pilihan kamu semoga kamu bahagia"


"Ini bukan keputusan yang gampang buat aku Om, tapi mami selalu ngeyakinin aku buat ngikutin kata hati aku. Kalo menurut Om ini terlalu terburu-buru.. aku bisa-.."


"Enggak Kayla, Om gak mau pengaruhin pikiran kamu apalagi sampe kamu ragu sama pilihan kamu. Om cuman gak mau kamu salah langkah, nak."


Kayla terdiam beberapa saat. "Makasih ya Om, udah mau ngedukung aku. Dan Om juga mau datang malam ini buat nemuin dia. Aku.. aku percaya sama dia, dan aku kenal dia dengan baik. Jadi Om gak usah khawatir"


Kayla mencoba menghilangkan kecemasan Om nya. Om lwan pun tersenyum hangat sambil mengusap kepala Kayla.


Tak berselang lama, terdengar suara deru mesin mobil yang sepertinya berhenti di depan rumah Kayla. Om lwan lantas beranjak.


"Kayaknya mereka udah datang." gumam Om Iwan, membuat Kayla gugup seketika.


"Om liat dulu ya!" kata Om lwan kemudian melangkah keluar kamar Kayla.


Kayla jadi semakin tegang, jantungnya berdetak lebih kencang berkali-kali lipat. la meremas dress nya sambil menggigit bibir bawahnya, berharap kegugupannya sedikit berkurang.


Entah bagaimana nanti saat ia berhadapan dengan keluarga Alex, saat ini saja ia sudah sangat gugup. Padahal ia sudah pernah bertemu dengan papa Alex bahkan sempat bertukar pikiran dengannya, ia juga sudah bertemu mama Alex beberapa kali dan mereka mulai akrab. Tapi saat ini, membayangkan berhadapan dengan mereka saja Kayla sudah segugup ini, belum lagi nanti saat Kayla diminta untuk memberikan keputusan tentang lamaran yang mereka bawa. Bagaimana Kayla akan mampu berbicara dihadapan mereka, dan bagaimana nanti reaksi Alex?!


... ....


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... Bersambung...


__ADS_2