Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Lamaran


__ADS_3

Alex merasa jengkel dengan dirinya sendiri, ia begitu gugup dan berkeringat. Padahal ia sudah mencoba rileks sejak tadi, dengan tersenyum setulus mungkin dan ikut bicara bersama papanya dan Om Iwan, Om nya Kayla. Tapi masih saja kegugupannya tidak hilang, ia bahkan belum melihat Kayla malam ini, bagaimana nanti jika gadis yang ia cintai itu muncul dihadapannya. Semoga saja  jantungnya ini masih bisa dikondisikan.


Saking gugupnya tenggorokan pun terasa kering, tapi ia tidak berminat sedikit pun meneguk air yang ada di depannya. Entah sampai kapan ia seperti ini, haruskah ia keluar sebentar untuk mencari angin atau setidaknya langsung saja pada prosesi lamaran, agar ia bisa cepat tenang.


Alex menyapu pandangannya melihat para orang tua yang duduk di dekatnya. Malam ini Alex datang bersama kedua orang tuanya, sungguh membahagiakan sekali. Papa dan mamanya mau berkompromi dan setuju mendampinginya malam ini, di momen yang sangat penting dalam hidupnya. Jika papanya dengan Om Iwan dan Tante Nadia sudah pernah bertemu sebelumnya di kantor, sebagai Bos dan karyawan. Namun malam ini mereka nampak akrab seperti teman, meski ada sedikit kecanggungan dari Om Iwan dan Tante Nadia, papa Alex tidak suka berbicara dan bertingkah formal jika diluar urusan bisnis.


Berbeda dengan mamanya. Mama Alex baru pertama kali bertemu dengan Tante Nadia dan Om Iwan, tapi nampaknya mama Alex bisa berkomunikasi dan menyesuaikan diri dengan mudah terhadap orang-orang yang baru ditemuinya ini.


Lalu dimana gadis pujaannya itu? Mata Alex tertuju pada pintu kamar Kayla yang tertutup rapat. Entah kapan para orang tua yang larut dalam obrolan tidak penting ini, akan membiarkannya bertemu Miss Kissable nya itu!


"E'ehemm..!" Alex berdehem, berharap para orang tua ini mengerti kode darinya.


Semoga saja mereka tidak lupa dengan tujuan utama pertemuan ini. Dan ketika suara deheman Alex menarik perhatian mereka, mereka lantas tertawa renyah bersama-sama.


"Hmm... kayaknya Alex udah gak sabar ya." goda sang mama.


"Eh bukan gitu kok, ma. Aku ngerasa.. kok aku kayak dicuekin ya." dalih Alex.


Lagi-lagi mereka tertawa.


"Baiklah, kita mulai saja kalo gitu, Pak. Kasian yang udah deg-degan dari tadi" ujar Pak William pada Om lwan, sambil menepuk paha sang putra.


"Gak tau deh yang di dalam itu gimana deg-degannya." lanjut Pak William lagi, tentu saja yang dia maksud adalah Kayla.


Om Iwan pun menanggapi dengan senang hati.


"Akhirnya..." batin Alex lega.


Sementara Kayla di dalam kamarnya merasa semakin tegang. Tidak tahu apa saja yang dibicarakan orang tuanya dan orang tua Alex di luar sana. Tadi suara tawa mereka yang Kayla dengar sama-samar cukup membuatnya lebih rileks, tapi sekarang sudah tidak terdengar lagi suara-suara ramai itu. Apa mereka mulai berbincang serius? Semoga semuanya baik-baik saja dan berjalan lancar.


Ceklekk


Kayla reflek berdiri dari duduknya saat menyadari seseorang membuka pintu kamarnya.


"Mami" gumamnya lega.


Sang mami tersenyum hangat melihat Kayla yang begitu kelihatan cantik malam ini. Kayla memakai dress simpel berwarna peach sepanjang tiga perempat betis, dengan lengan payung dan aksen permata dibagian siku dan pinggangnya. Rambutnya ia gerai rapi dengan sebuah bros bunga yang menghiasi kepala bagian kanannya. Dan tak lupa juga kacamata andalannya.


Kayla pun agak takjub melihat penampilan mami, maminya memakai kebaya modern yang tidak terlalu mewah namun cukup elegan. Rasanya Kayla ingin tertawa, kenapa maminya berdandan sampai sebegininya padahal mereka tidak pergi kemana-mana. Prosesi lamaran dilaksanakan di rumah saja, bukan di gedung apalagi di aula resmi.


"Mami cantik banget." puji Kayla, karena memang benar apalagi jarang sekali maminya berdandan seperti ini.


"Kamu lebih cantik." balas mami sambil memegang kedua sisi wajah Kayla.


"Sayang, apa kamu udah siap?"


Dan seketika Kayla kembali gugup. Kali ini jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. "Se-..sekarang mi?"


"Sebentar lagi." Mami mengajak Kayla duduk dulu, menenangkan putrinya yang tengah gugup itu.


"Prosesi lamarannya udah mulai, sebentar lagi kita keluar ya!" ucap mami lembut.


"Mi, Lily harus gimana? Lily nanti ngomong apa?" tanyanya gelagapan.


"Ssstt.. tenang sayang! Seperti yang udah kita omongin kemarin, kamu cukup percaya sama pilihan hati kamu, ya! Semuanya bakal baik-baik aja kok, mami yakin Alex dan keluarganya juga akan nerima apapun keputusan kamu."


Kayla menghela nafas panjang, sembari mami menggenggam hangat tangannya. la berharap ia tidak terlalu gugup saat berada di depan Alex dan keluarganya nanti, agar ia bisa berbicara dengan baik.


Dan di luar, lebih tepatnya di ruang tamu rumah Kayla, prosesi lamaran sedang dilangsungkan secara hikmat dan tenang. Dengan Pak William sendiri yang jadi juru bicara dari pihak Alex, membawa lamarannya untuk Kayla. Sedangkan dari pihak Kayla, Om Iwan sebagai kepala keluarganya dan penyambut niat baik tamu terhormat mereka. Sampai tiba saat dimana Kayla diserahi keputusan akhir dari pertemuan malam ini, Kayla pun keluar dari kamarnya didampingi oleh sang mami.


Degg


Langkah Kayla sempat terhenti saat matanya bertemu pandang dengan Alex. Entah kenapa Kayla merasa wajah Alex begitu berseri malam ini, ia terlihat sangat tampan. Apalagi ia tersenyum begitu manis. la mengenakan tuksedo berwarna cream, penampilannya sangat rapi sampai ke tataan rambutnya, padahal biasanya rambutnya itu terlihat hanya disisir sembarang saja.


Mami menarik Kayla untuk duduk di tengah. Saat mata Kayla menangkap sosok Om William dan Tante Vanessa, ia tersipu malu seketika, ternyata keduanya memperhatikan dirinya sejak tadi. Kayla lantas menunduk, menyembunyikan rona merah pada wajahnya.


"Miss Kissable.." seru Alex lembut dalam hati.


la tidak bisa mengatakan sekarang bahwa ia begitu bahagia melihat Kayla saat ini. Meskipun belum tahu apa keputusan Kayla, Alex merasa sangat senang dan bersyukur bisa sampai dititik ini untuk memperjuangkan cintanya.


"Apa kabar Kayla?" tanya Om William.


"Baik Om." sahut Kayla pelan, sambil mengangkat kepalanya sekilas.

__ADS_1


"Kayla, kamu cantik banget nak." puji Tante Vanessa membuat Kayla tersenyum malu.


"Sesuai janji yang pernah Alex buat, kami disini untuk merealisasikan niat baiknya untuk meminang kamu, nak. Alex ingin memulai hidup barunya bersama kamu, membangun rumah tangga dan berjalan berdampingan mengarungi kehidupannya bersama kamu, Alex ingin kamulah yang nanti akan jadi ibu dari anak-anaknya." ucap Om William panjang lebar.


Bukan hanya Kayla yang gugup dan tegang setengah mati mendengarnya, Alex pun sama. Alex menundukkan kepalanya menahan segala rasa yang bercampur aduk di dalam dadanya.


"Kayla, apa kamu bersedia menikah dengan Alex dan mendampingi hidupnya, nak?"


Degg


Degg


Degg


Kayla menelan salivanya gugup, mami pun mengeratkan genggamannya pada tangan Kayla. Kayla memejamkan matanya sejenak sebelum ia benar-benar mengambil keputusan yang sudah ia pertimbangkan dengan matang.


"Se..sebelum saya jawab, apa.. boleh saya mengajukan syarat?" ucap Kayla gugup dan agak gemetar.


Alex mengangkat kepalanya, melihat wajah Kayla. Papa dan mama Alex saling pandang kemudian pandangan mereka berhenti pada sang putra yang berhak memutuskan, apakah ia bersedia dengan syarat yang ingin Kayla ajukan.


"Ya. Tentu." jawab Alex seraya mengangguk.


Kayla mencengkeram dress nya gugup, ia menarik nafas lalu melirik maminya dan Om Iwan sebelum kembali berucap. Mami dan Om lwan tersenyum meyakinkan.


"Saya akan mempertimbangkan lamaran ini kalo Alex, Om dan Tante menerima syarat yang saya ajukan."


"Mempertimbangkan? Bukan menerima?" batin Om William.


Kayla melirik satu persatu wajah mereka sebelum melanjutkan ucapannya. Alex mengangguk mengizinkan.


"Saya.. nggak mau menikah." kalimat Kayla terjeda, membuat jantung Alex berdentum keras dan ngilu.


"Saya nggak mau menikah sebelum lulus SMA. Dan saya ingin kuliah. Kalo dua hal itu bisa saya dapatkan.."


"Sure! Tentu, kamu bisa dapetin itu" jawab Alex tak sabar, ia begitu bahagia dan lega mendengar syarat yang Kayla ajukan itu.


Semua orang pun ikut senang, tapi ketegangan belum berakhir karena Kayla belum memutuskan pilihannya. Dan inilah saatnya..


Saat yang ditunggu-tunggu, saat dimana Kayla akan memutuskan pilihannya. Apakah ia menerima lamaran itu, ataukah menolaknya. Sebelum Kayla sempat berucap lagi, sesuatu yang mengejutkan terjadi.


Semua mata pun tertuju padanya, orang itu masuk dengan langkah besar dan amarah yang tertahan.


"K-..ken.." gumam Kayla pelan.


Nadia, mami Kayla langsung berdiri ketika Kenzo datang dengan marah. Entah ada apa dengannya, tapi dia datang tiba-tiba dalam kondisi seperti ini dan di momen penting ini.. jelas tidak baik.


"Ken, kamu kenapa nak? Ayo duduk dulu." bujuk Nadia lembut sambil meraih lengan Kenzo.


"Maaf Tante, aku disini bukan buat duduk. Aku cuman mau ngomong" ucap Kenzo datar, ia menepis tangan Nadia yang memegangnya.


Om Iwan tak bisa tinggal diam melihat situasi ini. "Mohon maaf Pak, Bu, izinin saya menangani ini dulu." ujar Om lwan sambil berdiri dan mendekati Kenzo.


Kenzo mendengus kesal, ia melangkah menjauhi Om lwan. "Maaf, tapi Om gak bisa ngehalangin saya." ujar Kenzo sarkas.


Om lwan menatap tak suka, "Apa yang kamu lakuin? Apapun mau kamu, bisa nanti. Sekarang kami ada pertemuan penting"


Kenzo terkekeh lalu melihat ke arah Kayla, Kayla tentu bingung melihat Kenzo yang tidak seperti biasanya.


"Pertemuan penting?! Elu gak ngelibatin gue di momen penting lu ini Kay? Apa gue udah gak sepenting itu buat lu?!"


Jujur, Kayla sedih dan merasa tersindir mendengar ucapan Kenzo. "Ken..."


"Emm.. maaf, Pak William, Bu Vanessa, kenalin ini Kenzo. Kenzo ini sahabat baik Kayla dari kecil, saya juga udah nganggep dia kayak anak saya sendiri. Jadi.. mohon dimaklumin ya!" ucap Nadia tak enak, ia tidak mau terjadi kesalah pahaman.


Pak William dan Bu Vanessa mengangguk. Kehadiran Kenzo memang agak menggangu tapi keduanya mencoba memahami situasi yang terjadi saat ini. Tidak sopan rasanya jika Pak William dan Bu Vanessa menunjukkan ketidak nyamanannya di depan orang tua Kayla.


"Terima kasih Tante. Mungkin perlu ditekankan lagi, kalo Kayla udah nganggep aku sebagai sodaranya. Jadi aku juga punya hak dong terlibat dalam acara ini"


"Iya iya, ayo duduk dulu nak! Tenangin diri kamu, kita ngomong baik-baik." bujuk Nadia lagi.


Kenzo tak bergeming, ia tetap pada posisi berdirinya. "Kay, elu belum terima lamaran dia kan?" tanyanya serius.


Kayla mengernyit tak mengerti, kenapa Kenzo bertanya seperti itu. "Ada apa, Ken?"

__ADS_1


"Jawab gue, elu belum terima lamaran dia kan? Kalo belum.. BAGUS! kalo udah.. BATALIN!"


Semua orang sontak terbelalak heran mendengar perkataan Kenzo. Kayla berdiri, "Ken, ada apa sama kamu? Ngomong yang sopan!" ujar Kayla tak enak.


"Sorry Kay, emosi gue udah diubun-ubun. Gue gak bisa terima kenyataan dari fakta yang baru gue tau."


Kenzo mendelik tajam ke arah Alex, sedangkan Alex menatapnya bingung. Sebenarnya apa masalah Kenzo, kenapa dia kelihatan sangat marah? Alex mencoba memahami sebelum ia bertindak ataupun berkata sesuatu.


"Fakta apa Ken?" tanya Kayla.


"Tentang elu, dan baj****n ini!" jawabnya sambil menunjuk wajah Alex.


Alex membulatkan matanya kaget. Kenzo membuat kesalahan dengan berani mengusik Alex dengan kata-kata kasarnya itu, jika saja Alex tidak bisa menahan amarahnya pasti sekarang ia sudah memukul wajah Kenzo.


"Ken?!" tegur Kayla tak percaya dengan kelancangan Kenzo.


"Apa maksud kamu? Ngomong yang jelas!" Om lwan pun emosi.


Kenzo menggeleng dan diam sejenak. Sungguh ia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi bukankah para orang tua ini harus tahu faktanya. Jika ia mengatakannya maka lamaran ini pasti dibatalkan, dan mungkin situasinya akan kacau. Dampaknya akan buruk bagi Kayla. Jika ia tidak mengatakannya pun, acara lamaran ini sudah kacau, dan tetap saja Kayla lah yang akan terdampak paling banyak.


"Intinya.." Kenzo menarik nafas sebelum melanjutkan, ia menatap Alex sengit. "SAYA GAK RELA KAYLA JATUH KE PELUKAN BAJ****N INI!"


Duaaarr.........


Alex mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya, menahan amarah yang memuncak. Pak William dan Bu Vanessa pun menatap tak suka pada Kenzo, tentu keduanya tak terima anak mereka dikatai seperti itu. Tapi mereka masih memilih diam, entah sampai kapan mereka bisa menahan diri untuk tidak bertindak.


"Kenzo!" gertak Kayla marah.


Nafas Kayla sudah mulai ngos-ngosan, ia lelah karena sejak tadi jantungnya tidak berhenti berpacu kencang. Sudah cukup, ia tak tahan dengan kelakuan Kenzo kali ini. la melangkah ke hadapan Kenzo. Kenzo pun sadar bahwa Kayla marah padanya saat ini, karena Kayla selalu memanggilnya Ken, ia tidak akan memanggilnya 'KENZO' jika ia tidak sedang benar-benar emosi.


"Jangan pernah ulangi kalimat itu! Dan dengar ini Ken, Alex gak kayak yang kamu bilang" ucapnya bergetar.


Sungguh Kayla sedih dengan kelancangan Kenzo ini, ia malu dan sakit hati melihat Kenzo yang dihadapannya ini. Dia bukan seperti Kenzo yang Kayla kenal. Kayla menahan air matanya seraya menatap mata Kenzo yang memerah karena amarahnya itu.


"Gue lakuin ini buat kebaikan elu, Kay." kata Kenzo datar.


"Kebaikan? Dengan cara ngacauin semua ini?" tanya Kayla lirih.


"Jangankan gue, kalo Mami sama Om lu tau yang sebenarnya.. mereka juga gak bakal biarin elu deket sama dia!" Kenzo menekankan setiap kalimatnya.


Tentu saja mendengar itu semua orang emosi dibuatnya. Kayla tidak habis pikir kenapa Kenzo melakukan ini dan apa alasannya.


"Baj****n itu gak pantes buat elu Kay!"


"Kenzo!" Kayla benar-benar marah, ia mengangkat tangannya dan hampir saja menampar Kenzo, tapi kemudian ia menahan dirinya dan memalingkan wajahnya dari Kenzo.


Alex pun semakin bergetar menahan amarahnya yang memuncak, urat-urat lehernya sampai menyembul keluar. la tidak tahu sampai kapan ia bisa mengendalikan dirinya, yang jelas ia tidak ingin berkata ataupun bertindak salah yang hanya akan memperburuk keadaan.


"Ken, apa maksud kamu?" tanya Nadia parau yang sudah sejak tadi menahan air matanya. Kecemasan yang besar menderanya ketika Kenzo menyebut Alex Baj****n.


Pak William pun mulai hilang kesabaran, ia berdiri dan menatap serius ke wajah Kenzo. "Atas dasar apa kamu berani mengatakan anak saya baj****n?!" ucapnya datar namun tajam.


Kenzo menatap Kayla sebelum menjawab pertanyaan itu. la bisa melihat air mata Kayla saat ini, menyakitkan. Tapi ia lebih tidak rela jika Kayla menjadi milik Alex.


"Kalian mau tau kenapa aku ngomong gitu? Apa kalian yakin? Kenyataan emang pahit tapi tetap harus diungkapkan. Kalian bakal kaget."


"Jangan bertele-tele, katakan apa alasan kamu membuat keributan ini!" kali ini Vanessa angkat bicara.


"Maaf Kay.." ujar Kenzo lirih, membuat Kayla takut dan semakin sedih.


"Apa Ken, emangnya apa yang mau kamu bilang? Kenapa kamu sampe kayak gini..." batin Kayla.


"Dia.." Kenzo menunjuk wajah Alex yang menatap tajam ke arahnya, Kenzo terkekeh sadis melihat kemarahan di wajah itu.


"Dia pantas disebut baj****n, karena dia.. pernah NGELECEHIN KAYLA!!"


Duaaarr.........


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... ....


... Bersambung...


__ADS_2