
Kenzo melemas seiring debaran jantungnya yang kian tak terkendali, matanya tak berkedip menatap layar monitor yang menampilkan penampakan janin di dalam rahim Chika. Kenzo tersandar di dinding, perasaan dan pikirannya kian kacau balau saat Dokter mengatakan janin yang dikandung Chika tumbuh dengan baik, dan usianya sudah memasuki minggu ke 13.
Di dalam ruangan saat ini ada Chika, Kayla, Kenzo, dan seorang Dokter kandungan bersama seorang susternya. Entah apa saja yang mereka bicarakan Kenzo tidak bisa fokus menyimaknya, ia sibuk dengan kecamuk pikirannya. Kayla kemudian menepuk pelan pundak Kenzo, membuat Kenzo terkesiap. Kenzo bingung melihat para wanita di ruangan ini semuanya serentak menatap ke arahnya. Tatapan mereka biasa saja, tapi perasaan Kenzo lah sangat gelisah dan kacau. Tanpa berpikir panjang, Kenzo bergegas meninggalkan ruangan itu.
"Ya Tuhan... kenapa begini.. kenapa ini bisa terjadi.." sesalnya.
Kenzo pulang ke rumah kosannya dan mengunci diri di sana. la butuh sendirian dan merenungi kesalahannya, ia sangat terpukul saat ini dan sangat menyesali perbuatannya. Jika saja sebelumnya ia memikirkan akibatnya yang bisa sefatal ini, mungkin ia tidak akan pernah melakukannya. Tapi terlambat, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan telah terjadi. la salah mengira jika hidupnya yang selalu damai dan happy ini tidak akan selamanya sesempurna ini. la terlalu larut dalam kesenangan masa muda, hingga ia mengabaikan sesuatu yang bisa menjadi petaka di masa depannya. la begitu bodoh mengira hidupnya akan senantiasa berjalan sesuai keinginannya, seiring dengan semilir angin kesejukan yang selama ini selalu membuainya. Namun ternyata tanpa ia sadari, badai telah datang menerjangnya, membuatnya terombang-ambing di tengah putaran roda kehidupan.
... ____________________...
"Kenzo mana? Ada masalah apa sih kalian, kenapa dia gak bisa dihubungin? Dan kenapa dia gak masuk dua hari ini, apa hari ini dia gak masuk juga?" tanya Jessica bertubi-tubi.
Kayla yang baru sampai di depan pintu kelasnya langsung diserbu Jessica dengan berbagai pertanyaan mengenai Kenzo. Kayla mendengus pelan, ia melewati Jessica dan duduk di bangkunya. Jessica mengikuti.
"Seperti yang udah aku bilang, ada masalah yang penting, Jess. Mungkin buat saat ini Kenzo belum bisa ketemu kamu ataupun ngejelasin yang sebenarnya, tolong kamu hargain ya Jess."
"Apa? Kenapa dia nggak mau ngasih tau gue? Gue ceweknya, gue berhak tau" protes Jessica.
"Tapi gak semua persoalan bisa dibagi sama pacar Jess. Aku yakin kok kalo nanti masalahnya udah kehandle Kenzo pasti ngomong sama kamu. Buat saat ini enggak dulu, tolong hargain privasi dia. Aku ngerti perasaan kamu, tapi aku harap kamu juga ngertiin Kenzo kalo saat ini dia butuh sendiri, dan harus ngurusin masalahnya dulu"
"Masalah apa sih sebenarnya, seserius apa?? Elu juga gak mau ngasih tau gue?" Jessica mulai frustasi.
"Maaf Jess, gak bisa. Sebenarnya Kenzo gak mau siapapun tau masalah dia termasuk aku, tapi aku udah terlanjur tau. Jadi aku harus jaga privasi dia."
Jessica mendengus kesal. "Jadi maksud lu gue harus nunggu?! Sampe kapan?"
Kayla terdiam. la merasa kasihan dengan Jessica. Bagaimana jika dia tahu Kenzo menghamili gadis lain, dia pasti akan sangat terluka dan kecewa, apalagi Kenzo akan meninggalkannya. Tapi Kayla rasa ini bukan waktu yang tepat memberitahu Jessica tentang kebenarannya.
"Jess, apa kamu beneran sayang sama Kenzo? Kamu beneran cinta sama dia?"
"Apa-apaan lu nanya gitu?" marah Jessica tersinggung.
"Sorry. Kamu tau kan Kenzo itu playboy, dan aku udah pernah ngasih tau kamu buat gak terlalu nanggepin dia. Bukannya apa-apa, sebagai sesama cewek aku kasian sama kamu, dan sebagai sahabatnya Kenzo aku gak suka dia terus-terusan mainin cewek"
Jessica terkekeh, "Jadi ceritanya elu perhatian sama gue, gitu?! Emang lu tau kayak apa aja dulu dia sama mantan-mantannya? Beda kan sama gue. Kenzo itu beneran cinta sama gue, gue yakin dia gak bakal berpaling dari gue. Dan gue.. bakal bikin dia gak bisa ngelirik-lirik cewek lain lagi" ucap Jessica penuh percaya diri.
Mungkin benar, perlakuan Kenzo terhadap Jessica lebih spesial dan berbeda dari yang dia berikan pada mantan-mantannya sebelumnya. Namun itu semua tidak lebih dari yang Chika dapatkan, dan Chika lah yang paling berhak atas cinta Kenzo. Semoga saja Kenzo bisa lebih dewasa menyikapi persoalan seriusnya kali ini. Tidak ada waktu lagi baginya untuk main-main, pengalaman dan kesalahan sudah mengajarkannya arti kehidupan, bahkan menghukumnya saat ini. Kayla harap sahabat kecilnya itu bisa segera sadar.
... ....
... ....
... ....
Kayla duduk di sebuah kursi yang berada di rooftop gedung sekolah, tempat yang sebelumnya Alex perkenalkan padanya. Saat ini Kayla tidak berminat untuk makan, mengobrol, bahkan berkumpul dan bersenang-senang dengan teman-temannya. Dalam situasi pelik yang dialami Kenzo, situasi itu juga sangat mengusik Kayla. Masalah Kenzo adalah masalahnya juga, dan kegundahan Kenzo adalah kegundahannya juga. Sebagai sahabat dan sudah seperti saudara, Kayla harus membantu Kenzo mengatasi masalahnya dan menghilangkan kegundahannya. Sebrengsek apapun Kenzo dia tetap sahabat Kayla, dan sebesar apapun kesalahan yang dia lakukan tidak akan membuat Kayla membencinya, apalagi sampai meninggalkannya.
Kayla memutuskan untuk bicara pada Kenzo sepulang sekolah ini. Semoga saja dia mau membukakan pintu untuk Kayla hari ini, mengingat dua hari terakhir dia mengurung diri di rumah kosannya.
"Miss Kissable, kamu disini?" Tiba-tiba Alex menyapa, dia sudah berdiri di samping Kayla.
"AI?" Kayla mengusap wajahnya yang basah bekas air mata.
"Aku cariin kamu kemana-mana gak ada, taunya disini" Alex tertawa kecil.
"Hei, kamu kenapa?" Alex duduk di samping Kayla.
"Enggak papa." jawab Kayla singkat.
"Kalo ada masalah cerita aja sama aku"
Kayla tersenyum tipis menanggapi Alex.
"Oh ya, tadi aku liat Jessica tuh kayak ngomel-ngomel gak jelas gitu di kantin. Kayaknya dia galau deh, kayak ada masalah gitu sama Kenzo."
"lya sebenarnya emang ada masalah, tapi gak gak ada hubungannya sama Jessica kok"
"Kenzo?" tanya Alex memastikan, yang diangguki oleh Kayla.
"Dia ngapain kamu lagi? Pasti gak beres nih, kalo enggak kamu gak bakal nangis gini." Alex mulai cemas.
"Kenzo nggak ngapa-ngapain aku kok. Sorry Al aku gak bisa ceritain masalahnya sama kamu, soalnya ini sangat sensitif dan privasi. Kalo nanti aku sama Kenzo udah bisa ngehandle masalahnya, aku akan cerita sama kamu."
__ADS_1
"Masalah apa, Miss Kissable? Kok aku jadi parno ya." Alex mengernyit dalam.
"Kamu yakin gak mau cerita sama aku? Siapa tau aku bisa bantu" lanjutnya.
"Makasih Al. Buat saat ini enggak dulu, kalo aku butuh sesuatu aku pasti ngomong kok sama kamu."
Alex mengangguk seraya mendengus kecil. Baiklah jika Kayla enggan membagi masalahnya saat ini, Alex hargai itu. Semoga saja masalahnya tidak terlalu serius dan beresiko. Alex hanya khawatir pada Miss Kissable nya, karena tadi dia bilang.. ini masalahnya dan Kenzo. Meski Kenzo adalah sahabat Kayla, sulit bagi Alex mempercayai pemuda itu, apalagi melihat perlakuan Kenzo akhir-akhir ini.
"Kenzo gak masuk lagi hari ini, apa dia sakit?" tanya Alex.
"Aku belum mastiin, semoga dia baik-baik aja." jawab Kayla dengan wajah yang murung.
"Sebenarnya ada masalah apa ya antara Miss Kissable sama Kenzo, kenapa gue jadi gak tenang gini." gumam Alex dalam hati.
"Miss Kissable, jangan nangis ya.. atau aku akan khawatir sama kamu."
Kayla tersenyum dan menggeleng, "Enggak kok Al, aku gak nangis."
"Inget ya, aku selalu ada buat kamu. Aku siap kapanpun kamu perlu, jangan sungkan buat minta apapun ke aku. Aku gak mau liat kamu nangis, Oke?"
"Hm, thank you." ucap Kayla dengan senyuman hangat.
... ___________________...
Kayla sampai di depan pintu rumah kosan Kenzo. la sudah mengetuk beberapa kali, namun belum ada jawaban dari dalam, juga belum ada tanda-tanda pintu akan terbuka untuknya. Namun Kayla pantang menyerah, kemarin-kemarin Kenzo boleh menolaknya tapi kali ini, tidak. Kayla tidak akan membiarkan Kenzo mengurung diri lebih lama lagi, dia harus mendengarkan Kayla kali ini. Kayla tidak mau menunggu besok atau nanti lagi untuk bicara pada Kenzo.
Kayla mulai lelah berdiri di depan pintu, ia kemudian mendudukkan dirinya di kursi yang ada di teras rumah kosan Kenzo.
"Ken..!" panggil Kayla untuk yang kesekian kalinya.
"Kali ini aku gak akan pulang sampe kamu mau bukain pintu, dan ngomong sama aku" ujar Kayla setengah memekik agar Kenzo bisa mendengar suaranya.
Sudah setengah jam sejak Kayla datang, tidak ada juga terdengar tanda kehidupan dari dalam rumah Kenzo. Kayla harap tidak terjadi apa-apa pada Kenzo. Kecemasan mulai melanda perasaan Kayla, ia menempelkan telinga ke pintu berharap bisa mendengar sesuatu dari dalam. Tidak ada suara apa-apa. Kayla lalu menengok ke kaca jendela, yang ternyata terlapisi gorden gelap. Kayla menghela nafas gusar.
"Ken..!"' Kayla kembali mengetuk pintu.
"Ken kamu di dalam kan, ayo buka!"
"Ken.. mau sampe kapan kamu diem aja, kamu pikir masalah bakal selesai dengan kamu kayak gini?"
"Ken.. seenggaknya kasih tau aku kalo kamu baik-baik aja!"
Kayla kembali duduk untuk menenangkan perasaannya yang gusar. Tiba-tiba pintu terbuka. Kayla spontan beranjak dari duduknya dengan perasaan lega. la merasa prihatin melihat kondisi Kenzo yang tidak terurus, rambutnya acak-acakan, matanya sayu dan memerah, dan wajahnya pucat. Kayla cemberut menatapnya.
"Hei.. apa ini? Apa HeroKenzo ku sakit, laper, atau sedih..? Sejak kapan HeroKenzo ku jadi lemah gini..?" Kayla menatapnya gemas, ia tersenyum mencoba menghibur Kenzo.
Kenzo terdengar mendesah lirih, ia terharu Kayla masih mau memanggilnya HeroKenzo. Kenzo pikir Kayla akan memarahinya atau memandangnya dengan kebencian, tapi ternyata tidak. Matanya yang sayu itu mulai menampakkan sedikit binarnya, air mata kembali menggenang membuat kolam kecil di sudut matanya.
Kenzo mempersilahkan Kayla masuk, tanpa memperdulikan peraturan kos nya. Lagipula Kenzo tidak menutup pintu agar tidak ada prasangka buruk dari tetangga kos nya atau siapa saja yang melihat ke dalam rumahnya.
Kenzo bingung melihat Kayla menyelonong berjalan menuju dapur, cukup lama menurut Kenzo, entah apa yang Kayla lakukan didapur. Kemudian ia kembali dengan membawa sebuah piring dan sendok, piring itu mengepulkan asap yang berarti ada makanan panas didalamnya kan. Kenzo memperhatikan Kayla, sampai Kayla meletakkan piring itu didepannya. Kenzo baru paham, ternyata nasi sup inilah isi dari kresek yang Kayla bawa tadi. Kayla memanaskannya untuk dihidangkan kehadapan Kenzo. Kenzo jadi terharu.
"Makan Ken, kamu gak boleh sakit!" ucap Kayla lembut.
Kenzo hanya diam memandang nasi sup di depannya. Kemudian ia mengangkat kepalanya menatap Kayla.
"Kay, gue-.."
"Jangan ngomong sebelum selesai makan!" tegas Kayla.
Kenzo membuka mulutnya mau mengatakan sesuatu lagi, namun kembali dicegat oleh Kayla. "Jangan bilang kamu gak laper atau gak nafsu makan! Makan Ken, jangan ngeyel! Muka kamu udah pucat tuh"
Kenzo mendengus panjang. Dengan malas Kenzo pun meraih sendoknya dan mulai makan. Sepanjang Kenzo makan, Kayla hanya terdiam memperhatikannya. Tanpa Kayla sadari, setetes bulir bening lolos dari matanya, ia pun segera mengusapnya. Tentu saja Kayla sedih, sahabat kesayangannya ini mengalami akibat dari kesalahannya. Kayla yakin melihat kondisi Kenzo saat ini, dia pasti sudah menyadari dan menyesali kesalahannya.
Sementara Kenzo, jangan kira dia bisa makan dengan tenang. Dadanya yang memang terasa sesak dan pikirannya yang penuh membuatnya hanya bisa menahan rasa sakit itu. la menelan makanan dengan sulit dan tercekat, ia terpaksa makan hanya demi Kayla.
Kenzo menghela nafas sambil memejamkan matanya sejenak, lalu mengerjap kecil menatap makanan di piringnya yang sudah berkurang setengah. la menyerah, tidak sanggup lagi jika harus menghabiskan makanan ini. la ingin banyak bicara dengan Kayla, dadanya sudah penuh tidak tahan lagi menanggung rasa sesaknya lebih lama. Kayla yang memahami Kenzo lantas memberikannya segelas air.
"Makasih Kay"
"Gimana keadaan kamu, udah agak baikan?" tanya Kayla setelah Kenzo selesai makan dan minum.
__ADS_1
Kenzo tersenyum masam, haruskah ia mengeluarkan semua yang ia tahan sekarang juga, pada Kayla?! Kenzo tidak tahan lagi, tidak peduli sekarang Kayla akan menanggapinya seperti apa, toh Kayla pasti memahami dirinya.
"Apa gue keliatan baik?" tanya Kenzo parau.
Kayla beralih duduk ke samping Kenzo, dan menepuk pundak Kenzo pelan. "Lebih baik dibandingin saat pertama aku datang tadi" jawab Kayla seraya tersenyum.
"Kay, kenapa ini terjadi sama gue.. kenapa begini.." lirih Kenzo.
"Ini pelajaran buat kamu, Ken. Tuhan pengen kamu berubah mulai sekarang, Tuhan ngingetin kamu dengan cara ini karena mungkin ini cara yang terbaik buat bikin kamu sadar."
Kenzo menunduk, ia mulai menangis. "Tapi kenapa harus begini, hukuman macam apa ini Kay.. gue gak sanggup..."
"Tuhan gak akan ngasih cobaan yang kita gak mampu, Ken. Kalo Tuhan ngasih kamu cobaan ini, artinya Tuhan percaya kamu sanggup ngejalaninnya. Jangan putus asa, Ken!"
"Gimana gue gak putus asa Kay, hidup gue udah berantakan.. masa depan gue hancur. Dan gue juga hancurin masa depan Chika.."
Kenzo terisak pilu, membuat Kayla terbawa perasaan.
"Cobaan bisa dijalanin dan dilewatin Ken, kesalahan juga bisa diperbaikin kok. Sebesar apapun kesalahannya.. pasti ada cara buat menebusnya. Allah pasti ngasih jalan buat hambanya yang mau bener-bener berubah, dan mau berusaha Ken. Kamu masih punya kesempatan buat perbaikin kesalahan kamu."
"Chika gimana Kay?"
Kayla tersenyum samar, "Dia masih nunggu kamu. Sekarang dia ada di rumahku, maaf Ken.. aku gak bisa nyembunyiin soal ini dari mami. Mamiku udah tau."
Kenzo tertegun. Entah bagaimana perasaan Tante Nadia mengetahui sifat asli Kenzo yang sangat memalukan itu. Kenzo merasa sangat buruk, belum lagi orang tuanya yang tahu. Kenzo kembali terisak, ia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya kedua orang tua jika mengetahui ini.
"Gimana kalo sampe bokap sama nyokap gue tau masalah ini Kay.. gue gak bisa bayangin."
"Gue harus apa Kay.. semuanya udah terlambat.. apa lagi yang bisa gue lakuin..." rintihnya.
"Mau gimana pun juga orang tua kamu berhak tau Ken, karena orang tua Chika udah tau. Tanggung jawab Ken, nikahin Chika! Aku pikir itu yang terbaik."
"Nikah?" gumam Kenzo tercekat.
"lya. Tapi sebelum itu terpaksa kamu harus jujur sama orang tua kamu, dan bersiap nerima apapun konsekuensinya setelah mereka tau. Jangan ditunda ya Ken, kasian Chika." tangisan Kenzo tak tertahan lagi, rintihannya semakin keras.
"Gue gak bisa Kay.. gak bisa.."
"Bisa Ken, yakin Allah bakal nolong kamu. Ini jalan keluar yang terbaik yang bisa aku pikirin. Setelah kamu ngomong sama orang tua kamu, baru kamu temuin orang tuanya Chika."
Kenzo semakin frustasi. Untuk mengatakan yang sebenarnya pada orang tuanya saja ia tidak sanggup, bagaimana ia bisa menghadapi orang tua Chika?! Jangankan untuk bicara, Kenzo mungkin tidak akan berani menampakkan wajahnya di depan mereka. Ya Tuhan.. cobaan ini begitu berat.
Kenzo menggeleng-geleng, "Gak bisa Kay.. elu pikir gue masih punya muka di depan mereka?"
"Aku ngerti Ken, tapi kamu gak boleh putus asa, kamu itu laki-laki. Inget, tanggung jawablah yang paling penting saat ini! Emang bener ini berat, memalukan, dan beresiko, tapi ini udah konsekuensi yang harus kamu terima. Kamu gak bisa lepas dari itu semua, itu akibat dari perbuatannya kamu sendiri"
Rintihan Kenzo semakin menjadi-jadi, ia merutuki kesalahannya dengan penyesalan yang dalam.
"Kuatin diri kamu Ken.. percaya kamu pasti bisa ngelewatin cobaan ini." Kayla pun ikut terisak.
"Gue nyesel Kay.. gue nyesel..."
"Apa sekarang gue harus lakuin semua itu..apa gak ada cara lain..?"
"Jangankan ngomong sama orang tua gue apalagi orang tua Chika Kay, nunjukin muka gue ke elu aja gue malu. Gimana gue bisa lakuin itu semua..?!"
Kenzo menunduk sambil menutupi wajah basahnya dengan kedua telapak tangannya, tubuhnya bergetar, ia sangat kalut. Dan Kayla terus berusaha menenangkan dan menguatkan Kenzo.
"Ken, kamu sayang kan sama Chika?"
Kenzo mendongak. "Kalo semua ini kerasa berat banget buat kamu, coba inget Chika! Bukan cuman kamu yang nanggung cobaan dan penderitaan ini Ken, tapi Chika juga. Bahkan ini lebih berat buat dia, karena dia cewek. Dia harus nerima kehamilannya meskipun dia gak mau. Dia harus putus sekolah meskipun terpaksa, hidupnya udah berubah sejak kamu nyentuh dia, Ken. Dan sekarang dia harus nerima takdir yang berat ini di usia mudanya. Dia akan jadi seorang ibu sebentar lagi, dia akan ngelahirin anak kamu Ken." ucap Kayla lembut dan pelan.
Kenzo tertegun, tangisannya pun terhenti. Kayla benar, Kenzo tidak menderita sendiri, tapi Chika juga menderita. Bahkan Kenzo lah yang menyebabkan Chika harus menanggung penderitaan ini.
Mana boleh Kenzo putus asa begitu saja. Mana boleh Kenzo mengabaikan Chika, gadis yang mencintainya dengan tulus namun malah ia hancurkan.
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...